Stutter Child
Setangkai dandelion memanggil angin segera, pada musim ini, inginnya membuyarkan anakan di perbukitan yang lebih jauh lagi. Perawakannya sungguh ringan dalam mengambil segala di pelupuk matanya, hingganya tak akan menahan diri untuk satu mahkota yang berdiam pada kepala. Namun satu anak ada yang akan tertatih dalam melewati permusiman ini, banyak dipikirkan, tak terkecuali pegangan yang menjadi penyangga sebagai pemberat diatas. Atribut halusnya diupayakan selalu menandakan sebagai yang menjagai hati-hati nan keras, menemani kala dibutuhkan sebagai pengikut setia. Adalah sebuah perbekalan yakni yang sudah dalam genggaman berbentuk sebongkah perisai putih ‘kan dibawanya menusuri sebukit demi sebukit, menawarkan pada diri jikalau ingin berhenti merasai hal sakit. Arakan angin akan menjuntaikan selalu lengan mereka, gaun selaput beningnya sungguh memabukkan para makhluk kecil yang ingin segera berpergian dari tempatnya. Atributnya membangunkan kerajaan-kerajaan megah dengan segala percakapannya dan peraturannya, pagar sejajarnya mengukirkan segala hal yang abstrak hingganya tak tersirat oleh mata, pilar berdirinya adalah yang akan mengangkat dengan kekuatan yang tak pernah dibayangkan, para benda-benda yang hidup ditanah bagaimana cara mengenalinya, terkadang ia memberikan langsung dirinya sebagai sesosok yang sungguh tinggi. Tak ada yang tahu bagaimana ia mengemudikan peranannya diperbukitan yang begitu luas ini, pikirannya membalurkan tinta dari ujung pena hingga buku yang sedang ditulisnya itu menggunduki sampai langit-langit. Olehnya anak tersebut akan lebih bersigap jika dihamburkan kearah yang tak terduga, mengambil lebih banyak dari keyakinan pada didalam yang dikatakan. Karena angin akan membuatnya menyurukkan kepala hingga ia tersungkur pada bebatuan kemudian dahan yang mengembun atau terjebak pada dedurian yang menjangkari pada pohon. Maka ia mengatakan pada penyangganya untuk tetap dikuatkan, sebuah keyakinan diharapkan selalu membuatkan tetap tegar dalam kehidupan seperti ini, karena sesungguhnya angin akan selalu ditiupkan oleh dari yang kipas besarnya.
Tatkala ia berkata-kata, benar sebuah
arakan mereka berdatangan mendesirkan perisai putih lagi. Satu penyangga yang
dibawa satu-satunya itu akan mengambil kesempatan untuk membawa mahkotanya
melepaskan diri. Sembari menguatkan pegangan berdirinya itu, dimana yang
diibaratkannya sebagai tongkat untuk menjelajahi tanahan kuat. Satu itu yang
merupakan penindih tubuh dan kepalanya selama ini, merupakan salah satu yang
juga dijaga sampai di tempatnya nanti suatu ketika berhenti pada tanah lapang.
Satu itu yang merupakan pemberi tahu tubuh dan kepalanya selama ini, merupakan
salah satu yang diperhatikan sampai tibanya nanti ketika sudah merasai tanahan.
Andai, banyak hal yang dibawa dalam berpergian, karena seperti anggapan lainnya
dikesemua ini membutuhkan banyak atribut berlebih-lebih untuk menaklukkan alam.
Tapi sesungguhnya jika seorang mengetahui akan menyadari satu hal bahwasanya
dengan keyakinan yang teguh seperti pada penyangga itu akan mengantarkan ke
tempat akhirnya. Namun sudah demikian pun, banyak yang akan mengatakan sesosok
muda tak membutuhkan tongkat-tongkat, ketika menjajaki tangga besar yang
menggunduki sampai langit-langitnya, baginya jika demikian sebagai bentuk
hinaan yang dianggapkan hanyalah untuk seorang-seorang lemah. Padahal penyangga
atau apapun yang akan diberikannya nama
nanti adalah untuk bertahan dari penimpa beban sendiri. Tapi tetap saja
ada yang akan tak mengakui bahwa dirinya juga memiliki hal yang lemah.
Dandelion perisai putih yang
seperti mahkotanya sudah berpeluh, ia terlihat rapuh. Dari arakan tadi juga membawanya
menemui banyak hal hingga membuatnya bertambah peluhnya, tak terkecuali
benturan-benturan dari makhluk yang meskipun hanya berlalu. Pada atas perbukitan dimana banyak sekali
sejenis mereka yang mendelikkan mata tajam, memaparkan jelas tubuh besar yang
akan bisa membuat apa saja dalam wilayahnya membenam, memberikan tak hingga
pedang dari sarung yang dikenakan pada sabuk kulit baju hawa dinginnya yang
menjaram. Maka jika seorang tua pun akan disandangnya gelar demikian tadi meski
hanya satu tongkatnya, karena setiap makhluk didunia ini sebenarnya membutuhkan
layaknya sebuah. Ia akan meyakinkan dirinya untuk tetap tidak angkuh kepada
Tuhan. Seperti jika seorang mengatakan kalau para hati tak butuh pertolongan
pada kesemua ini, jemari pada tangan yang seakan memiliki kekuatan lebih bisa
mengepakkan bebas sayap yang dijadakan besar sendiri. Maka satu anak dandelion
disana mengambil satu galah panjang penyangga untuk membawa mahkotanya, ketika
memiliki benda itu akan membuatnya bisa berterbangan jauh, adalah akan bisa
menjadi sosok kuat yang tadinya rapuh. Sebuah tongkat karena tahan pada aliran
angin, memberinya tumpangan seperti
kereta kencana yang akan mengirimkan sebuah surat titah untuk berpergian ke tempat
seingin.
Anak dandelion rapuh masih dengan
rambut-rambut putih perisainya, seperti berjalan lebih berhati-hati ketika menusuri
salah sebuah bukit. Disana adalah sebuah taman kota yang penuh dengan berbatu-batu,
tanah dengan segala atribut peradaban manusia ketika itu. Terlihat lengkap dengan
segala tatanannya yang mempesona, ketika kau membuyarkan segala angan tapi sebenarnya
hanya khayalan. Diantaranya banyak menjelaskan tentang cerita-cerita masa yang
kelam, bagaimana kau bertemu akhirnya pada yang dinamakan ‘dunia ketakutan
orang dewasa’. Sungguh disekitarnya betebaran segala aura keterpurukan, wajah manusia
disana seperti ingin mengatakan agar bagaimana caranya mencari tempat
pelampiasan segala dosa-dosanya. Akhirnya banyak orang-orang tak bersalah
dijadikannya sebagai idealismenya untuk menyelamatkan diri sendiri, tak
memperdulikan lagi bagaimana kerja keras mereka yang sudah layaknya sepenggalah
tubuh itu, ataukah memberinya kesempatan untuk menggenapkan sedikit
punggung-punggung yang sedari tadi hanya membungkuk lesu mengeruki tanah
mencari sesuatu. Adakah, sebuah mata air yang sebenarnya sudah menunggu memancar
dari dalam sini, mengatakan pada diri agar janganlah menyerahkan diri
sepenuhnya untuk mereka yang keji. Bukankah, diri ini milik Tuhan, maka
katakanlah pada dirinya bahwa ‘aku tak
akan pernah membiarkan mereka merenggut apa yang menjadi kepunyaan-kepunyaan
Tuhan, aku akan berusaha untuk menjaganya, sampai suatu hari aku sudah tak bisa
lagi menggenggamnya, sampai suatu hari aku sudah tak bisa mengatakan diri untuk
mengambil udara dari luar, sampai suatu hari aku tak memiliki kuasa penuh untuk
membuat diriku nyata dihadapan mereka.’
Anak dandelion rapuh masih dengan
rambut-rambut putih perisainya, sebenarnya didalam hati kecilnya tak ingin
hidup ditaman kota. Ia sunguh ingin menjauhi semua keterpurukan disana, walaupun
dalam anggapan teman-temannya itu akan menuliskan banyak laman dengan segala
alasan dendamnya sehingga membentukkan sebuah kekuatan, walaupun dalam anggapan
teman-temannya itu akan menuliskan banyak laman dengan segala ide pemikirannya
sehingga membentukkan sebuah ketahanan. Sesungguhnya itu adalah perniagaan yang
tidaklah adil, karena seorang tak tahu bahwasanya tindakannya itu sudah
melampaui dampaknya. Seorang terpuruk ada yang akan melakukan apa saja agar dirinya
mendapat kebahagiaan, tanpa mengetahui apakah itu sudah berada pada jalur
laman-laman yang sesungguhnya diharuskan untuk dijadikan pedoman. Sebuah
kegelapan akan terus mengikuti dari belakang pengaus punggungnya, ia menjadikan
sebagai satu dunia yang merupakan jawaban dari segala terpuruk dimana yang akan
menjadi ‘pandai peramal yang andai seorang benar-benar tahu’. Kemudian
mengutarakan hak-hak tegas miliknya untuk membuatkan tulisan-tulisan baru dalam
laman buku yang telah dihapusnya hari kemarin, memberikan tempat yang seingin
agar lebih leluasa untuk membalurkan tintanya pada setiap kertas yang direkat
pegangan buku. Kerap kali akan dipanggilnya kembali makhluk-makhluk yang dalam
dimensi dunia itu, menempatkan segala tokoh-tokoh pandai untuk membangun dunia
yang lebih besar dalam kepenulisan itu. Akan menjadi kedudukan terhormat
baginya untuk menemui singgasana seperti ini, dalam pendirian yang prinsip itu
sudah terlanjur tersirat peraturan garis utama hidupnya. Maka, jika sudah seorang
didalam keadaan demikian akan menjadi gelap mata, seperti tak sadar dalam
iringan yang membawanya ke ranah dunia seperti apa, seorang tak pernah bisa
membayangkannya. Karena imajinasinya mengikutserta dalam kamus sejajarnya dalam
kehidupan nyata, bagaimanakah, cara mengengendalikannya jika ia tak bisa bangun
dari sebuah mimpi buruk.
Sebuah mimpi buruk disana adalah
terpuruk yang sungguh mendalam, tak tahu apakah itu kesedihan yang dibuat oleh
hati-hati nan keras yang kemudian menjadikannya sedikit demi sedikit sebagai
kesedihan yang ingin merusak sesuatu. Ada sebuah rasa iri hati yang mengikuti
diam-diam dari belakangnya, ketika itu melihat dunia seperti inginnya
dalam kotak yang sudah disiapkannya. Akan sangat bisa untuk membulak-balikkan
apa saja yang ada didalam, ia tak sungguh-sungguh menginginkan
keindahan-keindahan yang ada di pelupuk matanya, ia ingin menjadikan mereka
juga sama-sama merasai kesedihan sepertinya. Hatinya tak rela jika mereka
mendapati bahagia, inginnya menunjukkan pada dunia agar jikalau menemukan
sebuah kotak kaca lagi akan dibuatkannya sebuah dunia yang juga bahagia menurut
pandangannya. Tapi pada akhirnya, ia hanya membuatkan kepuasan hati sendiri,
tak ada secercah kebahagiaan ternyata dibalik dinding itu, karena sebenarnya
hanya dunia ilusi yang dijadikan dari air mata kacanya mengendap untuk
berkurun-kurun, selamanya. Seorang telah menjadi tawanannya, ia mengatakan pada
para hati agar selalu tetap menjadi pelindungnya seperti itu, kemudian
memberikan mereka sihir-sihir hidup yang mengumpamakan satu dunia utuh untuk
segala makhluk yang menginginkan dirinya. Ia ingin menjadi segala pusat dari
kesemua ini, kemudian mimpinya adalah suatu hari menaburkan bubuk dari
keranjangnya untuk menghapus memori mereka sebelumnya.
Tapi, dalam dunia yang meski
seperti itu, ada sebagian manusia yang tak akan terpengaruh sihir-sihir. Karena
ia sungguh mencintai Tuhannya. Maka hanya karena cercaan dari orang-orang yang
membuatnya sakit, tak akan pernah sedikit pun ia memberikan seluruh hidupnya
untuk menjadi terpuruk demi mereka yang keji. Adalah sebuah tindakan yang
sia-sia, layaknya mengatakan pada langit putih agar awan-awan mereka perlahan
meninggalkannya. Menjadi terpuruk dan memberikan seluruh hidup seperti itu,
apakah gunanya. Tak ada teman-teman sejati yang akan menemaninya, karena ia pun
sudah membuat mereka hanya sebagai permainan sihir dari dunianya. Seorang yang
tak melakukan sihir itu akan menemukan teman-teman sejatinya. Bukan permainan
seadanya yang membuat seorang jatuh cinta kepadanya dengan hal yang terpaksa menukarkan
hati sungguh buruk, tapi ia mendapat jatuh cinta kepadanya dengan hal yang tulus
menukarkan hati sungguh baik. Seorang akan terperangah mengenai hal ini jika
lebih menelaahnya, jika mempercayainya. Seperti seorang yang menemukan rahasia hanya
dengan melihat berlalu, ia bisa menerjemahkan laman buku disitu yang
mengatupkan sebuah pribadi yang bertujuan agar seorang pun tak akan tahu. Tapi
ada sebuah kebaikan hati, sehingga walaupun ditutupi akan membuatnya tak mati.
Anak dandelion rapuh masih dengan
rambut-rambut putih perisainya, sepertinya ia sudah sampai pada yang
dimaksudkannya. Ia lebih senang dengan tanah rerumputan ilalang yang tenang,
menggeriak barisan mereka dengan benang tembaga mudanya yang
sejajar. Membulir sesosok pemalu menjadikannya tertunduk untuk beberapa kehidupan,
tapi suara bersamaan mereka yang saling menyentukkkan tangkai-tangkai kering seuntai karyanya akan membuat seseorang begitu
dalam ketenangan. Menafsirkan segala alam sungguhlah berat memang, tapi kau
akan melihat keindahan dari banyaknya. Maka anak itu pun akhirnya memberanikan
diri untuk menurunkan tongkat penyangganya kebawah, dalam kesempatan angin yang
membawa kemari ingin bertinggal ditanah ini. Memberikan sejenak diri untuk
beristirahat dari hingar bingar yang ada dalam kepalanya. Sesungguhnya, hati
masih bertanya-bertanya apa kehidupan selanjutnya. Tapi yang dipentingkan
sekarang adalah ia ingin kehidupan baru. Pada kehidupan yang membenahi
luka-luka lama, inginnnya dibuatkan sebuah istana dengan segala atribut
sederhana namun mengagumkan. Seperti halnya seorang penulis yang berdiam diri
untuk menyelesaikan beberapa tulisannya, ketika menulis ia melihat sebuah desa
kecil, ia sungguh senang melihat gundukan salju pada atap rumah juga cerobong
asap mereka. Kemudian pada musim semi, desa itu akan sangat jelas dengan cottage
bebatuan dan bunganya yang indah.
Anak dandelion rapuh masih dengan
rambut-rambut putih perisainya, tatkala ia menyiapkan diri bertemu dengan tuan
tanah disana. Dalam pikirannya, mungkinkah tuan tanah akan tak menerimanya,
padahal sungguh ia ingin memakai tanah itu untuk tempat tinggal kehidupan
barunya. Berpindah tempat adalah yang akan diambil langkah pertamanya. Sedari
lama ia sudah memikirkan banyak cara untuk memperbaiki pada kehidupan dikesemua
ini, dalam genggamannya, buku-bukunya. Ia tak ingin menjadi seorang yang dalam keraguan,
mereka akan membisikkan untuk menggoda sedapat mungkin agar tuannya mau
berpaling. Dikesemua ini banyak sekali yang akan membuat keraguan, karena
bagaimanakah, peperangan disana-sini membuat seorang kesulitan memegang sebuah
keyakinan. Akan selalu ada yang menancapkan separuh bilahnya ke bagian mana
saja, pada matanya yang merupakan pengendali, pada tubuhnya yang membawa pengartian, pada kaki yang menjadi penepak. Kita tak pernah menyangka mereka-mereka yang keji akan membuatkan peranan apa saja, diam-diam pada malam
perundingan, pada peraturan yang dibuatkan untuk tipuan,
melakukan sengketa dalam sirat perjanjian. Kita tak pernah menyangka mereka-mereka yang
keji bagaimana serupa, keluarga menidur keterasingan, saudara mengatap kelindungan. Mungkinkah jalannya sudah terseak-seak sungguh dalam yang kurungan menyeruji, pintu sudah mengatupkan gagangnya namun terjepit tangan diantara.
Anak dandelion rapuh akhirnya
berkata,
“Aku hanya seorang anak gagap, melihat pedang mencacah lalu dibagi-bagikannya burung pemakan bangkai. Dalam kehidupan
kesemua ini membuatku takut bicara, melepaskan segala rahasia yang dalamnya
sudah tak peduli. Aku membawa ketakutan yang menggunakan anak gagap ini selalu
dalam persembunyiannya, mengatakan para langit putih akan selalu menjemputnya.
Pada hari serambi tanah dikeruk lalu dipetak-petakkannya sesosok tamak. Dalam kehidupan kesemua ini membuatku mengatupkan lisan, membuat apa yang segala kuketahui karena sejarah yang perih. Aku membangun keburukan yang menggunakan anak gagap ini selalu dalam mimpi buruknya, mengatakan para hati agar selalu membangunkannya.
Pada hari serambi tanah dikeruk lalu dipetak-petakkannya sesosok tamak. Dalam kehidupan kesemua ini membuatku mengatupkan lisan, membuat apa yang segala kuketahui karena sejarah yang perih. Aku membangun keburukan yang menggunakan anak gagap ini selalu dalam mimpi buruknya, mengatakan para hati agar selalu membangunkannya.
Pada saat pembicara beku lalu dibuat perniagaannya. Dalam kesemua ini membuatkanku keluk didalam
yang bertambah, bagaimana agar aku berbicara pada Tuhan. Segala keji membuatkan hati melarung sedih, jika terpuruk dalamnya yang membawa lari
para hati. Maka aku mendirikan perisai yang menggunakan anak gagap ini selalu
ingat, bahwasanya jika tak mampu suatu hari ada sebuah tulisan tangan yang kuat.”
seravi


Komentar
Posting Komentar