Windy
Seorang pemuda masih dengan buku notenya, ia hanya ingin
menyelesaikan tulisannya, memang sengaja mengambil tempat ini, daerah
bukit-bukit yang tinggi, sehingga dengan bentuk yang tak rata akan
mengakibatkan gesekan yang menghambat laju udara lalu semakin kencang angin yang
bertiup keareanya. Sedangkan waktu ia memilih pun siang kesore hari agar pula lebih
mendukung fenomena seperti itu. Dan ia sangat mengaguminya, ingin merasakan lebih dalam, memang pada saat angin bertiup
yang terlihat sebenarnya hanya partikel kecil yang terbawa seperti debu atau
lainnya, tapi kulit lengannya yang sedang menggerakkan pena tak bisa membohongi
apa yang dirasakan selain hal itu. Ada sebuah rahasia mengagumkan dibaliknya, tapi akhirnya seperti tak bisa diutarakan karena
tak bisa hanya mengira-ngira. Mungkinkah akan datang hujan atau badai, karenanya sebelum itu akan semampunya menafsirkan. Akhirnya pada awan ia
kembali menatap, sebenarnya masih banyak yang ingin didengar, andai itu terus
bercerita, ia akan menjadi pendengar setia. Setidaknya sedikit menghibur, karena didalam hati masih seperti
bergejelok, menyebabkan puing-puing retakan yang disebabkan darisana akan
terlihat seperti kota mati tak ada penghuninya.
'Windy'. Ada suatu sosok kemilau yang menggerakkan bulu-bulu dibelakang, suara disini yang tadi beriuh kini seperti tiupan melembutkan karenanya. Kemudian yang
tertinggal hanya suara gelombang-gelombang air kecil dan kicauan burung-burung yang
masih terlihat di pohon seberang. Hembusan udara mendengungkan telinga, 'Negeri awan sebenarnya sudah lama menyambut kedatangan.' Olehkarenanya
berharap rasa takut bermimpi biar saja dirampas, agar impian tak menyangka
sudah berada diatas. Tapi dalam hujan memang terdapat rintik banyak, maka
payung segera menyiapkan kedelapan helainya. Salah satu helai mengatakan,
"Ujian itu tidak bisa dihindari karena sudah hakiki, namun jangan
berhenti, biasanya awan sahabatku akan menjadi atap-atapmu, sebagai hadiah
karena engkau terus berjuang. Helai lain juga
mendukung, "Tak perlu takut, bukankah kau sudah memberikan kerindangan
pada pohonmu, dan ketika kayu sudah tua akan memunculkan ranting-ranting baru."
Masih ragu dengan hal itu, maka diri mematung disana. Negeri awan memang sudah
lama menyambut kedatangan, hanya saja tangan-tangan tidak ada keyakinan untuk
hal itu, padahal sudah dikatakan sebelumnya oleh hati-hati kecil mereka,
"Pilar disana masih menyangga, mungkin kau dapat jika satu hari saja
benar-benar berusaha, setahun berusaha kembali, musim selanjutnya berusaha
sekali lagi. Walau kau tak pasti bisa, hati-hati kecilmu ini akan ikhlas,
karena tahu tuannya sudah bekerja keras."
Hanyalah bunga daun tiga semanggi yang sering dilalui orang,
tak ada yang melihat karena bentuknya hanya menyerupai rerumputan saja. Padahal
sudah lama berkeinginan dikagumi oleh makhluk lainnya. Melihat bunga kenikir di
taman sana sungguh bahagia, manusia tentu saja senang dengan kelopak seperti
itu lalu dikelilingi ramai sekelompok jenis kelopak lain hingga berbentuk
bulatan-bulatan gulali bertumpuk. Bunga semanggi pada saat itu hanya membatin
dan berbisik sendiri, mungkinkah akan lebih baik membangun anakan-anakan bunga
seperti biasa, memang tak akan seindah, tapi dengan merimbunkan akan dapat
dijadikan sebagai makanan makhuk hidup lainnya dan juga untuk tanaman obat.
Akhirnya berupaya layaknya untuk menggerakkan akar lebih tekun setiap hari, melakukan hal itu lalu berganti
tahun hingga berganti musim, dan akhirnya, siapa mengira, ia menjadikan daunnya
bertumpuk empat hati semanggi indah. Seorang anak yang bermain dibendungan air
didekat sana ada yang tertarik, mengambil mereka lalu dirangkai menjadi mahkota
kepala.
Hanyalah pak tua yang menjual boneka kayu di tokonya, tak
ada yang memperdulikan karena bonekanya hanya kayu-kayu dingin saja. Padahal
sudah lama berkeinginan digunakan oleh anak-anak. Melihat toko diseberang
sungguh beruntung, anak-anak tentu saja senang dengan padatan busa berbagai
bentuk seperti itu lalu dibalut woll warna cerah. Tak lama dari itu memikirkan
sebuah yang gila, apakah ide dikepala berhasil atau tidak, ia tak tahu, hanya membuat
rumah pertunjukkan. Menambahkan gerobak kecil, keranjang dan peralatan lain dari
kayu-kayu hutan dekat rumah untuk bonekanya, terlihat riuh ramai penduduk
disana, kemudian memainkan satu buah cerita untuk mereka. Dalam waktu yang
panjang ia masih bersabar menunggu, ada ketika musim dingin seorang anak lelaki
menyinggahi, mendengar ia bercerita, setiap hari datang, membawa teman satu
persatu, dalam sebulan yang tadi datang berlipat ganda kawanannya, dan akhirnya
sebentar saja toko pak tua pun dipenuhi dengan gerumbulan serdadu-serdadu
layaknya seperti dalam cerita pertunjukannya.
Negeri awan sebenarnya sudah lama menyambut kedatangan.
Katakanlah merengguh sebuah pilarnya. Jika itu terlalu jauh, setidaknya sayap-sayap
ini belum dulu berjatuh. Dan tentu tak mudah merangkai kehidupan seperti itu, ‘Apakah kau kira akan
ada sebuah keajaiban sebelum datang ujian daripadamu?’, katanya berhenti
berdengung.
Pemuda itu hanya diam mendengar itu, kemudian merundukkan
kepala dan menulis, udara sudah kembali teratur, ia jadikan kesempatan ini
untuk melanjutkan kehalaman berikutnya. Tapi sebenarnya ia sendiri masih ragu, lalu
menatap lama huruf-huruf disana dan berpikir, bahwasanya akan dikemanakan tujuan
yang ada didalamnya dikemudian hari. ‘Seperti
pada angin, tanah yang ditempati tidaklah diam, arah pun akan berbeda dari tujuan semula jika
bergeser dengan permukaan yang licin'.
Seorang hendaknya tak membiarkan sesuatu mengalir begitu saja dengan akal yang pun banyak diantaranya tak beraturan dan lemah, sebaiknya ada pedoman yang lebih kuat sehingga bisa sampai pada tempat sebenarnya. Disana lalu akan bisa mengepak dengan segala keindahannya. Namun, orang-orang pun kebanyakan menyalahartikan hal itu, sesuatu indah yang 'menurut mereka' akan dianggap sebagai penguat keyakinan-keyakinan, padahal bisa jadi membuat arah yang berlainan ke lebih buruk.
Seorang hendaknya tak membiarkan sesuatu mengalir begitu saja dengan akal yang pun banyak diantaranya tak beraturan dan lemah, sebaiknya ada pedoman yang lebih kuat sehingga bisa sampai pada tempat sebenarnya. Disana lalu akan bisa mengepak dengan segala keindahannya. Namun, orang-orang pun kebanyakan menyalahartikan hal itu, sesuatu indah yang 'menurut mereka' akan dianggap sebagai penguat keyakinan-keyakinan, padahal bisa jadi membuat arah yang berlainan ke lebih buruk.
Ketika seorang bersikukuh pada mimpinya, terkadang ia akan
lupa, pada tujuan utama. Didunia ini banyak sekali yang tak diketahui dengan
jelas, lalu mengakibatkan seorang bisa saja beralasan bahwa mimpi itu adalah
untuk kebaikan, tapi sebenarnya, itu hanyalah hawa nafsu dari akalnya. Perasaan
itu sama seperti ketika bekerja pada lahan gandum, seorang akan melakukan cara
apa pun baik memberikan segala untuk
penumbuh atau menyingkirkan segala
tanaman peganggu, agar bisa menyemai bulir sebanyak mungkin untuk mengisi
karung-karung jeraminya.
Seorang mungkin yang sudah terjerat akan mengatakan ‘Jika
kau dalam keyakinan, jangan menanyakan apa pun didalamnya!’. Sungguh, ini sudah
dalam kesalahan, karena sebenarnya hal itu hanya berlaku pada kitab Tuhan,
tidak manusia. Karena apa, manusia itu pelupa dan peragu! Maka jika seorang
layaknya membuatkan sebuah tulisan pada hati nuraninya, tanyakanlah berulang-ulang
apakah itu sudah benar. Kemudian belajarlah, apa pun itu, lalu lihatlah dunia
Tuhanmu, apakah mimpimu itu justru yang akan membuat sebuah angin guruh.
Pemuda dibangku sana masih dengan penanya, kali ini akan
banyak menanyakan pada awan. Sesekali kepalanya mengadahkan kelangit lalu
menjatuhkannya lagi. Tinta hitam belum habis, tapi ia sudah seperti kehabisan
kata-kata. Senja pun sudah memperlihatkan warna kejingganya, burung-burung
bercicitan keatas untuk memberi kabar pada penduduk taman bahwa hari hampir
gelap. Menunjukkan waktunya hampir habis didaerah ini, tapi oh ayolah sedikit
lagi, satu lembar ini saja, pikirnya.
Ia pun kembali menulis, tapi saat menyambungkan sebuah kata,
tiba-tiba seorang datang menghampirinya. Orang itu berpenampilan kumal dengan
jaket abu parasut yang sudah robek sedikit kantung dan dadanya. Pada pemuda itu
ia menunjukkan senyum paling ramahnya, lalu duduk disana dengan tenang, sambil
mengambil sesuatu dari balik bajunya yang berkotak-kotak putih, disana terlihat
masih rapi berbeda dengan luarannya tadi. Pemuda itu seperti tercekat, tapi
lalu buru-buru memberikan hormatnya dengan menundukkan sedikit kepala dan
mengangkatnya lagi, orang itu pun menyambutnya. Kemudian kembali mengarah pada
kantung bawaanya yang sudah ditaruh sejajar pada dudukan disampingnya, lalu
mengambil sedikit darisana dan menggenggamnya, dan menyebarkannya ke tanah.
Ternyata itu adalah serpihan dari kacang-kacangan, dan sentak saja para
kerumunan burung-burung diudara tadi yang berputar diatasnya turun kebawah dan
mematuki makanan yang berjatuhan tadi.
Lalu tak lama kemudian orang itu membuka pembicaraan, “Kau
orang baru? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.”
Dan pemuda itu menghentikan kegiatannya, menegapkan bahu yang tadi membungkuk lalu sambil tersenyum simpul kemudian menjawab, “Ya,
aku baru sampai ditempat ini, apa kau sudah lama melakukan hal ini?, katanya
seraya sedikit mengangkat lengan yang terapit lalu menunjuk dengan pena ditangan kearah depan dimana tempat orang itu menyebar isi
kantung tadi.
“Begitulah, setiap hari aku melakukannya kepada mereka. Dan sepertinya kau juga melakukan hal
yang sama seperti kepada buku catatanmu,
anak muda”, kata orang itu yang terlihat hampir tua dengan seringainya dan
kerut didekat matanya.
Pemuda itu hanya tersenyum, lalu menjawab, “ah, ini hanya
sebagian dari kegiatan harianku”, katanya sambil membulak-balikkan halaman sedikit tersipu.
“Daritadi aku memperhatikanmu dari jauh.”, kata orang itu
lagi. “Ah ya, itu karena kau sedang
menulis banyak rupanya, dan tadinya tak ingin kusapa, tapi sepertinya dari raut
yang kulihat ada ketidaksukaan pada kertas itu.”, kata orang itu tersenyum lagi
seraya memberi dagunya kearah buku yang dipegang orang disebelah.
Mendengarnya pemuda itu menjadi terdiam, wajah ramah tadi seketika menjadi redup, lalu berkata pelan
dengan sarat muka tertekuk, “aku hanya belum bisa memastikan akhir tulisan
diberandanya.”
Melihat pemuda ini seperti kehilangan kemudi arah, orangtua
itu menyeringai kembali, kali ini dengan mata sipitnya, lalu memalingkan wajah
lurus kedepan seraya memandangi burung-burung yang masih bergemul sehingga
terlihat seperti kolam bulu, dan berkata,
“Ketika dulu, aku pun pernah mengalami hingga air muka itu sudah
sepertimu. Seperti mencari jati diri berpergian ke tempat-tempat yang kusukai,
ketika darisana ingin menuangkannya kedalam buku, tapi seketika ide gila yang
sudah disiapkan sedemikian rupa lamanya tadi menjadi terhenti. Kau tahu, karena
kebanyakan anak muda pada saat itu hanya menulis dan melanjutkan alur,
memperhatikan baik sorot lurus maju ataupun balik mundur, terkadang menjalin
sekaligus peristiwa masa lalu dan masa depan, menghubungkan hal erat dari
keyakinan dalam diri sehingga seperti tak terpisahkan, atau menghilangkan salah
satu frasa tapi tak merusak keutuhan cerita, sehingga ia pikir bisa ketujuan
yang benar hanya dengan satu halaman kehidupan atau lebihnya, lalu disana
membuatkan seolah tanpa peleraian dari pertikaian hingga segera ingin berlarian ke puncak. Tapi akhirnya
ia pun tak tahu, arti sebenarnya yang dituliskannya.”
Pemuda tadi memandangi orang itu lekat-lekat, dalam hati ada yang membuka timbunan reruntuhan, mungkin sekelabat jawaban disana yang lebih tepat, untuk menggoreskan serat-serat per halaman.
seravi


Komentar
Posting Komentar