Silhouette
Ayunan pada taman itu menimbulkan
suara mengiat rantai pada pengait atasnya, digerakkan oleh seorang anak lelaki
disana yang sudah seperti buah bandul dengan pemberat segala isi yang ada
didalam miliknya. Menggerai rambutnya seperti ingin menyapukan segala para
makhluk filsuf hidup sayap bening yang ada didunianya untuk memasyhurkan ke
gambaran nyata ketika sebelumnya hidup penuh prahara gambaran dibelakang semua.
Mengingat itu membuat kedua tangan menggenggam erat anakan besi yang saling
merangkai, pilar segitiga penyangga yang disisi-sisinya akan menyeimbangkan
gerak mereka, hingganya anak itu akan bisa dengan leluasa untuk mengayunkan
dunia yang ingin dibuatnya. Adalah yang diinginkannya sekarang, untuk layaknya
menuliskan klise garis pembatas buku yang ada dalam genggamannya, karena
mengubah dalam dunia nyata sudah tak akan mudah, banyak diantara mereka tak
memiliki adil. Maka khayalan yang dimaksudkannya mungkin berbentuk bergerigi
atau sejajar dengan ukiran suluran bunganya akan mengarah untuk meretakkan pemandangan
taman batuan disana. Sembari itu akan menghenyakkan tubuh untuk mengambang
dalam langitnya, bukanlah dalam perumpamaan seorang yang ‘mengirat seperti tak memiliki nyawa’. Merenungi di hari-hari
seperti ini akan lebih baik, keesokan diantara itu akan bisa disempatkannya
untuk berpikir kembali, sampai menemukan semacam buku-buku petuah untuk
lansirannya kepada hati hirarki. Memberangi semacam baronet yang menyimpulkan
semenanya tak ada gunanya, karena sebagian disana tak peduli akan kesakitan dari
banyaknya. Hendaknya dalam puri kerajaan memberikan siapa-siapa para lelaki
yang berlaku bijak, seperti ianya yang berhati-hati sekali ketika dalam
menggenggam titah kertas gulungnya yang berderak. Namun dalam kehidupan seperti
ini tentu akan banyak menemukan tak sesuai dengan garis pembatas buku didepan
gerbang puri milik sendiri itu. Ada yang harus seorang perhatikan, tak
selamanya bisa diharapkan seperti seorang semena membalurkan pena tintanya
sendiri pada saat menerima sebuah titah hingga mengubah susunan kulit luar
disitu. Mereka mempunyai sebuah wewenang tersendiri dalam mewartakan apa yang
sudah dikatakan firman Tuhan, dengan gerak lajur arakan anggun darinya akan ada
yang setia hati memberikan luasan untuk para pengikutnya menyisipkan kalimat
suci itu.
Seorang anak tadi masih merenung
duduk mengayun disana, tatklaa ia sedang membuat dunianya, sebuah bayangan
hitam besar muncul dari belakang tuannya yakni sebuah patung orangtua dengan
setelan jas coklatnya yang sedang duduk menjagai taman ini. Kemudian
pohon-pohon disampingnya juga mengeluarkan bayangan hitam pula dengan
rambut-rambut dahannya, bangku-bangku taman pun berlaku sama, lalu sejumlah
batu besar juga memberikan kembaran klise dirinya seperti itu. Pagar-pagar
taman bersamaan mengeluarkan tombak hitamnya.
Mereka berjajar rapi dengan bentuk persegi besar dengan topi besi
merucut ukir, tak beraut muka, mensosokannya seperti prajurit yang sedang
memegang galah itu. Sekumpulan tadi pun
beringsut perlahan dengan menyeret badannya pada tanah, wujudnya seperti karet
hitam yang sungguh pekat dengan bisanya menggunakan diri untuk membentuk sesuai
apa yang diinginkannya. Mereka bergerak akhirnya sampai menuju seorang anak
yang terlihat sedang menyembunyikan kakinya kedalam, ada perasaan bergidik yang
tak bisa dijelaskan. Hari ini memang sungguhlah aneh pikir sang anak, mengapa semua
benda tadi berkumpul mengelilingi dirinya. Mungkinkah ini akibatnya membuat
dunia sendiri tadi, ataukah ia sudah mencoba diluar batas yang melampaui, tapi
itu hanyalah khayalan yang ada dalam imajinasi bukankah. Lalu apa yang
menyebabkan benda-benda seperti ini muncul nyata. Mereka seperti ingin
mendakwanya atau menghukumnya, memberikan hitam disana kemudian menangkupkan
tangan mereka dikesemua langit-langit ini. Kemudian membiarkan dirinya masuk
kedalam dunia yang tak tahu lagi akan menemukan lilin gantung milik sendiri.
Ruangan yang mana ia berada bagaimanakah nanti cara mengenalinya, ia pastilah
sudah menjadi tahanan dalam kastil tua yang tak berpenghuni dimana ialah
satu-satunya tahanan disana. Alangkah menyedihkan kehidupan seperti itu, ia
bahkan tak mengenali lagi mesin jam putar petarung miliknya yang ada pada
sakunya, karena sudah tak bergerak jarum-jarum disana-padahal, baut-baut didalam adalah yang paling
berharga bagi dirinya dimasa sekarang ini, agar ia dapat mengembalikan dirinya
di kehidupan nyata jikalau berpergian dari tempat mana saja. Hari-hari
berikutnya bagaimanakah menentukan jati dirinya yang sebenarnya, ditambah
mengingat akan dimensi apa saja sekarang yang sedang dalam permainan, ia akan
terbawa oleh putaran berantah yang tak akan pernah diketemukan. Lalu ia akan
berteriak-teriak sendiri memanggil dirinya, dan pada akhirnya akan dikatakan
oleh orang-orang yang mesin jam putarnya masih berjalan bahwa ‘ia sudah gila’.
Anak itu akhirnya hanya membatin
lirih,
“Ya Tuhan, apakah yang sedang kuhadapi ini. Aku sudah layaknya menghilangkan
setengah nyawa, mengatakan pada sosok dalam diri seperti melumuri hitamnya
sendiri. Apakah masih untuk mereka yang sudah lama hidup tanpa
keranda kilaunya. Pigura-pigura perak sudah mempetakan leher dibaliknya. Tapi
tak bisa lagi melihatnya karena dibuat ukirannya sudah terlalu gelap, akhirnya hanya untuk setengah lagi nyawa berketuk jejak
mengikuti sakit mereka. Saat ini mencari satu saja lilin gantung untuknya, berharap
ada dari mereka yang bisa menilik kerasnya.
Aku mempunyai firasat buruk untuk hal yang didepan ini, bagaimanakah
cara menghilangkan segala praduga yang mengutuki para hati. Sudah menahan sakit
yang tak bisa dipungkiri, mengatakannya lemah untuk mengembalikan
ranah-ranahanya musim semi. Kecewa hati yang sungguh mengeruki, petukar mereka
pada mesin putar akan menelan semua baut-bautnya sendiri. Persinggahan yang tak
ubahnya memasuki kurungan, membiarkan waktunya menawani wujud yang mati. Menangkupkan gelung petaruhnya raksasa putih, seperti tak ada yang dilakukan dalam tidur orang kurun upeti.
Ya Tuhan, aku mengesampingkan satu nyawa untuk melindungi sesuatu yang
berharga. Kiranya sakit dapat membuat putih untuk membalik raganya. Sekerak karan yang memahkotainya untuk terakhirnya,
memberinya huraian pengimpal jati dirinya tanpa ayal. Bukalah kastil yang
memuruki jiwanya, sesungguhnya ia memukuli dirinya demi lilin gantungnya.
Langit-langitnya akan senang hati jika menemukan satu, untuk gulita yang
menyedihkannya agar menjadi petuah buku, untuknya membacakan pada jiwa yang
telah saru.”
Sungguh membuat pertanyaan, tak
lama kemudian anak itu berbicara pada mereka yang sudah melingkarinya, ia
melarikan rasa takut yang memang karena sudah diredam oleh banyak kehilangan
dirinya, hingganya saat ini seperti sudah menelan kehampaan.
“Sebaiknya kalian pergilah, aku
sedang tak ingin diganggu. Kau tak tahu apa yang sudah kualami. Jika kalian
ingin mengambil banyak, aku seperti sudah tak punya apa-apa lagi.”, katanya lemah
sembari masih memegangi rantai ayunan.
“Seandainya, mereka adalah mimpi
burukku yang melipatgandakan dirinya sendiri, tentu ada daiantaranya masih bisa
kukenali. Karena ketakutan seperti ini sudah lama mendiami yang ada tangkuk
didalam. Mereka membentuk suatu penyakit yang tak dimengerti oranglain,
layaknya membuat sendiri kamus pencacah untuk dunia yang dibuatnya. Tapi
sebenarnya itu adalah bentuk ketakutan-ketakutan yang dibuatnya untuk
melindunginya sehingga ingin melarikan seperti benda-benda yang akan
membahayakan hidupnya, mengecamnya atau mencercanya. Mimpi buruk yang masih
kukenali, ah bahkan geliat sifat kepribadiannya masih bisa kumengerti. Raut
wajah sampai gerigi bayangan yang membentukinya masih dapat aku bayangkan.
Bagaimana cara ia bersungut meminta apa saja yang dikehendakinya pada tubuh
ini, seperti sesekali menyurukkan tandukknya berulang-ulang. Ia memberangi
benda mati apa saja yang didepannya, kerap kali tangannya ingin meretakki
banyak buku yang ada dimejanya. Amat disayangkan ketika beberapa kain disitu
menghamburkan seratnya, padahal itu sudah merekahkan, sangat detail bentuk
sehingga yang bernilai tinggi. Ia memecahkan kaca atribut yang ada disana, sayang sekali milik mahkota mereka akan berhamburan, padahal itu sudah menguntai kristalnya, dijadikannya rangkaian tumpukan anakan yang beruah. Ia akan berlatih pedang berhari-hari yang dilampiaskannya pada kayu pohonnya hingga itu akan dipatahkan, pendarnya bilah sudah tak terlihat lagi setelah itu. Ia akan mengambil busur pemberat kemudian masih berhadapan dengan punggung sepetak disana dengan menghujani ribuan anak panahnya, dilemparkannya pegas itu menghardik keras sasaran papan. Ia pula menggaruki dinding-dinding yang ada pada
galeri kamar rahasianya, sungguh seperti kehilangan diri ketika mengingat dimasa lampau
menempeli gambar yang tertera disana. Ia akan menghamburi dirinya menaiki
tangga, pada bagian yang lebih tinggi lagi mengeruki dengan sejenis penggarit
untuk menganulir setiapnya. Kemudian, ia akan mendatangi kerajaan tulisan-tulisannya
dalam buku yang hendak diselesaikan, pena tintanya yang digunakan untuk
memporak-porandakan kehidupan para penduduk.
Namun, ketika telah membuat kegaduhan
seperti demikian, ia akan terduduk diam disana sembari menangis. Seperti
mengeluarkan sendu yang begitu sunyi agar orang tak akan tahu, dalamnya tak
pernah akan dilihat selubung hitam sejauhnya. Ia akan berlama dalam kesendirian
diantara mesin jam putar dalam sakunya, sembari menyambungkan lagi serpih kain
lusuh yang sudah menguning pada induk buku-bukunya. Air disana masih merembas
untuk kesekian kalinya pada sarungan buku, kemudian diantara laman-laman sayap
yang sudah seperti itu ketika dibukanya. Meminta maaf menundukkan kepala ribuan
kali sambil menyentukkan dahi pada halaman depan penyangga buku dimana kulit
yang paling kerasnya. Ia akan membersihkan lantai dengan buluh untuk mengambil pecahan disana merekatinya kembali dengan yang juga perekat kaca, dan membenahi dari tiap gerendel batu mulia dari mahkota yang dipisah paksa dari tangkainya. Ia akan tertatih menempa kembali pedangnya dengan serbuk besi kembali, hingganya pendaran itu masih ingin memberikan sedikit wujudnya, Ia akan mengambil busur itu darisana untuk membenahi senarnya, kemudian berjalan dengan lunglai memunguti anak panah dari punggung kayu yang sudah seperti penuh menjarum. Setelah itu ia akan beranjak perlahan darisana,
diambilnya satu kuas yang sudah mengerak dengan dipolesinya cat satu warna
untuk dilukiskannya sejenis abstrak menari pada galeri dindingnya itu. Kanvas
sebesar ini, akan banyak yang akan diulas bukankah, mereka membukakan jendela
sebesar mungkin untuk tuannya yang menyapukan sejenis makhluk-makhluk yang akan
berkitar disetiap sisi. Mereka dapat bercengkrama setidaknya untuk menghibur
dari dalam hati yang sedang ingin memungkiri kehidupan nyata, ia akan baik-baik
saja kalau sudah seperti ini. Tapi, ketika melihat lagi buku yang hendak diselesaikannya menjadi
sebuah mahakarya, ah sungguh menyedihkan. Akankah ini bisa diselesaikannya, taman-taman
disana hanyalah yang pandai merekahkan sendiri, patung-patung akrilik mendiamkan
sesosok yang terpatri, mewartakannya yang seekor burung sampai langit-langit.
Olehnya para bayangan hitam yang
didepan ini adalah makhluk yang bagaimanakah, karena tak seperti pada mimpi-mimpi
burukku ini. Ada sebuah kejanggalan. Ketika mereka memberikan prajuritnya yang
seperti itu dengan lengkap tombaknya, hawa membunuh tak disegani menggunduki
hingga awan-awan diatas yang memendungi. Sungguh tak seperti mimpi burukku yang
biasa, kali ini lebih memperlihatkan arti dingin hitam itu seperti apa. Kembaran
diri rasanya ingin melarikan ketempat yang jauh, ia sungguh takut kalau-kalau
dijumput dari ubun hingga keluar dari raga. Sedari tadi buktinya ia sudah
ketar-ketir ujung ekornya, ia hendaknya melelehkan diri sampai pada seberang
taman, olehnya ia perlahan-lahan menggeliat ditanah rembasannya. Rasanya mereka
yang didepan mungkin berniat demikian ingin mencarinya, ingin dililit tubuh
seorang dari dalam sini oleh tangan akar gantung dari pohon-pohon itu, atau dipukul
kepalanya dengan besi sanggahan tangan dari bangku taman, kemudian tali tambang
dari kitaran perbatasan taman juga menunjukkan seperti sudah siap hendak
menggantung leher bayangan seseorang, prajurit yang membawa tombak pagar akan
menjadi algojo untuk kematiannya. Kemudian, patung yang paling besar adalah
yang sebagai hakim tertinggi didalam sini. Apakah sungguh-sungguh demikian,
walaupun mereka kini belum mengatakan apa-apa tapi seperti hal nyata praduga
tersebut. Aku sungguh tak tahu mereka akan mengadiliku atau bayanganku. Di hari
hampir gelap ini membuatkan bertambah pertanyaan, ataukah mereka sengaja
menunggu malam tiba agar bisa kemudian menangkupkan tangannya pada
langit-langitku, hingga aku berada pada dua lapis kegelapan.
Sesunggguhnya mereka apakah
termasuk dalam mereka-mereka keji yang sekarang ini sedang aku hindari. Rasa
sakit masih saja mengerubungi tangkuk didalam, seperti layaknya ada ribuan
makhluk kecil hitam yang meranggasi ranting pohon disana satu persatu, atau seperti
halnya makhluk pemakan bubuk-bubuk kayu. Rasanya sungguh mengerikan, sampai
naik kearah atas hingga dahi-dahi disana akan mengernyit dalam percakapannya saling
menyalahkan. Kaki ribuan tadi berjalan menjalar pada bagian sisi-sisinya,
hingganya membuat menjerit kemudian lemah tak bertenaga, sudah seperti
hampirnya putus asa. Namun entah mengapa seorang didalam sini selalu saja
menguatkan, ia mengatakan agar janganlah hingga menyerahkan jiwa itu-ia seperti
tahu akan perasaan kembarnya. Maka apakah mereka adalah yang demikian keji tadi,
namun jika lebih dari itu bagaimanakah. Sungguhnya diri tak ingin menjadi
lemah, kuyakin ia adalah juga salah satu pejuang. Tapi Tuhan memberikan setiap
kepala yakni air yang suci bukankah, sejenis seludang air pohonnya. Mengeluarkan
karena batang atau dahan yang terluka, sesungguhnya bisa dikatakan seperti
sahutan dari para hati ketika ia merasai keperihannya. Setiap insan akan
merasainya, bagaimana pada masa-masa seperti ini. Walaupun seorang layaknya berganti
jubahnya berkali-kali hingga menutup raut muka, ia akan tetap dirinya. Air
pohon itu akan keluar dengan sendirinya, seorang akan kesulitan mengelak
darinya, atau menggunakan ramuan apa saja demi untuk menghentikannya. Kemudian ada yang berharap untuk menadahinya agar itu akan segera dilarikan, namun ternyata
masih tersisa diantara katupan atau pelupuknya. Seorang bukanlah sedang menjadi
tahanannya, ia sungguh tak menginginkannya, tapi sebagian insan tentu akan ada yang
menyalahartikan ketika disana menuangkan dari singgasananya. Bahkan, mengatasnamakannya untuk kerusakan.
Sungguhnya ada takut kalau-kalau tubuh tak sangguh menampung hukuman dari mereka yang ada didepan sekarang, didalam sudah kerap kali
berteriak. Memohonnya untuk jangan. Karena jika seperti ini ada seorang akan kepayahan mencari tempat yang
lebih untuk berteriak seperti itu, sungguhnya tak ingin oranglain
tahu. Kiranya akan pergi ke tempat-tempat suara yang lebih keras, seperti layaknya
di perbukitan kereta api. Menyusuri rerumputan yang hijau disana, sembari
menahan sakit itu akan ditemani oleh mereka, karena yakin mereka adalah juga yang
setia, dermawan menolong siapa yang sedang kesakitan. Membunuh waktu dengan
kesunyian dan ketenangan disana, ada seperti arakan pengantar kurir pohon dari negeri angin yang
memberikan wibawanya, ilalang disana seperti pengawal jingga yang akan
memainkan ketukan berima anak panahannya, bebunga liar menjadi penduduk patuh yang akan membuat
parade perayaan dari tempat berjalannya. Kemudian akan tiba saatnya, kereta lokomotif dari pelupuk
mata pun datang dengan suara riuhnya, seperti sedang memanaskan airnya hingga
membunyikan keras tabung mereka. Roda-roda besi gilingan disana sedang beradu
dengan rel yang berpendar, karena sesekali akan mengeluarkan api sembur
kecilnya. Mereka begitu sibuk dengan gerbong-gerbong yang mengangkut batubara,
suara itu layaknya seperti seorang tinggi puluhan kaki yang sedang membuat
gempa hingga area disekitarnya akan bergetar. Lalu memberi seperti teriakan
orang-orang yang minta tolong kepada siapa saja yang mendengar, setiap orang
berlarian menyelamatkan diri dan barang masing-masing, saling bertubrukkan,
karena begitu dahsyatnya hari itu hingganya tak bisa lagi mengenali siapa-siapa,
akhirnya mereka hanya seperti suara derakan keras gerbong yang menggunduki arang hitamnya pada satu lajur benda persegi panjang raksasa
besi ini. Saat itu akan menyuruh yang didalam sini untuk keluar sekian detik
untuk berteriak sekencang-kencangnya. Tak apa, diredam semuanya dengan suara lajur
kereta itu, kuharap ia akan mengikhlaskannya pergi, selamanya.”, kata anak itu
akhirnya sampai pada pemikirannya.
Tak lama kemudian, salah seorang
dari para bayangan hitam pekat itu menghampirinya, beringsut perlahan maju kedepan,
tepat diantatara kedua penyangga ayunan. Sesuai dengan dugaannya, yakni satu
bayangan yang berwujud orangtua dari patung penjaga taman bersetelan jas coklat
tadi yang menjadi pemimpin disini. Orangtua itu berkata,
“Apakah kau tak menyadari siapa
kami ini? Kami adalah lebih dalam dari malammu, kami lebih dalam dari bayanganmu,
kami lebih dalam dari mimpi burukmu. Kaulah yang mengakibatkan kami muncul ke permukaan,
karena kau sebentar lagi menggenapi puruk, kami akan membuatmu membunuh diri
sendiri.”
“Mungkin kau tak pernah menyadari
bahwa kami tak nyata, ya tak akan. Kau hanya dengan pemikiran-pemikiran dari
pradugamu yang kau ambil sedemikian rupa yang dijadikan sebagai pertahanan.
Tapi senyatanya adalah kami disini. Mengikuti kemanapun kau berpergian,
dimanapun kau mengambil takdir-takdirmu, dan ketika kau tersungkur dalam kastil
yang tak berpenghuni seperti katamu, seperti itulah kami akan menahanmu. Saat kau berkata sudah tak punya apa-apa lagi sekarang ini, dalam kesalahan besar, karena kau memiliki paling berharga yakni dirimu sendiri. Tapi itu tak membuatmu goyah dalam pemikiran, maka kami akan memasukimu agar mengambil yang senilai itu. Pertama dibuat kau
akan merasai hidup kesendirian, hingga tanpa akal akan mengutuki diri sendiri
yang tak tahu apakah kutukan itu, setelah terkutuk hingganya kau mengutuk satu
bagian dan sebaliknya bagian belakangnya lagi sampai mereka tak mengenali diri mulanya, akhirnya tak tahu senilainya.
Kau akan memberontaki kepada kami, bersungut-sungut menyalahkan kami ketika
dalam keadaan penjara bawah tanah itu kau sudah dalam ikatan leher yang kuat
dengan kaki dipasung dengan batu besar. Tak hanya itu, kau akan menyalahkan
seluruh dunia ini, membuatmu membenci mereka seutuhnya. Sebagian tulisan klise buruk
yang kau ambil dalam genggaman itu akan membuatmu meruntuh singgasana para hati
disana, sehingga kau tak akan memiliki perasaan lagi. Bukannya mereguh dalam
kenyataan, hidup dalam keterasingan yang tak layak, sebuah samar yang memiliki
penjagaan lebih untuk seorang didalamnya yang tak akan bisa menjelaskan
rabunnya sendiri. Kau akan mengatasnamakan para yang berdusta, iblis dalam kehidupan
ini yang walaupun tak menggema lagi ianya dipermukaan. Sesungguhnya itu tak ada
gunanya, dikehidupan setelahnya ia akan berdalih mengapa seseorang rela mengikutinya. Sebenarnya saat itu kau akan lupa siapa Tuhanmu, mereta-reta dalam kegelapan dan
menuhankan apapun yang pradugamu.
Kami seperti siluet bayanganmu.
Seorang akan mengerti mengapa diberikannya secercah cahaya yang begitu terang,
tentu kau akan menukarnya dengan sesuatu yang lebih hitam. Sungguh bernas sejenis kartu hitam itu yang sesungguhnya
adalah karya senimu. Kau akan menggubahnya sendiri sesuai dengan bagaimana
harapanmu terhadap apa yang sedang terjadi ujian didepan. Bagaimana sudut
pandang dalam perbacaanmu ketika bertemu dengan mereka-mereka yang keji seperti
dalam pikiranmu. Bayangan yang telah kau buat sendiri, kau akan memotong itu
tepinya seperti bentuk mahakarya yang seperti apa. Apakah kau akan
menjadikannya seperti catatan-catatan klisemu dimana kau bisa semenanya untuk
mengubah itu sedemikian rupa, anggapan baik dalam anakan pandanganmu, atau
sebaliknya. Dimana justru kau akan memberikan itu untuk persembahan-persembahan kami,
agar menghirupi aura itu untuk keperluan yang tak pernah kau bayangkan. Seorang
tak ubahnya adalah alat untuk membuat kerajaan pada itu, pilar-pilarnya adalah untuk
anak-anak manusia yang memuruk jauh membelakangi kehidupan. Dengan kau membeku
di kursi ayun kayumu memikirkan banyak hal seperti mengambang dalam ranahnya, memberi kesempatan bagi kami untuk memperluas kuasa. Tentunya kami
tak akan melumuri tangan kami untuk membunuhmu, karena kami masih memiliki
perbawa akan hal itu, maka kau yang akan membunuh diri sendiri. Kau akan
mengingat dendam masa lalu yang begitu dalam, kemudian perlahan menjerat
sendiri lehermu masuk kedalam pigura-pigura perak yang kau katakan. Sebagian manusia ada yang membuat sendiri demikian yang tak pernah disadari. Seorang akan lupa-selupanya bahwasanya kesedihan yang terlalu mendalam tak ubahnya mendekati
keterpurukan. Maka kami akan mengatakan padamu saat ini,
‘Kami akan mengikuti dari belakang tangkuk hatimu yang terdalam, kami akan meruntuhi dalam kerak yang memahkotainya perumpamakan hilang, kami akan memangkur hitam sejadinya sebagai tempat terhina, melakukan penempa didalam jiwamu meretakki para buku petuah.’"
‘Kami akan mengikuti dari belakang tangkuk hatimu yang terdalam, kami akan meruntuhi dalam kerak yang memahkotainya perumpamakan hilang, kami akan memangkur hitam sejadinya sebagai tempat terhina, melakukan penempa didalam jiwamu meretakki para buku petuah.’"
seravi


Komentar
Posting Komentar