Cottage Blooming
Pedesaan rumah pondok dan
cottage-cottage bebatuan tradisional dengan jalan sempit yang memilah
rerumputan sudah digundukki oleh butiran pakis yang mengkristal. Permusiman
dingin ini akan menggunakan selimut beludru putih yang meruahkan selaras melemah
halus mahkotanya. Bilamanakah seperti seorang wanita baya dengan keeleganan
yang perbawanya sedang membiarkan sebuah mantel tak terkira nilainya sebagai
harkat nan tinggi yang akan meletakkan haluan kuasa pada sebuah persil, sedang menidurkan penabuh embun
digelarannya dengan sederetan makhluk penulisnya yang melatari. Sesungguhnya seorang
akan melihat dari sarung tangan yang dikenakannya pun tak hanya bernilai seni, tapi
melambangkan sisi yang dengan membawa suatu kehormatan dari langit putih. Salah
satu tangan mereka diletakkan pada sandaran bahu yang kemudian membungkuk ramah perlahan
memberikan salamnya pada segala penduduk yang berhidup dibawah. Darisana
seperti ada satu makhluk bersayap yang mengirimkan pesannya untuk kepermukaan tanah,
bahwasanya Tuhan juga memberikan kasih sayang berupa butiran nun indah
diambilkan setepak pohon keberkatan. “Gambaran
disana akan begitu mengagumkan ketika seorang melihat satu kepingan salju itu
lebih dalam sembari menadahkan dengan tangannya, benarlah ada pohon-pohon pakis
itu disekeliling hingga membentuk satu kembangan”, katanya. Mereka serupa karangan banyak dari pantulan kaca dimana anakan akan saling menyamai parasnya, pakaian semarai
putih itu akan disusunkan sejarak inginnya dalam kitaran. Tak terhingga dari sebenda itu
akan menumpuki pada rumah batu desa dan bangunan, cerobong asap pada atap-atap
disana bagaimanakah bisa dikenali sosok yang sebenar, mengatakannya gundukan
merapat indah sebanjar tulisan seseorang. Segala tanaman perdu sudah meranggasi
dedaunan hingga mereka akan menceritakan patung sesosok putih berlainan
kepribadian yang sedang berumpama. Pepohonan ranting hitam kering seperti
menjadi perhiasan-perhiasan yang belum dinamakannya, hanya membiarkan
segelantungan menampung secercah dari ribuan pecahan gelas kaca petuan mulia
dengan memendar.
Sebagian orang akan ada yang menjadi
senang hati, berjalan disepanjang jalanan salju ini sembari mengangkut keranjang
kerja seperti musim sebelumnya, atau mendorong kereta untuk diantarkan
mengambil pencariannya. Mereka mengatakan karena pada tanah yang sudah begitu
menyusut ada pemandangan membuat beberapa lembar laman ketika pulang bekerja
yang dimiliki senja harinya sudah tenat. Saat melintasi salah satu pekarangan
hutan dekat desa pada rutenya kembali, seperti melihat ada buah-buahan merah
kecil membeku pada pohonnya yang mirip pajangan seni, sekumpulan itu tak sempat
meruntuhkan anakannya, namun menjadikan tubuhan mengkristal alami yang menawan.
Para bijian pula menjuntaikan dirinya yang sudah berkaca, untuk sepanjang musim
semua pepohon akan menyimpan dalam almarinya. Ada yang menangkupkan seperti
kelambu renda diantaranya, melengkungkan sejenis kubah dengan ukiran kasar.
Pada dinding-dinding diletakkanlah tier dan tray bertumpuk-tumpuk seperti anak
tangga, sejenis kain berjarum menjatuh pada pinggirannya. Pada langit-langit
seperti simpul untuk merangkaikan buket-buket tumbuhan bunga genggam,
jaring-jaring sudah membuatkan pakaian mengerut beku untuk semua akar, seorang ada yang
seperti menggerekkan peranti tirai panggung untuk menutupi sebagian dari
tubuhnya. Mendirikan lampu ukir klasik pada batang kering, setepak jalan ada
beberapa yang akan berhenti pada setiap kelukan seperti ingin bermaksud agar tuannya tak akan tersesat. Pada lantai dikejauhan sana dibuatkan danau beku untuk satu
putaran kereta luncur, dimana yang akan meninggalkan jejak-jejak dari besi
penggaritnya. Perunggu denting musim dingin sebenarnya sedang dikumandangkan,
kaca bergubah bentuk yang menggantungi dan mengalasi semua perbendaan itu
dengan dentingnya yang saling bersentuh kerana para makhluk bening sedang memulai
dalam pekerjaannya, menghabiskan segala yang ada pada keranjang milik mereka
untuk menatakan semua. Sengaja memberi arakan untuk menyambut anak manusia
siapa saja yang melewati, membawakan serenata dari atas, memberi percakapan
yang menganggunkannya ketika peradaban memburuki petuah musim dingin. Pengharapannya
adalah agar suatu hari dirinya akan diingat, sebagai salah satu yang melukiskan
tak hingga langit pencacah dikesemuanya. Sebagian penghuni olehnya masih ada
yang bersyukur, ketika mengetahui perwujudan sosok itu ternyata memiki arti
yang lebih dari sekedar diturunkan.
Dan tentunya sebalik itu ada
sebagian orang yang akan membicarakan dengan nada yang sedikit sedih. Mungkin tatkala
rintikan yang semakin bertambah tinggi hingga dinding-dinding tembok jalan
agaknya tak terlihat, para lampu-lampu penunjuk seperti halnya tertinggal
setengah gagang kepalanya. “Kapankah
musim kedinginan yang sedang bertaruh memberi dirinya agar berhenti, karena pada
akhirnya menjadikan anakan putih terbeku menumpuki seluruh sosoknya”,
katanya. Maka mereka keluar dari rumah sembari membawa sekop-sekopnya untuk menyingkirkan
salju yang menumpuk, ada yang bersungut-sungut mengguncang-guncangkan sepatu
bootnya sehabis terbenam salju, mengeluarkan kendaraan berodanya dari yang juga
tertimbun, menepak-nepakkan bahunya dengan tangan dan berkata-kata, melilitkan
berkali-kali dengan erat syal rajutnya, melapiskan beberapa baju dalaman hangat
sebelum mantel bulunya. Mereka menganggap musim dingin agaknya menyusahkannya,
banyak pekerja toko yang terjebak didalam tempat hanya untuk menunggu badai
berhenti, ataukah para pedagang dan penyeni didepannya yang sedang menggigil
kedinginan, dari sepulang perjalanan membawa gerobak mereka ada yang terkena
demam tinggi, para pengemis dan gelandangan akan kesulitan untuk menegakkan
rumah kardusnya. Sebuah tempat tanah lapang ladang gandum akan hanya didiami tubuhan
memanjangi kawat-kawat rapuh yang menggeriak sesamanya, kejauhan terlihat
menjadi tuan-tuan dengan berpakaian keperakan. Para penanam kebun sayuran dan
buahan lainnya kesulitan menanami kebutuhan pangan lebih banyak, untuk itu mereka menggunakan rumah kaca
sebagai tanaman rumahan. Para penghuni pondok ada yang banyak kehabisan kayu
bakar, mengelap jendelanya yang sudah berputih itu membentuk bundaran untuk
melihat keadaan diluar, namun akhirnya memutuskan juga pergi ke hutan melewati
badai sembari membawa kapak untuk menebang beberapa dan mengangkutnya dengan
tali atau keretanya, kemudian sesampainya akan pergi keatap untuk menyekopkan
lagi gundukan salju yang menumpuk pada cerobong asap dan di bawah tempat bara
perapian. Para penduduk hutan mungkinkah sedang ada yang dalam kesulitan,
karena para paman tupai sudah memungut kenari untuk persediaan makan musim
dingin itu kedalam rumah kayu-kayu tadi.
Seorang laki-laki dengan jaket
hitam musim dingin kapas katun berkerah yang menutupi leher hingga setengah
kepalanya itu sedang dalam perjalanannya mengangkut keranjang kerja menuju
kerumah. Sambil memperhatikan jalan kebawahnya dengan hati-hati, tapi sebenarnya
pikirannya tidak mengarah kesana. Sebuah turunan tangga didepannya ditambah masih
bersalju, satu pijakan saat berada ditengah membuatnya tak seimbang sehingga
sedikit tergelincir, namun masih bisa tertahan dengan pegangan besi disisi
sebelah kanannya hingga ia tersadar dari pikirannya yang tadi. Ia pun melangkahkan
lagi kakinya sampai pada anak tangga terakhir. Diseberang jalan ada sebuah
bangku dengan pegangan tangan berbentuk spiral tumbuhan, tak ada seorang pun
yang menempati kecuali beberapa burung merpati abu-abu dengan strip hitam pada
bulu ekornya. Ia mengambil tempat duduk disebelah mereka, namun ketika ia
menyandarkan punggung maka burung-burung itu pergi darisana seperti ingin menghindari
orang asing. Sekarang ia melengkapi kesendiriannya pada bangku disana, karena
disana pun tak ada orang lagi disepanjang jalan itu. ‘Dibenaknya seperti ditumbuhi dengan lukisan abstrak kehitaman seperti
asapan timbul yang demikiannya lalu dileburkan, dibendakannya pada bangunan
juga pepohonan yang ada didepan kini, terus menyulur hingga tingkap yakni
dianggapnya adalah bukaan satu-satunya diujung sana yang membenarkan cahaya
masuk.’ Sebuah hal aneh akan merasukinya, hingganya ia tak bisa merasakan
aura dingin yang begitu menusuk seperti pada hari ini. Ia tak tahu lagi musim
dingin seperti ini yang bagaimana, atau bahkan merangkap keduanya yakni dalam
anggapan buruk atau baik makhluk teman-temannya yang ada diatas tawang kepala.
Lebih menekannya lagi seperti tak bisa, olehnya ia begitu diam. Sebenarnya
dalam hati menginginkan satu saja bisikan, misalnya akan ia ambil sebagian
ranah musim dingin ini sebagai satu keyakinan untuk kemudian hari yang begitu
menyenangkan. Tapi tetap saja ada yang kejanggalan, karena dugaan seperti itu
apakah sudah sedalam yang dirombak sosoknya serupa hal baik, karena banyak akan
terjadi lagi kesalahan-kesalahannya, didunia ini jika mengambil satu langkah
saja akan mendapat timbal dari itu. Tapi jika seorang tak mengambilnya apakah
ia tak akan tahu jawabnya, mereka mulai menjadikan itu sebagai dalihan agar
bisa melarikan diri dari kesemua sifat kepribadian. Tak tahu bagaimana lagi
cara menjelaskan agar ianya mengerti bahwa akan selalu ada yang membisikkan
suara-suara, lebih dari sekat jendela tadi yang hanya menderak saja disana.
‘Aku berada pada kedua sosok musim dingin’, seperti itu saja akan
dikatakannya.
Para makhluk yang hidup pada
hari-hari seperti ini akan banyak berkata-kata pada sarangnya, bagaimanakah
agar tetap tinggal dalam melewati permusiman. Sebagian akan mengikhlaskan
sesungguh-sungguh dengan mengatakannya untuk melihat sebentuk paras yang
membaluri itu adalah mengambil tuah hanya keindahannya, hingganya apa pun yang
disiratkan oleh ujian-ujian pada musim akan merelakan. Membiarkan mereka
semakin melumuri dengan putihnya, maka sebenarnya hanyalah seseorang dari negeri
seberang yang merupakan penulis dengan berkereta, datang ingin membagikan
bukunya dari sejak menuangkan tinta diatas gundukan yakni sebuah sastra khususnya yang sedang membawa
kabar gembira. Namun ada sebagian yang akan mendendam lebih lama dalam
ingatan-ingatan yang sudah ditambahi dengan kemelaratan mereka, menyimpannya sebagaimana
rasa tengkuk sudah dijarahkannya pengawal hawa dingin, maka
sekumpulan disana akan melihat sebagaimana yang penyihir berburuk hati sedang
mengurung para makhluk agar tetap meringkuk diam-diam yang sungguh berketakutan dalam
sarangnya, olehnya mereka menaruh kebencian pada sesosok disana yang tak lain sudah penguasanya. Dalam
tempat tinggal berdiam itu layaknya sudah sungguh berat untuk mengatakan agar
pada yang mendiami makhluk-makhluk dalam cermin beku, dimana tengah menyandar
pada meja berpikirnya untuk menegarkan, yakni diinginkannya tenang untuk saat
ini, tapi apa daya, bahkan mengatakannya sendiri didepan mereka atau diri mereka
yang asli sendiri sudah tidak mampu. Ia terlalu melukiskan hal yang
mengharapkan pada dunia itu agar mencampuradukkan kesemuanya, ia menganggap
kepribadiannya disana juga akan berpikiran sama, hingganya selalu saja
kesengsaraan yang diagungkannya itu memenggal sedikitnya pada kepingan.
Bagaimana cara menyadarkannya, ia mengatakan akan mengambil lebih banyak lagi
dari cermin penubuh, hingganya mereka akan menekankan seseorang didalamnya
untuk sebuah tawanan penunduk patuh.
“Kiranya musim dingin tak mengakui kesedihanku, maka ia akan menjadi
alasan untuk juga mengutuknya dari sarangku.”, bisiknya saat itu.
Seorang laki-laki tadi masih diam
dalam duduknya, sebuah amplop coklat ia keluarkan dari balik sakunya yang ada
didalam. Benda itu masih terkurung dengan perekat stempel merah mawar, seperti
ingin mengatakan agar tak pernah membukakan rahasia didalam. Seorang tadi memperhatikan
dengan seksama sepersegi itu yang diletakkan, ia memegangi ujung siku kanan
bagian atas sedang ujung bagian bawah sebelah kiri ada diseberangnya, dan sesungguhnya
banyak pada pikiran yang sedang berkata-kata pada mereka. Namun sembari ia
sedang menguasai pikiran, sebuah pohon dekat bangku meneteskan air sedikit pada
amplop, dan menjadikannya seperti beberapa bundar teratur yang menghiasi
tengahnya. Melihat itu maka ia segera melarikan dari lamunan, sebelum mereka menjatuhkan
banyak kantung air yang akan merembasi hingga anakan kertas didalam. Jatuhan
itu ternyata adalah dari salah satu dahan yang seperti sedang menadahkan tangannya
kearah landai, sebelum musim ini mungkin mereka ingin meneduhkan orang-orang
yang bersinggah pada bangku taman. Laki-laki itu pun menengadahkan kepalanya
kearah dahan itu, agak lama memandangnya sesambil menaikkan kantung mata, kemudian
ia tersenyum. Ia menundukkan kepalanya agar melindungi kertas, dan memberikan
kepalanya untuk sebagai wadah air mereka. Dahan sebenarnya hanya menjatuhkan
setitik demi setitik yang kecil hingganya ia tidak akan merasa terganggu, mungkinkah
mereka ingin mengetahui juga apa yang sedang dilakukannya sekarang. Maka ia pun
kembali memusatkan pandangnya lagi pada benda didepan, membuka perlahan dari
sesuatu yang menempelkan dari bagian pengatup atas, dimana ternyata didalamnya berisi
lembar kertas dan bertumpuk-tumpuk uang
kertas. Ia sehabis dari tempat penyimpanan uang miliknya.
Perasaan haru sekaligus sedih
ketika melihat uang sebanyak itu, lembarannya membuat ia teringat akan kerja
kerasnya selama ini. Pohonnya akan terlihat menuakannya dengan dedahan
menjadikan diri sebagai kedua lengan yang sedang melipatkan lemah, menggelayutkan
lebih pada kantung mata kayu-kayu penjaga, tanah tempatnya bersisik dimana akar
sedang mengering akan mengerutkan ranting-ranting bergantung. Seorang itu dan
pohonnya akan bersama-sama dalam permusiman, saling berbicara tentang apa yang
sedang dirasakan. Dan tatkala punggungnya juga seraya mengatakan kalimat yang
menyakitkan karena sudah diperlakukan begitu keras oleh tuannya dari diambilkan oleh
sebuah batu tonggak dalam perjalanan, parunya seakan
bertambah menekannya karena udara di malam terus menerus memukul selama itu dimana yang kuat menghampiri sesangkar kayu pohonnya, kepalanya seolah sudah dalam kurun waktu yang hampir
mematikan baut-baut mesin jam putarnya yakni mereka yang sudah terlalu lelah
membukakan banyak buku-buku disana selagi tuannya bekerja, ia tertunduk. Terkadang
dalam kehidupan itu tak tahu harus berkata apa kepada teman-temannya, karena keadaan
yang dihadapinya akan lebih merenggut hidup dan kerangka-kerangka mereka, mengatakan berbalik akal. Tapi
ia tak bisa berdalih untuk melarikan diri dari tubuh itu, karena sesungguhnya
sesosok diri satu lagi dimana yang mendiami mereka adalah sama seperti teman
sejati, selama ini ialah yang berkorban memberikan diri sepenuh untuknya, menyemangati
hidupnya agar selalu ingat akan tugasnya dikirim kesini. Maka ia hanya akan
meminta maaf, menundukkan ruh untuk mengatakan menyesal kepada satu persatu
dari mereka yang sekarang ini tengah menjajari meja diruang tempat ia akan mengatakan,
selamanya.
Dunia gubahan manusia sungguh tak
memenuhi adil, dan ia harus berhadapan dengan kesemuanya itu. Hasil pendapatan
dalam perjalanannya akan digunakan layaknya untuk menebuskan dari sebagaimana
pemangsa yang sudah menunggu mangsanya didepan pondoknya. Sedangkan ia tak
memiliki banyak kuasa dalam dunia itu, mereka memiliki kekuatan lebih dalam menangkar
apa yang sudah dalam genggaman, menggunakan jebakan-jebakan yang begitu ahli
dalam menjatuhkan mangsa. Seorang duduk itu pun berencana mengambil haluan mana
saja akan dihadang dengan pilar-pilar yang berdiri pada sekeliling bulan penuh
disana. Maka sesungguhnya ia ingin sekali bertanya kepada Tuhan, adakah sesuatu
yang datang dari arah setingkap yakni ujung lukisan abstrak bayangannya sejak
ia memulai duduk pada bangku ini dan menenggelamkan diri pada pikiran disana
tadi. Dan seorang itu masih berharap, olehnya ia menengadahkan keatas, kali ini
bukan pada dahan pohon bersalju yang menitikkan bulir air padanya yang menjadi
temannya kini, melainkan sebuah pemandangan dari negeri berseberangan tak pernah melekang yang begitu jauh. Sungguhnya ia melihat arakan awan yang merajalela tengah
menduduki langit-lagit pada kesemua ini, kadangkala ia ingin sekali mengambil
salah satu sedikit bongkah lalu dibawa pada pondoknya. Bukankah mereka adalah
yang mendapat surat-surat langsung dari Tuhan, rekahan membunganya disana
seperti sudah menyimpan banyak kalimat. Pada setiap bilik tukang pengirimnya sedang
menyimpan kertas-kertas itu seperti berbuah seraya menggumpalkannya, seuntai
darinya yang menggambarkan petunjuk sekurungan rahasia. Mungkinkah sudah
berkurun-kurun lamanya mereka menidurkan pada kerandanya, kiranya hanya satu
dari mereka akan menjatuhi pada sebuah tangan.
Sesungguhnya ia bersusah payah
mengeluarkan dari jeratan sekarang, berharap menemukan jalan keluar dari kesemuanya
itu. Saat ini ia akan berhadapan dengan sekumpulan penagih hutang, dimana mereka
adalah yang menggunakan kuasanya untuk menipudaya seseorang sehingga tak akan
bisa lagi melakukan perbantahannya seperti pada pengadilan. Mereka sebenarnya
adalah sekawanan dari ayahnya yang telah wafat, dimana hubungan yang begitu
seperti saling membahu. Namun
siapa yang menyangka sang ayah akan dijebak dalam segala usaha oleh mereka,
hingganya beliau harus menanggung timbal dari semuanya sendirian. Beliau
bekerja sekuat tenaga untuk menggantikan kerusakan disana, apa daya karena
terlalu keras dan banyak tekanan lalu penyakit merenggut bagian dalam tubuh tua itu. Orang-orang akan
selalu menyebut ayahnya sebagai pecundang, sesosok kalah petarung yang
melarikan diri dari kesemua tanggungjawab. Tapi ia sungguh tahu, bahwasanya
ayahnya memiliki alasan kuat dibalik hal itu. Sesungguhnya beliau ingin melindungi keluarganya agar mendapat penghidupan seperti dalam kubah disebuah negeri yang berkedamaian. Namun terkadang seorang pun tak akan bisa menyangka
siapa-siapa yang berlaku jahat padanya, seperti musuh yang tak terlihat mengayunkan
pedang tapi dengan cara yang diluar dugaan melebihi dari sebilah itu. Seorang
laki-laki yang masih duduk disana pun masih tak bisa mempercayainya, sebenarnya
dunia apakah ini. Selain berhadapan dengan penagih-penagih hutang disana, ia
harus berhadapan dengan saudaranya sendiri yang juga menjebaknya. ‘Saudara, dimana yang dikatakan sebagai orang yang bertalian keluarga
paling dekat dikala lengannya sudah terlalu letih bekerja demi menghidupkan
layaknya sebuah tempat tinggal yang tenang bagi mereka.’ Tapi sekarang ia
harus menerima kenyataan bahwasanya ada hal yang seperti itu pada dunia ini, ia
dibunuh oleh saudaranya. Maka sesungguhnya banyak yang ingin diungkapkan, namun
para yang tawang akan menyuruh sosok berbicara untuk mengatupkan lisan, kemudian
ia terdiam.
Pada akhirnya ia akan memberikan benda yang ada didepannya kini untuk mereka yakni para penagih hutang itu dan saudara yang menjeratnya. Hati selalu bertanya mengapa orang-orang dapat berlaku sekeji
demikian, tak ada rasa kasihankah kepada seorang yang mereka zalimkan. Seorang itu
sudah memohonkan agar tidak disakiti, seperti yang sedang meminta ampun dibawa tangannya
oleh sejenis kereta yang melecut punggungnya agar tidak ditambahkan rasa sakit lebih
dalam. Tapi sekumpulan disana yang memegang tali kendali tak mau menahu
karena sudah digelapkan oleh martabat yang jadi keagungan mereka. Seorang itu
olehnya menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Tuhan, meminta agar dikuatkan dari
segala ujian. Maka ketika nanti benda yang ada dihadapannya ini akan
diantarkannya dan dimiliki oleh orang-orang itu, tatkala itu pula ia akan
selalu mengingat Tuhan. Kemudian ada sebuah pernyataan yang begitu kuat dari dalam
sosok dirinya,
“Aku tak akan membenarkan perbuatan-perbuatan mereka yang sudah melampaui
batas, aku akan berusaha untuk menghindari kemelaratan timbalnya walaupun aku
sudah tak memiliki banyak kuasa dalam dunia itu, aku tak akan memberkati segala
tindakan-tindakan keji disana walaupun aku sudah dipasungnya oleh dunia itu,
tapi aku akan mengikhlaskan semua ujian-ujian yang diberikan Tuhan atas segala
deraku.”
Seorang laki-laki dibangku sana
menutup kalimatnya, dan juga dimasukkannya kembali benda-benda menumpuk didepannya
itu dalam tempat semula. Kemudian mulai beranjak dari sana, tak lupa ia seperti
memberikan salamnya pada pohon tadi. Ia pula membuyarkan kembali lukisan
abstraknya pada segala bangunan tinggi dan pepohonan hitam besar yang ada
disepanjang jalan ini sehingga bentuk aslinya kembali seperti sedia kala, mereka
seperti menutupkan tingkap jendela yang bersekat diujung itu, mungkin ada
sebuah kiranya seuntai yang masuk dari dalamnya. Namun ia sudah menemukan
sedikitnya petunjuk, ada sebuah dari sana Tuhan memberikannya dari arah
penglihatannya, ia sungguh mensyukuri dari hati yang paling dalam. Ia pun
melangkahkan kaki dan menusuri setepak jalan besar itu, masih ada tempat
pejalan kaki disamping pohon-pohon beranting hitam tumbuh. Kali ini ia
memperhatikan lebih jalan kebawahnya, walaupun hari ini penuh bersalju banyak
orang-orang yang lalu lalang disana yang ditemuinya, olehnya ia juga melihat pandangnya
kedepan.
Sesampainya ia disebuah jembatan
danau yang mengarah pada jalan menuju pondoknya, ia akan juga lebih memusatkan
arahnya. Disana masih penuh dengan gundukan salju, atap-atap rumah hingga
cerobong asapnya dipenuhi oleh selaput itu. Sebenarnya dalam hatinya ia sungguh
senang melihat tumpukkan putih itu yang sungguh cantik, ada kala warnanya yang begitu
pekat membuat seseorang begitu tak kuasa mengagumi keindahannya. Ketika melihat
rinciannya yang lebih dalam dari serpihannya itu akan menemukan lebih dari sekedar pecahan kertas seni yang tak ternilai, selain itu ada sebuah rahasia yang ditujukan padanya Karenanya ketika ia mendapati hawa kedinginan
yang begitu menusuk jantungnya, akan selalu diluluhkan oleh mereka-mereka yang
menggantungkan sekarya itu. Seperti saat ini, tatkala ia sedang meniti setepak jalan sempit disana, ada sebuah tumbuhan yang menyelip diantara patahan kayu yang sebentar hidupnya melapuk, mereka hanya ada terdiri dari dari dua tangkai rendah dengan daunnya bersusun yang masih menghijau lemah, namun pucuknya memberikan bunga menekuk yang masih menyendirikan dengan mencorakkan merah muda. Seorang itu tersenyum ramah kepada mereka, sambil membungkuk dan mengulurkan bagian tepi tangan untuk menyentuhnya, diperhatikannya tanaman itu yang tak lain hanya seukuran pertelapak tangannya, seperti ingin berkata-kata dengan ada reka bentuk darisana yang mengulas dari bayangannya, sebentar lagi mungkinkah akan mendatangi musim semi. "Suatu hari karena seorang akan mengerti mengapa Tuhan mendatangkan
permusiman ini, para makhluk sayap pematuh sedang menyemayamkan sesuatu, sejak memendar sebuah tempat kerandanya sebelum datangnya sebuah musim
yang merekah itu, dengan terlebih dahulu membuatkan cermin beku yang sesungguhnya, bagi para tuan tanahnya", tuturnya. Musim yang pada belahan bumi sungguh-sungguh
dinantikan, seperti seorang yang pada jendelanya memangku tangan sedari melihat
buku almanaknya, melingkarkan pena tinta merah di sejejak tempat tinggalnya pada bulan-bulan maret, merona pada yang melengkungi kedua hiasan memaras disana karena sedang
menunggu kedatangan. Cottage-cottage bebatuan itu akan dipenuhi oleh
tanaman bunga dengan berbagai pernik menggisarinya, ada dari perhiasan menguncup hingga seperti bermata berlian ruby atau peradu yang dipintal bersamaannya merendakan putih, para makhluk penjaga musim itu sembari menaburi yang dari
keranjangnya maka mengalunkan nyanyian pada kesemua itu agar lebih menyerkah warna. Seorang disana akan sungguh-sungguh mengikhlaskan, karena sebuah musim semi hanya terjadi
setelah sebuah musim dingin, tidak membelakanginya.
Laki-laki itu beranjak dari tempatnya, dari kejauhan punggungnya terlihat membunggul kayu yang dari semua makhluk pohonnya.
Laki-laki itu beranjak dari tempatnya, dari kejauhan punggungnya terlihat membunggul kayu yang dari semua makhluk pohonnya.
seravi


Komentar
Posting Komentar