Tin Fruits




Setiap hari ia mengunjungi kebun berpagar ornamen ukiran elegan dengan kelima bunga besar disisi jeruji putih itu. Anak-anak buah tin yang hanya dalam kumpulan pucuk mahkota memilih tetap bersembunyi dibalik pilar patung sebagian berwujud wanita bangsawan yang menghambakan dirinya seraya menyerahkan bunga sulur pelaranya. Seorang diluar bersikeras memanjat dengan satu tangan, sebelah tangannya membawa kantung berakar benang lusuh yang memuntir segalah kayu berkulit meluruh. Penglihatannya seperti seolah menggugurkan dedaunan hingganya terhubung hanya tersisa mereka dengan pemukiman desa terakhir yang indah, karangan putikan marun bersegera menarikan dirinya keranjang-keranjang benahi bunga. Para penjaga kebun yang tak mengalihkan, menunggu akhir hari sampai pemikiran memberantah sebuah negeri penyulam yang rakyatnya selalu memegang pembidang kain. Penyinggah muda yang menggunakan tongkat itu tertegun melihat lukisan sebundaran lamannya, bejana kristal putih dalam perjalanan tuannya ditengah hutan musim dingin yang memanggul salju bergelung. Kehidupan jubah kentara panjang menukaskan pada sepangkal yang ditinggali pohonnya untuk berdiam pada pelana kereta, tak memiliki arak-arakan prajurit yang menjamin keselamatan dikeseluruhan pintu gerbang besar, tapi sebuah hidup tak terduga mengangkut dalam tempat duduk tengah kuntum kelopak bunga menuju rumah batu putih yang dipenuhi separodi ukiran hamba penanam menawan.

Kertas dinding didalam warna merah samarnya sebagian terkelupas berbentuk meretak bentala rapuh, tembaga putih pasungan cincinan lilin yang menyatakan dirinya sebagai garputala beningnya mendentingkan lingkar mahkota-mahkota pada meja ukir permalaikatan sejajar, arakan pigura-pigura dengan gagang mengerak lapisan merah kekuningan dengan jiwa kalangan kurir-kurir pelayan, menghardik benda suruhan dipergelangan tangan ketika tengah melajui panahan dinding perbatasan yang menggerapi searakan lampu tempat pertungguan penjaga. Puan-puan piala menghablur keputih-putihan hadiri pertemuan tertutup itu, susunan telinga yang hanya berbaris menghadap bayangan seorang pengukir tua yang dalam kehidupannya selalu diperuntukkan sebagai pemegang cangkir. Sesungguhnya kepala utama menyemarkan dirinya pada tempat penyimpanan barang yang mengelegan berantik tubuhan pedaran, sebaik makhluk kitaran tak terlihat untuk menanyakan perihal siapa yang telah berkuasa memasukkan seorang makhluk berjanggut dengan baluran kumuhan.

Seorang anak lelaki dengan sopan datang setapak demi setapak, sesampainya diatas pagar seperti merentangkan satu sayap saja mendarat tenang kebawah agar tidak merusakkan sekelilingnya. Matanya sesungguhnya peneduh yang mengikrarkan sebuah paras kirana pada reruntuhan berlian biru, kemurahan hatinya menggelayut seperti kedua sandaran buku. Seandainya seorang tahu apa yang dipikirkannya setelah dibawah pembahu batang, tersenyum terhadap pohon semu besar dengan muncul berkaki didepannya. Pohon itu memiliki bentuk dedaunan istimewa dengan perbawanya yang rupawan, seperti bayangan meja kaca berkaki tiga yang memanjang pada sudutnya. Dalam philology kehidupannya dimasa teramat jauh, sebuah pohon sebenarnya seorang tua yang baik hati. Seorang akan berkata bahwa kanopi yang kerah dibentangkan ataukah potongan jubah yang dipanjangkan akan melindungi, tapi tak mengira ada juga tajuk sejenis mereka yang dilupakannya untuk menalangi segala reruntuhan putih. Seperti yang dipikirkan oleh anak lelaki itu yang masih dengan seringainya, karenanya menancapkan kayu dibawanya ketanah kemudian seraya memberikan hormatnya. Sebuah pelindur seperti menyentuh singgasana matahari, secawan menuangkan ke meja yang berbatu dengan pohon bunga itu. Pengarak tandu rendahan memperoleh keramahan dari diatas kepalanya, sang petuah seperti menelungkupkan satu tajuk berandanya kearah wajah pemuda. Seorang itu lalu mengambil gulungan yang kayu penyanggah dibawah dan atas kertasnya, tulisan samak tanaman didalamnya entah mengapa terdengar suara sebuah petah mengurun lembut. Sebuah sastra pedaran telah ditulisnya semalam kala para penanam gandum sudah pulang berkumpul pada keluarga mereka. Ah syair yang sederhana dengan persurati benang pintalan dari merpati satu ke merpati lainnya menyilangkan dengan ranting-ranting pohonan untuk membenamkan dedaunan. Seorang namun seraya menutup satu buah jam saku yang menggantung panahan pada bundarannya mengatakan untuk berdetak sejenak didalam.

Para buah tin kala itu ada perasaan menggelitik keingintahuan pada makhluk misteri. 'Bukanlah sebuah kedangkalan didalam buku yang biasa dibacakan, tapi ada rak-rak pemimpi disiang harinya.' Seorang anak lelaki itu setelah membuat seperti kunci membuka untuk sang pohon, segera melengkung kebagian belakangnya yang begitu rimbun butiran kalung roncean seorang perempuan yang akan mengirimkannya pada pesta pertemuan aristokrat malam hari. Warna yang begitu redup tapi menekankan matanya diantara kertas-kertas lipat gaun serat lapisan kayu yang memburam. Sebutir itu adalah tak terhingga butir kemilau lainnya yang tumbuh didalam, sehingga seorang merapatinya sungguh berharga dalam kotak kristalnya. Salah satu dari mereka lihatlah kini dapat mengerling jenaka pada kantung kayu, tak sabar menilik benda yang sebagian pada kawatnya sedang mencuat dari buntalan benang. Sang anak lelaki menyapa terlebih dahulu mereka dengan anggun, kemudian menuturkan sebuah cerita untuk mengalihkan itu. Anak-anak buah tin pun terkesima melihat seorang makhluk menggerakkan tangan-tangannya tak teratur seperti melihat pertunjukan boneka jerami pada saat perayaan musim pemanen, dan akhirnya mulai saling berkata-kata yang tidak akan kau ketahui. Ketika anak-anak itu masuk dalam khayalan sebuah dunia, diam-diam anak lelaki menarik benda seperti gagang yang berbentuk hampir menyerupai kepala kapak dengan ukiran indah suluran bunga mawar rekah pada pinggirnya menyatu dengan kamar selongsongnya, ternyata itu adalah sebuah bedil. Ia segera menembakkan kearah anak-anak buah tin yang sedang bergantungan diatas pohon yang berdahan membelakangi patung. Seorang tidak perlu mengkhawatirkan, karena peluru diambilnya dari air keran dirumah.

Ia mengguyur semua anak-anak buah tin disana dengan gembira, ada seorang yang menjadi menutup sebelah mata dari kelopak mahkotanya. Semuanya akhirnya bergerak menyerang dengan menjatuhkan butir-butiran yang ada didalam tempat kantung baju merah penyimpanan mereka. Sebuah Tin juga menggugurkan dedaunan didekatnya agar menimbuni sang pemuda yang kemudian diikuti oleh sekawanannya. Menggenang air siraman dibawah tanah membentuk sebuah danau sederhana dengan bukit-bukit yang ditinggikan akar genera sang pohon, dimana tak berbuku-buku hingganya tak memungkinkan ruas dedaunan tumbuh, berwarna keputihan dengan lengkungan yang indah, butiran merah yang jatuh disekitarnya membuatkan permadaninya. Anak-anak buah tin turun mendapati satu tempat penyangga disana, sepertinya terlihat dari sekumpulan ada seorang kurir yang memegang tali yang agak panjang untuk menyiapkan sederetan dudukan, pada lengan satunya mengentakan air hingga memeraikan butiran merah kesemua arah membentukan lukisan abstrak. Sang pemuda kembali menyirami mereka dan juga sang pohon yang menjadi terlihat riang, jadilah hari itu adalah permainan yang sungguh menyenangkan. Patung perempuan disisi pohon tersenyum menyipitkan mata yang disela dari daun memita buket bunganya, membuat parasnya diruahkan seketika itu terlihat sungguh cantik. Ia sesekali menepukkan tangan dengan gemulai melihat perasaan yang belum pernah dilihatnya, ia ingin menjatuhkan salah satu bunga dari pilar pada seorang anak manusia yang menjadi pusat segalanya dipekarangan. Namun karena itu hal yang tak memungkinkan maka ia hanya seperti menggerakkan kaku gaun kebunnya itu seperti hendak membelokkan sebuah pintu rahasia, hingga sedikit berjatuhan remahan dari marmer putih yang dipasangkan pada tubuhannya.

Kebun putih miliknya pada renda dan kain polos adalah yang dimilikinya saat ini, ia bertanya dalam hati apakah sudah pantas bertemu dengan sang pemuda. Ia sesungguhnya mungkin tak menggunakan pernak-pernik yang baik seperti dikatakan orang untuk membubuhkan diri, tapi sederetan bunga peony dikembangkannya pada lipatan gaun yang menjuntai pada lingkaran pilar bawah. Seripitan terbang bunga itu ada yang kembangan kecil dengan senada, melambung keatasnya semakin membesar dengan beberapa kutipan dedaunan pada sekelilingngnya. Sebuah patung perempuan mata dengan penuh harap itu ingin ambil bagian dalam perayaan, adakah, yang bisa ia lakukan untuk membuat kejadian tak biasa itu menjadi kenangan yang lebih indah? Patung itu akhirnya masih menepuk-nepuk tangan ikut bersenang hanya dari dalam pilar, dan tiba-tiba ia melihat ada sebuah tin hampir tergelincir dari atas lengkungan akar. Ia lalu seperti menarik lengannya yang memegang keranjang bunga yang didekap menunjuk kearah sebuah tin itu hingganya menimbulkan suara tubrukkan batu besar yang menggelinding pada lantai batuan kristalin kasar. Semua yang ada disana serentak menoleh kearahnya, pemuda itu pun tersenyum kepadanya dan tak mengira berjalan perlahan mendekati beberapa langkah. Sang patung ternyata adalah seorang yang sungguh pemalu, karenanya menarik lagi dengan takut keranjang bunga untuk menutupi wajah hingganya sekali lagi suara kemeretak itu terdengar kembali. Pemuda itu seakan tahu perasaannya, kemudian memberikan salam ramah dengan membungkukkan badan seraya memisahkan tangan setengah kesisi tubuh seperti seorang yang akan mengajak berdansa. Sang patung merasa terhormat dengan salam yang tulus itu, ia pun dengan senang hati membalas dengan senyuman sembari menekukkan lututnya dan memekarkan setengah sisi kesamping gaunnya.

Hari itu adalah hari teranyar dipekarangan, semua penduduk membicarakan kesenangan dengan menggerakkan atribut yang dikenakan tubuh tanaman mereka. Sudut sebelah kanan pohon ada bejana besar agak hitam sehabis terbakar dari gua batu pemanggangan, disekitaran kakinya digandrungi bebungaan liar putih dengan kepala yang menggaru rambutnya diuarkan keluar dengan alat dari perhiasan wanita baya, sehingga seorang akan melihat sekumpulan itu seperti air berwarna pekat yang tumpah dari wadah tukang kebun pengambil getah. Sebelah sudut lagi ada penduduk bebungaan liar lain yang pandai membuatkan linen berserabut dari tumbuhan rami, bagaimanakah mereka menyatukan dirinya untuk menentukan siapa-siapa yang terlebih dahulu untuk berselang diatas waktunya ataukah berselang dibawah waktunya hingganya kumpulan itu amatlah serasi dengan bentuk taplak meja warna ungu merah muda bermotif yang ingin dikenakan seorang pelayan rumahan menyiapkan sepagi awal untuk tuannya. Sudut seberang menguruk daripada penabur mereka, renda-renda besi baju perang direntakkannya mengikuti ruas rampelan diperbukitan yang menggunduk, mereka mengulurkan dedaunan berwarna keperakkan khasnya meramping seperti lanset-lanset cemara. Seorang pemotong kayu bakar seolah belum menyesaikan tugasnya, balok-balok kayu membentuk palungan yang berdiri maupun tertelungkup berserakan di tanah, dibelakang mereka adalah petingginya yakni sekumpulan punuk-punuk lain lebih rendah dari pohon tin, mengenakan keutamaan diantaranya bertumbuh emerald hijau tua dengan dibalik pakaiannya itu adalah suara kertas surat-surat yang jatuh dari kantung pesuruh kerajaan.

Seorang pemuda yang berompi coklat muda itu bagaimanakah untuk menenangkan mereka, ia akhirnya melepaskan topinya yang berbentuk seperti sebuah kuncup bunga hampir mekar dimana sebelah telinga atasnya ditanam sehelai bulu dari sayap marun seekor burung. Ia mengambil sebuah benda lain dari kantungnya yakni sebuah buku usang, sepanjang tepi papannya sedikit kerutan dan keausan yang sudut kulitnya sudah menaik, sampulnya yang berwarna seperti ruby kemalangan menggelap yang pegangan tulang belakang lengkungnya itu sudah penuh dengan bercak kendatipun serat benang emas pada judul masih sejati. Ia mulai membuka dan bercerita dengan suara khasnya, sahabat tanamannya yang ada dipekarangan kebun terdengar senyap dibalik kurun-kurun angin yang mengantarkan pada sebuah negeri kemudian membuka garukan sangkar.

"Sebuah patung kembali sebagai sosok menawan dibalik keramik putihnya. Serangkai ditunjukkannya, menunduklah pelatar yang berada dibelakang dinding segardu. Penduduk mawar akan memeraikan gaun, seorang mengatakan sesudah pembicaraan ini surga yang adil, memahatkan rumah.
Sebuah putih yang sungguh cantik jelita, membelalakkan penduduk sebuah pavillun kaca diseberangnya. Aku akan dalam ketakberhinggaan yang menuangkan gundukkan sampai langit-langit, menyusunkan partiture tua. Pigura-pigura penirai berserat keemasan yang dibukakan kemenakan waktu. Sebuah putih tidak tahu sungguh lugu, di bawah penari lampu.
Sebuah putih hanya kuasa merasakan kecintaan, memegangi keranjang bunganya namun tidak melayangkan untuk dikenakan pada masa, apakah itu taman bunga seorang puan. Aku dengan penutup kayuan tubuh ditempat terbuka sebuah pelelangan lukisan yang menghilangkan peradaban. Seorang putri
kembali dari negeri melenggakkan yang dibawakan, berkatalah seorang penabur sebuah musim kedatangan sebagai penanda, ketiga lonceng perunggunya.  Sebuah putih dalam ingatanku abadi, kayu-kayu pepohonan kami. Menggerayang pembubuh bibit kebun rahasia diatas batu putih. Makhluk mematah bening dengan menyisih tubuhnya para kelopak bunga.
Sebuah putih tidak mengatakan panutannya pada penghuni hutan, malaikat berjalan diatas beriringan. Pohon tajuk berusaha menggunakan pikiran yang bijaksana untuk menghadapi keadaan yang tidak dapat ditaklukkannya. Bagaimanakah yang dinamakan dengan tutur kendatipun ukirannya.
Perasaan yang ingin disematkan dalam bunggul kayu, sosok yang seringkali hanya terdiam. "Serangkaian dari pemilik kebun, apakah hidup dengan pohonku, aku berdiri diatas tanah dengan menggulirkan pucuk dedaunanku", katanya jujur kemudian."'

seravi

Komentar

Postingan Populer