Framboise
Keranjang itu berbentuk kotak anyaman persegi dengan kain
renda putih tulang disisi-sisi, memandanginya lama akan membuat berpikir sebuah
ide untuk hal yang indah. Rasanya sudah terlalu banyak isi aura dalam
sini yang meleburkan anak-anaknya bersari pahit membentuk secawan untuk
diminum. Ternyata yang didalam sana tak semudah itu ditenangkan hingganya
ditakutkan akan menegak semua, itu sebabnya ingin keluar sebentar untuk
mencari tempat berlari dengan ke kebun belakang yang diharap akan bisa
mengganti dengan yang lebih segar. Ia pun segera membuka pintu kayu yang
dimaksudkannya dan mulai menelisik perhatian keisinya yakni sebuah pekarangan
rapi berpagar kayu putih agak rendah. Ada pepohonan tidak terlalu tinggi
disana, masih dengan semak anggunnya seperti biasa, sulurnya bergerak
menggulung digerakkan makhluk selubung di pohon yang dengan lincahnya mengitari dahan.
“Kesungguhanku adalah memintal benang-benang dari serat alami yang suatu hari
akan berguna kala langit-langit menjatuhkan pengguruh.”, katanya sambil
tersenyum. Tapi musim ini sepertinya mereka belum menghasilkan buah yang
banyak, mungkinkah banyak penyakit yang mengarati daun-daunnya. Padahal
biasanya dari kejauhan ini akan penuh ruah dengan berbintik-bintik merah
seperti yang ada pada pipi seorang anak. Bisa menghasilkan satu atau dua
keranjang, lalu memetiknya akan mudah sekali karena mereka banyak muncul
kepermukaan, tidak bersembunyi di tumpukkan daunnya yang lebih dalam. Namun
jika sudah seperti ini maka akan lebih sedikit teliti menyurukkan kepala dalam
pohon itu yang hanya kisaran tinggi seorang anak yakni lima kaki, lebatnya
membuat tak terasa sudah menyentuh duri-duri besar pada tangkainya, hampir sesangar
pada pohon mawar.
Tanaman raspberry
merah khas dengan ciri yang dibuatnya, daun yang ketika muncul dari bawah
tanah akan berwarna hijau pucat lalu kelamaan itu akan membalur hijau tua yang
masih tak teratur hingganya masih tertinggal bercak hijau mudanya, bentuknya
bulat telur yang meruncing ujungnya dengan sirip bergerigi tajam. Tangkainya
berwarna pucat yang ketika digosok seperti mengelupas kulit asli didalamnya
yakni kebiru-biruan, disana memiliki bulu halus yang amat banyak untuk
melindunginya. Buahnya berbentuk seperti topi tidur seorang, berwarna merah
cerah yang dari sekumpulan berbintil-bintil anak daging buah yang mengelilingi
luaran biji, dan berongga sehingga mudah dipetik dengan kumpulan butirnya akan
lekas terjatuh dari tangkai. Sedikit berbeda dengan saudaranya yaitu blackberry, ia bergerumbul tapi tidak
berongga sehingga ketika dipetik butir yang terhubung dengan tangkai ada yang
masih tertinggal disana. Bisa dikatakan tubuh saudaranya lebih besar, seperti
seorang anak yang lebih tinggi darinya yakni sepuluh kaki, tangkainya berwarna
hijau, batangnya kuat besar dan yang ini durinya sudah sekeras seperti mawar, walau lebih
sedikit dan tak terlalu berbulu. Tapi mereka semuanya adalah sama-sama tanaman
peneduh kebun yang sangat indah. Ada kawanan lain dalam keluarga mereka, yakni gold
raspberry dengan singgasana warna kuning keemasannya yang termasyur, atau fall-bearing
raspberry dengan warna merah atau merah tua saat musim gugurnya yang
bijaksana. Dan masih banyak lagi yakni marionberry, boysenberry, loganberry,
youngberry, dewberry, salmonberry. Ada dari mereka yang tumbuh di permukaan batang, ada pula yang hanya
hidup menjalar pada tanah. Area yang luas dengan banyak tanaman itu dapat
dipanen untuk membuat selai pada lapisan pai dan kue-kue yang sangat enak.
Ia masih mencari,
menyelongsong ke pohon belakang dan seterusnya, tapi sepertinya tak menemukan
apa-apa, hanyalah bak rumah-rumah yang tajam dari penduduk disini yang perlahan-lahan
ternyata pandai menggarit kaca. Ia lalu berdiam beberapa detik, dilihatnya
sekeliling, diatas kepalanya dihilir makhluk terbang tadi yang kesana-kemari kelihatannya
sibuk menebarkan bubuk seperti lalu menampalkan ulasan kedalam sini. Ia pun mengalihkannya
ke pendapat lain, karena bukankah ada diluar dugaan seorang yang masih belum
diketahui, misalnya berry liar. Ia pun hanya tersenyum melihat kedalam keranjangnya
yang masih kosong karena juga memikirkan hal itu. Sebenarnya tak harus memaksakan
mereka untuk berbuah, ada banyak tempat lain di dunia ini yang diberi lebih
untuk menumbuhkan banyak. Untuk itu akan mengistirahatkan mereka sebentar,
mungkin ada yang harus dikerjakan untuk menyelesaikan masalah tersembunyinya,
ada penyakit dalam yang sedang dijalaninya atau huru-hara dari bawah tanah atau
para pelahap yang sedang memburunya, kita tak tahu. Walaupun selama ini sudah dirawat
sedemikian rupa baik diberi nutrisi dan tempat hidup yang layak, seorang tak
bisa buru-buru untuk memintakan walaupun buah-buah itu adalah tempat penyimpanan
makanan berlebihan yang dihasilkan oleh mereka. Sebaiknya menunggu mereka
memberikan seikhlasnya, tak baik jika menyegerakan segala yang bertautan pendapatnya didalam diri sendiri,
karena mereka pun pula makhluk hidup yang juga memiliki keinginan. Sebagian
manusia tentu akan berpikir bagaimana keharusan dalam mengambil balasan dari hak
tertingginya pada kebun-kebun yang diusahakan, namun sebaiknya didalam juga
merasakan bagaimana mereka juga bekerja keras, terkadang harus berpuasa dalam
musim yang begitu sulit, sedangkan tuannya tidak akan tahu.
Ia mulai beranjak dari sana, sembari menjauhkan ranting-ranting
yang menaikkan setengah lengan bajunya sehingga sudah dilihatnya penuh sekali
luka, dan benar sekali, memang akan mendapat resiko seperti ini. Tapi dibiarkannya, lalu segera
menuju ke pintu yang dimasukinya tadi, menekankan engsel yang ada pada
daun pintu sembari melayangkan pandangan kebelakang, memikirkan yang sedang
membatin didalam, nanti akan diluangkan waktu mencari cara untuk membantu
kebunnya. Kemudian sedikit melangkah perlahan keluar rumah, selagi belum waktu makan
malam akan dipergunakan waktu sebaiknya untuk mencari buah itu, pikirnya. Ia
sedang menyiapkan sebuah rencana, sebenarnya akan memakan waktu yang lama, bayangannya ketika melewati dapur yang ada disamping dan membawa beberapa
perlengkapan darisana. Tempat itu padahal sudah siap dengan segala atributnya,
bawah tungku juga sudah disematkan kayu bakar. Ah sungguh berharap akan mendapatkan
bahan yang dibutuhkan, untuk itu ia segera menoleh ke anggukan buka tutup yang
ada pada dinding, berbentuk rumah yang ditinggali seekor burung yang selalu
membingitkan telinga penghuni disini. Apakah benda itu akan memberi waktu cukup,
karena ia harus menelisik ke banyak tempat, tapi bukankah belum dicoba. Ia pun memulai
perjalanan ke hutan, dari menyinggahi wilayah yang sering ia kunjungi. Disana ada
banyak tanaman-tanaman berry liar yang tumbuh, tapi memang nantinya waktu buah
matang akan beraneka ragam dan tak bisa diperkirakan dengan mudah walau dengan
melihat seberapa jarak jauh diutara dan selatan tempat mereka hidup. Itu
sebabnya ia akan mencarinya saja dengan perlahan seperti dengan menelusuri satu
jalan terusan lajur tanah yang berkelok yang ada didepannya, ini tak akan
menyulitkan penglihatan, karena sisi kiri dan kanan sudah rapi dengan
pohon-pohon yang saling mengarak.
Sudah hampir setengah jam ia berjalan, dan akhirnya tak seberapa jauh
dari menjajaki tanah itu, ia pun menemukan segerumbulan daun yang tak asing
baginya ketika membelakangi batas sebuah kelukan jalan yaitu sebuah pohon besar,
membentuk gua dari akarnya yang menyembul keluar. Tapi ah ya ampun, ketika
mendekatinya banyak sekali jelatang sehingga membuat rasa gatal pada permukaan
kulit yang menyentuhnya. Tapi ia masih mencoba meraih yang pucuk memperlihatkan
buahnya. Berwarna hitam dengan butir merah beberapa dikitarannya, bentuknya
bundar dan sangat kecil. Ia mulai mengendus dan mencicipi, dan ketika
memasukkan kemulut, ah ya ampun rasanya begitu kelat, wajahnya seketika memipih
dan menggidik tengkuk belakang. Kemudian ia mengambil yang lain dan seterusnya,
walau sudah dikunyah perlahan terlebih dahulu akhirnya dilepehkan juga ketelapak
tangan, bukan seperti ini yang dibutuhkannya. Ia pun menarik diri darisana dan kembali ke jalanan yang tadi, menapakkan
kaki sambil menilik ke bagian-bagian tertentu yang diduganya ada tanda
keberadaan tanaman yang dicarinya. Dan ia menemukan lagi, tapi sayang sekali,
buah itu masih masih terbungkus hijau, tentulah belum siap untuk diambil. Ia
pun melanjutkan berjalan, kaki sebenarnya sudah meredam banyak hal, hingganya
membentuk tapal yang kuat, hanya saja seringkali ceroboh. Sebenarnya hujan
semalam membuat genangan air digundukan tanah yang membuat pijakan menjadi
licin. Olehnya ia harus dengan hati-hati, seperti mengambil sisi jalan yang
berumput atau sambil memegangi pohon atau mengambil area yang sedikit berbatu.
Itu membuat ia berhasil melewati beberapa kelukan, dan tak
disangka lalu menemukan lagi, ada di sela-sela tanaman lain yang berdahan rendah
didekat pohon besar pula, tapi kali ini ia belum yakin. Ditakutkan ini adalah yang
beracun, karena memang tak bisa dipungkiri, tanah itu terbengkalai dan banyak
hal yang tidak menyenangkan hidup didekatnya. Perasaan tidak aman pun bertambah
datang menyelimuti, ada yang bergerak-gerak di balik akar serabut besarnya yang
lebat, mungkinkah ada hal lain lagi yang tidak menyenangkan, karena tak bisa
berpikir banyak kakinya terpaku dan terduduk disitu. Tapi ada layaknya beberapa
kali ketukan dari dirinya yang berusaha menyentakkan luaran raganya agar segera
menarik diri beranjak dari sana, dan ia pun berhasil berbalik, kemudian berlari
sekencang mungkin. Berlari dan terus berlari, hingga ia terengah-engah dan
memberhentikan diri. Tersadar ia sudah terpisah dari jalanan utama, ah ya ampun
sudah tersesat sepertinya. Akhirnya ia hanya bisa meneruskan jalanan didepan
seadanya, sembari melihat langit kalau-kalau sudah menutupkan selimut tebalnya.
Jika sudah begini, ia mengambil kalung kompas jam milik kakeknya, tembaga ukir
klasik dengan jarum hitam didalam. Tapi saat itu tak bisa dibayangkan, disaat
genting seperti ini benda bertudung runcing itu bergerak tak tentu arah, hanya
membuatkan seperti jungkat-jungkit yang memainkan bebannya yang tidak berat.
Lirih tapi ia tetap melihat sebundar benda itu, sembari memainkan
penutupnya hanya untuk meyakinkan apakah masih berfungsi ataukah tidak. Semoga tak
kehilangan akal, karena sekelebat isi hutan membuat kepalanya semakin berputar dan
ada serasa dihenyakkan kedalam untuk menghimpit ruang-ruangnya. Ia lalu menghentikan
usahanya, dimasukkan kembali jam itu dalam saku tempat semula. Saat ini ingin menenangkan
diri dahulu, maka ia duduk menyandar di salah satu pohon yang ada disana,
batangnya kurus terkujur kaku tak memiliki anakan batang besar lainnya, tapi
lebar disana masih cukup untuk sanggahan. Tempat istirahat yang cukup baik
dengan tanahnya yang agak kering, ia lalu meratakan kaki dan membersihkan bajunya,
mengibaskan udara dengan kain yang ada dan meneguk air asam manis yang diambil
dari keranjang, lalu berdiam beberapa menit. Sembari itu melihat sekeliling, dan entah mengapa seketika
matanya tertuju pada sebuah area, ada tanah terang diseberang dengan berkas
cahaya khasnya, dan ada sebuah bangunan yang dilindunginya. Ia sungguh
tertegun, lalu segera beralih dari tempatnya dan mengendap-ngendap seperti
seeokor tupai yang ketakutan, mencoba mendekat kesana. Hal yang sungguh aneh
ada bangunan seperti ini disebuah hutan, ia pun semakin mendekat. Tanaman semak
memudahkannya untuk bersembunyi agar bisa melihat lebih leluasa apa yang
didepannya. Ia mencoba berpikir teliti, dan meyakinkan diri agar ini bukan sekedar
khayalan. Benar dugaannya akhirnya ada sebuah, dan itu sempurna berbentuk kubah
putih dengan pilar-pilarnya, lampu taman yang ternyata meneranginya, ada disisi-sisi
itu, berbentuk klasik warna putih dengan rumah penutup kaca anggunnya. Bangunan
itu sudah tua sepertinya, dari kejauhan terlihat dari dindingnya yang hampir
mengelupas, tapi masih kukuh lengkungan atapnya. Rasa penasaran membuatnya
semakin mendekat, dan tak terasa sudah mengantarkannya tepat berada diarea yang
luas itu. Ada perasaan yang menggidik, ia melipatkan tangan kedada dengan bahu
menaik sedikit, lalu kepala menikung ke salah satu pilar kemudian mulai menilik
dberanda lantai depan kubah yang ubinnya juga berbatu putih. Dan ia sudah
dibawah tudung itu, ketika menengadahkan wajah akan melihat palang-palang atas
yang sudah tertera ukiran timbul sebuah pemandangan tanaman bunga beriak-riak. Lalu
didepannya adalah pintu yang besar dan sangat tinggi dengan gagang keramik
indah. Dengan sedikit keberanian ia mencoba untuk mengetuk dan kali ini
berdeham agar menghasilkan suara agak keras, “Permisi, apakah ada orang didalaaam?”,
katanya sembari menempelkan telinganya kesana.
Tapi tak ada jawaban, yang terdengar hanyalah suara dirinya
sendiri yang menggema karena dipantulkan oleh tempat ini. Ia pun terduduk lesu
disana, dengan daun pintu sebagai alas kepalanya, tangannya diletakkan diatas
lutut yang ditekuk lalu menelungkupkan wajah kedalam dan terbenam sejenak disana. Setelah agak lama kemudian menengadahkannya,
dan apa yang dilihatnya didepan, tak disangka suatu yang membuatnya terperangah, ada semak tinggi penuh
berbutir-butir merah disana. Ah ya ampun, bukankah ini kebun berry, dan tadi
dilewatinya saja saking tak memperdulikan sekitarnya lagi karena melihat
bangunan besar ini. Ia pun segera beralih kesana sambil membawa keranjangnya,
tapi tunggu dulu sepertinya ada yang dilewatkannya lagi. Benar juga, ia belum
meminta izin dengan pemilik kebun di pekarangan ini. Tapi bagaimana,
kelihatannya harus menggunakan banyak insting, karena lihatlah tempat ini tak
terurus dan tak menunjukkan ada kehidupan manusia. Ia berpikir, dan akhirnya
hanya diam disana. Sembari itu tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki, dan semakin
lama semakin jelas. Ia memejamkan mata tak berani untuk menoleh. Tapi
akhirnya tersentak karena ada sebuah suara sapaan yang begitu ramah. Ia pun
dengan perlahan membalikkan badan, ternyata disana ada seorang tua dengan tongkatnya,
mengenakan kemeja krem biasa yang dilapisi sweater hangat dengan celana panjang
coklat. Ini membuatnya lega, ah syukurlah, batinnya, karena tadinya ia sudah mengira yang tidak-tidak. Orang tua itu tersenyum padanya dan berkata, “Apa
kau tersesat anakku?”, kedua tangan renta disana lalu menumpu pada pegangan
kepala penyangga yang tak terlalu panjang itu.
Lawan bicara didepan menundukkan kepala dengan sopan lalu dengan sigap menjawab tapi mungkin akan
terbata-bata, “A..aku tidak sengaja melihat bangunan itu”, katanya terus terang
sambil menunjuk kearah kubah tadi yang ada disana.
Orang tua itu pun kembali memberikan senyum simpul dan
berkata, “Ya aku tahu, mungkin kau juga berpikir sungguh aneh ada bangunan
seperti ini di tengah hutan, tapi begitulah adanya. Sebenarnya dahulu itu milik
seorang bangsawan, gudang tempat penyimpanan barang-barang miliknya,” jelas orangtua
itu sembari kali ini menggerakkan tangan kanannya kebelakan sehingga tangan
kiri saja yang menumpu berat tubuhnya.
Kemudian orangtua itu melanjutkan lagi sambil tersungging lebar sehingga
menggetarkan tongkat, “Keranjangmu sepertinya sudah siap untuk memanen mereka”.
Ia tadi yang kaku menjadi sedikit luasa mendengar itu, dipikirannya
orangtua ini bukanlah orang yang jahat, lalu ia pun menjawabnya bisa dengan nada ringan, “Ah begitulah”, katanya malu sembari menggaruk kepala yang tak gatal, “Tapi
kalau ada pemilik kebunnya aku juga akan meminta izin langsung padanya.”,
katanya buru-buru dengan ramah.
Orangtua itu menyipit matanya, “Bisa kau lihat nak disini
tak ada aura hunian, dan itu sudah berlangsung berkurun lamanya”, kemudian
orangtua itu diam sejenak dan melihat kebelakang, “Yah begitulah, ini adalah
reruntuhan dari kerajaan masa lalu, kau beruntung bisa melihat salah satunya”.
Kemudian orangtua itu kembali berbalik dan bertanya sambil memelintir kumisnya
dengan tangan yang dibelakangkan tadi, “Apa yang membuatmu mencari buah-buah
itu hingga kau bisa tersesat sampai ke hutan yang jauh ini?”
Sebenarnya itu pertanyaan yang tak ingin dijawab dan juga
tak sesuai dengan situasi yang seperti ini. Tapi akhirnya dijawabnya dengan
nada lirih, “Sebenarnya aku ingin membuatkan pai untuk seorang. Aku ingin
meminta maaf padanya. Apa yang kau lakukan ketika meminta maaf, tentu sebaiknya
memasukkan bahan-bahan yang manis atau baik dan meletakkan tulus didalamnya,
bukan.”
“Pai frambuse ya, tapi sebenarnya pai apel lebih baik. Ah
kembali lagi pada perkataanmu tadi, kau sepertinya sudah membuat kesalahan, apa
kau berharap agar orang itu melupakan kesalahanmu? Kalau begitu kau sudah
mendapat tempat yang tepat. Ini adalah kebun berry yang mempunyai khasiat
langka. Pemiliknya dahulu sudah membuatkan ramuan khusus, sehingga mereka
mempunyai kemampuan agar membuat yang memakan atau meminumnya dapat hilang
ingatan untuk suatu kejadian tertentu.”, jelas orangtua itu berusaha ingin
membantu.
Ia yang masih berdiri dekat semak tadi tentu terperangah tak
percaya karena itu dan langsung bertanya, “Bagaimana kita tahu jika itu berlaku
pada ‘kejadian tertentu’ jika kita tak tahu pada saat itu adalah ‘kejadian
tertentu’ itu?”
“Seperti contohnya ketika kau melakukan kesalahan pada orang
yang kau maksudkan kemudian kau memberinya minuman dari sari buah ini dan
seketika ia bisa melupakan kejadian beberapa selang waktu dibelakang pada hari
itu. Bukankah itu yang dibutuhkan oleh seorang peminta maaf, yakni agar orang
yang dimintainya menghapus saja memori tersebut. “, jelas orangtua itu lagi.
Melihat orangtua disana berkata dengan begitu akhirnya ia
percaya, tapi ia akan menjawabnya dengan nada serius. “Tidak seperti itu, aku tak meminta
ia melupakan kesalahan yang telah kulakukan. Apakah sebagian manusia akan
berpikiran seperti itu? Karena sebenarnya sesuatu yang telah disakiti bukan
menghendaki segala layaknya tak terjadi apa-apa setelah itu, tapi pengakuan dosa dari pemberinya. Sungguh
keji jika mengatakan itu agar dibiarkan kosong saja, tidakkah seorang merasakan
bagaimana akibat dari perbuatannya.”, katanya tanpa ketir menimpali tapi masih dengan sopannya, kemudian memberi sedikit
ruang jeda untuk mengatur nafas. Orangtua didepannya hanya diam mendengarkan, melihat itu akhirnya
ia melanjutkan dengan merendahkannya lagi suaranya.
“Sebagian manusia mungkin akan menganggap dengan meminta
maaf layaknya pelarung itu akan mudah terkatup dengan sendirinya. Lalu membuatkan kalimat di permukaan ‘aku sangat memberi hormat pada
orang-orang yang mengakui bahwa
mereka yang disakiti dapat menangani permintamaafan dan tidak menempatkannya didepan orang lain’. Namun meniatkan didalam seperti menunjukkan bahwa si peminta maaf tidak mau kemasyhuran miliknya ditilik maka supaya orang itu
agar menutup buku-bukunya. Bagaimana seorang masih bisa mengatakan mengenai hal-hal seperti harga diri, apakah dengan demikian tidak berpikir bagaimana seorang yang
menanggung mempunyai beban amat berat yang sudah dipermalukan oleh orang itu disana.”, katanya selugas mungkin kemudian
melanjutkan lagi. “Mengapa harus ada pengakuan dosa? Setidaknya seorang harus
bertanggung jawab terhadap apa yang sudah ia rusakkan. Dan darisana orang yang diberi
sakit dapat mengurangi bebannya dan lebih akan menghargai hal itu daripada membuatkan sebuah pengurungan wujud sendiri yang tak bisa diterjemahkan laman-lamannya, karena lisan
seperti itu bisa saja dibuat dengan hati yang tidak tahu tulus atau tidaknya, apa saja pembajakan pada tempat-tempat persembunyiannya, bagaimana haluan-haluan yang membuatkan pemikiran tertingginya untuk menaklukkan perihal seperti kelemahan. Kemudian banyak diantaranya ditambah dengan berbagai ulasan membela diri
sendiri sehingga seolah berbalik menyudutkan pada orang yang diberi sakit tadi.
Tapi dengan seorang yang berani mengakui dosa-dosanya, berharap agar ada rasa bersalah yang tidak angkuh karena ingin menanggalkan sebuah hati yang keras. Mengakui bahwa ia telah menyakiti yang lain,
sehingga agar ada kejelasan aturan beretika yang tersirat diantara kedua belah pihak bahwa ia benar bersalah, layaknya sungguh-sungguh ingin meminta mengatupkan larung itu, kemudian nantinya ia bisa menjadikan sebuah peringatan-peringatan keras ketika sesuatu disana luput dalam anggapan penglihatannya, maka dibukakan lagi dari tempat yang disimpan bermaksud agar
pada kenyataan dikemudian hari dapat memperbaikinya.”, katanya mengakhiri penjelasnnya.
Orangtua itu masih diam, lalu akhirnya
berkata dengan simpati “Aku berharap sebagian orang bisa seperti itu, nak”.
“Dan aku sungguh berharap kau pula sebaiknya mengubah pikiranmu yang tadi.”,
katanya membuat orangtua itu hanya diam lagi. Perbincangan ini menjadi hening
agak lama, ia pun menjadi tak enak hati lalu segera membuka pembicaraan baru “Aku sepertinya tak jadi mengambil
buah ini, aku hanya berharap agar bisa pulang, jika diperbolehkan apa kau bisa
membantu menunjukkan jalannya?.”, tambahnya lagi.
Orangtua itu pun memberikan tangannya seperti ingin
mempersilahkan ke anak di depan untuk jalan lebih dulu, dan ia akan bersedia
sebagai pemandu jalannya. Mereka lalu segera meninggalkan area itu, kubah putih
indah dengan kedap sunyinya dengan berry memabukannya. Dan semakin lama semakin
meninggalkannya hingga tak terlihat lagi area itu dari kejauhan, mereka ternyata sudah
melalui berapa banyak kelukan jalan. Namun belum sampai sang pemandu jalan
berhenti ditempat dan berkata, “Aku sampai disini mengantarkanmu nak. Tapi jangan
khawatir, karena setelah kau keluar dari jalan didepan ini, kau akan sampai
pada tempat semulamu tadi, dan akan mengantarkanmu pulang.”, katanya sambil
tersenyum simpul khasnya.
“Terimakasih banyak. Semoga Tuhan selalu melindungimu.”,
katanya tersenyum ramah pada orangtua
itu sembari melambaikan tangan. “Semoga kita bisa bertemu kembali.”, teriaknya
dari jauh. Ia pun segera melangkahkan kakinya ke jalan yang dimaksud, tapi
sebenarnya dalam hati masih khawatir pada orangtua itu kalau-kalau tak bisa
menemukan jalan kembali pula. Ia lalu menoleh lagi, tapi ketika itu orangtua
tadi sudah tak ada. Seperti hal yang mistis, tapi ia berharap kejadian ini bukanlah
yang demikian. Maka ia menghapus gambaran yang tidak menyenangkan, ia masih percaya dengan orangtua itu, sebenarnya ia orang baik hanya kelihatannya terlihat bingung. Dalam hati berharap orangtua itu akan baik-baik saja ketika
berpulang. Ia pun mengatakan pada diri untuk menceritakan hal baik-baik pula dan agar bisa memusatkan pada jalannya, karena tak
mau hari bertambah gelap. Kemudian ia lebih mencepatkan langkah lagi, sembari mengambil pijakan yang mudah. Dan tak lama dari itu sampailah pada jalan awal yang dilaluinya tadi. Ia pun segera
berjalan cepat dan menuju pulang. Tak mengapa keranjang berry itu kosong, tapi ada sebuah lagi hari ini yang tak terlihat sedang dibawanya, bukan.
seravi


Komentar
Posting Komentar