Hourglass
Benar sekali, mengapa ia tak pergi ke kota. Walaupun baju rajutan kelihatannya sepekan ini selalu merekat pada tulang karena beralasan hawa dingin, tapi sebenarnya dalam hati ingin sekali menadahkan cangkir tangan ditaman sana agar mengambil titik-titik putih berkilau yang dipantulkan cahaya. Kemudian menuangkannya ke yang menyerupai mangkuk terbalik di kedua belah pipi, dan memutar jemari searah jarum jam mengikuti lingkarnya. Ia berharap itu akan benar-benar membeku, karena sebelumnya sudah bak kue panekuk bulat yang baru saja diangkat dari tungku batu. Dan lebih mengembang dari biasanya, itu sebabnya bisa dengan cara memasukkan udara baru lagi dari luar, seperti halnya sebuah di dalam gelas kaca piala yang sebelumnya diberi harapan dengan tekanan udara sehingga membesar lalu jika dibuka tutupnya akan kembali mengecil. Ah dirinya, ia tahu masih bisa mengendalikan diri, tapi janganlah menyimpan terlalu lama, apalagi tak baik ia hanya memakan permen turki dibalik tirai saja, memutar topi kubusnya dan mensejajarkan dengan cahaya hingga menghasilkan butiran kaca. Mengapa ia tak sungguh-sungguh keluar dari rumah dan menikmati wujud yang asli dari mereka.
Pikiran ini memang tak akan hilang untuk sejenak, padahal sudah meneguk air sebanyak mungkin dan menggelutukkan semua batu es yang dimiliki, tapi sepertinya tak bisa dikeluarkan atau disusutkan. Mungkinkah ini hukuman, karena menggambarkan hal nyata sehingga tanpa meminta ijin pada bayangannya akhirnya banyak dari sekawanan mereka yang mengikuti dari belakang tengkuk untuk menuntut pertanggungjawaban. Cahaya gelap dengan tubuh aslinya mensosokkan sebagai runcing anak panah bertudung hitam yang sebilahnya ingin menggorok sekerat daging luaran raga.
Sebenarnya pemikiran seperti ini pun bukanlah karena curang ingin menyembunyikan angan, sehingga kenaifan layaknya dinyatakan untuk seorangnya. Dimana dikatakan yang paling seringkali tidur diwaktu orang-orang sedang mewacanakan persentasi didepan kelas, kapur-kapur tulis saling menyentukkan hingga seperti laju tapal kuda yang meringkih pada papan tua. Bicara mengenai hal ini, yang seorang disudut bukanlah meruntut ke seorang 'pesimis' tapi bagaimana cara memandang suatu dengan 'realistis'.
Berpikir mengapa akhirnya mencanangkan tulisan yang sebenarnya isi didalam mengarah pada sesosok yang terlalu beruah sehingga harus membuang hal sia-sia, jika hidup ini hanya tinggal menunggu anggukan jam buka tutupnya.
Suatu hari jika berhenti, mencari-cari pengkail untuk meminta suatu yang didalam agar muncul ke permukaan lagi.
Suatu hari jika berhenti, mencari-cari pengkail untuk meminta suatu yang didalam agar muncul ke permukaan lagi.
Hal itu sudah sulit, mengembalikan waktu yang sudah bertumpah. Baik itu waktu hidup sebuah dendam yang dalam anggapan bersempitan di belakang amat jauh maupun waktu hidup harapan yang dalam anggapan berlebihan di depan yang amat dekat.
"Sebaiknya janganlah terlalu hidup dimasa depan dan masa lalu, karena disana bahkan tidak ada sebuah rumah pohon untuk berteduh. Seorang tak memiliki raga ketika itu, hanya didalam pengandaian, seperti yang menerbangi pepohonan pada malam hari dan siang hari tapi tak bisa bergelantungan, tak memiliki kuasa ruh hanya senyatanya sesosok jubah bayangan luruh." Kemudian hingganya tak ada pengutamaan lain lagi dalam hidup yang lebih bermanfaat. Bak didalam botol arak yang terombang-ambing, didalamnya kehilangan diri, kemudian sedikit demi sedikit kehilangan akal, bahkan tanpa disadari hati nurani. Ialah sebenarnya yang menjadi sempit seperti seorang yang ia hina sebelumnya, karena diri bersikukuh dengan pemikirannya, yakni tak mau menerima kebenaran apa pun yang ada diluar botolnya.
Pernahkah seorang memikirkan apa yang pertama kali yang ditanya oleh Tuhan kelak, yakni lalu "Bagaimana dengan tanggung jawabmu ketika diturunkan dari langit."
Maka seorang dalam kesalahan jika mengartikan mimpi sebagai jelmaan menjadi 'manusia bebas.'
Karena dunia ini bukan hanya untuk seorang, tapi tak terhingga makhluk. Dalam waktu secarik kehidupannya yang dengan serpihan putih kertas-kertas tak terhingga berterbangan datang kemudian berdesakan juga berlalu cepat lalu begitu lagi pula kembali diam, dan seterusnya. Sungguh banyak fenomena, segala yang hakiki hingga prahara. Kesemuanya itu berjalan dalam keadaan pada waktu yang bersamaan. Maka dapatkah seorang membayangkan betapa menakjubkan alam semesta. Ketika seorang menambahkan pula pada hal itu dengan menginginkan 'tidak memiliki batasan' menurut paradigmanya, sebenarnya pikiran itu tak memiliki cukup kekuatan untuk mengubah kedudukan disana, dan jika merombak kasar akan bertimbal sama akibatnya pada seorang yang memberinya. "Seperti pada jam pasir, baik atau buruknya seorang padanya tak akan menangguhkan bulir-bulirnya berjatuhan. Berkadar sama wadah atas dan bawah serta jumlah pasir sehingga akan tepat saling menempati. Sudah diatur sedemikian rupa segala sesuatu untuk berjalan sesuai pada tempat berhenti."
Dan bagaimana Tuhan menjadikan sebenarnya manusia adalah 'makhluk berakal' pada tanda-tanda itu, bukan untuk menjadi seorang pelayan-pelayan atau raja-raja dari kehidupan masa lalu. Agar menjadi pelajaran dari orang-orang terdahulu, bahwasanya untuk membuktikan jika kebenaran tentang apa itu kehidupan bebas memang adil, tanpa batasan, tanpa hukuman. Tulislah peraturan itu, maka tak ada yang dilihat seorang, kecuali kehancuran.
Seorang dengan kecerdasan akal berakarnya akan tak mau menerima hal itu, maka menyebutkan segolongan yang mempercayai ruang lingkup kubah adalah "Seorang primitif yang hidup dengan pintu-pintu."
Mendengar hal itu terkadang membuat banyak merenungi, ketika seorang sungguh-sungguh tulus berharap memilih jalan benar dari Tuhan dan menyampaikan risalah itu ternyata amanah yang diambil sungguh berat. Meneguhkan hal itu dalam hati, selamanya. Bersiap menanggung cercaan dan pukulan dari segala sudut sehingga seperti akan berdiri disebuah titik bidik pemangsa. Tapi seorang akan melihat, bagaimana Tuhan melindunginya.
Terlihat yang disudutkan disana sebenarnya tak menginginkan pertikaian, karena didalamnya memiliki garis keyakinan dan pemikiran yang berbeda, olehnya hanya dikatakan oleh hati-hatinya agar bersabar.
"Seorang prajurit tak menjadikan perang sebagai ketangguhan." Karena tak menemukan apa-apa, hanya ada kemarahan. Itu sebabnya hanya menginginkan ketenangan, agar menemukan arti sebenarnya dalam keyakinan yang diteguhkan.
Pada pencarian pun sudah dilelahkan dengan menjumpai banyak teori yang membelokkan namun tak kasat mata seperti mengenai hal tak semestinya dengan mengatasnamakan kebijaksanaan yang dibuat sedemikian rupa oleh suatu golongan demi sebuah keinginan atau kepentingan, mentolerir suatu yang salah. Sesungguhnya, hukum Tuhan tak bisa ditawar. Bak membunuh atau menyingkirkan lainnya dikarenakan takut kekurangan adalah yang terjadi dalam pandangan mereka itu, dan sesungguhnya, sudah disiapakan untuk seorang segala kebutuhannya.
Jika seorang benar-benar tulus ingin berkarya. Bumi Tuhan begitu luas, dengan segala mahakarya. Tapi seorang akan melihat, bahwasanya dengan mahakarya itu akan ditemui banyak jenis orang-orang didunia ini, ada yang akan mengeruk habisnya, namun ada pula yang menahan keinginan karyanya itu demi kepentingan orang lain, mereka mengatakan, "Tak mengapa, aku bisa berkarya ditempat lain." Maka Tuhan memberikan lebih, sebagai balasan karena telah berjiwa besar, yakni ketenangan pada ruhnya.
Andai seorang mendalami, kehidupan yang tenang dari Tuhan itu bukanlah hadiah biasa, tapi menyiratkan sesuatu yang lebih darinya.
"Seorang yang memiliki ketenangan hati ia seperti memiliki segalanya karena tak kehilangan dirinya. Sebaliknya ia yang tak memiliki ketenangan seperti tak memiliki apa-apa karena kehilangan dirinya."
Ketika seorang yang kehilangan diri maka yang terjadi kemudian adalah, seorang tak tahu lagi tujuan hidup, tak mengenal siapapun, tak memperdulikan waktu.
Sesungguhnya pandangan dari mengeruk habis adalah bukan suatu yang bisa dijadikan sebagai intisari hidup. Karena sebenarnya arti dilahirkan pun layaknya mencari arah kesemua buku itu untuk menemukan jalan utama.
"Seorang prajurit tak membutuhkan petualangan hebat dan kegembiraan meruah untuk sampai pada tujuan." Karena jika mengatakan atau meniatkan keduanya itu pada hati bukanlah tanggungjawab tapi hasrat. Walaupun jika itu digunakan, sebenarnya tualang dan senang hanya untuk membantu menjalankan penopang tugas utama, yakni sewaktu mencari sembari berpergian, tapi tidak dikatagorikan berlebihan. Karena akan membuang banyak hal sia-sia untuk sampai pada tempat yang sudah diperintahkan. Dan pula ketika seorang sudah dengan hasrat berlebih lalu keinginan tak terpenuhi akan membuat 'kegilaan pada jiwa', karena terus-terusan hidup dalam keadaan yang memabukkan akal.
Katakanlah seorang utusan yang mengirim surat, dengan stempel dari kerajaan. Apakah ia akan menghamburkan dirinya untuk hal yang diluar itu? Tidak, ia akan mendahulukan pada titah yang telah diberikan padanya. Dan sebenarnya tanpa menginginkan hasrat pun tak terasa ia sudah melakukan tualang itu sendiri. Karena selama menjalankan tugasnya akan menemui banyak hal, ketika berusaha mencari arah yang benar dengan bertanya pada orang dalam perjalanan, lalu harus melewati banyak tantangan didalam itu dengan menghadapi beberapa musuh, atau bahkan diri sendiri ketika menapakkan kaki menemukan banyak hal yang meruntut pada hawa nafsu. Keadaan disana pun tak terasa sudah cukup sebagai tulisan yang memenuhi halaman bukunya. Kemudian sewaktu berpergian itu sesungguhnya pula ada hal yang bisa untuk menggembirakan diri, yakni dengan menikmati hasil kerja kerasnya disana seperti mengistirahatkan diri sejenak dari kelelahan, memakan buah-buahan sejenis apel hutan atau meneduhkan dibawah pohon. Agar tak terlalu menghukum diri karena harus memberikan kesempatan untuk memulihkan tenaga kembali. Maka amat salah, jika ada yang mengira pengemban titah itu hanyalah kayu hidup yang tak memiliki tualang-tualang mengagumkan atau selalu hidup dalam keterpurukan. Dibawah tempat rindang menyeka banyak peluh dengan jubahnya pun masih bisa meminum air segar dalam botol bawaannya, sembari melihat kembali gulungan surat yang menjadi tugasnya, berharap akan menyelesaikannya dengan hati-hati. Setelah dari beristirahat akan berjalan lagi, setiap hari dilakukannya berulang-ulang melangkahkan apa yang sudah tertulis juga mendapat ujian. Maka bayangkanlah jika ia dalam pengartian tualang dan istirahat yang dibuat dengan anggapan sendiri secara berlebih-lebih. Sungguh akan kehabisan waktu yang telah diberikan kerajaan karena tak sampai ke tujuan utama. Bagaimana pula jika kehilangan diri suatu ketika dijalan yang seperti dikatakan, rasa-rasanya amatlah gagal menjadi seorang prajurit karena tak bisa memegang erat perintah terhormat itu. Tak ada tempat untuk kembali, karena ketika berpulang membawa malu dan dihukum seberat-beratnya. Itu adalah sebuah tanggungan yang harus diterima jika gagal dalam sebuah titah. Ketika tak ingin pulang lalu melampiaskan kemarahan hingga kehilangan arah, akan lupa, siapa diri semula. Kehidupan akan menderita karena dera-deru dari pertikaian masa lalu akibat hawa nafsu.
Suatu hari, hendak jatuh bulir yang terakhir dari waktu diatas kepala yang hanya sejengkal, baru sadar tergeletak menggapaikan tangan hendak memecahkan jam pasir yang miliknya tertinggal.
seravi


Komentar
Posting Komentar