Library
Sebagian besar hidupnya berpengaruh dari buku yang dibaca. Karena tak memiliki cukup uang untuk membeli buku-buku yang bagus, akhirnya mengambil cara lain, pergi ke tempat-tempat yang ada persis seperti mereka, tapi tak untuk dipunyai, hanya bisa memandangi mereka berjajar rapi, seperti di rak-rak milik perpustakaan. Ketika itu akan senang sekali berlarian menuju sana pada jam istirahat atau pulang sekolah. Bersama satu sahabatnya, mereka akan berlama menyudut disana, memburu buku-buku detektif atau lainnya. Ia masih ingat ketika ia meminjam buku kesukaannya itu cukup banyak, dan ia bisa meminjam darinya dan membaca sepuasnya, sampai sekarang kalau mengingat itu membuat hati senang.
Masih duduk di sekolah menengah pertama tentu banyak keinginantahuan dalam diri yang memuncak, mungkin ia salah satu yang menyelam kedasar, yang kujajaki adalah dunia misteri yang penuh rahasia, maka akhirnya mungkin dikatakan orang terealisasi aneh di kehidupan nyata. Sebenarnya itu ada hubungannya dengan alasan pada diri yang dikehidupan masa lalu, maka tadinya berharap agar menemukan sesuatu yang dibutuhkan, yakni bagaimana moral atau kearifan dalam memecahkan masalah, sehingga ingin membuat salah satu yang ada didalam sini selalu tegar. Itu sebabnya akan rela hilir mudik di depan perpustakaan mencari buku-buku bergenre tersebut, melewati satu buah pohon beringin besar yang terletak diujung ruang lingkup sekolah. Tempat itu memang dipindahkan kesana, aku dulu sempat bertanya mengapa, dan akhirnya menemukan sendiri alasannya yakni karena tak banyak siswa yang menyukai perpustakaan. Para siswa akan lebih menyukai untuk masuk ke dunia berorganisasi atau lainnya karena kehidupan seperti itu memang terlihat cerah, sedangkan tempat yang penuh buku ini terlihat redup membosankan dengan ruangan sesak memiliki buku-buku berdebu yang menguning serta berbau seperti tempat tidur serangga kepik. Tapi tak masalah baginya, karena sudah terbiasa, justru dengan hunian sepi ini bisa membuatnya lebih leluasa mencari buku disana.
Sahabatnya akan setia
mencari bukunya, entah mengapa ia tak mengikuti dan menyusuri ke rak
belakang, dan tak disangka seperti menemukan harta karun yang tak dibayangkan
sebelumnya. Ketika itu ia pun menyadari, bahwa didunia ini tak begitu-begitu
saja, yang dipelajari disekolah atau melihat langsung ke nyata. Ada berbagai
hal lain yang membuat terperangah karenanya. Ia menemukan buku-buku filsafat,
ada yang berbentuk fiksi atau non fiksi. Mereka aneh, pikirnya. Seperti membaca
bahasa dari teka-teki dunia lain, rasanya seperti dikerjai sains mathematic berkepribadian
khusus yang begitu usil, begitulah. Tapi membatin didalam, “Senang berkenalan
denganmu, tuan.”
Ia seorang penikmat sastra Inggris. Baginya mereka bisa mencuri dengar dunianya, dan mereka juga seperti sebuah aenigma yang sering bersembunyi diam-diam, akhirnya ia mengalah dan membiarkannya dikepala. Dan sebenarnya banyak sekali penulis yang bisa ia pilih, banyak dari itu akan memaksamu membuka semua gembok yang ada, baut-baut mesin jam yang berputar pelan. Lalu mengapa aku menyukai buku-buku karya klasiknya, karena mereka memiliki kata-kata yang indah dan plot yang menarik, lalu filsafat-filsafat akan diselipkan disana seakan menyuruh sebuah keluar dalam menara dengan rantai dua roda penggerak. Dari sana kau akan berpikir kritis, karena berkutat di berbagai teori dari segi marxisme, empirisme, historis, dll. Dan akhirnya membuka matamu tentang dunia. ia senang sebagian dari mereka bersimpati pada orang miskin, menderita, tertindas, anak-anak. Walaupun ia tak bisa mengumpulkan karya lengkap mereka, tak mengapa, ia tetap senang. Karena aku bersyukur bisa menemukan penulis-penulis yang mengangkat hal-hal tersebut. Bila ia lihat karakter sang penulis bagaimana jiwa besarnya, kecerdasannya. Olehkarenanya ia berterimakasih karena mereka sudah menunjukkan sebuah dunia yang luar biasa. Karena "Terkadang, ada pelajaran berharga yang akan sulit kau temukan dimanapun."
Ia sangat menghormati pikiran dari karya disana. Sempat berpikir mereka berpergian dari dunia mana saja di Inggris. Dari beberapa versi yang ia baca, banyak percakapan dalam tokoh yang dibuat ambigu, mintakat peralihan yang masih saja membuat dahiku berkerut-kerut. Mereka terkadang membuat puisi indah. Memang rasanya akan seperti semena-mena mengurangi dari isi kamus, ada semacam ‘tanda bahaya’ dalam naungan kurung sepasang kurawal. Tapi bukankah dari awal sudah seperti yang dikatakan membuat lubang bor yakni kepala berputar dan dibelakang tiba-tiba mempunyai ekor yang menggali. Dan seorang hanya bisa menjadi semacam pembuka gabus sumbatnya yang dipaksa keluar, permainan kata yang diciptakan untuk mengubah huruf menjadi kata baru, akhirnya berwujud ‘kendi kosong yang bertuliskan selai jeruk’ atau ‘rumah menangis aneh yang menggeleparkan para piring”, sungguh diluar dugaan. Namun memang sebagian orang akan menganggap buku itu hanya sebuah pengantar tidur karena telah diuar-uarkan menjadi cerita ringan, sehingga imajinasinya akan ‘terhenti’ disana-sayang sekali. Sosok misteri didalamnya seperti hilang, padahal jika membacanya akan bergetar tengkuk disebabkan rasa takut yang---aneh. Tapi tak mengapa, itu artinya semua orang akan mengetahui cerita mereka, dan ia percaya di belahan dunia ini akan ada orang-orang yang di suatu malamnya diam-diam menggali lebih dalam buku-buku itu karena menganggap ini-benar aneh.
Tapi ia rasa itu ide yang brilliant menulis satu paham dengan permainan kata yang cerdas melalui gaya bahasa abad sana, yang tak akan mudah diangkat oleh dunia nyata. Ia pikir mungkin karena mereka sebagai ahli matematika pada masa itu yang bermain di logika fuzzy maka pemahaman seperti ini bisa ia lakukan. Sebenarnya mereka membuat suatu satire, yang jauh lebih berat-melawan arus-tapi ada yang bisa dipertanggungjawabkan. Saat itu ia sangat terkejut ketika membaca bukunya, ia coba memahami disetiap peristiwa, saat ini pun ketika merindukan karya mereka itu maka akan ia cari lagi arti diberbagai sumber, kulihat versi aslinya, kulihat pula yang difilmkan dari seratus tahun yang lalu—terus bergulir—terus bergulir--hingga ada di zaman ini. Ia tak bisa mengatakan apakah itu bisa mendekati buku, karena setiap orang mempunyai imajinasi masing-masing dalam buku tak bergambar mengenai "apakah senangnya membuat roncean bunga aster akan sebanding dengan usaha merepotkan untuk mengumpulkan bunga-bunganya dulu". Jadi ia rasa itu adalah hak setiap orang menterjemahkan ini, menggosok lebih kuat hal-hal didalam. Tapi mungkin nanti semakin diasah bertambah mendengar hal nyaring yang tak mengenakkan seperti mendengungkan lagu seriosa “Aku terjatuh keatas dan aku terjatuh kebawah”. Kira-kira begitulah salah satu sisi cerita yang bisa diungkapkan, walaupun masih membuatku seperti bingung sedang berada dimana. Maka ia harap kembaran diriku yang aneh satu lagi masih tetap meneruskan dirinya untuk menggiras hal ini, sebelum menginjak tanah yang salah, mungkin hingga nanti tua, sambil berkata dalam perjalanannya, “Tak disangka aku juga menjadi penasaran". 'Dimana hadiah untuk seorang seperti itu adalah ia menjadi sosok yang hidup'.
Bukankah suatu ini yang luar biasa-ah ya, ia tidak akan merincikan detil aritmatika atau apa saja didalamnya, ia ingin yang membaca bisa memecahkan dan merasakannya sendiri. Kalau sebenarnya dari lelucon atau kritis yang mereka buat bukan semata untuk terhibur seperti bermain dalam labirin, dibalik itu adalah gambaran kehidupan yang kelam. Dan bila diperhatikan dengan sudut pandang sains terbukti bahwa mereka pemikir yang keras, bisa dipraktikkan dalam ilmu pengetahuan yang-tidak gila.
Tapi kau tahu, ia yang mengagumi mereka pun terkadang terjadi selisih pemikiran. Ada banyak buku filsafat yang akan memang terlihat seperti memenuhi kebutuhan, yakni cara pemikiran yang bersifat koheren dan sistematik serta komprehensif terhadap segala aspek kehidupan, pertukaran pandangan menukil dari paham bebas dan luas, lalu jika mengatakan itu tetapi kebanyakan darinya hanya berlaku universal tidak parsial, generalisasi pengalaman atau historis yang lemah, berbau bias hingga tak bertanggung jawab pada hal-hal dasar. Layaknya tak bisa menyangkal bukan, karena sebuah buku pun adalah ‘buatan tangan manusia’. Sebenarnya premis didalam pula adalah hasil dari perombakkan yang ada pada pemikiran masing-masing, yang kebanyakan darinya akan diambil hipotesis yang mendukung untuk melanjutkan kehidupan. Awalnya mungkin ada yang dengan tujuan baik, tapi “Seorang manusia bijak pun dalam keadaan tertentu tak tahu cara membedakan mana yang benar.” Itu sebabnya rasanya perlu untuk kembali belajar kitab Tuhan, dimana disanalah segala sifat-sifat kebenaran berasal. Suatu hari ia yang didalam juga pernah terpikir akan mengatakannya ada keinginan untuk mempelajari langsung ditempat asal dimana para filsuf melansir hasil pemikiran mereka ke surat kabar seluruh dunia, akan menjadikannya sebagai perbacaan dalam sudut pandangnya. Ia dengar, Inggris adalah negara yang banyak menghasilkannya, dan sekolah mereka memiliki ruang perpustakaan terbaik.
Tapi teringat padanya mengenai sebuah cerita..
‘Ada seorang tulang punggung keluarga. Ia pekerja keras yang jujur nan sahaja. Akan selalu mengagumi orang-orang yang seperti itu, maka akan merekamnya dalam ingatan, seperti juga menyimpan kalimat yang sering terdengar darinya “memandang hampa duniawi.”, begitu ia selalu mengucapkannya. Rasanya tak ada yang diinginkan lagi untuk diri sendiri di dunia ini, itu sebabnya akan dipindahkan tubuhnya untuk memikirkan keluarganya. Ia akan bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan. Berbagai masalah datang menimpa tak ayal ia jalani, seperti melunasi hutang-hutang keluarga yang sudah berbukit. Tapi, suatu hari terlihat ia seperti terpukul sekali. Diketahui bahwa ada seorang keluarganya yang sedang mengambil studi disalah satu universitas negeri ini ingin pula studi diluar negeri. Dengan berbagai macam ulasan yang mengarah pada harga diri dijatuhkan padanya, memukul dengan memberikan alasan-alasan yang tidak sehubungnya, tapi akhirnya hanya bisa diam melemah. Sebenarnya begitu sakit karena ia sudah susah payah mengeluarkan uang yang amat banyak untuk studi seorang tadi. Tapi dengan ringan seorang itu mengatakan ingin melepas studi disini lalu mengambil disana untuk gelar yang sama, dimana yang sebenarnya akhirnya ingin menjadikannya demi martabat dan mimpi. ‘
'Sebuah mimpi'. Kembali lagi ditujukan padanya mengenai gambaran salah dalam tafsirannya. Ia selalu berpikir mengapa sebagian orang menjadikan itu sebagai perisai tapi menghalalkan segala cara dengan tidak memperdulikan kesakitan orang lain atau kerusakan yang disekitarnya. Layaknya sebuah filsafat yang ada pada serangkaian buku. Sebagian tentu akan menandasnya, tapi akan ia pastikan cangkangnya agar dapat terbalik. Ada air wajah tergelak ketika membuka mata dengan keadaan arah acuan seperti itu. Olehkarenanya menjadi termenung dan ingin menuliskannya dari sudut pandang yang dilihat disana. Ada disebuah dunia yang membuatkan nestapa, berkeruh, namun sayang orang-orang yang melaluinya pura-pura tak melihat lalu mengabaikannya. Ia mencoba untuk bertanya dan mencari jawaban, dan seketika itu menjadi diam. Ia kukuhkan segala keyakinan agar berdiri tetap walau dengan kaki cacat. Lagipula karena didunia ini sebenarnya 'rasa menginginkan apa-apa' seketika hampa itu benar, mungkin rasa sakit diluar raga seperti itu juga tak ada apa-apanya dibandingkan ia yang berjuang didalam. Dan ia berharap disana masih hidup, walau kesulitan bagaimana mengurangi sakitnya. Jika Tuhan memberikan pilihan pada benda-benda disegala isi dunia ini untuknya, sebenarnya ‘ia hanya akan mengambil keluarga kecil sederhana yang bahagia’, untuknya agar bisa pulang ketika kelelahan menghadapi dunia yang sudah begitu teruk. Corong didalam rasanya seperti mengatakan tak sanggup meneguk, air kehidupan yang sudah diseduh seperti itu.
Ia seorang penikmat sastra Inggris. Baginya mereka bisa mencuri dengar dunianya, dan mereka juga seperti sebuah aenigma yang sering bersembunyi diam-diam, akhirnya ia mengalah dan membiarkannya dikepala. Dan sebenarnya banyak sekali penulis yang bisa ia pilih, banyak dari itu akan memaksamu membuka semua gembok yang ada, baut-baut mesin jam yang berputar pelan. Lalu mengapa aku menyukai buku-buku karya klasiknya, karena mereka memiliki kata-kata yang indah dan plot yang menarik, lalu filsafat-filsafat akan diselipkan disana seakan menyuruh sebuah keluar dalam menara dengan rantai dua roda penggerak. Dari sana kau akan berpikir kritis, karena berkutat di berbagai teori dari segi marxisme, empirisme, historis, dll. Dan akhirnya membuka matamu tentang dunia. ia senang sebagian dari mereka bersimpati pada orang miskin, menderita, tertindas, anak-anak. Walaupun ia tak bisa mengumpulkan karya lengkap mereka, tak mengapa, ia tetap senang. Karena aku bersyukur bisa menemukan penulis-penulis yang mengangkat hal-hal tersebut. Bila ia lihat karakter sang penulis bagaimana jiwa besarnya, kecerdasannya. Olehkarenanya ia berterimakasih karena mereka sudah menunjukkan sebuah dunia yang luar biasa. Karena "Terkadang, ada pelajaran berharga yang akan sulit kau temukan dimanapun."
Ia sangat menghormati pikiran dari karya disana. Sempat berpikir mereka berpergian dari dunia mana saja di Inggris. Dari beberapa versi yang ia baca, banyak percakapan dalam tokoh yang dibuat ambigu, mintakat peralihan yang masih saja membuat dahiku berkerut-kerut. Mereka terkadang membuat puisi indah. Memang rasanya akan seperti semena-mena mengurangi dari isi kamus, ada semacam ‘tanda bahaya’ dalam naungan kurung sepasang kurawal. Tapi bukankah dari awal sudah seperti yang dikatakan membuat lubang bor yakni kepala berputar dan dibelakang tiba-tiba mempunyai ekor yang menggali. Dan seorang hanya bisa menjadi semacam pembuka gabus sumbatnya yang dipaksa keluar, permainan kata yang diciptakan untuk mengubah huruf menjadi kata baru, akhirnya berwujud ‘kendi kosong yang bertuliskan selai jeruk’ atau ‘rumah menangis aneh yang menggeleparkan para piring”, sungguh diluar dugaan. Namun memang sebagian orang akan menganggap buku itu hanya sebuah pengantar tidur karena telah diuar-uarkan menjadi cerita ringan, sehingga imajinasinya akan ‘terhenti’ disana-sayang sekali. Sosok misteri didalamnya seperti hilang, padahal jika membacanya akan bergetar tengkuk disebabkan rasa takut yang---aneh. Tapi tak mengapa, itu artinya semua orang akan mengetahui cerita mereka, dan ia percaya di belahan dunia ini akan ada orang-orang yang di suatu malamnya diam-diam menggali lebih dalam buku-buku itu karena menganggap ini-benar aneh.
Tapi ia rasa itu ide yang brilliant menulis satu paham dengan permainan kata yang cerdas melalui gaya bahasa abad sana, yang tak akan mudah diangkat oleh dunia nyata. Ia pikir mungkin karena mereka sebagai ahli matematika pada masa itu yang bermain di logika fuzzy maka pemahaman seperti ini bisa ia lakukan. Sebenarnya mereka membuat suatu satire, yang jauh lebih berat-melawan arus-tapi ada yang bisa dipertanggungjawabkan. Saat itu ia sangat terkejut ketika membaca bukunya, ia coba memahami disetiap peristiwa, saat ini pun ketika merindukan karya mereka itu maka akan ia cari lagi arti diberbagai sumber, kulihat versi aslinya, kulihat pula yang difilmkan dari seratus tahun yang lalu—terus bergulir—terus bergulir--hingga ada di zaman ini. Ia tak bisa mengatakan apakah itu bisa mendekati buku, karena setiap orang mempunyai imajinasi masing-masing dalam buku tak bergambar mengenai "apakah senangnya membuat roncean bunga aster akan sebanding dengan usaha merepotkan untuk mengumpulkan bunga-bunganya dulu". Jadi ia rasa itu adalah hak setiap orang menterjemahkan ini, menggosok lebih kuat hal-hal didalam. Tapi mungkin nanti semakin diasah bertambah mendengar hal nyaring yang tak mengenakkan seperti mendengungkan lagu seriosa “Aku terjatuh keatas dan aku terjatuh kebawah”. Kira-kira begitulah salah satu sisi cerita yang bisa diungkapkan, walaupun masih membuatku seperti bingung sedang berada dimana. Maka ia harap kembaran diriku yang aneh satu lagi masih tetap meneruskan dirinya untuk menggiras hal ini, sebelum menginjak tanah yang salah, mungkin hingga nanti tua, sambil berkata dalam perjalanannya, “Tak disangka aku juga menjadi penasaran". 'Dimana hadiah untuk seorang seperti itu adalah ia menjadi sosok yang hidup'.
Bukankah suatu ini yang luar biasa-ah ya, ia tidak akan merincikan detil aritmatika atau apa saja didalamnya, ia ingin yang membaca bisa memecahkan dan merasakannya sendiri. Kalau sebenarnya dari lelucon atau kritis yang mereka buat bukan semata untuk terhibur seperti bermain dalam labirin, dibalik itu adalah gambaran kehidupan yang kelam. Dan bila diperhatikan dengan sudut pandang sains terbukti bahwa mereka pemikir yang keras, bisa dipraktikkan dalam ilmu pengetahuan yang-tidak gila.
Tapi kau tahu, ia yang mengagumi mereka pun terkadang terjadi selisih pemikiran. Ada banyak buku filsafat yang akan memang terlihat seperti memenuhi kebutuhan, yakni cara pemikiran yang bersifat koheren dan sistematik serta komprehensif terhadap segala aspek kehidupan, pertukaran pandangan menukil dari paham bebas dan luas, lalu jika mengatakan itu tetapi kebanyakan darinya hanya berlaku universal tidak parsial, generalisasi pengalaman atau historis yang lemah, berbau bias hingga tak bertanggung jawab pada hal-hal dasar. Layaknya tak bisa menyangkal bukan, karena sebuah buku pun adalah ‘buatan tangan manusia’. Sebenarnya premis didalam pula adalah hasil dari perombakkan yang ada pada pemikiran masing-masing, yang kebanyakan darinya akan diambil hipotesis yang mendukung untuk melanjutkan kehidupan. Awalnya mungkin ada yang dengan tujuan baik, tapi “Seorang manusia bijak pun dalam keadaan tertentu tak tahu cara membedakan mana yang benar.” Itu sebabnya rasanya perlu untuk kembali belajar kitab Tuhan, dimana disanalah segala sifat-sifat kebenaran berasal. Suatu hari ia yang didalam juga pernah terpikir akan mengatakannya ada keinginan untuk mempelajari langsung ditempat asal dimana para filsuf melansir hasil pemikiran mereka ke surat kabar seluruh dunia, akan menjadikannya sebagai perbacaan dalam sudut pandangnya. Ia dengar, Inggris adalah negara yang banyak menghasilkannya, dan sekolah mereka memiliki ruang perpustakaan terbaik.
Tapi teringat padanya mengenai sebuah cerita..
‘Ada seorang tulang punggung keluarga. Ia pekerja keras yang jujur nan sahaja. Akan selalu mengagumi orang-orang yang seperti itu, maka akan merekamnya dalam ingatan, seperti juga menyimpan kalimat yang sering terdengar darinya “memandang hampa duniawi.”, begitu ia selalu mengucapkannya. Rasanya tak ada yang diinginkan lagi untuk diri sendiri di dunia ini, itu sebabnya akan dipindahkan tubuhnya untuk memikirkan keluarganya. Ia akan bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan. Berbagai masalah datang menimpa tak ayal ia jalani, seperti melunasi hutang-hutang keluarga yang sudah berbukit. Tapi, suatu hari terlihat ia seperti terpukul sekali. Diketahui bahwa ada seorang keluarganya yang sedang mengambil studi disalah satu universitas negeri ini ingin pula studi diluar negeri. Dengan berbagai macam ulasan yang mengarah pada harga diri dijatuhkan padanya, memukul dengan memberikan alasan-alasan yang tidak sehubungnya, tapi akhirnya hanya bisa diam melemah. Sebenarnya begitu sakit karena ia sudah susah payah mengeluarkan uang yang amat banyak untuk studi seorang tadi. Tapi dengan ringan seorang itu mengatakan ingin melepas studi disini lalu mengambil disana untuk gelar yang sama, dimana yang sebenarnya akhirnya ingin menjadikannya demi martabat dan mimpi. ‘
'Sebuah mimpi'. Kembali lagi ditujukan padanya mengenai gambaran salah dalam tafsirannya. Ia selalu berpikir mengapa sebagian orang menjadikan itu sebagai perisai tapi menghalalkan segala cara dengan tidak memperdulikan kesakitan orang lain atau kerusakan yang disekitarnya. Layaknya sebuah filsafat yang ada pada serangkaian buku. Sebagian tentu akan menandasnya, tapi akan ia pastikan cangkangnya agar dapat terbalik. Ada air wajah tergelak ketika membuka mata dengan keadaan arah acuan seperti itu. Olehkarenanya menjadi termenung dan ingin menuliskannya dari sudut pandang yang dilihat disana. Ada disebuah dunia yang membuatkan nestapa, berkeruh, namun sayang orang-orang yang melaluinya pura-pura tak melihat lalu mengabaikannya. Ia mencoba untuk bertanya dan mencari jawaban, dan seketika itu menjadi diam. Ia kukuhkan segala keyakinan agar berdiri tetap walau dengan kaki cacat. Lagipula karena didunia ini sebenarnya 'rasa menginginkan apa-apa' seketika hampa itu benar, mungkin rasa sakit diluar raga seperti itu juga tak ada apa-apanya dibandingkan ia yang berjuang didalam. Dan ia berharap disana masih hidup, walau kesulitan bagaimana mengurangi sakitnya. Jika Tuhan memberikan pilihan pada benda-benda disegala isi dunia ini untuknya, sebenarnya ‘ia hanya akan mengambil keluarga kecil sederhana yang bahagia’, untuknya agar bisa pulang ketika kelelahan menghadapi dunia yang sudah begitu teruk. Corong didalam rasanya seperti mengatakan tak sanggup meneguk, air kehidupan yang sudah diseduh seperti itu.
Mimpi
tidaklah demikian…
...
Seravi
Alice's Adventures in Wonderland book. Lewis Carrol http://www.gutenberg.org/ebooks/11
Alice's Adventure in wonderland classic movie:
https://m.youtube.com/watch?v=rA-WJFK3DgU


Komentar
Posting Komentar