Reindeer

theeyeoffaith.com


Salju akan terus turun didaerah ini. Kaca-kacanya seperti ingin menunjukkan kekelannya. Bau tanah menghilang, yang ada disekeliling sekarang adalah hirupan hawa dingin dari negeri nan jauh yang mengirimkan penggemuruh-penggemuruh putih. Membentukkan kastil ditelusuran jajaran bukit penduduk pinus, yang para penjaganya dengan seragam kukuh dengan sarung tangan bening, alat jarum pemintal disediakan untuk berjaga-jaga, perisai menerpal penutup gerbang dengan kristal yang gundukannya sampai ke langit-langit. Kolam bekuan diluasan halaman menyimpan guratan-guratan pada cermin menunjukkan bentangan air dingin ini begitu tajam menusuk. Sederetan pilar yang sudah disekelilingnya juga pula menambahkan kerajaan ini dengan kemegahan putih kokohnya. Menggenggam hutan dengan segala suatu menyeluruh pada tiap yang ingin berhidup diantara awan sebelumnya, kebanyakan darinya bersungut beralasan untuk membangun peradaban yang sudah lama menghilang. Pepohonan dan lainnya mensiasati namun akhirnya diam lemah karena hal itu, maka yang dilakukan saat ini hanya membuat catatan yang dirangkum ke berapa halaman untuk menggerakkan lautan kepala untuk melakukan permohonan, namun hari pertama masuk dalam mimpi buruk, bayangan para penghuni hutan melipatgandakan dirinya sendiri sehingga sesosok akan mudah menghenyakkan perhatian mereka pada yang hendak menjajajakan taruhan pada gelap, sekelabat berdatangan memberi miliknya yang berharga pada tiap peti, kemudian mati. Sebenarnya kebanyakan makhluk hidup juga menetapkan teguhnya dengan berbagai asas praduga, tanpa meyakini kitab Tuhan, akhirnya penjaga yang melindungi mereka untuk saat ini lebih memilih membeku tersemat tangannya di meja batu persembahan. Seperti sebuah yang didalam menara terbelenggu kakinya dengan roda batu laut penggerak. Ada perundingan tak terhingga berdatangan dalam katup kepala, tak bisa mencairkan dan seketika sudah membalur kain-kain putih hingga berkurun lama, dan galah dibelakang memakan rantai demi rantai yang dipasangkan sebuah tadi untuk pemberat. Tapi didunia seperti itu, masih ada sekelompok yang tak terpengaruh, berjalan cepat jejak-jejak kakinya mengelilingi atas dahan yang bersalju. Mereka masih mencari kalau-kalau ada serbuk lain pada atap yang tertimbun. Menggali dan terus mengerat pada yang berbentuk tajuk daun tadinya, hingga mendapatkan sekantung pasir waktu. Mengumpulkan itu kedalam lubang pohon berbalung batu.

Rusa kutub oleh pepohonan sahabatnya dahulu menjadikannya seperti memiliki martabat tinggi sehingga anggapan yang dikatakan oleh kaum disana begitu sempurna. Berkeling bulunya sedang bermandikan cahaya bulan yang ada diujung tebing. Namun sekarang sebenarnya para rusa itulah yang paling dimaksud oleh berbagai sumber penghuni hutan yang diam-diam lebih tahu mengenai pembicaraan ini. Sebenar-benarnya para rusa lupa akan segala alam, membawa dasar kelayakan dari pemikiran perompak gelap dengan menggenggam erat busur-busur akar gantung untuk melindungi hutan kurung. Tak tahu jenis apa jeruji disana dibuat, menjadi sebuah kenangan terburuk dalam pensejarahan. Siapa disangka merekalah sebelumnya yang melumpuhkan benda-benda kerukan berharga paling dalam disana, menggiras dari bawah tanah lalu menyerkap bak kerangkang, sehingga layaknya mampu seketika menjalang sederetan para tumbuhan yang dikatakan paling kuat dengan kayunya. Segala sesuatu yang ada dihutan ini seperti terlihat mudah dilelap, menjadikannya sebagai umpan dalam belukar yang akan dijajakan baik untuk para penghuni atau pemangsa. Menyampaikan keberadaan bahwa ruh-ruh kawanan mereka yang mengitari langit tak kalah jua untuk mengangkat palunya. Menggulingkan para hakim disini, akan bersiap membangun prajurit untuk merajai kedudukan ini. Tapi seorang akan tahu bahwasanya mereka takut pada kematian. Pakur-pakur sudah disiapkan sebelumnya berjaga diperbatasan bukit, akan melarikan diri ketika terjadi huru-hara dikemudian hari.

Sebuah pohon oak dengan tajuk teduhnya sedang membawakan gulungan-gulungan kertas didepan para pembicara ulung didepan, ia berkata,   
“Bahwasanya mereka ingin membuat sebuah kitab dimana sebuah tanah pijakan harus berdiri terpisah dari agama langit, yang sebenarnya itu merupakan pengingkar pertulisan Tuhan pada tiap lipatan kehidupan. Agama dianggap sebagai hanyalah atribut diatas meja peribadahan, tidak masuk dalam kekuatan sebuah tempat gubuknya. Sehingga kemudian seolah-olah mengemukakan pada para penghuni disana bahwa tiapnya mempunyai hak istimewa untuk alasan setiap sudut pandang menurut hati nurani didalam semua lapisan kehidupan, tidak ada kesalahan untuk semua pemeluknya. Memperlihatkan itu seperti adalah sebuah yang ‘tak terkalahkan’ dalam mengambil pilihan-pilihan dalam asas kehidupan. Dengan membuatnya sesosok pengirama pada sekelas musiknya yang dapat menelaah apa yang karya maestro itu ingin ciptakan, yakni dengan menuliskan  agar seperti acara perjamuan antar makhluk hidup disitu bergelar dengan menggariskan martabat yang sama. Namun tidaklah permusyawarahan pada itu berjalan baik karena  didalam mengutamakan pendapat para sekelas yang dari ketamakan mereka.

Mereka ingin membuat sebuah kitab dimana menghalagi setiap jiwa untuk meletakkan hak diatas tanah, dengan melakukan penampilan kuasa suatu aturan untuk kesejahteraan semua makhluk. Padahal sebenarnya hal itu untuk para yang berwenang setelah dibuat atas perjanjian itu, agar menguasai kekuatan dan kekayaan semua, sengaja sudah  membuat peraturan bagaimana peringin para makhluk diberikan abadi pada golongan petinggi itu sehingga bertujuan tak ada kesalahan pabila terjadi pemungutan sewenang-wenang ke suatu kubu pada tanah itu. Padahal agama langit sudah menjelaskan bagaimana ketentuan-ketentuan itu, namun mereka seolah ingin mengatakan tak ada pilar-pilar yang disanggah langit sehingga hanya bersarikan pensejarahan peradaban, yang dijadikan segarisnya kekal pada kebenaran dengan wujud bahkan membelakangi pada tulisan tertera pula menggabungkan keduanya.  Agama  langit dianggap sebagai hal-hal yang tidak menamainya perakalan dimana hanya berdiri dengan penulisan berangan atas keadilan panahan Tuhan.  Tapi senyatanya, paham yang dibuat mereka seperti itu hanyalah ketakutan yang justru ingin menghindari yang tertulis disana, bahwasanya ialah agama langit hukum yang paling jelas atas garis ketetapan alam semesta didalam sebuah kepemilikan diantara benar. 

Mereka ingin membuat sebuah kitab yang mengungkapkan bahwa kebenaran itu bersifat penyeluruh, yakni menyalin yang ada didalam perbacaan keyakinan atau makhluk filsuf mereka yang tengah dalam perakalan dari perbatasan akal itu sendiri. Kemudian dalam pemikiran itu akan bermaksud untuk mendukung semua pertulisannya yakni bertujuan mendapatkan sebuah keadilan untuk semua makhluk dalam memberikan karya-karyanya. Tapi jika ada kesalahan pada teori mereka layaknya tak ada sanksi dan tak menerima ajuan pembenaran dari semua kalangan. Awalnya mereka hendak membiarkan banyak hal mengalir seperti yang beragama langit atau yang tidak beragama sekalipun atau tulisan yang beragama keseluruhan. Membuat penulisan itu beralasan karena kesemuanya dalam kubah besar yang menaungi keadaan makhluk hidup yang berkali-kali banyak, yang berhubungan langsung dengan antar sesama maupun suatu aturan, mengatakan bahwa hal itu tak bisa dipungkiri karena berasal dari suatu landasan bentuk-bentuk yang ganda. Merujuk pada rancuan seperti halnya berada pada dunia terlihat dan dunia tak terlihat pada kenyataan, olehnya didalamnya yang memiliki hakiki antara perwujudan dan perruhan harus berdiri sendiri-sendiri yakni tujuan itu untuk mengetahui garis pembatas  buku diantara keduanya yang jelas, mengenai Tuhan dan makhluk, serta segala hukum yang menaungnya. Padahal seperti halnya ada didalam diri setiap makhluk layaknya hubungan itu adalah untuk saling mengisi dimasukkan dalam sebuah raga.

Mereka ingin membuat sebuah kitab yang mengatakan bahwa disemua ini adalah tempat tanahnya makhluk-makhluk bebas, dengan kebebasan tanpa batas itu dengan menaungkan persamaan hak tiap makhluk itu pula. Namun senyatanya teori itu hanya mementingkan hak sendiri, hingganya melanggar peraturan menyetarakan kedudukan itu sendiri. Aturan didalam sebenarnya juga menolak keras adanya pembatasan, berakhir dengan kematian aturan itu. Hal yang membatasi seperti pada keyakinan dan juga pada tatanan akan ditandas, dianggap sebagai ancaman yang akan menghancurkan hasrat mereka dalam memiliki sesuatu. Dan pula dianggap mereka sebagai sebuah yang tidak luas sehingga ketika mengepakkan sayap, tempat penyimpanan udara layaknya tak bisa menghirup udara yang paling atas atau berpergian kemana saja. Paham yang dibuat mereka sebenarnya adalah bentuk-bentuk dari paradoks, dimana yang sudah membunuh dirinya sendiri, karena berarti 'seseorang juga berhak penghapusan dalam paham itu'. Mereka tak sadar bahwasanya suatu hari akan terlalu lelah menghadapi tekanan udara diatas yang terlalu kuat karena lingkaran-lingkaran yang dibuatnya atau kewalahan menghadapi ruang lingkup yang terlalu besar karena kebebasan-kebebasan yang dilakukannya." kata sang pohon mengakhiri penjelasannya.

Seekor rusa dengan tanduk paling bergerigi banyak sungguh gusar mendengar hal itu dan berkata dengan keras, “Hai Pak tua! Kami sudah banyak melakukan berpergian ke berbagai tempat, olehnya kami tahu persis keadaan yang diluar sana dan apa yang mereka pikirkan. Sedangkan apa yang kalian lakukan disini, hanya diam selagi menunggu kematian, mempunyai tajuk seperti itu  yang dipikir akan berkecukupan. Ilmu pengetahuan yang halaman kitabnya sudah penuh dengan hewan pengurai yang ada di selongsong kayu-kayu kalian!”

Pohon oak hanya tersenyum kemudian menjawab, “Pekerjaan kami adalah guru. Kami memang bertugas disini untuk mendidik kepribadian para makhluk agar menjadi lebih baik. Walaupun tak memiliki cukup kuasa, tapi kami bisa menggerakkan tak terhingga makhluk membentuk lautan. Banyak cara untuk berjuang bukan, dan kami memilih melakukannya dari sini berharap agar tak bertindak gegabah dan merusakkan segalanya disana”, katanya bicara sepelan mungkin, lalu melanjutkan, “Kembali pada pembicaraanmu tadi, sebenarnya jika ditelaah, yakni dengan merubah peradaban adalah bukan diperuntukkan membuat seorang memiliki kekuatan lebih, tapi untuk membantu kelangsungan hidup. Apakah seorang hanya berpikir Tuhan begitu sempitnya sehingga tak diperkenankan sedikitpun  untuk bersentuhan mempelajari ilmu lain. Jika memang seorang berjuang untuk peradaban yang lebih baik, tentu akan juga menjadi tingkatan yang mulia. Namun kebanyakan tidak bertujuan demikian. ‘Mereka yang membuat aturan tersebut mengatakan bahwa itu demi mengadakan perbaikan, tapi sesungguhnya mereka itulah yang membuat kerusakan. Tapi tak menyadari, karena yang dilihat adalah peruntungan, tidak keselamatan semua makhluk atau hakiki.’”, jelasnya dengan tegas.

Para penghuni seketika riuh saling berbisik satu sama lain, sedangkan anak muda tadi didepan menjadi terdiam. Namun bersiap menyangkal dengan berbagai pemikiran. 

“Kalian adalah sampah dedaunan yang hanya bisa membual, berterbangan lembarnya memberi kabar memenuhi langit-langit!”, tukas seekor rusa angkuh dengan tanduk yang paling pendek.

“Sekarang ini bukankah sudah terlihat jelas siapa yang membual? Maka katakanlah apakah ada dalam kitab-kitab yang dibuat tadi merujuk pada sebuah kebenaran? Kebenaran adalah sebuah yang tidak bisa disangkal, satu saja bulu sayapnya patah itu bukan lagi dirinya, sedangkan berapa banyak dari kitab keyakinanmu tadi yang sudah dipatahkan?”, jawab sang pohon sembari mengatur nafas agar teratur.

“Banyak yang memikirkan kehidupan setelah kematian, tapi tak banyak yang memikirkan kehidupan sebelum kematian. Kau hanya bersikap seolah-olah bijak dengan mengatasnamakan agamamu yang padahal sebenarnya tidak masuk diakal. Kau tak tahu, kami mempercayai demikian karena sangat mencintai kehidupan.” , tandas seekor rusa dengan mata merah khasnya dan tanduk lengkungnya.

“Apakah kau hendak menjadikan itu sebagai alasan mutlak untuk menjatuhkan? Ketika mencintai kehidupan tentulah didalamnya mesti selaras, bukan. Apakah kitabmu itu sudah menyempurnakannya? Sesuatu tentu bisa untuk berbentuk empati yang baik,  namun diingat pula bahwa disana sebenarnya adalah tempat penempaan, dengan beberapa anggukan jam buka tutup saja  semua yang ada didalamnya. Maka dapatkah kau menjelaskan, lalu mengapa ada kematian? Mengapa semuanya tak hidup kekal jika seperti layaknya harus berlebihan mencintai dunia itu? Ada sebuah dunia lain yang tak terlihat, bukan.”, katanya sambil tersenyum, kemudian melanjutkan kembali, “Atau jika ada yang mengira kematian karena mengalir begitulah adanya sehingga semua ruh yang keluar dari raga lenyap begitu saja,  lalu mengapa ada kelahiran? Digantilah umat yang baru dalam sebuah peradaban. Mengapa semuanya tak ada isinya setelah itu layaknya gelas kosong seperti ruh tadi tak ada apa-apanya. Maka sebenarnya semua makhluk hidup itu memiliki arti dan tujuan ada di dunia itu, bukan. Semuanya dijelaskan oleh Tuhan dalam kitabNya, maka apakah kau masih menyangkal agama itu tidak masuk akal?”, jelas sang pohon dengan tenang sembari membiarkan angin meruntuhkan dedaunannya.

Rusa yang paling angkuh kembali menjawab, “Sampah dedaunanmu apa yang bisa dibuat? Sebagai anak muda dihutan ini kami ingin meraih untuk banyak prestasi!”

Sang pohon tertawa, “Haha..anak muda, anak muda..Bisakah kau menjawab hal itu seperti apa, mungkin yang kau maksudkan ingin mengatakan untuk prestise. Kebanyakan mengatasnamakan seperti yang kau katakan, tapi kenyataan tak bisa membohongi. Maka untuk apa kalian meyakini kitab-kitab itu kalau tidak untuk kebanggaan, karena paham disana dibuat adalah semata-mata hanya untuk keuntungan suatu golongan. Tapi jika ia adalah pemegang kitab Tuhan, akan lebih kearah tanggung jawab pada semuanya”, katanya kemudian melanjutkan lagi, “Tak sadarkah kalian bahwa sudah tercuci otak, dimana hal-hal yang terlihat cerah dikemas sedemikian rupa meruntut pada keinginan yang memuncak, sehingga kalian hanya akan melihat paham yang sama dengan pemikiran yang bermimpi mewujudkan keinginan itu. Kebanyakan lalu akan menjadikan bukan lagi sebagai satu yang mencari jati diri dan tujuan hidup, tapi hanya sebuah perasaan dan kekuatan emosi yang besar dengan dibalut berbagai pemikiran yang tak terarah. Bermaksud menjadikan hal luar biasa didalamnya sebagai alat ukur untuk perbawa/wibawa sehingga dapat meningkatkan kelas-kelasnya. Mendapatkan penghargaan serta pengakuan adalah nilai-nilainya, baginya sebuah harga ditentukan oleh keadaan barang yang terlihat nyata.”, kata sang pohon sembari menghembuskan nafas agak kencang hingga menggetarkan daunnya lalu lagi-lagi berjatuhan.

Rusa yang ditengah dengan mata merah khasnya tadi terlihat ragu-ragu kemudian mencoba bertanya, “Lalu apa yang harus kami puja dan ikuti, pak tua?"

“Layaknya kalian memang ingin membuat suatu ciptaan saduran milik sendiri yang bermanfaat, tapi suatu indah bagi yang melihat, lakon atau tutur didalam berjalan dengan baik, ambillah untuk beramal baik, dan gunakanlah arah yang hanya satu-satunya ialah yang paling benar dari semuanya. Ada cara untuk mengetahui kebenaran, dan sudah kukatakan diawal  bukan. “Jika ada salah satu saja bulu sayap yang patah, itu bukanlah lagi dirinya.“, kata sang pohon kali ini dengan mata tajamnya.

Rusa angkuh meyudukkan tungkai kedepan dengan tanduk pendeknya menyela kembali, “Sebenarnya tak ada yang patah dalam keyakinan kami, hanya kau saja yang bertindak seolah sebagai peramal ulung mengatakan akan ada kehancuran. Bukankah agamamu saja yang terlalu sempit sehingga semua makhluk seperti terbelenggu hingga tak dapat bergerak bebas.”

Sang Pohon hanya tersenyum kembali mendengar itu, “Anak muda, pernyataan itu terlihat cerdas, tapi tak tahukah bahwa pemikiran seperti itu sebenarnya salah?

‘Layaknya seperti Ratu yang berkuasa dalam kerajaan tirani. Sebenarnya peraturan disana adalah perkataan tidak masuk akal yang dibuat oleh manusia. Adalah salah pabila mengatakan ia yang paling kuat atau benar karena bisa bergerak bebas. Sebuah pedang sebenarnya sudah menancap setengah pada dirinya, tinggal seorang dengan sedikit kekuatan menekankannya sampai tembus kedalam. Karena ia membuat peraturan berhak melangkah bebas semena-mena akibatnya semua memberontak dan juga berlaku demikian terhadap dirinya. Apakah itu berjalan ke ksatria, prajurit, rakyat jelata yang paling rendah sekalipun, disebuah kesempatan mereka sangat bisa membunuhnya."

‘Sebenarnya pemegang kitab-kitab disana itu adalah kelinci yang dijadikan tumbal mereka diatas meja persembahan pemangsa. Secara sembunyi-sembunyi mereka melakukan pembicaraan tertutup tanpa diketahui oleh kalian. Membuatkan rencana bagaimana pun juga agar terjerat dalam sebuah jebakan yang telah disiapkan. Mencoba memberikan apa pun yang dibutuhkan olehnya terlebih dahulu, segala keperluan baik itu kehidupan yang layak serta keinginan-keinginan. Ia pun menganggap mereka adalah kawan-kawan yang amat dipercaya, maka tentulah ia akan mengutarakan segala kekurangan baik itu yang didirinya maupun lingkungan sekelilingnya yang sedang terancam. Mereka pun bersama membangun sarang untuk menghindari para pemangsa, menggali lubang yang amat dalam dengan menutupnya pula batu kerikil dan rerumputan, tak lupa disematkan tumbuhan paku liar untuk mengatakan agar jika ada yang melewatinya akan tergelincir karena tubuh disana yang begitu licin, ditanami pula sesemak tanaman ukir berduri dipinggir atas dan bawah pada yang sudah berbentuk lemari perlindungan itu, ia pun un akan tidur terlelap didalam sana. Setiap hari selagi mencari makan bersama-sama akan diperkenalkan oleh sekawannya tadi suara-suara menyenangkan dari bukit yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Hirupan bau dari tanaman-tanaman segar sangat tercium sekali, dan pula bentuk yang mengagumkan dari buah-buahan pepohonan kerdil diantara bukit sangat memanjakan mata yang kasat. Tapi apa yang terjadi kemudian, tiba-tiba pemangsa sudah berdiri dibaliknya, ia tak bisa bergerak karena salah satu kakinya terjepit diantara tuas dan roda-roda tajam dari tanaman semak. Ia menjerit dan meminta bantuan, tapi sekawanan tadi segera berlarian membawa makanan yang ada didalam kantung yang sudah disiapkan. Mereka segera menyelamatkan diri ke dalam sarang, sedangkan ia hanya bisa meratap keatas mata merah dari pemangsanya.’

‘Kau tahu,  apa yang paling menyedihkan untuk seorang penulis? Sebagian akan mengira terpotong tangannya sehingga ia tak bisa berkarya lagi, itu akan terlihat menyakitkan. Tapi tidak demikan. Karena jika seorang yang berjiwa didalam itu akan mengambil segala cara baik menggunakan kakinya atau anggota tubuh lainnya. Lalu apa yang amat disayangkan? Ketika ia sudah diam-diam pandai menulis untuk menentang Tuhan.’”


seravi


Komentar

Postingan Populer