Socotra
Baju seorang anak sudah mengerak dari rembahan darahnya, malang sekali ia karena tak bisa berkata-kata pada tuan yang mengenakannya. Andaikan dunia ini telah meruntuh singgasananya, ‘kan diberikannya sesatin yang amat bersih dari pintalan tangan malaikat. Serat sutera yang direkat bahan wewangian suling bunga surga dipilin dari keranjangnya, lalu menenun dengan susunan benang tegak sejajar digerainya penat hingga menghasilkan kilauan. Tapi sebelum itu masih banyak menunggu, karena ia berperan sebagai salah satu patung duduk batu kapur campuran merah tak teratur yang menjadi hiasan kiri kanan dikala para manusia itu sedang berjalan dengan iring-iringan kekuasaan angkara mereka. Segala didalam bak mengarahkan pedang yang apakah itu para pengkhianat Tuhan dengan dendam peradaban tua atau para pasak kunci gudang harta. Perang belum pernai usai, sebut saja sebuah percaturan dikaitkan pembesar negrinya yang tiapnya menautkan tembokan perbatasan atau bentengan perlindungan sedang pelontar membumihanguskan hingga tanah rapun. Tapi yang dihasilkan semuanya adalah hanya riak-riak bumbungan kepul asap yang mengurun, setiap hari senjanya hanyalah suara kilah pemakan bangkai mengitari atas kepala, yakni pembicara ulung yang mengatakan bahwasanya itu bukan menggiling daging saudara sendiri melainkan demi sebuah tatanan kukuh, tanah suci atau paham agung. Saat itu juga mengumumkan pada dunia agar dengan ini jangan sampai melewatkan kesempatan satu-satunya, yakni seperti inilah sebuah kekuatan kekal demi papar sejarah bagi generasi sesudah perang ini dikemudian.
Seorang anak disana tadi hanya
mendengarkan, baginya itu bahasa aneh dengan berpalit-palit yang tak biasa
selama hidupnya. Dalam hati lalu bertanya, “Tuan mengangkat alis pada raut itu tapi
layaknya mengapa seringai masih tertinggal sedikit diujungnya.” Kemudian anak
itu kembali diam, ia adalah salah satu anak korban perang dari ribuan anak
lainnya. Sebenarnya anak-anak tersebut melihat jelas permainan orang-orang
dewasa disitu, karena yang demikian mengganggapnya hanya seorang dungu
yang tak mengerti apa-apa, bukanlah sebuah ancaman. Namun diluar dugaan, segala
perihal dibalik layar akan dilihat oleh anak-anak itu, karena mereka juga
berada didalam tempat penyelamatan pengungsian ini. “Ah aku sangat lapar, andai
mereka sudah selesai bicara.”,kata seorang anak bermata sayu yang sedang
menunggu tadi. Sebenarnya ia ingin pulang, tapi kini hanya tinggal mimpinya
saja. Tempat tinggalnya sudah menjadi puing-puing reruntuhan, debu dari haluan
jejek-jejak disana.
Tak tahu apa yang harus
dilakukannya saat ini, ia hanya berdoa, juga untuk seorang ditanah perbatasan sana.
Sebenarnya amat mengaguminya, seorang kakak baik hati yang pernah memberikannya
roti ketika ia terperangkap direruntuhan gedung dan tak bisa keluar karena masih
banyak terjadi huru-hara dikota. Ia tahu, padahal orang itu juga kesulitan,
terlihat dari aus bibirnya, tapi tetap memberikan sekeratnya. Bersama pemuda
itu rasanya diapit oleh sebuah sayap-sayap besar, ia lalu menengadahkan
kepalanya ke orang yang lebih tinggi berapa kaki darinya itu, melihatnya dengan
seksama. Alangkah
kuat imannya, sebagai salah satu pemegang kitab Tuhan disana. Alangkah tidak terbendung rasa,
melihat teman seperjuangan mati di depan mata, tapi masih meneriakkan namaNya. Sebagian
dari bumi Tuhan ini secara tidak langsung mengincar orang itu dan
kawan-kawannya. Sekumpulan para pelahap
dari penjuru dunia, bersiap atur barisan untuk menghancurkan barisan mereka.
Dimanakah ada tempat istirahat yang tenang, bahkan yang disana pun menilik gua pertahanan mereka. Terkurung dari dunia luar apakah
persediaan perbekalan cukup, berbeda pada yang terus diasupi kebutuhannya oleh kekuasaan lain. Benarkah ada perdamaian, ingin mempercayai
hal tersebut yang dilayangkan beberapa waktu lalu, tapi ternyata adalah digunakan
untuk hancurkan anak-anak mereka, berniat memusnahkan benih sampai ke
akar-akarnya. Tangis menderu akankah menggoyahkan iman, tapi kau akan
melihatnya, hal-hal yang diluar dugaan. Tanah mereka mungkin hanya
berapa ruas-ruas, tapi orang-orang itu sungguh kepayahan mendapatkannya. Kian
ketakutan, karena ada banyak bermunculan dari bawah tanah. Karena takut itu
sebagian melukai diri agar tidak ikut berjuang.
Anak itu masih membatin.
Sebenarnya karena banyak yang akan ia bicarakan pada Tuhan mengenai hal ini.
Benar, janganlah berlaku tinggi hati kepada Tuhan seakan semua ujian dapat
terselesai dengan sendirinya. Pertikaian disana adalah ujian semua, diperlihatkan
oleh Tuhan mengenai sebuah kisah kepada umat manusia tentang kebenaran kitabNya,
bahwasanya akan ada segolongan umat yang tegak memperjuangkan kebenaran dan tak
akan terpengaruh dengan yang memusuhi mereka. Walaupun hidup disana serasa
tidak tahu lagi matahari sudah sepenggalah naik, masih bisa bertahan. Tapi mungkin kau salah satu yang tidak disuruh Tuhan untuk hidup disana, karena ada
sebagian yang bagaimana lengan masih terlalu beku bertumbuh yang hanya Tuhan tahu. Untuk itu dapatkah, pada yang menggurat-gurati tangan, merendahkan diri, berbicaralah padaNya. Dan Tuhan akan mendengar. Doa
satu hamba taat, doa dua hamba taat, dan seterusnya, kemudian menjadi doa satu
umat. Kemudian doa satu umat, doa dua umat, dan seterusnya. Akhirnya doa umat
taat pada Tuhan satu bumi ini, sungguhlah akan diberi kekuatan pada hal
demikian. Karena sesungguhnya kekuatan tertinggi adalah doa.
‘Lemparan
batuan hitam takkan bisa menghancurkan. Tuhan menjaga dari keagungan arsyinya.
Janganlah sekalil menganggap mereka lemah. Bilakah kau bertanya, "Akan ada hanya satu Tuhan", jawab mereka. Sekumpulan disana cukup senang dengan merubuhkan kastilnya, tapi tidak mampu menundukkan kaumnya. Bak singa padang pasir yang kehabisan akal dalam strategi perang.
Telaahlah apa yang menyebabkan mereka begitu kuat. Adalah teguhnya agama langit dihati mereka.’
Janganlah sekalil menganggap mereka lemah. Bilakah kau bertanya, "Akan ada hanya satu Tuhan", jawab mereka. Sekumpulan disana cukup senang dengan merubuhkan kastilnya, tapi tidak mampu menundukkan kaumnya. Bak singa padang pasir yang kehabisan akal dalam strategi perang.
Telaahlah apa yang menyebabkan mereka begitu kuat. Adalah teguhnya agama langit dihati mereka.’
Sungguhlah bertanya, apakah belum
sampai berita tentang kebenaran itu kepada orang-orang yang tak akan percaya. Karena walau sekumpulan pelahap disana sedang bersikeras sebagaimanapun juga sebenarnya yang dikatakan golongan yang mendapat kemenangan adalah mereka, dan
janji mengenai kemenangan itu sudah ditulis Tuhan dalam kitabNya. Cahaya Tuhan
membuatnya berpegang teguh sampai sekarang, dan benar mereka mendapat
jawaban janji itu, lalu sebuah ketenangan hati, hingga kau tak 'kan pernah takut mati ketika ada disana, sebaliknya sekumpulan pelahap akan lemah karena mereka takut pada yang bernama 'kematian' itu. Maka andaikata mendengar atau
tidak berpura menyumbat telinga, tentulah akan mengerti mengenai tanda-tanda ini.
Seperti seluruh umat yang berteguh pada jalan benar itu telah bersyukur
atas kemenangan yang dikatakan, sungguh bersembah ketika mengetahuinya lalu lebih membersihkan hati. Namun sebelum itu kembalilah
merenung bahwasanya apa yang dikatakan Tuhan mengenai sekelompok orang-orang
munafik diantara mereka yang justru akan mendatangkan kesengsaraan. Dan itu juga menjadi nilai uji
ketika menghadapi sekumpulan itu, maka sebaiknya agar lebih berhati-hati dan bersiap menanggung atas segala sesuatunya dikemudian hari. Siapakah
disana sebenarnya yang dikatakan tadi, yakni kaum yang dilebihkan Tuhan atas segala umat. Baik kepintaran atau kekuasaan atau
lainnya, dimana hal itu sebenarnya menjadi ujian tersendiri apakah dengan
kelebihan itu menjadikan mata sadar terbuka atau justru berbalik pada keangkuhan
nan durhaka. Dan tentu, Tuhan mengetahui segala atas sekumpulan itu, apa yang dikatakan
hatinya lalu yang akan dilakukan setelahnya, pun para pembicara ulung yang
membuatkan tulisan mengenai kebenaran yang diputarbalikkannya. Dan pada saatnya ketika
sekumpulan itu kembali pada tanah tersebut, orang-orang pengikut Tuhan selalu
ada, seterusnya pada generasi-generasi berikutnya, hingga nanti di hari yang terakhir. Dan ini
akan diperlihatkan bagi kaum beriman atau bagi kaum itu, yakni sesungguhnya tak
akan terjadi hari akhir itu sehingga kau melihat sebelumnya tanda-tanda besar
yang diwujudkan sama seperti halnya terjadi berkebalikan pula yakni seperti ‘terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya.’
Seorang anak yang duduk tadi masih
saja membatin, ia masih ingat ketika seorang kakak tadi memberikannya banyak
gambaran. “Bagaimakah teman kecilku, jika
kau berada dalam keadaan yang membingungkan seperti terjebak pada pemikiran saudara-saudaramu
sendiri. Bagaimana caramu memilih siapa yang akan kau ikuti jalannya, ketika hati
dan pikiranmu sedang bertumpu pada keputusasaan menghadapi suatu hal yang
begitu berat. Bagaimana caramu menentukan pemikiran yang mengarah pada setia
atau berbalik menghianati Tuhan, karena ayal menjadi lupa jati diri dan tujuan
hidup terpengaruh oleh banyak hal disana. Kemudian, ketika kau mendapat timbal keburukan
dari sebuah batil yang dipilih diantara itu, mungkin seorang akan menjadi
ketakutan dan akhirnya tega memakan daging saudara-saudaranya. Maka kau tahu,
sungguh seorang itu dalam kesalahan, karena takdir sudah ditentukan oleh dirinya
sendiri dimana yang harus ia terima segala timbalnya dan tidak merusakkan yang lain. Seharusnya yang dijadikan
jalan adalah yang paling benar yakni melihat dari tanda-tanda kuasa Tuhan, walaupun
itu pengartian berat dalam anggapan saudara-saudaramu, walaupun itu pengartian
hidup yang sengsara dalam anggapan saudara-saudaramu. Ada suatu ketika akan ditunjukkan, yakni akan ada orang-orang yang rela disakiti demi Tuhan, itulah layaknya salah satu dari cara untuk mengetahui sebuah cahaya, dan pada saatnya kau akan lebih memilih lebih baik hidup
demikian daripadanya, karena orang-orang demikian lebih setia kepada Tuhan, sedangkan lainnya tadi adalah yang lebih memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Tapi ingatlah, kau tak bisa membenci mereka. Benar, sebenarnya kita tak
bisa membenci sesama manusia, baik itu yang kau ketahui keburukannya atau
justru mengajak dalam kebatilan, karena sebenarnya yang diperangi bukanlah jiwa-jiwa
tapi pemikiran-pemikiran yang salah, kecuali ketika mereka sudah berniat
menyerangmu dengan sebilah pedang maka kau berhak untuk melindungi diri.”
Anak itu menelan air ludahnya, tapi
tak tahu mengapa masih ada yang tercekat disana. Sekerat roti yang dipegangnya sudah
tersisa sepotong terakhir, debu dan pasir yang menempeli tak dihiraukannya
karena kekurangan tenaga seperti ini membuatnya tak berpikir banyak. Tapi untuk
yang terakhir ini ia belum melumatnya, telinganya masih mendengarkan baik
seorang itu yang melanjutkan kembali perkataannya, “Bagaimanakah, jika dalam diri kita sangat menginginkan
keadilan-keadilan, tentulah ada sosok naluri yang berhujah menginginkan hak-haknya
dikembalikan. Seperti halnya ada yang mencuri karya agungnya, rasanya sungguhlah
terjatuh karena baginya hak atas karya itu adalah hak-hak yang penting dalam
membangun kehidupannya, segalanya, karena disanalah ia meletakkan semua hidupnya
yakni syair-syair pada bukunya, atau nut-nut berdirinya. Maka jika demikian seorang
itu sebaiknya tak menggantungkan harapan kepada sesuatu yang tidak kekal, kau
tak akan pernah mendapatkan keadilan-keadilan dari manusia. Hukum-hukum yang
dibuat disana karena juga meletakkan beberapa syarat tertentu, tergantung dari
kebutuhan-kebutuhan tertentu, akibatnya yang terjadi sebagian ada yang diambil adalah
keuntungan golongan-golongan tertentu pula. Manusia kerap kali lupa dengan
hal-hal dasar, dimana itu adalah yang paling menjelaskan mengenai kebjiaksanaan
yang sebenar-benarnya. Maka ketika kau menginginkan keadilan di dunia saja,
dalam kesulitan. Seorang baiknya menggantungkan harapannya kepada Tuhan, karena
Ia lebih tahu keadilan yang sebenarnya. Baik bertemu pada kehidupan kini maupun
suatu hari bertemu dikehidupan lain.”
“Bagaimanakah,
jika ada sosok naluri yang berseru untuk meninggalkan makhluk-makhluk yang ada didunia ini, karena sudah terlalu membenci
mereka lantaran kesakitan yang tak terpungkiri. Menurut anggapannya ia tak bisa melanjutkan kehidupan atau memilih
jalan lagi atau berkesempatan memperbaiki diri karena manusia-manusia itu. Seorang
disana mungkin sudah terjerumus ke jurang yang amat dalam sehingga ia menjadi
gelap mata dan mendendam pada waktu yang dalam anggapan berkesempitan di belakang semuanya. Maka seorang itu sebaiknya tidak
berlaku demikian, karena segala hal dalam kehidupan ini akan dikaitkan pada
mereka. Apapun itu, karena tak hanya ditanya tanggung jawabmu dalam peribadahan
pada Tuhan tapi akan ditanyakan juga bagaimana tanggung jawabmu pada manusia. Apakah
kau menjaga baik-baik mereka, apakah kau gunakan yang
diberikan padamu untuk menolong mereka, karena sebenarnya ilmu atau harta benda
yang ada padamu pula untuk berbuat baik pada sesama dan makhluk Tuhan
yang lainnya. Kau tak bisa hidup sendirian, atau berniat untuk membuang mereka
dalam kehidupanmu. Suatu hari, kau akan melihat di hari terakhir nanti ada
segolongan yang datang dengan wajah berseri-seri karena digandrungi
banyak cahaya disekelilingnya, yakni segala hal yang pernah ia perlakukan baik
kepada mereka. Biarpun, didunia ini ia dikucilkan, tak disangka pada hari itu ia memiliki banyak teman dan akan diselamatkan oleh amal baiknya itu.”
“Bagaimanakah, jika dalam kehidupan ini, seorang berkeinginan
kuat untuk menyerukan agama Tuhan, tapi tak mampu. Ia sudah tak memiliki cukup
kuasa, tangan atau kakinya seraya
lumpuh, layaknya tak berbenah benang-benang yang ada pada jiwa-jiwa. Geraknya dibekam
oleh yang begitu kuat atau dipasung
dengan kerangkang besi pula pada tengkuknya ditindih batuan besar yang sangat keras lalu dipukullah kepala
juga tubuhnya, perantai batu sengkang kaki dan tangan. Ada yang tersumbat dengan racun-racun dari yang sengaja dibuat, menggelutukkan tulang-tulang hingga mengalir ke syaraf-syaraf lalu akan mati beku
perlahan-lahan. Ada banyak sihir pengandaian yang membuatkan sekurungan ilusi
hingganya ia bahkan tak bisa mereta-reta dalam gelap mencari satu-satu lilin gantungnya untuk mengambil haluan, ternyata ia sudah menjadi salah satu bingkai sejajar dengan ribuan bingkai lainnya. Bicara dibuat seraya
lantur dengan segala berbagai penyakit yang diletakkan makhluk-makhluk penggeriak kedalam dirinya,
membuatnya ia didalam benda itu hanya bisa mendekap dalam diam.”
Pemuda itu diam sejenak, kemudian melanjutkan lagi, tangannya pergi
kearah sana memperlihatkan sesuatu, “Seperti pohon socotra disana, ia hanya mengeluarkan
cairan getah merahnya yang terlihat seperti darah mengerak, tapi itu akan sangat berguna
dijadikan pernis pada lapisan kayu yang bermanfaat. Ada hal-hal yang tak akan
pernah kau sangka terjadi di dunia ini, seperti ketika kau melihat sebuah wujud
khianat pada Tuhan dengan agama langit dinistakan, akhirnya rentang ketidakadilan sayap kuasa lalu penderitaan. Dan jika memang hidup didalam sana, janganlah kau hanya berpura tak
melihat ketika Tuhanmu dihina. Kemudian pada dirimu yang tak memiliki cukup kuasa, setidaknya ada
hatimu yang menolak segala hal keji hingga mengeluarkan sesuatu, apapun itu, seperti kau
menuliskan sebuah yang bermanfaat kelak, seperti seandainya kau menjadi sebuah
pohon disana dengan darahmu. Tapi suatu hari ketika dalam keadaan yang tak bisa lagi, dan membuatmu tak bisa bergerak, hatimu tetap harus menolak, karena hanya itulah
selemah-lemahnya iman”
seravi


Komentar
Posting Komentar