Aleron '1


www.pinterest.com


Jendela beberapa kali berdenting karena makhluk yang berbentuk seperti cangkir vella. Benda yang memiliki helai berbintil dengan ruas-ruas seperti daun memata panah, tubuhnya keramik ukir tanaman bunga sulur putih yang beruntai-untai lepas, tak memiliki raut muka, hanya tangkai sari yang membenang, cangkangnya amat keras seperti kacang macadamia kering yang membentuk bulat telur, dan ekornya pegangan yang berbentuk roda-roda kencana dengan spiral kedalam. Seripit terbang mengikuti arah angin ribut yang meruntukkan suara kepakan dari sayap-sayap, dan tak terdengar lagi cicitnya. Awan yang agak menghitam akan memperjelas pernak-perniknya, bukanlah berarti kunang-kunang kelut penggerek dengan tanduknya, cahaya pada sayapnya hanya ingin mengambil sedikit aura anak-anak di setiap kamar. Pada saat semua dengan puri berjalan memenuhi alam bawah sadar tiap bilik sehingga seperti ingin mengundang para makhluk lain untuk mengambil secercah cahayanya. Salah satu anak ada yang masih terjaga hanya dengan pikiran-pikirannya, diam termangu melihat satu dari sekian yang sedang berteduh dibalik dekat pegangan pagar jendela yang berbentuk pipih. Kali ini ada yang berani menepi kemari, ataukah karena perjalanan mereka terhenti karena hujan ini, atau lagi mungkin rumah mereka disana yang sedang tak aman. Taman depan memang masih basah karena kantung-kantung air yang lebih besar tak hentinya berjatuhan pada semak berdaun luruh dan pohon kiara bertajuk lebat berwarna hijau tua gelap yang menyembunyikan banyak umbel hidup. Gundukan nun jauh disana dengan atribut gaun menjuntai mereka mendengarkan suara gemerincing pernik karena mungkin sudah teramat membeku layaknya pada laci lemari yang amat dingin ini. Lalu sunlouvre pergola yang membentuk rumah keong berlumut, dibawahnya kebun bunga putih yang berserakan akan nampak seperti krim tumpah menggenang dari tong alumunium besar yang dipojokan pagar kayu mahoni dengan merintil rumput rambat pada teralinya. Sebuah kolam persegi dengan hiasan pancuran anak malaikat yang sudah rusak dengan sayap setengahnya memegangi gerabah putih sedang menumpahkan tak ada habisnya membantu air yang dari atas untuk memenuhi tanah kebun.  Sepertinya ia terlihat senang seperti sudah lama tak merayakan karena selama ini hanya tugasnya memancarkan air ke penjuru arah dengan pelontar yang ada di sisi-sisi pinggiran pijakannya ketika bersusah dimusim yang begitu terik. Pun sama dengan segala penduduk didekatnya, maka mengambil kesempatan untuk bersegera mencuci banyak jubah beludru atau menyimpan didalam teko persediaan. Terutama para mawar merah muda yang memenuhi halaman depan rumahnya akan beriak-riak yang dipastikan cukup ramah kali ini karena akhirnya ribuan mahkota muda akan kembali ditumbuhkan,singgasana seperti itu yang ingin dimiliki, dalam keyakinannya .

“Kau pernah lihat makhluk cangkir sebelumnya? Mereka akan terbang mengelilingi meja makanmu, menghiburmu ketika kau kesulitan dalam mengerjakan beberapa kebutuhanmu. Hanya  anak-anak seperti kalian yang bisa melihatnya, ya hanya kalian, tak banyak yang mengetahuinya”, kata sebuah suara. 

Seorang anak dengan mata putih khasnya juga menyadari keberadaan mereka. Awalnya anak itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya, walaupun bulatan matanya didalam selalu tak berdaya menengadah keatas langit-langit, akhirnya ia yakin bahwa hal itu bukanlah sebuah khayalan setelah memegangi salah satu telinga makhluk yang ada didepannya. Seperti gelagat yang tidak menyenangkan, benda itu menyentukkan pinggir atasnya yang bergelombang ke tangan anak tersebut, lalu memaki dengan suara gerit roda dari pinggir yang sedikit berisik. Anak itu tersenyum sambil tangannnya menyapukan lembut sehelai sayap kepinggir karena yang berbicara tadi sepertinya tak sadar hampir terjatuh dari meja. Melihat anak itu berlaku demikian kemudian benda itu menjadi diam seketika, dan akhirnya melakukan seperti bahasa batin untuk bisa saling mengerti sama lain dengan menyentuhkan gagang cangkirnya ke jari manis anak tersebut. Akhirnya sampai pula pada keinginannya seperti saat ini, yang sebenarnya sudah lama sekali mengincar anak itu. Sudah banyak dari bangsanya selalu saja ingin mendekati, tapi mereka, gagal, dikarenakan ada aura lain dari dalam sini yang sedikit berbeda, bahkan banyak yang janggal sehingga kawanannya tak mampu menjatuhkannya. Tapi sekarang mungkinkah sang anak sudah berputus asa hingganya malam ini dengan mudah bisa memasuki jendela. Tapi belum dipastikan, ia pun hanya kembali berbicara tapi kali ini dengan nada yang sedikit pelan sembari memutar hiasan dahan pada pegangan, mengutarakan maksudnya. Bangsa ini ingin membantu anak-anak yang mana sedang terpuruk, lalu akan dibawa ke tempat yang lebih menyenangkan daripada dunia lamanya. Dengan menuangkan aura dari kembaran orang yang ada didalam ke cangkir kepalanya, lalu mengikuti terbang memendarkan banyak cahaya yang dihasilkan dari itu pada ekor ke langit gelap, lalu tak akan lama, sampai disebuah tempat yang begitu luas, dengan berbagai semi dari musim-musim dengan serbuknya. 

Namun apa yang dilakukan anak itu kemudian? Anak itu berkata, “Ia yang didalam memang terlihat pecundang, karena selalu ketakutan meminta perlindungan. Tapi bagaimana cara kesungguhan ia memandang tentang kegilaan dalam dunia sendiri, suatu hari bagi diri menjadi mengerti. Karena ia pula mempunyai sebuah peran, tugasnya menarik-narik tangan membaca berbuku hingga membuat selebaran  gundukan dikepala sampai ke langit-langit, awalnya hanya hendak membantu membuat tempat titik pertemuan yang benar namun akhirnya terlihat meletakkan sebuah ke dalam labirin. Tapi seperti cerita keluguannya mengelabui murai yang berkicau, aku pun akan senang hati untuk berbagi, menelusuri baut-baut mesin jamnya”.

Satu makhluk itu menjawab, “Kalian mengatakan berdarah sama berkurun-kurun lamanya lalu hendak peduli satu sama lain, beralasan terjadi kesalahpahaman yang tak bertemu titik tengahnya maka seperti halnya berpisah yang tak bisa dijelaskan. Mencuri kenaifannya dijadikan untuk menutupi prahara yang ada disana, senyatanya bukan dilakukan untuk kebaikan semua tapi untuk dirinya sendiri. Suatu ketika mereka lalu saling mencari untuk kebutuhan tapi layaknya masing-masing hanya bersikukuh dengan harga diri.”

Anak itu menimpali, “Jika kau mengatakan semuanya demikian apa kau juga akan melakukan sama andaikata berada dalam keadaan seperti itu. Sebenarnya ada sudut pandang lain yang digunakan oleh sebagian lainnya, karena mereka mengerti bahwasanya bersikeras seperti itu tak akan bisa mengubah kedudukan apapun, ya tak akan, hanya ada pertengkaran yang tak lekang oleh waktu antara keduanya.”

Makhluk itu berpendapat kembali, “Bukankah kalian akan malu jika harga dirinya direndahkan, maka mereka berkalut untuk memerangi apapun demi meninggikannya, bahkan jika itu pada diri sendiri yang kau katakan tadi, ia akan sangat membenci  andai yang diluaran raga mempermalukan dirinya di dunia permukaan, maka itu tak akan menerima kembarannya didalam sini, selamanya”.

Anak itu tersenyum, “Sepertinya kau sudah banyak memahami tentang kami, tapi suatu hari mungkin akan juga mengubah alur jam milikmu, yang tak hentinya berputar, mengumandakan pada yang tak bisa mengendalikan emosinya, tapi kuyakin ada suatu hal didalam ingin menceritakan yang dilihatnya. Seperti kau tadi masuk ke dalam jendela tentu akan bersabar dengan mengapitkan kedua helai sayapmu dan mengentukkan perlahan ke kaca berharap seorang membukakan satu tempat berkas cahaya, kau rela merundukkan megahmu agar ia mau menerimamu bukan. Sebenarnya ada rasa yang juga didalam diri sebagian manusia ingin memulai dengan bersyukur. Seperti ingin mengatakan, ‘Maka dengarlah, jangan sekali-kali mencelanya, tapi bangunkanlah jika ia sudah melampaui perbuatan kejinya, karena ia juga sudah lelah. Itu sebabnya aku akan memberi kesempatan dan rela menunggunya pulang berpergian lama dari bukit-bukit angin yang dimaksudkannya. Ia selalu mengatakan bahwa disana ada dunia yang tidak dibayangkan sebelumnya, tak memiliki nama, akhirnya seperti ada alasan untuk menulisi pembatas buku yang adalah tokoh penasihatnya. Aku tahu, mungkin sepekan kemarin merasa menyendiri disampingnya , menangisi berhari-hari. Tapi ia mengatakan, kita mempunyai tujuan yang sama dikehidupan ini. Dan janganlah bersedih, demikian halaman depan buku milik kita sama, maka aku akan memperlihatkan isi bukuku padamu, dan kau memperlihatkan isi bukumu padaku. Kita bersama memecahkan labirin rekaan ini, maka berjanjilah tak akan mengutukku, lebih dulu. Maka kau tahu, ketika aku mendengarnya memohon seperti itu, ada semacam pikiran bagaimana suatu hari dimana ketika ia sakit seperti apa yang didalam benak yaitu kesulitan mencari buah yang bisa mengobati jantung wujud aslinya, dan takut kalau-kalau detak itu berhenti mendahului, karena ternyata sadar tak ingin merasa sendirian didalam sini.’”, katanya menyelesaikan penjelasannya.

Makhluk itu tak menjawab, sekarang menggeser sedikit mendekati lalu mengentukkan depan keramikya ke jari manis anak itu, sebenarnya masih ingin membujuk, tapi tahu itu tak akan lagi berhasil. Anak itu pun sebenarnya tak enak hati, maka ia hanya mengusap-usap tubuh cangkir sampai pegangan yang ada dibelakang. Mereka lalu seperti memberi isyarat untuk berpisah, maka makhluk itu menundukkan kepalanya sedikit untuk memberi salam hormat terakhir, dan begitupula dengan anak itu. Kemudian jendela yang tadinya masih terbuka sedikit ia sibakkan gorden yang menutupi, lalu mengantarkan makhluk itu kesana. Hujan sudah reda, agaknya angin malam yang masih menunjukkan dingin menusuknya, tapi sepertinya itu tak akan berpengaruh pada keramik ukir putih yang kelihatannya mudah menampiknya dengan bahan terbaik dari tubuhnya.

           Anak itu masih menerawang ke atas pemandangan yang ada disana, tangannya meraih udara lalu digerakkannya, sampai tiba-tiba terdengar suara menyapanya lembut. “Sepertinya kau sangat suka sekali membuka jendela, Allen.”, kata seorang perempuan tua melangkah kearahnya, lalu beliau duduk mengambil kursi yang ada disampingnya. Pemandangan ini sama seperti setengah tahun lalu, seorang yang menguar-uarkan dongeng keliling miliknya dengan secawan air rendaman bunga charmomile yang dibawanya. Beliau adalah bu Syua, mungkin seorang yang juga sama dengan pikirannya, hanya saja beliau seperti orang lain yang normal, tidak sepertinya.

           Allen menjawab dengan bicara khasnya yang tersekat-sekat. Di kehidupan ini ia biasanya memang akan terlihat demikian, ia tak bisa berbahasa dengan baik, menggunakan bahasa yang tidak biasa yang digunakan oleh orang normal, tapi sebenarnya secara rahasia bisa mengetahui bahasa dari mereka, ia pun masih bisa menatap lawan bicara dengan ekspresif. Orang diluar mungkin akan menganggap tak akan mengerti, tapi untuk alasan tertentu bu Syua seperti bisa memahami isi kepala, seakan tahu bahwasanya ‘kami juga penterjemah handal’. Beliau demikian mungkin ada hal khusus yang tak mau orang lain mengetahui.

Hari ini bu Syua kembali, beliau sebenarnya adalah kepala disini, tapi karena sering melakukan perjalanan pentingnya berbulan-bulan, maka akan jarang terihat . Dan akhirnya memiliki isu-isu ‘itu’ ia hanya dikatakan seperti pencuri yang suka menelisik diam-diam, mengintip pelajaran ditiap kelas, dan dimalam hari seperti bayangan yang mengunjungi kamar setiapnya. Tapi tak seperti yang dibayangkan sebagian orang, karena seperti salah satu alasannya yakni menyelipkan buku bergambar disetiap rak atau melakukan tradisi memberikan apa saja dari perjalanan panjangnya, terkadang sepasang sarung tangan dan kauskaki, bagi anak perempuan tentu saja akan ditambahkan bermacam renda pada kearah atau kisi-kisi kancing. Ia berkata, ‘Bayangkan ini bulu-bulu tikus dengan warna abunya di gorong-gorong yang begitu dingin dan gelap’. 

 Beliau memiliki seorang wakil, yang membantunya mengurusi segala hal keperluan. Bu Alodie dan bersama kaki tangan yang berperan banyak setiap hari. Namun sayang, kebanyakan dari mereka terlihat sama sekali tidak ingin ambil bagian dalam menterjemahkan ‘bahasa tadi’, dan tentu perlakuan tersebut dirasakan oleh anak-anak jamur disini, maka sebenarnya didalam hati membuat ketakutan setiap saat, ‘apa mereka akan mengerti kami’, karena jika tidak akan ada hal-hal yang akan menyudutkan dunia itu. Tapi bagaimana, Bu Alodie yang juga oranglain tahu layaknya pemegang kuasa sebenar-benarnya, sehingga lebih dulu untuk mengumpulkan sekelebat kawanan lain untuk mendukung alasannya.  Tapi sebenarnya beliau menjadi demikian mungkin memiliki sebuah kesalahan besar dalam kehidupannya yang lalu, sehingga tak sadar membuat ramuan tertentu, walaupun entah kenapa rahangnya seperti ingin memagut jamur satu persatu. 

                Suara berdecit pada pintu dengan langkah kaki dari sebelah yang sudah tak asing ditelinga Allen tiba-tiba terdengar, mendadak membuatnya gagap dengan menganga mulut sambil menggerakkan kepala tak beraturan dan kaki menerang-nerjang dan tangan memegangi gagang ranjang atas. Bu Syua yang melihatnya langsung heran dan hendak menenangkan. Benar dugaan Allen, bu Alodie datang, kekamarnya. Menggeserkan pintu dengan tangan kirinya seperti biasa, tapi kali ini dengan pelan. Ia maju kedepan dengan kedua tangan mengepal kebelakang lalu menyapa bu Syua. 

“Selamat malam Bu Kepala, kulihat sepertinya sedang berbicara banyak dengan bocah ini, apa aku mengganggu anda?, tanyanya sambil menyipitkan mata garangnya dengan senyum sedikit lebar. 

“Ah ya, aku hanya ingin berbincang sedikit sambil membacakan cerita pada Allen, mungkin dengan begitu ia bisa lekas tidur.”, kata bu Syua sambil mengedipkan sebelah mata pada Taran yang masih setengah ketakutan. 

“Kuharap anda berhati-hati padanya, karena siang ini saja ia sudah membuat masalah sehingga terpaksa ia harus mengalami pengobatan khusus.”, tukas bu Alodie dengan nada geram kearah Allen. 

“Kau sebenarnya tak perlu meletakkan mereka di kamar yang kalian sebut-sebut, bukankah mereka sudah diberi penenang.”, kata bu Syua terlihat serius dengan menggeser sedikit kacamatanya. 

“Apa anda tak tahu apa yang mereka lakukan, dengan segala perkakas disini akan dibuat seperti rumah yang isinya melayang karena beberapa makhluk yang tak bisa dikendalikan.”, kata Bu Alodie menimpali geram layaknya tak mau dikritik. “Aku minta anda melakukan tugas anda dan aku melakukan tugasku, sehingga peraturan sekolah ini akan tetap berjalan lalu menyeimbangi  apa yang ada.”, tuturnya tegas lalu seperti memberi hormat dan beranjak keluar dari kamar. 

Bu Syua hanya diam merundukkan matanya, kemudian berbalik arah pandang ke Allen yang masih kaku dengan mulut getar mengeluarkan kata-kata kosongnya. Bu Syua lalu menarik kursi dan menghampiri sisi tempat tidur, untuk menenangkan diusap kening anak itu dengan lembut, menyisiri perlahan dengan ruas-ruas jemarinya yang hampir terlihat putih tulang lemahnya sembari ia berkata, 
“Kau mungkin akan berprasangaka banyak untuk hal ini, tapi ingatlah...”, kata beliau seperti ingin berhenti pada ujung lidahnya. Allen berhenti meronta, lalu menatap bu Syua dengan lekat, sebenarnya ia sudah tak mempermasalahkan lagi, dan sekarang yang ada dipikirannya adalah hanya tak ingin Bu Syua menjadi seperti ini yang kelihatan hilang cahayanya yang tadi. Tapi akhirnya bu Syu mengangkat kepala lalu melanjutkan, “Suatu hari kau akan menemukan sebuah tempat agar kau bisa mengepakkan sayapmu”, kata beliau seraya tersenyum. “Dan aku akan menunggu kabar darimu, di hari itu.”, tutur beliau pelan. Kemudian beranjak darisana sembari membawa kembali tehnya, lalu dengan sedikit merendahkan punggung lalu melangkah pelan menuju pintu dan menutupnya. Suara dari kakinya masih sayup-sayup terdengar, setelah itu pergi dibawa aliran hujan yang masih merintih.

Seorang yang ditinggalkan berdiam lama, dan rahang bawah seperti dikatupkan lebih tepat jika dibanding seperti berkejang sebelumnya. Mendengung suara aneh karena hal tadi, tapi entah mengapa  tak menjatuhkannya, mungkinkah ada yang khawatir mengenai hal itu. 

Masih merenunginya Allen terpaku ditempat tidur, sambil merebahkan kakinya yang sedari tadi mengentuk besi lengkung pada ujung ranjang , punggungnya ia jatuhkan perlahan disekitaran bantal keras yang berdiri pada papan sandaran kepala, kemudian ia mengalihkan mata pada jendela disamping kiri, menerawang bulir-bulir air yang berjatuhan hingga merembas pada bingkai  bawah teralis, gorden putih disana masih menjuntai dengan menggembung-gembungkan perut kainnya yang ditahan oleh pergelangan tali, lalu bergidik lembut renda bawah yang beruas-ruas membentuk rample sejajar. Seperti makhluk samar yang mengayunkan lengannnya hendak menyuguhkan suatu alunan darisana agar seorang dari kamar ini mengistirahatkan dari hari yang lelah. Tapi mungkin untuk pertama kalinya ia tak menghiraukan itu, sekelabat pikiran berputar pada kepala, ia masih memikirkan hidupnya yang sekarang, berpikir dan menelaah. Walaupun akhirnya tak terasa waktu sudah terlalu larut malam untuk mendiskusikan masalah itu dengan dirinya. Apakah akan lebih baik membukakan jendela lalu mendengarkan yang ada disana, mungkin ada salah satu yang masih bersembunyi  pagar balkon, ia tak tahu. Saat ini mungkin dengan menidurkan diri dahulu akan menemukan jawaban, ia pun akhirnya perlahan-lahan menutupkan matanya. Dan butiran diatas sana, untuk malam ini saja akan dibiarkan menaburi maniknya pada tirai.

Ia akan melakukan sebuah rencana yang sudah disiapkannya sedari lama, sebelum langit sudah berubah warna cerah hingganya makhluk hidup disekitarannya sudah banyak yang berkeliling menerbangi , anak-anak di rumah ini akan sudah riuh, dengan segala kebutuhan mereka. Untuk ia akan lebih berhati-hati agar tidak gagal malam ini, karena ia takut jika menunggu pagi lagi, itu tak akan dilakukannya selamanya. Allen pun yang sudah menenangkan diri tadi lebih serasa mempunyai tenaga kembali, diangkatnya kaki kemudian tubuh secara perlahan dari sana, mengambil beberapa perlengkapan dari lemari lalu beringsut menuju pintu dan membuka perlahan. Ia mengambil arah pandang kesekeliling lalu mulai menyusuri satu lorong, dan mengambil satu lorong lain lagi, hingga sampai disebuah tempat yang dimaksudkannya, yakni sayap timur tempat di kastil yang luas ini, dan seperti biasa, tempat disni tak berubah, masih dengan heningnya, sudah lama ia memandangi tempat ini dari jauh, bisa dilihatnya ketika dari berjalan diseberang lorong sana yang biasa dilewati. Pada saat itu berpikir agar bertemu dengan hal yang-tak masuk akal sehingga akan membuat didalam tubuh ini tak semua yang dilemahkan. Tapi harapan itu hanya bisa tersimpan kembali.

Allen mengarak dirinya ke sebuah lorong ruangan, kiri dan kanan bahunya dianggapnya seperti sudah ada penjaga yang dalam bayangannya sedang memegang lembing bersejajar.  Itu sebabnya ia hanya bisa diam. Tapi sembari berjalan, kepalanya berpikir keras memikirkan suatu yang sudah disiapkan baik-baik, dan menurut perkiraannya, sepertinya ‘itu’ akan terjadi. Dan perjalanan ditelusuran ini yang aman akan membantu sedikit untuk menguatkannya, namun ketika melewati sebuah taman  ia menjadi gagu, dan mengingat banyak hal, mulai dari ia memiliki beberapa sahabat disini, meskipun mereka tak begitu mengenalinya tapi sungguh-sungguh tulus mau berteman. Ia pun mulai membatin dan menggerak-gerakkan tubuh seakan mengikuti alur disana. Andai orang-orang mengetahui, bahwa anak itu sedang berbicara dengan bahasanya, tapi mungkin akan terlihat seperti hanya berdeham dengan segala keanehannya. 

Ia berpikir seperti didalam sebuah pohon kapas disana, dan benar ini telah merasuki orang-orang sepertinya. Hal yang sangat aneh, ya sungguh aneh. Ketika orang seperti itu diberi kemampuan berimajinasi, maka nampak seperti awalnya lagi, dan terus bergulir. Sempat berpikir bahwa pengartian mengenai orang-orang berlainan darah yang dikatakan mereka seperti hal senda gurau ini ada mungkin yang senang. Tapi entah mengapa ketika mendalaminya justru membuat sakit. Andai mereka tahu rasanya dikehidupan itu, hal-hal tersebut tak akan lagi diuarkan demikian. Ia pun akan menggeser kursi mendekati ‘seperti disisi sama’ yang juga dalam kehidupan teman-temannya, maka akan terus menulis dalam keyakinannya. Berharap mereka yang memiliki pribadi sepertinya ini tidak sedih, selalu bahagia seperti yang ditulis disana, juga dalam lindungan Tuhan. Ia sungguh yakin suatu hari Tuhan menunjukkan dari sisi yang lain hingga membuat tak akan menyesali. 

Ia masih ingat berapa tahun lalu saat masih menjadi anak baru di tempat mereka, disana seperti orang tak tahu arah karena banyak sekali yang harus dipikirkan, semakin berpikir buat menderita dan sakit. Saat itu seperti diantarkan ke sebuah dunia jamur, tergopoh-gopoh akan menjadi gagu yang memainkan sebuah buku terapi milik salah satu rak dirumah sana yang lantainya penuh dengan beberapa atribut untuk logika, dengan berbagai selotip tidur-berdiri, menandakan bahwa tempat ini ada yang memiliki. Lalu sambil menguatkan hati melangkah masuk, melihat seorang anak berkaus hitam sedang membawa mainan makhluk akriliknya sambil berteriak-teriak, lalu mengacungkan telunjuk kearah depan membentak (tak tahu inilah awal pertemuan sebagai teman). Satu minggu awal bersamanya  benar-benar hampir menyerah, anak itu tak semudah itu menerima orang baru, akhirnya ia menggunakan trik khusus hingga akhirnya  bisa disatukan. Anak itu hanya panik, melakukan keperluannya dengan terburu-buru hingganya tak bisa berpikir jernih. Sedangkan satu anak lain lagi disana, ia rasa hanya memiliki keripik apel sebagai teman bicara anak itu, yakni didalam kotak bekal yang disiapkan oleh pengasuhnya.  Baiklah pikirnya, maka akan digunakan benda ini pula sebagai kail untuk memancing mata disana yang tak akan mau menatap mata lawan bicara. Anak itu memang tak seperti yang suka bercerita, ia pendiam, pendiam lalu tenang, tapi tenang akan membuat berpikir lama melihat seorang yang berbicara dalam bahasa lain sambil memakan kemeretak piring tipis yang ada di meja bundar. Didalam hati ingin sekali menerjemahkannya, ingin mendengarkan keluh kesahnya. Akhirnya didalam benak hanya muncul sosok keripik apel dengan dengan jubah gulung hijau memainkan gagang tanaman sulur miliknya dan memarahi anak itu dengan lucu, “Apa kau tak mengerti negeri kami hampir hancur karena gigi berjarang besarmu.” Anak itu hanya bingung, olehnya akan berlama-lama tinggal dalam dunia demikian membuat segalanya menjadi cermin kebalikanya berlipat yang ada dibayangan sebelum nyatanya. Lalu yang terakhir adalah seperti sepasang sepatu boot. Mereka adalah kakak beradik. Satu masih bisa bicara, tapi tidak dengan satunya. Anak bermata sipit dengan rambut berdirinya itu akan selalu setia dengan lilin yang dibawanya, tangannnya sungguh terampil menguli doh untuk membuat roti bun, lalu menghasilkan berbagai macam bentuk seperti menceritakan sebuah kota malas, kereta kedap, gelatin tak berguna, pulau tak pernah diketemukan. Anak itu sebenarnya terpuruk.

Ia sungguh tertegun. Lalu semakin memperhatikan keempat anak ini lekat untuk mempelajari, dan waktu terus bergulir pun membuat mulai terbiasa, kemudian ada perasaan begitu dekat dengan mereka. Ia akan menunggu cerita-cerita baru, mendengar kesedihan mereka, atau melakukan permainan yang dibuat sendiri. Setiap hari akan menikmati dan menulisi kertas-kertas gulung lalu mengikatnya dengan serabut-serabut tanaman kering dalam botol kaca tadi, tapi ia tak bisa melarikan diri bahwa ia adalah orang yang lebih masih bisa berpikir normal berapa kaki dari anak itu, dan harus bergelut dengan pemikiran  juga kerumunan orang-orang dewasa. Maka setiap makan siang harus dengan berat hati memberi penyumbat yang rapat, menghadapi dunia luar. Bilakah mendengar cercaan yang membuat hati sakit, saat orang-orang itu seperti risih keluar dari ruangan dan bercerita apa yang dialami didalam tadi, lalu seperti ada rasa gatal karena hal yang menjijikkan. Ini sungguh-sungguh sakit Tuhan, katanya membatin.

Benar menderita, maka akan sesekali ia akan muncul ke permukaan dan mengubah alur perbincangan yang membuat orang-orang itu terdiam. Jika didalam aturan buku rumah ini harus meneriaki anak-anak jamur ini sebagai terapi, agar mengalihkan pandangan mereka yang kosong, akan diterimanya. Tapi kenyataannya berbeda, ada sebuah perasaan janggal yang menggelut, bahwasanya meneriaki yang seperti itu, senyatanya yang terlihat hanyalah kebencian-kebencian. Menyedihkan, teringat ketika salah satu anak akhirnya mengamuk lalu beberapa orang datang mengasari beruntun. Sungguh tidak tahan melihat kejadian ini, maka ada saat keadaan mulai reda, ia diam-diam mendekati anak itu, dan diluar dugaan, lalu seperti dibisikkan sesuatu dengan nada yang kelihatannya sudah putus asa. Mendengar ini rasanya sungguh tak terbendung lagi, bilakah mereka tahu bahwa anak-anak itu juga bisa mengerti apa yang orang katakan dan perlakukan. Maka melihat hal yang demikian, ia menggebrak, tapi akhirnya tak bisa berbuat banyak. Sedangkan itu terus terjadi, sembari seiring waktu terus berjalan, namun berapa selang akhirnya untuk alasan khusus ia tak bisa lagi ditempat itu. Ia kemudian memiliki sebuah rencana. Tapi mungkin akan merindukan banyak hal, berharap mereka masih bahagia dengan teman mereka sebagai rumah rekaan. Andai seorang tahu bahwa sebenarnya mereka membutuhkan hal lain, yakni kasih sayang, yang mungkin tak mudah mereka didapatkan didunia nyata. Tapi menggerutukan seperti ini tak akan membuahkan apa-apa, ia mengatakan pada dirinya..

‘Kita adalah makhluk dari periuk kaca, ada hal-hal yang akan perlu diperhatikan. Seorang tentu akan bisa saja menjerang sesuatu yang ada didalam yang bias, pandangan terhadap bumi Tuhan akan berbeda, sehingga seperti mempunyai jarak yang jauh, seperti semua didalam pigura-pigura perak yang tak diketahui namanya sedang memainkan alat-alat yang tak bisa ditebak karena dilumuri semua dengan sesuatu, memiliki misteri masing-masing.
Pada musim dingin mungkin yang terlihat adalah semuanya berwarna putih, tapi tak hanya mempertahankan harga diri. Karena ada yang akan berubah-ubah, sehingga tak akan tahu lagi maksudnya. Sebuah tafsiran dari buku pun takkan datang dengan sendirinya, seorang harus berusaha untuk mencarinya keseluruh  kepingan putih pakis yang mengkristal.
Pohon dan dedaunannya mengatakan ingin mencoba mengembalikan wujud semula, lalu terlelap disana. Tidak bijaksana, meminta sosok dalamnya lalu lebih membuatkan cermin besar, sehingga serpihan bekunya  terikut serta menjadi bagian. Putih tak mengeruk perumpamaan yang dipantulkan, tapi darinya bisa diambil pelajaran.’   

                Sampai disini, ia kira. Benar, ia akan memulai beranjak darisini. Ada disebuah kesempatan, yakni gerbang yang ada diujung mata dengan besi kerangkeng sudah berkarat kira-kira yang seuntai tangan orang yang lebih besar ketika merentangkan tangan, ruasnya lebih pipih tapi seperti anak-anak baut spiral dan bersekat tak terlalu panjang. Berembuk kawat-kawat menyilang yang tak teratur lalu tubuh panjangnya yang lain menggulungi dekat penutup, rambat tanaman meliliti tiap tiang yang sedang berdiri, tapi ada pengunci pintu luar dengan palang secara melintang datar jika lebih teliti untuk menyibakkannya. Ia pun memasukkan ke satu sekat jeruji dan meraihnya. Bisa demikian dilakukannya dengan mudah karena biasanya tukang kebun akan membiarkan untuk memudahkan masuk keluar ketika bertugas merapikan taman setiap harinya. Tapi mungkin harus lebih berhati-hati, karena seperti saat ini ia sungguh terkejut karena pintu mengeluarkan suara mengiat yang nyaring ketika dibuka. Ia pun lebih perlahan lagi untuk melebarkannya hingga tubuh bisa cukup untuk melaluinya. Dan ketika menyampingkan badan ternyata pada dinding yang masih terusan dari bidang bangunan penyanggah pintu ini ada penggaruk rumput yang masih tersandar, beruntung tak menginjaknya, karena jika sedikit saja salah langkah akan menubrukkan kayu pegangan itu kearah dahi. Sedangkan di seberangnya ada gerobak kayu yang masih cukup baik dengan kantung-kantung plastik berisi rumput liar yang barusaja dipangkas tadi pagi. Olehnya ia mencoba untuk mendorongnya sedikit pelan hingga poros roda itu menggelinding teratur lalu menyentuh dinding yang ada dibelakang. Kemudian barulah ia bisa keluar dari area itu, dengan pertama melangkahkan kakinya di tanah kerikil, lalu bukit di sebelahnya begitu menarik dengan punggung seperti itu. 

Satu jalan memanjang didepan menjadi perhatiannya, dari sini akan mengantarkannya ke jalan raya. Ia pun tak segan lagi kali ini, walau masih dengan memainkan kepalanya kekanan dan kekiri yang gagu, mata yang selalu leluasa berputar serta mulutnya menganga sembari menggeretkan sebuah barisan rapi yang didalam lalu digeretakkannya, hingga kelihatannya seperti tak meyakinkan tapi nyatanya ia masih bersikukuh. Dan anak itu akan tetap menegapkan dirinya yang masih takut-takut, memegangi celana putih longgarnya, tangannya mungkin belum siap menerima udara dingin ini, maka ia pula memegangi baju kaus lengan panjang putih keabuan bertudungnya dan merapatkan disana. Kakinya mungkin tak akan menggerutu sebigitunya karena masih dilindungi oleh kauskaki berbahan agak tebal lengkap dengan sepatu putihnya. Sebelum berpergian memang sudah disiapkan kebutuhannya, bahkan ia sudah mengikat tali sepatu sendiri dengan simpul rapi yang oranglain akan meragukan jika ia bisa melakukannya. 

                Allen sampai pada jalan raya besar, kendaraan dengan laju yang amat cepat melesat saja dari pandangannya, kemudian datang satu lagi, begitu seterusnya. Hilir mudik itu terlihat sangat berbahaya apalagi untuk anak yang masih seusianya, maka ia berharap tak ada satu orang yang lebih besar darinya menariknya lalu mengantarkannya lagi ketempat ia sebelumnya. Baginya itu lebih memberikan kepala serasa dipukul dengan bekuan dingin yang tak disangka pula membuatkan udara tajam hingga ke aliran darah atas. Melakukan hal ini lebih dipilihnya karena ia akan mengetahui sebatas mana bisa melampaui dirinya, ketakutannya selama ini. Maka itu ia selalu berusaha, dan sekarang sudah melalui permulaan jalanan baru dikehidupannya, manalah boleh dihentikan begitu saja, ia akan meneruskannya lagi. Kemudian dengan menggunakan kecerdasan sekali-kali serta tak lupa keberuntungan dari Tuhan, itu sangat membantu. Seperti saat ini ia sedang menggencarkan sebuah rencana lagi yang tertera dikepalanya, walaupun tak begitu jelas tapi masih bisa dimengerti olehnya. 

Tak disangka-sangka ada sebuah truk disamping kanannya yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat ia berdiri. Ia pun segera menuju kesana, karena terlalu cepat sembari membiarkan terseret-seret salah satu kakinya dengan satu buah kantung plastik didepannya, angin hari ini agaknya memang kencang hingganya banyak benda-benda disini beterbangan. Anak itu pun akhirnya membungkuk lalu melepaskannya dengan asal, karena matanya masih memusatkan ke badan mobil itu. Ada bagasi belakang berbentuk kotak memanjang, penuh dengan kardus-kardus putih besar yang cukup kuat, tak bisa dipastikan apa yang ada didalam, mungkin itu seperti barang-barang yang penting atau lainnya. Tersusun rapi jajaran kotak-kotak dadu itu sampai ke langit-langitnya, sepertinya ini adalah mobil antar barang, terlihat dari dua orang petugas yang mengenakan seragam putih bergaris biru dengan tanda sayap yang ada dikantung baju dan topinya baru saja mengangkat salah satu kotak ke rumah yang ada diujung jalan secara bergantian. Sesaat satu orang yang kurus sedang menghampiri kebelakang mobil lagi, anak itu menjadi sedikit ragu, maka beringsut kearah batu besar putih dekat pohon yang ada didekat sana lalu segera membungkukkan badan untuk menyerupai wujudnya. Dengan sangat gugup ia mencoba kembali mengintip lagi dari balik tadi, dilihatnya orang itu sudah mengangkat lagi. Ini adalah satu kesempatan pikirnya, maka ditariknya kaki yang masih bergetar kesana, mata dan rahangnya walau masih memainkan keanehan, tapi ia hendak memastikan dari kepalanya dulu agar disegerakan untuk masuk kedalam. Dan diluar dugaan, setelah mendekati itu hanya dengan berapa kali kakinya meraih pijakan untuk keatas, ternyata ia memiliki keahlian khusus dalam hal ini. Satu kali lagi tinggal menahan tubuhnya dengan tangan yang sudah mengambil lantai dalam, lalu mendorongkan badannya dengan menekankan penopang kaki yang masih menyanggah diluar, dan akhirnya secara keseluruhan tubuhnya sudah diangkutnya kedalam. Lalu ia mencoba berdiri, tangannya lalu menyingkarkan satu kotak putih yang menjadi penghalangnya, kemudian mencari tempat persembunyian yang lebih dalam, dipilihnya tempat belakang yang sudah dekat sekali dengan sekat duduk pengemudi. 

Tubuhnya walau agak tinggi ternyata bisa ditutupi, masih banyak tempat yang kosong, dan tumpukkan kotak ini akan melindunginya, maka ia bisa menenangkan diri untuk sejenak nanti diperjalanan. Dua orang petugas tadi pun sudah kembali dari rumah itu, kali ini yang berbadan agak gemuk menutup palang pintu, dan itu rendah ternyata, hanya sebagian dari tinggi tempatnya, hingga anak yang didalam tadi masih bisa memunculkan kepalanya, sambil melihat kearah luar yakni pohon tempat ia mengintip tadi. Dan tak terasa, itu sedikit menjauh, truk itu sudah memulai perjalanannya, dan yang bisa terlihat jelas kini hanyalah lampu jalan yang saling berarak, dan juga langit malam yang masih menggeraikan setaburnya. Didalam sini entah mengapa sunyi, tengkuknya yang mungkin sedikit menggerutu, ia pun merekatkan sedikit baju tebalnya itu, sembari melihat kearah depan hingganya ia hanya membatin, “Langit disana mungkin takkan lagi ingin bertemu, ia tak tahu, padahal aku sangat melihatnya lebih dalam.”

Allen memikirkan banyak hal dalam kepalanya, hal yang tak diinginkan rasanya menjadi mimpi buruk yang ditakutkan tak akan membuatnya bisa berdiri. Tapi ia selalu menekankan yang didalam, kadang membujuknya, seraya mengatakan padanya bukankah kau pernah jatuh lalu bangkit lagi begitu seterusnya, menahan sakit atau barangkali menangis, tapi kau tak akan pernah lupa arti hidup, karena sebenarnya jika ditelaah jauh lebih dari itu. Salah seorang disana akan sejenak menidurkan tentang masa lalunya, meredamkan tentang keterpurukannya, melakukan seperti itu barangkali sedikit saja-ya sedikit agar untuk menilik mimpi masa yang akan datang, pertama akan digunakan untuk menuliskan. Karena sebenarnya itu juga sebagian wujud dari jati diri, walaupun sebagiannya pula ada yang tak utuh tapi seorang akan tahu tentang dirinya sendiri.


seravi

Komentar

Postingan Populer