Song Writer


thegraphicsfairy.com



Sebuah pisau ukir akan selalu digerakkan untuk menuliskan ‘nut-nut kurung terlambat’, ia tak akan menyesali telah jatuh hati. Dalam kerajaan pohon yang dibuatnya berharap setitik dari atas langit yang paling indah diantara itu semua jatuh kedasar elok dahan pucuk miliknya. Saat bersama sebuahnya, diisyaratkan mengenai lekuk tubuhan wujud abadi dari awal terjadinya sebuah kisah di kehidupan ini sampai akhirnya. Namun akan ada pertanyaan didalam tangkuk hatinya mengenai sesuatu meruntuh yang akan dituangkannya dalam semisalnya salah satu paranada. Saat itu apakah para petinggi disana yang memiliki kuasa memutuskan lelah dalam yang tak hingga dari pikiran diatas segala akalnya lalu melumpuhkan seraya. Sebuah perbatasan hirarki para hatinya karena mengikutsertakan wewenang milik mereka yang akan bisa menghancuri suatu di pelupuk mata atau sebaliknya menjagai gerbangnya yang suci. Kemudian, pemikiran bagaimana agar lebih meyakinkan para makhluk-makhluk yang masih berkitar dengan sayap bening penari, peranan memburuknya waktu dalam anggapan mereka atau peranan membaiknya waktu dalam khayalan mereka. Matanya untuk menilik lagi bagaimanakah cinta-cinta yang sebaiknya, karena apakah masih mendera harapan yang sebenarnya ada ketakutan dari tempat yang sungguh ingin disembunyikan. Maka dahan sebelah kanan akan berperan sebagai seorang komposer untuk membentukkan seni musiknya. Ia sesungguhnya juga yang memuji, inginnya dalam nyanyian dengan tiduran alas yang lebih dari layaknya bebungaan gaun mawar. Senandung untuknya akan yang tersurat pada gulungan-gulungan kertas kulit itu, karena sungguh mengerti keindahan dari keretanya yang diarak. Maka dahan sebelah kiri akan berperan sebagai seorang arranger untuk menganggunkan musiknya. Ia sesungguhnya juga yang melindungi, inginnya dalam nyanyian dengan luasan atap yang lebih dari layaknya dedaunan pakis salju. Setembang untuknya akan yang tersurat pada gulungan-gulungan kertas kulit itu, karena sungguh mengerti ketulusan dari kidungnya yang tertutup. Pada akhirnya kedua dahan akan menjadi tangan-tangan sang pohon itu jika diijinkan memberikan tulisan dalam membentukkan sebuah melodi berjalan.

‘Sebuah dari cinta sejati memiliki harga yang sungguh tak terkira’, maka kau tahu, olehnya ia akan terus bekerja sembari membuatkan kertas yang sebenarnya masih membunggul kayunya. Ia pula akan mengatakan banyak hal kepada dedahannya agar lebih berhati-hati dalam memilihkan atau menempatkan paranada. Sesungguhnya ia ingin walaupun hanya dengan nut-nut kurung terlambat menjadikan karya itu anggun dengan masukan gita-gita, menambahkan satu jiwa agar perumpamaan sosok yang ditanam dalam tudung kaca kotak musiknya layaknya bisa hidup. Seorang penyanyi yang tegak di panggungnya itu tetap menguatkan pita suara namun ia akan menghayati sama seketika menghirup udara pepohonannya. Baut-baut mesin putar pada kotak itu akan terus dikendalikannya, mengatakan sampai permainan ini selesai dengan anggun terhormat. Tanaman bunga sulur akan mengelokkannya pada tuturnya berjalan, arakan dengan sastra yang indah, mengambil banyak pasang mata ketika melihatnya dari itu, susunan bahasa patung hidup yang bukan sembarang. Layaknya mereka-mereka yang hidup pada singgasana istana disana dengan martabatnya, bukanlah kaum yang seperti direndahkan, agar nilai jual itu menjadi yang tak terbeli dalam gedung pelelangan seperti salah satu barang-barang antik yang bekas dikenakan pada peradaban itu. Tak seperti yang mudah didapatkan, seorang harus merelakan apa yang menjadi paling mahal baginya untuk ditukarkan. Bahkan itu pun belum cukup menguatkan nilainya, maka amat salah jika seorang hanya dalam pengartian mendambakannya dalam tempat duduk kendaraan berisi pemikirannya yang berniat untuk ‘memandu kusir tanpa campur tangan sosok manusianya’.

Tuhan memberikan satu hal yakni sebuah cinta. Seorang harus bersusah payah dahulu untuk menemui itu, tak bisa dalam mendapatkannya lalu menyuruh orang lain untuk menggantikan tempatnya ketika dalam masa-masa sulit disitu. ‘Seorang harus banyak belajar apa yang menjadi alasan ketulusannya, bilakah menyeluruh pada tumpukan-tumpukan buku yang sedang dimaksudkannya dalam kehidupan, bilakah menggunakan pengorbanan menggaruki pepohonan kayu hanya untuk membuatkan gulungan-gulungan kertas kulit untuknya.’ Ketika itu akan menjumpai banyak hal dalam perjalannya, bagaimanakah cara mengenali jati diri semula, karena akan banyak sekelabat harap yang sedang menunggu didepannya. Seorang olehnya harus memiliki layaknya para atribut untuk membantunya dalam menemui itu, bukan hanya perumpamaannya untuk menjadikan dunia itu ilusi dengan segala sihir yang dikatakan, seperti ingin menjanjikan segala sesuatu jika dibalikkan jamnya dengan mudah. Tapi mengenai kenyataan, adalah yang akan dipantulkan dalam cerminnya, suatu bayangan yang tertera disana akan menjadi tuangan bukunya. Segala yang diperlihatkan sebenar-benarnya, namun dengan menceritakan kisah dengan keluhuran. Sebenarnya ada yang tertanam hanya jika seorang mengetahui, namun seorang harus berusaha untuk mencarinya didalam itu. Seperti sebuah pohon disana sedang dengan perbincangannya dengan kawan-kawannya untuk membentukkan sebuah yang bisa dikatakan karya, agar segala hal yang hendaknya akan mengusang bisa dijadikan sebuah harta yang tak ternilai.

Sesosok komposer pada salah satu dahan olehnya akan membantunya dengan menggunakan keahlian untuk membuat sebuah komposisi ruang musik disana. Wilayah kerjanya dalam pertulisan yang sungguh rumit, perseratnya akan selalu diperhatikan, seperti nut-nut yang menjadi utamanya akan meninggikan nilanya. Ia meninjau dari segi hal vokal yang dilakukan pada tatanan yang mendalam, memperlakukan ikatan seninya dengan atribut menunjang yang lebih ahli untuk merekatkan penanya kedalam kertasnya kelak. Perenungannya memilih pengetahuan musik yang sungguh tinggi berkelas, menggunakan hal-hal dasar, ketrampilan yang mengguna inspirasi dan peralatan yang menuangkan penabur untuk memperindah wajah-wajah. Ketika ia membuatnya itu maka mendekapkan diri pada pianonya dalam memilihkan nada-nada, sembari menukarkan nafas pada mereka, merasai segala apa yang ketertarikannya pada pohonnya. Ia bisa mengatakan apa saja dalam melodinya, menggunakan banyak yang indah untuk meletakkan pada sisi-sisi nut-nut kurung terlambat tadinya. Memberi nuansa yang tak terbayangkan jika ia sudah menjentikkan jemarinya pada tubuhan tangkai putih-hitam aneh itu ketika mereka saling mengejari anakan. Menghujani dengan gemericik pola oranmaen kayu itu menyiratkan pada yang ingin dinamainya. Menguatkan pada yang huruf-huruf berjalan agar tak mematikan penduduk disekitarnya. Keterikatan yang sudah dalam satu komposisi maka akan menjadikannya satu keutuhan yang tak akan memalingkan untuk menggubahnya lagi.

Sesosok arranger pula akan mengerahkan segala kemampuannya untuk menuangkan idenya, ia akan mencari sekumpulan cahaya dari sekeliling untuk memilah mana yang sebaik suara untuk layak diperdengarkan. Kesemua ini memiliki ketertarikan masing-masing, maka ia akan menggunakan hal-hal umum yang disukai oleh khalayak yakni makhluk-makhluk hidup dihutan ini. Ia memberikan sentuhan berbeda, seperti menggunakan ritmis yang bukanlah menggunakan nada tetap, ada alunan penggiring sebagai bentuk musik lain. Perenungannnya pada keteraturan irama lagu, menikmati wilayahnya pada tak tune namun masih terdengar harmonis atau selaras. Bukanlah sekelas vokal yang ada didalam musik berkelas, tapi ia bisa menjiwai dari kehidupan dalam setiap yang dilagukan. Mengerti apa saja yang menginginkan ketenangan, hingar bingar layaknya akan diredamnya dengan segala atributnya. Makhluk bening penari disisi pohon pun akan senang dalam pertulisannya, sosok yang sederhana yang rendah hati. Ketika ia sedang menyendiri saat membuat musiknya maka akan mendekapkan segala yang ada disekitarnya, seperti mengetuk-ngetuk tangannya pada kayu dahan, menggunakan angin sedang pada pucuk dedaunan menggibasnya. Ada riak-riak makhluk lain yang membantunya, mendentingkan jemari untuk berulang-ulang pada alat itu sembari meniru gerakan yang sudah diajarkan, menggunakan atribut mereka pula untuk membantu sebagai panggung pertunjukkan kecil.. Akhirnya memberikan keyakinan padanya ketika menuliskan, membiarkan agar huruf-huruf berjalan disana selalu berima, seperti tak kehilangan dirinya sendiri. Maka pada pohonnya ia mengatakan bahwa nut-nut kurung terlambat itu akan sudah diindahkannya.

Sesosok penulis lagu adalah pohon itu sendiri, wilayahnya adalah yang menciptakan dalam sebuah pertulisan syair berbuku.  Ia akan melengkapi dalam kesendiriannya dalam menuliskan sebuah kesedihan atau kebahagiaan tentang kisah yang didapati dari pelupuk mata ketika disitu. Ia akan yang mengembangkan dalam tulisan itu menjadi sebuah yang klise atau senyata. Tangannya menguntai pada pena tulis dan gulungan kertas kalis pada meja belajarnya, ia akan mengatakan pada temannya itu untuk memberikan layaknya penyangga agar ketika puisi-puisi yang dituangkannya dapat direkatkan seperti sukurun. Adalah tempat penyimpanan yang ingin dilayakkannya mengenai sejarah untuk dimasa datang, menggunai ini akan mengingatkannya pada apa yang telah diusahakannya. Karena kerap kali pikiran akan melupai sosok yang sudah menggunakan sebenarnya adalah hak tempat tingalnya didalam. Ia tak ingin dikemudian hari menjadi sosok tak tahu berterimakasih dengan kehidupan ini, ia ingin mengingat selamanya terutama mereka yang bertubuh indah. Berbuku akan dimuatkannya demi untuk mengabadikan pula hati disana, bukankah sungguh menakjubkan apa yang telah diperlihatkan oleh Tuhan. Ia akan memberi hatinya kedalam sana agar membuatnya tetap hidup, maka mendekapkan diri pada piano pula yang sudah tergeletak sehabis dipakai disana lalu membicarakan nut-nut kurung. Karena amat disayangkan jika mesin putar akan hanya berlalu saja pada waktu-waktu berhentinya, seolah mengatakan ia tak ingin diikuti dari belakang serambi jamnya. Maka sang penulis lagu akan berusaha untuk mendapati yang tepak jejak-jejaknya disana, agar menuliskan kedalam berbukunya.

Pada kotak musik disana yang sosoknya pendiam akan menunggu selagi mereka sedang bekerja, selama itu ia dan kehidupannya akan merenungi banyak hal. Ia memang tak bisa bergerak dari panggung orkestranya, ia akan memejamkan mata untuk sekian kalinya dalam merasai apa yang dalam pikiran pohonnya. Sosok penyanyi lawas itu, membenarkan pita suaranya dan terus berlatih walau dalam kehidupan sulit seperti ini. Ia mengatakan pada baut-baut yang menempeli disana untuk hati-hati jika memutarkan dirinya, gerendel kunci pada punggungnya agar ditekankan, ia ingin memiliki waktu yang cukup untuk memberi kesempatan pada mereka-mereka yang sedang bekerja keras disana. Setelah pulang dari kelana pikiran mereka itu, tentunya ialah yang menjadi tugas terakhir, yakni memainkan musik itu. Namun mungkinkah, ada persuratan dari yang belum diketahui dari dalam sini lagi, hingganya ia akan bingung dalam merasai. Kerap kali jemarinya menggetar yang berlebih karena ketakutan yang tak bisa dibayangkan. Ada sekelabat seperti merasuki kepalanya hingga kesulitan berpikir. Olehnya setiap hari ia akan mengasah suaranya berkali-kali agar tak pernah lupa akan tujuannya semula. Menguatkan mereka agar tidak kehilangan dirinya, sewaktu dulu adalah yang membuat kesalahan dalam bernyanyi, dan itu diharapkan tak akan terjadi kembali. Demi baut-bautnya yang berputar, sungguh tak ingin memberikan tangan untuk memperlihatkan sebuah  yang melarung disana.

Penyanyi pada panggung itu olehnya akan selalu mengindahkan kedudukannya, dalam hati kecilnya ingin sekali membantu mereka. Sebagai yang pula diandalkan dalam kehidupan ini, ia ingin sang pohon pula melihat kesungguhannya. Bukan sekedar suruhan yang dimintai untuk menemui apa saja yang sulit-sulit dari dalam, tapi juga sebagai teman-teman sejatinya. Dalam kesemua ini kau akan kesulitan menemukan seperti itu bukankah, karena akan banyak hal yang kau tak sangka terjadi di dunia. Ada yang terjerumus untuk kesekian kalinya mencari lilin gantungnya, mereka ada yang sudah tak peduli hingga inginnya menyerah sampai membunuh dirinya, tak bisa dibayangkan bagaimana ia memanggil kembaran dirinya sendiri yang sudah lama mati, hingganya ia seperti hidup sendirian didunia ini. Penyanyi itu, maka dengan anggunnya masih dengan baju setelan rapi hitamnya akan selalu berdiri tegak disana, mengisyaratkan pada pohon untuk selalu membawanya, menggunkaan jasanya dalam melagukan, bukan untuk alat yang melarikan diri dari kesemua ini, atau melampiaskan dengan bahu sejajar penubruk untuk menuangkan ke dalam sekotak ini. Tapi lebih tepatnya untuk mengindahkan sebuah yang tak tahu apa yang akan dinamakan. Pun, ia akan menunggu sebuah nut-nut kurung dari mereka tadi yang sudah dirombak sedemikian rupa agar itu dapat dinyanyikan. Karena walaupun seorang dengan suara indah pun tapi tak tahu cara menuliskan syairnya dengan benar akan sungguh menyedihkan. Seorang akan hanya mendengar seeokor burung yang tertatih dalam jeruji yang selalu merutuki dalam pengandaiannya kemudian pikiran itu sudah dimiliki oleh hati yang bertitah untuk merusakkan kembali. Adakah yang akan teman sejati membawanya dari dalam itu, bahkan ia mengatakan dirinya sendiri bahwa ia juga tak lama lagi akan mati.

Tatkala sang penyanyi sedang dalam lamunan itu, satu atau dua hari telah berselang, mungkinkah mereka yang tadi akhirnya telah selesai dengan tulisannya,

Sayup terdengar sang pohon sedang bersenandung,

“Aku mengetuk langit putih dengan sepucuk dedaunan tepak hati empunya dahan, menimbang dengan segala keyakinan dari perisai kayu mereguh arakan gaun putih berjalan.
Harapan pengandaian adalah demi hidup dalam benang menggurat tangan, meretak segala batuan yang akan meneruskan suluran bunganya pada salah satu taman. 

Aku mengingat akan kisah yang sudah menjadi peradaban sejarah menggenapi pengusang, membuatkan satu jenis syair yang merupakan luapan penjiwa dari pungkur hilang.
Mimpi terakhirnya membubuhi bubuk tidur untuk mereka yang adalah pelarung, menggunakan perumpamaan dalam mesin jam putar adalah menjumpai petarung.

Aku menemukan secercah cahaya dari kerajaan penempa putih bukit tempatku bersisik, mengatakan pada seorang lagi didalam pohon untuk menyimpannya dalam kotak satuan musik.
Aura diatas sungguh melihat punggung pembuatnya melarik bongkahan sarang, menekankan atribut kayuan penubuh yang menyanggupi sekerahan putih bertawang.

Aku hanya menginginkan nut-nut kurung terlambat ini mendapati kereta anggunnya, mengatakan agar tak memuruk dalam kehidupan yang sebenarnya adalah perbawanya.
Rajutan pemintal menjadi keresahan dalam sudut pandangannya, penuai keranjang menceritakan bahwasanya akan ada alasan bebungaan menguntai jadi ketulusannya.

Aku menunggu pada musim semi dikemudian harinya merendahkan hati petinggi para hirarki, merubahi yang beku bertumbuh menjadi sesosok baik berkala menuliskannya persurati.
Sebuah yang mempunyai kuasanya adalah pada lipatan rongga labirin sebentuk cerminan putri, tempat takdir didalamnya menjemput rahasia peruntungan pintu perpuri.

Aku mengusahakan untuk menguatkan rambut akar menuai pada yang terlemahnya, menggerakkan raga dalam menterjemahkan buku yang mengikuti perbacaannya.
Sebuah paran petahan untuk menukarkan dengan seludang air pohonnya, membicarakan pada putih pekat untuk mencari salah sebuah yang silam dari Tuhannya.”


seravi

Komentar

Postingan Populer