Grim Castle
Puri itu ditumbuhi tetumbuhan
mawar rambat dengan bunga mudanya yang menguntaikan kuntum bertumpukan
anakan dalam tangkai-tangkai. Menyilang teratur sekawanannya sembari membukakan
sejenis gaun pada saat embun pertamanya menghampiri sebuah perbenihan taman.
Sesosok yang membunga akan memerai kainnya dengan gerak ada yang seperti searah
jarum jam putar saku miliknya, memutarkan gaun tatkala mereka menari pada lantai pavillun
sealunan dengan paranada yang dimainkan penulis sastra tua dalam peradabannya. Merekahkan
kelompok seperti itu sehingga dari kejauhan akan seperti menangkar batu yang menawan, dinding putih memburam itu akan disamarkan
menjalar milik puan-puan perangkai sekarangan
bunga tak hingga dari keranjangnya. Setiap bata akan memberikan lajur sisinya
untuk menyulam benang yang juga lebih gelap miliknya, seorang perempuan
tua seperti ingin memahirkan apa yang dilakukannya. Permusiman ini sebaiknya
banyak menghasilkan lembar rajutan-rajutan, adalah yang akan menjadi rupawannya
para pustakawan buku bagaimana menyemayamkan dalam setiap ingatan terdalam musim
semi. Sebuah perpustakaan tersembunyi ditengah hutan itu diharapkan ada yang menempatkan
bilik-bilik disana mengenai kisah berkesinambungannya, seorang dapat menjadi
persaksian dalam waktu pada dinding berjalannya. Menuliskan yang berbait dalam
penyangga buku tua untuk perumpamakan bahwasanya pun dalam puri
sesangar dapat menukarkan suluran tulisan yang juga seindah. Buku-buku yang
sudah dituliskannya menganakkan dalam pandangannya sedari dituangkan oleh tuan
terbaiknya, menunggu kemuliaan yang menjadi ulasan sendiri menuliskan penduduk
taman itu pada kehidupan yang keelokan dan kegemilangan. Mereka seperti ingin
melakukan percakapan pada langit-langit yang menangkupkan kearah tuan tanah
puri, sesungguhnya diinginkan untuk melemahkan para hati seperti pada saat
mereka membangun bangunan ini beratapkan batu dengan juga lantai batu yang
dingin namun masih memberikan kebun-kebun bunga.
Seorang pemuda yang dalam
menjeruji jiwanya sesungguhnya ada sebuah ketakutan menderak, ianya menyusun
batu-batu hingga sedemikian rupa ini awalnya adalah sebagai perisai pertahanan.
Adalah yang dari peradabaannya ini
menjadi nilai yang kemudian sebagai kekuatan penunggunya. Banyak yang terjadi
dalam kisahnya, tak terkecuali mengenai perlindungan dari serangan-serangan
yang memurung dindingnya, mengaur asapan dari keranda masing-masing pendera
keji yang ingin meruntuhkan. Namun dalam anggapan kekalahan yang dimaksudkan
mereka ketika sudah diluluhlantakan sebagian tubuh bilik disana, ia tidak
dahulu untuk menyerahkan dirinya. Ia akan memugar
arsitektur bangunan itu dengan segenap kemampuan yang tersisa. Seperti halnya
memberi perlengkapan pada bahan dasar yakni batuan yang lebih keras dari
sebelumnya, membentangkan jarak jembatan
yang lebih jauh yakni pada jurang yang dibuatnya, membenahi parit-parit
danau persediaan air disekitarnya sebagai penjagaan rahasia, membuatkan beratap
yang lebih tinggi sebagai pelindung mahkotai penghuni utama. Di kemudian hari ada untuk seseorang jika sungguh-sungguh menginginkan arti kemuliaan
yang murni, akan berusaha melakukannya seperti demikian-mencari dalam keseluruhan
kehidupan ini sebelum apa yang menjadi kuasa dan kekuatannya sudah habis. Tak
perlu seorang menguar untuk berniat buruk mengenai apa yang telah didapatkannya disana, karena sesungguhnya
adalah untuk diindahkan rahasia peruntukkan tujuan pada kehidupan itu.
Maknainya dalam setiap perjalanan, buku-buku yang telah dituangkan akan
mengibarkan dari yang peperangannya. Menguati petahan yang disekeliling, layaknya sekumpulan kavaleri akan menyiapkan sejenis panahan busur yang sungguhnya tak ragu
melesakkan, para ksatria berbanjar dari segenap sisi-sisi itu untuk memendari
dari bawah bilah pedangnya, dalam pensejarahan yang akan diingat para
langit-langit putih disana.
Pemuda itu sesungguhnya bermaksud
menjadikan sebagai pengimpal wujud menampik dari kerahan-kerahan musuh. Namun
ada sebagian manusia yang dalam kesalahan karena menjadikan petahan itu hanya untuk
keserakahan, mereka akan tak pernah menemukan kemuliaannya. Bilamanakah
membangun susunan batuan menggunduki sampai langit dengan segenap tamak yang
dimiliki para petinggi hati, menginginkan sebagai pembatas buku miliknya agar
tak ada seorang pun yang merasai dari ada sebuah kebaikan hati. Layaknya
mengeruki kesemua tanah didepan hanya untuk kekayaan diri yang ternyata tak
ubahnya tak memilki makna. “Kelindungan mereka mengarah hanya demi mengambil nama untuk
martabatnya, tak memperdulikan ranah orang-orang di bawah harkatnya. Mereka bermaksud membangun bangunan yang lebih tinggi
untuk menyimpan kekayaan sebagai atributnya. Setiap harinya akan menempa yang
lebih banyak tak terkecuali hukum terlarang baginya, mengeruki apa yang bukan
menjadi haknya lantas menginginkan sesuatu yang dimiliki oleh oranglain. Seorang sudah lupa dalam tujuan membuat perisainya, karena hanya lebih bergairah dalam mencari material disana
untuk menumpuki gudang harta.” Memasukkan itu semua kedalam bentengnya,
bermaksud dalam anggapannya agar menggenapi apa yang menjadi terlemahnya.
Kemudian, tak sadar seorang sudah dalam melampaui batas yang dibuatnya sendiri
yakni menemui pada yang kekikiran karena sungguh khawatir hartanya akan habis. Ruh-ruh
dalam penjiwa disana selayaknya sudah sebentar lagi menghilangkan akalnya,
dalam khayalan sosok penyihirnya menangkupkan lengan-lengan sejajar untuk
sebuah kekuatan. Tapi sesungguhnya hanyalah
tutupan yang seperti memberi pusara milik sendiri, karena ketika
memiliki kekuatan dari tamak seperti itu orang-orang dalamnya akan memberontak
karena ketidakadilan yang dirundukki. Sesungguhnya ia hidup dalam kesendirian,
dalam kisah pengantar yang dibalurkanya dalam buku perjalanannya itu pun tak
menemukan teman yang sejati.
“Kelindungan sebenarnya tak selalu membicarakan mengenai harta yang
meruah, tak selamanya melindungi mereka yang dari kesejatian. Kitab disana
mengenai kebaikan-kebaikan hati sesungguhnya, dimana ketika seseorang
sebenarnya tahu apakah yang hakiki maka akan melindungi kepunyaan-kepunyaan
Tuhan dengan kesetiaan.” Sungguh ketika dunia yang dalam pusaran-pusarannya
semakin menekannya dalam kelarungan dan kepurukan, ia akan berusaha agar
membangun yang kukuh dengan dinding-dindingnya, dengan pasukan teman-teman
sejatinya. Karena kerap kali manusia akan selalu dalam ketakutan, memekatkan
bayangan lebih dari menggelapkan beberapa kegelapan, hingganya akan membuatkan
bentengan lebih besar karena menurutnya tempat semakin dalam jiwa yang ingin
disembunyikan. Namun dikemudian hari apakah itu menjadi landasan ianya untuk
sebagai pengikut Tuhan, memberi penaungan dari kekerasan dimasa peradabannya.
Kelindungan akan selalu diatasnamakan, memburai
ada sekumpulan usus-usus disana untuk memakan segala. “Mereka mengatakan sebagai kawan sepihak,
tapi membelakangi kehidupan disana yang menjadikan diri mereka sendiri sebagai
darah-darah panas yang berdalih menginginkan kehangatan namun menghadapkan
saudaranya pada meja batu persembahan.” Adalah yang digunakan oleh orang-orang
pemegang kelicikan, menjumput apapun seperti dipemilik-pemilik, hingganya para
tuan tanah disana akan kehilangan dari setepak hidupnya. Para pepohon yang
dirembaskannya dengan racun agar menjadi peminta-minta yang hanya untuk setangkup
airnya, mereka menjual dengan nilai yang begitu mahal untuk satu kebutuhan
utamanya, hingganya ada yang rela untuk menukarkan dengan milik satu-satunya
yang paling berharga. Apapun akan
dilakukannya demi untuk mendapatkan keinginan, tak empunyai iba hatinya jikalau
meringankan sedikit saja lengan dari buka tutup gerbang jembatan dari bentengnya.
Seorang pemuda tadi adalah yang
penunggu puri itu, sedang memangku sebuah tangan pada pagar beranda dari bilik
atas bangunan ini, dari tempat duduk dekat perapiannya ada yang mengganggu
pikirannya hingga membawanya untuk memandang kearah luar. Tatkala negeri awan
memberinya sedikit gambaran tentang apa yang ingin diutarakannya dari dalam, ia
berkata-kata. “Apa kau melihat sebuah peta menggelar disana temanku, kau
mungkin tahu apa yang sedang kubicarakan. Disana ada yang menggambarkan kerajaan
pohon kita, dimana aku selalu membicarakannya padamu.”, katanya berkata pada
satu sosok, ternyata adalah pedangnya sendiri yang disanggahinya pada dinding
pagar. Dan tak lama kemudian satu suara menjawabnya, “Tuan, aku tahu apa yang
kau maksudkan, tapi khayalanmu itu tak ubahnya menggantikan putih dibaliknya
yang juga demikian. Kau masih harus banyak menuliskan hasil dari perjalananmu jikalau
memetakan kesemuanya. Tujuanmu yang
seartinya kegemilangan, tapi seorang disana akan banyak menemui kejanggalan.”,
katanya sembari menggunakan pegangan sebagai arah pandangnya sama seperti
tuannya.
Pemuda itu
meresapi apa yang dikatakan temannya, mengingat ketika bersamanya melewati
hal-hal yang diluar dugaan, bertarung, berlari, bersembunyi ke tempat yang lebih aman, tertangkap hingga hampir mati. Ketika menyadari bahwasanya dunia yang digubah
memenuhi ketidakadilan yang sungguhnya membingungkan, ada sebagian menderap
penduduk beku dalam tatanannya saat iringan jalan para pelaku kesengsaraan.
Terkadang tak bisa berkata-kata didalam keadaan seperti itu, terdiam untuk
kesekian kalinya mengatakan tabah dari melihat peruntutan jiwa-jiwa yang berdiri
sedang memegangi lukanya masing-masing, perban-perban putih menggulungi kepala
dan bagian lainnya, papahan kayu menyanggahi ada yang tempat patahan tubuh, ada
membusuk beberapa dari dagingnya karena penyakit keras yang sudah terlalu lama,
ada menggeleparkan alas punggungnya ketanah karena tak tahan dari peracun yang
meramu kuat, ada membakar bagian untuk terpotong yang kini tertinggal memuncar darah memerah marun, ada menahan dengan kain bersimbah dari tusukan pedang yang
tertinggal pada dadanya, ada yang mematahkan satu bagian depan kepala runcing
anak panah yang masih dari lengannya. Mereka mungkin menganggap sudah dalam
kekalahan, namun ada yang untuk menanggapi dalam pandangannya kesemuanya ini
demi melakukan sesuatu mulia. Bagi yang dalam anggapan kalah akan menyerahkan
semua miliknya, mengatakan segala yang senjata petahan tak membalaskan
kesakitan yang dirasainya. Tapi bagi yang selainnya itu akan memberikan
kesempatan pada akalnya untuk berpikir, agar bagaimanakah untuk menghargai para
penjiwa yang memungkuri sudah sampai dititik seperti ini, sebuah tujuan yang
ingin ia kibarkan ditanah sana. Sebenar-benarnya sebagai pelindung yang
melindungi sejatinya untuk satu rangkai yang menjadi titik titahnya, ia
menerima itu, bahkan ia bersumpah untuk melakukannya. Ketika darahnya sudah
sampai mengeraki dadanya namun sebenarnya memasuki jauh pada para yang bersemayam tidur didalam perpetian, benda
itu akan membukakan sendiri mengambil gerendel kunci yang terpasang pada
katupannya, kemudian menyuruh sosok yang pandai petarung di kehidupannya untuk
mentakluk para penggusar yang ditanah itu. Keyakinannya katakanlah sebagai
pengirim kusir dari titah yang diberikan untuk kembarnya, seorang ksatria tak
bernama sedang dalam perjalananya.
Dunia gubahan
yang sungguhnya dalam pertengahan kisahnya yang kesulitan dalam menterjemahkan
lamannya, ketika ada seorang dalam keluguannya maka ia akan menjadi sasaran
mudah bagi para pemangsa. Para yang membunuh dan membunuh demi bertahan hidup, tak
upaya melihat lagi bagaimanakah keterasingan dari dunia yang digubahnya
sedemikian tadi. Karena hidupnya hanya untuk diri sendiri, dianggapnya segala
disekitarnya hanyalah seperti bebatuan keras pendatang dari negeri lain yang
berlalu sehingga baginya seperti ancaman, olehnya ia harus menyingkirkannya
tanpa alasan apapun. Sebenarnya ia tak mengenal yang bernama saudara, karena
dalam pengartian itu ia harus berbagi dengan mereka, dan tentunya ia sungguh
tak akan mau membagi-bagikan kekayaannya. Ia akan begitu melindungi harta
miliknya, didekapnya erat kantung-kantung yang dipenuhi berisi itu kemudian mengendap-endap
kembali ke dasar lumbung yang telah dibuatnya. Tapi dari itu semua ada yang tak
akan pernah ia sadari, karena ada sebuah kecintaan pada kesenangan mengumpulkan
itu sehingga layaknya menjadi orang yang melihat betapa indah koleksi pada perkakas
lemari-lemari besar pajangannya, ada keinginan untuk menambahnya lagi. Dengan
lemari yang lebih besar, dibuatnya ukiran itu yang dari juga bendanya yang ada
didalam, sehingga seperti terlihat kenilaiannya yang tak tertandingi sehingga
ia mendapat pikiran bahwasanya inilah sebuah kekuatan kekal yang dicarinya
selama ini. Pada hari ia mengeruki untuk penduduk gudangnya, maka menggunakan
berbagai cara untuk mendapatkan itu semua. Pada dunia gubahan itu, melakukan penangkaran yang semena, sengketa, sengketa
yang sungguh dusta, perbunuhan. Ada di pelabuhan-pelabuhan tempat orang
berdagang dalam mencari penghasilan kehidupan akan ditariknya dengan jebakan-jebakan
seperti itu, sehingga akan yang menjadi tertahan sebagai budak-budaknya karena
ada yang tak mampu membayar, ada yang tak mampu mengelak, ada yang tak mampu beralasan.
Ibarat kesemua sudut kerahan telah dibatasi oleh peraturan dan percakapan yang
sungguh licik, ketika sudah ada yang didalamnya akan diusahakan untuk digantung
hidup sungguh dalam yang menindik.
Ketika kebaikan
sungguhnya tak terlihat lagi pada langit-langit putih, seorang akan benar-benar
berubah menjadi sesosok keji. Pekerjaan seharinya tak lagi seperti
anak manusia melainkan ianya yang lebih besar hidup mencari makanan yang
bukan lagi sebagai artinya. Kelupaan pada kehidupan sebelumnya. Seorang harus
hidup yang sungguh keras jika sudah ada didalam dunia gubahan itu. Seperti
ketika ada cerita seorang yang sudah berbaik hati kepada saudaranya, merelakan
kerja kerasnya untuk membantu yang sedang dalam kesusahan. Ketulusan karena
mengingat Tuhan yang sungguhnya telah diberikan, berharap saudara yang dibantu
mendapatkan kebahagiaan pada selanjutnya. Namun apakah yang dibaliknya,
ternyata ia juga yang dibunuh untuk dipersembahkan karena orang itu
menginginkan sebanyak-banyaknya kuasa, saudara pergi menyelamatkan diri sendiri
meninggalkannya. Tak upaya menanggungi jawabnya pada yang sudah disakiti, dunia
gubahan dalam penglihatan yang nyatanya sungguhlah keji. Hati bertanya mengapa
sampai demikian, apakah dalam ketakutan-ketakutan dalam khayalan-khayalan manusia
pada hari itu membuat sudah tak ada lagi rasa kasihan. Jika benar itu adalah
ketakutan, apakah mereka-mereka tak memiliki takut pula pada dunia yang
akhirnya sudah meriak-riaki kepulan asap karena sebagian besar melakukan
seperti itu. Penimbal dari sana adalah memberi yang lebih buruk dari dunia sebelumnya,
bertambahnya ketidakadilan yang lebih buruk hingganya seorang ketakutan dalam
khayal itu pun semakin menambahi khayalnya sehingga berketakutan yang
melampaui. Pikiran-pikirannya akan mengusut sehingga tak berbenah lagi pada
perakalnya yang sesungguhnya, tak bisa menjernih karena sudah dipuruki khayal
itu sendiri. Mereka akan merajalela pada kepala-kepala, membuat asas-asas yang
dalam praduga makhluk filsufnya, dimana akan menginginkan selebih-lebihnya
seharap seperti ‘manusia bebas’.
Pemuda itu sungguhnya tak ingin kelindungan
yang demikian, karena ketika memegangnya akan mengalami akhir kematian terburuk
yang tak dilayakkan. Jikalau memang orang-orang dalam dunia gubahan itu ingin
bertahan hidup, tak harus menjadi seorang pemangsa. Karena apakah pengartian
dalam pemangsa itu, bukankah disana hanyalah cerita-cerita perbunuhan memalang kayu
mangsa yang tak ada habisnya. Kehidupan seperti demikian hanya melihat
penderitaan, bagaimana seorang akan dalam kebahagiaan jika disengkang benar
sedalam-dalamnya. Maka pada hati pemuda itu mengatakan dapatkah kiranya sebuah
kelindungan adalah untuk pertahanan yang sungguhnya berkebaikan, seorang akan
menggunakan itu agar menjadi sebaik-baiknya manusia, sang pelindung. Pada hari
disana akan melihat bagaimana arakan awan putih yang berjalan menjadi
kawan-kawan sejatinya, pepohon pun akan memberi tajuk untuk sahabat mulianya. Karena
didunia sebenarnya sungguh tak menyenangkan jika memiliki budak, menggerek
leher disana seperti peliharaan yang dipungkurnya, membuat kepribadian tuannya seperti
seorang keji yang terbahak tapi sebenarnya tidak memiliki ketenangan hati
karena yang dibelakang tadi bagaimanakah jika sedang mengutuknya dengan tatapan
kebencian yang menggunduk. Seorang dibelakang bagaimanakah jika berpikir ia
lepas dari ini maka akan pula memberi kesakitan pada tuannya. Tapi seorang akan
mengerti suatu hari, benar suatu hari, ketika ada seorang yang perlahan dalam
perjalanannya, selalu memberi kebaikan kepada yang ditolongnya, tak tahu suatu
hari akan diberi kebaikan pula dari arah yang tak disangka-sangka, diberi
kesetiaan dari orang yang dahulu ia santuni.
Anak manusia akan banyak yang
berdoa pada Tuhan, sebagian ada yang mengatasnamakannya dalam ketamakan menguatkan
benteng kelindungannya itu. Mereka menggunakan hanya berdasarkan "perasa dan peyakin yang tak tahu apakah dari
khayal makhluk filsufnya sehingga beranggapan bahwasanya doanya itu sudah terpaut
ada dalam kebaikan.” Sembahyang sembari menangis masih akan keinginan
tamaknya, tujuan yang dilubuk sebagaimana pembicara ulung sesosok nafsunya. Sebenarnya
seorang yang memiliki iman yang kuat akan mengerti Tuhannya
menyenangi doa-doa yang bagaimanakah. Tuhan tak akan pernah menginginkan doa
untuk keserakahan, mereka-mereka menginginkan bak segalanya dengan keberhasilan
pada dunia itu tak ayal akhir yang kerusakan. Pun jikalau keinginannya tercapai sesungguhnya agar suatu hari ianya disana mendapatkan pelajaran, dan
apakah seorang yang mendapat pelajaran disana akan dengan mudahnya begitu saja,
ia akan mengalami kesulitan-kesulitan celaka yang tak pernah dibayangkannya, ditujukan
padanya mengenai peristiwa-peristiwa rahasia, akhirnya kemudian menjadikan
seorang itu sadar dan teringat lagi akan kesalahannya pada Tuhan. Tapi, ada
seorang yang meminta doa itu dengan kesungguhan hati, ketulusan yang dijadikan sebagai petiduran dalam jiwanya, menginginkan kelindungan yang sebagai pelindung sebaik, melindungi orang-orang Tuhan, sebagai lengan kesetiaan.
Seorang pemuda pada puri itu masih
diberanda sana, hari ini sudah semakin mendingin sama seperti lantai
berbatunya. Teman pedangnya masih mengikuti arah pandangnya, membuatnya hanya
tersenyum ketika mengetahuinya. Sebenarnya ia masih ingin mengatakan satu hal
pada temannya itu, tapi disimpannya dahulu untuk memikirkan sesuatu. Setelah
ini sungguh banyak yang akan dikerjakannya, pertama akan membenahi apa yang
menjadi kerusakan dari perisainya, sungguhnya ia akan bekerja untuk menopangnya
agar itu tetap kukuh, selanjutnya akan bagaimana cara untuk menahan dari
serangan-serangan. Terkadang pada dunia gubahan itu membuatnya kehabisan akal,
maka ia akan banyak berpikir untuk hal itu. Tuhan menyuruh seluruh anak manusia
untuk berpikir bukankah, agar tak terjerumus pada tempat-tempat yang tak pernah
terduga. Dunia gubahan itu juga memiliki pikirannya, mereka akan membalikkan
apapun yang menjadi kuasa-kuasa mesin jam putar yang diadakan kehidupan ini. Pemuda itu olehnya berharap teman
pedangnya tak bertegang nantinya, ia ingin digembirakan sejenak. Maka tatkala
ia hendak mengatakan pada seorang didalam itu, ada seekor burung putih sedang
menghampiri purinya. Burung itu sedang bertengger diatas pagar beranda dekat
suluran ranting mawar yang hampir mengering, sebenarnya itu sangat membuat hati
senang karena di hari-harinya seperti ini ia diberikan satu lagi teman. Pemuda
itu pun perlahan mendekati kesana, mengendap-endap punggungunya sedikit kemudian
mencoba menangkap satu yang sedang tersekat-sekat kepala ketika akan memutar
dan mata keatas seperti itu. Dengan satu gerakannya, hanya sebentar saja ia
sudah memeluk burung putih itu. Dibelainya kepala sampai punggung, seperti ia
sedang berkata-kata. “Apakah kau yang selalu bersembunyi diantara awan putih, mungkinkah
ada yang disamarkan rahasia yang ada dibaliknya. Katakanlah pada langit-langit
putihnya bahwa aku ingin menjadi teman sejatinya.”, katanya kemudian melepaskan
burung itu terbang jauh. Satu temannya yang diam akhirnya berkata, “Tuan, aku pun
akan mengikuti kemanapun kau pergi, kau sesungguh sudah sebagai teman sejatiku.”
Mendengar itu pemuda tersenyum, mengambil pedang dari pagar beranda dan
membawa kedalam ruang perapian lagi. Puri itu akan berjaga-jaga pada permusiman
ini, suluran tanaman rambat akan tetap menangkar seri.
seravi


Komentar
Posting Komentar