Paraffin Beku

en.wikipedia.org


Dua musisi jalanan yakni seorang pemain cello dan seorang lagi pemain piano, bergenre classical crossover , orchestral pop, dan cello rock. Mereka memperlihatkan padanya latar cerita indah didalam, tentang hidup, mulai dari lahir menjadi seorang yang semaput dalam mencari banyak hal, dan ketika dewasa mulai tidak ingin sembarangan karena mempunyai tanggung jawab pada dunia ini, dan ketika tua mengambil pena untuk menulis. Didalam iringan lantunan nada yang menari, dengan senang hati seperti menunjukkan betapa luasnya bumi Tuhan, jika kau ketahui. Ada kastil, pegunungan, samudra, pepohonan, tanah es dan sebagainya, sehingga seorang terbawa ke sebuah yang sendiri tak mengerti, seperti  anak  yang akan duduk berlama-lama memangku tangan ke dagu dalam ayunan dibawah pohon willow disalah satu cerita milik ayahnya.  

Seorang laki-laki dengan setelan baju pelayan blouse putih yang sudah dikeluarkan dari celana dasarnya seperti remukan kertas  masih berdiri diantara kerumunan yang menonton. Ia  suka saat yang diketahui bernama Harman memukul-mukul cello sambil tertawa, atau satu lagi Hale yang memejamkan mata sembari memberi gemiricik palu kecil hingga membuat nut disana terheran-heran, hingganya merasakan bagaimana mereka menghayati setiap lagu yang dimainkan. Seperti ingin mengatakan, bahwa dari diri juga yang mengajarkan banyak hal di dunia ini. Katakanlah “Aku akan rela menunggunya pulang berlama-lama hanya untuk mendengarkan cerita-cerita baru.” Karena ada satu kalimat yang darinya, “Tuhan tak memintamu untuk sempurna didalam hidup, tapi memintamu untuk belajar tanda-tanda kuasaNya.” Dari sana mulailah memperhatikan, merasakan lebih dalam seperti dengan menghirupkan udara ketika membuka jendela . Dulu akan menganggap ini semua menyedihkan karena seperti dikutuk didunia sana, akhirnya mencari dunia lain yang sedikit aneh, dengan itu bisa menjadi diri sendiri yang menerima  apa adanya. Tanpa kau ketahui,  ternyata ada tempat yang tidak dibayangkan sebelumnya, akhirnya ia juga salah satu alasan untuk menuliskan paranada. Karena akan tak bisa membiarkan hal-hal seperti itu dilewatkan begitu saja, sedangkan tahu kemampuan mengingat ini yang sudah lemah, itu sebabnya akhirnya membutuhkan tinta dan kertas.  

Ia selalu berpikir mengapa orang-orang seringkali hilir mudik mencela mereka walaupun terkadang ada juga yang menonton. Mereka mungkin memang terlihat hanyalah peganggu pejalan kaki , tapi bukanlah pengemis jika ada yang bertanya. Selama bisa hidup ternyata menapakkan kaki ini masih ada kalimat menyenangkan, selama meniatkan ketulusan ada saja yang bisa dibuat dengan karya. Sebenarnya itu tergantung bagaimana cara seseorang memandang dunianya, seperti halnya menjadi para pensyukur atau pengagresif dengan segala keinginan-keinginan. Namun ketika seorang dengan akalnya mencoba menafsirkan ini, ada yang akhirnya pengartian keduanya akan terlihat ambigu, karena bahwasanya yang satu seperti seorang pendiam yang dikatakan selamanya hidup didalam kubah kedap lalu menerima apapun itu dari Tuhan, sedangkan satu lagi seperti seorang pelukis yang memilki cat warna-warni yang indah lalu hidup dengan berbagai angan. Andai seorang benar-benar mendalami, akan mengerti arti sesungguhnya, karena kau tahu, bahwasanya didalam kubah tadi bukan berarti seorang kerdil yang hanya bisa mengendap.

“Seorang kerdil yang bersyukur pula memiliki mimpi tapi cenderung lebih pada tanggungjawab, ketika pulang dari berpergian pun akan menerima dengan senang hati. Sebaliknya jika ia seorang agresif tak memperdulikan akibat dari peperangannya, bertaruh , ketika pulang membawa kemenangan  akan bersenang, tapi jika membawa kekalahan akan  berdengki.”

Tuhan amat membenci seorang yang bertaruh.

“Seorang itu telah menggantungkan hidup pada sebuah ‘keberuntungan’ dalam keyakinan yang dibuatnya  sendiri. Berdoa pada hal itu, sama halnya dengan mempersekutukan Tuhan dalam persembunyian diam-diam. Maka jika seorang yang memiliki harapan-harapan, sebaiknya berharaplah padaNya.”

Tapi terkadang sebagian ada yang akan menyalahartikan hal itu, seperti menyatakan secara sepihak bahwa keinginan-keinginannya dengan mengatasnamakan nama-nama baik Tuhannya, lalu membawa segerumbul kawanan untuk menghasut orang-orang, menghimpun kekuatan dengan pemikiran cerdiknya untuk membuat seperti sihir pengandaian dengan kesewenangan. Maka itu sebabnya hanya terdiam, memikirkan terkadang dunia buatan manusia begitu kejam.

Saat ini pun ketika berjalan seringkali melamun, mengingat kembali orang-orang yang mengatakan bahwasanya seorang hanya aneh karena telah berpikir jauh. Kau tak tahu. Jika melihat dari sudut pandang lain, bahwasanya banyak orang-orang dikehidupan bawah yang kesulitan, penderitaan mendera-deru akibat hidup dalam peperangan masa sekarang.

Suatu yang paling ia tak sukai di dunia itu adalah 'suatu hasrat yang terlalu melebihi kebutuhan dasar kehidupan', maka sungguh berharap sebaiknya pergilah menjauh, karena takut akan mendiamkannya, selamanya.

Tak tahu kalau pikiran itu sudah menjadi mimpi buruk, bagaimana jika sesuatu itu melekat pada tubuh orang lain atau diri sendiri. Ia tak bisa membenci keduanya, karena sebenarnya mereka sedang berjuang di kehidupan masing-masing. 

Suatu hari menemukan kedua orang ini seperti mendapat gambaran, musisi yang dengan terampilnya memainkan alat-alatnya. Menjiwai  dengan membuka jendela lebar-lebar hingga merasai semua udara, lalu dari situ roh tubuh mengikuti embun di kebun depannya yang bergelinding riang hingga pada ujung daun dan terjun langsung. Pundak yang kayu berdirinya menjadi sandaran lagi, benang-benang halus yang memainkan boneka hampir lapuk itu dilanjutkan kembali diatas panggung. “Peranmu sudah menunggu, menjadi sebuah pembuka kutukan pada pintu utama. Ketika kau melaluinya, bagaimana jika melihat dalam penderitaan lalu mensosokkannya sebagai patung penjaga ruh yang berdiam disana yakni sebuah sayap  yang akan mengapit lalu merekatkan ujung jari-jarinya sehingga mengunci lebih dulu, sebelum mereka." Sebenarnya ialah, pemegang kunci satu-satunya.

Para pemahir disana dahulu mungkin juga pernah terjerembab ke lubang pemotong jalan pintas, tapi ada yang membuat seolah pintalan juntaian temali dari akar pepohonan yang terus bertumbuh melalui gorong-gorong menuju dirinya. Itu bukan suatu kebetulan, tapi timbal balik dari alam yang bekerja yakni hasil dari bagaimana cara pandang seseorang terhadap mereka. Seorang itulah, yang mengendalikannya. 

Disana Harman masih seperti mengetik nuts pianonya, dan Hale masih menggesek alat tulisnya, keduanya sambil mengayunkan kepala dengan ringan. Laju udara pun mengikuti alunan disana, hawa dinginnya yang tadi menusukkan pedang kini seperti menyeloroh seperti belaian halus. Sedangkan pemuda tadi karena terbawa keadaan ini hampir lupa bahwa kiri dan kanan sudah menyiapkan kantung kecil, olehnya ia segera mencari-cari sesuatu yakni bungkusan dari dalam tasnya. Sebenarnya khusus untuk musisi ini tak menerima uang, mereka lebih menerima makanan seperti kue atau roti. Dan dilantai sudah tersedia wadah untuk meletakkannya, yakni tempat kayu berbentuk sama seperti cello, yang memang digunakan Hale untuk itu. Diharapkan seorang sebaiknya meletakkan kantung kesana dengan cara yang baik-baik, tidak dilempar. Tapi kebanyakan tak akan memperdulikan aturan itu, olehnya seperti sekarang kantung-kantung dilempar dari jarak jauh, sehingga banyak pula yang tercecer dilantai. Namun sang musisi masih dengan ramah menyambut, malah akan membuat atraksi yang mengagumkan dari alatnya lagi. 

Dan tentu untuk pemuda yang tersenyum semuringah disana melihat ini, begitu mengagumkan.

Orang itu bernama Adam, seorang pelayan di toko kue agak jauh dari jalanan ini. Khusus untuk pertunjukkan mereka, ia membuat kue sendiri, kali ini pastri yang lebih ringan dengan tenunan rapuh namun serat-serat yang renyah. Sore ia tak terlalu sibuk di toko, hingganya bisa membuatkan makanan kecil itu lebih teliti, mengadon dan menggulung berulang kemudian membuat lipatan-lipatan tipis lalu membuatnya sedikit keras sebagai penahan isian, beruntung buah plum kering di persediaan lemari berlebih, asam manis didalamnya akan menyempurnakan rasa pada kue berlemak lebih tinggi itu. Semoga orang didepan menyukainya, karena ia sebenarnya ingin mengungkapkan rasa terimakasih. Karena seperti yang dikatakan tadi, melalui mereka sebuah titik terang datang tiba-tiba membuka jendela yang amat besar, seorang didalam bisa menghirup banyak udara dari luar, membersihkan bilik yang telah lama berdebu namun tak kasat mata sehingga tak pernah terjamah dan membuat suara terkadang ada yang tertahan. Maka pikirnya bisakah, dengan sekantung yang sudah disiapkan ini saja untuk sedikit membayarnya.

Ia masih berdiri disana, sambil mendengarkan alunan terngiang kembali saat bertemu dengan seorang anak yang juga menonton pertunjukan ini,  anak itu kelihatannya juga antusias sekali sama sepertinya mengagumi mereka. Dengan tak sengaja mendengar anak itu yang ada disampingnya sedang bergumam, “Aku mengangkat topiku untuk sebuah karya mereka”, katanya. Sedangkan Adam hanya tertawa kecil mendengar kalimat itu, tapi mungkin terlihat berbeda tanggapan yang didengar oleh anak tadi. 

“Apa kau sedang mentertawakanku, tuan? Yah, walaupun aku tak begitu tahu bagaimana menilai karya seni seperti itu, tapi darinya ada yang bisa kulihat.”, katanya ringan, yang tadi menoleh ke lawan bicara dan memfokuskan lagi arah pandangnya kedepan. Lalu tak lama kemudian mengeluarkan kantung kertas coklat muda yang diikat ujungnya dengan akar tanaman yang sepertinya sudah dibersihkan. Anak itu memang tak setinggi kelas orang-orang dikerumunan yang rata-rata berpenampilan dengan mantel penghangat untuk musim dingin, tapi terlihat cukup nyaman walau dengan baju dekil kaus kemeja luaran kotak-kotak hijau yang sedikit kelonggaran. 

“Boleh aku tahu apa didalam itu?”, kata Adam ramah seraya menunjuk kearah kantung kertas yang masih dipegang sang anak. 

“Ah, ini kacang kenari, aku memanjatnya sendiri untuk mengambilnya. Apa menurutmu mereka akan menyukai ini?”, katanya seperti redup sambil melihat ke kantung. 

“Jangan khawatir, mereka akan menerima apa pun yang kau berikan, “jawab Adam cepat sambil tersenyum. Kemudian diam sejenak, dan bertanya kembali, “Apa yang membuatmu melihat pertunjukkan ini?”, katanya mendelik karena sedikit penasaran pada bocah. Mendengar pertanyaan itu, sang anak melihat pemuda ini dengan lekat, menganggap sepertinya sepasang mata terang disana mungkin akan bisa mengerti bahasanya, akhirnya ia pun tak terasa terbawa hendak mengutarakan apa yang dalam dipikiran,   

“Aku ingin membalas budi.”, tuturnya pelan dengan mata lurus penuh arti kedepan memerhatikan dengan seksama. Beberapa saat keadaan menjadi hening. Dan melihat itu Adam semakin ingin tahu, karena keadaan ini sama seperti melihat dirinya sendiri. Tapi sebelum melayangkan pertanyaan, anak itu sudah hendak menjelaskan,

"Apakah kau tahu, bahwasanya mengapa mereka menerima makanan bukan uang? Orang-orang mungkin  hanya berpikir mereka hanya mementingkan isi kantung makannya masing-masing. Tapi tidak begitu, ada cerita dibalik itu. Dahulu sebenarnya mereka berjumlah tiga, hubungan yang sangat erat seperti saudara. Kemudian suatu hari ada kejadian yang tak terduga,  awalnya sekelompok pemungut pajak liar mendatangi kami ini yakni para pekerjaan di jalanan, untuk meminta uang. Tapi ketika itu adalah hari yang kurang siap, karena uang yang dikumpulkan bahkan tak cukup untuk makan selama sepekan. Lalu kami berusaha untuk memberontak, tapi mereka tak mau tahu akhirnya menyakiti dengan memukul, dan banyak dari kami yang terkapar. Pemimpin kami berusaha untuk mengajak berdiskusi, tapi ia malah disudutkan ke lorong yang begitu gelap untuk dihabisi, kemudian teman musisi yang kau lihat didepan lewat mencoba melerai. Tapi akhirnya..ia tumbang, tertusuk pisau. Kedua orang ini baru datang, cukup kuat untuk menangani para kawanan itu. Tapi, mereka tak bisa menyelamatkan temannya yang sudah kehabisan darah. “

Sejenak anak itu diam, tapi akhirnya mencoba menguatkan diri untuk melanjutkan..

“Setelah kejadian itu, mereka memasang papan pada pertunjukkannya, seperti yang kau lihat sekarang. Dan dari yang sesuai dituliskan disana hasilnya sebagian besar diberikan kepada tunawisma dan anak-anak jalanan disini, sedangkan mereka hanya mengambil seperlunya untuk kebutuhan. Pada saat itu menanyakannya, lalu mereka mengatakan bahwa hanya dengan itu seorang bisa memiliki kekuasaan hingga saling menghancurkan, menguruk pada baut waktu buatannya yang tak terhingga hingga kehilangan akal, melingkar pada larungan martabat-martabat tak berkesudahan hingga memandang tertinggi, memberi lebih pada keagungannya hingga seperti harus peruntukkan nilai tukar segala hal, padahal sesungguhnya dibandingkan itu ada yang lebih berarti.
Saat itu mungkin belum memahami jelas, tapi menjadi melihat seksama ketika mereka masih bersyukur dan memainkan pertunjukkannya, dan juga melihat bagaimana dari orang-orang yang dibantunya dengan senang hati menawarkan bantuan juga sering memberikan barang-barang seperti baju penghangat, tenda pelindung, dan sebagainya. Para kawanan ketika datang menagih pun tak bisa berbuat banyak didaerah ini, karena tak ada yang bisa diambil kecuali makanan mereka.”, jelas sang anak mengakhiri ceritanya sembari masih memandangi orang yang sedang bermain alat didepan.

Pemuda disampingnya hanya diam, tak dapat berkata-kata, lalu membalikkan arah sorot lurus kedepan juga mengikuti sang anak yakni tokoh yang ada didalam cerita tadi. Ia membayangkan apa yang sudah terjadi pada mereka dan orang-orang jalanan disini. 

Adam masih mengingat jelas hal itu, juga ketika sang anak beranjak dari tempatnya setelah menaruh bungkusannya ke wadah kayu cello dan berkata, “Aku memang tak bisa membawa kue lezat sepertimu, tapi aku akan datang kesini tiap hari memberi kenari yang lebih banyak kepada mereka.”, kata anak itu mnyeringai memperlihatkan gigi gingsulnya sembari setengah berlari.

Ketika membayangkan itu adam hanya bisa tersenyum kecil, dan melemparkan lagi pandangan kedepan. Tapi darisana sudah terlihat redup oleh bayangan tendanya, tak ada yang bisa dilakukan, hari memang sudah hampir malam. Kedua musisi sudah terlihat lelah masih memainkan alunannya, mungkin sebentar lagi selesai. Salah satu dari mereka kemudian menghidupkan lampu gantungnya yang biasa. Penerang itu memang amat berguna apalagi dihari dingin seperti ini, walaupun hanya dalam anggapan setitik tapi terlihat hangat, yang minyak lilinnya seperti tak habis-habis didalam. 

Mereka seperti mengatakan, “Paraffin beku pada tatakan gelas menuangkan nada diatas garis-garis paranada, ketika seorang didekat sana memulai menghidupkan cahayanya."

Pemuda itu hendak beranjak dari tempatnya. Tadi ia sudah meletakkan kantungnya kesana, tapi ada satu kantung lagi didalam tasnya. Sebenarnya ia berharap bertemu dengan anak waktu itu, tak ada maksud apa-apa, hanya saja ada perasaan senang mendengar bicara sang bocah.


seravi



Komentar

Postingan Populer