Maroon


Baginya yang tidak bagus dalam hal apapun, mencintai adalah hal yang sangat besar. Olehnya hanya bisa dari balik pohon-pohon musim gugur yang sudah tua dan menjadi bayangannya, kemudian mencengkram salah satu pilar disana yang dikatakan penyangga dari sebuah khayalan. Tubuh bergetar karena terlalu malu melihat pada kenyataan, tangan meraih makhluk putih dari langit-langit tapi akhirnya mengepalkannya kembali untuk sembunyi dalam temaram dari sisi balik ini. Entah mengapa, menampikkan ke sisik kayu yang penuh guratannya, lalu menyiapkan batu yang sedikit tajam ujungnya untuk mengukir sesuatu agar mengenai sejarah yang berumpama baluran merah marun tidak semudah itu dihilangkan. Warna demikian seperti dijadikannya alasan untuk berpulang dari pertempuran, dan juga jika tak bisa mendapatkan dari hasrat yang paling diinginkan ketika itu, namun akan menjadikan perihal yang sungguh langka didalam hatinya. Terutama yang banyak mengikuti selama dalam perjalanan,  tepak jejak yang berbentuk daun miliknya disana adalah seni yang menjadikan terhimpun sebuah kehidupan tanaman serupa seperti pada pohon ini. Warnanya sebenarnya ingin meminjam sekurang-kurangnya kekuatan agar pemain yang didalam selalu merunduk pada pemandangan diluaran raga, bukan berarti gelap muram yang dimaksudkan, melainkan sesosok agar merendah hatinya. Adapun batuan nyaring yang selalu memahat pada punggung pohon itu akan mengindahkannya dengan menuliskan serangkaian dari sastra khusus untuknya, mengimbuh lakonan setiap harinya yang dimasukkan dalam nyanyian, juga menceritakan kisah yang menjadi panutan utama dalam berkesinambungan, serta sekantung dari hasil jerih payah. Kemudian dikedap dengan kesunyian dari daerah asalnya itu, menekuk awan dengan tangan dari pilar tadi. Tajuk melindungi buram cahaya, pohon dan dirinya akan sempurna dalam sebuah rahasia.

Sekali ini seorang itu dikatakan orang tak bagus dalam hal cinta, terlalu sibuk mempelajari banyak hal sehingga relung membuatkan hanya berwujud gua-gua penyimpan bebatuan padanya. Sebenarnya berpikir keras bagaimana agar mengambil kebaikan-kebaikan dari atap pelindung yang kukuh, berkaru melihat dibawah sini banyak tanah guram. Olehnya jika  ada yang menanyakan tentang tadi, ia akan menjadi pendiam yang landai.  Penyumbat yang terhimpit sesuatu bak menjadi cekalnya, yang  menutupi  suara sauk-sauk di bukit buang. Beribu burung kecil diatas hanya berputar sambil mematukkan sedikit hingga salah satunya membisikkan ke telinga,“Menuangkanku secawan anggur pada pesta kebun dimana sebelumnya seorang yang menyiapkannya sebelum itu merangkaikan bunga dilengkungan atap dan tiang lampu, meja mahoni hias putih pula penuh dengan buket-buket dan pita simpulnya. Memintalkanku segaun dengan tataan satin yang berenda dan puring yang diselipkan roncean dengan kuncup bunga yang lebih kecil, lalu memuatkan dalam sekanvas lukisan dan mengabadikannya pada gerendel bingkai ukir. Memahatkanku rumah pohon dibelakang halaman luas itu bermaksud memahkotai sebuah kerajaan. Menamakanku keranda-keranda peri yang bersinar dengan sekantung serbuk sihirnya. Mengantarkanku dengan kereta kencana yang bak memapah seorang putri bermartabat tinggi yang pandai menjentikkan jemari pada harpanya dan melagukan seriosanya pada opera kalangan atas.”  

Ia menjadi pendiam, disingsingkan kemeja lengannya dan memulai pekerjaan. Sembari menyentakkan kaki, ada sebuah hati membatin lirih, memikirkan bahwasanya burung diatas salah, hal yang diuarkan itu tidaklah demikian jika diartikan lebih dalam. “Tidaklah menggunakan kata ‘keakuan’ pada sebuah cinta”, katanya.

Burung diatas yang tadinya seripit terbang membentuk lingkaran cincin mendengar itu akhirnya membukakan tali rantainya kemudian satu persatu pergi ke pohon lain dibukit seberang. Sedangkan seorang yang ditinggalkan disana masih tak bergeming, sepintas memandang dari kejauhan yang ditujunya. Didalam sini banyak sekali yang ingin diutarakan, namun tertahan dikelukan jalan panjang  yang tak terlihat sekeping hati sang pengguna. Kabut putih layaknya dengan ranah menghapus lekas gambaran rongga kertas hidup diatas kanvas dalam bayangan ketika berjalan. Tapi tetap tak akan bisa mengendalikan detak-detak itu akibat dentingan garpu para kawanan makhluk menggeriak disisi rumah kaca miliknya paling berharga. Makhluk  berruh sepertinya ingin menyegerakan hal-hal yang ada dikesemuanya, tapi yang dikatakan sebagai penggaruk pohon masih memahat dan menuliskan disana. Sembari berpikir mungkin kesalahan yang sudah lama berdiam lama ingin membukakan gapura penutupnya. Lingkar besi sudah mengarat pada kedua sisi pengaitnya mengetuk-ngetukkan agar membiarkan sesosok aura yang telah lama menguruk gemboknya. Suara-suara dari dalam sana sudah terlalu berat dengan berbagai macam tambahan dari masa yang teramat jauh kebelakang. Menyelisik kembali prahara-prahara dalam tautan yang selalu diuarkan dalam perjalanan. Peringatan-peringatan keras tak tertulis kerap kali berdesir membulak-balikkan sebuah buku yang rapuh sehingga ditakutkan akan berterbangan liar, walau kelihatannya masih terlihat kukuh pegangan bukunya.

Buku itu adalah akhlak yang tertanam dalam pusara paling terasing, diam-diam membuatkan tempat pengistirahatan tanpa sepengetahuan para hati pelahap. Karena kau tahu, hati yang seperti itu akan bisa merebut apa saja yang dilihat nyata pelupuk matanya. Tidak memperdulikan apapun selain diri sendiri yang dinyatakannya sebagai hak-hak tegas miliknya, dengan berbagai ulasan dialek khasnya memundurkan banyak hakim-hakim didalam sini. Singgasananya dikatakan paling termasyur dengan segala martabat dan nilai-nilai, menjulukkan tungkai terdepan hendak memperluas kuasa. Tak bisa dibayangkan jika buku itu diletakkan secara terang-terangan disana, walaupun jika kau bermaksud hanya untuk berdebat kusir dengannya. Olehnya benda itu akan tetap dalam tanah yang tenang , sembari berenung banyak didalam untuk mengulas apa saja jika terjadi kesalahan diatas permukaan sana. Kau pula harus sama sepertinya, yakni memegang teguh tugas yang dititahkan Tuhan. Sebaiknya jangan hanya bermain-main dengan segala analogi beranak pinak, karena kau tak akan pernah menemukan sebuah jawaban, hanya berputar-putar membuatkan sebundaran pita suatu ketidakpastian yang merasa meramalkan masa mendatang. ‘Layaknya jika banyak premis yang dibuat ada satu yang tak mendukung aturan terhadap bukunya maka harapan pada keadaan itu tak akan bisa terjadi, namun sebaliknya jika semua memenuhi maka harapan yang dihasilkan akan terjadi. Bagaimana ini menjadi pencerahan bagi manusia berakal, kau harus banyak mempelajari hal itu.’

Sebagian manusia ada yang berhujah kata-katanya dalam meraih banyak hal, bak menuntut peluh kepada mereka agar sesuai pada yang diinginkan, tapi padanya sendiri tak mau memperbaiki atau melakukan untuk mengupayakannya agar semuanya berjalan dengan teratur. “Anak negeri awan hanya mencela dan mencela, bak bersungut agar semuanya ‘diharuskan’ untuknya. Lalu bertanyalah para petuah pada salah satu dari mereka, apa saja yang sudah kau berikan untuk negrinya?”

Kau tahu, disemua ini Tuhan sudah menciptakan sebuah asas hukum paling sederhana yang tidak disadari oleh manusia , yakni seperti halnya hukum sebab akibat. Sebenarnya itu adalah aturan tersirat, untuk semua umat yang suatu hari akan mulai membangkang dengan kilahnya, agar tidak lupa dengan seluruh alam. Bagaimana rasa peduli terhadap lainnya, karena jika ia sungguh-sungguh mendalami akan tahu bahwasanya hasratnya itu pada akhirnya juga sebagian akan mengarah pada timbal kebaikan atau keburukannya untuk mereka. Lalu jika telah dikatakan demikian mengapa harus berputar-putar dengan hasil kesimpulan yang penuh dengan hujahan dalam keyakinan yang dirombak sendiri, karena senyata-nyatanya Tuhan sudah memperlihatkan bentuk-bentuk seperti itu. Tapi bak sebuah mata pena yang membuncahkan tinta seisinya sehingga berbaluranlah kertas dimeja seperti tak dikenali lagi wajah semulanya, karena ia tadi menganggap  penulisan disana hanyalah bentuk ketidakadilan--yang dalam pemikirannya bahwasanya Tuhan akan mengutuk keinginan seorang karena terlalu besar, padahal tidaklah demikian. Bukankah Tuhan mengetahui segala isi hati mengenai sekeping mereka yang tulus dan jujur.  Jika mereka yang berada dibelahan bumi mana saja bersungguh menggunakan dasar itu, tentu Tuhan akan menuntun layaknya dengan banyak utusan bersayap-sayap menaung atasnya, maka janganlah seorang terpuruk dengan aturan Tuhan yang terlihat dari luar seperti pasungan keranda.

Tapi sekeping hati ada yang masih menderakkan jendela kacanya dengan keras hendak memberontak, layaknya tak ada yang bisa dilakukan. Penggemuruh-penggemuruh angin akan bisa membulak-balikkannya, udara yang bergerak kuat bak mengirimkan bahasa sastranya yang berbeda, ketika bertemu dengan kebenaran akan berusaha membuat hati untuk berpaling, bagaimana pun caranya. Entah itu dengan filosofi yang tak tahu antah berantah kausa-kausa dalam premisnya. Dan sebuah hati tak memiliki batas, mereka  akan mudah memasukinya apalagi seorang dengan iman lemah. Hati ingin menerima hal-hal yang lemah lembut karena ia ingin ketenangan, sedangkan didunia ini banyak sekali tipu muslihat dengan kearifannya, maka itu sebabnya Tuhan selalu berulang-ulang  mengatakan berpikirlah bagi manusia berakal, agar dapat memilah mana yang benar. Sebaiknya lihatlah kembali pula kitab Tuhan. Bagaimana cara Tuhan memberikan nada perintah sebenarnya tidak selamanya gusar, tapi mengatakan ‘penegasan’. Ada disuatu keadaan Tuhan menuliskan nada perintah untuk hukum mutlak agar hati ada perasaan takut. Ada disuatu keadaan Tuhan menuliskan nada peramah untuk kasih sayang agar hati ada perasaan lembut. “Seorang prajurit Tuhan tak hanya disemai bunga, ia akan melihat tak terhingga anak panah.”

Andai, seorang mendalami, Tuhan mengajarkan banyak kepadanya mengenai ‘kelembutan’ jika seperti yang ia inginkan sebenar-benarnya. Ada sebuah cinta yang diselipkan dalam para hati-hati itu. Namun amat disayangkan, kebanyakan dari mereka menyalahartikannya. Bermaksud bak para awan dari langit-langit tertinggi semua harus tunduk kepadanya untuk melakukan apa yang diminta, kereta usungan dengan renda berjuntai untuk mengagungkan kemolekannya. Mengatakannya 'seorang putri yang minta dibawakan segelas air putih'. Para pengawal disana lalu dengan patuh layaknya ‘mengajuk kesemua tanah untuk menampi air saru.’ Kemudian berbantah-bantahan yang mendiami pada tubuh menimpuk bebatuan dari sana, tapi bak pembunuh peredam suara menghenyakkan pada sekeping hati dan meluluhlantakannya, lalu mati perlahan-lahan menjadi serpihan debu dari tepung darahnya. Apakah seorang mengira cinta adalah yang seperti itu, merampung segala hal demi kepentingan diri sendiri. Selalu menggunakan kata ‘keakuan’ sehingga tanpa iba hati melihat mereka yang sedang bersusah payah dalam peperangannya. Sungguhlah kejam andaikata sebuah cinta adalah yang demikian, rasa-rasanya guratan leher belum cukup ditambah pula dengan membelenggu rantai berduri sedang menjadikan mereka sebagai orang-orang peranakan. Memejamkan saja kelopak mata dengan lunglai karena tak tahu lagi bagaimana kutukan yang mengarak perumpamaan sihir darinya lalu menanam didalam, mengatakan hal-hal berbau cahaya tapi ternyata api birunya.

Cinta tidaklah demikian. Cinta sebenarnya seperti bagaimana Tuhan mencintai hambaNya, bagaimana Tuhan memberi rezeki dan menuntun seorang ke jalan yang lurus, walaupun seorang itu sering berbuat dosa tapi Tuhan akan selalu melihatnya. Bagaimana seorang hamba melaksanakan perintah yang dalam genggamannya bukan karena ‘ketakutan’ tapi ‘kesetiaan’, karena baginya ia sudah banyak diselamatkan, darisana ada perasaan ingin membantu pula agama Tuhannya, walaupun terkadang ia mendapatkan ujian yang berat dalam mengambil alih itu, akan dijalaninya dengan rasa penuh syukur.

Cinta bisa dikatakan mengenai kisah seorang yang mencintai seorang lain disana, kesungguhan dalam hati yang adalah pilarnya. Ketika perasaan itu ada,
Bak ingin menjadi sebuah pergoula di sebuah taman bunga, meneduhi segala yang ada dibawahnya. Ia juga akan senang hati, karena  bisa berdampingan dengan mereka yang indah bentuk-bentuknya. Lihatlah kehidupan yang seperti itu,  ia tidak merasa ada paksaan karena pula dipercaya untuk melakukan tugas ini. Lihatlah pula anak-anak kakinya seperti ingin bergetar seri, karena sekawanan tanaman sulur memainkan sisinya, sembari berlarian kecil kearah tawang. Bunga tipped merah muda dengan rona bersemu merekahkan mahkotanya pada musim ini, juga ikut menyelipkan anak-anaknya diantara tanaman itu. Tapi bagaimana jika dihadapkan dengan kehidupan dicahaya yang matahari yang begitu terik atau guyuran air hujan yang begitu dingin, sayang sekali pergoula itu akan mengarati besi putih indahnya sehingga terlihat muram. Namun diluar dugaan, tanaman itu ternyata beramai-ramai merentangkan tangan mereka lebih panjang lagi dan lebih membesarkan ruas dahannya pula menajukkan daunnya serta bunga, untuk meliliti kaki-kaki dan atas atap, berbalik melindunginya. Melihat itu ia sungguh terharu, lalu semakin menguatkan diri lagi agar pengorbanan itu tak sia-sia. Keduanya membatin, “Setidaknya suatu hari nanti diluaran ragaku sudah terlalu lemah, tapi didalam sini aku sudah bahagia.”


--
Penggaruk pohon masih disana, tak ada orang yang tahu bahwasanya ia masih dengan tulisan-tulisan mengerik punggung kayunya. Sembari melihat dari kejauhan, seorang dengan indahnya seperti helai tiap tuturan dengan yang serbuk-serbuk disana memperkarakan dari serpihan kacanya lalu berkitar ditaman sana. Tapi bagaimanakah, diri sendiri sangat malu dan tak bisa mengutarakan pada orang itu. Akhirnya masih merenungi dan mulai menanyakan ‘bagaimana sebagian orang dengan percaya diri bisa mengungkapkan bahwa kesalihannya sudah pantas bersanding dengan seorang didepan, atau jika layaknya dengan tengadah seolah sudah mengungguli semua yang dibawah sehingga menganggap amat pantas mendapat yang lebih baik.’ Bukankah diri ini banyak kekurangan, apakah mudah sekali mengujar kalimat itu dari lidah, karena diri sebenar-benarnya tak punya ‘alat ukur’ untuk mengetahui itu semua. 

Tangannya tersentak, sepertinya ia sudah mengikis papan didepan agak dalam, bunggul-bunggul didalamnya hampir tak terlihat. Batuan yang menjadi pisau ukirnya dikarenakan tak henti menggoreskan petakan aus didepannya, mengukir dengan hati-hati untuk membuat bagian timbul sehingga memperjelas rangkaian kata dari berbuku sebilik katup kepala penulisnya, dan belum bilik-bilik lainnya. Sebenarnya mereka ingin mengatakan banyak hal, tapi tertahan dengan lajur dari mata penanya yang sedang bekerja dengan giat. Adakah tempat istirahat--tapi sepertinya belum. Penggaruk pohon hanya bisa tersenyum melihat itu, ia pun memegangi kepala benda itu agar menyandarkan disebelah petakan. Sembari melihat kiri dan kanan bahunya, banyak orang yang sudah menyelesaikan tulisannya lalu bersigap berjalan menuju loker orang yang mereka puja selama ini. Disana adalah kotak surat untuk mengutarakan perasaan, seorang hanya tinggal menuliskan nama pengirim pada ampolp merah muda berbentuk persegi yang sudah dilipat sedemikan rupa dengan perekat pada lipatan segitiga pembuka diujungnya. Didalam sudah berisi sebuah surat yang dipetakan dari mengukir punggung pohon masing-masing. Sepertinya ukir bunga disisi-sisi bungkusan itu menyemai banyak, dengan rona dari warna dindingnya juga menambah anggunnya. Tapi penggaruk pohon yang satu itu belum menyelesaikan tulisannya, sebenarnya ia pun tak berniat untuk mengirimkannya. Buka tutup jendela pada dirinya selalu mengiat hingga suara itu terdengar sangat tidak menyenangkan, dari makhluk bergarpu juga menutuk semakin keras hingganya ia diam-diam mengangkut setengah punggung lengan kearah wajah lalu berkata, “alasanku menutup seperti ini, karena aku malu pada diriku sendiri.”

Rasa yang menggeliat didalam diri karena ingin sekali menudungi orang yang dipujanya dengan atap-atap baik dari Tuhan. Itu sebabnya jika hanya mengutarakannya tapi tak melakukan apa-apa akan menjadi hal yang bias. Dan sebenarnya seorang yang hanya hidup menunggu dan menunggu dengan berharap akan mendapat balasan dari surat yang menuliskannya berbait dan membibitkan perasaan indah disana namun setelah itu berdengki jika tak sesuai yang diharapkannya, dalam kesalahan. Sebaiknya menggunakan ketulusan, itu lebih baik. Kesungguhan didalamnya yang akan mengantarkannya ke tempat cinta yang sebenarnya, entah bertemu dengan kitab rela berkorbannya atau kitab bahagianya. Seorang tak akan menemukan sejatinya jika memiliki hati angkuh, ia tak tahu tentang warna merah muda.

“Seperti pada warna marun, ia membalurkan dirinya pekat untuk bisa memayungi warna merah muda yang ada didalam. Cinta sesungguhnya tidak digunakan untuk diri sendiri, tapi untuk melindungi yang dikasihi.”

Penggaruk pohon menghentikan sejenak tulisannya, masih banyak yang harus dikerjakan. Beranjak dari bunggul kayu yang masih membungkus seratnya, dan pisau ukir kali ini menjadi pelindur yang bergelantungan di pohon sana. 


seravi

Komentar

Postingan Populer