Framboise

www.silverspiral.com



Keranjang itu berbentuk kotak anyaman persegi dengan kain renda putih tulang disisi-sisi, memandanginya lama akan membuat berpikir sebuah ide untuk hal yang indah. Rasanya sudah terlalu banyak isi aura dalam sini yang meleburkan anak-anaknya bersari pahit membentuk secawan untuk diminum. Ternyata yang didalam sana tak semudah itu ditenangkan hingganya ditakutkan akan menegak semua, itu sebabnya ingin keluar sebentar untuk mencari tempat berlari dengan ke kebun belakang yang diharap akan bisa mengganti dengan yang lebih segar. Ia pun segera membuka pintu kayu yang dimaksudkannya dan mulai menelisik perhatian keisinya yakni sebuah pekarangan rapi berpagar kayu putih agak rendah. Ada pepohonan tidak terlalu tinggi disana, masih dengan semak anggunnya seperti biasa, sulurnya bergerak menggulung digerakkan makhluk selubung di pohon yang dengan lincahnya mengitari dahan. “Kesungguhanku adalah memintal benang-benang dari serat alami yang suatu hari akan berguna kala langit-langit menjatuhkan pengguruh.”, katanya sambil tersenyum. Tapi musim ini sepertinya mereka belum menghasilkan buah yang banyak, mungkinkah banyak penyakit yang mengarati daun-daunnya. Padahal biasanya dari kejauhan ini akan penuh ruah dengan berbintik-bintik merah seperti yang ada pada pipi seorang anak. Bisa menghasilkan satu atau dua keranjang, lalu memetiknya akan mudah sekali karena mereka banyak muncul kepermukaan, tidak bersembunyi di tumpukkan daunnya yang lebih dalam. Namun jika sudah seperti ini maka akan lebih sedikit teliti menyurukkan kepala dalam pohon itu yang hanya kisaran tinggi seorang anak yakni lima kaki, lebatnya membuat tak terasa sudah menyentuh duri-duri besar pada tangkainya, hampir sesangar pada pohon mawar. 

Tanaman raspberry merah khas dengan ciri yang dibuatnya, daun yang ketika muncul dari bawah tanah akan berwarna hijau pucat lalu kelamaan itu akan membalur hijau tua yang masih tak teratur hingganya masih tertinggal bercak hijau mudanya, bentuknya bulat telur yang meruncing ujungnya dengan sirip bergerigi tajam. Tangkainya berwarna pucat yang ketika digosok seperti mengelupas kulit asli didalamnya yakni kebiru-biruan, disana memiliki bulu halus yang amat banyak untuk melindunginya. Buahnya berbentuk seperti topi tidur seorang, berwarna merah cerah yang dari sekumpulan berbintil-bintil anak daging buah yang mengelilingi luaran biji, dan berongga sehingga mudah dipetik dengan kumpulan butirnya akan lekas terjatuh dari tangkai. Sedikit berbeda dengan saudaranya yaitu blackberry, ia bergerumbul tapi tidak berongga sehingga ketika dipetik butir yang terhubung dengan tangkai ada yang masih tertinggal disana. Bisa dikatakan tubuh saudaranya lebih besar, seperti seorang anak yang lebih tinggi darinya yakni sepuluh kaki, tangkainya berwarna hijau, batangnya kuat besar dan yang ini durinya sudah sekeras seperti mawar, walau lebih sedikit dan tak terlalu berbulu. Tapi mereka semuanya adalah sama-sama tanaman peneduh kebun yang sangat indah. Ada kawanan lain dalam keluarga mereka, yakni gold raspberry dengan singgasana warna kuning keemasannya yang termasyur, atau fall-bearing raspberry dengan warna merah atau merah tua saat musim gugurnya yang bijaksana. Dan masih banyak lagi yakni marionberry, boysenberry, loganberry, youngberry, dewberry, salmonberry. Ada dari mereka yang tumbuh di permukaan batang, ada pula yang hanya hidup menjalar pada tanah. Area yang luas dengan banyak tanaman itu dapat dipanen untuk membuat selai pada lapisan pai dan kue-kue yang sangat enak.

Ia masih mencari, menyelongsong ke pohon belakang dan seterusnya, tapi sepertinya tak menemukan apa-apa, hanyalah bak rumah-rumah yang tajam dari penduduk disini yang perlahan-lahan ternyata pandai menggarit kaca. Ia lalu berdiam beberapa detik, dilihatnya sekeliling, diatas kepalanya dihilir makhluk terbang tadi yang kesana-kemari kelihatannya sibuk menebarkan bubuk seperti lalu menampalkan ulasan kedalam sini. Ia pun mengalihkannya ke pendapat lain, karena bukankah ada diluar dugaan seorang yang masih belum diketahui, misalnya berry liar. Ia pun hanya tersenyum melihat kedalam keranjangnya yang masih kosong karena juga memikirkan hal itu. Sebenarnya tak harus memaksakan mereka untuk berbuah, ada banyak tempat lain di dunia ini yang diberi lebih untuk menumbuhkan banyak. Untuk itu akan mengistirahatkan mereka sebentar, mungkin ada yang harus dikerjakan untuk menyelesaikan masalah tersembunyinya, ada penyakit dalam yang sedang dijalaninya atau huru-hara dari bawah tanah atau para pelahap yang sedang memburunya, kita tak tahu. Walaupun selama ini sudah dirawat sedemikian rupa baik diberi nutrisi dan tempat hidup yang layak, seorang tak bisa buru-buru untuk memintakan walaupun buah-buah itu adalah tempat penyimpanan makanan berlebihan yang dihasilkan oleh mereka. Sebaiknya menunggu mereka memberikan seikhlasnya, tak baik jika menyegerakan segala yang  bertautan pendapatnya didalam diri sendiri, karena mereka pun pula makhluk hidup yang juga memiliki keinginan. Sebagian manusia tentu akan berpikir bagaimana keharusan dalam mengambil balasan dari hak tertingginya pada kebun-kebun yang diusahakan, namun sebaiknya didalam juga merasakan bagaimana mereka juga bekerja keras, terkadang harus berpuasa dalam musim yang begitu sulit, sedangkan tuannya tidak akan tahu. 

Ia mulai beranjak dari sana, sembari menjauhkan ranting-ranting yang menaikkan setengah lengan bajunya sehingga sudah dilihatnya penuh sekali luka, dan benar sekali, memang akan mendapat resiko seperti ini. Tapi dibiarkannya, lalu segera menuju ke pintu yang dimasukinya tadi, menekankan engsel yang ada pada daun pintu sembari melayangkan pandangan kebelakang, memikirkan yang sedang membatin didalam, nanti akan diluangkan waktu mencari cara untuk membantu kebunnya. Kemudian sedikit melangkah perlahan keluar rumah, selagi belum waktu makan malam akan dipergunakan waktu sebaiknya untuk mencari buah itu, pikirnya. Ia sedang menyiapkan sebuah rencana, sebenarnya akan memakan waktu yang lama, bayangannya ketika melewati dapur yang ada disamping dan membawa beberapa perlengkapan darisana. Tempat itu padahal sudah siap dengan segala atributnya, bawah tungku juga sudah disematkan kayu bakar. Ah sungguh berharap akan mendapatkan bahan yang dibutuhkan, untuk itu ia segera menoleh ke anggukan buka tutup yang ada pada dinding, berbentuk rumah yang ditinggali seekor burung yang selalu membingitkan telinga penghuni disini. Apakah benda itu akan memberi waktu cukup, karena ia harus menelisik ke banyak tempat, tapi bukankah belum dicoba. Ia pun memulai perjalanan ke hutan, dari menyinggahi wilayah yang sering ia kunjungi. Disana ada banyak tanaman-tanaman berry liar yang tumbuh, tapi memang nantinya waktu buah matang akan beraneka ragam dan tak bisa diperkirakan dengan mudah walau dengan melihat seberapa jarak jauh diutara dan selatan tempat mereka hidup. Itu sebabnya ia akan mencarinya saja dengan perlahan seperti dengan menelusuri satu jalan terusan lajur tanah yang berkelok yang ada didepannya, ini tak akan menyulitkan penglihatan, karena sisi kiri dan kanan sudah rapi dengan pohon-pohon yang saling mengarak. 

Sudah hampir setengah jam ia berjalan, dan akhirnya tak seberapa jauh dari menjajaki tanah itu, ia pun menemukan segerumbulan daun yang tak asing baginya ketika membelakangi batas sebuah kelukan jalan yaitu sebuah pohon besar, membentuk gua dari akarnya yang menyembul keluar. Tapi ah ya ampun, ketika mendekatinya banyak sekali jelatang sehingga membuat rasa gatal pada permukaan kulit yang menyentuhnya. Tapi ia masih mencoba meraih yang pucuk memperlihatkan buahnya. Berwarna hitam dengan butir merah beberapa dikitarannya, bentuknya bundar dan sangat kecil. Ia mulai mengendus dan mencicipi, dan ketika memasukkan kemulut, ah ya ampun rasanya begitu kelat, wajahnya seketika memipih dan menggidik tengkuk belakang. Kemudian ia mengambil yang lain dan seterusnya, walau sudah dikunyah perlahan terlebih dahulu akhirnya dilepehkan juga ketelapak tangan, bukan seperti ini yang dibutuhkannya. Ia pun menarik diri darisana dan kembali ke jalanan yang tadi, menapakkan kaki sambil menilik ke bagian-bagian tertentu yang diduganya ada tanda keberadaan tanaman yang dicarinya. Dan ia menemukan lagi, tapi sayang sekali, buah itu masih masih terbungkus hijau, tentulah belum siap untuk diambil. Ia pun melanjutkan berjalan, kaki sebenarnya sudah meredam banyak hal, hingganya membentuk tapal yang kuat, hanya saja seringkali ceroboh. Sebenarnya hujan semalam membuat genangan air digundukan tanah yang membuat pijakan menjadi licin. Olehnya ia harus dengan hati-hati, seperti mengambil sisi jalan yang berumput atau sambil memegangi pohon atau mengambil area yang sedikit berbatu. 

Itu membuat ia berhasil melewati beberapa kelukan, dan tak disangka lalu menemukan lagi, ada di sela-sela tanaman lain yang berdahan rendah didekat pohon besar pula, tapi kali ini ia belum yakin. Ditakutkan ini adalah yang beracun, karena memang tak bisa dipungkiri, tanah itu terbengkalai dan banyak hal yang tidak menyenangkan hidup didekatnya. Perasaan tidak aman pun bertambah datang menyelimuti, ada yang bergerak-gerak di balik akar serabut besarnya yang lebat, mungkinkah ada hal lain lagi yang tidak menyenangkan, karena tak bisa berpikir banyak kakinya terpaku dan terduduk disitu. Tapi ada layaknya beberapa kali ketukan dari dirinya yang berusaha menyentakkan luaran raganya agar segera menarik diri beranjak dari sana, dan ia pun berhasil berbalik, kemudian berlari sekencang mungkin. Berlari dan terus berlari, hingga ia terengah-engah dan memberhentikan diri. Tersadar ia sudah terpisah dari jalanan utama, ah ya ampun sudah tersesat sepertinya. Akhirnya ia hanya bisa meneruskan jalanan didepan seadanya, sembari melihat langit kalau-kalau sudah menutupkan selimut tebalnya. Jika sudah begini, ia mengambil kalung kompas jam milik kakeknya, tembaga ukir klasik dengan jarum hitam didalam. Tapi saat itu tak bisa dibayangkan, disaat genting seperti ini benda bertudung runcing itu bergerak tak tentu arah, hanya membuatkan seperti jungkat-jungkit yang memainkan bebannya yang tidak berat. 

Lirih tapi ia tetap melihat sebundar benda itu, sembari memainkan penutupnya hanya untuk meyakinkan apakah masih berfungsi ataukah tidak. Semoga tak kehilangan akal, karena sekelebat isi hutan membuat kepalanya semakin berputar dan ada serasa dihenyakkan kedalam untuk menghimpit ruang-ruangnya. Ia lalu menghentikan usahanya, dimasukkan kembali jam itu dalam saku tempat semula. Saat ini ingin menenangkan diri dahulu, maka ia duduk menyandar di salah satu pohon yang ada disana, batangnya kurus terkujur kaku tak memiliki anakan batang besar lainnya, tapi lebar disana masih cukup untuk sanggahan. Tempat istirahat yang cukup baik dengan tanahnya yang agak kering, ia lalu meratakan kaki dan membersihkan bajunya, mengibaskan udara dengan kain yang ada dan meneguk air asam manis yang diambil dari keranjang, lalu berdiam beberapa menit. Sembari itu melihat sekeliling, dan entah mengapa seketika matanya tertuju pada sebuah area, ada tanah terang diseberang dengan berkas cahaya khasnya, dan ada sebuah bangunan yang dilindunginya. Ia sungguh tertegun, lalu segera beralih dari tempatnya dan mengendap-ngendap seperti seeokor tupai yang ketakutan, mencoba mendekat kesana. Hal yang sungguh aneh ada bangunan seperti ini disebuah hutan, ia pun semakin mendekat. Tanaman semak memudahkannya untuk bersembunyi agar bisa melihat lebih leluasa apa yang didepannya. Ia mencoba berpikir teliti, dan meyakinkan diri agar ini bukan sekedar khayalan. Benar dugaannya akhirnya ada sebuah, dan itu sempurna berbentuk kubah putih dengan pilar-pilarnya, lampu taman yang ternyata meneranginya, ada disisi-sisi itu, berbentuk klasik warna putih dengan rumah penutup kaca anggunnya. Bangunan itu sudah tua sepertinya, dari kejauhan terlihat dari dindingnya yang hampir mengelupas, tapi masih kukuh lengkungan atapnya. Rasa penasaran membuatnya semakin mendekat, dan tak terasa sudah mengantarkannya tepat berada diarea yang luas itu. Ada perasaan yang menggidik, ia melipatkan tangan kedada dengan bahu menaik sedikit, lalu kepala menikung ke salah satu pilar kemudian mulai menilik dberanda lantai depan kubah yang ubinnya juga berbatu putih. Dan ia sudah dibawah tudung itu, ketika menengadahkan wajah akan melihat palang-palang atas yang sudah tertera ukiran timbul sebuah pemandangan tanaman bunga beriak-riak. Lalu didepannya adalah pintu yang besar dan sangat tinggi dengan gagang keramik indah. Dengan sedikit keberanian ia mencoba untuk mengetuk dan kali ini berdeham agar menghasilkan suara agak keras, “Permisi, apakah ada orang didalaaam?”, katanya sembari menempelkan telinganya kesana. 

Tapi tak ada jawaban, yang terdengar hanyalah suara dirinya sendiri yang menggema karena dipantulkan oleh tempat ini. Ia pun terduduk lesu disana, dengan daun pintu sebagai alas kepalanya, tangannya diletakkan diatas lutut yang ditekuk lalu menelungkupkan wajah kedalam dan terbenam sejenak disana. Setelah agak lama kemudian menengadahkannya, dan apa yang dilihatnya didepan, tak disangka suatu yang membuatnya terperangah, ada semak tinggi penuh berbutir-butir merah disana. Ah ya ampun, bukankah ini kebun berry, dan tadi dilewatinya saja saking tak memperdulikan sekitarnya lagi karena melihat bangunan besar ini. Ia pun segera beralih kesana sambil membawa keranjangnya, tapi tunggu dulu sepertinya ada yang dilewatkannya lagi. Benar juga, ia belum meminta izin dengan pemilik kebun di pekarangan ini. Tapi bagaimana, kelihatannya harus menggunakan banyak insting, karena lihatlah tempat ini tak terurus dan tak menunjukkan ada kehidupan manusia. Ia berpikir, dan akhirnya hanya diam disana. Sembari itu tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki, dan semakin lama semakin jelas. Ia memejamkan mata tak berani untuk menoleh.  Tapi akhirnya tersentak karena ada sebuah suara sapaan yang begitu ramah. Ia pun dengan perlahan membalikkan badan, ternyata disana ada seorang tua dengan tongkatnya, mengenakan kemeja krem biasa yang dilapisi sweater hangat dengan celana panjang coklat. Ini membuatnya lega, ah syukurlah, batinnya, karena tadinya ia sudah mengira yang tidak-tidak. Orang tua itu tersenyum padanya dan berkata, “Apa kau tersesat anakku?”, kedua tangan renta disana lalu menumpu pada pegangan kepala penyangga yang tak terlalu panjang itu. 

Lawan bicara didepan menundukkan kepala dengan sopan lalu dengan sigap menjawab tapi mungkin akan terbata-bata, “A..aku tidak sengaja melihat bangunan itu”, katanya terus terang sambil menunjuk kearah kubah tadi yang ada disana.
Orang tua itu pun kembali memberikan senyum simpul dan berkata, “Ya aku tahu, mungkin kau juga berpikir sungguh aneh ada bangunan seperti ini di tengah hutan, tapi begitulah adanya. Sebenarnya dahulu itu milik seorang bangsawan, gudang tempat penyimpanan barang-barang miliknya,” jelas orangtua itu sembari kali ini menggerakkan tangan kanannya kebelakan sehingga tangan kiri saja yang menumpu berat tubuhnya.  Kemudian orangtua itu melanjutkan lagi sambil tersungging lebar sehingga menggetarkan tongkat, “Keranjangmu sepertinya sudah siap untuk memanen mereka”.
Ia tadi yang kaku menjadi sedikit luasa mendengar itu, dipikirannya orangtua ini bukanlah orang yang jahat, lalu ia pun menjawabnya bisa dengan nada ringan, “Ah begitulah”, katanya malu sembari menggaruk kepala yang tak gatal, “Tapi kalau ada pemilik kebunnya aku juga akan meminta izin langsung padanya.”, katanya buru-buru dengan ramah. 

Orangtua itu menyipit matanya, “Bisa kau lihat nak disini tak ada aura hunian, dan itu sudah berlangsung berkurun lamanya”, kemudian orangtua itu diam sejenak dan melihat kebelakang, “Yah begitulah, ini adalah reruntuhan dari kerajaan masa lalu, kau beruntung bisa melihat salah satunya”. Kemudian orangtua itu kembali berbalik dan bertanya sambil memelintir kumisnya dengan tangan yang dibelakangkan tadi, “Apa yang membuatmu mencari buah-buah itu hingga kau bisa tersesat sampai ke hutan yang jauh ini?”

Sebenarnya itu pertanyaan yang tak ingin dijawab dan juga tak sesuai dengan situasi yang seperti ini. Tapi akhirnya dijawabnya dengan nada lirih, “Sebenarnya aku ingin membuatkan pai untuk seorang. Aku ingin meminta maaf padanya. Apa yang kau lakukan ketika meminta maaf, tentu sebaiknya memasukkan bahan-bahan yang manis atau baik dan meletakkan tulus didalamnya, bukan.”

“Pai frambuse ya, tapi sebenarnya pai apel lebih baik. Ah kembali lagi pada perkataanmu tadi, kau sepertinya sudah membuat kesalahan, apa kau berharap agar orang itu melupakan kesalahanmu? Kalau begitu kau sudah mendapat tempat yang tepat. Ini adalah kebun berry yang mempunyai khasiat langka. Pemiliknya dahulu sudah membuatkan ramuan khusus, sehingga mereka mempunyai kemampuan agar membuat yang memakan atau meminumnya dapat hilang ingatan untuk suatu kejadian tertentu.”, jelas orangtua itu berusaha ingin membantu.

Ia yang masih berdiri dekat semak tadi tentu terperangah tak percaya karena itu dan langsung bertanya, “Bagaimana kita tahu jika itu berlaku pada ‘kejadian tertentu’ jika kita tak tahu pada saat itu adalah ‘kejadian tertentu’ itu?”

“Seperti contohnya ketika kau melakukan kesalahan pada orang yang kau maksudkan kemudian kau memberinya minuman dari sari buah ini dan seketika ia bisa melupakan kejadian beberapa selang waktu dibelakang pada hari itu. Bukankah itu yang dibutuhkan oleh seorang peminta maaf, yakni agar orang yang dimintainya menghapus saja memori tersebut. “, jelas orangtua itu lagi.

Melihat orangtua disana berkata dengan begitu akhirnya ia percaya, tapi ia akan menjawabnya dengan nada serius. “Tidak seperti itu, aku tak meminta ia melupakan kesalahan yang telah kulakukan. Apakah sebagian manusia akan berpikiran seperti itu? Karena sebenarnya sesuatu yang telah disakiti bukan menghendaki segala layaknya tak terjadi apa-apa setelah itu, tapi pengakuan dosa dari pemberinya. Sungguh keji jika mengatakan itu agar dibiarkan kosong saja, tidakkah seorang merasakan bagaimana akibat dari perbuatannya.”, katanya tanpa ketir menimpali tapi masih dengan sopannya, kemudian memberi sedikit ruang jeda untuk mengatur nafas. Orangtua didepannya hanya diam mendengarkan, melihat itu akhirnya ia melanjutkan dengan merendahkannya lagi suaranya.

“Sebagian manusia mungkin akan menganggap dengan meminta maaf layaknya pelarung itu akan mudah terkatup dengan sendirinya. Lalu membuatkan kalimat di permukaan ‘aku sangat memberi hormat pada orang-orang yang mengakui bahwa mereka  yang disakiti dapat menangani permintamaafan dan tidak menempatkannya  didepan orang lain’. Namun meniatkan didalam seperti menunjukkan bahwa si peminta maaf tidak mau kemasyhuran miliknya ditilik maka supaya orang itu agar menutup buku-bukunya. Bagaimana seorang masih bisa mengatakan mengenai hal-hal seperti harga diri, apakah dengan demikian tidak berpikir bagaimana seorang yang menanggung mempunyai beban amat berat yang sudah dipermalukan oleh orang itu disana.”, katanya selugas mungkin kemudian melanjutkan lagi. “Mengapa harus ada pengakuan dosa? Setidaknya seorang harus bertanggung jawab terhadap apa yang sudah ia rusakkan. Dan darisana orang yang diberi sakit dapat mengurangi bebannya dan lebih akan menghargai hal itu daripada membuatkan sebuah pengurungan wujud sendiri yang tak bisa diterjemahkan laman-lamannya, karena lisan seperti itu bisa saja dibuat dengan hati yang tidak tahu tulus atau tidaknya, apa saja pembajakan pada tempat-tempat persembunyiannya, bagaimana haluan-haluan yang membuatkan pemikiran tertingginya untuk menaklukkan perihal seperti kelemahan. Kemudian banyak diantaranya ditambah dengan berbagai ulasan membela diri sendiri sehingga seolah berbalik menyudutkan pada orang yang diberi sakit tadi. Tapi dengan seorang yang berani mengakui dosa-dosanya, berharap agar ada rasa bersalah yang tidak angkuh karena ingin menanggalkan sebuah hati yang keras. Mengakui bahwa ia telah menyakiti yang lain, sehingga agar ada kejelasan aturan beretika yang tersirat diantara kedua belah pihak bahwa ia benar bersalah, layaknya sungguh-sungguh ingin meminta mengatupkan larung itu, kemudian nantinya ia bisa menjadikan sebuah peringatan-peringatan keras ketika sesuatu disana luput dalam anggapan penglihatannya, maka dibukakan lagi dari tempat yang disimpan bermaksud agar pada kenyataan dikemudian hari dapat memperbaikinya.”, katanya mengakhiri penjelasnnya. 

Orangtua itu masih diam, lalu akhirnya berkata dengan simpati “Aku berharap sebagian orang bisa seperti itu, nak”.

“Dan aku sungguh berharap kau pula sebaiknya mengubah pikiranmu yang tadi.”, katanya membuat orangtua itu hanya diam lagi. Perbincangan ini menjadi hening agak lama, ia pun menjadi tak enak hati lalu segera membuka pembicaraan baru “Aku sepertinya tak jadi mengambil buah ini, aku hanya berharap agar bisa pulang, jika diperbolehkan apa kau bisa membantu menunjukkan jalannya?.”, tambahnya lagi.

Orangtua itu pun memberikan tangannya seperti ingin mempersilahkan ke anak di depan untuk jalan lebih dulu, dan ia akan bersedia sebagai pemandu jalannya. Mereka lalu segera meninggalkan area itu, kubah putih indah dengan kedap sunyinya dengan berry memabukannya. Dan semakin lama semakin meninggalkannya hingga tak terlihat lagi area itu dari kejauhan, mereka ternyata sudah melalui berapa banyak kelukan jalan. Namun belum sampai sang pemandu jalan berhenti ditempat dan berkata, “Aku sampai disini mengantarkanmu nak. Tapi jangan khawatir, karena setelah kau keluar dari jalan didepan ini, kau akan sampai pada tempat semulamu tadi, dan akan mengantarkanmu pulang.”, katanya sambil tersenyum simpul khasnya. 

“Terimakasih banyak. Semoga Tuhan selalu melindungimu.”, katanya  tersenyum ramah pada orangtua itu sembari melambaikan tangan. “Semoga kita bisa bertemu kembali.”, teriaknya dari jauh. Ia pun segera melangkahkan kakinya ke jalan yang dimaksud, tapi sebenarnya dalam hati masih khawatir pada orangtua itu kalau-kalau tak bisa menemukan jalan kembali pula. Ia lalu menoleh lagi, tapi ketika itu orangtua tadi sudah tak ada. Seperti hal yang mistis, tapi ia berharap kejadian ini bukanlah yang demikian. Maka ia menghapus gambaran yang tidak menyenangkan, ia masih percaya dengan orangtua  itu, sebenarnya ia orang baik hanya kelihatannya terlihat bingung. Dalam hati berharap orangtua itu akan baik-baik saja ketika berpulang. Ia pun mengatakan pada diri untuk menceritakan hal baik-baik pula dan agar bisa memusatkan pada jalannya, karena tak mau hari bertambah gelap. Kemudian ia lebih mencepatkan langkah lagi, sembari mengambil pijakan yang mudah. Dan tak lama dari itu sampailah pada jalan awal yang dilaluinya tadi. Ia pun segera berjalan cepat dan menuju pulang. Tak mengapa keranjang berry itu kosong, tapi ada sebuah lagi hari ini yang tak terlihat sedang dibawanya, bukan.


seravi


Komentar

Postingan Populer