Masquerade
Sebenarnya ia tak begitu suka muncul ke permukaan. Dan walaupun orang-orang membuatkan pesta dansa yang amat sunyi, hingga sebuah lingkaran tempat untuk seperti membiarkan bunga-bunga yang membubuni surat edarannya dengan juntaian kemeresak pada gaunnya, oh ayolah itu untuk mereka, bukan untuknya. Bisakah ia memiliki bukunya yang dipinjam, ia ingin tiduran di perpustakaan. Tak mengapa, sarang laba-laba disana diandai-andaikannya seperti janggut profesor saja. Beliau memang salah satu penjaga disana yang sepertinya tak tahu lagi akan waktu diluar, tapi membuatnya terkadang ingin seperti itu. Bicara mengenai ini, kau tahu, ia sangat menghormati beliau, ada yang ingin ditanyakan pada beliau, seperti empat volume buku harian yang hilang misterius atau kejadian-kejadian yang membuatnya gila, atau buku cetakan terakhir yang berhenti dicetak karena terlalu abstrak. Kemudian ia katakan pada orang disampingnya, “Maukah kau pergi sebentar keduniaku maksudku kedunia Profesor, tapi kau juga harus memerankan tokoh pada buku jika memasuki garis ruangannya”, bisiknya pelan. Tapi orang itu pun tak mau, “Jangan kau menghadiri pesta hantu yang tak menyenangkan”, tandasnya. Akhirnya ia banyak mengernyitkan dahi, lalu berpikir, rasanya perasaan tak nyaman seperti kaca yang harus ditembus hingga habis, dengan sisa tenaga masih bisa meleburkan serpihannya agar bayangan didalam tak mengekor. Untuk itu dengan berat hati beranjak darisana lalu mengambil banyak perkakas untuk menyiapkan perlengkapan pada kantung dan pergi ke perpustakaan, tentu saja dengan menggunakan pintu rahasia kesana, karena misi yang dilakukan dimalam hari ini akan menyelusur rak-rak terlarang. Banyak buku-buku tua diperpustakaan agar bisa mempersiapkan diri pergi ke negeri tadi, namun itu tak dimaksudkan untuk para siswa. Berisi hal tentang Fuzzy logic yang aneh, pohon-pohon binary, dan probabilitas kusut.
Ia tahu, mungkin dengan membaca itu semua terlihat satu tangga seperti dilipatgandagakan secara digital sehingga muncul ribuan. Untuk itu mata seperti membutuhkan tempat
penyangga sebenarnya, karena akan menjadi sia-sia rasanya jika sudah mengalami flashes pada
mata dimana ilusinya akan membuat pengaburan, juga floaters yang terjadi
sehingga banyak menyimpan bintik hitam pada lapang pandang sehingga akan tak
bisa lagi mereta-reta dalam gelap. Tapi bukankah itu terjadi ketika fase
manusia sudah menginjak tua, memang ada hal lain seperti terjadi degenerasi
vitrous yakni cairan dalam mata yang tergeser dari retina lalu seperti mengoyak
bagian lain, pendaraharan kecil darisana hingga melepaskan retina. Maka untuk
hal satu ini yakni pergi ketempat Profesor adalah jawaban paling tidak
mengurangi berbagai beban dalam pikiran, yang mengetuk-ngetuk lapisan kepala sehingga seperti hendak mati, itu jauh lebih menyakitkan dibanding hal tadi. Lagipula kudengar ditempat beliau
adalah hal yang harus diselidiki, yakni pintu-pintu rahasia dalam lemarinya yang memiliki rak-rak palsu, tak hanya itu, didalamnya juga ditemukan buku-buku palsu. Tapi
dengan demikian akan membuat mengundang rasa keinginantahuan muncul ketika seperti tak ada cerobong asap yang sama tiap rumah lalu kuharap bisa bertanggungjawab, setelahnya.
Dunia buku adalah salah satu yang dimaksudkan untuk
menyembunyikan tubuh yang banyak menerbangi tiap sekat dimana berada di sebuah bernama 'dunia
ilusi'. Ia menyebut demikian karena menganggapnya memiliki banyak
dimensi ruang yang diciptakan oleh manusia disana tapi membuat seolah-olah itu
adalah satu rumah utuh. Dan ia tak menerima bahwasanya mengapa lalu sebagian orang
mencampuri dengan segala pencurangan, membohongi hati, sehingga ia
sendiri tak tahu dimana pedoman. Ia selalu berpikir apa yang dilakukan disana
sebenarnya tidak akan menjadikan diri terlampaui, apakah dengan menaklukkan
dunia itu akan menjadikan diri hebat, ia sendiri tak tahu bahwa bayangan layaknya
hanya mengasap berkelabat. Berkeliaran dengan segala keyakinan-keyakinan, tak
bertuan, menapaki jalanan disana atau pohon-pohon pelindur yang akan siap
menjadikan tempat memabukkan dalam segala imajinasi yang berputar. Adakah
hal-hal jelas yang membuat seorang mengingat jati diri yang sebenarnya? Jika
kau mengatakan agar bahagia, mengapa harus seperti halnya agar diakui manusia,
itu berarti kau sama saja mengatakan sebuah kebahagiaan tergantung darinya
tidak Tuhan.
Kau tahu, setiap orang memiliki sebuah topeng lusuh dalam
ruangannya, kertas wajah seperti parade kuno, dan itu adalah hadiah dari Tuhan yang begitu berharga.
Janganlah berpikir dahulu bahwa penutup ini memiliki tuah, ia tak
memiliki apa-apa, hanya berwarna putih polos, dengan rautnya menyamai paras
tuannya. Benda ini digunakan untuk keadaan tertentu, memang hanya akan
menyembunyikan wajah, tapi itu membuat diluar dugaan yakni sehingga tidak terikutsertai
dari sihir-sihir yang ada disana. Sebenarnya ia tak bisa menampik pendaran cahaya darisana
yang dikatakan begitu kuat, hanya saja sihir akan tak mempedulikan orang-orang
seperti itu. Karena dianggap tak ada apa-apanya seperti seorang cacat kekurangan anggota tubuh lainnya, hingganya mereka tak melihat
itu adalah seperti sesuatu yang membahayakan. Ketika awalnya mereka akan mendekati karena rasa ingin menilik, mengendusi, tapi akhirnya tak menemukan apa-apa, lalu pergi beranjak darisana bersama
keyakinannya dan para teman-temannya untuk kembali membuktikan pada dunia jika
mereka bertubuh, ada. Sedangkan orang yang tertinggal tadi, dapat melanjutkan tugasnya dengan leluas berbilik-bilik.
Dan saat ini ia begitu memerlukannya, karena terlalu penat
menghadapi dunia disana, ada perasaan benda yang berjumlah ribuan bermata merah
meloncati kiri dan kanan tangan,
menggerogoti hingga tak bisa lagi berbicara. Lautan merah ini seperti dilukis cat
berjalan yang halus sehingga dengan caranya seperti menyusuri ruas-ruas tingkap
bundar pada rangka pendengaran, menuju saluran lebih dalam hingga ujung-ujung
saraf diteruskan menjadi impuls dan akhirnya dirangkum ke pusat otak besar. Itulah
sebabnya selama ini aku selalu menggunakan buku-buku setidaknya dapat
mengalihkan pembicaraan dari mereka, ke tempat lain. Ada perasaan lega setiap
pergi darisana, tapi akhirnya terkadang aku tak bisa menghindari dari
ketergantungan kelabat makhluk-makhluk yang juga didalam buku, ditariknya
pergelangan tangan hingga kaki sehingga seorang sudah menjadi penderita
schizotypal. Sebuah emosi datar aneh yang menepuk bahu pelipis atau atas
dahi, arah gerak bicara darisana lantur, karena masuk bagian buku lain secara tak langsung ke satu buku, terkadang datang secara tiba-tiba berbagai halusinasi yang tak bisa
dikendalikan dengan mudah. Hal ini sebenarnya karena tekanan lingkungan
dimana peristiwa kehidupan menegangkan yang bagian dasar masalahnya ada yang
salah.
Itu sebabnya ia akan lebih meredam diri kedasar yang lebih tenang, dari suara-suara hutan yang gusar, lalu tidak berkecil hati, karena
sebenarnya akan kesulitan mengubah dunia yang sudah seperti itu. Benar,
ketika kau sudah berhadapan dengan hal yang tak menyenangkan atau labirin rekaan yang
merasa pintar, maka yang dilakukan tidak dengan mencela tapi bagaimana keadaan harapan
diri terhadap sebuah benda yang ada pada kenyataan. Bagaimana cara memandangnya, atau
jika kau sudah hampir putus asa, buatkanlah seteko kaca teh dengan air lemon segar. Sebenarnya tak harus seperti bunuh diri, jika tanah
pun tak akan menerima andai seorang selalu menggumami gusar hidupnya, karena ia
sendiri sedang kesulitan bahkan pada saat musim paceklik tapi mempercayai bahwa
selalu ada satu atau dua cahaya baru dari langit akan memberikan petunjuknya.
Maka janganlah seorang dengan pemikiran tuanya takut dengan dunia disana yang pemikirannya
terlihat diluar menakjubkan.
Kau tahu, “Seorang yang menganggap dirinya jenius adalah orang bodoh yang sesungguhnya, sedangkan seorang yang menganggap dirinya bodoh adalah orang jenius yang sesungguhnya.”
Mengapa demikian, seorang jenius sesungguhnya akan lebih
beretika dengan cara mengendalikan dirinya, dari luar ia mungkin terlihat amat
pendiam, dengan sopan ia akan mendengarkan dengan seksama ketika lawannya
sedang berbicara, dengan merendahkan hati ia akan mencoba untuk memahami,
mencari jawaban pada pemikiran dikepala dengan bijak, masih mau belajar
berulang-ulang, lalu ada sebuah tanpa diketahui yang membantunya membawakan
sekeranjang buku putih dari belakang, berjalan tuturnya nampak seperti yang anggun
dan elegan berwarna terang dengan renda beraturan. Maka kau tahu, mengapa seorang
yang benar-benar berilmu seringkali tersenyum, karena didalam hati sebenarnya
melihat jelas lawannya yang merasa pintar tapi sebenarnya tidak. Seorang yang meninggikan
hati tak akan bisa melihat jelas, karena tak tahu cara beretika yang benar
sehingga akan memotong lawan bicara sebab menolak kebenaran, dari luar terlihat
pintar dengan berbagai pendapat yang sebenarnya hal itu dihasilkan dari akal berakar, enggan belajar, angkuh mengangkat dagu setengah
kearah langit kepada lawan bicara, tertawa bergelak-gelak karena merasa memenangkan
perdebatan ganda. Akhirnya ia tak tahu, bahwa dari langit yang ia benturkan tadi maka
berjatuhanlah sebuah dari sana yang memabukkan sehingga pikiran tersesat. Maka
jika kau temukan ada seorang berkata, ‘aku kartu kejeniusan’. Katakan padanya, ‘aku
kartu kebodohan’.
Didunia ini banyak sekali hal-hal yang diluar dugaan, kenaifan layaknya berbalik dikatakan untuk seorang yang sudah berada di jalan yang
benar. Maka timbul pergejolakan didalam, ada yang akan membuatkan sekelabat mantra kubah yang
melindungi diri sendiri, disana menumpuki harta benda, kelas, ilmu, atau
lainnya hingga kelangit-langit yang dijadikan akhirnya agar bisa menunjukkan diri dari tampikan segala cercaan. Padahal seharusnya seorang manusia hiduplah dari penilaian Tuhan. Sebenarnya jika
dikatakan hal-hal tadi adalah untuk kebaikan bersama atau dengan demikian akan dapat
saling mengisi atau berbagi, maka kembali tanyakanlah pada diri bahwasanya sudahkah
membuatkan sebuah karya untuk sesuatu yang teruk, karena waktu akan habis pabila
hanya bekerja untuk menumpuk.
Maka itu sebabnya ia ingin sekali membaca buku-buku diperpustakaan lalu menemukan Profesor, tapi melewati pesta dansa ditelusuran jalan dekat pavilun kali ini akan menyakitkan. Sebaiknya hari ini ia akan memakai topeng putih lusuhnya, tapi kali ini untuk mengurangi rasa sedih. Ia berdoa agar dihilangkan dari segala yang berkecamuk mendiami pada tubuh, berkaca-kaca membentuk sebuah peti. Kemudian sayup terdengar darisana ia seperti sedang bertutur,
Maka itu sebabnya ia ingin sekali membaca buku-buku diperpustakaan lalu menemukan Profesor, tapi melewati pesta dansa ditelusuran jalan dekat pavilun kali ini akan menyakitkan. Sebaiknya hari ini ia akan memakai topeng putih lusuhnya, tapi kali ini untuk mengurangi rasa sedih. Ia berdoa agar dihilangkan dari segala yang berkecamuk mendiami pada tubuh, berkaca-kaca membentuk sebuah peti. Kemudian sayup terdengar darisana ia seperti sedang bertutur,
"Kusembunyikan wajahku, agar dunia tak akan bisa menemukanku".
seravi


Komentar
Posting Komentar