Windy

www.pinterest.com


Pohon kering berwarna hitam ditelusuran jalan ini membuat bandul putih kecil dikepalanya ayun-temayun, gerakan dari suatu titik asal itu lagi dengan arah gerak yang sama. Tak ada yang bisa dilakukan bukan, angin sore hari ini agak kencang. Tapi seorang pemuda menikmatinya, itu sebabnya akan memandangi keadaan ini lama. Dari kejauhan terlihat tanaman berbentuk gelaran karpet panjang menyibakkan rambut lembutnya, tanaman semak menjatuhkan serpihan kertas-kertas dari bajunya didekat tiang-tiang lampu persegi klasik ukir timbul pada sisi kepala, burung yang bertengger diatasnya terpaksa mundur kepohon trembesi dibelakang. Lagipula memang disana tempat yang paling aman disini, karena tumbuhan peneduh itu tinggi besar dan memiliki tajuk yang melebar, sehingga bisa diandalkan sebagai penangkal jika ada terpaan. Sekawanan burung yang lain pun sudah lebih dulu bertengger memenuhi dahannya, menunggu keadaan kembali reda. Dari kejauhan pemuda tadi hanya dapat terpana melihat itu, dan sekelilingnya, semua makhluk hidup bergerak mengikuti arus laju darisana. Tak hanya itu, seperti benda mati yakni beberapa kaleng bekas di dekat bangku yang didudukinya sekarang, menimbulkan bunyi kelontang yang nyaring karena didorong hingga berjatuhan didekat anak tangga. Gemericik air mancur disampingnya menjadi terganggu, dimana anting-anting berlian yang jatuh saling bertubrukkan, lalu air yang sudah diwadah dari itu juga menghempaskan riak ombak kecil sehingga membasahi lantai bebatuannya. Diatasnya adalah hasil seni yang begitu indah, patung dengan dua anak lelaki kembar berlindung dibawah tembaga jamur dengan piringan bawahnya. Beruntung benda itu seperti terlihat kuat dan agaknya mereka masih bisa berlama dalam payung, karena hembusan udara seperti ini ingin sekali menghapus penduduk taman, pertama menepuk bahu-bahu selanjutnya menerjang punggung terakhir menggulingkan. Tapi benarkah demikian,  mungkin seorang terlalu berprasangka buruk padanya, tak semua dirusak, bunga-bunga masih mengaguminya. Salah satu dari mereka seperti mengatakan, “pabrik parfum kami akan terus berjalan hingga berapa generasi, kau paling tahu itu.” Pohon mawar tipped merah muda memang yang paling mencolok diantara semua, serbuknya akan mudah berjatuhan sehingga wewangian akan seperti pada satu botol yang secara rahasia tak akan habis-habisnya.

Seorang pemuda masih dengan buku notenya, ia hanya ingin menyelesaikan tulisannya, memang sengaja mengambil tempat ini, daerah bukit-bukit yang tinggi, sehingga dengan bentuk yang tak rata akan mengakibatkan gesekan yang menghambat laju udara lalu semakin kencang angin yang bertiup keareanya. Sedangkan waktu ia memilih pun siang kesore hari agar pula lebih mendukung fenomena seperti itu. Dan ia sangat mengaguminya, ingin merasakan  lebih dalam, memang pada saat angin bertiup yang terlihat sebenarnya hanya partikel kecil yang terbawa seperti debu atau lainnya, tapi kulit lengannya yang sedang menggerakkan pena tak bisa membohongi apa yang dirasakan selain hal itu. Ada sebuah rahasia mengagumkan dibaliknya, tapi akhirnya seperti tak bisa diutarakan karena tak bisa hanya mengira-ngira. Mungkinkah akan datang hujan atau badai, karenanya sebelum itu akan semampunya menafsirkan. Akhirnya pada awan ia kembali menatap, sebenarnya masih banyak yang ingin didengar, andai itu terus bercerita, ia akan menjadi pendengar setia. Setidaknya sedikit menghibur, karena didalam hati masih seperti bergejelok, menyebabkan puing-puing retakan yang disebabkan darisana akan terlihat seperti kota mati tak ada penghuninya.

'Windy'. Ada suatu sosok kemilau yang menggerakkan bulu-bulu dibelakang, suara disini yang tadi beriuh kini seperti tiupan melembutkan karenanya. Kemudian yang tertinggal hanya suara gelombang-gelombang air kecil dan kicauan burung-burung yang masih terlihat di pohon seberang. Hembusan udara mendengungkan telinga, 'Negeri awan sebenarnya sudah lama menyambut kedatangan.' Olehkarenanya berharap rasa takut bermimpi biar saja dirampas, agar impian tak menyangka sudah berada diatas. Tapi dalam hujan memang terdapat rintik banyak, maka payung segera menyiapkan kedelapan helainya. Salah satu helai mengatakan, "Ujian itu tidak bisa dihindari karena sudah hakiki, namun jangan berhenti, biasanya awan sahabatku akan menjadi atap-atapmu, sebagai hadiah karena engkau terus berjuang. Helai lain juga mendukung, "Tak perlu takut, bukankah kau sudah memberikan kerindangan pada pohonmu, dan ketika kayu sudah tua akan memunculkan ranting-ranting baru." Masih ragu dengan hal itu, maka diri mematung disana. Negeri awan memang sudah lama menyambut kedatangan, hanya saja tangan-tangan tidak ada keyakinan untuk hal itu, padahal sudah dikatakan sebelumnya oleh hati-hati kecil mereka, "Pilar disana masih menyangga, mungkin kau dapat jika satu hari saja benar-benar berusaha, setahun berusaha kembali, musim selanjutnya berusaha sekali lagi. Walau kau tak pasti bisa, hati-hati kecilmu ini akan ikhlas, karena tahu tuannya sudah bekerja keras."

Hanyalah bunga daun tiga semanggi yang sering dilalui orang, tak ada yang melihat karena bentuknya hanya menyerupai rerumputan saja. Padahal sudah lama berkeinginan dikagumi oleh makhluk lainnya. Melihat bunga kenikir di taman sana sungguh bahagia, manusia tentu saja senang dengan kelopak seperti itu lalu dikelilingi ramai sekelompok jenis kelopak lain hingga berbentuk bulatan-bulatan gulali bertumpuk. Bunga semanggi pada saat itu hanya membatin dan berbisik sendiri, mungkinkah akan lebih baik membangun anakan-anakan bunga seperti biasa, memang tak akan seindah, tapi dengan merimbunkan akan dapat dijadikan sebagai makanan makhuk hidup lainnya dan juga untuk tanaman obat. Akhirnya berupaya layaknya untuk menggerakkan akar lebih  tekun setiap hari, melakukan hal itu lalu berganti tahun hingga berganti musim, dan akhirnya, siapa mengira, ia menjadikan daunnya bertumpuk empat hati semanggi indah. Seorang anak yang bermain dibendungan air didekat sana ada yang tertarik, mengambil mereka lalu dirangkai menjadi mahkota kepala. 

Hanyalah pak tua yang menjual boneka kayu di tokonya, tak ada yang memperdulikan karena bonekanya hanya kayu-kayu dingin saja. Padahal sudah lama berkeinginan digunakan oleh anak-anak. Melihat toko diseberang sungguh beruntung, anak-anak tentu saja senang dengan padatan busa berbagai bentuk seperti itu lalu dibalut woll warna cerah. Tak lama dari itu memikirkan sebuah yang gila, apakah ide dikepala berhasil atau tidak, ia tak tahu, hanya membuat rumah pertunjukkan. Menambahkan gerobak kecil, keranjang dan peralatan lain dari kayu-kayu hutan dekat rumah untuk bonekanya, terlihat riuh ramai penduduk disana, kemudian memainkan satu buah cerita untuk mereka. Dalam waktu yang panjang ia masih bersabar menunggu, ada ketika musim dingin seorang anak lelaki menyinggahi, mendengar ia bercerita, setiap hari datang, membawa teman satu persatu, dalam sebulan yang tadi datang berlipat ganda kawanannya, dan akhirnya sebentar saja toko pak tua pun dipenuhi dengan gerumbulan serdadu-serdadu layaknya seperti dalam cerita pertunjukannya.

Negeri awan sebenarnya sudah lama menyambut kedatangan. Katakanlah merengguh sebuah pilarnya. Jika itu terlalu jauh, setidaknya sayap-sayap ini belum dulu berjatuh. Dan tentu tak mudah merangkai kehidupan seperti itu, ‘Apakah kau kira akan ada sebuah keajaiban sebelum datang ujian daripadamu?’, katanya berhenti berdengung.

Pemuda itu hanya diam mendengar itu, kemudian merundukkan kepala dan menulis, udara sudah kembali teratur, ia jadikan kesempatan ini untuk melanjutkan kehalaman berikutnya. Tapi sebenarnya ia sendiri masih ragu, lalu menatap lama huruf-huruf disana dan berpikir, bahwasanya akan dikemanakan tujuan yang ada didalamnya dikemudian hari. ‘Seperti pada angin, tanah yang ditempati tidaklah diam, arah pun akan berbeda dari tujuan semula jika bergeser dengan permukaan yang licin'. 

Seorang hendaknya tak membiarkan sesuatu mengalir begitu saja dengan akal yang pun banyak diantaranya tak beraturan dan lemah, sebaiknya ada pedoman yang lebih kuat sehingga bisa sampai pada tempat sebenarnya. Disana lalu akan bisa mengepak dengan segala keindahannya. Namun, orang-orang pun kebanyakan menyalahartikan hal itu, sesuatu indah yang 'menurut mereka' akan dianggap sebagai penguat keyakinan-keyakinan, padahal bisa jadi membuat arah yang berlainan ke lebih buruk.

Ketika seorang bersikukuh pada mimpinya, terkadang ia akan lupa, pada tujuan utama. Didunia ini banyak sekali yang tak diketahui dengan jelas, lalu mengakibatkan seorang bisa saja beralasan bahwa mimpi itu adalah untuk kebaikan, tapi sebenarnya, itu hanyalah hawa nafsu dari akalnya. Perasaan itu sama seperti ketika bekerja pada lahan gandum, seorang akan melakukan cara apa pun baik memberikan  segala untuk penumbuh atau  menyingkirkan segala tanaman peganggu, agar bisa menyemai bulir sebanyak mungkin untuk mengisi karung-karung jeraminya.  

Seorang mungkin yang sudah terjerat akan mengatakan ‘Jika kau dalam keyakinan, jangan menanyakan apa pun didalamnya!’. Sungguh, ini sudah dalam kesalahan, karena sebenarnya hal itu hanya berlaku pada kitab Tuhan, tidak manusia. Karena apa, manusia itu pelupa dan peragu! Maka jika seorang layaknya membuatkan sebuah tulisan pada hati nuraninya, tanyakanlah berulang-ulang apakah itu sudah benar. Kemudian belajarlah, apa pun itu, lalu lihatlah dunia Tuhanmu, apakah mimpimu itu justru yang akan membuat sebuah angin guruh.

Pemuda dibangku sana masih dengan penanya, kali ini akan banyak menanyakan pada awan. Sesekali kepalanya mengadahkan kelangit lalu menjatuhkannya lagi. Tinta hitam belum habis, tapi ia sudah seperti kehabisan kata-kata. Senja pun sudah memperlihatkan warna kejingganya, burung-burung bercicitan keatas untuk memberi kabar pada penduduk taman bahwa hari hampir gelap. Menunjukkan waktunya hampir habis didaerah ini, tapi oh ayolah sedikit lagi, satu lembar ini saja, pikirnya.

Ia pun kembali menulis, tapi saat menyambungkan sebuah kata, tiba-tiba seorang datang menghampirinya. Orang itu berpenampilan kumal dengan jaket abu parasut yang sudah robek sedikit kantung dan dadanya. Pada pemuda itu ia menunjukkan senyum paling ramahnya, lalu duduk disana dengan tenang, sambil mengambil sesuatu dari balik bajunya yang berkotak-kotak putih, disana terlihat masih rapi berbeda dengan luarannya tadi. Pemuda itu seperti tercekat, tapi lalu buru-buru memberikan hormatnya dengan menundukkan sedikit kepala dan mengangkatnya lagi, orang itu pun menyambutnya. Kemudian kembali mengarah pada kantung bawaanya yang sudah ditaruh sejajar pada dudukan disampingnya, lalu mengambil sedikit darisana dan menggenggamnya, dan menyebarkannya ke tanah. Ternyata itu adalah serpihan dari kacang-kacangan, dan sentak saja para kerumunan burung-burung diudara tadi yang berputar diatasnya turun kebawah dan mematuki makanan yang berjatuhan tadi. 

Lalu tak lama kemudian orang itu membuka pembicaraan, “Kau orang baru? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.”

Dan pemuda itu menghentikan kegiatannya, menegapkan bahu yang tadi membungkuk lalu sambil tersenyum simpul kemudian menjawab, “Ya, aku baru sampai ditempat ini, apa kau sudah lama melakukan hal ini?, katanya seraya sedikit mengangkat lengan yang terapit lalu menunjuk dengan pena ditangan kearah depan dimana tempat orang itu menyebar isi kantung tadi.  

“Begitulah, setiap hari aku melakukannya kepada mereka. Dan sepertinya kau juga melakukan hal yang  sama seperti kepada buku catatanmu, anak muda”, kata orang itu yang terlihat hampir tua dengan seringainya dan kerut didekat matanya. 

Pemuda itu hanya tersenyum, lalu menjawab, “ah, ini hanya sebagian dari kegiatan harianku”, katanya sambil membulak-balikkan halaman sedikit tersipu. 

“Daritadi aku memperhatikanmu dari jauh.”, kata orang itu lagi. “Ah ya,  itu karena kau sedang menulis banyak rupanya, dan tadinya tak ingin kusapa, tapi sepertinya dari raut yang kulihat ada ketidaksukaan pada kertas itu.”, kata orang itu tersenyum lagi seraya memberi dagunya kearah buku yang dipegang orang disebelah. 

Mendengarnya pemuda itu menjadi terdiam, wajah ramah tadi seketika menjadi redup, lalu berkata pelan dengan sarat muka tertekuk, “aku hanya belum bisa memastikan akhir tulisan diberandanya.”

Melihat pemuda ini seperti kehilangan kemudi arah, orangtua itu menyeringai kembali, kali ini dengan mata sipitnya, lalu memalingkan wajah lurus kedepan seraya memandangi burung-burung yang masih bergemul sehingga terlihat seperti kolam bulu, dan berkata, 

“Ketika dulu, aku pun pernah mengalami hingga air muka itu sudah sepertimu. Seperti mencari jati diri berpergian ke tempat-tempat yang kusukai, ketika darisana ingin menuangkannya kedalam buku, tapi seketika ide gila yang sudah disiapkan sedemikian rupa lamanya tadi menjadi terhenti. Kau tahu, karena kebanyakan anak muda pada saat itu hanya menulis dan melanjutkan alur, memperhatikan baik sorot lurus maju ataupun balik mundur, terkadang menjalin sekaligus peristiwa masa lalu dan masa depan, menghubungkan hal erat dari keyakinan dalam diri sehingga seperti tak terpisahkan, atau menghilangkan salah satu frasa tapi tak merusak keutuhan cerita, sehingga ia pikir bisa ketujuan yang benar hanya dengan satu halaman kehidupan atau lebihnya, lalu disana membuatkan seolah tanpa peleraian dari pertikaian hingga segera ingin berlarian ke puncak. Tapi akhirnya ia pun tak tahu, arti sebenarnya yang dituliskannya.”

Pemuda tadi memandangi orang itu lekat-lekat, dalam hati ada yang membuka timbunan reruntuhan, mungkin sekelabat jawaban disana yang lebih tepat, untuk menggoreskan serat-serat per halaman.


seravi


Komentar

Postingan Populer