Kite Tomorrow

www.pinterest.com




Punuk-punuk bukit ini sudah dipenuhi oleh puluhan anak lelaki, tiapnya membawa seperti kartu-kartu lupis yang sedang diayunkan diatas langit. Ada yang sedang bercengkrama dengan sekawanannya sembari tertawa bergelak hingga kartunya berputar tak teratur, ada yang berdetak-detak jantung  beberapa anak diam yang terlalu berpusat pada miliknya maka kartunya pun ikut berpikir serius seperti tuannya, namun ada pula yang sedang melamun saja pada kartunya dengan berkata-kata pada kembaran dirinya sendiri yakni,  “Akankah kita menaklukkan satu lapis awan, bagaimana jika berlapis-lapis dari parade kembang gula putih itu?”, katanya. Sebuah benang tegak landai dikatakan anak itu sebagai salah satu pilarnya, sebenarnya ia sudah tahu bahwa angin akan menjadi kawan-kawannya hari ini. Itu sebabnya ia akan mempercayakan kartunya diatas pada angin demikan saja, agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dalam pikirannya. Bukankah angin diwaktu ini sungguh memiliki kuasa hingga seperti membuatkan satu negeri angin yang tak terkalahkan, mengatakannya memiliki keyakinan penuh untuk mengangkat segala sesuatu diatas bukit rerumputan. Tentu saja khusus untuk pohon-pohon juga agak diketirnya sedikit agar dedaunan juga reranting menjatuhkan musim gugur buatan yang begitu indah, lalu untuk bebungaan liar didekatnya yang menjuntai akan disapu lembut seperti lukisan abstrak yang menari. “Bunga-bunga liar memang merupakan pemandangan yang tak terlupakan di waktu-waktu angin sedang.”, kata mereka. Ada sekumpulan kepala-kepala merah muda yang kecil menggunduki, arakan bentuk matahari putih juga keunguan sejenis bunga yang sama menyelipkan ke penabur tuan-tuan pemilik hijau. Akankah serbuk-serbuk diberi kesempatan untuk anakan mereka berterbangan di tempat-tempat yang sungguh jauh, karena itu akan sangat mengagumkannya. Dikesemuanya ini sungguh banyak tanah rerumputan basah, mereka dapat merembahkan serbuk dan membungakannya ditempat penyimpanan yang tak pernah dibayangkan. Maka para induk akan selalu bergumam pada angin agar mendatangi anakan.

Anak-anak lelaki dibukit ini sama halnya mengharapkan hal seperti demikian, sembari bergembira membuyarkan leluasan langit. Ternyata langit menunjukkan pertemanannya pada manusia, bagaimanakah, perumpamaan warna dan bentuk yang diberikan membawakan secercah kebahagiaan, maka dengan senang hati mempersilahkan untuk meletakkan pada penyangga-penyangga awan. Para awan putih akan merekahkan rambut-rambutnya disekeliling kartu setiap anak, kemudian mengatakan pada pembantunya untuk mengajak berbincang pada setiap kartu itu yang melayang-layang. Anak-anak tentu akan sangat senang, karena juga sebenarnya dalam para hati kecil ini memiliki sekelabat pertanyaan-yang apakah buruk karena ditakutkan secara tak langsung menggerakkan kepala atas dimana sudah lelah selalu bekerja paruh waktu. Terutama mengenai mimpi masa mendatang, maka bermaksud akankah bisa menilik sedikit dibalik persembunyian wujud putih itu, seandainya mereka  memang salah satu pandai peramal yang benar-benar tahu. Olehnya akan terus memanjangkan benang kearah atas sana, sembari menarik-ulur sedikit agar dapat mengendalikan kartu tetap memainkan gerakan arah angin, hingganya dapat melayang dengan keadaan yang cukup tenang. Kemudian jika angin ini sangat baik untuk membuat kartu itu menilik bertambah tinggi, akan digerai lagi benang-benang menggulung pada kaleng yang disiapkan sebelum datang ke tempat ini. Gulungan itu begitu penat, tapi sungguh teratur hingganya tak terbelit simpul-simpul kusut.  Anak-anak yang berjajar disana akan selalu memperhatikan atribut mereka sebelum mengudarakan kartu layangnya. Walau ada saja yang kesalahan nantinya hingga mengakibatkan putus, mempersiapkan hal-hal dasar adalah yang utama jika ingin lekang diantara awan. Kaleng-kaleng sebenarnya yang paling mudah digunakan untuk menggulung, dari kejauhan atas bukit itu memendar lapisan peraknya karena cahaya, ramai berserakan diatas rumput, ada yang ditegakkan pada sandaran kayu galah sedang yang sudah dipaku, ada yang hanya dipegang sendiri di tangan tuannya. Seorang anak akan membawakan beberapa kaleng didalam tasnya, ada tujuan tertentu sepertinya, mungkinkah ia ingin pergi lagi ke langit atas.

Seorang anak itu hanya ingin membuat bagaimana andaikata miliknya yang diatas bisa mengatakan sesuatu pula, bukankah sudah diizinkan untuk berbicara, tapi ia sungguh tahu bahwasanya benang pintalannya pada jumlah-jumlah yang terbatas. Maka dibenaknya selalu ingin membuktikan banyak hal dalam kesempatan yang seperti demikian, sungguh banyak hal pada dirinya agar selalu merenungi apa yang dalam kesalahan anggapannya.

“Layang-layangku, apa yang kau bicarakan pada awan mereka. Tak bisakah memberitahukan padaku. Aku tak memiliki kemampuan untuk menilik masa mendatang dari bawah sini. Aku memiliki sebuah ketakutan dalam mengambil sebuah mimpi. Sebagian manusia bukankah memilih yang menakjubkan, kemudian pada hari ini, dikatakannya terpaut sudah ada kebaikan, namun kebaikan anggapan mereka tak tentu kebaikan anggapan Tuhan. Perumpamaan pada langit-langit putih akan terus diumumkan, layang-layangku. Perumpamaan pada langit-langit putih akan terus diatasnamakan, layang-layangku.

Layang-layangku, haruskah menindaklanjuti ruang waktu yang tak pernah sampai. Satu dari mereka saja belum kuselesaikan tanggung jawab dikesemua sekat dindingnya, belum lagi bayangan dari anakan cermin perumpamaan yang dikemudian hari akan mendatangi kepalanya. Andaikan, seorang tahu bahwasanya dalam genggaman tangan sudah sungguh bersyukur, tapi seorang akan mengatakan dirinya hendak tamak mengambil ranah kehidupan yang lain. Apakah satu kuasa tak cukup memuaskan para hati, sebenarnya sebesar apakah, hingganya ingin mengambil segala sesuatu di dunia ini.

Layang-layangku, apa yang kau bicarakan pada awan mereka. Tak bisakah memberitahukan padaku. Aku hanya ingin mengatakan agar perumpamaan untuk bertahan hidup, membuat atap pelindung dari Tuhan. Aku hanya ingin mengatakan agar perumpamaan untuk berarti hidup, membuat cahaya pendaran dari Tuhan. Apakah aku sedang dalam ketakutan yang melebihi , sedang manusia dalam jati dirinya ditakutkan melebihi dalam ketakutan itu sendiri. Seandainya  sebaik-baiknya manusia layang-layangku, sebenarnya aku hanya ingin berpulang hidup selamanya dengan Tuhan.”

Anak itu terus berkata-kata dalam pengandaiannya, pada kertas yang masih tenang melayang. Satu yang paling terlihat seperti titik dari bukit rerumputan,

“Melihat sendu keatas seperti ini, berharap kau yang sedang kutuju menjawab pertanyaan dari-ah katakanlah hanya seonggok bongkah kepala kecil. Sebagian orang dewasa bukankah akan selalu berkata seperti itu, menganggap sebagai seorang kerdil yang tak tahu apa-apa. Kemudian, bagaimanakah tangan jika masih beku bertumbuh, sedang dalam dunia ini banyak sekali peperangan. Namun tak tahu mengapa ada sebuah kejanggalan dalam hati, karena kebanyakan manusia akan selalu berdalih mengenai hal itu, mengapa lalu akhirnya dijadikannya sebuah mimpi sebagai alat untuk ‘terlalu melebihi kebutuhan dasar kehidupan’ yang sebenarnya tanpa disadari hal itu  adalah hawa nafsu di lebih dalam pengakarannya. Andaikan, jika benar ada sebuah ketakutan yang selalu menumpuk punggung pengaus dari belakang, apakah kau tahu sesungguhnya sesuatu itu dapat diredam dengan salah satu ‘kesyukuran’. Sebuah yang sederhana tapi bermakna amat besar, hanya jika seorang mengetahui. Maka akankah setiap manusia masih mengatakan secara bergantian, mengatakannya bahwa ‘kita ini sedang sama-sama lapar.’ Namun pada akhirnya sebenarnya ‘kita harus mengambil banyak kekuatan untuk mengisi kantung-kantung makan’. Ketakutan besar seperti apakah, karena hal itu sehingga banyak yang merusak sampai bukit-bukit tempat berdiri, tak bisakah kita hidup tenang.

Jika dunia ini semua dalam ketakutan-ketakutan berlebih lalu masing-masing membuatkan perlindungan tinggi dan tembok dari memburamnya besar namun didalam lubuknya yang bertujuan dimana agar  tak mempersilahkan masuk saudara-saudaranya, semua dalam kesengsaraan. Bagaimanakah, dalam kehidupan seperti itu, setiapnya menginginkan diri terlalu berlebih dengan banyak kekuasaan-kekuasaan seperti seorang raja yang semena, akhirnya tinggal yang lemah tak punya kuasa, bak seorang budak. Seandainya kebanyakan orang-orang menjadi raja seangkat dari tempat mulianya mendekati keburukan mengangkuhan yang dengan meninggikannya dapat kekuatan besar menurut keyakinannya, bagaimana hidup kedamaian dalam kesemuanya itu sendiri. Akhirnya saling membunuh pada saudara sendiri yang tak disangka melukai kerap kali dirinya, mereka sudah tak dalam berakal karena didepannya hanyalah haluan menyingkirkan semua demi untuk kekayaan atau kekuasaan agar menyelamatkan diri sendiri. Tak tahu dampak yang dilakukannya, seperti halnya orang-orang banyak yang kelaparan disana, namun ada dari mereka bekerja sudah bersyukur jika sudah untuk kebutuhan dasar kehidupan. Melalui tiap harinya akan sangat berarti, mengalurkan setiap bagian laman pada gulungan buku-buku hasilnya. Bagaimanakah, jika satu malaikat menanyakan pada seorang setiap satu sen milik sendirinya telah dipergunakan untuk apa saja, sungguh tak masuk diakal bukankah, bilamana digunakan untuk sebagai alas tidur tak hingga ladang gandumnya.

Tapi apa yang bisa dimengerti oleh anak sepertiku, layang-layangku. Aku pula dikatakan hanya seorang kerdil yang jauh mengenai tahu. Akhirnya aku takut mengambil sebuah mimpi. Ditambahkan dengan rasa sendu ketika memikirkan suatu hari menjadi tangan yang tak beku bertumbuh lagi. Kemudian, di hari itu aku takut menjadi hati yang bukan diriku sebelumnya, semakin lama semakin jauh dari Tuhan. Andai, aku bisa pulang, layang-layangku.”

Satu titik yang paling tinggi mengayunkan dirinya hingga anak lelaki itu memiliki sebuah kesibukkan, menarik ulur benangnya semakin menggulung dan akhirnya membuatkan kartu itu turun agak merendah, kemudian tenang kembali dari atas bukit rerumputan. Sepertinya, ia hendak mengatakan sesuatu pada tuan yang mengemudikannya,

“Tuan, sebaiknya kau tak menjadikan awan sebagai sesosok pandai peramal ulung yang andainya seorang tahu, mereka sebenarnya tak menjadikan dirinya demikian, karena sesungguhnya pula hanya salah satu dari makhluk Tuhan yang mempunyai tanggungjawab sepertimu, di bukit-bukit tempat kau berdiri. Mengapa kau ingin sekali melihat masa depan, jika masalahnya kau tak terlalu percaya dengan diri sendiri mengenai  apa-apa yang kau ambil, kau bisa melakukan sebuah perhitungan dengan akalmu. Akan selalu ada tanda-tanda, dari Tuhan yang mengarahkanmu untuk memilah hal mana saja yang sebaik-baik. Tak perlu seorang menduga-duga masa depan, tapi memikirkan cara bagaimana suatu hari hasil akhirnya. Bukankah, dari segala amal dilihat yang terakhir. Dan tentu, untuk mengetahui hal itu seorang harus memilih satu dari semua, dan kau tuanku, akan merasainya jika menginginkan menjadi sebaik-baiknya manusia.

Apakah seorang hanya mengira Tuhan akan diam saja ketika melihat salah satu hamba berpikir keras. Tuhan akan selalu bersama orang-orang baik, bukan. Jika, kau memang memiliki hati yang tulus tuanku, kau akan mendapati jawabannya sendiri mengenai masa depanmu. Seperti kau lihat, awan pun menyelesaikan tanggung jawabnya sedemikian rupa. Bagaimana ia mengangkat air dari bukit-bukit tempat berdirimu itu, kemudian ketika sudah amat banyak dituangkannya lagi secara perlahan, kemudian semakin deras. Setiap celah dari bukit akan merembaskan airnya kedalam tanah, pada akhirnya menjadikan anak benih kerdil sebagai tanaman baru, pepohonan mulia kembali utuh merekatkan serat benangnya dan bunggul kayu, dedaun membentukkan ada yang bentuk tepak hati, reranting menjadi berduri, bebungaan mendapatkan kembali gaun minyak sari. Maka sungguh, awan akan selalu memegang teguh tugas yang diberi padanya.

Sebaiknya kau tak takut suatu hari nanti menjadi seorang yang sudah tak ‘tangan beku bertumbuh’ lagi seperti dikatakan itu. Kau bisa membuatkan sebuah tekad dalam hatimu, bukankah kau sendiri yang berkata ingin pulang. Sebagaimana orang-orang yang hendak pulang kerumahnya maka mereka sudah selesai pada tanggung jawabnya di luar, bukan. Seperti halnya para petani gandum, mereka akan mengolah tanah itu dengan sabar kemudian berharap dari benih yang dikumpulkan menjadi karung-karung gandum penuh, kemudian ketika hari itu datang maka disuatu tengah petang akan kembali membawa gerobak-gerobak. Para anak-anak akan sangat senang sekali melihat ayah mereka, gandum itu akan sebaik-baik digunakan untuk makan malam, dan ada dibagi-bagikan untuk disedekahkan, ada kebutuhan lain maka diuangkan. Tak bisa dibayangkan jika segala uang sen yang dijadikan dari segala penjualan gandum bilakah hanya sebagai ‘alas tidur tak hingga ladang gandumnya’. Kau tuanku, semakin hari ketika tumbuh akan mengerti hal-hal yang bermanfaat.

Sebaiknya kau teruslah berdoa pada Tuhan, agar diberi petunjuk mengenai apa-apa mimpimu. Semua sesungguhnya adalah para pendoa, baik yang mencari surga ataupun rahasia, semuanya menginginkan kedamaian. Tapi ada diantaranya bukan untuk kebaikan melainkan ketamakan, meminta agar langsung disegerakan lalu mengambil jalan pintas pada sebuah tidak pasti lurus, karena hidup menduga-duga pada pemikiran tinggi hati sehingga disesatkan. Maka tidaklah seorang mengagungkan kejeniusan menurut anggapan para hati, tapi keyakinan pada Tuhan. Kemudian, seandainya kau sudah berputus asa diatas bukit-bukit berdirimu tuanku, hingga merasa tak bisa menemukan cara menuju hasil akhir yang baik pada perhitungan-perhitungan dengan akalmu. ‘Ambillah satu jalan Tuhan’. Satu jalan itu akan mengantarkanmu ke hasil akhir itu, sebuah tujuan hidup sesungguhnya, dengan catatan kau harus merendahkan hati. Mengapa kau harus merendahkan hati, karena ‘seorang yang merendahkan hati paling mendekati kebaikan.’”

---                                 
                                                           
Hari sudah semakin petang, langit melukiskan jingga yang mempunyai arti lebih dalam berbuku-buku. Satu hari diatas bukit rerumputan itu banyak meyuratkan banyak hal, sungguh banyak hal. Masing-masing anak mungkinkah juga melepaskan segala isi hatinya pada kertasnya untuk menyuratkan pada awan-kita tak tahu. Satu hal yang dapat dilihat jelas dari jauh adalah timbal balik dari awan yang sangat senang hati mengajak bercengkrama, sungguh berbaik hati memberi kapasan untuk layang. Adalah memang satu yang dermawan mempersilahkan segala untuk menyangga pada anakannya. Seperti seripit terbang arah burung-burung dari tenggeran pohon semulanya, mereka sudah menunggu dari tadi agar mengepakkan sayap setelah anak-anak selesai bermain. Bagi mereka itu adalah kartu-kartu aneh yang mempunyai gambar tak semudah itu diterjemahkan. Mempunyai sejenis cerita klise yang mempunyai peran masing-masing untuk dimuatkan pada dalamnya. Ataukah seperti lambang-lambang dari prinsip hidup mereka, melayangkan ke atas langit lalu mengambang asa-asa dikejauhan. Entah mengapa, hati terasa tenang melihat pergi keatas itu, awan mereka hanya bergerak-gerak tentu saja, mungkin tak ada yang menarik jika seorang lain yang lalu lalang. Tapi ada sebuah hati yang tertegun melihat langit putihnya, ia akan selalu memberi satu setidaknya dari banyaknya jawaban. Bukit rerumputan ini, memiliki banyak teman-temannya. Anak-anak itu memang akan segera menarik benang yang panjang mereka lalu mendaratakan kartu layangnya, menggulungi teratur hingga kaleng-kaleng bekas itu akan penuh dengan pintalan benang lagi. Tas-tas ada yang sudah dibawa pulang mereka sembari dikaitkan punggung talinya pada kartu layang itu, membuat anak-anak itu sudah seperti berperisai. Satu anak tadi juga sudah menggulung benangnya dan menaruh kedalam tas lusuhnya, ia akan kembali ke tempat semula, sebuah pohon tempat ia menyandarkan sepeda keranjangnya, didalam masih penuh dengan koran-koran yang hendak dijual. Satu dari mereka akan disimpannya, untuk layang-layang esok harinya.


seravi

Komentar

Postingan Populer