Grim Castle

www.pinterest.com



Puri itu ditumbuhi tetumbuhan mawar rambat dengan bunga mudanya yang menguntaikan kuntum bertumpukan anakan dalam tangkai-tangkai. Menyilang teratur sekawanannya sembari membukakan sejenis gaun pada saat embun pertamanya menghampiri sebuah perbenihan taman. Sesosok yang membunga akan memerai kainnya dengan gerak ada yang seperti searah jarum jam putar saku miliknya, memutarkan gaun tatkala mereka menari pada lantai pavillun sealunan dengan paranada yang dimainkan penulis sastra tua dalam peradabannya. Merekahkan kelompok seperti itu sehingga dari kejauhan akan seperti menangkar batu yang menawan, dinding putih memburam itu akan disamarkan menjalar milik puan-puan perangkai sekarangan bunga tak hingga dari keranjangnya. Setiap bata akan memberikan lajur sisinya untuk menyulam benang yang juga lebih gelap miliknya, seorang perempuan tua seperti ingin memahirkan apa yang dilakukannya. Permusiman ini sebaiknya banyak menghasilkan lembar rajutan-rajutan, adalah yang akan menjadi rupawannya para pustakawan buku bagaimana menyemayamkan dalam setiap ingatan terdalam musim semi. Sebuah perpustakaan tersembunyi ditengah hutan itu diharapkan ada yang menempatkan bilik-bilik disana mengenai kisah berkesinambungannya, seorang dapat menjadi persaksian dalam waktu pada dinding berjalannya. Menuliskan yang berbait dalam penyangga buku tua untuk perumpamakan bahwasanya pun dalam puri sesangar dapat menukarkan suluran tulisan yang juga seindah. Buku-buku yang sudah dituliskannya menganakkan dalam pandangannya sedari dituangkan oleh tuan terbaiknya, menunggu kemuliaan yang menjadi ulasan sendiri menuliskan penduduk taman itu pada kehidupan yang keelokan dan kegemilangan. Mereka seperti ingin melakukan percakapan pada langit-langit yang menangkupkan kearah tuan tanah puri, sesungguhnya diinginkan untuk melemahkan para hati seperti pada saat mereka membangun bangunan ini beratapkan batu dengan juga lantai batu yang dingin namun masih memberikan kebun-kebun bunga. 

Seorang pemuda yang dalam menjeruji jiwanya sesungguhnya ada sebuah ketakutan menderak, ianya menyusun batu-batu hingga sedemikian rupa ini awalnya adalah sebagai perisai pertahanan. Adalah yang dari peradabaannya ini menjadi nilai yang kemudian sebagai kekuatan penunggunya. Banyak yang terjadi dalam kisahnya, tak terkecuali mengenai perlindungan dari serangan-serangan yang memurung dindingnya, mengaur asapan dari keranda masing-masing pendera keji yang ingin meruntuhkan. Namun dalam anggapan kekalahan yang dimaksudkan mereka ketika sudah diluluhlantakan sebagian tubuh bilik disana, ia tidak dahulu untuk menyerahkan dirinya. Ia akan memugar arsitektur bangunan itu dengan segenap kemampuan yang tersisa. Seperti halnya memberi perlengkapan pada bahan dasar yakni batuan yang lebih keras dari sebelumnya, membentangkan jarak jembatan  yang lebih jauh yakni pada jurang yang dibuatnya, membenahi parit-parit danau persediaan air disekitarnya sebagai penjagaan rahasia, membuatkan beratap yang lebih tinggi sebagai pelindung mahkotai penghuni utama. Di kemudian hari ada untuk seseorang jika sungguh-sungguh menginginkan arti kemuliaan yang murni, akan berusaha melakukannya seperti demikian-mencari dalam keseluruhan kehidupan ini sebelum apa yang menjadi kuasa dan kekuatannya sudah habis. Tak perlu seorang menguar untuk berniat buruk mengenai apa yang telah didapatkannya disana, karena sesungguhnya adalah untuk diindahkan rahasia peruntukkan tujuan pada kehidupan itu. Maknainya dalam setiap perjalanan, buku-buku yang telah dituangkan akan mengibarkan dari yang peperangannya. Menguati petahan yang disekeliling, layaknya sekumpulan kavaleri akan menyiapkan sejenis panahan busur yang sungguhnya tak ragu melesakkan, para ksatria berbanjar dari segenap sisi-sisi itu untuk memendari dari bawah bilah pedangnya, dalam pensejarahan yang akan diingat para langit-langit putih disana.

Pemuda itu sesungguhnya bermaksud menjadikan sebagai pengimpal wujud menampik dari kerahan-kerahan musuh. Namun ada sebagian manusia yang dalam kesalahan karena menjadikan petahan itu hanya untuk keserakahan, mereka akan tak pernah menemukan kemuliaannya. Bilamanakah membangun susunan batuan menggunduki sampai langit dengan segenap tamak yang dimiliki para petinggi hati, menginginkan sebagai pembatas buku miliknya agar tak ada seorang pun yang merasai dari ada sebuah kebaikan hati. Layaknya mengeruki kesemua tanah didepan hanya untuk kekayaan diri yang ternyata tak ubahnya tak memilki makna. “Kelindungan mereka mengarah hanya demi mengambil nama untuk martabatnya, tak memperdulikan ranah orang-orang di bawah harkatnya. Mereka bermaksud membangun bangunan yang lebih tinggi untuk menyimpan kekayaan sebagai atributnya. Setiap harinya akan menempa yang lebih banyak tak terkecuali hukum terlarang baginya, mengeruki apa yang bukan menjadi haknya lantas menginginkan sesuatu yang dimiliki oleh oranglain. Seorang sudah lupa dalam tujuan membuat perisainya, karena hanya lebih bergairah dalam mencari material disana untuk menumpuki gudang harta.” Memasukkan itu semua kedalam bentengnya, bermaksud dalam anggapannya agar menggenapi apa yang menjadi terlemahnya. Kemudian, tak sadar seorang sudah dalam melampaui batas yang dibuatnya sendiri yakni menemui pada yang kekikiran karena sungguh khawatir hartanya akan habis. Ruh-ruh dalam penjiwa disana selayaknya sudah sebentar lagi menghilangkan akalnya, dalam khayalan sosok penyihirnya menangkupkan lengan-lengan sejajar untuk sebuah kekuatan. Tapi sesungguhnya hanyalah  tutupan yang seperti memberi pusara milik sendiri, karena ketika memiliki kekuatan dari tamak seperti itu orang-orang dalamnya akan memberontak karena ketidakadilan yang dirundukki. Sesungguhnya ia hidup dalam kesendirian, dalam kisah pengantar yang dibalurkanya dalam buku perjalanannya itu pun tak menemukan teman yang sejati.

“Kelindungan sebenarnya tak selalu membicarakan mengenai harta yang meruah, tak selamanya melindungi mereka yang dari kesejatian. Kitab disana mengenai kebaikan-kebaikan hati sesungguhnya, dimana ketika seseorang sebenarnya tahu apakah yang hakiki maka akan melindungi kepunyaan-kepunyaan Tuhan dengan kesetiaan.” Sungguh ketika dunia yang dalam pusaran-pusarannya semakin menekannya dalam kelarungan dan kepurukan, ia akan berusaha agar membangun yang kukuh dengan dinding-dindingnya, dengan pasukan teman-teman sejatinya. Karena kerap kali manusia akan selalu dalam ketakutan, memekatkan bayangan lebih dari menggelapkan beberapa kegelapan, hingganya akan membuatkan bentengan lebih besar karena menurutnya tempat semakin dalam jiwa yang ingin disembunyikan. Namun dikemudian hari apakah itu menjadi landasan ianya untuk sebagai pengikut Tuhan, memberi penaungan dari kekerasan dimasa peradabannya. Kelindungan akan selalu diatasnamakan, memburai  ada sekumpulan usus-usus disana untuk memakan segala. “Mereka mengatakan sebagai kawan sepihak, tapi membelakangi kehidupan disana yang menjadikan diri mereka sendiri sebagai darah-darah panas yang berdalih menginginkan kehangatan namun menghadapkan saudaranya pada meja batu persembahan.”  Adalah yang digunakan oleh orang-orang pemegang kelicikan, menjumput apapun seperti dipemilik-pemilik, hingganya para tuan tanah disana akan kehilangan dari setepak hidupnya. Para pepohon yang dirembaskannya dengan racun agar menjadi peminta-minta yang hanya untuk setangkup airnya, mereka menjual dengan nilai yang begitu mahal untuk satu kebutuhan utamanya, hingganya ada yang rela untuk menukarkan dengan milik satu-satunya yang paling berharga.  Apapun akan dilakukannya demi untuk mendapatkan keinginan, tak empunyai iba hatinya jikalau meringankan sedikit saja lengan dari buka tutup gerbang jembatan dari bentengnya.

Seorang pemuda tadi adalah yang penunggu puri itu, sedang memangku sebuah tangan pada pagar beranda dari bilik atas bangunan ini, dari tempat duduk dekat perapiannya ada yang mengganggu pikirannya hingga membawanya untuk memandang kearah luar. Tatkala negeri awan memberinya sedikit gambaran tentang apa yang ingin diutarakannya dari dalam, ia berkata-kata. “Apa kau melihat sebuah peta menggelar disana temanku, kau mungkin tahu apa yang sedang kubicarakan. Disana ada yang menggambarkan kerajaan pohon kita, dimana aku selalu membicarakannya padamu.”, katanya berkata pada satu sosok, ternyata adalah pedangnya sendiri yang disanggahinya pada dinding pagar. Dan tak lama kemudian satu suara menjawabnya, “Tuan, aku tahu apa yang kau maksudkan, tapi khayalanmu itu tak ubahnya menggantikan putih dibaliknya yang juga demikian. Kau masih harus banyak menuliskan hasil dari perjalananmu jikalau memetakan kesemuanya. Tujuanmu yang seartinya kegemilangan, tapi seorang disana akan banyak menemui kejanggalan.”, katanya sembari menggunakan pegangan sebagai arah pandangnya sama seperti tuannya.

Pemuda itu meresapi apa yang dikatakan temannya, mengingat ketika bersamanya melewati hal-hal yang diluar dugaan, bertarung, berlari, bersembunyi ke tempat yang lebih aman, tertangkap hingga hampir mati. Ketika menyadari bahwasanya dunia yang digubah memenuhi ketidakadilan yang sungguhnya membingungkan, ada sebagian menderap penduduk beku dalam tatanannya saat iringan jalan para pelaku kesengsaraan. Terkadang tak bisa berkata-kata didalam keadaan seperti itu, terdiam untuk kesekian kalinya mengatakan tabah dari melihat peruntutan jiwa-jiwa yang berdiri sedang memegangi lukanya masing-masing, perban-perban putih menggulungi kepala dan bagian lainnya, papahan kayu menyanggahi ada yang tempat patahan tubuh, ada membusuk beberapa dari dagingnya karena penyakit keras yang sudah terlalu lama, ada menggeleparkan alas punggungnya ketanah karena tak tahan dari peracun yang meramu kuat, ada membakar bagian untuk terpotong yang kini tertinggal memuncar darah memerah marun, ada menahan dengan kain bersimbah dari tusukan pedang yang tertinggal pada dadanya, ada yang mematahkan satu bagian depan kepala runcing anak panah yang masih dari lengannya. Mereka mungkin menganggap sudah dalam kekalahan, namun ada yang untuk menanggapi dalam pandangannya kesemuanya ini demi melakukan sesuatu mulia. Bagi yang dalam anggapan kalah akan menyerahkan semua miliknya, mengatakan segala yang senjata petahan tak membalaskan kesakitan yang dirasainya. Tapi bagi yang selainnya itu akan memberikan kesempatan pada akalnya untuk berpikir, agar bagaimanakah untuk menghargai para penjiwa yang memungkuri sudah sampai dititik seperti ini, sebuah tujuan yang ingin ia kibarkan ditanah sana. Sebenar-benarnya sebagai pelindung yang melindungi sejatinya untuk satu rangkai yang menjadi titik titahnya, ia menerima itu, bahkan ia bersumpah untuk melakukannya. Ketika darahnya sudah sampai mengeraki dadanya namun sebenarnya memasuki jauh pada para yang bersemayam tidur didalam perpetian, benda itu akan membukakan sendiri mengambil gerendel kunci yang terpasang pada katupannya, kemudian menyuruh sosok yang pandai petarung di kehidupannya untuk mentakluk para penggusar yang ditanah itu. Keyakinannya katakanlah sebagai pengirim kusir dari titah yang diberikan untuk kembarnya, seorang ksatria tak bernama sedang dalam perjalananya.

Dunia gubahan yang sungguhnya dalam pertengahan kisahnya yang kesulitan dalam menterjemahkan lamannya, ketika ada seorang dalam keluguannya maka ia akan menjadi sasaran mudah bagi para pemangsa. Para yang membunuh dan membunuh demi bertahan hidup, tak upaya melihat lagi bagaimanakah keterasingan dari dunia yang digubahnya sedemikian tadi. Karena hidupnya hanya untuk diri sendiri, dianggapnya segala disekitarnya hanyalah seperti bebatuan keras pendatang dari negeri lain yang berlalu sehingga baginya seperti ancaman, olehnya ia harus menyingkirkannya tanpa alasan apapun. Sebenarnya ia tak mengenal yang bernama saudara, karena dalam pengartian itu ia harus berbagi dengan mereka, dan tentunya ia sungguh tak akan mau membagi-bagikan kekayaannya. Ia akan begitu melindungi harta miliknya, didekapnya erat kantung-kantung yang dipenuhi berisi itu kemudian mengendap-endap kembali ke dasar lumbung yang telah dibuatnya. Tapi dari itu semua ada yang tak akan pernah ia sadari, karena ada sebuah kecintaan pada kesenangan mengumpulkan itu sehingga layaknya menjadi orang yang melihat betapa indah koleksi pada perkakas lemari-lemari besar pajangannya, ada keinginan untuk menambahnya lagi. Dengan lemari yang lebih besar, dibuatnya ukiran itu yang dari juga bendanya yang ada didalam, sehingga seperti terlihat kenilaiannya yang tak tertandingi sehingga ia mendapat pikiran bahwasanya inilah sebuah kekuatan kekal yang dicarinya selama ini. Pada hari ia mengeruki untuk penduduk gudangnya, maka menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan itu semua. Pada dunia gubahan itu, melakukan penangkaran yang semena, sengketa, sengketa yang sungguh dusta, perbunuhan. Ada di pelabuhan-pelabuhan tempat orang berdagang dalam mencari penghasilan kehidupan akan ditariknya dengan jebakan-jebakan seperti itu, sehingga akan yang menjadi tertahan sebagai budak-budaknya karena ada yang tak mampu membayar, ada yang tak mampu mengelak, ada yang tak mampu beralasan. Ibarat kesemua sudut kerahan telah dibatasi oleh peraturan dan percakapan yang sungguh licik, ketika sudah ada yang didalamnya akan diusahakan untuk digantung hidup sungguh dalam yang menindik.

Ketika kebaikan sungguhnya tak terlihat lagi pada langit-langit putih, seorang akan benar-benar berubah menjadi sesosok keji. Pekerjaan seharinya tak lagi seperti anak manusia melainkan ianya yang lebih besar hidup mencari makanan yang bukan lagi sebagai artinya. Kelupaan pada kehidupan sebelumnya. Seorang harus hidup yang sungguh keras jika sudah ada didalam dunia gubahan itu. Seperti ketika ada cerita seorang yang sudah berbaik hati kepada saudaranya, merelakan kerja kerasnya untuk membantu yang sedang dalam kesusahan. Ketulusan karena mengingat Tuhan yang sungguhnya telah diberikan, berharap saudara yang dibantu mendapatkan kebahagiaan pada selanjutnya. Namun apakah yang dibaliknya, ternyata ia juga yang dibunuh untuk dipersembahkan karena orang itu menginginkan sebanyak-banyaknya kuasa, saudara pergi menyelamatkan diri sendiri meninggalkannya. Tak upaya menanggungi jawabnya pada yang sudah disakiti, dunia gubahan dalam penglihatan yang nyatanya sungguhlah keji. Hati bertanya mengapa sampai demikian, apakah dalam ketakutan-ketakutan dalam khayalan-khayalan manusia pada hari itu membuat sudah tak ada lagi rasa kasihan. Jika benar itu adalah ketakutan, apakah mereka-mereka tak memiliki takut pula pada dunia yang akhirnya sudah meriak-riaki kepulan asap karena sebagian besar melakukan seperti itu. Penimbal dari sana adalah memberi yang lebih buruk dari dunia sebelumnya, bertambahnya ketidakadilan yang lebih buruk hingganya seorang ketakutan dalam khayal itu pun semakin menambahi khayalnya sehingga berketakutan yang melampaui. Pikiran-pikirannya akan mengusut sehingga tak berbenah lagi pada perakalnya yang sesungguhnya, tak bisa menjernih karena sudah dipuruki khayal itu sendiri. Mereka akan merajalela pada kepala-kepala, membuat asas-asas yang dalam praduga makhluk filsufnya, dimana akan menginginkan selebih-lebihnya seharap seperti ‘manusia bebas’.

Pemuda itu sungguhnya tak ingin kelindungan yang demikian, karena ketika memegangnya akan mengalami akhir kematian terburuk yang tak dilayakkan. Jikalau memang orang-orang dalam dunia gubahan itu ingin bertahan hidup, tak harus menjadi seorang pemangsa. Karena apakah pengartian dalam pemangsa itu, bukankah disana hanyalah cerita-cerita perbunuhan memalang kayu mangsa yang tak ada habisnya. Kehidupan seperti demikian hanya melihat penderitaan, bagaimana seorang akan dalam kebahagiaan jika disengkang benar sedalam-dalamnya. Maka pada hati pemuda itu mengatakan dapatkah kiranya sebuah kelindungan adalah untuk pertahanan yang sungguhnya berkebaikan, seorang akan menggunakan itu agar menjadi sebaik-baiknya manusia, sang pelindung. Pada hari disana akan melihat bagaimana arakan awan putih yang berjalan menjadi kawan-kawan sejatinya, pepohon pun akan memberi tajuk untuk sahabat mulianya. Karena didunia sebenarnya sungguh tak menyenangkan jika memiliki budak, menggerek leher disana seperti peliharaan yang dipungkurnya, membuat kepribadian tuannya seperti seorang keji yang terbahak tapi sebenarnya tidak memiliki ketenangan hati karena yang dibelakang tadi bagaimanakah jika sedang mengutuknya dengan tatapan kebencian yang menggunduk. Seorang dibelakang bagaimanakah jika berpikir ia lepas dari ini maka akan pula memberi kesakitan pada tuannya. Tapi seorang akan mengerti suatu hari, benar suatu hari, ketika ada seorang yang perlahan dalam perjalanannya, selalu memberi kebaikan kepada yang ditolongnya, tak tahu suatu hari akan diberi kebaikan pula dari arah yang tak disangka-sangka, diberi kesetiaan dari orang yang dahulu ia santuni.  

Anak manusia akan banyak yang berdoa pada Tuhan, sebagian ada yang mengatasnamakannya dalam ketamakan menguatkan benteng kelindungannya itu. Mereka menggunakan hanya berdasarkan "perasa dan peyakin yang tak tahu apakah dari khayal makhluk filsufnya sehingga beranggapan bahwasanya doanya itu sudah terpaut ada dalam kebaikan.” Sembahyang sembari menangis masih akan keinginan tamaknya, tujuan yang dilubuk sebagaimana pembicara ulung sesosok nafsunya. Sebenarnya seorang yang memiliki iman yang kuat akan mengerti Tuhannya menyenangi doa-doa yang bagaimanakah. Tuhan tak akan pernah menginginkan doa untuk keserakahan, mereka-mereka menginginkan bak segalanya dengan keberhasilan pada dunia itu tak ayal akhir yang kerusakan. Pun jikalau keinginannya tercapai sesungguhnya agar suatu hari ianya disana mendapatkan pelajaran, dan apakah seorang yang mendapat pelajaran disana akan dengan mudahnya begitu saja, ia akan mengalami kesulitan-kesulitan celaka yang tak pernah dibayangkannya, ditujukan padanya mengenai peristiwa-peristiwa rahasia, akhirnya kemudian menjadikan seorang itu sadar dan teringat lagi akan kesalahannya pada Tuhan. Tapi, ada seorang yang meminta doa itu dengan kesungguhan hati, ketulusan yang dijadikan sebagai petiduran dalam jiwanya, menginginkan kelindungan yang sebagai pelindung sebaik, melindungi orang-orang Tuhan, sebagai lengan kesetiaan.

Seorang pemuda pada puri itu masih diberanda sana, hari ini sudah semakin mendingin sama seperti lantai berbatunya. Teman pedangnya masih mengikuti arah pandangnya, membuatnya hanya tersenyum ketika mengetahuinya. Sebenarnya ia masih ingin mengatakan satu hal pada temannya itu, tapi disimpannya dahulu untuk memikirkan sesuatu. Setelah ini sungguh banyak yang akan dikerjakannya, pertama akan membenahi apa yang menjadi kerusakan dari perisainya, sungguhnya ia akan bekerja untuk menopangnya agar itu tetap kukuh, selanjutnya akan bagaimana cara untuk menahan dari serangan-serangan. Terkadang pada dunia gubahan itu membuatnya kehabisan akal, maka ia akan banyak berpikir untuk hal itu. Tuhan menyuruh seluruh anak manusia untuk berpikir bukankah, agar tak terjerumus pada tempat-tempat yang tak pernah terduga. Dunia gubahan itu juga memiliki pikirannya, mereka akan membalikkan apapun yang menjadi kuasa-kuasa mesin jam putar yang diadakan kehidupan ini. Pemuda itu olehnya berharap teman pedangnya tak bertegang nantinya, ia ingin digembirakan sejenak. Maka tatkala ia hendak mengatakan pada seorang didalam itu, ada seekor burung putih sedang menghampiri purinya. Burung itu sedang bertengger diatas pagar beranda dekat suluran ranting mawar yang hampir mengering, sebenarnya itu sangat membuat hati senang karena di hari-harinya seperti ini ia diberikan satu lagi teman. Pemuda itu pun perlahan mendekati kesana, mengendap-endap punggungunya sedikit kemudian mencoba menangkap satu yang sedang tersekat-sekat kepala ketika akan memutar dan mata keatas seperti itu. Dengan satu gerakannya, hanya sebentar saja ia sudah memeluk burung putih itu. Dibelainya kepala sampai punggung, seperti ia sedang berkata-kata. “Apakah kau yang selalu bersembunyi diantara awan putih, mungkinkah ada yang disamarkan rahasia yang ada dibaliknya. Katakanlah pada langit-langit putihnya bahwa aku ingin menjadi teman sejatinya.”, katanya kemudian melepaskan burung itu terbang jauh. Satu temannya yang diam akhirnya berkata, “Tuan, aku pun akan mengikuti kemanapun kau pergi, kau sesungguh sudah sebagai teman sejatiku.” Mendengar itu pemuda tersenyum, mengambil pedang dari pagar beranda dan membawa kedalam ruang perapian lagi. Puri itu akan berjaga-jaga pada permusiman ini, suluran tanaman rambat akan tetap menangkar seri.


seravi

Komentar

Postingan Populer