Roses
Halaman pada puri sudah dilindungi duri mawar, kelompok dengan semi memanjat, merambat pada pagar dan bangunan kanopi dengan kokoh tiang-tiang penjaganya, tapi rusa-rusa pun kelihatannya tak akan takut dan selalu merusaknya, menarik sampai ke akar-akarnya. Setiap hari, sisi kanan dan kiri akan selalu didatangi oleh sekawanan tersebut. Hingganya banyak rasa dengki dari mawar mengutuk mereka dengan disiapkan belati pada tiap batang, berukir sarung pinggangnya dengan sosok putih berkelabat. Anak rusa paling kecil menjadi buta, beberapa rusa muda lainnya terkoyak bawah perut halusnya. Olehnya untuk jeda waktu mereka memundurkan langkah. Dan suatu hari pada tiba waktunya, akan datang kembali, lagi dan lagi, perang tak pernah usai. Para ratu mawar disetiap kerajaan pun memanggil baronet mereka yang diyakini memiliki keahlian khusus. Tapi walalupun demikian, bangsa mawar hanyalah yang pandai menjaga minyak atsiri, namun tak pandai menjaga dari penyakit karat daun yang disebabkan oleh cendana-cendana, hingga pun belati tadi sebenarnya bukanlah yang dijadikan layaknya paham yang kuat. Orang-orang selalu beranggapan bahwa roh setengah manusia yang tinggal didalamnya adalah sosok yang paling terkemuka, dengan corong suara khasnya mengumukan kepada para penduduk hutan. Ia tak tahu, satu mahkota ternyata tak akan pernah luput dari sebuah kesalahan besar yang diperbuat, yakni dengan kertas-kertas pesta tak terhingga beterbangan, tapi setelah datang kerusakan ia menampikkan pada makhluk bertitik-titik dari langit. Baginya akal yang sudah bertumpahan tak mudah lagi diterjemahkan, sehingga akan mengalir dengan arus sendiri. Seandainya tetap mengecam ujian yang berjalan diwajah-wajah, lihatlah, maka suatu hari ia justru akan lebih didekatkan rahasia darisana hingga berdecak mengenai gambaran layaknya pada sebuah pohon sendirinya, dimana sebenarnya untuk mengartikan beberapa dahan terpapas jatuh dan membuat terang, bila seorang mengetahui. Dan bangsa mawar yang tumbuh mengelilingi bangunan tinggi itu, kini, dan ketika mati satu persatu akan menjadi suatu peringatan tak tertulis, para buku petuah.
Apa pun yang ia rasakan segalanya dahulu didalam diri adalah
sebenarnya makhluk yang hendak ‘memagut’, seorang pembunuh terperikan.
Menggunakan akal yang melipatgandakan dirinya sehingga sesuatu yang murni akan
tenggelam. “Jika ia diletakkan disebuah
ruangan dengan sebuah kue khusus dan selai dengan aturan: jika mengoleskan selai
sebelum memakannya maka menjadi kue yang baik tapi sesudahnya ia tak ada
persediaan lagi, jika tak mengoleskan maka menjadi setengah beracun lalu jika ingin memakan banyak menjadi sedikit tapi tak pernah habis, jika mengoleskan setengah maka satu ruangan akan penuh dengan kue karena itu
akan melipatgandakan dirinya sehingga seorang akan tenggelam.” Seorang mengira dengan teori-teori yang mereka
ciptakan akan bisa menghentikan hal ini, namun nyatanya tidak
mungkin jika tidak ada sebuah keajaiban-keajaiban yang dimaksudkan mengarah
untuk melindungi diri sendiri dan semuanya. Dimana ketika terlelap dengan tudung kaca akan terlihat
dari kejauhan begitu sempurna yang dengan serpihan putih indah dari kelopak,
bergelayutan pada dahan yang dianggapkan dengan para pohon-pohon mengendalikan semua hal dari akar untuk mencakup makanan.
Sebuah yang benar bukanlah dari sebuah tembok dengan segala
perbatasan atau benteng dengan segala perlindungan yang disiapkan oleh hati nurani. Karena itu pun hanya terbuat dari material yang bisa ditembus dengan apapun,
sehingga adalah yang masih lemah. Bukan pedoman. Untuk itu “Selama
hidup selalu meneguhkan untuk tidak pahit getir dengan hasil pemikiran satu
makhluk pun.” "Setiap sudut pandang ilmu pengetahuan akan terbentur sesuatu 'bagaimana ini bisa terjadi'. Hal itu akan dijelaskan oleh aksioma, yakni suatu yang menyatakan keberadaan Tuhan, dimana kebenaran untuk menjelaskan hal-hal dasar." Dari sanalah akan didapatkan landasan ilmu yang benar. Sejatinya hal benar adalah berlaku selamanya, mencakup
semua makhluk, ilmu yang dalam genggaman-genggaman didapati sebelum atau
sesudah huru hara yang dilakukan oleh manusia hingganya tak seberapa bila dibandingkan itu semua. Ilmu
sesungguhnya adalah dengan keadilan-keadilan, tak hanya dengan alasan yang empiris, dapat mempertanggungjawabkan hal-hal dasar, bukanlah sihir pengandaian. Dan sekalipun sebuah ilmu benar, bahkan Tuhan pun tak membuat itu bukan bertujuan untuk mendebat kusir
orang-orang yang ia anggap bodoh sehingga rumput-rumput liar menjadikan sang
pengendali handal dengan mengajak sekawanannya untuk membuat kerusakan. Apakah seorang tahu dan bagaimana
bertanggungjawab pada yang sudah orang, ia lakukan dimuka bumi? Berhati-hatilah
pula pada pemikiran, segala yang dilakukan ada yang tak mampu mengembalikan
sebuah kembali utuh, dan apakah ada seorang yang akan bertanggungjawab pada hal
ini, itu pun tak bisa dipastikan, karena sebuah hati sudah dibuat terbolak-balik
bak jenis nasihat klise, gagang stempel ukir mawarnya dari kayu dan
tinta hanya bisa satu warna, tidak bisa mencakup luas. Olehnya tak cukup tangguh
ia jika menjadi sebuah mawar miliknya yang mengandai-ngandai digenggamannya membutakan
segala, ia bahkan meragukan diri sendiri bagaimana membuat sebuah yang kukuh. Selama
menyalahkan semesta, yang membuat diri ‘dengan penciptaannya’. Tak pernah tahu arti
dari yang segala diterima yang menurut perasaan saat ditahu atau yang paling menahu.
Ketika seorang terlalu gelap mata menyukai peran mawar ini, akan kebanyakan sama seperti yang lain, yakni apa yang dirasakan ketika menyukainya, baik wewangi
bahannya saja ataukah seperti warna dan dekorasinya, yang mereka dikatakan kaum terdahulu adalah ‘simbolis
agama dari keindahan’. Dimana sesuatu yang indah akan terlihat dan jika salah satu yang mempunyainya rasanya
seperti memabukkan. Namun jika ditelaah sebenarnya keindahan yang ada pun
sebenarnya bukan milik sendiri. Maka baik pribadi, ketaatan atau hati didalamnya, jangan jadikan ini
adalah alasan untuk menyembah sesuatu yang tidak kekal, sebenarnya itu tak perlu, karena
ia sendiri hidup dalam susunan batu yang terus menerus dibangun keatas sampai membentuk puri yang dianggap begitu kuat hingga
menjadikan seorang dengan ratu dan raja atau penasihat ulung namun yang sebenarnya hanya disalin dari
buku imajinasi penguasa, sehingga ia menolak pada kenyataan yang ada didepan, beringsut pada hal-hal yang tidaklah abadi.
Sesungguhnya ia pastilah pernah dicela, seorang pula layaknya
sering menggulai anak air mata
sendiri, semuanya sama. Ketika merasakannya seperti relung membuka lalu seperti
sesuatu menyeloroh membuat beberapa katup hidup menerima banyak anak panah.
Ketika itu rasanya didunia ini hanya tinggal sendirian, lalu ingin rasanya
melarikan diri, tapi ia pun tak tahu apa tujuan yang paling benar. Dengan
segala keinginan yang meruntut nafsu menjadikan yang diyakini seperti yang
paling sejati. Seorang memiliki ‘peraturan
emas’, seorang lagi memilikinya, “Tidak memiliki agama langit pun bisa
menjadi orang baik dengan peraturan emas ini”, katanya. Hingganya ketika tiapnya
mengkotak-kotaki, akan saling menyalahkan ketika disebuah situasi
berdesak-desakan pada tembok beradu muka, itu sebabnya diperlukan sebuah hal
yang kekal dimana peraturan emas bisa diberlakukan adil untuk semua orang. Tapi
tetap saja tak akan bisa sesuai dengan yang seorang mau, menjajaki banyak tanah
lalu memerahi air pohon adalah saat ini yang paling diutamakan, mencurangi
dengan pendurhakaan diam-diam dalam sebuah pembicaraan tertutup, dan akhirnya ketika
semesta bekerja keras mengembalikan hak mereka akhirnya ia meminta pertanggungjawaban pada Tuhan.
Semua sesungguhnya adalah para pendosa, perbedaan mendasar adalah sebanyak apa yang dilakukannya. Keburukan yang tak terlihat adalah hal ingkar yang
secara rahasia tidak bisa dilihat, memiliki sebuah tujuan, sedangkan ada pula yang diperlihatkan,
juga memiliki sebuah tujuan. Dan yang seringkali dicela adalah yang terlihat, sedangkan
untuk didalam kalangan diri yang tak terlihat amat senang karena ia tidak
diberlakukan seperti sesuatu yang dimangsa. Maka jika ada yang terjebak atau terlintas
dibenak untuk mencela, maka sebaiknya ingatlah lagi bagaimana Tuhan telah menutupi hal ingkar seorang, bagaimana Tuhan menjaganya dari kemungkaran yang pula terlihat
membias. Lalu jika seorang mencela seorang yang lain lebih buruk, seperti demikian,
dan terus bergulir dalam bentuk-bentuk lain, maka sebenarnya teramat pahit bagaimana jika hal itu dilontarkan berbalik kearahnya. Sudahkah seorang memantaskan diri? Seharusnya
ada perasaan mengatup bahwasanya hanya seorang makhluk, yang tidak memungkiri
bahwa sedang dalam belajar penempaan. Kecuali seseorang ingin menyuarakan kebenaran dan menegakkan keadilan, untuk sebuah hukum yang melindungi kehidupan manusia.
Lalu ketika orang yang sedang belajar bagaimana sifatnya, ada yang akan agresif untuk membuka semua buku, ada yang bersungut-sungut mengeluarkan mimpi demi membuktikan keyakinan miliknya adalah yang paling relevan dengan keadilan atau kebaikan. Itu sebabnya ia bertanya kembali, “Mengapa agama langit selalu berdiri dengan ancaman-ancamannya sehingga tumit mata kail sulit menaklukkan tanah, sehingga kuyakin itu adalah hal yang tidak masuk akal dengan alasan batasan mereka.” Seorang tersebut mungkin belum mengetahui, bahwasanya ancaman itu dilakukan karena pada hakikatnya seorang bersifat bertahan, sehingga jika ada ancaman ia akan berusaha menjauhi hal yang dikecam. Dan, ketika hukuman dianggap adalah yang paling tak adil, apakah seorang tak melihat sudut pandang pada apa yang dikorbankan, Tuhan melakukan itu adalah untuk menyelamatkan tak terhingga yang lainnya, sehingga sebenarnya kebijakan itu adalah yang paling menyertai kasih sayang.
Lalu ketika orang yang sedang belajar bagaimana sifatnya, ada yang akan agresif untuk membuka semua buku, ada yang bersungut-sungut mengeluarkan mimpi demi membuktikan keyakinan miliknya adalah yang paling relevan dengan keadilan atau kebaikan. Itu sebabnya ia bertanya kembali, “Mengapa agama langit selalu berdiri dengan ancaman-ancamannya sehingga tumit mata kail sulit menaklukkan tanah, sehingga kuyakin itu adalah hal yang tidak masuk akal dengan alasan batasan mereka.” Seorang tersebut mungkin belum mengetahui, bahwasanya ancaman itu dilakukan karena pada hakikatnya seorang bersifat bertahan, sehingga jika ada ancaman ia akan berusaha menjauhi hal yang dikecam. Dan, ketika hukuman dianggap adalah yang paling tak adil, apakah seorang tak melihat sudut pandang pada apa yang dikorbankan, Tuhan melakukan itu adalah untuk menyelamatkan tak terhingga yang lainnya, sehingga sebenarnya kebijakan itu adalah yang paling menyertai kasih sayang.
Namun ketika seorang berada ditempat yang terpuruk, hati ada
yang akan menggelutukkan semua buku, sebagian berusaha mencari untuk
banyak dakwaan. Padahal jika dari awal
memang untuk mencari paham kebenaran, mengapa akhirnya mengeluarkan ambisi yang diciptakan sedemikian rupa untuk membela hasil pemikiran diri. Dan sebenarnya tak diketahui adalah dua hal
yang sama-sama menghancurkan, lalu seperti tak ada cara untuk memutihkan kembali,
kecuali mau merendahkan diri. Tapi jika seorang masih dengan hati
kerasnya maka menyalahartikan dengan mengatasnamakan hal yang terpuji yakni
‘memaafkan diri’, adalah yang paling harus diutamakan. Sehingga akan mengalihkan pembicaraannya dan
melemparkan semenanya gulungan kain rajutan musim dinginnya ke keranjang lain, lalu menangguhkan rasa bersalahnya lagi pada kerusakan yang diperbuat pada benda-benda sekitar, menampik rasa
terimakasih pada yang sedang bekerja keras meregang nyawa mengembalikan semua
waktu bertumpah ruah, mereka yang dijadikan korban memikul beban yang amat
berat, tak upaya mengecam sebuah lubang hitam. Mereka yang sudah susah payah
menjulurkan tangan meminta bantuan keluar dari terhirup pun, seorang itu dengan
tidak menaruh sedikit rasa iba hati diatas sana menyuruh bertekuk lutut dahulu padanya. Selama ini pada yang diakui ia akan seperti rela merenda bak parafase nun indah, tapi kepada mereka dengan memberi hal terkutuk sihir paruh hidup. Padahal suatu yang 'terpuji' tadi adalah seharusnya untuk sebuah perisai yang digunakan suatu hari nanti dimana ia dengan kepribadian-kepribadiannya dicela ketika menyebutkan sebuah
kebenaran Tuhan.
Semua sesungguhnya adalah para pendoa, baik itu yang sedang
mencari surga ataupun sebuah rahasia, semuanya menginginkan kedamaian. Tapi
banyak yang menginginkan segala sesuatu langsung disegerakan atau mengambil
jalan pintas dengan pemikiran. Didunia ini banyak sekali hal mengagumkan yang menurut dari premis-premis,
tapi dengan anggapan didalamnya tidak pasti membuat sesuatu menemukan sebuah yang lurus.
Kebanyakan darinya adalah hidup dengan berbagai prejudice, bisa mengira-ngira
dengan ideologi atau khayalan dengan tinggi hati, sehingga Tuhan kembali
menyesatkan mereka. Maka tidaklah seorang mengagungkan kejeniusan yang menurut
anggapan para hati, tapi keimanan. Lalu jika itu dikuatkan akan diarahkan ketempat yang benar, itu lebih mulia, karena selain membersihkan hati-hati juga melakukan perbaikan pada semesta, tapi tak banyak golongan yang
sungguh-sungguh mengetahuinya. Dan sebenarnya ada cara tersendiri dari Tuhan untuk mengangkat
derajat atas keteguhan keyakinan itu masing-masing, yakni melihat bagaimana seorang memperlakukan makhluk, memandang dunia, tapi tidak melupakan
tanggungjawab. Maka tak perlu seorang menguarkan hak-hak diluar akal karena
sesungguhnya sudah disiapkan segala sesuatu secara sempurna.
Sebuah prejudice memiliki fakta-fakta yang diselimuti benteng
tidak kokoh, karena seseorang dapat hanya berapologi tanpa mencari tahu hal-hal
mendasar didalam kebenaran yang masih bisa digali lagi otoritas pemahamannya.
Yakni unsur dalam yang dilupakan sebelum meneorikan secara filosofis
(lebenswelt), dimana dunia kehidupan yang sebenar-benarnya sebelum dilukiskan
dari berbagai warna karena kepentingan, situasi dan kebiasaan manusia-yang disimpulkan sebagai
pemikiran fenomenologi, yaitu dapat dilihat dari berbagai
filsuf. Tapi dalam mencari kebenaran pun, terkadang ada fitrah didalam
diri manusia yang terlampau jauh, hingganya akan membunuh kebenaran itu sendiri. Sebuah pendirian yang mendominankan menyebabkan kepercayaan bahwa sebuah
dapat diraih dengan menemukan kecocokan garis yang tepat pada teori atau keinginan
seseorang. Sebuah filsafat sendiri awalnya timbul karena ada rasa kekaguman
atau keinginantahuan pada suatu hal yang kemudian ditambah dengan berbagai
kompleks kehidupan. Material-materialnya adalah tentang epistimologi, kenyataan,
nilai tindakan, dan sejarah. Berfikir didalamnya dengan memaknai yang
ada secara koheren garis-garis ruangnya. Tapi hal itu masih dalam lingkup penjajakan yang dilakukan pada pengetahuan, yakni adanya pembelajaran yang juga banyak terikut sertai
dengan halaman yang tidak layak dari pandangannya, maka jika sesudah membaca buku-buku seharusnya
seperti menaruh lagi remahan roti pada jalan yang sudah dilalui agar bisa
kembali pulang, karena sebenarnya jika menuruti hawa nafsu maka akan runtuhlah
segala langit kebawahnya, dengan melakukan hal tadi diharapkan seorang lebih
disadarkan bertanggungjawab, paling tidak hati nurani. “Suatu kalimat yang dikurangi sama saja
dengan kebohongan yang lengkap.” Sehingga jika ada sebuah kalimat yang
terdiri dari beberapa sekat, sekat untuk makna sama maka tak mengapa
menghilangkan satu frasa sehingga masih berfungsi sebagai konstituen walau dalam
satu ayat, tapi sekat untuk makna berbeda maka sebenarnya lebih dari satu ayat
sehingga tak diperuntukkan untuk menghilangkan frasa lain karena didalam tidak
menggenapkan arti sebenarnya.
“Kau memang sudah
rusak, teman”, kata salah seorang yang terlilit bagian tiang bawah tiba-tiba.
Tangannya masih memainkan mahkotanya itu, lihatlah pada rangka juga sudah
banyak sekali rusaknya. Padahal sebelum ini benda dari kertas kayu itu akan memutarkan
indah baling-balingnya, tapi yang bisa
dilakukan sekarang hanya mengaitkan pada atas ruangan batu, sebaiknya nanti
mendandani sahabatnya itu. Akhirnya ia hanya memandang ke arah benda berwarna merah
tua tadi yang digantungnya, lalu menyentuh hingga membuat bergerak
agak lama, sepertinya pikiran akan beralasan untuk mengikuti arah benda itu
yang masih bergerak tak beraturan. Karena seruan ruangan-ruangan kosong diatas sana membuat semakin tak nyaman, menyuruh tuannya untuk memikirkan
banyak sekali jalan-jalan yang tak dikenal, terlalu asing hingganya akan
seperti orang yang dari pergi untuk mencoba semua penjuru arah. Ia sepertinya akan membutuhkan kekuatan lain
untuk mengangkat kerangka tubuhnya dari sana, apalagi ia masih lelah berdebat
dengan dirinya semalam, ia masih mendengar tuturan dari hati-hatinya yang lain,
hingga tuturan ruas-ruas belakangnya yang berkurang pelumasnya, akibatnya akan
membungkukkan tulang sepekan seperti seorang tua yang membutuhkan tongkatnya, pun jika waktu berulang kembali sepekan lalu, raganya akan tetap demikian. Tapi
akhirnya ia masih bisa menyuruh sedikit dari mereka untuk bangun, mengumpulkan
sisa-sisa tubuh yang dapat diselamatkan. Kemudian ia pun beranjak dari sana
lalu merapikan buku-buku pengetahuan yang berantakan di meja juga lantai, lalu memasukkan
beberapa buku ke dalam tas punggung bawaannya, ia akan ke tempat teduhnya seperti
biasa, memundurkan daun-daunnya secara perlahan.
Pada udara dingin tetap membangunkan diri dedaunan majemuk itu
yang tiap tangkai daun terdapat anak-anak daunnya yang masih lemah juga daun penumpu
melonjong menyirip, yang sisi-sisinya berginggit anak tangga dan meruncing ujungnya, mengatakan
pada batang untuk menyarungkan ribuan belati dengan sosok putih yang akan menahan
pasir yang diterbangkan angin. Bangsa ini belum punah untuk berapa abad lagi, hingganya
masih banyak diantara mereka yang menyiapkan bekal sebelum meranggaskan dedaun
hingganya akan selalu berdaun hijau sepanjang tahun. Ada beberapa burung Finch
yang juga suka memakan biji-biji mawar yang berwarna ungu gelap hingga hitam,
membantunya untuk menyerbukkan lilin. Sehingga membuat banyak kawanannya lebih
memanjangkan dahannya dan menyemakkan memanjat ke atas puri lebih lagi sehingga
mungkin akan mengurangi para rusa untuk mengambil para pucuk yang amat merekah.
Begitu tinggi puri itu sehingga seorang yang menengadahkan dagunya hanya
terlihat dinding ukir diluar ruang-ruang dan memandangnya terasa hanyut. Balkon tanpa
jendela ditiapnya itu terlihat sungguh gelap didalam, mungkin para mawar
menginginkan tempat tersembunyi sehingga tangan perisai akan terjepit diantara
semak, melengkungi pintu tembaga putih bersangkar. Ketika bisa menutup penuh itu secepatnya agar dapat
membuatkan gembok besar untuk menyimpan old
garden rose, kitab tua legenda para petingginya. Tapi ranggah-ranggah pada
rusa suatu hari akan datang menyudukkan kepada bangsa yang dibawah sehingga
mengangkat akar. Dan keyakinan pada mawar adalah masih tetap dengan perlindungan
dan perbatasan yang mereka buat. Seandainya mereka menggunakan sedikit sifat
terpuji yang murni dihasilkan dari dalam namun belum membuka, seperti
memberikan tempat berpijak yakni pengait pada duri agar para makhluk lain dapat
menapaki kebunga yang lain. Sedikit saja, membiarkan itu, niscaya Tuhan akan
mendatangkan kelabat putih yang lebih kuat. Sesungguhnya dari Tuhan
lebih dari benteng ataupun tembok dari perkiraannya, yakni sebuah berkat.
seravi


Komentar
Posting Komentar