Ancient Book
Ruangan sudut itu masih dengan
meluruh dindingnya, kerangkang besi putih mengepangnya pada pintu telah memperlihatkan
serbuk keperakan yang berimbun, namun mereka mengatakan akan mengurunkan lebih.
Lemari-lemari berkayu hitam yang menyandarinya walaupun akan menambahkan tanda
guratnya, tapi ada penduduk buku-buku yang selalu menyalamkannya kepada para
pengunjung disitu. Sehingga akan melindungi penubuh aslinya, lagipula orang
yang menjadi pendatang setianya tak akan lagi memperhatikan, mereka lebih
berterimakasih karena kesemua benda mati itu telah menghadiri dalam pertemuan
ruang mereka yang sungguh-sungguh tersembunyi. Sebuah perenungan penyair tertutup,
dengan melakukan monolog yang
dilanturkan pada sebuah para kepribadian makhluk yang mendiami pada sosok itu
sendiri. Membuatkan seatap pelantun penyajak dramawan yang ingin menggunakan
panggung-panggung penirai, namun tak dimaksudkan dalam dunia kenyataan yang
sedang memberang fabula miliknya. Menurutnya
pada ruang kedap dalamnya sudah sungguh menyedihkan, maka akan menggunakan dunia
selanjutnya pada pengartian paradigma yang membuatkan pembatas buku, diletakkanlah
pada satu lengan laman yang telah penuh tanda menggaris, dengan menyisipkan sepucuk
daun memerah teramat tua yang sudah dikeringkannya dengan mengambilkan sedikit
bagian dari musim gugur. Setempat
sandaran sebuah pohon disana yang akan digunakan dalam tulisan membalurnya,
memasyhurkan para penghuni untuk menguatkan tatkala berkata-kata pada penjaga
gerbang yang sesungguhnya. Sesangkar dengan kekukuhan itu membuat mereka akan
mengembalikan wujud semula dari rahasia persemayaman. Adalah yang merangkap
seorang melarikan diri berbunuh dari masa yang terusung pahit tapi akan masih merekatkan
kerangka penunggu hanya sebuah perpeti.
Patung-patung hanya
berkepala yang menggantung hampir disetiap lemarinya seperti mengatakan sesuatu
pada yang memperhatikannya, bahwasanya mereka sudah didalam sini telah mengantungi
banyak hal yang tak dimengerti oleh orang-orang dari dunia luar. Banyak misteri
yang digenggam, siapapun layaknya tak akan mudah menjangkau apa yang menjadi
kekuasaan mereka, kecuali seizin mereka. Terkadang sekumpulan itu sungguh
mengangkuhkan dirinya hingganya ingin menyimpan segala rahasia itu menjadi milik
sendiri. Dalam sekat-sekat kamar yang belum pernah termasuki atau ruangan
rahasia yang masih tersembunyi. Seperti ingin memusarakan sesuatu yang sungguh
tak ingin dilihat oleh anak-anak manusia lain dalam kehidupan peradabannya.
Ataukah ingin memenjarakan sesuatu kepada makhluk yang telah
memberikan diri disana kesakitan tak berhingga hingga sosok luarannya
ingin menjerujikan sendiri. Ataukah ingin membuangkan akhir bukuan lalu penuh
bersungkawa yang tak bisa dihancurkan hingganya seorang disana menuangkan kedalam tempat kaca berabadi. Namun terkadang
patung-patung itu melengkapi kesunyian mereka, ditambah melihat kesungguhan
para penghuni sejati yang sudah lama berdiam diri disana membuat sesekali untuk
membukakan beberapa tempat. Memberikan tempat dudukan yang layak, tempat
ruangan perbacaannya yang sungguh nyaman, perapian putih ukirnya yang selalu
menghangatkan. Menunjukkan beberapa yang tak akan pernah terduga oleh kalangan
siapa saja, melewati perbukuan yang dari jejaknya akan menidurkan mereka pada
pegangan buku-buku disana, mengunci rapat-rapat pada katupan kunci khasnya
sehingga akan memikirkan lain hal untuk mengeluarkan diri pada tempat itu dari
sesegera satu hari yang sebenarnya.
Para pembaca buku-buku misteri
didalam ruangan itu sudah sering menerjemahkan banyak hal didalamnya,
perkumpulan yang dikatakan sungguh terasing. “Sebuah empedu hitam dalam tudung perdiam dimana penubuh peradaban itu disisikan dengan sejarah sifat kepribadian memurung yang khusus“, tutur salah satu
dari mereka. Pada keadaan itu ada selalu mengatakan dari sekerat sejak diibaratkan
sekotak alunan yang menjadi seorang perantara, olehnya ia tak akan pernah
kehilangan diri. Maka ia dapat mengendalikan dari jarak yang begitu jauh hanya menggunakan mimbar singgasananya sebagai kuasa pada ruang waktu disana
dengan cara menuangkan setengah tubuhnya ke dalam buku-buku. Sebagai tempat
tinggal lainnya, selayaknya seorang yang dapat sepuasanya melakukan ritme tak
beraturannya tanpa merusakkan dunia permukaan. Didalam sana banyak yang
membelalakkannya, seorang seperti ingin menahan jarum jam untuk diinginkan satu
abad tuannya. Seorang harus memberitahunya bahwa sudah hidup terlalu lama. Ketika memungut taman kaca disegelarannya,
mereka akan mengimbuhi dengan cahaya kentara sehingga ada yang bersimpuh selalu
pada kastel yang dikelilingi parit sembari mengelana pikiran. Tempat itu dapat
membahagiakannya, menukarkan segala perkataan yang telah lama melarakan sesosok
petarung pada petiduran makam. Dan ia tak menginginkan, olehnya akan selalu
mencari tempat untuk menyiasati sosok disana agar tetap memenuhi syarat kehidupan.
Maka setelah ia hidup satu abad didalam sana, ada sesuatu dari sekepingan tadi
yang menggeriakkan kearah sisinya memawang jatuhan, membiarkan segala kemilauan
dari kesemua karya mereka agar mengunggulinya. Tapi tak akan dilupakan,
sesungguhnya berkunjung ke tempat itu sudah menghabiskan satu abad yang
selamanya, perhitungan yang sungguh diluar perakalannya. Namun ada yang tertera dalam sebuah tulisan tua pada buku pegangan penjaga perpustakaan diatasnya.
'Kumparan jarum jam pada dinding
akan selalu memberikan senyata dirinya, dimaksudkan agar orang-orang dalam perkumpulan
itu dapat mengingat tatkala membalur debu sampul buku yang telah digenggam.
Sesungguhya mereka memiliki dunia itu setiapnya, kepribadian yang kuat dengan monolog
berbait menggugahkan para makhluk penyeni yang sedang menutuk punggung pohon
untuk bertulis. Bercakap-cakap dengan
pendamping setianya, menuliskan buku-buku kalis yang menjadi permintaan menunggu
kemuliaan sosok didalam. Mengirimkan segulungan itu setiap hari sampai
baut-baut jam menggetarkan penguasa jarum panah utama milik mereka.'
Dalam dunia itu seorang akan
lebih mudah menuliskan surat-surat mereka pada langit-langit bukunya, karena dipermukaan
atas dunia sebenarnya yang jauh tak terlihat lagi itu seperti ingin
menangkupkan gelap beruntun. Karenanya mereka selama ini meletakkan salah satu
jiwa didunia bawah dimana masih terdapat secercah cahaya dari pengikutnya,
menjadikan sebagai pemukiman untuk orang-orang yang mengistirahatkan hati yang
amarah pada tempat yang tak ingin dilihat sekarang ini. Adakalanya sesosok yang
ingin menggarangi kepribadian tak tahu harus dipulangkan dari tempatnya, tak
akan ada yang bertanggungjawab kecuali diri sendiri, karena seperti itulah yang
dalam kehidupan. Seorang akan menggantungkan pengharapan pada siapapun akan
segera menggrubis bayangannya, akhir dari segalanya disana tak akan menjadikan
seseorang untuk membukakan ingatan berakalnya. Seorang pemarah akan ditakutkan
melakukan hal yang sia-sia, mengatakannya untuk menutuk pohon berdirinya lebih
keras, meneriaki orang yang lalu lalang di dunia permukaan untuk selama-lamanya.
Terkadang menangis tersedu-sedu yang tak dimengerti memohon kepada mereka,
menyembunyikan diri pada tempat yang memenuhi kesunyian berdendam. Seorang yang
selalu mengernyitkan dahinya untuk semua makhluk Tuhan yang menghinggapi pada
bahu juga kepalanya, pikiran dari kegelapan hati menangkar satu persatu agar
merasai kesedihan terdalamnya. Olehnya sungguh ada yang harus memuatkan
buku-buku seorang itu agar selalu dalam mengingat kebaikan, menaruh sedikitnya
kemuliaan hatinya agar selalu membukakan rasa keibaan pada sekotak yang sedang
dikukuhkan. Tapi kemudian ada yang ditakutkan lebih lagi yakni bagaimana kiranya
ada sebongkah api yang dapat membakari pohon sendiri, sebelum memurkai apa yang
dilihat dalam pelupuk.
Dalam dunia itu seorang akan
berusaha memperbaiki segala perkara yang ada dalam kehidupannya dengan menemukan
berbagai pintu yang sedang dikatupkan disana. Ada sungguh banyak pintu-pintu
yang tak terkira menyelip pada dinding-dinding mereka, terkadang ada yang
sungguh tak terlihat dengan segala keanehannya. Seorang didalam itu akan selalu
membukakan satu persatu, sampai menemukan jati dirinya yang sesungguhnya didalam
agar dapat sedikitnya untuk dibantu ditenangkan oleh makhluk-makhluk dalamnya. Namun
orang-orang yang hidup pada permukaan atas akan melihatnya seperti seorang yang
sedang kehilangan dunia nyata, ‘seorang
yang memiliki dunia lain’. Mereka menganggapnya bukanlah seorang yang setara
hidup dengan martabat-martabat mereka. Seorang yang berkelainan dengan segala
pemikiran tak biasa, dengan segala keyakinannya dari negeri yang begitu jauh
merajalelai ingin merusaki kota-kota keagungan mereka. Seorang itu adalah dianggap
sebagai rumput liar dimana sekumpulan yang menggeriaki kaki-kaki mereka, karena
hilir mudik sang kepribadian khusus itu yang selalu membawa buku-buku dengan
segala pemikiran yang tak bisa diterjemahkan, sehingga itu akan terlihat sangat
mengganggu. Tapi, seorang disana akan tetap menggunakan dunia bawah itu,
membacakan buku-buku yang ada dilemari-lemari kayu disana, memasuki dari pintu
pegangan bukunya kemudian pada menelusuri dari sudut pigura halaman pertama
hingga menemukan pembatas buku yang menjadi kapal berlayar untuk menyebrangkannya
ke laman kembarnya, kemudian ketika sudah sampai kekuatannya akan menyeretkan
tubuhnya sampai pada sudut pigura akhir. Mencari rahasia-rahasia, dimana akan
menjadikannya sebagai dunia sudut pandang yang sungguh menakjubkan. Walaupun,
tak banyak yang mengetahui ataupun mengerti, tapi bukankah itu akan menjadi
harta karun tak ternilai karena tak semua orang yang ada didunia permukaan atas
itu dapat menemukannya.
Seorang itu dengan dirinya seperti saat ini, membukakan lembar pada pojokan lemari yang tak terjamah.
Terletak disebalik papan yang seorang akan mengira itu hanyalah bagian dari
bilik lemari, namun disana terletak tempat lain sesaat ia melihat guratan lain
yang tak biasa pada gagang pinggirnya yang membawakannya pada tempat kayu yang
masih terlindung. Ketika dibuka ternyata adalah tempat penyimpanan yang
kelihatannya ingin masih ditanamkan berkurun oleh tuan pemiliknya, mengubur itu
lebih dalam sehingga akan sangat berhati-hati sekali dalam susunan mengapik. Namun
seperti sedang dalam ikatan yang tak bisa dikatakannya, ia bisa menemukannya.
Ia adalah yang membacakan yang pertama kali, berhari-hari ia akan membukakan
berlaman-laman dalam tempat sudut tempat duduknya yang hiasan dalam ruangan itu.
Mencoba untuk mengartikan perkalimat lebih dalam, menguasainya perlahan-lahan,
hingganya pernah bertatih dalam melihat semua kehilangan yang ada dalam jiwa
penulisnya. Kemudian mengikuti jejak yang ada disana agar menjadi teman
pemikirannya, agar menemukan sebuah relung yang menjadi dari penantiannya.
Pengharapannya yang bagaimana dalam kehidupan sang penulis pada masa kelam
disitu. Mengerjapkan selalu mata disana akan yang menidurkan dunia yang disana,
namun akan selalu memutarkannya agar itu akan selalu tetap bernyala, memberikan
waktu yang sungguh lama pada makhluk yang tertera didalam sana, memberikan
mereka wujud yang lebih utuh dari sebelumnya, mengarahkannya ke tempat jauh
yang lebih mengindahkan dari tempat terburuk. Ia tak ingin hidup dalam
berkejian, masih menginginkan sesungguhnya kebaikan dalam petiduran jiwanya. Ia
sungguh tak menginginkan martabat kekuasaan yang adalah tempat ditinggikan oleh
orang-orang yang dalam dunianya, ia hanya ingin hidup berketenangan yang dalam
persemayaman.
Seorang yang menemukan buku itu
memperlihatkan buku itu pada dirinya yang juga menjadi penunggu pada tempat
penyimpanan yang dinamakan perpustakaan seperti ini. Membacakan sehari-harinya
buku-buku misteri, maka akan sangat berarti jika itu dibagikan untuk menukarkan
pikiran pada hal yang juga langka disana. Merenungi apa yang menjadi pertulisan
pada yang kehidupan gelap disana agar menjadi sebuah pembelajaran, dimana ketika berkejaran pada bayangan-bayangan
hitam mengguruhi langit-langitnya. Pada petarung yang menjadi penimbal disegala
perisainya akan digunakan sebagai kekuatan terakhirnya. Karena pada masa-masa
berkeruh yang menjelang mangkatnya seorang yang menyinggasana pada jati
dirinya, hampir menyerahkan segalanya karena segala rasa sakit dikala itu sudah
menjadi kehampaan tak tertera. Semuanya yang didepan menjadi seburam-buramnya seperti
sebuah kabut dengan kerahannya merajai pada yang telah berkaca mengurun pada
tempat-tempatnya. Selayaknya tak peduli, membiarkan segalanya menjadi lahapan
dengan mentakluk semua udara yang berjalan pada tanah, pohon-pohon mereka,
anakan-anakan tumbuhan hingga yang kerdil sekalipun. Sang penulis itu, menjadi
seorang mangsa. Jatuh ditangan para sekumpulan disana dimana yang selalu
mengagungkan mimpi-mimpi terbesar mereka tanpa memerdulikan kesakitan manusia-manusia lain. Mengutamakan status kehidupannya yang selalu dielokkan dengan kedudukan
mulia merajai, namun sebenarnya adalah yang membusuk dalam daging sendiri.
Sang penulis itu, disalahkan oleh semua dunia gubahan disana mengenai apa yang
bukan kesalahannya, dijadikan bahan untuk tumbal mereka pada tempat yang
dinamakan persembahan. Namun diluar dugaan itu ada dalam sesosok jiwa yang berusaha
hidup matinya agar keluar dari tangkaran mereka, menilik bahan dasar perisainya
dari berkelananya agar berkesampaian pada tempat untuk perlindungan.
“Mengambil masa lalu sesuka hati pada kerajaannya adalah suatu
kesalahan, seorang tak mengerti akan surga yang telah mendambakan para hati pemangkur
mengguram wajah pangeran penerusnya terhilang”, kata dirinya yang satu.
Waktu yang sudah dilewati tak
perlu menuliskan namanya lagi, karena yang sudah didalam tak akan mau muncul
ke permukaan.
“Aku bahkan tidak mau melihat diriku sendiri pada waktu itu, sudah
cukup menjadi buku dengan ratusan halaman pavillun yang membangkang dari tak memuliakan
petuan kaca pada sejejaknya. Biarpun ia diangap termasyhur pun akan menjadi mengerak
berkurun-kurun sampai waktu mangkatnya.”, tuturnya dengan suara yang
menyaru.
Bagaimana pun juga diri yang
diatas akan mencoba meminta bantuannya, mungkin bisa memecah kebuntuan yang selalu
dibayangkan selama ini, dimana akan membawa perubahan pada kehidupan dalam satu
abad yang menurutnya. Tetapi kemudian dijawab lagi,
“Aku terlalu berlebih menggambar dalam tangan yang berbuku-buku,
sepetak disana menuliskan seperti seorang pencuri harta pada istana dengan
kantungnya mengambil gelas piala yang berruh pada lemari perapian, aku tidak
mau menjadi seorang yang tidak tahu malu.”
Akhirnya diri yang atas akan
mengeluarkan kekuatan untuk menggambar kehidupan sendiri sementara ini, tanpa
bantuan seorang dirinya yang satu lagi. Tadinya diri diatas hanya ingin
berdiskusi. Seharusnya ia tadi
tidak usah bersembunyi. Hanya perlu mengeratkan tangan dengan banyak
keberanian, hati yang mulai terpanggil akan membuat celah satu atau dua pada
dinding-dindingnya. Namun itu tidaklah semudah yang dikira, seorang tadi
mengunci diri pada pintu-pintu yang tak terlihat. Akan sulit untuk mencarinya,
karena ada banyak pintu yang tersebar, berbentuk kaca bening besar, siapa
mengira jika nanti pintu itu ada diatas atau dibawah, mungkin harus
menyingkapkan pakaian yang dikenakan, karena tak akan tahu jika yang menjadi
pijakan adalah salah satu pintu yang dimaksudkan. Beruntung jikalau pintu yang
benar ada disekitar sini, jika tidak harus mencari keseluruh wilayah. Sebaiknya
tidak untuk bergurau, karena ada beberapa kerangka dalam petaklukan pencarian
itu akan sedikit demi sedikit akan diserpihkan menjadi keterhilangan.
Tak bisa dihindari jika ia ingin
bersembunyi. Sesungguhnya orang-orang selalu menempatkan ia ditingkatan yang
buruk, dinilai dengan apa yang dilakukan di masa lampau. Mereka hanya mengira,
tak benar-benar tahu apa yang telah terjadi sebenarnya. Diluar dugaan mereka,
ia sebenarnyalah yang menulis kebaikan di dalam sedikit kebaikan dari yang tak tertera. Mungkin sudah terlambat, karena
tulisan-tulisan yang dibuatnya bukan mengenai kisah seorang petuah baik hati dan
semuanya secara bertahap akan berubah sedikit demi sedikit menjadi jilid buku
sastra lama .“Tapi kelak, tulisanku akan dibaca oleh salah satu orang kami di
masa depan”, tuturnya. Berpindah tempat mungkin hanya itu yang sekarang ini
bisa dilakukannya, dan orang-orang tak akan tahu sakit dalam perjalanannya ke
tempat yang baru. Ia akan banyak merunduk dan memukuli diri, seperti tak
mengasihani diri sendiri. “Apa yang kalian ketahui dalam perjalananku, bahkan
kalian tidak tahu dari mana saja terbitku?”, tukasnya perlahan. Mengubah takdir
baginya tak semudah yang dibayangkan, akan terlalu banyak ujian-ujian didepan.
Terdengar suara-suara putus asa, tapi dalam persembunyiannya diam-diam ia akan
terus berupaya mengubahnya dengan sabar secara bertahap. Tapi sama seperti
tadi, orang-orang tak akan terlalu peduli. Di benak mereka bahwa semua takdir
di masa lalu juga jati diri.
Kemudian tatkala ia menyadari
satu hal, bahwa segala yang terjadi membuat agar hati tidak menjadi keras,
semakin lama menjadi sesosok yang memulakannya agar merendah hati. Ketika berada di tingkatan bawah, akan merasa malu dan lebih
malu lagi, menyadari diri bukanlah siapa-siapa dan lebih bukanlah siapa-siapa
lagi, maka akan membungkukkan badan dan lebih membungkukkan badan lagi. Lalu
bagaimana dengan orang-orang yang menghinakannya, yang mengatakan bahwa,
“Seorang itu tidak pantas bersama-sama dengan kami.” Orang-orang itu sebaiknya
tidak berlaku demikian, karena seorang memiliki ujiannya kerasnya, sebuah
pikiran akan merasuki kepala hingga membuat hati menjadi tinggi jika memiliki
praduga yang sungguh memburukinya. “Janganlah
seperti seorang kerdil yang tidak mau melepaskan topinya, ia tidak mau menaruh
hormat dengan sebangsanya, karena ia merasa tahu dan benar dengan segalanya,
dan akhirnya menganggap dirinya sudah berada pada tingkatan atas, bahkan ia
memandang rendah orang yang sebenarnya lebih tinggi darinya.” Mengapa tak
menjadi manusia bijak yang menyukai hal-hal kecil, karena bagaimana jikalau ada
sesuatu yang menakjubkan didalamnya, akhirnya dari hal-hal itulah ia banyak
belajar menghargai. Memandang rendah seseorang adalah sungguh suatu
kesalahan. Kita tidak tahu kedudukan seseorang di hadapan Tuhan. Sebuah
perjalanan khusus dari semua yang dialami mereka sebenarnya untuk menjadikan
diri menghargai apa pun juga, bukanlah suatu yang dipilihkan ketamakan dimana
sebagian manusia akan selalu menyalahartikan untuk digunakan sebagai
penyihir-penyihir yang mempersekutukan Tuhan dengan berdasarkan pemimpi
menakjubkannya. Tentu saja melewati itu semua
tidaklah mudah. Sebuah buku yang ditulis seorang tadi pun banyak ulasan-ulasan
mengenai ketidakmampuan dalam memerangi diri sendiri. Bagaimana keputusasaan
membawa semua barang miliknya. Bagaimana hidup yang menggantung kepala sendiri,
terus-terusan mengaitkan dengan hal-hal lampau.
Tapi tetap saja buku itu akan
dicari. Buku hitam tua usang pada lubang papan di balik lemari ruangan
perkumpulan mereka, memang sengaja tidak mudah terlihat, agar orang-orang
perkumpuan itu bisa memutar kepala sekali lagi, selagi mencari tahu rahasia. Salah
satu rahasianya adalah tak akan ada yang kebetulan di dunia ini, semua kejadian
mempunyai sebuah tujuan yang sudah direncanakan. Semoga hati-hati yang lain
tidak salah memahami, serta menyibak segala yang menjadi ketakberhinggan, karena segala sesuatu di dunia itu ada memiliki batasnya.
“Aku
sedikit khawatir karena tidak bisa berbicara dengan sepupu waktu yang berperan
penting, aku tidak mau mengulur-ngulur kebijaksanaan. Rasanya ingin melihat isi didalam kepalanya. Agar
dapat menyegerakan halaman yang ditulis ke dunia luar. Aku bahkan tidak tahu
walaupun jika menunggu dari masa depan. Mereka-mereka menggeser pada meja batunya. Apa yang bisa
dilakukan, orang mati tak bisa hidup kembali. Tapi kemudian aku menemukan
sesuatu yang seperti kejanggalan. Mungkin tak bisa menyelamatkan diri, tapi
didalamnya masih mempunyai ruang kehidupan lain, disana kepala masih tetap
berdiri, aku bisa mengubah takdir.”
seravi


Komentar
Posting Komentar