Kite Tomorrow
Punuk-punuk bukit ini sudah
dipenuhi oleh puluhan anak lelaki, tiapnya membawa seperti kartu-kartu lupis
yang sedang diayunkan diatas langit. Ada yang sedang bercengkrama dengan sekawanannya
sembari tertawa bergelak hingga kartunya berputar tak teratur, ada yang
berdetak-detak jantung beberapa anak
diam yang terlalu berpusat pada miliknya maka kartunya pun ikut berpikir serius
seperti tuannya, namun ada pula yang sedang melamun saja pada kartunya dengan
berkata-kata pada kembaran dirinya sendiri yakni, “Akankah
kita menaklukkan satu lapis awan, bagaimana jika berlapis-lapis dari parade kembang
gula putih itu?”, katanya. Sebuah benang tegak landai dikatakan anak itu
sebagai salah satu pilarnya, sebenarnya ia sudah tahu bahwa angin akan menjadi
kawan-kawannya hari ini. Itu sebabnya ia akan mempercayakan kartunya diatas
pada angin demikan saja, agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dalam
pikirannya. Bukankah angin diwaktu ini sungguh memiliki kuasa hingga seperti
membuatkan satu negeri angin yang tak terkalahkan, mengatakannya memiliki
keyakinan penuh untuk mengangkat segala sesuatu diatas bukit rerumputan. Tentu
saja khusus untuk pohon-pohon juga agak diketirnya sedikit agar dedaunan juga
reranting menjatuhkan musim gugur buatan yang begitu indah, lalu untuk
bebungaan liar didekatnya yang menjuntai akan disapu lembut seperti lukisan
abstrak yang menari. “Bunga-bunga liar memang
merupakan pemandangan yang tak terlupakan di waktu-waktu angin sedang.”,
kata mereka. Ada sekumpulan kepala-kepala merah muda yang kecil menggunduki,
arakan bentuk matahari putih juga keunguan sejenis bunga yang sama menyelipkan ke
penabur tuan-tuan pemilik hijau. Akankah serbuk-serbuk diberi kesempatan untuk
anakan mereka berterbangan di tempat-tempat yang sungguh jauh, karena itu akan
sangat mengagumkannya. Dikesemuanya ini sungguh banyak tanah rerumputan basah,
mereka dapat merembahkan serbuk dan membungakannya ditempat penyimpanan yang
tak pernah dibayangkan. Maka para induk akan selalu bergumam pada angin agar mendatangi
anakan.
Anak-anak lelaki dibukit ini sama
halnya mengharapkan hal seperti demikian, sembari bergembira membuyarkan
leluasan langit. Ternyata langit menunjukkan pertemanannya pada manusia,
bagaimanakah, perumpamaan warna dan bentuk yang diberikan membawakan secercah
kebahagiaan, maka dengan senang hati mempersilahkan untuk meletakkan pada
penyangga-penyangga awan. Para awan putih akan merekahkan rambut-rambutnya
disekeliling kartu setiap anak, kemudian mengatakan pada pembantunya untuk
mengajak berbincang pada setiap kartu itu yang melayang-layang. Anak-anak
tentu akan sangat senang, karena juga sebenarnya dalam para hati kecil ini
memiliki sekelabat pertanyaan-yang apakah buruk karena ditakutkan secara tak
langsung menggerakkan kepala atas dimana sudah lelah selalu bekerja paruh waktu.
Terutama mengenai mimpi masa mendatang, maka bermaksud akankah bisa menilik
sedikit dibalik persembunyian wujud putih itu, seandainya mereka memang salah satu pandai peramal yang
benar-benar tahu. Olehnya akan terus memanjangkan benang kearah atas sana, sembari
menarik-ulur sedikit agar dapat mengendalikan kartu tetap memainkan gerakan arah
angin, hingganya dapat melayang dengan keadaan yang cukup tenang. Kemudian jika
angin ini sangat baik untuk membuat kartu itu menilik bertambah tinggi, akan
digerai lagi benang-benang menggulung pada kaleng yang disiapkan sebelum datang
ke tempat ini. Gulungan itu begitu penat, tapi sungguh teratur hingganya tak
terbelit simpul-simpul kusut. Anak-anak
yang berjajar disana akan selalu memperhatikan atribut mereka sebelum
mengudarakan kartu layangnya. Walau ada saja yang kesalahan nantinya hingga
mengakibatkan putus, mempersiapkan hal-hal dasar adalah yang utama jika ingin
lekang diantara awan. Kaleng-kaleng sebenarnya yang paling mudah digunakan
untuk menggulung, dari kejauhan atas bukit itu memendar lapisan peraknya karena
cahaya, ramai berserakan diatas rumput, ada yang ditegakkan pada sandaran kayu
galah sedang yang sudah dipaku, ada yang hanya dipegang sendiri di tangan tuannya.
Seorang anak akan membawakan beberapa kaleng didalam tasnya, ada tujuan
tertentu sepertinya, mungkinkah ia ingin pergi lagi ke langit atas.
Seorang anak itu hanya ingin
membuat bagaimana andaikata miliknya yang diatas bisa mengatakan sesuatu pula, bukankah
sudah diizinkan untuk berbicara, tapi ia sungguh tahu bahwasanya benang
pintalannya pada jumlah-jumlah yang terbatas. Maka dibenaknya selalu ingin
membuktikan banyak hal dalam kesempatan yang seperti demikian, sungguh banyak
hal pada dirinya agar selalu merenungi apa yang dalam kesalahan anggapannya.
“Layang-layangku, apa yang kau bicarakan pada awan mereka. Tak bisakah memberitahukan
padaku. Aku tak memiliki kemampuan untuk menilik masa mendatang dari bawah
sini. Aku memiliki sebuah ketakutan dalam mengambil sebuah mimpi. Sebagian
manusia bukankah memilih yang menakjubkan, kemudian pada hari ini, dikatakannya
terpaut sudah ada kebaikan, namun kebaikan anggapan mereka tak tentu kebaikan
anggapan Tuhan. Perumpamaan pada langit-langit putih akan terus diumumkan,
layang-layangku. Perumpamaan pada langit-langit putih akan terus diatasnamakan,
layang-layangku.
Layang-layangku, haruskah menindaklanjuti ruang waktu yang tak pernah
sampai. Satu dari mereka saja belum kuselesaikan tanggung jawab dikesemua sekat
dindingnya, belum lagi bayangan dari anakan cermin perumpamaan yang dikemudian
hari akan mendatangi kepalanya. Andaikan, seorang tahu bahwasanya dalam
genggaman tangan sudah sungguh bersyukur, tapi seorang akan mengatakan dirinya
hendak tamak mengambil ranah kehidupan yang lain. Apakah satu kuasa tak cukup memuaskan
para hati, sebenarnya sebesar apakah, hingganya ingin mengambil segala sesuatu
di dunia ini.
Layang-layangku, apa yang kau bicarakan pada awan mereka. Tak bisakah
memberitahukan padaku. Aku hanya ingin mengatakan agar perumpamaan untuk
bertahan hidup, membuat atap pelindung dari Tuhan. Aku hanya ingin mengatakan
agar perumpamaan untuk berarti hidup, membuat cahaya pendaran dari Tuhan.
Apakah aku sedang dalam ketakutan yang melebihi , sedang manusia dalam jati
dirinya ditakutkan melebihi dalam ketakutan itu sendiri. Seandainya sebaik-baiknya manusia layang-layangku,
sebenarnya aku hanya ingin berpulang hidup selamanya dengan Tuhan.”
Anak itu terus berkata-kata dalam
pengandaiannya, pada kertas yang masih tenang melayang. Satu yang paling
terlihat seperti titik dari bukit rerumputan,
“Melihat sendu keatas seperti ini,
berharap kau yang sedang kutuju menjawab pertanyaan dari-ah katakanlah hanya
seonggok bongkah kepala kecil. Sebagian orang dewasa bukankah akan selalu berkata
seperti itu, menganggap sebagai seorang kerdil yang tak tahu apa-apa. Kemudian,
bagaimanakah tangan jika masih beku bertumbuh, sedang dalam dunia ini banyak sekali
peperangan. Namun tak tahu mengapa ada sebuah
kejanggalan dalam hati, karena kebanyakan manusia akan selalu berdalih mengenai
hal itu, mengapa lalu akhirnya dijadikannya sebuah mimpi sebagai alat untuk ‘terlalu
melebihi kebutuhan dasar kehidupan’ yang sebenarnya tanpa disadari hal itu adalah hawa nafsu di lebih dalam pengakarannya. Andaikan, jika benar ada sebuah ketakutan yang selalu menumpuk
punggung pengaus dari belakang, apakah kau tahu sesungguhnya sesuatu itu dapat
diredam dengan salah satu ‘kesyukuran’. Sebuah yang sederhana tapi bermakna
amat besar, hanya jika seorang mengetahui. Maka akankah setiap manusia masih
mengatakan secara bergantian, mengatakannya bahwa ‘kita ini sedang sama-sama
lapar.’ Namun pada akhirnya sebenarnya ‘kita harus mengambil banyak kekuatan
untuk mengisi kantung-kantung makan’. Ketakutan besar seperti apakah, karena hal itu sehingga banyak yang merusak sampai bukit-bukit tempat berdiri, tak bisakah kita hidup tenang.
Jika dunia ini semua dalam
ketakutan-ketakutan berlebih lalu masing-masing membuatkan perlindungan tinggi dan tembok dari memburamnya besar namun didalam lubuknya yang bertujuan dimana agar tak mempersilahkan masuk saudara-saudaranya, semua dalam kesengsaraan. Bagaimanakah, dalam kehidupan seperti itu,
setiapnya menginginkan diri terlalu berlebih dengan banyak kekuasaan-kekuasaan seperti
seorang raja yang semena, akhirnya tinggal yang lemah tak punya kuasa, bak seorang budak. Seandainya kebanyakan orang-orang menjadi raja seangkat dari tempat mulianya mendekati keburukan mengangkuhan yang dengan meninggikannya dapat kekuatan besar menurut keyakinannya, bagaimana hidup kedamaian dalam kesemuanya itu sendiri. Akhirnya saling membunuh pada saudara sendiri yang tak disangka melukai kerap kali dirinya, mereka sudah tak dalam berakal karena didepannya hanyalah haluan menyingkirkan
semua demi untuk kekayaan atau kekuasaan agar menyelamatkan diri sendiri. Tak
tahu dampak yang dilakukannya, seperti halnya orang-orang banyak yang kelaparan disana, namun ada dari mereka bekerja
sudah bersyukur jika sudah untuk kebutuhan dasar kehidupan. Melalui tiap
harinya akan sangat berarti, mengalurkan setiap bagian laman pada gulungan buku-buku hasilnya. Bagaimanakah,
jika satu malaikat menanyakan pada seorang setiap satu sen milik sendirinya telah
dipergunakan untuk apa saja, sungguh tak masuk diakal bukankah, bilamana digunakan
untuk sebagai alas tidur tak hingga ladang gandumnya.
Tapi apa yang bisa dimengerti
oleh anak sepertiku, layang-layangku. Aku pula dikatakan hanya seorang kerdil yang jauh mengenai tahu. Akhirnya aku takut mengambil sebuah mimpi. Ditambahkan
dengan rasa sendu ketika memikirkan suatu hari menjadi tangan yang tak beku bertumbuh lagi. Kemudian, di hari
itu aku takut menjadi hati yang bukan diriku sebelumnya, semakin lama semakin
jauh dari Tuhan. Andai, aku bisa pulang, layang-layangku.”
Satu titik yang paling tinggi mengayunkan
dirinya hingga anak lelaki itu memiliki sebuah kesibukkan, menarik ulur
benangnya semakin menggulung dan akhirnya membuatkan kartu itu turun agak
merendah, kemudian tenang kembali dari atas bukit rerumputan. Sepertinya, ia
hendak mengatakan sesuatu pada tuan yang mengemudikannya,
“Tuan, sebaiknya kau tak
menjadikan awan sebagai sesosok pandai peramal ulung yang andainya seorang tahu, mereka sebenarnya tak
menjadikan dirinya demikian, karena sesungguhnya pula hanya salah satu dari
makhluk Tuhan yang mempunyai tanggungjawab sepertimu, di bukit-bukit tempat kau
berdiri. Mengapa kau ingin sekali melihat masa depan, jika masalahnya kau tak
terlalu percaya dengan diri sendiri mengenai apa-apa yang kau ambil, kau bisa melakukan
sebuah perhitungan dengan akalmu. Akan selalu ada tanda-tanda, dari Tuhan yang
mengarahkanmu untuk memilah hal mana saja yang sebaik-baik. Tak perlu seorang
menduga-duga masa depan, tapi memikirkan cara bagaimana suatu hari hasil
akhirnya. Bukankah, dari segala amal dilihat
yang terakhir. Dan tentu, untuk mengetahui hal itu seorang harus memilih
satu dari semua, dan kau tuanku, akan merasainya jika menginginkan menjadi sebaik-baiknya manusia.
Apakah seorang hanya mengira
Tuhan akan diam saja ketika melihat salah satu hamba berpikir keras. Tuhan
akan selalu bersama orang-orang baik, bukan. Jika, kau memang memiliki hati
yang tulus tuanku, kau akan mendapati jawabannya sendiri mengenai masa depanmu.
Seperti kau lihat, awan pun menyelesaikan tanggung jawabnya sedemikian rupa.
Bagaimana ia mengangkat air dari bukit-bukit tempat berdirimu itu, kemudian
ketika sudah amat banyak dituangkannya lagi secara perlahan, kemudian semakin
deras. Setiap celah dari bukit akan merembaskan airnya kedalam tanah, pada akhirnya menjadikan anak benih kerdil sebagai tanaman baru, pepohonan mulia kembali utuh
merekatkan serat benangnya dan bunggul kayu, dedaun membentukkan ada yang
bentuk tepak hati, reranting menjadi berduri, bebungaan mendapatkan kembali gaun
minyak sari. Maka sungguh, awan akan selalu memegang teguh tugas yang diberi padanya.
Sebaiknya kau tak takut suatu
hari nanti menjadi seorang yang sudah tak ‘tangan
beku bertumbuh’ lagi seperti dikatakan itu. Kau bisa membuatkan sebuah
tekad dalam hatimu, bukankah kau sendiri yang berkata ingin pulang. Sebagaimana
orang-orang yang hendak pulang kerumahnya maka mereka sudah selesai pada
tanggung jawabnya di luar, bukan. Seperti halnya para petani gandum, mereka
akan mengolah tanah itu dengan sabar kemudian berharap dari benih yang
dikumpulkan menjadi karung-karung gandum penuh, kemudian ketika hari itu datang
maka disuatu tengah petang akan kembali membawa gerobak-gerobak. Para anak-anak
akan sangat senang sekali melihat ayah mereka, gandum itu akan sebaik-baik
digunakan untuk makan malam, dan ada dibagi-bagikan untuk disedekahkan, ada kebutuhan lain maka diuangkan. Tak bisa dibayangkan jika segala uang sen yang dijadikan dari segala penjualan gandum bilakah hanya sebagai ‘alas
tidur tak hingga ladang gandumnya’. Kau tuanku, semakin hari ketika tumbuh akan
mengerti hal-hal yang bermanfaat.
Sebaiknya kau teruslah berdoa
pada Tuhan, agar diberi petunjuk mengenai apa-apa mimpimu. Semua sesungguhnya adalah para pendoa,
baik yang mencari surga ataupun rahasia, semuanya menginginkan kedamaian. Tapi
ada diantaranya bukan untuk kebaikan
melainkan ketamakan, meminta agar
langsung disegerakan lalu mengambil jalan pintas pada sebuah tidak pasti lurus,
karena hidup menduga-duga pada pemikiran tinggi hati sehingga disesatkan. Maka
tidaklah seorang mengagungkan kejeniusan menurut anggapan para hati, tapi keyakinan pada Tuhan. Kemudian, seandainya kau sudah berputus asa diatas bukit-bukit
berdirimu tuanku, hingga merasa tak bisa menemukan cara menuju hasil akhir yang
baik pada perhitungan-perhitungan dengan akalmu. ‘Ambillah satu jalan Tuhan’. Satu jalan itu akan mengantarkanmu ke
hasil akhir itu, sebuah tujuan hidup sesungguhnya, dengan catatan kau harus merendahkan hati. Mengapa kau harus
merendahkan hati, karena ‘seorang yang
merendahkan hati paling mendekati kebaikan.’”
---
---
Hari sudah
semakin petang, langit melukiskan jingga yang mempunyai arti lebih dalam
berbuku-buku. Satu hari diatas bukit rerumputan itu banyak meyuratkan banyak
hal, sungguh banyak hal. Masing-masing anak mungkinkah juga melepaskan segala
isi hatinya pada kertasnya untuk menyuratkan pada awan-kita tak tahu. Satu hal yang dapat dilihat jelas dari jauh adalah timbal balik dari awan yang sangat senang hati mengajak bercengkrama, sungguh berbaik hati memberi kapasan untuk layang. Adalah memang satu yang dermawan mempersilahkan segala untuk menyangga pada anakannya. Seperti seripit
terbang arah burung-burung dari tenggeran pohon semulanya, mereka sudah
menunggu dari tadi agar mengepakkan sayap setelah anak-anak selesai
bermain. Bagi mereka itu adalah kartu-kartu aneh yang mempunyai gambar tak
semudah itu diterjemahkan. Mempunyai sejenis cerita klise yang mempunyai peran
masing-masing untuk dimuatkan pada dalamnya. Ataukah seperti lambang-lambang
dari prinsip hidup mereka, melayangkan ke atas langit lalu mengambang asa-asa
dikejauhan. Entah mengapa, hati terasa tenang melihat pergi keatas itu, awan mereka
hanya bergerak-gerak tentu saja, mungkin tak ada yang menarik jika seorang lain
yang lalu lalang. Tapi ada sebuah hati yang tertegun melihat langit putihnya,
ia akan selalu memberi satu setidaknya dari banyaknya jawaban. Bukit rerumputan
ini, memiliki banyak teman-temannya. Anak-anak itu memang akan segera menarik
benang yang panjang mereka lalu mendaratakan kartu layangnya, menggulungi
teratur hingga kaleng-kaleng bekas itu akan penuh dengan pintalan benang lagi.
Tas-tas ada yang sudah dibawa pulang mereka sembari dikaitkan punggung
talinya pada kartu layang itu, membuat anak-anak itu sudah seperti berperisai.
Satu anak tadi juga sudah menggulung benangnya dan menaruh kedalam tas lusuhnya,
ia akan kembali ke tempat semula, sebuah pohon tempat ia menyandarkan sepeda keranjangnya,
didalam masih penuh dengan koran-koran yang hendak dijual. Satu dari mereka
akan disimpannya, untuk layang-layang esok harinya.
seravi


Komentar
Posting Komentar