Ancient Book

www.hellenicaworld.com



Ruangan sudut itu masih dengan meluruh dindingnya, kerangkang besi putih mengepangnya pada pintu telah memperlihatkan serbuk keperakan yang berimbun, namun mereka mengatakan akan mengurunkan lebih. Lemari-lemari berkayu hitam yang menyandarinya walaupun akan menambahkan tanda guratnya, tapi ada penduduk buku-buku yang selalu menyalamkannya kepada para pengunjung disitu. Sehingga akan melindungi penubuh aslinya, lagipula orang yang menjadi pendatang setianya tak akan lagi memperhatikan, mereka lebih berterimakasih karena kesemua benda mati itu telah menghadiri dalam pertemuan ruang mereka yang sungguh-sungguh tersembunyi. Sebuah perenungan penyair tertutup, dengan melakukan monolog yang dilanturkan pada sebuah para kepribadian makhluk yang mendiami pada sosok itu sendiri. Membuatkan seatap pelantun penyajak dramawan yang ingin menggunakan panggung-panggung penirai, namun tak dimaksudkan dalam dunia kenyataan yang sedang memberang fabula miliknya. Menurutnya pada ruang kedap dalamnya sudah sungguh menyedihkan, maka akan menggunakan dunia selanjutnya pada pengartian paradigma yang membuatkan pembatas buku, diletakkanlah pada satu lengan laman yang telah penuh tanda menggaris, dengan menyisipkan sepucuk daun memerah teramat tua yang sudah dikeringkannya dengan mengambilkan sedikit bagian dari musim gugur.  Setempat sandaran sebuah pohon disana yang akan digunakan dalam tulisan membalurnya, memasyhurkan para penghuni untuk menguatkan tatkala berkata-kata pada penjaga gerbang yang sesungguhnya. Sesangkar dengan kekukuhan itu membuat mereka akan mengembalikan wujud semula dari rahasia persemayaman. Adalah yang merangkap seorang melarikan diri berbunuh dari masa yang terusung pahit tapi akan masih merekatkan kerangka penunggu hanya sebuah perpeti.

Patung-patung hanya berkepala yang menggantung hampir disetiap lemarinya seperti mengatakan sesuatu pada yang memperhatikannya, bahwasanya mereka sudah didalam sini telah mengantungi banyak hal yang tak dimengerti oleh orang-orang dari dunia luar. Banyak misteri yang digenggam, siapapun layaknya tak akan mudah menjangkau apa yang menjadi kekuasaan mereka, kecuali seizin mereka. Terkadang sekumpulan itu sungguh mengangkuhkan dirinya hingganya ingin menyimpan segala rahasia itu menjadi milik sendiri. Dalam sekat-sekat kamar yang belum pernah termasuki atau ruangan rahasia yang masih tersembunyi. Seperti ingin memusarakan sesuatu yang sungguh tak ingin dilihat oleh anak-anak manusia lain dalam kehidupan peradabannya. Ataukah ingin memenjarakan sesuatu kepada makhluk yang telah memberikan diri disana kesakitan tak berhingga hingga sosok luarannya ingin menjerujikan sendiri. Ataukah ingin membuangkan akhir bukuan lalu penuh bersungkawa yang tak bisa dihancurkan hingganya seorang disana menuangkan kedalam tempat kaca berabadi. Namun terkadang patung-patung itu melengkapi kesunyian mereka, ditambah melihat kesungguhan para penghuni sejati yang sudah lama berdiam diri disana membuat sesekali untuk membukakan beberapa tempat. Memberikan tempat dudukan yang layak, tempat ruangan perbacaannya yang sungguh nyaman, perapian putih ukirnya yang selalu menghangatkan. Menunjukkan beberapa yang tak akan pernah terduga oleh kalangan siapa saja, melewati perbukuan yang dari jejaknya akan menidurkan mereka pada pegangan buku-buku disana, mengunci rapat-rapat pada katupan kunci khasnya sehingga akan memikirkan lain hal untuk mengeluarkan diri pada tempat itu dari sesegera satu hari yang sebenarnya.  

Para pembaca buku-buku misteri didalam ruangan itu sudah sering menerjemahkan banyak hal didalamnya, perkumpulan yang dikatakan sungguh terasing. “Sebuah empedu hitam dalam tudung perdiam dimana penubuh peradaban itu disisikan dengan sejarah sifat kepribadian memurung yang khusus“, tutur salah satu dari mereka. Pada keadaan itu ada selalu mengatakan dari sekerat sejak diibaratkan sekotak alunan yang menjadi seorang perantara, olehnya ia tak akan pernah kehilangan diri. Maka ia dapat mengendalikan dari jarak yang begitu jauh hanya menggunakan mimbar singgasananya sebagai kuasa pada ruang waktu disana dengan cara menuangkan setengah tubuhnya ke dalam buku-buku. Sebagai tempat tinggal lainnya, selayaknya seorang yang dapat sepuasanya melakukan ritme tak beraturannya tanpa merusakkan dunia permukaan. Didalam sana banyak yang membelalakkannya, seorang seperti ingin menahan jarum jam untuk diinginkan satu abad tuannya. Seorang harus memberitahunya bahwa sudah hidup terlalu lama. Ketika memungut taman kaca disegelarannya, mereka akan mengimbuhi dengan cahaya kentara sehingga ada yang bersimpuh selalu pada kastel yang dikelilingi parit sembari mengelana pikiran. Tempat itu dapat membahagiakannya, menukarkan segala perkataan yang telah lama melarakan sesosok petarung pada petiduran makam. Dan ia tak menginginkan, olehnya akan selalu mencari tempat untuk menyiasati sosok disana agar tetap memenuhi syarat kehidupan. Maka setelah ia hidup satu abad didalam sana, ada sesuatu dari sekepingan tadi yang menggeriakkan kearah sisinya memawang jatuhan, membiarkan segala kemilauan dari kesemua karya mereka agar mengunggulinya. Tapi tak akan dilupakan, sesungguhnya berkunjung ke tempat itu sudah menghabiskan satu abad yang selamanya, perhitungan yang sungguh diluar perakalannya. Namun ada yang tertera dalam sebuah tulisan tua pada buku pegangan penjaga perpustakaan diatasnya.

'Kumparan jarum jam pada dinding akan selalu memberikan senyata dirinya, dimaksudkan agar orang-orang dalam perkumpulan itu dapat mengingat tatkala membalur debu sampul buku yang telah digenggam. Sesungguhya mereka memiliki dunia itu setiapnya, kepribadian yang kuat dengan monolog berbait menggugahkan para makhluk penyeni yang sedang menutuk punggung pohon untuk bertulis.  Bercakap-cakap dengan pendamping setianya, menuliskan buku-buku kalis yang menjadi permintaan menunggu kemuliaan sosok didalam. Mengirimkan segulungan itu setiap hari sampai baut-baut jam menggetarkan penguasa jarum panah utama milik mereka.'

Dalam dunia itu seorang akan lebih mudah menuliskan surat-surat mereka pada langit-langit bukunya, karena dipermukaan atas dunia sebenarnya yang jauh tak terlihat lagi itu seperti ingin menangkupkan gelap beruntun. Karenanya mereka selama ini meletakkan salah satu jiwa didunia bawah dimana masih terdapat secercah cahaya dari pengikutnya, menjadikan sebagai pemukiman untuk orang-orang yang mengistirahatkan hati yang amarah pada tempat yang tak ingin dilihat sekarang ini. Adakalanya sesosok yang ingin menggarangi kepribadian tak tahu harus dipulangkan dari tempatnya, tak akan ada yang bertanggungjawab kecuali diri sendiri, karena seperti itulah yang dalam kehidupan. Seorang akan menggantungkan pengharapan pada siapapun akan segera menggrubis bayangannya, akhir dari segalanya disana tak akan menjadikan seseorang untuk membukakan ingatan berakalnya. Seorang pemarah akan ditakutkan melakukan hal yang sia-sia, mengatakannya untuk menutuk pohon berdirinya lebih keras, meneriaki orang yang lalu lalang di dunia permukaan untuk selama-lamanya. Terkadang menangis tersedu-sedu yang tak dimengerti memohon kepada mereka, menyembunyikan diri pada tempat yang memenuhi kesunyian berdendam. Seorang yang selalu mengernyitkan dahinya untuk semua makhluk Tuhan yang menghinggapi pada bahu juga kepalanya, pikiran dari kegelapan hati menangkar satu persatu agar merasai kesedihan terdalamnya. Olehnya sungguh ada yang harus memuatkan buku-buku seorang itu agar selalu dalam mengingat kebaikan, menaruh sedikitnya kemuliaan hatinya agar selalu membukakan rasa keibaan pada sekotak yang sedang dikukuhkan. Tapi kemudian ada yang ditakutkan lebih lagi yakni bagaimana kiranya ada sebongkah api yang dapat membakari pohon sendiri, sebelum memurkai apa yang dilihat dalam pelupuk.

Dalam dunia itu seorang akan berusaha memperbaiki segala perkara yang ada dalam kehidupannya dengan menemukan berbagai pintu yang sedang dikatupkan disana. Ada sungguh banyak pintu-pintu yang tak terkira menyelip pada dinding-dinding mereka, terkadang ada yang sungguh tak terlihat dengan segala keanehannya. Seorang didalam itu akan selalu membukakan satu persatu, sampai menemukan jati dirinya yang sesungguhnya didalam agar dapat sedikitnya untuk dibantu ditenangkan oleh makhluk-makhluk dalamnya. Namun orang-orang yang hidup pada permukaan atas akan melihatnya seperti seorang yang sedang kehilangan dunia nyata, ‘seorang yang memiliki dunia lain’. Mereka menganggapnya bukanlah seorang yang setara hidup dengan martabat-martabat mereka. Seorang yang berkelainan dengan segala pemikiran tak biasa, dengan segala keyakinannya dari negeri yang begitu jauh merajalelai ingin merusaki kota-kota keagungan mereka. Seorang itu adalah dianggap sebagai rumput liar dimana sekumpulan yang menggeriaki kaki-kaki mereka, karena hilir mudik sang kepribadian khusus itu yang selalu membawa buku-buku dengan segala pemikiran yang tak bisa diterjemahkan, sehingga itu akan terlihat sangat mengganggu. Tapi, seorang disana akan tetap menggunakan dunia bawah itu, membacakan buku-buku yang ada dilemari-lemari kayu disana, memasuki dari pintu pegangan bukunya kemudian pada menelusuri dari sudut pigura halaman pertama hingga menemukan pembatas buku yang menjadi kapal berlayar untuk menyebrangkannya ke laman kembarnya, kemudian ketika sudah sampai kekuatannya akan menyeretkan tubuhnya sampai pada sudut pigura akhir. Mencari rahasia-rahasia, dimana akan menjadikannya sebagai dunia sudut pandang yang sungguh menakjubkan. Walaupun, tak banyak yang mengetahui ataupun mengerti, tapi bukankah itu akan menjadi harta karun tak ternilai karena tak semua orang yang ada didunia permukaan atas itu dapat menemukannya.

Seorang itu dengan dirinya seperti saat ini, membukakan lembar pada pojokan lemari yang tak terjamah. Terletak disebalik papan yang seorang akan mengira itu hanyalah bagian dari bilik lemari, namun disana terletak tempat lain sesaat ia melihat guratan lain yang tak biasa pada gagang pinggirnya yang membawakannya pada tempat kayu yang masih terlindung. Ketika dibuka ternyata adalah tempat penyimpanan yang kelihatannya ingin masih ditanamkan berkurun oleh tuan pemiliknya, mengubur itu lebih dalam sehingga akan sangat berhati-hati sekali dalam susunan mengapik. Namun seperti sedang dalam ikatan yang tak bisa dikatakannya, ia bisa menemukannya. Ia adalah yang membacakan yang pertama kali, berhari-hari ia akan membukakan berlaman-laman dalam tempat sudut tempat duduknya yang hiasan dalam ruangan itu. Mencoba untuk mengartikan perkalimat lebih dalam, menguasainya perlahan-lahan, hingganya pernah bertatih dalam melihat semua kehilangan yang ada dalam jiwa penulisnya. Kemudian mengikuti jejak yang ada disana agar menjadi teman pemikirannya, agar menemukan sebuah relung yang menjadi dari penantiannya. Pengharapannya yang bagaimana dalam kehidupan sang penulis pada masa kelam disitu. Mengerjapkan selalu mata disana akan yang menidurkan dunia yang disana, namun akan selalu memutarkannya agar itu akan selalu tetap bernyala, memberikan waktu yang sungguh lama pada makhluk yang tertera didalam sana, memberikan mereka wujud yang lebih utuh dari sebelumnya, mengarahkannya ke tempat jauh yang lebih mengindahkan dari tempat terburuk. Ia tak ingin hidup dalam berkejian, masih menginginkan sesungguhnya kebaikan dalam petiduran jiwanya. Ia sungguh tak menginginkan martabat kekuasaan yang adalah tempat ditinggikan oleh orang-orang yang dalam dunianya, ia hanya ingin hidup berketenangan yang dalam persemayaman.

Seorang yang menemukan buku itu memperlihatkan buku itu pada dirinya yang juga menjadi penunggu pada tempat penyimpanan yang dinamakan perpustakaan seperti ini. Membacakan sehari-harinya buku-buku misteri, maka akan sangat berarti jika itu dibagikan untuk menukarkan pikiran pada hal yang juga langka disana. Merenungi apa yang menjadi pertulisan pada yang kehidupan gelap disana agar menjadi sebuah pembelajaran, dimana ketika berkejaran pada bayangan-bayangan hitam mengguruhi langit-langitnya. Pada petarung yang menjadi penimbal disegala perisainya akan digunakan sebagai kekuatan terakhirnya. Karena pada masa-masa berkeruh yang menjelang mangkatnya seorang yang menyinggasana pada jati dirinya, hampir menyerahkan segalanya karena segala rasa sakit dikala itu sudah menjadi kehampaan tak tertera. Semuanya yang didepan menjadi seburam-buramnya seperti sebuah kabut dengan kerahannya merajai pada yang telah berkaca mengurun pada tempat-tempatnya. Selayaknya tak peduli, membiarkan segalanya menjadi lahapan dengan mentakluk semua udara yang berjalan pada tanah, pohon-pohon mereka, anakan-anakan tumbuhan hingga yang kerdil sekalipun. Sang penulis itu, menjadi seorang mangsa. Jatuh ditangan para sekumpulan disana dimana yang selalu mengagungkan mimpi-mimpi terbesar mereka tanpa memerdulikan kesakitan manusia-manusia lain. Mengutamakan status kehidupannya yang selalu dielokkan dengan kedudukan mulia merajai, namun sebenarnya adalah yang membusuk dalam daging sendiri. Sang penulis itu, disalahkan oleh semua dunia gubahan disana mengenai apa yang bukan kesalahannya, dijadikan bahan untuk tumbal mereka pada tempat yang dinamakan persembahan. Namun diluar dugaan itu ada dalam sesosok jiwa yang berusaha hidup matinya agar keluar dari tangkaran mereka, menilik bahan dasar perisainya dari berkelananya agar berkesampaian pada tempat untuk perlindungan.

“Mengambil masa lalu sesuka hati pada kerajaannya adalah suatu kesalahan, seorang tak mengerti akan surga yang telah mendambakan para hati pemangkur mengguram wajah pangeran penerusnya terhilang”, kata dirinya yang satu.

Waktu yang sudah dilewati tak perlu menuliskan namanya lagi, karena yang sudah didalam tak akan mau muncul ke permukaan.

“Aku bahkan tidak mau melihat diriku sendiri pada waktu itu, sudah cukup menjadi buku dengan ratusan halaman pavillun yang membangkang dari tak memuliakan petuan kaca pada sejejaknya. Biarpun ia diangap termasyhur pun akan menjadi mengerak berkurun-kurun sampai waktu mangkatnya.”, tuturnya dengan suara yang menyaru.

Bagaimana pun juga diri yang diatas akan mencoba meminta bantuannya, mungkin bisa memecah kebuntuan yang selalu dibayangkan selama ini, dimana akan membawa perubahan pada kehidupan dalam satu abad yang menurutnya. Tetapi kemudian dijawab lagi,

“Aku terlalu berlebih menggambar dalam tangan yang berbuku-buku, sepetak disana menuliskan seperti seorang pencuri harta pada istana dengan kantungnya mengambil gelas piala yang berruh pada lemari perapian, aku tidak mau menjadi seorang yang tidak tahu malu.”

Akhirnya diri yang atas akan mengeluarkan kekuatan untuk menggambar kehidupan sendiri sementara ini, tanpa bantuan seorang dirinya yang satu lagi. Tadinya diri diatas hanya ingin berdiskusi. Seharusnya  ia tadi tidak usah bersembunyi. Hanya perlu mengeratkan tangan dengan banyak keberanian, hati yang mulai terpanggil akan membuat celah satu atau dua pada dinding-dindingnya. Namun itu tidaklah semudah yang dikira, seorang tadi mengunci diri pada pintu-pintu yang tak terlihat. Akan sulit untuk mencarinya, karena ada banyak pintu yang tersebar, berbentuk kaca bening besar, siapa mengira jika nanti pintu itu ada diatas atau dibawah, mungkin harus menyingkapkan pakaian yang dikenakan, karena tak akan tahu jika yang menjadi pijakan adalah salah satu pintu yang dimaksudkan. Beruntung jikalau pintu yang benar ada disekitar sini, jika tidak harus mencari keseluruh wilayah. Sebaiknya tidak untuk bergurau, karena ada beberapa kerangka dalam petaklukan pencarian itu akan sedikit demi sedikit akan diserpihkan menjadi keterhilangan.

Tak bisa dihindari jika ia ingin bersembunyi. Sesungguhnya orang-orang selalu menempatkan ia ditingkatan yang buruk, dinilai dengan apa yang dilakukan di masa lampau. Mereka hanya mengira, tak benar-benar tahu apa yang telah terjadi sebenarnya. Diluar dugaan mereka, ia sebenarnyalah yang menulis kebaikan di dalam sedikit kebaikan dari yang tak tertera. Mungkin sudah terlambat, karena tulisan-tulisan yang dibuatnya bukan mengenai kisah seorang petuah baik hati dan semuanya secara bertahap akan berubah sedikit demi sedikit menjadi jilid buku sastra lama .“Tapi kelak, tulisanku akan dibaca oleh salah satu orang kami di masa depan”, tuturnya. Berpindah tempat mungkin hanya itu yang sekarang ini bisa dilakukannya, dan orang-orang tak akan tahu sakit dalam perjalanannya ke tempat yang baru. Ia akan banyak merunduk dan memukuli diri, seperti tak mengasihani diri sendiri. “Apa yang kalian ketahui dalam perjalananku, bahkan kalian tidak tahu dari mana saja terbitku?”, tukasnya perlahan. Mengubah takdir baginya tak semudah yang dibayangkan, akan terlalu banyak ujian-ujian didepan. Terdengar suara-suara putus asa, tapi dalam persembunyiannya diam-diam ia akan terus berupaya mengubahnya dengan sabar secara bertahap. Tapi sama seperti tadi, orang-orang tak akan terlalu peduli. Di benak mereka bahwa semua takdir di masa lalu juga jati diri.

Kemudian tatkala ia menyadari satu hal, bahwa segala yang terjadi membuat agar hati tidak menjadi keras, semakin lama menjadi sesosok yang memulakannya agar merendah hati. Ketika berada di tingkatan bawah, akan merasa malu dan lebih malu lagi, menyadari diri bukanlah siapa-siapa dan lebih bukanlah siapa-siapa lagi, maka akan membungkukkan badan dan lebih membungkukkan badan lagi. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menghinakannya, yang mengatakan bahwa, “Seorang itu tidak pantas bersama-sama dengan kami.” Orang-orang itu sebaiknya tidak berlaku demikian, karena seorang memiliki ujiannya kerasnya, sebuah pikiran akan merasuki kepala hingga membuat hati menjadi tinggi jika memiliki praduga yang sungguh memburukinya. “Janganlah seperti seorang kerdil yang tidak mau melepaskan topinya, ia tidak mau menaruh hormat dengan sebangsanya, karena ia merasa tahu dan benar dengan segalanya, dan akhirnya menganggap dirinya sudah berada pada tingkatan atas, bahkan ia memandang rendah orang yang sebenarnya lebih tinggi darinya.” Mengapa tak menjadi manusia bijak yang menyukai hal-hal kecil, karena bagaimana jikalau ada sesuatu yang menakjubkan didalamnya, akhirnya dari hal-hal itulah ia banyak belajar menghargai. Memandang rendah seseorang  adalah sungguh suatu kesalahan. Kita tidak tahu kedudukan seseorang di hadapan Tuhan. Sebuah perjalanan khusus dari semua yang dialami mereka sebenarnya untuk menjadikan diri menghargai apa pun juga, bukanlah suatu yang dipilihkan ketamakan dimana sebagian manusia akan selalu menyalahartikan untuk digunakan sebagai penyihir-penyihir yang mempersekutukan Tuhan dengan berdasarkan pemimpi menakjubkannya.  Tentu saja melewati itu semua tidaklah mudah. Sebuah buku yang ditulis seorang tadi pun banyak ulasan-ulasan mengenai ketidakmampuan dalam memerangi diri sendiri. Bagaimana keputusasaan membawa semua barang miliknya. Bagaimana hidup yang menggantung kepala sendiri, terus-terusan mengaitkan dengan hal-hal lampau.

Tapi tetap saja buku itu akan dicari. Buku hitam tua usang pada lubang papan di balik lemari ruangan perkumpulan mereka, memang sengaja tidak mudah terlihat, agar orang-orang perkumpuan itu bisa memutar kepala sekali lagi, selagi mencari tahu rahasia. Salah satu rahasianya adalah tak akan ada yang kebetulan di dunia ini, semua kejadian mempunyai sebuah tujuan yang sudah direncanakan. Semoga hati-hati yang lain tidak salah memahami, serta menyibak segala yang menjadi ketakberhinggan, karena segala sesuatu di dunia itu ada memiliki batasnya.

“Aku sedikit khawatir karena tidak bisa berbicara dengan sepupu waktu yang berperan penting, aku tidak mau mengulur-ngulur kebijaksanaan.  Rasanya ingin melihat isi didalam kepalanya. Agar dapat menyegerakan halaman yang ditulis ke dunia luar. Aku bahkan tidak tahu walaupun jika menunggu dari masa depan. Mereka-mereka menggeser pada meja batunya. Apa yang bisa dilakukan, orang mati tak bisa hidup kembali. Tapi kemudian aku menemukan sesuatu yang seperti kejanggalan. Mungkin tak bisa menyelamatkan diri, tapi didalamnya masih mempunyai ruang kehidupan lain, disana kepala masih tetap berdiri, aku bisa mengubah takdir.”

seravi

Komentar

Postingan Populer