Song Writer
Sebuah pisau ukir akan selalu digerakkan untuk menuliskan ‘nut-nut kurung terlambat’, ia tak akan menyesali telah jatuh hati. Dalam kerajaan pohon yang dibuatnya berharap setitik dari atas langit yang paling indah diantara itu semua jatuh kedasar elok dahan pucuk miliknya. Saat bersama sebuahnya, diisyaratkan mengenai lekuk tubuhan wujud abadi dari awal terjadinya sebuah kisah di kehidupan ini sampai akhirnya. Namun akan ada pertanyaan didalam tangkuk hatinya mengenai sesuatu meruntuh yang akan dituangkannya dalam semisalnya salah satu paranada. Saat itu apakah para petinggi disana yang memiliki kuasa memutuskan lelah dalam yang tak hingga dari pikiran diatas segala akalnya lalu melumpuhkan seraya. Sebuah perbatasan hirarki para hatinya karena mengikutsertakan wewenang milik mereka yang akan bisa menghancuri suatu di pelupuk mata atau sebaliknya menjagai gerbangnya yang suci. Kemudian, pemikiran bagaimana agar lebih meyakinkan para makhluk-makhluk yang masih berkitar dengan sayap bening penari, peranan memburuknya waktu dalam anggapan mereka atau peranan membaiknya waktu dalam khayalan mereka. Matanya untuk menilik lagi bagaimanakah cinta-cinta yang sebaiknya, karena apakah masih mendera harapan yang sebenarnya ada ketakutan dari tempat yang sungguh ingin disembunyikan. Maka dahan sebelah kanan akan berperan sebagai seorang komposer untuk membentukkan seni musiknya. Ia sesungguhnya juga yang memuji, inginnya dalam nyanyian dengan tiduran alas yang lebih dari layaknya bebungaan gaun mawar. Senandung untuknya akan yang tersurat pada gulungan-gulungan kertas kulit itu, karena sungguh mengerti keindahan dari keretanya yang diarak. Maka dahan sebelah kiri akan berperan sebagai seorang arranger untuk menganggunkan musiknya. Ia sesungguhnya juga yang melindungi, inginnya dalam nyanyian dengan luasan atap yang lebih dari layaknya dedaunan pakis salju. Setembang untuknya akan yang tersurat pada gulungan-gulungan kertas kulit itu, karena sungguh mengerti ketulusan dari kidungnya yang tertutup. Pada akhirnya kedua dahan akan menjadi tangan-tangan sang pohon itu jika diijinkan memberikan tulisan dalam membentukkan sebuah melodi berjalan.
‘Sebuah dari cinta sejati memiliki harga yang sungguh tak terkira’,
maka kau tahu, olehnya ia akan terus bekerja sembari membuatkan kertas yang
sebenarnya masih membunggul kayunya. Ia pula akan mengatakan banyak hal kepada
dedahannya agar lebih berhati-hati dalam memilihkan atau menempatkan paranada. Sesungguhnya
ia ingin walaupun hanya dengan nut-nut kurung terlambat menjadikan karya itu anggun
dengan masukan gita-gita, menambahkan satu jiwa agar perumpamaan sosok yang
ditanam dalam tudung kaca kotak musiknya layaknya bisa hidup. Seorang penyanyi yang
tegak di panggungnya itu tetap menguatkan pita suara namun ia akan
menghayati sama seketika menghirup udara pepohonannya. Baut-baut mesin putar pada
kotak itu akan terus dikendalikannya, mengatakan sampai permainan ini selesai
dengan anggun terhormat. Tanaman bunga sulur akan mengelokkannya pada tuturnya
berjalan, arakan dengan sastra yang indah, mengambil banyak pasang mata ketika
melihatnya dari itu, susunan bahasa patung hidup yang bukan sembarang. Layaknya
mereka-mereka yang hidup pada singgasana istana disana dengan martabatnya, bukanlah
kaum yang seperti direndahkan, agar nilai jual itu menjadi yang tak terbeli
dalam gedung pelelangan seperti salah satu barang-barang antik yang bekas
dikenakan pada peradaban itu. Tak seperti yang mudah didapatkan, seorang harus
merelakan apa yang menjadi paling mahal baginya untuk ditukarkan. Bahkan itu
pun belum cukup menguatkan nilainya, maka amat salah jika seorang hanya dalam
pengartian mendambakannya dalam tempat duduk kendaraan berisi pemikirannya yang
berniat untuk ‘memandu kusir tanpa campur
tangan sosok manusianya’.
Tuhan memberikan satu hal yakni
sebuah cinta. Seorang harus bersusah payah dahulu untuk menemui itu, tak bisa
dalam mendapatkannya lalu menyuruh orang lain untuk menggantikan tempatnya ketika
dalam masa-masa sulit disitu. ‘Seorang
harus banyak belajar apa yang menjadi alasan ketulusannya, bilakah menyeluruh
pada tumpukan-tumpukan buku yang sedang dimaksudkannya dalam kehidupan, bilakah
menggunakan pengorbanan menggaruki pepohonan kayu hanya untuk membuatkan
gulungan-gulungan kertas kulit untuknya.’ Ketika itu akan menjumpai banyak
hal dalam perjalannya, bagaimanakah cara mengenali jati diri semula, karena akan
banyak sekelabat harap yang sedang menunggu didepannya. Seorang olehnya harus
memiliki layaknya para atribut untuk membantunya dalam menemui itu, bukan hanya
perumpamaannya untuk menjadikan dunia itu ilusi dengan segala sihir yang
dikatakan, seperti ingin menjanjikan segala sesuatu jika dibalikkan jamnya dengan mudah. Tapi mengenai kenyataan, adalah yang akan dipantulkan dalam
cerminnya, suatu bayangan yang tertera disana akan menjadi tuangan bukunya.
Segala yang diperlihatkan sebenar-benarnya, namun dengan menceritakan kisah
dengan keluhuran. Sebenarnya ada yang tertanam hanya jika seorang mengetahui,
namun seorang harus berusaha untuk mencarinya didalam itu. Seperti sebuah pohon
disana sedang dengan perbincangannya dengan kawan-kawannya untuk membentukkan
sebuah yang bisa dikatakan karya, agar segala hal yang hendaknya akan mengusang
bisa dijadikan sebuah harta yang tak ternilai.
Sesosok komposer pada salah satu
dahan olehnya akan membantunya dengan menggunakan keahlian untuk membuat sebuah
komposisi ruang musik disana. Wilayah kerjanya dalam pertulisan yang sungguh
rumit, perseratnya akan selalu diperhatikan, seperti nut-nut yang menjadi
utamanya akan meninggikan nilanya. Ia meninjau dari segi hal vokal yang
dilakukan pada tatanan yang mendalam, memperlakukan ikatan seninya dengan
atribut menunjang yang lebih ahli untuk merekatkan penanya kedalam kertasnya
kelak. Perenungannya memilih pengetahuan musik yang sungguh tinggi berkelas, menggunakan
hal-hal dasar, ketrampilan yang mengguna inspirasi dan peralatan yang
menuangkan penabur untuk memperindah wajah-wajah. Ketika ia membuatnya itu maka
mendekapkan diri pada pianonya dalam memilihkan nada-nada, sembari menukarkan
nafas pada mereka, merasai segala apa yang ketertarikannya pada pohonnya. Ia
bisa mengatakan apa saja dalam melodinya, menggunakan banyak yang indah untuk
meletakkan pada sisi-sisi nut-nut kurung terlambat tadinya. Memberi nuansa yang
tak terbayangkan jika ia sudah menjentikkan jemarinya pada tubuhan tangkai
putih-hitam aneh itu ketika mereka saling mengejari anakan. Menghujani dengan
gemericik pola oranmaen kayu itu menyiratkan pada yang ingin dinamainya. Menguatkan
pada yang huruf-huruf berjalan agar tak mematikan penduduk disekitarnya. Keterikatan
yang sudah dalam satu komposisi maka akan menjadikannya satu keutuhan yang tak
akan memalingkan untuk menggubahnya lagi.
Sesosok arranger pula akan mengerahkan
segala kemampuannya untuk menuangkan idenya, ia akan mencari sekumpulan cahaya
dari sekeliling untuk memilah mana yang sebaik suara untuk layak
diperdengarkan. Kesemua ini memiliki ketertarikan masing-masing, maka ia akan
menggunakan hal-hal umum yang disukai oleh khalayak yakni makhluk-makhluk hidup
dihutan ini. Ia memberikan sentuhan berbeda, seperti menggunakan ritmis yang
bukanlah menggunakan nada tetap, ada alunan penggiring sebagai bentuk musik
lain. Perenungannnya pada keteraturan irama lagu, menikmati wilayahnya pada tak
tune namun masih terdengar harmonis atau selaras. Bukanlah sekelas vokal yang ada
didalam musik berkelas, tapi ia bisa menjiwai dari kehidupan dalam setiap yang
dilagukan. Mengerti apa saja yang menginginkan ketenangan, hingar bingar layaknya
akan diredamnya dengan segala atributnya. Makhluk bening penari disisi pohon
pun akan senang dalam pertulisannya, sosok yang sederhana yang rendah hati.
Ketika ia sedang menyendiri saat membuat musiknya maka akan mendekapkan segala
yang ada disekitarnya, seperti mengetuk-ngetuk tangannya pada kayu dahan,
menggunakan angin sedang pada pucuk dedaunan menggibasnya. Ada riak-riak
makhluk lain yang membantunya, mendentingkan jemari untuk berulang-ulang pada alat
itu sembari meniru gerakan yang sudah diajarkan, menggunakan atribut mereka pula
untuk membantu sebagai panggung pertunjukkan kecil.. Akhirnya memberikan
keyakinan padanya ketika menuliskan, membiarkan agar huruf-huruf berjalan disana
selalu berima, seperti tak kehilangan dirinya sendiri. Maka pada pohonnya ia mengatakan
bahwa nut-nut kurung terlambat itu akan sudah diindahkannya.
Sesosok penulis lagu adalah pohon
itu sendiri, wilayahnya adalah yang menciptakan dalam sebuah pertulisan syair
berbuku. Ia akan melengkapi dalam
kesendiriannya dalam menuliskan sebuah kesedihan atau kebahagiaan tentang kisah
yang didapati dari pelupuk mata ketika disitu. Ia akan yang mengembangkan dalam
tulisan itu menjadi sebuah yang klise atau senyata. Tangannya menguntai pada
pena tulis dan gulungan kertas kalis pada meja belajarnya, ia akan mengatakan
pada temannya itu untuk memberikan layaknya penyangga agar ketika puisi-puisi
yang dituangkannya dapat direkatkan seperti sukurun. Adalah tempat penyimpanan
yang ingin dilayakkannya mengenai sejarah untuk dimasa datang, menggunai ini
akan mengingatkannya pada apa yang telah diusahakannya. Karena kerap kali
pikiran akan melupai sosok yang sudah menggunakan sebenarnya adalah hak tempat
tingalnya didalam. Ia tak ingin dikemudian hari menjadi sosok tak tahu
berterimakasih dengan kehidupan ini, ia ingin mengingat selamanya terutama
mereka yang bertubuh indah. Berbuku akan dimuatkannya demi untuk mengabadikan
pula hati disana, bukankah sungguh menakjubkan apa yang telah diperlihatkan
oleh Tuhan. Ia akan memberi hatinya kedalam sana agar membuatnya tetap hidup,
maka mendekapkan diri pada piano pula yang sudah tergeletak sehabis dipakai disana
lalu membicarakan nut-nut kurung. Karena amat disayangkan jika mesin putar akan
hanya berlalu saja pada waktu-waktu berhentinya, seolah mengatakan ia tak ingin
diikuti dari belakang serambi jamnya. Maka sang penulis lagu akan berusaha
untuk mendapati yang tepak jejak-jejaknya disana, agar menuliskan kedalam
berbukunya.
Pada kotak musik disana yang
sosoknya pendiam akan menunggu selagi mereka sedang bekerja, selama itu ia dan
kehidupannya akan merenungi banyak hal. Ia memang tak bisa bergerak dari
panggung orkestranya, ia akan memejamkan mata untuk sekian kalinya dalam
merasai apa yang dalam pikiran pohonnya. Sosok penyanyi lawas itu, membenarkan
pita suaranya dan terus berlatih walau dalam kehidupan sulit seperti ini. Ia
mengatakan pada baut-baut yang menempeli disana untuk hati-hati jika memutarkan
dirinya, gerendel kunci pada punggungnya agar ditekankan, ia ingin memiliki
waktu yang cukup untuk memberi kesempatan pada mereka-mereka yang sedang
bekerja keras disana. Setelah pulang dari kelana pikiran mereka itu, tentunya
ialah yang menjadi tugas terakhir, yakni memainkan musik itu. Namun mungkinkah,
ada persuratan dari yang belum diketahui dari dalam sini lagi, hingganya ia akan bingung dalam merasai. Kerap kali jemarinya menggetar yang berlebih karena
ketakutan yang tak bisa dibayangkan. Ada sekelabat seperti merasuki kepalanya
hingga kesulitan berpikir. Olehnya setiap hari ia akan mengasah suaranya
berkali-kali agar tak pernah lupa akan tujuannya semula. Menguatkan mereka agar
tidak kehilangan dirinya, sewaktu dulu adalah yang membuat kesalahan dalam
bernyanyi, dan itu diharapkan tak akan terjadi kembali. Demi baut-bautnya yang
berputar, sungguh tak ingin memberikan tangan untuk memperlihatkan sebuah yang melarung disana.
Penyanyi pada panggung itu
olehnya akan selalu mengindahkan kedudukannya, dalam hati kecilnya ingin sekali
membantu mereka. Sebagai yang pula diandalkan dalam kehidupan ini, ia ingin
sang pohon pula melihat kesungguhannya. Bukan sekedar suruhan yang dimintai
untuk menemui apa saja yang sulit-sulit dari dalam, tapi juga sebagai
teman-teman sejatinya. Dalam kesemua ini kau akan kesulitan menemukan seperti
itu bukankah, karena akan banyak hal yang kau tak sangka terjadi di dunia. Ada yang
terjerumus untuk kesekian kalinya mencari lilin gantungnya, mereka ada yang
sudah tak peduli hingga inginnya menyerah sampai membunuh dirinya, tak bisa
dibayangkan bagaimana ia memanggil kembaran dirinya sendiri yang sudah lama
mati, hingganya ia seperti hidup sendirian didunia ini. Penyanyi itu, maka dengan
anggunnya masih dengan baju setelan rapi hitamnya akan selalu berdiri tegak
disana, mengisyaratkan pada pohon untuk
selalu membawanya, menggunkaan jasanya dalam melagukan, bukan untuk alat yang
melarikan diri dari kesemua ini, atau melampiaskan dengan bahu sejajar penubruk
untuk menuangkan ke dalam sekotak ini. Tapi lebih tepatnya untuk mengindahkan
sebuah yang tak tahu apa yang akan dinamakan. Pun, ia akan menunggu sebuah
nut-nut kurung dari mereka tadi yang sudah dirombak sedemikian rupa agar itu
dapat dinyanyikan. Karena walaupun seorang dengan suara indah pun tapi tak tahu
cara menuliskan syairnya dengan benar akan sungguh menyedihkan. Seorang akan hanya
mendengar seeokor burung yang tertatih dalam jeruji yang selalu merutuki dalam pengandaiannya kemudian pikiran itu sudah dimiliki oleh hati yang
bertitah untuk merusakkan kembali. Adakah yang akan teman sejati membawanya
dari dalam itu, bahkan ia mengatakan dirinya sendiri bahwa ia juga tak lama
lagi akan mati.
Tatkala sang penyanyi sedang dalam
lamunan itu, satu atau dua hari telah berselang, mungkinkah mereka yang tadi akhirnya telah
selesai dengan tulisannya,
Sayup terdengar sang pohon sedang bersenandung,
“Aku mengetuk
langit putih dengan sepucuk dedaunan tepak hati empunya dahan, menimbang dengan
segala keyakinan dari perisai kayu mereguh arakan gaun putih berjalan.
Harapan pengandaian adalah demi hidup dalam benang menggurat tangan, meretak segala batuan yang akan meneruskan suluran bunganya pada salah satu taman.
Mimpi terakhirnya membubuhi bubuk tidur untuk mereka yang adalah pelarung, menggunakan
perumpamaan dalam mesin jam putar adalah menjumpai petarung.
Aku menemukan
secercah cahaya dari kerajaan penempa putih bukit tempatku bersisik, mengatakan
pada seorang lagi didalam pohon untuk menyimpannya dalam kotak satuan musik.
Aura diatas sungguh melihat punggung pembuatnya melarik bongkahan sarang, menekankan atribut kayuan penubuh yang menyanggupi sekerahan putih bertawang.
Aku hanya
menginginkan nut-nut kurung terlambat ini mendapati kereta anggunnya, mengatakan
agar tak memuruk dalam kehidupan yang sebenarnya adalah perbawanya.
Rajutan pemintal menjadi keresahan dalam sudut pandangannya, penuai keranjang menceritakan
bahwasanya akan ada alasan bebungaan menguntai jadi ketulusannya.
Aku menunggu
pada musim semi dikemudian harinya merendahkan hati petinggi para hirarki, merubahi yang
beku bertumbuh menjadi sesosok baik berkala menuliskannya persurati.
Sebuah yang mempunyai kuasanya adalah pada lipatan rongga labirin sebentuk cerminan putri, tempat takdir didalamnya menjemput rahasia peruntungan pintu perpuri.
Aku
mengusahakan untuk menguatkan rambut akar menuai pada yang terlemahnya, menggerakkan
raga dalam menterjemahkan buku yang mengikuti perbacaannya.
Sebuah paran petahan untuk menukarkan dengan seludang air pohonnya, membicarakan pada
putih pekat untuk mencari salah sebuah yang silam dari Tuhannya.”
seravi


Komentar
Posting Komentar