Paraffin Beku
Seorang laki-laki dengan setelan baju pelayan blouse putih
yang sudah dikeluarkan dari celana dasarnya seperti remukan kertas masih berdiri diantara kerumunan yang
menonton. Ia suka saat yang diketahui
bernama Harman memukul-mukul cello sambil tertawa, atau satu lagi Hale yang
memejamkan mata sembari memberi gemiricik palu kecil hingga membuat nut
disana terheran-heran, hingganya merasakan bagaimana mereka menghayati setiap
lagu yang dimainkan. Seperti ingin mengatakan, bahwa dari diri juga yang
mengajarkan banyak hal di dunia ini. Katakanlah “Aku akan rela menunggunya
pulang berlama-lama hanya untuk mendengarkan cerita-cerita baru.” Karena ada
satu kalimat yang darinya, “Tuhan tak
memintamu untuk sempurna didalam hidup, tapi memintamu untuk belajar tanda-tanda
kuasaNya.” Dari sana mulailah memperhatikan, merasakan lebih dalam seperti
dengan menghirupkan udara ketika membuka jendela . Dulu akan menganggap ini
semua menyedihkan karena seperti dikutuk didunia sana, akhirnya mencari dunia
lain yang sedikit aneh, dengan itu bisa menjadi diri sendiri yang menerima apa adanya. Tanpa kau ketahui, ternyata ada tempat yang tidak dibayangkan
sebelumnya, akhirnya ia juga salah satu alasan untuk menuliskan paranada.
Karena akan tak bisa membiarkan hal-hal seperti itu dilewatkan begitu saja,
sedangkan tahu kemampuan mengingat ini yang sudah lemah, itu sebabnya akhirnya
membutuhkan tinta dan kertas.
Ia selalu berpikir mengapa orang-orang seringkali hilir
mudik mencela mereka walaupun terkadang ada juga yang menonton. Mereka mungkin
memang terlihat hanyalah peganggu pejalan kaki , tapi bukanlah pengemis jika
ada yang bertanya. Selama bisa hidup ternyata menapakkan kaki ini masih ada
kalimat menyenangkan, selama meniatkan ketulusan ada saja yang bisa dibuat
dengan karya. Sebenarnya itu tergantung bagaimana cara seseorang memandang
dunianya, seperti halnya menjadi para pensyukur atau pengagresif dengan segala
keinginan-keinginan. Namun ketika seorang dengan akalnya mencoba menafsirkan
ini, ada yang akhirnya pengartian keduanya akan terlihat ambigu, karena
bahwasanya yang satu seperti seorang pendiam yang dikatakan selamanya hidup
didalam kubah kedap lalu menerima apapun itu dari Tuhan, sedangkan satu lagi
seperti seorang pelukis yang memilki cat warna-warni yang indah lalu hidup dengan berbagai angan. Andai seorang benar-benar
mendalami, akan mengerti arti sesungguhnya, karena kau tahu, bahwasanya didalam kubah tadi
bukan berarti seorang kerdil yang hanya bisa mengendap.
“Seorang kerdil yang bersyukur pula memiliki mimpi tapi
cenderung lebih pada tanggungjawab, ketika pulang dari berpergian pun akan
menerima dengan senang hati. Sebaliknya jika ia seorang agresif tak
memperdulikan akibat dari peperangannya, bertaruh , ketika pulang membawa
kemenangan akan bersenang, tapi jika
membawa kekalahan akan berdengki.”
Tuhan amat membenci seorang yang bertaruh.
“Seorang itu telah menggantungkan hidup pada sebuah
‘keberuntungan’ dalam keyakinan yang dibuatnya
sendiri. Berdoa pada hal itu, sama halnya dengan mempersekutukan Tuhan dalam persembunyian diam-diam. Maka
jika seorang yang memiliki harapan-harapan, sebaiknya berharaplah padaNya.”
Tapi terkadang sebagian ada yang akan menyalahartikan
hal itu, seperti menyatakan secara sepihak bahwa keinginan-keinginannya dengan mengatasnamakan nama-nama baik Tuhannya, lalu membawa segerumbul kawanan untuk menghasut orang-orang, menghimpun
kekuatan dengan pemikiran cerdiknya untuk membuat seperti sihir pengandaian
dengan kesewenangan. Maka itu sebabnya hanya terdiam, memikirkan terkadang dunia
buatan manusia begitu kejam.
Saat ini pun ketika berjalan seringkali melamun, mengingat
kembali orang-orang yang mengatakan bahwasanya seorang hanya aneh karena telah berpikir
jauh. Kau tak tahu. Jika melihat dari sudut pandang lain, bahwasanya banyak
orang-orang dikehidupan bawah yang kesulitan, penderitaan mendera-deru akibat
hidup dalam peperangan masa sekarang.
Suatu yang paling ia tak sukai di dunia itu adalah 'suatu hasrat yang terlalu melebihi kebutuhan dasar kehidupan', maka sungguh berharap sebaiknya pergilah menjauh, karena takut akan mendiamkannya, selamanya.
Tak tahu kalau pikiran itu sudah menjadi mimpi buruk, bagaimana
jika sesuatu itu melekat pada tubuh orang lain atau diri sendiri. Ia tak bisa membenci
keduanya, karena sebenarnya mereka sedang berjuang di kehidupan masing-masing.
Suatu hari menemukan kedua orang ini seperti mendapat
gambaran, musisi yang dengan terampilnya memainkan alat-alatnya. Menjiwai dengan membuka jendela lebar-lebar hingga
merasai semua udara, lalu dari situ roh tubuh mengikuti embun di kebun depannya
yang bergelinding riang hingga pada ujung daun dan terjun langsung. Pundak yang
kayu berdirinya menjadi sandaran lagi, benang-benang halus yang memainkan
boneka hampir lapuk itu dilanjutkan kembali diatas panggung. “Peranmu sudah menunggu, menjadi sebuah pembuka kutukan pada pintu utama. Ketika kau melaluinya, bagaimana jika melihat dalam penderitaan lalu
mensosokkannya sebagai patung penjaga ruh yang berdiam disana yakni sebuah sayap yang akan mengapit lalu merekatkan ujung jari-jarinya
sehingga mengunci lebih dulu, sebelum mereka." Sebenarnya ialah, pemegang kunci satu-satunya.
Para pemahir disana dahulu mungkin juga pernah terjerembab ke lubang pemotong jalan pintas, tapi ada yang membuat seolah pintalan juntaian temali dari akar pepohonan yang terus bertumbuh melalui gorong-gorong menuju dirinya. Itu bukan suatu kebetulan, tapi timbal balik dari alam yang bekerja yakni hasil dari bagaimana cara pandang seseorang terhadap mereka. Seorang itulah, yang mengendalikannya.
Para pemahir disana dahulu mungkin juga pernah terjerembab ke lubang pemotong jalan pintas, tapi ada yang membuat seolah pintalan juntaian temali dari akar pepohonan yang terus bertumbuh melalui gorong-gorong menuju dirinya. Itu bukan suatu kebetulan, tapi timbal balik dari alam yang bekerja yakni hasil dari bagaimana cara pandang seseorang terhadap mereka. Seorang itulah, yang mengendalikannya.
Disana Harman masih seperti mengetik nuts pianonya, dan Hale
masih menggesek alat tulisnya, keduanya sambil mengayunkan kepala dengan
ringan. Laju udara pun mengikuti alunan disana, hawa dinginnya yang tadi
menusukkan pedang kini seperti menyeloroh seperti belaian halus. Sedangkan pemuda tadi karena terbawa keadaan ini hampir lupa
bahwa kiri dan kanan sudah menyiapkan kantung kecil, olehnya ia segera
mencari-cari sesuatu yakni bungkusan dari dalam tasnya. Sebenarnya khusus untuk
musisi ini tak menerima uang, mereka lebih menerima makanan seperti kue atau
roti. Dan dilantai sudah tersedia wadah untuk meletakkannya, yakni tempat kayu
berbentuk sama seperti cello, yang memang digunakan Hale untuk itu. Diharapkan
seorang sebaiknya meletakkan kantung kesana dengan cara yang baik-baik, tidak
dilempar. Tapi kebanyakan tak akan memperdulikan aturan itu, olehnya seperti
sekarang kantung-kantung dilempar dari jarak jauh, sehingga banyak pula yang tercecer
dilantai. Namun sang musisi masih dengan ramah menyambut, malah akan membuat
atraksi yang mengagumkan dari alatnya lagi.
Dan tentu untuk pemuda yang
tersenyum semuringah disana melihat ini, begitu mengagumkan.
Orang itu bernama Adam, seorang pelayan di toko kue agak
jauh dari jalanan ini. Khusus untuk pertunjukkan mereka, ia membuat kue
sendiri, kali ini pastri yang lebih ringan dengan tenunan rapuh namun serat-serat
yang renyah. Sore ia tak terlalu sibuk di toko, hingganya bisa membuatkan
makanan kecil itu lebih teliti, mengadon dan menggulung berulang kemudian
membuat lipatan-lipatan tipis lalu membuatnya sedikit keras sebagai penahan
isian, beruntung buah plum kering di persediaan lemari berlebih, asam manis
didalamnya akan menyempurnakan rasa pada kue berlemak lebih tinggi itu. Semoga
orang didepan menyukainya, karena ia sebenarnya ingin mengungkapkan rasa
terimakasih. Karena seperti yang dikatakan tadi, melalui mereka sebuah titik terang datang tiba-tiba membuka
jendela yang amat besar, seorang didalam bisa menghirup banyak udara dari luar, membersihkan
bilik yang telah lama berdebu namun tak kasat mata sehingga tak pernah terjamah
dan membuat suara terkadang ada yang tertahan. Maka pikirnya bisakah, dengan
sekantung yang sudah disiapkan ini saja untuk sedikit membayarnya.
Ia masih berdiri disana, sambil mendengarkan alunan terngiang
kembali saat bertemu dengan seorang anak yang juga menonton pertunjukan
ini, anak itu kelihatannya juga antusias
sekali sama sepertinya mengagumi mereka. Dengan tak sengaja mendengar anak itu yang
ada disampingnya sedang bergumam, “Aku mengangkat topiku untuk sebuah karya
mereka”, katanya. Sedangkan Adam hanya tertawa kecil mendengar kalimat itu,
tapi mungkin terlihat berbeda tanggapan yang didengar oleh anak tadi.
“Apa kau sedang mentertawakanku, tuan? Yah, walaupun aku
tak begitu tahu bagaimana menilai karya seni seperti itu, tapi darinya ada yang
bisa kulihat.”, katanya ringan, yang tadi menoleh ke lawan bicara dan memfokuskan
lagi arah pandangnya kedepan. Lalu tak lama kemudian mengeluarkan kantung
kertas coklat muda yang diikat ujungnya dengan akar tanaman yang sepertinya
sudah dibersihkan. Anak itu memang tak setinggi kelas orang-orang dikerumunan
yang rata-rata berpenampilan dengan mantel penghangat untuk musim dingin, tapi terlihat
cukup nyaman walau dengan baju dekil kaus kemeja luaran kotak-kotak hijau yang
sedikit kelonggaran.
“Boleh aku tahu apa didalam itu?”, kata Adam ramah seraya
menunjuk kearah kantung kertas yang masih dipegang sang anak.
“Ah, ini kacang kenari, aku memanjatnya sendiri untuk
mengambilnya. Apa menurutmu mereka akan menyukai ini?”, katanya seperti redup
sambil melihat ke kantung.
“Jangan khawatir, mereka akan menerima apa pun yang kau
berikan, “jawab Adam cepat sambil tersenyum. Kemudian diam sejenak, dan bertanya kembali, “Apa
yang membuatmu melihat pertunjukkan ini?”, katanya mendelik karena sedikit
penasaran pada bocah. Mendengar pertanyaan itu, sang anak melihat pemuda ini dengan
lekat, menganggap sepertinya sepasang mata terang disana mungkin akan bisa mengerti bahasanya, akhirnya ia pun tak terasa terbawa hendak mengutarakan apa yang dalam dipikiran,
“Aku ingin membalas budi.”, tuturnya pelan dengan mata lurus
penuh arti kedepan memerhatikan dengan seksama. Beberapa saat keadaan menjadi
hening. Dan melihat itu Adam semakin ingin tahu, karena keadaan ini sama
seperti melihat dirinya sendiri. Tapi sebelum melayangkan pertanyaan, anak itu
sudah hendak menjelaskan,
"Apakah kau tahu,
bahwasanya mengapa mereka menerima makanan bukan uang? Orang-orang mungkin hanya berpikir mereka hanya mementingkan isi kantung makannya masing-masing. Tapi tidak begitu, ada cerita dibalik itu. Dahulu
sebenarnya mereka berjumlah tiga, hubungan yang sangat erat seperti saudara.
Kemudian suatu hari ada kejadian yang tak terduga, awalnya sekelompok pemungut pajak liar
mendatangi kami ini yakni para pekerjaan di jalanan, untuk meminta uang. Tapi ketika
itu adalah hari yang kurang siap, karena uang yang dikumpulkan bahkan tak cukup
untuk makan selama sepekan. Lalu kami berusaha untuk memberontak, tapi mereka tak
mau tahu akhirnya menyakiti dengan memukul, dan banyak dari kami yang terkapar.
Pemimpin kami berusaha untuk mengajak berdiskusi, tapi ia malah disudutkan ke
lorong yang begitu gelap untuk dihabisi, kemudian teman musisi yang kau lihat
didepan lewat mencoba melerai. Tapi akhirnya..ia tumbang, tertusuk pisau. Kedua
orang ini baru datang, cukup kuat untuk menangani para kawanan itu. Tapi, mereka
tak bisa menyelamatkan temannya yang sudah kehabisan darah. “
Sejenak anak itu diam, tapi akhirnya mencoba menguatkan diri
untuk melanjutkan..
“Setelah kejadian itu, mereka memasang papan pada
pertunjukkannya, seperti yang kau lihat sekarang. Dan dari yang sesuai dituliskan disana hasilnya sebagian
besar diberikan kepada tunawisma dan anak-anak jalanan disini, sedangkan mereka hanya mengambil
seperlunya untuk kebutuhan. Pada saat itu menanyakannya, lalu mereka
mengatakan bahwa hanya dengan itu seorang bisa memiliki kekuasaan hingga
saling menghancurkan, menguruk pada baut waktu buatannya yang tak terhingga hingga kehilangan akal, melingkar pada larungan martabat-martabat tak berkesudahan hingga memandang tertinggi, memberi lebih pada keagungannya hingga seperti harus peruntukkan nilai tukar segala hal, padahal sesungguhnya dibandingkan itu ada yang lebih berarti.
Saat itu mungkin belum memahami jelas, tapi menjadi melihat seksama ketika mereka masih bersyukur dan memainkan pertunjukkannya, dan
juga melihat bagaimana dari orang-orang yang dibantunya dengan senang hati
menawarkan bantuan juga sering memberikan barang-barang seperti baju penghangat,
tenda pelindung, dan sebagainya. Para kawanan ketika datang menagih pun tak
bisa berbuat banyak didaerah ini, karena tak ada yang bisa diambil kecuali
makanan mereka.”, jelas sang anak mengakhiri ceritanya sembari masih memandangi
orang yang sedang bermain alat didepan.
Pemuda disampingnya hanya diam, tak dapat berkata-kata, lalu membalikkan arah sorot lurus kedepan juga mengikuti sang anak yakni tokoh
yang ada didalam cerita tadi. Ia membayangkan apa yang sudah terjadi pada
mereka dan orang-orang jalanan disini.
Adam masih mengingat jelas hal itu, juga ketika sang anak
beranjak dari tempatnya setelah menaruh bungkusannya ke wadah kayu cello dan
berkata, “Aku memang tak bisa membawa kue lezat sepertimu, tapi aku akan datang
kesini tiap hari memberi kenari yang lebih banyak kepada mereka.”, kata anak
itu mnyeringai memperlihatkan gigi gingsulnya sembari setengah berlari.
Ketika membayangkan itu adam hanya bisa tersenyum kecil, dan
melemparkan lagi pandangan kedepan. Tapi darisana sudah terlihat redup oleh bayangan
tendanya, tak ada yang bisa dilakukan, hari memang sudah hampir malam. Kedua
musisi sudah terlihat lelah masih memainkan alunannya, mungkin sebentar lagi selesai. Salah satu dari mereka kemudian menghidupkan
lampu gantungnya yang biasa. Penerang itu memang amat berguna apalagi dihari
dingin seperti ini, walaupun hanya dalam anggapan setitik tapi terlihat hangat, yang minyak
lilinnya seperti tak habis-habis didalam.
Mereka seperti mengatakan, “Paraffin beku pada tatakan gelas menuangkan nada diatas garis-garis paranada, ketika seorang didekat sana memulai menghidupkan cahayanya."
Pemuda itu hendak beranjak dari tempatnya. Tadi ia sudah
meletakkan kantungnya kesana, tapi ada satu kantung lagi didalam tasnya.
Sebenarnya ia berharap bertemu dengan anak waktu itu, tak ada maksud apa-apa, hanya saja
ada perasaan senang mendengar bicara sang bocah.
seravi


Komentar
Posting Komentar