Socotra

www.pinterest.com



Baju seorang anak sudah mengerak dari rembahan darahnya, malang sekali ia karena tak bisa berkata-kata pada tuan yang mengenakannya. Andaikan dunia ini telah meruntuh singgasananya, ‘kan diberikannya sesatin yang amat bersih dari pintalan tangan malaikat. Serat sutera yang direkat bahan wewangian suling bunga surga dipilin dari keranjangnya, lalu menenun dengan susunan benang tegak sejajar digerainya penat hingga menghasilkan kilauan. Tapi sebelum itu masih banyak menunggu, karena  ia berperan sebagai salah satu patung duduk batu kapur campuran merah tak teratur yang menjadi hiasan kiri kanan dikala para manusia itu sedang berjalan dengan iring-iringan kekuasaan angkara mereka. Segala didalam bak mengarahkan pedang yang apakah itu para pengkhianat Tuhan dengan dendam peradaban tua atau para pasak kunci gudang harta. Perang belum pernai usai, sebut saja sebuah percaturan dikaitkan pembesar negrinya yang tiapnya menautkan tembokan perbatasan atau bentengan perlindungan sedang pelontar membumihanguskan hingga tanah rapun. Tapi yang dihasilkan semuanya adalah hanya riak-riak bumbungan kepul asap yang mengurun, setiap hari senjanya hanyalah suara kilah pemakan bangkai mengitari atas kepala, yakni pembicara ulung yang mengatakan bahwasanya itu bukan menggiling daging saudara sendiri melainkan demi sebuah tatanan kukuh, tanah suci atau paham agung. Saat itu juga mengumumkan pada dunia agar dengan ini jangan sampai melewatkan kesempatan satu-satunya, yakni seperti inilah sebuah kekuatan kekal demi papar sejarah bagi generasi sesudah perang ini dikemudian.

Seorang anak disana tadi hanya mendengarkan, baginya itu bahasa aneh dengan berpalit-palit yang tak biasa selama hidupnya. Dalam hati lalu bertanya, “Tuan mengangkat alis pada raut itu tapi layaknya mengapa seringai masih tertinggal sedikit diujungnya.” Kemudian anak itu kembali diam, ia adalah salah satu anak korban perang dari ribuan anak lainnya. Sebenarnya anak-anak tersebut melihat jelas permainan orang-orang dewasa disitu, karena yang demikian mengganggapnya hanya seorang dungu yang tak mengerti apa-apa, bukanlah sebuah ancaman. Namun diluar dugaan, segala perihal dibalik layar akan dilihat oleh anak-anak itu, karena mereka juga berada didalam tempat penyelamatan pengungsian ini. “Ah aku sangat lapar, andai mereka sudah selesai bicara.”,kata seorang anak bermata sayu yang sedang menunggu tadi. Sebenarnya ia ingin pulang, tapi kini hanya tinggal mimpinya saja. Tempat tinggalnya sudah menjadi puing-puing reruntuhan, debu dari haluan jejek-jejak disana.

Tak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini, ia hanya berdoa, juga untuk seorang ditanah perbatasan sana. Sebenarnya amat mengaguminya, seorang kakak baik hati yang pernah memberikannya roti ketika ia terperangkap direruntuhan gedung dan tak bisa keluar karena masih banyak terjadi huru-hara dikota. Ia tahu, padahal orang itu juga kesulitan, terlihat dari aus bibirnya, tapi tetap memberikan sekeratnya. Bersama pemuda itu rasanya diapit oleh sebuah sayap-sayap besar, ia lalu menengadahkan kepalanya ke orang yang lebih tinggi berapa kaki darinya itu, melihatnya dengan seksama. Alangkah kuat imannya, sebagai salah satu pemegang kitab Tuhan disana. Alangkah tidak terbendung rasa, melihat teman seperjuangan mati di depan mata, tapi masih meneriakkan namaNya. Sebagian dari bumi Tuhan ini secara tidak langsung mengincar orang itu dan kawan-kawannya. Sekumpulan para pelahap dari penjuru dunia, bersiap atur barisan untuk menghancurkan barisan mereka. Dimanakah ada tempat istirahat yang tenang,  bahkan yang disana pun menilik gua pertahanan mereka. Terkurung dari dunia luar apakah persediaan perbekalan cukup, berbeda pada yang terus diasupi kebutuhannya oleh kekuasaan lain. Benarkah ada perdamaian, ingin mempercayai hal tersebut yang dilayangkan beberapa waktu lalu, tapi ternyata adalah digunakan untuk hancurkan anak-anak mereka, berniat memusnahkan benih sampai ke akar-akarnya. Tangis menderu akankah menggoyahkan iman, tapi kau akan melihatnya, hal-hal yang diluar dugaan. Tanah mereka mungkin hanya berapa ruas-ruas, tapi orang-orang itu sungguh kepayahan mendapatkannya. Kian ketakutan, karena ada banyak bermunculan dari bawah tanah. Karena takut itu sebagian melukai diri agar tidak ikut berjuang. 

Anak itu masih membatin. Sebenarnya karena banyak yang akan ia bicarakan pada Tuhan mengenai hal ini. Benar, janganlah berlaku tinggi hati kepada Tuhan seakan semua ujian dapat terselesai dengan sendirinya. Pertikaian disana adalah ujian semua, diperlihatkan oleh Tuhan mengenai sebuah kisah kepada umat manusia tentang kebenaran kitabNya, bahwasanya akan ada segolongan umat yang tegak memperjuangkan kebenaran dan tak akan terpengaruh dengan yang memusuhi mereka. Walaupun hidup disana serasa tidak tahu lagi matahari sudah sepenggalah naik, masih bisa bertahan. Tapi mungkin kau salah satu yang tidak disuruh Tuhan untuk hidup disana, karena ada sebagian yang bagaimana lengan masih terlalu beku bertumbuh yang hanya Tuhan tahu. Untuk itu dapatkah, pada yang menggurat-gurati tangan, merendahkan diri, berbicaralah padaNya. Dan Tuhan akan mendengar. Doa satu hamba taat, doa dua hamba taat, dan seterusnya, kemudian menjadi doa satu umat. Kemudian doa satu umat, doa dua umat, dan seterusnya. Akhirnya doa umat taat pada Tuhan satu bumi ini, sungguhlah akan diberi kekuatan pada hal demikian. Karena sesungguhnya kekuatan tertinggi adalah doa.


‘Lemparan batuan hitam takkan bisa menghancurkan. Tuhan menjaga dari keagungan arsyinya.
Janganlah sekalil menganggap mereka lemah. Bilakah kau bertanya, "Akan ada hanya satu Tuhan", jawab mereka. Sekumpulan disana cukup senang dengan merubuhkan kastilnya, tapi tidak mampu menundukkan kaumnya. Bak singa padang pasir yang kehabisan akal dalam strategi perang.
Telaahlah apa yang menyebabkan mereka begitu kuat. Adalah teguhnya agama langit dihati mereka.’

Sungguhlah bertanya, apakah belum sampai berita tentang kebenaran itu kepada orang-orang yang tak akan percaya. Karena walau sekumpulan pelahap disana sedang bersikeras sebagaimanapun juga sebenarnya yang dikatakan golongan yang mendapat kemenangan adalah mereka, dan janji mengenai kemenangan itu sudah ditulis Tuhan dalam kitabNya. Cahaya Tuhan membuatnya berpegang teguh sampai sekarang, dan benar mereka mendapat jawaban janji itu, lalu sebuah ketenangan hati, hingga kau tak 'kan pernah takut mati ketika ada disana, sebaliknya sekumpulan pelahap akan lemah karena mereka takut pada yang bernama 'kematian' itu. Maka andaikata mendengar atau tidak berpura menyumbat telinga, tentulah akan mengerti mengenai tanda-tanda ini. Seperti seluruh umat yang berteguh pada jalan benar itu telah bersyukur atas kemenangan yang dikatakan, sungguh bersembah ketika mengetahuinya lalu lebih membersihkan hati. Namun sebelum itu kembalilah merenung bahwasanya apa yang dikatakan Tuhan mengenai sekelompok orang-orang munafik diantara mereka yang justru akan mendatangkan kesengsaraan. Dan itu juga menjadi nilai uji ketika menghadapi sekumpulan itu, maka sebaiknya agar lebih berhati-hati dan bersiap menanggung atas segala sesuatunya dikemudian hari. Siapakah disana sebenarnya yang dikatakan tadi, yakni kaum yang dilebihkan Tuhan atas segala umat. Baik kepintaran atau kekuasaan atau lainnya, dimana hal itu sebenarnya menjadi ujian tersendiri apakah dengan kelebihan itu menjadikan mata sadar terbuka atau justru berbalik pada keangkuhan nan durhaka. Dan tentu, Tuhan mengetahui segala atas sekumpulan itu, apa yang dikatakan hatinya lalu yang akan dilakukan setelahnya, pun para pembicara ulung yang membuatkan tulisan mengenai kebenaran yang diputarbalikkannya. Dan pada saatnya ketika sekumpulan itu kembali pada tanah tersebut, orang-orang pengikut Tuhan selalu ada, seterusnya pada generasi-generasi  berikutnya,  hingga nanti di hari yang terakhir. Dan ini akan diperlihatkan bagi kaum beriman atau bagi kaum itu, yakni sesungguhnya tak akan terjadi hari akhir itu sehingga kau melihat sebelumnya tanda-tanda besar yang diwujudkan sama seperti halnya terjadi berkebalikan pula yakni seperti ‘terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya.’

Seorang anak yang duduk tadi masih saja membatin, ia masih ingat ketika seorang kakak tadi memberikannya banyak gambaran. “Bagaimakah teman kecilku, jika kau berada dalam keadaan yang membingungkan seperti terjebak pada pemikiran saudara-saudaramu sendiri. Bagaimana caramu memilih siapa yang akan kau ikuti jalannya, ketika hati dan pikiranmu sedang bertumpu pada keputusasaan menghadapi suatu hal yang begitu berat. Bagaimana caramu menentukan pemikiran yang mengarah pada setia atau berbalik menghianati Tuhan, karena ayal menjadi lupa jati diri dan tujuan hidup terpengaruh oleh banyak hal disana. Kemudian, ketika kau mendapat timbal keburukan dari sebuah batil yang dipilih diantara itu, mungkin seorang akan menjadi ketakutan dan akhirnya tega memakan daging saudara-saudaranya. Maka kau tahu, sungguh seorang itu dalam kesalahan, karena takdir sudah ditentukan oleh dirinya sendiri dimana yang harus ia terima segala timbalnya dan tidak merusakkan yang lain. Seharusnya yang dijadikan jalan adalah yang paling benar yakni melihat dari tanda-tanda kuasa Tuhan, walaupun itu pengartian berat dalam anggapan saudara-saudaramu, walaupun itu pengartian hidup yang sengsara dalam anggapan saudara-saudaramu. Ada suatu ketika akan ditunjukkan, yakni akan ada orang-orang yang rela disakiti demi Tuhan, itulah layaknya salah satu dari cara untuk mengetahui sebuah cahaya, dan pada saatnya kau akan lebih memilih lebih baik hidup demikian daripadanya, karena orang-orang demikian lebih setia kepada Tuhan, sedangkan lainnya tadi adalah yang lebih memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri.  Tapi ingatlah, kau tak bisa membenci mereka. Benar, sebenarnya kita tak bisa membenci sesama manusia, baik itu yang kau ketahui keburukannya atau justru mengajak dalam kebatilan, karena sebenarnya yang diperangi bukanlah jiwa-jiwa tapi pemikiran-pemikiran yang salah, kecuali ketika mereka sudah berniat menyerangmu dengan sebilah pedang maka kau berhak untuk melindungi diri.”

Anak itu menelan air ludahnya, tapi tak tahu mengapa masih ada yang tercekat disana. Sekerat roti yang dipegangnya sudah tersisa sepotong terakhir, debu dan pasir yang menempeli tak dihiraukannya karena kekurangan tenaga seperti ini membuatnya tak berpikir banyak. Tapi untuk yang terakhir ini ia belum melumatnya, telinganya masih mendengarkan baik seorang itu yang melanjutkan kembali perkataannya, “Bagaimanakah, jika dalam diri kita sangat menginginkan keadilan-keadilan, tentulah ada sosok naluri yang berhujah menginginkan hak-haknya dikembalikan. Seperti halnya ada yang mencuri karya agungnya, rasanya sungguhlah terjatuh karena baginya hak atas karya itu adalah hak-hak yang penting dalam membangun kehidupannya, segalanya, karena disanalah ia meletakkan semua hidupnya yakni syair-syair pada bukunya, atau nut-nut berdirinya. Maka jika demikian seorang itu sebaiknya tak menggantungkan harapan kepada sesuatu yang tidak kekal, kau tak akan pernah mendapatkan keadilan-keadilan dari manusia. Hukum-hukum yang dibuat disana karena juga meletakkan beberapa syarat tertentu, tergantung dari kebutuhan-kebutuhan tertentu, akibatnya yang terjadi sebagian ada yang diambil adalah keuntungan golongan-golongan tertentu pula. Manusia kerap kali lupa dengan hal-hal dasar, dimana itu adalah yang paling menjelaskan mengenai kebjiaksanaan yang sebenar-benarnya. Maka ketika kau menginginkan keadilan di dunia saja, dalam kesulitan. Seorang baiknya menggantungkan harapannya kepada Tuhan, karena Ia lebih tahu keadilan yang sebenarnya. Baik bertemu pada kehidupan kini maupun suatu hari bertemu dikehidupan lain.”

“Bagaimanakah, jika ada sosok naluri yang berseru untuk meninggalkan makhluk-makhluk yang  ada didunia ini, karena sudah terlalu membenci mereka lantaran kesakitan yang tak terpungkiri. Menurut anggapannya ia tak bisa melanjutkan kehidupan atau memilih jalan lagi atau berkesempatan memperbaiki diri karena manusia-manusia itu. Seorang disana mungkin sudah terjerumus ke jurang yang amat dalam sehingga ia menjadi gelap mata dan mendendam pada waktu yang dalam anggapan berkesempitan di belakang semuanya. Maka seorang itu sebaiknya tidak berlaku demikian, karena segala hal dalam kehidupan ini akan dikaitkan pada mereka. Apapun itu, karena tak hanya ditanya tanggung jawabmu dalam peribadahan pada Tuhan tapi akan ditanyakan juga bagaimana tanggung jawabmu pada manusia. Apakah kau menjaga baik-baik mereka, apakah kau gunakan yang diberikan padamu untuk menolong mereka, karena sebenarnya ilmu atau harta benda yang ada padamu pula untuk berbuat baik pada sesama dan makhluk Tuhan yang lainnya. Kau tak bisa hidup sendirian, atau berniat untuk membuang mereka dalam kehidupanmu. Suatu hari, kau akan melihat di hari terakhir nanti ada segolongan yang datang dengan wajah berseri-seri karena digandrungi banyak cahaya disekelilingnya, yakni segala hal yang pernah ia perlakukan baik kepada mereka. Biarpun, didunia ini ia dikucilkan, tak disangka pada hari itu ia  memiliki banyak teman dan akan diselamatkan oleh amal baiknya itu.”

“Bagaimanakah, jika dalam kehidupan ini, seorang berkeinginan kuat untuk menyerukan agama Tuhan, tapi tak mampu. Ia sudah tak memiliki cukup kuasa,  tangan atau kakinya seraya lumpuh, layaknya tak berbenah benang-benang yang ada pada jiwa-jiwa. Geraknya dibekam oleh  yang begitu kuat atau dipasung dengan kerangkang besi pula pada tengkuknya ditindih batuan besar yang sangat keras lalu dipukullah kepala juga tubuhnya, perantai batu sengkang kaki dan tangan. Ada yang tersumbat dengan racun-racun dari yang sengaja dibuat, menggelutukkan tulang-tulang hingga mengalir ke syaraf-syaraf lalu akan mati beku perlahan-lahan. Ada banyak sihir pengandaian yang membuatkan sekurungan ilusi hingganya ia bahkan tak bisa mereta-reta dalam gelap mencari satu-satu lilin gantungnya untuk mengambil haluan, ternyata ia sudah menjadi salah satu bingkai sejajar dengan ribuan bingkai lainnya. Bicara dibuat seraya lantur dengan segala berbagai penyakit yang diletakkan makhluk-makhluk penggeriak kedalam dirinya, membuatnya ia didalam benda itu hanya bisa mendekap dalam diam.”

Pemuda itu diam sejenak, kemudian melanjutkan lagi, tangannya pergi kearah sana memperlihatkan sesuatu, “Seperti pohon socotra disana, ia hanya mengeluarkan cairan getah merahnya yang terlihat seperti darah mengerak, tapi itu akan sangat berguna dijadikan pernis pada lapisan kayu yang bermanfaat. Ada hal-hal yang tak akan pernah kau sangka terjadi di dunia ini, seperti ketika kau melihat sebuah wujud khianat pada Tuhan dengan agama langit dinistakan, akhirnya rentang ketidakadilan sayap kuasa lalu penderitaan. Dan jika memang hidup didalam sana, janganlah kau hanya berpura tak melihat ketika Tuhanmu dihina. Kemudian pada dirimu yang tak memiliki cukup kuasa, setidaknya ada hatimu yang menolak segala hal keji hingga mengeluarkan sesuatu, apapun itu, seperti kau menuliskan sebuah yang bermanfaat kelak, seperti seandainya kau menjadi sebuah pohon disana dengan darahmu. Tapi suatu hari ketika dalam keadaan yang tak bisa lagi, dan membuatmu tak bisa bergerak, hatimu tetap harus menolak, karena hanya itulah selemah-lemahnya iman”


seravi

Komentar

Postingan Populer