Roses



www.pinterest.com


Halaman pada puri sudah dilindungi duri mawar, kelompok dengan semi memanjat, merambat pada pagar dan bangunan kanopi dengan kokoh tiang-tiang penjaganya, tapi rusa-rusa pun kelihatannya tak akan takut dan selalu merusaknya, menarik sampai ke akar-akarnya. Setiap hari, sisi kanan dan kiri akan selalu didatangi oleh sekawanan tersebut. Hingganya banyak rasa dengki dari mawar mengutuk mereka dengan disiapkan belati pada tiap batang, berukir sarung pinggangnya dengan sosok putih berkelabat. Anak rusa paling kecil menjadi buta, beberapa rusa muda lainnya terkoyak bawah perut halusnya. Olehnya untuk jeda waktu mereka memundurkan langkah. Dan suatu hari pada tiba waktunya, akan datang kembali, lagi dan lagi, perang tak pernah usai. Para ratu mawar disetiap kerajaan pun memanggil baronet mereka yang diyakini memiliki keahlian khusus. Tapi walalupun demikian, bangsa mawar hanyalah yang pandai menjaga minyak atsiri, namun tak pandai menjaga dari penyakit karat daun yang disebabkan oleh cendana-cendana, hingga pun belati tadi sebenarnya bukanlah yang dijadikan layaknya paham yang kuat. Orang-orang selalu beranggapan bahwa roh setengah manusia yang tinggal didalamnya adalah sosok yang paling terkemuka, dengan corong suara khasnya mengumukan kepada para penduduk hutan. Ia tak tahu, satu mahkota ternyata tak akan pernah luput dari sebuah kesalahan besar yang diperbuat, yakni dengan kertas-kertas pesta tak terhingga beterbangan, tapi setelah datang kerusakan ia menampikkan pada makhluk bertitik-titik dari langit. Baginya akal yang sudah bertumpahan tak mudah lagi diterjemahkan, sehingga akan mengalir dengan arus sendiri. Seandainya tetap mengecam ujian yang berjalan diwajah-wajah, lihatlah, maka suatu hari ia justru akan lebih didekatkan rahasia darisana hingga berdecak mengenai gambaran layaknya pada sebuah pohon sendirinya, dimana sebenarnya untuk mengartikan beberapa dahan terpapas jatuh dan membuat terang, bila seorang mengetahui. Dan bangsa mawar yang tumbuh mengelilingi bangunan tinggi itu, kini, dan ketika mati satu persatu akan menjadi suatu peringatan tak tertulis, para buku petuah.

Apa pun yang ia rasakan segalanya dahulu didalam diri adalah sebenarnya makhluk yang hendak ‘memagut’, seorang pembunuh terperikan. Menggunakan akal yang melipatgandakan dirinya sehingga sesuatu yang murni akan tenggelam. “Jika ia diletakkan disebuah ruangan dengan sebuah kue khusus dan selai dengan aturan: jika mengoleskan selai sebelum memakannya maka menjadi kue yang baik tapi sesudahnya ia tak ada persediaan lagi, jika tak mengoleskan maka menjadi setengah beracun lalu jika ingin memakan banyak menjadi sedikit tapi tak pernah habis, jika mengoleskan setengah maka satu ruangan akan penuh dengan kue karena itu akan melipatgandakan dirinya sehingga seorang akan tenggelam.” Seorang mengira dengan teori-teori yang mereka ciptakan akan bisa menghentikan hal ini, namun nyatanya tidak mungkin jika tidak ada sebuah keajaiban-keajaiban yang dimaksudkan mengarah untuk melindungi diri sendiri dan semuanya. Dimana ketika terlelap dengan tudung kaca akan terlihat dari kejauhan begitu sempurna yang dengan serpihan putih indah dari kelopak, bergelayutan pada dahan yang dianggapkan dengan para pohon-pohon  mengendalikan semua hal dari akar untuk mencakup makanan.

Sebuah yang benar bukanlah dari sebuah tembok dengan segala perbatasan atau benteng dengan segala perlindungan yang disiapkan oleh hati nurani. Karena itu pun hanya terbuat dari material yang bisa ditembus dengan apapun, sehingga adalah yang masih lemah. Bukan pedoman. Untuk itu “Selama hidup selalu meneguhkan untuk tidak pahit getir dengan hasil pemikiran satu makhluk pun.” "Setiap sudut pandang ilmu pengetahuan akan terbentur sesuatu 'bagaimana ini bisa terjadi'. Hal itu akan dijelaskan oleh aksioma, yakni suatu yang menyatakan keberadaan Tuhan, dimana kebenaran untuk menjelaskan hal-hal dasar." Dari sanalah akan didapatkan landasan ilmu yang benar. Sejatinya hal benar adalah berlaku selamanya, mencakup semua makhluk, ilmu yang dalam genggaman-genggaman didapati sebelum atau sesudah huru hara yang dilakukan oleh manusia hingganya tak seberapa bila dibandingkan itu semua. Ilmu sesungguhnya adalah dengan keadilan-keadilan, tak hanya dengan alasan yang empiris, dapat mempertanggungjawabkan hal-hal dasar, bukanlah sihir pengandaian. Dan sekalipun sebuah ilmu benar, bahkan Tuhan pun tak membuat itu bukan bertujuan untuk mendebat kusir orang-orang yang ia anggap bodoh sehingga rumput-rumput liar menjadikan sang pengendali handal dengan mengajak sekawanannya untuk membuat kerusakan. Apakah seorang tahu dan bagaimana bertanggungjawab pada yang sudah orang, ia lakukan dimuka bumi? Berhati-hatilah pula pada pemikiran, segala yang dilakukan ada yang tak mampu mengembalikan sebuah kembali utuh, dan apakah ada seorang yang akan bertanggungjawab pada hal ini, itu pun tak bisa dipastikan, karena sebuah hati sudah dibuat terbolak-balik bak jenis nasihat klise, gagang stempel ukir mawarnya dari kayu dan tinta hanya bisa satu warna, tidak bisa mencakup luas. Olehnya tak cukup tangguh ia jika menjadi sebuah mawar miliknya yang mengandai-ngandai digenggamannya membutakan segala, ia bahkan meragukan diri sendiri bagaimana membuat sebuah yang kukuh. Selama menyalahkan semesta, yang membuat diri ‘dengan penciptaannya’. Tak pernah tahu arti dari yang segala diterima yang menurut perasaan saat ditahu atau yang paling menahu.

Ketika seorang terlalu gelap mata menyukai peran mawar ini, akan kebanyakan sama seperti yang lain, yakni apa yang dirasakan ketika menyukainya, baik wewangi bahannya saja ataukah seperti warna dan dekorasinya, yang mereka dikatakan kaum terdahulu adalah ‘simbolis agama dari keindahan’. Dimana sesuatu yang indah akan terlihat  dan jika salah satu yang mempunyainya rasanya seperti memabukkan. Namun jika ditelaah sebenarnya keindahan yang ada pun sebenarnya bukan milik sendiri. Maka baik pribadi, ketaatan atau hati didalamnya, jangan jadikan ini adalah alasan untuk menyembah sesuatu yang tidak kekal, sebenarnya itu tak perlu, karena ia sendiri hidup dalam susunan batu yang terus menerus dibangun keatas sampai membentuk puri yang dianggap begitu kuat hingga menjadikan seorang dengan ratu dan raja atau penasihat ulung namun yang sebenarnya hanya disalin dari buku imajinasi penguasa, sehingga ia menolak pada kenyataan yang ada didepan, beringsut pada hal-hal yang tidaklah abadi. 

Sesungguhnya ia pastilah pernah dicela, seorang pula layaknya sering menggulai anak air mata sendiri, semuanya sama. Ketika merasakannya seperti relung membuka lalu seperti sesuatu menyeloroh membuat beberapa katup hidup menerima banyak anak panah. Ketika itu rasanya didunia ini hanya tinggal sendirian, lalu ingin rasanya melarikan diri, tapi ia pun tak tahu apa tujuan yang paling benar. Dengan segala keinginan yang meruntut nafsu menjadikan yang diyakini seperti yang paling sejati. Seorang memiliki ‘peraturan emas’, seorang lagi memilikinya, “Tidak memiliki agama langit pun bisa menjadi orang baik dengan peraturan emas ini”, katanya. Hingganya ketika tiapnya mengkotak-kotaki, akan saling menyalahkan ketika disebuah situasi berdesak-desakan pada tembok beradu muka, itu sebabnya diperlukan sebuah hal yang kekal dimana peraturan emas bisa diberlakukan adil untuk semua orang. Tapi tetap saja tak akan bisa sesuai dengan yang seorang mau, menjajaki banyak tanah lalu memerahi air pohon adalah saat ini yang paling diutamakan, mencurangi dengan pendurhakaan diam-diam dalam sebuah pembicaraan tertutup, dan akhirnya ketika semesta bekerja keras mengembalikan hak mereka akhirnya ia meminta pertanggungjawaban pada Tuhan. 

Semua sesungguhnya adalah para pendosa, perbedaan mendasar adalah sebanyak apa yang dilakukannya. Keburukan yang tak terlihat adalah hal ingkar yang secara rahasia tidak bisa dilihat, memiliki sebuah tujuan, sedangkan ada pula yang diperlihatkan, juga memiliki sebuah tujuan. Dan yang seringkali dicela adalah yang terlihat, sedangkan untuk didalam kalangan diri yang tak terlihat amat senang karena ia tidak diberlakukan seperti sesuatu yang dimangsa. Maka jika ada yang terjebak atau terlintas dibenak untuk mencela, maka sebaiknya ingatlah lagi bagaimana Tuhan telah menutupi hal ingkar seorang, bagaimana Tuhan menjaganya dari kemungkaran yang pula terlihat membias. Lalu jika seorang mencela seorang yang lain lebih buruk, seperti demikian, dan terus bergulir dalam bentuk-bentuk lain, maka sebenarnya teramat pahit bagaimana jika hal itu dilontarkan berbalik kearahnya. Sudahkah seorang memantaskan diri? Seharusnya ada perasaan mengatup bahwasanya hanya seorang makhluk, yang tidak memungkiri bahwa sedang dalam belajar penempaan. Kecuali seseorang ingin menyuarakan kebenaran dan menegakkan keadilan, untuk sebuah hukum yang melindungi kehidupan manusia.

Lalu ketika orang yang sedang belajar bagaimana sifatnya, ada yang akan agresif untuk membuka semua buku, ada yang bersungut-sungut mengeluarkan mimpi demi membuktikan keyakinan miliknya adalah yang paling relevan dengan keadilan atau kebaikan. Itu sebabnya ia bertanya kembali, “Mengapa agama langit selalu berdiri dengan ancaman-ancamannya sehingga tumit mata kail sulit menaklukkan tanah, sehingga kuyakin itu adalah hal yang tidak masuk akal dengan alasan batasan mereka.”  Seorang tersebut mungkin belum mengetahui, bahwasanya ancaman itu dilakukan karena pada hakikatnya seorang bersifat bertahan, sehingga jika ada ancaman ia akan berusaha menjauhi hal yang dikecam. Dan, ketika hukuman dianggap adalah yang paling tak adil, apakah seorang tak melihat sudut pandang pada apa yang dikorbankan, Tuhan melakukan itu adalah untuk menyelamatkan tak terhingga yang lainnya, sehingga sebenarnya kebijakan itu adalah yang paling menyertai kasih sayang. 

Namun ketika seorang berada ditempat yang terpuruk, hati ada yang akan menggelutukkan semua buku, sebagian berusaha mencari untuk banyak dakwaan. Padahal jika dari awal memang untuk mencari paham kebenaran, mengapa akhirnya mengeluarkan ambisi yang diciptakan sedemikian rupa untuk membela hasil pemikiran diri.  Dan sebenarnya tak diketahui adalah dua hal yang sama-sama menghancurkan, lalu seperti tak ada cara untuk memutihkan kembali, kecuali mau merendahkan diri. Tapi jika seorang masih dengan hati kerasnya maka menyalahartikan dengan mengatasnamakan hal yang terpuji yakni ‘memaafkan diri’, adalah yang paling harus diutamakan. Sehingga akan  mengalihkan pembicaraannya dan melemparkan semenanya gulungan kain rajutan musim dinginnya ke keranjang lain, lalu menangguhkan rasa bersalahnya lagi pada kerusakan yang diperbuat pada benda-benda sekitar, menampik rasa terimakasih pada yang sedang bekerja keras meregang nyawa mengembalikan semua waktu bertumpah ruah, mereka yang dijadikan korban memikul beban yang amat berat, tak upaya mengecam sebuah lubang hitam. Mereka yang sudah susah payah menjulurkan tangan meminta bantuan keluar dari terhirup pun, seorang itu dengan tidak menaruh sedikit rasa iba hati diatas sana menyuruh bertekuk lutut dahulu padanya. Selama ini pada yang diakui ia akan seperti rela merenda bak parafase nun indah, tapi kepada mereka dengan memberi hal terkutuk sihir paruh hidup. Padahal suatu yang 'terpuji' tadi adalah seharusnya untuk sebuah perisai yang digunakan suatu hari nanti dimana ia dengan kepribadian-kepribadiannya dicela ketika menyebutkan sebuah kebenaran Tuhan. 

Semua sesungguhnya adalah para pendoa, baik itu yang sedang mencari surga ataupun sebuah rahasia, semuanya menginginkan kedamaian. Tapi banyak yang menginginkan segala sesuatu langsung disegerakan atau mengambil jalan pintas dengan pemikiran. Didunia ini banyak sekali hal mengagumkan yang menurut dari premis-premis, tapi dengan anggapan didalamnya tidak pasti membuat sesuatu menemukan sebuah yang lurus. Kebanyakan darinya adalah hidup dengan berbagai prejudice, bisa mengira-ngira dengan ideologi atau khayalan dengan tinggi hati, sehingga Tuhan kembali menyesatkan mereka. Maka tidaklah seorang mengagungkan kejeniusan yang menurut anggapan para hati, tapi keimanan. Lalu jika itu dikuatkan akan diarahkan ketempat yang benar, itu lebih mulia, karena selain membersihkan hati-hati juga melakukan perbaikan pada semesta, tapi tak banyak golongan yang sungguh-sungguh mengetahuinya. Dan sebenarnya ada cara tersendiri dari Tuhan untuk mengangkat derajat atas keteguhan keyakinan itu masing-masing, yakni melihat bagaimana seorang memperlakukan makhluk, memandang dunia, tapi tidak melupakan tanggungjawab. Maka tak perlu seorang menguarkan hak-hak diluar akal karena sesungguhnya sudah disiapkan segala sesuatu secara sempurna. 

Sebuah prejudice memiliki fakta-fakta yang diselimuti benteng tidak kokoh, karena seseorang dapat hanya berapologi tanpa mencari tahu hal-hal mendasar didalam kebenaran yang masih bisa digali lagi otoritas pemahamannya. Yakni unsur dalam yang dilupakan sebelum meneorikan secara filosofis (lebenswelt), dimana dunia kehidupan yang sebenar-benarnya sebelum dilukiskan dari berbagai warna karena kepentingan, situasi dan kebiasaan manusia-yang disimpulkan sebagai pemikiran fenomenologi, yaitu dapat dilihat dari berbagai filsuf. Tapi dalam mencari kebenaran pun, terkadang ada fitrah didalam diri manusia yang terlampau jauh, hingganya akan membunuh kebenaran itu sendiri. Sebuah pendirian yang mendominankan menyebabkan kepercayaan bahwa sebuah dapat diraih dengan menemukan kecocokan garis yang tepat pada teori atau keinginan seseorang. Sebuah filsafat sendiri awalnya timbul karena ada rasa kekaguman atau keinginantahuan pada suatu hal yang kemudian ditambah dengan berbagai kompleks kehidupan. Material-materialnya adalah tentang epistimologi, kenyataan, nilai tindakan, dan sejarah. Berfikir didalamnya dengan memaknai yang ada secara koheren garis-garis ruangnya. Tapi hal itu masih dalam lingkup penjajakan yang dilakukan pada pengetahuan, yakni adanya pembelajaran yang juga banyak terikut sertai dengan halaman yang tidak layak dari pandangannya, maka jika sesudah membaca buku-buku seharusnya seperti menaruh lagi remahan roti pada jalan yang sudah dilalui agar bisa kembali pulang, karena sebenarnya jika menuruti hawa nafsu maka akan runtuhlah segala langit kebawahnya, dengan melakukan hal tadi diharapkan seorang lebih disadarkan bertanggungjawab, paling tidak hati nurani. “Suatu kalimat yang dikurangi sama saja dengan kebohongan yang lengkap.” Sehingga jika ada sebuah kalimat yang terdiri dari beberapa sekat, sekat untuk makna sama maka tak mengapa menghilangkan satu frasa sehingga masih berfungsi sebagai konstituen walau dalam satu ayat, tapi sekat untuk makna berbeda maka sebenarnya lebih dari satu ayat sehingga tak diperuntukkan untuk menghilangkan frasa lain karena didalam tidak menggenapkan arti sebenarnya. 

 “Kau memang sudah rusak, teman”, kata salah seorang yang terlilit bagian tiang bawah tiba-tiba. Tangannya masih memainkan mahkotanya itu, lihatlah pada rangka juga sudah banyak sekali rusaknya. Padahal sebelum ini benda dari kertas kayu itu akan memutarkan indah baling-balingnya,  tapi yang bisa dilakukan sekarang hanya mengaitkan pada atas ruangan batu, sebaiknya nanti mendandani sahabatnya itu. Akhirnya ia hanya memandang  ke arah benda berwarna merah tua tadi yang digantungnya, lalu menyentuh hingga membuat bergerak agak lama, sepertinya pikiran akan beralasan untuk mengikuti arah benda itu yang masih bergerak tak beraturan. Karena seruan ruangan-ruangan kosong diatas sana membuat semakin tak nyaman, menyuruh tuannya untuk memikirkan banyak sekali jalan-jalan yang tak dikenal, terlalu asing hingganya akan seperti orang yang dari pergi untuk mencoba semua penjuru arah. Ia sepertinya akan membutuhkan kekuatan lain untuk mengangkat kerangka tubuhnya dari sana, apalagi ia masih lelah berdebat dengan dirinya semalam, ia masih mendengar tuturan dari hati-hatinya yang lain, hingga tuturan ruas-ruas belakangnya yang berkurang pelumasnya, akibatnya akan membungkukkan tulang sepekan seperti seorang tua yang membutuhkan tongkatnya, pun jika waktu berulang kembali sepekan lalu, raganya akan tetap demikian. Tapi akhirnya ia masih bisa menyuruh sedikit dari mereka untuk bangun, mengumpulkan sisa-sisa tubuh yang dapat diselamatkan. Kemudian ia pun beranjak dari sana lalu merapikan buku-buku pengetahuan yang berantakan di meja juga lantai, lalu memasukkan beberapa buku ke dalam tas punggung bawaannya, ia akan ke tempat teduhnya seperti biasa, memundurkan daun-daunnya secara perlahan.

Pada udara dingin tetap membangunkan diri dedaunan majemuk itu yang tiap tangkai daun terdapat anak-anak daunnya yang masih lemah juga daun penumpu melonjong menyirip, yang sisi-sisinya berginggit anak tangga dan meruncing ujungnya, mengatakan pada batang untuk menyarungkan ribuan belati dengan sosok putih yang akan menahan pasir yang diterbangkan angin. Bangsa ini belum punah untuk berapa abad lagi, hingganya masih banyak diantara mereka yang menyiapkan bekal sebelum meranggaskan dedaun hingganya akan selalu berdaun hijau sepanjang tahun. Ada beberapa burung Finch yang juga suka memakan biji-biji mawar yang berwarna ungu gelap hingga hitam, membantunya untuk menyerbukkan lilin. Sehingga membuat banyak kawanannya lebih memanjangkan dahannya dan menyemakkan memanjat ke atas puri lebih lagi sehingga mungkin akan mengurangi para rusa untuk mengambil para pucuk yang amat merekah. Begitu tinggi puri itu sehingga seorang yang menengadahkan dagunya hanya terlihat dinding ukir diluar ruang-ruang dan memandangnya terasa hanyut. Balkon tanpa jendela ditiapnya itu terlihat sungguh gelap didalam, mungkin para mawar menginginkan tempat tersembunyi sehingga tangan perisai akan terjepit diantara semak, melengkungi pintu tembaga putih bersangkar. Ketika bisa menutup penuh itu secepatnya agar dapat membuatkan gembok besar untuk menyimpan old garden rose, kitab tua legenda para petingginya. Tapi ranggah-ranggah pada rusa suatu hari akan datang menyudukkan kepada bangsa yang dibawah sehingga mengangkat akar. Dan keyakinan pada mawar adalah masih tetap dengan perlindungan dan perbatasan yang mereka buat. Seandainya mereka menggunakan sedikit sifat terpuji yang murni dihasilkan dari dalam namun belum membuka, seperti memberikan tempat berpijak yakni pengait pada duri agar para makhluk lain dapat menapaki kebunga yang lain. Sedikit saja, membiarkan itu, niscaya Tuhan akan mendatangkan kelabat putih yang lebih kuat. Sesungguhnya dari Tuhan lebih dari benteng ataupun tembok dari perkiraannya, yakni sebuah berkat.


seravi
  

Komentar

Postingan Populer