Harp Tree
Ada sebuah kurungan yang tak akan kau temukan didalam lubang pohon sana, karena pintu itu akan semakin ditutupi oleh kertas-kertas putih yang mengurun. Sudah lama, menulisi tiap baris dengan segala pertanyaannya, hingga saling merekat tinta dari segala penjurunya lalu membalurkan nut-nut kurung. Menyanyikan alunan yang tak tahu apakah sebuah judul yang diteranya, mereka hanya menyuruh beberapa makhluk bersayap bening yang ada disana untuk menjentikkan harpa sesuai keinginannya. Bagaimanakah cara menghentikan sebuah kerangka alunannya yang sudah tertera sedemikian rupa, memberinya pengertian agar bahwasanya aku ingin menyendiri. Sebab sebuah memori akan terus membuatkan paranada-paranadanya, yang ditakutkan akan semakin mendekati kutukan agar terjebak selamanya. Sesungguhnya aku tak ingin menjadi hati yang serakah, rasa yang untukku sebenarnya sudah aku ikhlaskan. Karenanya semua perasaan adalah seperti membuatkan sebuah lagu ketulusan dalam panggung orkestranya, bahagia disana akan digunakan untuk menunggu sampai naskah-naskah sudah selesai. Makhluk-makhluk tadi tak akan bergeming bila melihat hal ini, aku sungguh berharap semoga tak akan pernah bisa, agar berandai-andai mereka merasa bila sudah dipautkan dalam keindahan. Karenanya akan terus membuatkan dalam sehari-harinya, agar tak beranjak dari tempatnya. Karena bila mereka beterbangan darisana akan menguar-nguarkan ke orang didepan yang akan dituju sebelumnya, kemudian mengambil perlahan-lahan satu raga yang sudah lemah. Sesungguhnya aku tak menginginkan ia dipergunakan hanya sebagai sebuah harpa mereka.
Pohon milikku sungguh-sungguh
jatuh hati, bukan ingin memiliki tamak serbuk-serbuk cahaya yang berkitar
disisi itu ke dalam selongsong kayu milik sendiri. Aku
sungguh mengerti akan kepribadiannya, ia sungguh yang pemalu. Ia takut bicara,
melihat berbagai kehilangan yang ada dalam dirinya kemudian mengatupkan
buku-buku agar tak ada yang mengetahui segala yang berperan. Baginya sang waktu
yang dapat mengerti sudah cukup, menidurkan di tempat yang sungguh rahasia pada
peti kaca miliknya yang akan terus terpatri. Hati yang sesungguhnya tak akan pernah
berubah selamanya meski perumpamaan kaca dileburkannya serpihan, ia meyakini
kebun-kebun akan membungakannya agar tetap ditempat semayam yang sungguh layak.
Aku jatuh hati
ketika melihat pertama kali. Kurasakan hal yang meruntuh ini bukanlah sebuah
yang ingin ditunjukkan melainkan diindahkan dalam tempatnya. Ada hal-hal baru
ketika melihat pepohonan kemuliaan tersenyum pada diri yang dikejauhan sana. Bagaimana
ketika seorang itu menerjemahkan milik-milik Tuhan dalam pesona tulisan-tulisan
karyanya. Sebuah penyimpanan buku-buku dalam hutan belum diketemukan, seorang
pustakawan yang ramahnya itu mengambil papan tulis batu kemudian menulis dengan
hati-hati, mengajari para makhluk-makhluk kecil yang sudah bergumul didekatnya.
Ia memperlihatkan tutur katanya yang memuji Tuhan, membuatku sungguh malu hati yang
bertambah-tambah. Kudekapkan sebuah buku milikku untuk menyembunyikan wajah
yang mengumumkan sebentar lagi musim seminya, bercampur ada rasanya takut jika
suatu hari pohonku sudah terlalu membutakan pendapatnya. Namun beberapa anak
disana membuyarkan pikiran, tertawa gelak bahagia disana akhirnya membuatku
tersadar akan satu hal. Sebuah ketulusan. Bukan permainan seada-adanya yang
diciptakan oleh para hati, ketika datang memberikan bunga-bunga kebun kemudian melarikan diri diseluasan satu padang rumputnya untuk mengumumkan jika diri tiada
henti berdengki. Melainkan ada sebuah catatan-catatan dengan membawa ukiran menyulur
tintanya berbentuk cahaya tiap bahasa yang dikeluarkan.
Aku teringat
pada Tuhan. Kutadahkan kepala agar mengambil titik-titik cahaya dari atas sana,
melamunkan banyak hal. Arakan awan mengapa demikian, warna apa saja yang sedang
dijelaskan, bagaimana benda-benda menggantungi dirinya agar selalu melindungi
para makhluk yang ada dibawahnya. Ada perasaan haru ketika mengarungi ruang dan
waktu disana meskipun dalam sekejap saja. Ada kebaikan hati yang mengarah ke
langit-langit putih. Ketika kulihat anak-anak tadi dari timbalnya perkataan pustakawan
itu memberikan gigi gingsul mereka setiapnya, kemudian mata berbinar-binar. Perasaan
yang sungguhlah senang, lalu tak berkecil hati, yang diceritakan tadi sangatlah
menarik hingganya menjadi pusat perhatian semua makhluk hutan ini. Pepohon
mulia menyeringai sambil mengayunkan ranting-ranting keringnya perlahan hingga
kemerasakan dedaunan pula. Seperti ingin mengibaskan hal-hal seperti itu juga,
sekarang mereka tersadar hal yang demikian untuk diindahkan, bermaksud agar
membiarkan makhluk-makhluk disekitar sini juga terbawa auranya.
Pustakawan itu
kembali membulak-balikkan bukunya, sebenarnya itu sudah sedikit rapuh karena
ditelan oleh zaman. Kertas-kertasnya sudah mencoklat kering, pegangan bukunya yang
menjadi sanggahan hampir terlepas dari anak-anaknya, karena rekatan lemnya juga
sudah banyak diresap kain lapisnya oleh sesuatu. Namun demikian tak menghalangi
tulisan-tulisan disana untuk membelalakkan mata para pembaca, merelungi sebuah
hati agar merenungi banyak keagungan Tuhan dimalam hari, kekukuhan yang ada
pada dirinya masih terjaga. Pustakawan itu olehnya hanya tersenyum, ia pun mengambil
satu halaman untuk dibacakan, tangannya menyapu bersih perlahan-lahan agar tak
ada debu yang mengerak dihuruf-huruf itu. Akan sangat disayangkan jika
tertimbun, ketika masih banyak diluar sana yang berkata bukan berdasar ilmu,
maka berharap ini masih terjaga dengan baik. Karena sebenarnya didalam
mengajarkan segala hal tentang kebaikan, menyadarkan setiap makhluk bahwasanya
hal itu akan membawakannya untuk mengerti arti dikesemua kehidupan ini.
Sungguh-sungguh sayang jika tulisannya mengusut pada kepunahan, ketika masih banyak
diluar sana yang berkata ‘terkadang tak perlu ada tujuan dalam menjalani hidupnya
maka melakukan segala untuk kesenangannya karena ia menginginkannya dan hal itu karena
menyenangkannya’.
Namun seorang
akan merasakan dalam hatinya, ada yang hilang dari hal itu. Kehampaan. Ketika dalam hidup hanya
untuk memuaskan hati, dunia disana akan terus menerus dilukis oleh warna-warna
dalam anggapannya, dan amat disayangkan hanya untuk dunia itu saja, benar
dunia itu saja. Ketika membuka mata yang ada begitu gelap, bagai bayangan
disiang malam yang merasuki hitamnya lagi yang lebih pekat dihasilkan dari melubangi
itu sendiri. Tak ada secercah cahaya seperti satu pun makhluk yang mengibaskan
sayap mereka hanya untuk satu kilauan atau yang menggetarkan tanduk mereka hanya
untuk satu pendaran. Mengapa demikian, karena ia tak melukisi indah dunia yang
ada pada kenyataan, tak menaburi belas kasih yang ada pada kehidupan disana. Ia
tak memerdulikan, apakah yang disekitarnya layaknya dalam berbicara terpuruk
atau bergurau dalam kematian. Tak ada kebaikan dari hatinya untuk menghidupkan
sedikit cahaya, karena sungguh bersusah hati memberikan sedikit kebaikan hati
dari cat milik kanvasnya. Akhirnya bagaimanakah, kemudian lukisan itu hanyalah
mengerak ditempat sudut tuannya, dimana yang daritadi hanya tertawa sendiri,
menikmati keindahan gambar disitu dari pengandaian angannya sendiri. Tak ada seorang lainnya yang tersenyum tulus
padanya atau ikut hidup berbahagia dengannya. Meskipun ia menganggap itu
akan dijual di gedung pelelangan dengan harga mahal yang diakui oleh
manusia-manusia disana, sebenar-benarnya itu akan dianggap sebagai benda mati
yang digunakan untuk sekedar alat perniagaan.
Karenanya
pohon milikku sedang jatuh hati, mendapat jawaban dari sekelabat
pertanyaan-pertanyaan itu semua. Berharap agar sebuah ketulusan mengobati para
hati, agar mereka tidak selalu marah dengan kehilangannya atau keangkuhannya. Ketika
membuka mata ada yang selalu meneduhkan atau melemahkan sebuah hati yang keras,
dengan lukisan-lukisan berjalan mereka. Maka kau bisa melihatnya, ditaman sana
sedang berkitar penduduk hutan memainkan cahaya masing-masing. Dengan
pustakawan itu sebagai pusatnya. Sebenarnya ruh diri sendiri memanggil kearah
sana, tapi selalu saja tertahan. Ada sekat yang akan selalu menjadi pembatas
diantara itu, mengenai penjagaan yang sangat ingin dimuliakan. Sebuah rasa
malu, yang sungguh-sungguh setia akan tuannya. Perasaan ini mungkinkah berbeda
pada teman-teman penghuni yang sedang berbicara disana, karena bukan sekedar
mengagumi, ada sebuah cinta.
Namun suatu
hari pohonku membisikkan sesuatu, “Aku
takut terbawa cinta. Ia akan menyesakkan banyak hingga mendapat kesakitan.”
Ketika
langit-langit perlahan menangkupkan tangannya, aku merenungi perkataan itu.
“Perasaan ini yang sesungguhnya dirasakan oleh
setiap insan, seperti seorang perempuan yang malu bertemu dengan lelaki atau
seorang lelaki yang malu bertemu dengan seorang perempuan, bagaimanakah jika
aku mulai jatuh cinta seperti itu. Ketika melihat ada perasaan sosok mensisih lalu yang peruntukkan rahasia terdalam dikemudian hari adalah tak hingga bayangan anakan darinya. Tetapi ketika tak ada satupun akan memetikannya dengan sendiri sama halnya kehidupan mati. Cinta yang seperti mengampuni matanya lalu
mempersilahkan hati untuk membuatkan kata-kata dalam berlaman-laman. Semakin
lama semakin tertera dalam dunia cerminnya. Cinta yang seperti mengampuni matanya lalu membiarkan
hati akhirnya untuk membuatkan janji suci dalam berbuku-buku.”
Karenanya aku
memikirkan apa yang dimaksud oleh perasaan seperti itu, akhirnya mereka
menjawab seperti halnya ketika kau ingin memiliki sesuatu lalu menyimpan,
selamanya. Tak tahu ini sudah menjadi sebuah mimpi buruk, ingin menatapnya
untuk yang terakhir kalinya, menyiksa batin karena terus mencintanya. Sebuah
itu memiliki kekuatan yang lebih, untuk melumpuhkan hati yang keras tapi juga
membunuhnya. Diantara yang sangat membingungkan dalam menterjemahkan dari
setiap laman bukunya. Ada yang ingin meminta maaf karena terus melukainya,
namun ada pula yang ingin berterimakasih karena terus merasainya. Ada yang
ingin dilepas dari keranda yang dibuatnya, ada yang ingin dikunci didalamnya.
Ia seolah mengatakan tak ada yang sempurna dalam mencinta itu, bagaimana
menemukan keadilan cinta ditengah-tengahnya, sedang diri menginginkan kasih nan
suci, atau menganggapnya terlahir sebenarnya untuknya. Dikehidupan yang sangat
jauh, sudah ditakdirkan benar-benar untuknya. Dikehidupan yang sangat jauh,
sudah ditulis nama itu didalam hatinya. Maka sebenarnya sungguh lelah untuk
berpikir, meletakkan berkali-kali hingga akal sehat ingin berhenti mengambilnya.
Banyak yang dipungkiri kemudian memetakannya dibelakang wujud aslinya. Bila tlah tiba
rasa kasih lagi akan membayangi disetiap malam-malamnya, membawa deras yang mengheningi penduduk bawah tanah adalah banyak anak panah didalam peperangannya. Menantikan jiwanya di gerbangnya
berkurun-kurun hanya untuk mendapatkan senyum dari kekasihnya.
Namun ada
sebuah jawaban, ketika aku menatap langit-langit sekali lagi. Aku merasakan
Tuhan sedang tersenyum lembut padaku. Menghapus air pohon yang tadinya sudah
kusembunyikan dalam-dalam agar tak ada seorang pun yang tahu. Ketika itu begitu
ditenangkan dengan sesekali disapu oleh hujan dimusim ini yang hawanya juga
akan menyejukkan dedahan, sembari mengertilah akan sebuah hal. Ada perasaan
untuk mengikhlaskan, meskipun ia mencuri dengar didalam pohon dengan segala
kerendahan hatinya, mencuri kasih dan sayang pohon dengan segala keramahannya, mencuri
ketulusan pohon dengan tuturnya. Ia adalah milik Tuhan. Dan sungguh-sungguh hati
tak akan mengingkari. Karena bukankah disisi Tuhan ia akan dijaga hari ini, ia
akan dijaga esok hari, ia akan dijaga dikemudian hari. Dan hati sangat
bersyukur, karena yang dicintai akan dilindungi pada tiap-tiap harinya,
berharap lalu berbahagia, hingga hati akan ikut juga bahagia. Olehnya aku akan
selalu mengayunkan dahan untuk mengataknnya agar selalu tegar. Tetapi mungkin
yang akan mengusik nanti adalah bagaimana melalui rasa sedih ketika mencintai. Karenanya
aku melamunkan hal itu berhari-hari, hingga ada seorang anak yang ada didepan
kerubung tadi datang menghampiri ke sisi dahan.
Pustakawan membuatkan
mereka ilustrasi gambaran sebatang pohon yang sangat kukuh kayunya lengkap
dengan reranting dan dedahan miliknya. Setiap anak mendapatkan satu kertas
gambar yang cukup besar, seukuran ketika mereka merentangkan tangan-tangannya.
Gambar itu sangat tertera jelas dengan tinta hitam yang masih mudah mengerak.
Gambar itu juga dibuatkan sangat besar, hingga anak-anak itu terlihat senang lalu
memperlihatkannya kepada pohon-pohon mulia yang juga sedang menjadi pilar
disana. Gambar itu tak memiliki warna, sengaja dibentuk demikian dahulu agar
anak-anak dapat mewarnainya. Masing-masing sudah diberi pensil warnanya, bermaksud
tinggal mereka mengukir indah pohon miliknya.
“Ada kertas
lebih, ini untukmu”, kata seorang anak bersemangat dengan rambut riak dan mata
sipit lalu berseringai, sembari menyerahkannya padaku.
Aku sungguh
senang menerima itu dan langsung menjawabnya, “Terimakasih adik”, kataku memberikan
senyum. “Kau akan mewarnainya dengan warna apa?”, tanyaku sembari merundukkan
dahan agar memudahkan anak itu untuk bicara denganku.
“Itu rahasia.”
Jawab anak itu, kemudian melanjutkan lagi.. “Kau juga boleh merasiakannya.
Orang itu berkata, kalau didunia ini Tuhan memberikan empat musim yang begitu
indah. Kita dapat mewarnainya dengan warna musim dingin, musim semi, musim panas atau musim gugur. Ketika kau sedang diselimuti kesedihan, kau akan
membuatnya sendiri agar itu mengingat lagi pada warna-warna keagungan milik Tuhan lalu mengingatkanmu pada Tuhan”, kata
anak itu menyeringai kemudian beranjak dari sana dan berlarian kedepan.
Aku tertegun.
Kuangkat dedahan tadi perlahan-lahan lalu memberikan kertas itu tempat disalah
satu ranting, kemudian menatapnya lekat. Bagaimanakah, kebaikan hati seperti
ini membuat bertambah jatuh hati. Kuseka kertas itu lembut dengan beberapa daunan sembari hanya membatin, "Tuhan, aku sungguh bersyukur telah diperkenankan mencintainya.
Namun aku bukanlah satu yang ternama dalam mencinta untuk membalas budi baiknya.
Maka aku akan terus menulis lagu untuk makhluk-makhluk yang bertengger didedahanku dan bersama menyanyikan
lagu keindahan untuknya. Paranada-paranadanya akan dialunkan untuk mengelokkannya,
seperti halnya para bidadari sedang menyayikan untuk suami-suaminya di surga. Aku ingin
menjadi sebuah harpa pohon".
seravi


Komentar
Posting Komentar