Seravika & Georgette Heyer
Sesungguhnya saya tidak menginginkan kisah hidup seperti saya, tuan. Sewaktu malam sembahyang kepada Tuhan saya menangis dan menanyakan perujian saya. Saya harus menghadapi para wanita-wanita keji alangkah sakitnya. Saya bersabar tanpa membalas kekejian mereka, namun memendamnya hati sungguh meruntuhkan kastil jantung saya. Saya merenungi sesaat menafsirkan dunia wanita-wanita keji. Saya tidak akan kepanjangan berkata seperti antologi saya karena kelukaan sungguh dalam.
Saya mempunyai ibu kandung yang merendahkan suaminya karena tahta sehingga suaminya menikahi wanita lain, saya mempunyai ibu mertua yang merendahkan suaminya karena harta sehingga suaminya menikahi wanita lain dan melakukan perceraian akhirnya suaminya meninggal dunia. Saya mempunyai saudari ipar yang merendahkan pemuda didunia karena harta dan tahta sehingga para pemuda tidak ingin menikahinya. Kemudian mereka melampiaskan ketidakberhasilan menaklukkan lelaki kepada saya. Apakah salah saya kepada mereka?
Seandainya anda mengetahui cara mereka memandangi saya begitu pedih, padahal saya mengharapkan kasih seorang ibu, namun sewaktu saya gadis ibu kandung memandangi saya bukan seperti anaknya namun wanita dewasa yang merebut suaminya. Kemudian dikeruntuhan keluarga seorang pemuda menyelamatkan, menyebutkan pangeran. Pada pernikahan itu pemuda mencium dahi membuat saya terharu dan tulus mencintainya. Mengira penderitaan berakhir setelah diasingkan keluarga sendiri.
Sewaktu saya tinggal dirumah suami, namun ternyata saya menemukan ibu mertua tidak mencintai saya. Saya akhirnya mengerti karena telah mengetahui kisahnya dari pemuda itu. Seorang ayahnya yang penyayang bekerja mencari nafkah kemudian ditipukan banyak orang hingga menghutang banyak, dalam kejatuhan itu istrinya meninggalkannya, mengambil semua anak dan harta warisan orangtuanya. Suami itu dalam keterpurukan dan mencari tempat pelarian hingga menemukan sesosok yang memberinya kasih sayang, akhirnya menikahi wanita lain. Istrinya memburukkannya buat semua orang merendahkannya hingga suami tidak tahan menanggung sakit akhirnya meninggal dunia. Sang istri tidak ingin bertanggungjawab dengan hutang rumah tangga mereka kemudian wanita keji itu menuangkan seluruh hutang kepada ibu mertuanya yang sudah sepuh. Akhirnya anak lelaki baik hati membantu neneknya malang yang sampai sakit parah. Ketika itu sang pemuda dipengaruhi ibunya supaya tidak membantu keluarga ayahnya maka tidak mengerti dan tidak mengetahui kesakitan ayahnya namun akhirnya mendapat kebenaran yang sesungguhnya, sehingga menyesal tidak dapat menyelamatkan nyawa ayahnya. Wanita keji itu adalah wanita yang keras berambisi, meninggikan kedudukan dengan segala cara termasuk meninggikan berlebih kegelaran anak perempuannya agar semakin tinggi derajatnya dihadapan manusia, tanpa memikirkan mengobati suaminya yang sakit jantung kala itu dan ibu suaminya yang dikejar semua penagih hutang. Saya menanyakan kepada Tuhan apakah suami saya juga akan meninggal seperti ayahnya karena keluarganya menekannya dengan tuntutan kekayaan?
Sesungguhnya sang wanita tidak mendapatkan cinta dari suaminya karena sifatnya serakah sehingga melihat saya dicintai maka iri hati kepada saya, memandangi saya seperti seorang wanita yang mengambil anak lelakinya. Seorang saudari perempuan suami datang bertambah menghancurkan semuanya, wanita seumuran saya itu iri hati kepada saya. Seseorang mengatakan bahwa ia sungguh iri hati karena kecantikan dan kelembutan hati saya. Saya sungguh murka karena alasannya, mengapakah, hanya karena itu menghancurkan saya? Selama ini saya berbaik hati kepadanya dan kepada keluarganya. Sesungguhnya saya selalu mendahulukan kepentingan keluarga suami daripada diri sendiri. Suami pekerja keras yang pulang sampai malam hari mencari nafkah, sebagai tulang punggung keluarga, melunasi semua hutang keluarga segunung dan membiayai wanita itu yang tokoh utama berambisi mendapatkan kegelaran tinggi berlebih. Wanita itu melepaskan pendidikan Magister tingginya disini hendak mengambil gelar yang lebih tinggi diluar negeri demi kepentingan pribadi. Saya sebagai istri hanya bersabar melihat suami dizalimi keluarganya sendiri. Saya membelai kepala pemuda itu dan menghibur hatinya, namun sang pemuda tidak mengetahui saat pergi bekerja saya menangis perih disini.
Sewaktu saya tinggal dirumah suami, namun ternyata saya menemukan ibu mertua tidak mencintai saya. Saya akhirnya mengerti karena telah mengetahui kisahnya dari pemuda itu. Seorang ayahnya yang penyayang bekerja mencari nafkah kemudian ditipukan banyak orang hingga menghutang banyak, dalam kejatuhan itu istrinya meninggalkannya, mengambil semua anak dan harta warisan orangtuanya. Suami itu dalam keterpurukan dan mencari tempat pelarian hingga menemukan sesosok yang memberinya kasih sayang, akhirnya menikahi wanita lain. Istrinya memburukkannya buat semua orang merendahkannya hingga suami tidak tahan menanggung sakit akhirnya meninggal dunia. Sang istri tidak ingin bertanggungjawab dengan hutang rumah tangga mereka kemudian wanita keji itu menuangkan seluruh hutang kepada ibu mertuanya yang sudah sepuh. Akhirnya anak lelaki baik hati membantu neneknya malang yang sampai sakit parah. Ketika itu sang pemuda dipengaruhi ibunya supaya tidak membantu keluarga ayahnya maka tidak mengerti dan tidak mengetahui kesakitan ayahnya namun akhirnya mendapat kebenaran yang sesungguhnya, sehingga menyesal tidak dapat menyelamatkan nyawa ayahnya. Wanita keji itu adalah wanita yang keras berambisi, meninggikan kedudukan dengan segala cara termasuk meninggikan berlebih kegelaran anak perempuannya agar semakin tinggi derajatnya dihadapan manusia, tanpa memikirkan mengobati suaminya yang sakit jantung kala itu dan ibu suaminya yang dikejar semua penagih hutang. Saya menanyakan kepada Tuhan apakah suami saya juga akan meninggal seperti ayahnya karena keluarganya menekannya dengan tuntutan kekayaan?
Sesungguhnya sang wanita tidak mendapatkan cinta dari suaminya karena sifatnya serakah sehingga melihat saya dicintai maka iri hati kepada saya, memandangi saya seperti seorang wanita yang mengambil anak lelakinya. Seorang saudari perempuan suami datang bertambah menghancurkan semuanya, wanita seumuran saya itu iri hati kepada saya. Seseorang mengatakan bahwa ia sungguh iri hati karena kecantikan dan kelembutan hati saya. Saya sungguh murka karena alasannya, mengapakah, hanya karena itu menghancurkan saya? Selama ini saya berbaik hati kepadanya dan kepada keluarganya. Sesungguhnya saya selalu mendahulukan kepentingan keluarga suami daripada diri sendiri. Suami pekerja keras yang pulang sampai malam hari mencari nafkah, sebagai tulang punggung keluarga, melunasi semua hutang keluarga segunung dan membiayai wanita itu yang tokoh utama berambisi mendapatkan kegelaran tinggi berlebih. Wanita itu melepaskan pendidikan Magister tingginya disini hendak mengambil gelar yang lebih tinggi diluar negeri demi kepentingan pribadi. Saya sebagai istri hanya bersabar melihat suami dizalimi keluarganya sendiri. Saya membelai kepala pemuda itu dan menghibur hatinya, namun sang pemuda tidak mengetahui saat pergi bekerja saya menangis perih disini.
Saya tidak tahu harus bagaimana Tuhan, dan datanglah hari bersejarah itu. Saya menyedekahkan sedikit harta kepada keluarga saya dikampung, dan wanita itu mengadukannya kepada saudari perempuan ibunya dan ibunya, keluarganya merendahkan suami saya dan saya mengatakan kami seorang jahat tidak membantu keluarganya. Tuhan. Seandainya ada dosa saya dimasa lalu jadikanlah penderitaan ini penggugur semua dosa saya itu. Saya menjerit kesakitan didalam kamar setelah mengetahui ini, hanya karena menyedekahkan harta tidak seberapa maka direndahkan dan dua buah keluarga dipecahkan. Harta. Apalah harta dibandingkan saudara sendiri tuan? Tuhan. Wanita kejam itu memakan daging saudara sendiri demi harta dan tahta, memfitnah keji saya dan suami dihadapan keluarga. Seorang ibu mertua yang sudah membenci menantunya pun mempunyai senjata untuk menjatuhkannya, orang-orang tidak akan percaya dengan suami istri malang itu. Seorang ibu mertua sampai merendahkan menantunya, meninggikan hati mengatakan hal yang menyakitkan, keluarga saya seolah hanya menumpang hidup dari keluarganya. Oh tidaklah manusia menjadi sombong tuan, Tuhan bernama Allah yang menghidupi saya.
Saya menghibur diri sekarang ketika sedih, saya mengingat pengarang historical fiction Inggris abad kedelapanbelas itu. Para ahli sejarahwan Inggris mengatakan dia terinspirasi akan Jane Austen yang menuliskan 'wanita selayaknya burung yang ingin terbang daripada terpasung disangkar', dia menyelipkan paham Feminism didalam karyanya. Mengapakah, saat saya membaca karya Georgette Heyer berjudul Arabella justru dia menentang para bangsawan Inggris ketika itu yang merendahkan kalangan bawah karena lebih mementingkan harta dan tahta. Bagi saya Heyer bukan seorang Feminist, melalui tokohnya Arabella sesungguhnya ia pribadi yang lembut dan baik hati. Saya menghadapi wanita-wanita keji itu memiliki perasaan yang sama dengan Heyer tuan, saya ingin menulis buku yang menentang kaum Feminism Sekularism, biarlah seandainya saya masih keluguan saya memiliki sayap didalam puri untuk menulis. Seandainya, Feminism hidup didalam satu buku, izinkanlah saya untuk membakarnya karena sungguh takut istri didunia durhaka kepada suaminya.
Seravi, 13 Maret 2019. Kuntum mawar pertama


Komentar
Posting Komentar