Silhouette

www.jantoo.com



Ayunan pada taman itu menimbulkan suara mengiat rantai pada pengait atasnya, digerakkan oleh seorang anak lelaki disana yang sudah seperti buah bandul dengan pemberat segala isi yang ada didalam miliknya. Menggerai rambutnya seperti ingin menyapukan segala para makhluk filsuf hidup sayap bening yang ada didunianya untuk memasyhurkan ke gambaran nyata ketika sebelumnya hidup penuh prahara gambaran dibelakang semua. Mengingat itu membuat kedua tangan menggenggam erat anakan besi yang saling merangkai, pilar segitiga penyangga yang disisi-sisinya akan menyeimbangkan gerak mereka, hingganya anak itu akan bisa dengan leluasa untuk mengayunkan dunia yang ingin dibuatnya. Adalah yang diinginkannya sekarang, untuk layaknya menuliskan klise garis pembatas buku yang ada dalam genggamannya, karena mengubah dalam dunia nyata sudah tak akan mudah, banyak diantara mereka tak memiliki adil. Maka khayalan yang dimaksudkannya mungkin berbentuk bergerigi atau sejajar dengan ukiran suluran bunganya akan mengarah untuk meretakkan pemandangan taman batuan disana. Sembari itu akan menghenyakkan tubuh untuk mengambang dalam langitnya, bukanlah dalam perumpamaan seorang yang ‘mengirat seperti tak memiliki nyawa’. Merenungi di hari-hari seperti ini akan lebih baik, keesokan diantara itu akan bisa disempatkannya untuk berpikir kembali, sampai menemukan semacam buku-buku petuah untuk lansirannya kepada hati hirarki. Memberangi semacam baronet yang menyimpulkan semenanya tak ada gunanya, karena sebagian disana tak peduli akan kesakitan dari banyaknya. Hendaknya dalam puri kerajaan memberikan siapa-siapa para lelaki yang berlaku bijak, seperti ianya yang berhati-hati sekali ketika dalam menggenggam titah kertas gulungnya yang berderak. Namun dalam kehidupan seperti ini tentu akan banyak menemukan tak sesuai dengan garis pembatas buku didepan gerbang puri milik sendiri itu. Ada yang harus seorang perhatikan, tak selamanya bisa diharapkan seperti seorang semena membalurkan pena tintanya sendiri pada saat menerima sebuah titah hingga mengubah susunan kulit luar disitu. Mereka mempunyai sebuah wewenang tersendiri dalam mewartakan apa yang sudah dikatakan firman Tuhan, dengan gerak lajur arakan anggun darinya akan ada yang setia hati memberikan luasan untuk para pengikutnya menyisipkan kalimat suci itu.

Seorang anak tadi masih merenung duduk mengayun disana, tatklaa ia sedang membuat dunianya, sebuah bayangan hitam besar muncul dari belakang tuannya yakni sebuah patung orangtua dengan setelan jas coklatnya yang sedang duduk menjagai taman ini. Kemudian pohon-pohon disampingnya juga mengeluarkan bayangan hitam pula dengan rambut-rambut dahannya, bangku-bangku taman pun berlaku sama, lalu sejumlah batu besar juga memberikan kembaran klise dirinya seperti itu. Pagar-pagar taman bersamaan mengeluarkan tombak hitamnya.  Mereka berjajar rapi dengan bentuk persegi besar dengan topi besi merucut ukir, tak beraut muka, mensosokannya seperti prajurit yang sedang memegang galah itu.  Sekumpulan tadi pun beringsut perlahan dengan menyeret badannya pada tanah, wujudnya seperti karet hitam yang sungguh pekat dengan bisanya menggunakan diri untuk membentuk sesuai apa yang diinginkannya. Mereka bergerak akhirnya sampai menuju seorang anak yang terlihat sedang menyembunyikan kakinya kedalam, ada perasaan bergidik yang tak bisa dijelaskan. Hari ini memang sungguhlah aneh pikir sang anak, mengapa semua benda tadi berkumpul mengelilingi dirinya. Mungkinkah ini akibatnya membuat dunia sendiri tadi, ataukah ia sudah mencoba diluar batas yang melampaui, tapi itu hanyalah khayalan yang ada dalam imajinasi bukankah. Lalu apa yang menyebabkan benda-benda seperti ini muncul nyata. Mereka seperti ingin mendakwanya atau menghukumnya, memberikan hitam disana kemudian menangkupkan tangan mereka dikesemua langit-langit ini. Kemudian membiarkan dirinya masuk kedalam dunia yang tak tahu lagi akan menemukan lilin gantung milik sendiri. Ruangan yang mana ia berada bagaimanakah nanti cara mengenalinya, ia pastilah sudah menjadi tahanan dalam kastil tua yang tak berpenghuni dimana ialah satu-satunya tahanan disana. Alangkah menyedihkan kehidupan seperti itu, ia bahkan tak mengenali lagi mesin jam putar petarung miliknya yang ada pada sakunya, karena sudah tak bergerak jarum-jarum disana-padahal, baut-baut didalam adalah yang paling berharga bagi dirinya dimasa sekarang ini, agar ia dapat mengembalikan dirinya di kehidupan nyata jikalau berpergian dari tempat mana saja. Hari-hari berikutnya bagaimanakah menentukan jati dirinya yang sebenarnya, ditambah mengingat akan dimensi apa saja sekarang yang sedang dalam permainan, ia akan terbawa oleh putaran berantah yang tak akan pernah diketemukan. Lalu ia akan berteriak-teriak sendiri memanggil dirinya, dan pada akhirnya akan dikatakan oleh orang-orang yang mesin jam putarnya masih berjalan bahwa ‘ia sudah gila’.

Anak itu akhirnya hanya membatin lirih,

“Ya Tuhan, apakah yang sedang kuhadapi ini. Aku sudah layaknya menghilangkan setengah nyawa, mengatakan pada sosok dalam diri seperti melumuri hitamnya sendiri. Apakah masih untuk mereka yang sudah lama hidup tanpa keranda kilaunya. Pigura-pigura perak sudah mempetakan leher dibaliknya. Tapi tak bisa lagi melihatnya karena dibuat ukirannya sudah terlalu gelap, akhirnya  hanya untuk setengah lagi nyawa berketuk jejak mengikuti sakit mereka. Saat ini mencari satu saja lilin gantung untuknya, berharap ada dari mereka yang bisa menilik kerasnya.

Aku mempunyai firasat buruk untuk hal yang didepan ini, bagaimanakah cara menghilangkan segala praduga yang mengutuki para hati. Sudah menahan sakit yang tak bisa dipungkiri, mengatakannya lemah untuk mengembalikan ranah-ranahanya musim semi. Kecewa hati yang sungguh mengeruki, petukar mereka pada mesin putar akan menelan semua baut-bautnya sendiri. Persinggahan yang tak ubahnya memasuki kurungan, membiarkan waktunya menawani wujud yang mati. Menangkupkan gelung petaruhnya raksasa putih, seperti tak ada yang dilakukan dalam tidur orang kurun upeti.

Ya Tuhan, aku mengesampingkan satu nyawa untuk melindungi sesuatu yang berharga. Kiranya sakit dapat membuat putih untuk membalik raganya. Sekerak karan yang memahkotainya untuk terakhirnya, memberinya huraian pengimpal jati dirinya tanpa ayal. Bukalah kastil yang memuruki jiwanya, sesungguhnya ia memukuli dirinya demi lilin gantungnya. Langit-langitnya akan senang hati jika menemukan satu, untuk gulita yang menyedihkannya agar menjadi petuah buku, untuknya membacakan pada jiwa yang telah saru.”

Sungguh membuat pertanyaan, tak lama kemudian anak itu berbicara pada mereka yang sudah melingkarinya, ia melarikan rasa takut yang memang karena sudah diredam oleh banyak kehilangan dirinya, hingganya saat ini seperti sudah menelan kehampaan.

“Sebaiknya kalian pergilah, aku sedang tak ingin diganggu. Kau tak tahu apa yang sudah kualami. Jika kalian ingin mengambil banyak, aku seperti sudah tak punya apa-apa lagi.”, katanya lemah sembari masih memegangi rantai ayunan.

“Seandainya, mereka adalah mimpi burukku yang melipatgandakan dirinya sendiri, tentu ada daiantaranya masih bisa kukenali. Karena ketakutan seperti ini sudah lama mendiami yang ada tangkuk didalam. Mereka membentuk suatu penyakit yang tak dimengerti oranglain, layaknya membuat sendiri kamus pencacah untuk dunia yang dibuatnya. Tapi sebenarnya itu adalah bentuk ketakutan-ketakutan yang dibuatnya untuk melindunginya sehingga ingin melarikan seperti benda-benda yang akan membahayakan hidupnya, mengecamnya atau mencercanya. Mimpi buruk yang masih kukenali, ah bahkan geliat sifat kepribadiannya masih bisa kumengerti. Raut wajah sampai gerigi bayangan yang membentukinya masih dapat aku bayangkan. Bagaimana cara ia bersungut meminta apa saja yang dikehendakinya pada tubuh ini, seperti sesekali menyurukkan tandukknya berulang-ulang. Ia memberangi benda mati apa saja yang didepannya, kerap kali tangannya ingin meretakki banyak buku yang ada dimejanya. Amat disayangkan ketika beberapa kain disitu menghamburkan seratnya, padahal itu sudah merekahkan, sangat detail bentuk sehingga yang bernilai tinggi. Ia memecahkan kaca atribut yang ada disana, sayang sekali milik mahkota mereka akan berhamburan, padahal itu sudah menguntai kristalnya, dijadikannya rangkaian tumpukan anakan yang beruah. Ia akan berlatih pedang berhari-hari yang dilampiaskannya pada kayu pohonnya hingga itu akan dipatahkan, pendarnya bilah sudah tak terlihat lagi setelah itu. Ia akan mengambil busur pemberat kemudian masih berhadapan dengan punggung sepetak disana dengan menghujani ribuan anak panahnya, dilemparkannya pegas itu menghardik keras sasaran papan. Ia pula menggaruki dinding-dinding yang ada pada galeri kamar rahasianya, sungguh seperti kehilangan diri ketika mengingat dimasa lampau menempeli gambar yang tertera disana. Ia akan menghamburi dirinya menaiki tangga, pada bagian yang lebih tinggi lagi mengeruki dengan sejenis penggarit untuk menganulir setiapnya. Kemudian, ia akan mendatangi kerajaan tulisan-tulisannya dalam buku yang hendak diselesaikan, pena tintanya yang digunakan untuk memporak-porandakan kehidupan para penduduk.

Namun, ketika telah membuat kegaduhan seperti demikian, ia akan terduduk diam disana sembari menangis. Seperti mengeluarkan sendu yang begitu sunyi agar orang tak akan tahu, dalamnya tak pernah akan dilihat selubung hitam sejauhnya. Ia akan berlama dalam kesendirian diantara mesin jam putar dalam sakunya, sembari menyambungkan lagi serpih kain lusuh yang sudah menguning pada induk buku-bukunya. Air disana masih merembas untuk kesekian kalinya pada sarungan buku, kemudian diantara laman-laman sayap yang sudah seperti itu ketika dibukanya. Meminta maaf menundukkan kepala ribuan kali sambil menyentukkan dahi pada halaman depan penyangga buku dimana kulit yang paling kerasnya. Ia akan membersihkan lantai dengan buluh untuk mengambil pecahan disana merekatinya kembali dengan yang juga perekat kaca, dan membenahi dari tiap gerendel batu mulia dari mahkota yang dipisah paksa dari tangkainya. Ia akan tertatih menempa kembali pedangnya dengan serbuk besi kembali, hingganya pendaran itu masih ingin memberikan sedikit wujudnya, Ia akan mengambil busur itu darisana untuk membenahi senarnya, kemudian berjalan dengan lunglai memunguti anak panah dari punggung kayu yang sudah seperti penuh menjarum. Setelah itu ia akan beranjak perlahan darisana, diambilnya satu kuas yang sudah mengerak dengan dipolesinya cat satu warna untuk dilukiskannya sejenis abstrak menari pada galeri dindingnya itu. Kanvas sebesar ini, akan banyak yang akan diulas bukankah, mereka membukakan jendela sebesar mungkin untuk tuannya yang menyapukan sejenis makhluk-makhluk yang akan berkitar disetiap sisi. Mereka dapat bercengkrama setidaknya untuk menghibur dari dalam hati yang sedang ingin memungkiri kehidupan nyata, ia akan baik-baik saja kalau sudah seperti ini. Tapi, ketika melihat  lagi buku yang hendak diselesaikannya menjadi sebuah mahakarya, ah sungguh menyedihkan. Akankah ini bisa diselesaikannya, taman-taman disana hanyalah yang pandai merekahkan sendiri, patung-patung akrilik mendiamkan sesosok yang terpatri, mewartakannya yang seekor burung sampai langit-langit.

Olehnya para bayangan hitam yang didepan ini adalah makhluk yang bagaimanakah, karena tak seperti pada mimpi-mimpi burukku ini. Ada sebuah kejanggalan. Ketika mereka memberikan prajuritnya yang seperti itu dengan lengkap tombaknya, hawa membunuh tak disegani menggunduki hingga awan-awan diatas yang memendungi. Sungguh tak seperti mimpi burukku yang biasa, kali ini lebih memperlihatkan arti dingin hitam itu seperti apa. Kembaran diri rasanya ingin melarikan ketempat yang jauh, ia sungguh takut kalau-kalau dijumput dari ubun hingga keluar dari raga. Sedari tadi buktinya ia sudah ketar-ketir ujung ekornya, ia hendaknya melelehkan diri sampai pada seberang taman, olehnya ia perlahan-lahan menggeliat ditanah rembasannya. Rasanya mereka yang didepan mungkin berniat demikian ingin mencarinya, ingin dililit tubuh seorang dari dalam sini oleh tangan akar gantung dari pohon-pohon itu, atau dipukul kepalanya dengan besi sanggahan tangan dari bangku taman, kemudian tali tambang dari kitaran perbatasan taman juga menunjukkan seperti sudah siap hendak menggantung leher bayangan seseorang, prajurit yang membawa tombak pagar akan menjadi algojo untuk kematiannya. Kemudian, patung yang paling besar adalah yang sebagai hakim tertinggi didalam sini. Apakah sungguh-sungguh demikian, walaupun mereka kini belum mengatakan apa-apa tapi seperti hal nyata praduga tersebut. Aku sungguh tak tahu mereka akan mengadiliku atau bayanganku. Di hari hampir gelap ini membuatkan bertambah pertanyaan, ataukah mereka sengaja menunggu malam tiba agar bisa kemudian menangkupkan tangannya pada langit-langitku, hingga aku berada pada dua lapis kegelapan.

Sesunggguhnya mereka apakah termasuk dalam mereka-mereka keji yang sekarang ini sedang aku hindari. Rasa sakit masih saja mengerubungi tangkuk didalam, seperti layaknya ada ribuan makhluk kecil hitam yang meranggasi ranting pohon disana satu persatu, atau seperti halnya makhluk pemakan bubuk-bubuk kayu. Rasanya sungguh mengerikan, sampai naik kearah atas hingga dahi-dahi disana akan mengernyit dalam percakapannya saling menyalahkan. Kaki ribuan tadi berjalan menjalar pada bagian sisi-sisinya, hingganya membuat menjerit kemudian lemah tak bertenaga, sudah seperti hampirnya putus asa. Namun entah mengapa seorang didalam sini selalu saja menguatkan, ia mengatakan agar janganlah hingga menyerahkan jiwa itu-ia seperti tahu akan perasaan kembarnya. Maka apakah mereka adalah yang demikian keji tadi, namun jika lebih dari itu bagaimanakah. Sungguhnya diri tak ingin menjadi lemah, kuyakin ia adalah juga salah satu pejuang. Tapi Tuhan memberikan setiap kepala yakni air yang suci bukankah, sejenis seludang air pohonnya. Mengeluarkan karena batang atau dahan yang terluka, sesungguhnya bisa dikatakan seperti sahutan dari para hati ketika ia merasai keperihannya. Setiap insan akan merasainya, bagaimana pada masa-masa seperti ini. Walaupun seorang layaknya berganti jubahnya berkali-kali hingga menutup raut muka, ia akan tetap dirinya. Air pohon itu akan keluar dengan sendirinya, seorang akan kesulitan mengelak darinya, atau menggunakan ramuan apa saja demi untuk menghentikannya. Kemudian ada yang berharap untuk menadahinya agar itu akan segera dilarikan, namun ternyata masih tersisa diantara katupan atau pelupuknya. Seorang bukanlah sedang menjadi tahanannya, ia sungguh tak menginginkannya, tapi sebagian insan tentu akan ada yang menyalahartikan ketika disana menuangkan dari singgasananya. Bahkan, mengatasnamakannya untuk kerusakan.

Sungguhnya ada takut kalau-kalau tubuh tak sangguh menampung hukuman dari mereka yang ada didepan sekarang, didalam sudah kerap kali berteriak. Memohonnya untuk jangan. Karena jika seperti ini ada seorang akan kepayahan mencari tempat yang lebih untuk berteriak seperti itu, sungguhnya tak ingin oranglain tahu. Kiranya akan pergi ke tempat-tempat suara yang lebih keras, seperti layaknya di perbukitan kereta api. Menyusuri rerumputan yang hijau disana, sembari menahan sakit itu akan ditemani oleh mereka, karena yakin mereka adalah juga yang setia, dermawan menolong siapa yang sedang kesakitan. Membunuh waktu dengan kesunyian dan ketenangan disana, ada seperti arakan pengantar kurir pohon dari negeri angin yang memberikan wibawanya, ilalang disana seperti pengawal jingga yang akan memainkan ketukan berima anak panahannya, bebunga liar menjadi penduduk patuh yang akan membuat parade perayaan dari tempat berjalannya. Kemudian akan tiba saatnya, kereta lokomotif dari pelupuk mata pun datang dengan suara riuhnya, seperti sedang memanaskan airnya hingga membunyikan keras tabung mereka. Roda-roda besi gilingan disana sedang beradu dengan rel yang berpendar, karena sesekali akan mengeluarkan api sembur kecilnya. Mereka begitu sibuk dengan gerbong-gerbong yang mengangkut batubara, suara itu layaknya seperti seorang tinggi puluhan kaki yang sedang membuat gempa hingga area disekitarnya akan bergetar. Lalu memberi seperti teriakan orang-orang yang minta tolong kepada siapa saja yang mendengar, setiap orang berlarian menyelamatkan diri dan barang masing-masing, saling bertubrukkan, karena begitu dahsyatnya hari itu hingganya tak bisa lagi mengenali siapa-siapa, akhirnya mereka hanya seperti suara derakan keras gerbong yang menggunduki arang hitamnya pada satu lajur benda persegi panjang raksasa besi ini. Saat itu akan menyuruh yang didalam sini untuk keluar sekian detik untuk berteriak sekencang-kencangnya. Tak apa, diredam semuanya dengan suara lajur kereta itu, kuharap ia akan mengikhlaskannya pergi, selamanya.”, kata anak itu akhirnya sampai pada pemikirannya.

Tak lama kemudian, salah seorang dari para bayangan hitam pekat itu menghampirinya, beringsut perlahan maju kedepan, tepat diantatara kedua penyangga ayunan. Sesuai dengan dugaannya, yakni satu bayangan yang berwujud orangtua dari patung penjaga taman bersetelan jas coklat tadi yang menjadi pemimpin disini. Orangtua itu berkata,

“Apakah kau tak menyadari siapa kami ini? Kami adalah lebih dalam dari malammu, kami lebih dalam dari bayanganmu, kami lebih dalam dari mimpi burukmu. Kaulah yang mengakibatkan kami muncul ke permukaan, karena kau sebentar lagi menggenapi puruk, kami akan membuatmu membunuh diri sendiri.”

“Mungkin kau tak pernah menyadari bahwa kami tak nyata, ya tak akan. Kau hanya dengan pemikiran-pemikiran dari pradugamu yang kau ambil sedemikian rupa yang dijadikan sebagai pertahanan. Tapi senyatanya adalah kami disini. Mengikuti kemanapun kau berpergian, dimanapun kau mengambil takdir-takdirmu, dan ketika kau tersungkur dalam kastil yang tak berpenghuni seperti katamu, seperti itulah kami akan menahanmu. Saat kau berkata sudah tak punya apa-apa lagi sekarang ini, dalam kesalahan besar, karena kau memiliki paling berharga yakni dirimu sendiri. Tapi itu tak membuatmu goyah dalam pemikiran, maka kami akan memasukimu agar mengambil yang senilai itu. Pertama dibuat kau akan merasai hidup kesendirian, hingga tanpa akal akan mengutuki diri sendiri yang tak tahu apakah kutukan itu, setelah terkutuk hingganya kau mengutuk satu bagian dan sebaliknya bagian belakangnya lagi sampai mereka tak mengenali diri mulanya, akhirnya tak tahu senilainya. Kau akan memberontaki kepada kami, bersungut-sungut menyalahkan kami ketika dalam keadaan penjara bawah tanah itu kau sudah dalam ikatan leher yang kuat dengan kaki dipasung dengan batu besar. Tak hanya itu, kau akan menyalahkan seluruh dunia ini, membuatmu membenci mereka seutuhnya. Sebagian tulisan klise buruk yang kau ambil dalam genggaman itu akan membuatmu meruntuh singgasana para hati disana, sehingga kau tak akan memiliki perasaan lagi. Bukannya mereguh dalam kenyataan, hidup dalam keterasingan yang tak layak, sebuah samar yang memiliki penjagaan lebih untuk seorang didalamnya yang tak akan bisa menjelaskan rabunnya sendiri. Kau akan mengatasnamakan para yang berdusta, iblis dalam kehidupan ini yang walaupun tak menggema lagi ianya dipermukaan. Sesungguhnya itu tak ada gunanya, dikehidupan setelahnya ia akan berdalih mengapa seseorang rela mengikutinya. Sebenarnya saat itu kau akan lupa siapa Tuhanmu, mereta-reta dalam kegelapan dan menuhankan apapun yang pradugamu.

Kami seperti siluet bayanganmu. Seorang akan mengerti mengapa diberikannya secercah cahaya yang begitu terang, tentu kau akan menukarnya dengan sesuatu yang lebih hitam. Sungguh bernas sejenis kartu hitam itu yang sesungguhnya adalah karya senimu. Kau akan menggubahnya sendiri sesuai dengan bagaimana harapanmu terhadap apa yang sedang terjadi ujian didepan. Bagaimana sudut pandang dalam perbacaanmu ketika bertemu dengan mereka-mereka yang keji seperti dalam pikiranmu. Bayangan yang telah kau buat sendiri, kau akan memotong itu tepinya seperti bentuk mahakarya yang seperti apa. Apakah kau akan menjadikannya seperti catatan-catatan klisemu dimana kau bisa semenanya untuk mengubah itu sedemikian rupa, anggapan baik dalam anakan pandanganmu, atau sebaliknya. Dimana justru kau akan memberikan itu untuk persembahan-persembahan kami, agar menghirupi aura itu untuk keperluan yang tak pernah kau bayangkan. Seorang tak ubahnya adalah alat untuk membuat kerajaan pada itu, pilar-pilarnya adalah untuk anak-anak manusia yang memuruk jauh membelakangi kehidupan. Dengan kau membeku di kursi ayun kayumu memikirkan banyak hal seperti mengambang dalam ranahnya, memberi kesempatan bagi kami untuk memperluas kuasa. Tentunya kami tak akan melumuri tangan kami untuk membunuhmu, karena kami masih memiliki perbawa akan hal itu, maka kau yang akan membunuh diri sendiri. Kau akan mengingat dendam masa lalu yang begitu dalam, kemudian perlahan menjerat sendiri lehermu masuk kedalam pigura-pigura perak yang kau katakan. Sebagian manusia ada yang membuat sendiri demikian yang tak pernah disadari. Seorang akan lupa-selupanya bahwasanya kesedihan yang terlalu mendalam tak ubahnya mendekati keterpurukan. Maka kami akan mengatakan padamu saat ini,

‘Kami akan mengikuti dari belakang tangkuk hatimu yang terdalam, kami akan meruntuhi dalam kerak yang memahkotainya perumpamakan hilang, kami akan memangkur hitam sejadinya sebagai tempat terhina, melakukan penempa didalam jiwamu meretakki para buku petuah.’"


seravi

Komentar

Postingan Populer