Harp Tree


www.wirestrungharp.com



Ada sebuah kurungan yang tak akan kau temukan didalam lubang pohon sana, karena pintu itu akan semakin ditutupi oleh kertas-kertas putih yang mengurun. Sudah lama, menulisi tiap baris dengan segala pertanyaannya, hingga saling merekat tinta dari segala penjurunya lalu membalurkan nut-nut kurung. Menyanyikan alunan yang tak tahu apakah sebuah judul yang diteranya, mereka hanya menyuruh beberapa makhluk bersayap bening yang ada disana untuk menjentikkan harpa sesuai keinginannya. Bagaimanakah cara menghentikan sebuah kerangka alunannya yang sudah tertera sedemikian rupa, memberinya pengertian agar bahwasanya aku ingin menyendiri. Sebab sebuah memori akan terus membuatkan paranada-paranadanya, yang ditakutkan akan semakin mendekati kutukan agar terjebak selamanya. Sesungguhnya aku tak ingin menjadi hati yang serakah, rasa yang untukku sebenarnya sudah aku ikhlaskan. Karenanya semua perasaan adalah seperti membuatkan sebuah lagu ketulusan dalam panggung orkestranya, bahagia disana akan digunakan untuk menunggu sampai naskah-naskah sudah selesai. Makhluk-makhluk tadi tak akan bergeming bila melihat hal ini, aku sungguh berharap semoga tak akan pernah bisa, agar berandai-andai mereka merasa bila sudah dipautkan dalam keindahan. Karenanya akan terus membuatkan dalam sehari-harinya, agar tak beranjak dari tempatnya. Karena bila mereka beterbangan darisana akan menguar-nguarkan ke orang didepan yang akan dituju sebelumnya, kemudian mengambil perlahan-lahan satu raga yang sudah lemah. Sesungguhnya aku tak menginginkan ia dipergunakan hanya sebagai sebuah harpa mereka.

Pohon milikku sungguh-sungguh jatuh hati, bukan ingin memiliki tamak serbuk-serbuk cahaya yang berkitar disisi itu ke dalam selongsong kayu milik sendiri. Aku sungguh mengerti akan kepribadiannya, ia sungguh yang pemalu. Ia takut bicara, melihat berbagai kehilangan yang ada dalam dirinya kemudian mengatupkan buku-buku agar tak ada yang mengetahui segala yang berperan. Baginya sang waktu yang dapat mengerti sudah cukup, menidurkan di tempat yang sungguh rahasia pada peti kaca miliknya yang akan terus terpatri. Hati yang sesungguhnya tak akan pernah berubah selamanya meski perumpamaan kaca dileburkannya serpihan, ia meyakini kebun-kebun akan membungakannya agar tetap ditempat semayam yang sungguh layak. 

Aku jatuh hati ketika melihat pertama kali. Kurasakan hal yang meruntuh ini bukanlah sebuah yang ingin ditunjukkan melainkan diindahkan dalam tempatnya. Ada hal-hal baru ketika melihat pepohonan kemuliaan tersenyum pada diri yang dikejauhan sana. Bagaimana ketika seorang itu menerjemahkan milik-milik Tuhan dalam pesona tulisan-tulisan karyanya. Sebuah penyimpanan buku-buku dalam hutan belum diketemukan, seorang pustakawan yang ramahnya itu mengambil papan tulis batu kemudian menulis dengan hati-hati, mengajari para makhluk-makhluk kecil yang sudah bergumul didekatnya. Ia memperlihatkan tutur katanya yang memuji Tuhan, membuatku sungguh malu hati yang bertambah-tambah. Kudekapkan sebuah buku milikku untuk menyembunyikan wajah yang mengumumkan sebentar lagi musim seminya, bercampur ada rasanya takut jika suatu hari pohonku sudah terlalu membutakan pendapatnya. Namun beberapa anak disana membuyarkan pikiran, tertawa gelak bahagia disana akhirnya membuatku tersadar akan satu hal. Sebuah ketulusan. Bukan permainan seada-adanya yang diciptakan oleh para hati, ketika datang memberikan bunga-bunga kebun kemudian melarikan diri diseluasan satu padang rumputnya untuk mengumumkan jika diri tiada henti berdengki. Melainkan ada sebuah catatan-catatan dengan membawa ukiran menyulur tintanya berbentuk cahaya tiap bahasa yang dikeluarkan.

Aku teringat pada Tuhan. Kutadahkan kepala agar mengambil titik-titik cahaya dari atas sana, melamunkan banyak hal. Arakan awan mengapa demikian, warna apa saja yang sedang dijelaskan, bagaimana benda-benda menggantungi dirinya agar selalu melindungi para makhluk yang ada dibawahnya. Ada perasaan haru ketika mengarungi ruang dan waktu disana meskipun dalam sekejap saja. Ada kebaikan hati yang mengarah ke langit-langit putih. Ketika kulihat anak-anak tadi dari timbalnya perkataan pustakawan itu memberikan gigi gingsul mereka setiapnya, kemudian mata berbinar-binar. Perasaan yang sungguhlah senang, lalu tak berkecil hati, yang diceritakan tadi sangatlah menarik hingganya menjadi pusat perhatian semua makhluk hutan ini. Pepohon mulia menyeringai sambil mengayunkan ranting-ranting keringnya perlahan hingga kemerasakan dedaunan pula. Seperti ingin mengibaskan hal-hal seperti itu juga, sekarang mereka tersadar hal yang demikian untuk diindahkan, bermaksud agar membiarkan makhluk-makhluk disekitar sini juga terbawa auranya. 

Pustakawan itu kembali membulak-balikkan bukunya, sebenarnya itu sudah sedikit rapuh karena ditelan oleh zaman. Kertas-kertasnya sudah mencoklat kering, pegangan bukunya yang menjadi sanggahan hampir terlepas dari anak-anaknya, karena rekatan lemnya juga sudah banyak diresap kain lapisnya oleh sesuatu. Namun demikian tak menghalangi tulisan-tulisan disana untuk membelalakkan mata para pembaca, merelungi sebuah hati agar merenungi banyak keagungan Tuhan dimalam hari, kekukuhan yang ada pada dirinya masih terjaga. Pustakawan itu olehnya hanya tersenyum, ia pun mengambil satu halaman untuk dibacakan, tangannya menyapu bersih perlahan-lahan agar tak ada debu yang mengerak dihuruf-huruf itu. Akan sangat disayangkan jika tertimbun, ketika masih banyak diluar sana yang berkata bukan berdasar ilmu, maka berharap ini masih terjaga dengan baik. Karena sebenarnya didalam mengajarkan segala hal tentang kebaikan, menyadarkan setiap makhluk bahwasanya hal itu akan membawakannya untuk mengerti arti dikesemua kehidupan ini. Sungguh-sungguh sayang jika tulisannya mengusut pada kepunahan, ketika masih banyak diluar sana yang berkata ‘terkadang tak perlu ada tujuan dalam menjalani hidupnya maka melakukan segala untuk kesenangannya karena ia menginginkannya dan hal itu karena menyenangkannya’.

Namun seorang akan merasakan dalam hatinya, ada yang hilang dari hal itu. Kehampaan. Ketika dalam hidup hanya untuk memuaskan hati, dunia disana akan terus menerus dilukis oleh warna-warna dalam anggapannya, dan amat disayangkan hanya untuk dunia itu saja, benar dunia itu saja. Ketika membuka mata yang ada begitu gelap, bagai bayangan disiang malam yang merasuki hitamnya lagi yang lebih pekat dihasilkan dari melubangi itu sendiri. Tak ada secercah cahaya seperti satu pun makhluk yang mengibaskan sayap mereka hanya untuk satu kilauan atau yang menggetarkan tanduk mereka hanya untuk satu pendaran. Mengapa demikian, karena ia tak melukisi indah dunia yang ada pada kenyataan, tak menaburi belas kasih yang ada pada kehidupan disana. Ia tak memerdulikan, apakah yang disekitarnya layaknya dalam berbicara terpuruk atau bergurau dalam kematian. Tak ada kebaikan dari hatinya untuk menghidupkan sedikit cahaya, karena sungguh bersusah hati memberikan sedikit kebaikan hati dari cat milik kanvasnya. Akhirnya bagaimanakah, kemudian lukisan itu hanyalah mengerak ditempat sudut tuannya, dimana yang daritadi hanya tertawa sendiri, menikmati keindahan gambar disitu dari pengandaian angannya sendiri. Tak ada seorang lainnya yang tersenyum tulus padanya atau ikut hidup berbahagia dengannya. Meskipun ia menganggap itu akan dijual di gedung pelelangan dengan harga mahal yang diakui oleh manusia-manusia disana, sebenar-benarnya itu akan dianggap sebagai benda mati yang digunakan untuk sekedar alat perniagaan. 

Karenanya pohon milikku sedang jatuh hati, mendapat jawaban dari sekelabat pertanyaan-pertanyaan itu semua. Berharap agar sebuah ketulusan mengobati para hati, agar mereka tidak selalu marah dengan kehilangannya atau keangkuhannya. Ketika membuka mata ada yang selalu meneduhkan atau melemahkan sebuah hati yang keras, dengan lukisan-lukisan berjalan mereka. Maka kau bisa melihatnya, ditaman sana sedang berkitar penduduk hutan memainkan cahaya masing-masing. Dengan pustakawan itu sebagai pusatnya. Sebenarnya ruh diri sendiri memanggil kearah sana, tapi selalu saja tertahan. Ada sekat yang akan selalu menjadi pembatas diantara itu, mengenai penjagaan yang sangat ingin dimuliakan. Sebuah rasa malu, yang sungguh-sungguh setia akan tuannya. Perasaan ini mungkinkah berbeda pada teman-teman penghuni yang sedang berbicara disana, karena bukan sekedar mengagumi, ada sebuah cinta.  

Namun suatu hari pohonku membisikkan sesuatu, “Aku takut terbawa cinta. Ia akan menyesakkan banyak hingga mendapat kesakitan.”

Ketika langit-langit perlahan menangkupkan tangannya, aku merenungi perkataan itu.
“Perasaan ini yang sesungguhnya dirasakan oleh setiap insan, seperti seorang perempuan yang malu bertemu dengan lelaki atau seorang lelaki yang malu bertemu dengan seorang perempuan, bagaimanakah jika aku mulai jatuh cinta seperti itu. Ketika melihat ada perasaan sosok mensisih lalu yang peruntukkan rahasia terdalam dikemudian hari adalah tak hingga bayangan anakan darinya. Tetapi ketika tak ada satupun akan memetikannya dengan sendiri sama halnya kehidupan mati. Cinta yang seperti mengampuni matanya lalu mempersilahkan hati untuk membuatkan kata-kata dalam berlaman-laman. Semakin lama semakin tertera dalam dunia cerminnya. Cinta yang seperti mengampuni matanya lalu membiarkan hati akhirnya untuk membuatkan janji suci dalam berbuku-buku.”

Karenanya aku memikirkan apa yang dimaksud oleh perasaan seperti itu, akhirnya mereka menjawab seperti halnya ketika kau ingin memiliki sesuatu lalu menyimpan, selamanya. Tak tahu ini sudah menjadi sebuah mimpi buruk, ingin menatapnya untuk yang terakhir kalinya, menyiksa batin karena terus mencintanya. Sebuah itu memiliki kekuatan yang lebih, untuk melumpuhkan hati yang keras tapi juga membunuhnya. Diantara yang sangat membingungkan dalam menterjemahkan dari setiap laman bukunya. Ada yang ingin meminta maaf karena terus melukainya, namun ada pula yang ingin berterimakasih karena terus merasainya. Ada yang ingin dilepas dari keranda yang dibuatnya, ada yang ingin dikunci didalamnya. Ia seolah mengatakan tak ada yang sempurna dalam mencinta itu, bagaimana menemukan keadilan cinta ditengah-tengahnya, sedang diri menginginkan kasih nan suci, atau menganggapnya terlahir sebenarnya untuknya. Dikehidupan yang sangat jauh, sudah ditakdirkan benar-benar untuknya. Dikehidupan yang sangat jauh, sudah ditulis nama itu didalam hatinya. Maka sebenarnya sungguh lelah untuk berpikir, meletakkan berkali-kali hingga akal sehat ingin berhenti mengambilnya. Banyak yang dipungkiri kemudian memetakannya dibelakang wujud aslinya. Bila tlah tiba rasa kasih lagi akan membayangi disetiap malam-malamnya, membawa deras yang mengheningi penduduk bawah tanah adalah banyak anak panah didalam peperangannya. Menantikan jiwanya di gerbangnya berkurun-kurun hanya untuk mendapatkan senyum dari kekasihnya. 

Namun ada sebuah jawaban, ketika aku menatap langit-langit sekali lagi. Aku merasakan Tuhan sedang tersenyum lembut padaku. Menghapus air pohon yang tadinya sudah kusembunyikan dalam-dalam agar tak ada seorang pun yang tahu. Ketika itu begitu ditenangkan dengan sesekali disapu oleh hujan dimusim ini yang hawanya juga akan menyejukkan dedahan, sembari mengertilah akan sebuah hal. Ada perasaan untuk mengikhlaskan, meskipun ia mencuri dengar didalam pohon dengan segala kerendahan hatinya, mencuri kasih dan sayang pohon dengan segala keramahannya, mencuri ketulusan pohon dengan tuturnya. Ia adalah milik Tuhan. Dan sungguh-sungguh hati tak akan mengingkari. Karena bukankah disisi Tuhan ia akan dijaga hari ini, ia akan dijaga esok hari, ia akan dijaga dikemudian hari. Dan hati sangat bersyukur, karena yang dicintai akan dilindungi pada tiap-tiap harinya, berharap lalu berbahagia, hingga hati akan ikut juga bahagia. Olehnya aku akan selalu mengayunkan dahan untuk mengataknnya agar selalu tegar. Tetapi mungkin yang akan mengusik nanti adalah bagaimana melalui rasa sedih ketika mencintai. Karenanya aku melamunkan hal itu berhari-hari, hingga ada seorang anak yang ada didepan kerubung tadi datang menghampiri ke sisi dahan. 

Pustakawan membuatkan mereka ilustrasi gambaran sebatang pohon yang sangat kukuh kayunya lengkap dengan reranting dan dedahan miliknya. Setiap anak mendapatkan satu kertas gambar yang cukup besar, seukuran ketika mereka merentangkan tangan-tangannya. Gambar itu sangat tertera jelas dengan tinta hitam yang masih mudah mengerak. Gambar itu juga dibuatkan sangat besar, hingga anak-anak itu terlihat senang lalu memperlihatkannya kepada pohon-pohon mulia yang juga sedang menjadi pilar disana. Gambar itu tak memiliki warna, sengaja dibentuk demikian dahulu agar anak-anak dapat mewarnainya. Masing-masing sudah diberi pensil warnanya, bermaksud tinggal mereka mengukir indah pohon miliknya.

“Ada kertas lebih, ini untukmu”, kata seorang anak bersemangat dengan rambut riak dan mata sipit lalu berseringai, sembari menyerahkannya padaku. 

Aku sungguh senang menerima itu dan langsung menjawabnya, “Terimakasih adik”, kataku memberikan senyum. “Kau akan mewarnainya dengan warna apa?”, tanyaku sembari merundukkan dahan agar memudahkan anak itu untuk bicara denganku. 

“Itu rahasia.” Jawab anak itu, kemudian melanjutkan lagi.. “Kau juga boleh merasiakannya. Orang itu berkata, kalau didunia ini Tuhan memberikan empat musim yang begitu indah. Kita dapat mewarnainya dengan warna musim dingin, musim semi, musim panas atau musim gugur. Ketika kau sedang diselimuti kesedihan, kau akan membuatnya sendiri agar itu mengingat lagi pada warna-warna keagungan milik Tuhan lalu mengingatkanmu pada Tuhan”, kata anak itu menyeringai kemudian beranjak dari sana dan berlarian kedepan. 

Aku tertegun. Kuangkat dedahan tadi perlahan-lahan lalu memberikan kertas itu tempat disalah satu ranting, kemudian menatapnya lekat. Bagaimanakah, kebaikan hati seperti ini membuat bertambah jatuh hati. Kuseka kertas itu lembut dengan beberapa daunan sembari hanya membatin, "Tuhan, aku sungguh bersyukur telah diperkenankan mencintainya. Namun aku bukanlah satu yang ternama dalam mencinta untuk membalas budi baiknya. Maka aku akan terus menulis lagu untuk makhluk-makhluk yang bertengger didedahanku dan bersama menyanyikan lagu keindahan untuknya. Paranada-paranadanya akan dialunkan untuk mengelokkannya, seperti halnya para bidadari sedang menyayikan untuk suami-suaminya di surga. Aku ingin menjadi sebuah harpa pohon".


seravi

Komentar

Postingan Populer