Masquerade




www.123RF.com


Sebenarnya ia tak begitu suka muncul ke permukaan. Dan walaupun orang-orang membuatkan pesta dansa yang amat sunyi, hingga sebuah lingkaran tempat untuk seperti membiarkan bunga-bunga yang membubuni surat edarannya dengan juntaian kemeresak pada gaunnya, oh ayolah itu untuk mereka, bukan untuknya. Bisakah ia memiliki bukunya yang dipinjam, ia ingin tiduran di perpustakaan. Tak mengapa, sarang laba-laba disana diandai-andaikannya seperti janggut profesor saja. Beliau memang salah satu penjaga disana yang sepertinya tak tahu lagi akan waktu diluar, tapi membuatnya terkadang ingin seperti itu. Bicara mengenai ini, kau tahu, ia sangat menghormati beliau, ada yang ingin ditanyakan pada beliau, seperti empat volume buku harian yang hilang misterius atau  kejadian-kejadian yang membuatnya gila, atau buku cetakan terakhir yang berhenti dicetak karena terlalu abstrak. Kemudian ia katakan pada orang disampingnya, “Maukah kau pergi sebentar keduniaku maksudku kedunia Profesor, tapi kau juga harus memerankan tokoh pada buku jika memasuki garis ruangannya”, bisiknya pelan. Tapi orang itu pun tak mau, “Jangan kau menghadiri pesta hantu yang tak menyenangkan”, tandasnya. Akhirnya ia banyak mengernyitkan dahi, lalu berpikir, rasanya perasaan tak nyaman seperti kaca yang harus ditembus hingga habis, dengan sisa tenaga masih bisa meleburkan serpihannya agar bayangan didalam tak mengekor. Untuk itu dengan berat hati beranjak darisana lalu mengambil banyak perkakas untuk menyiapkan perlengkapan pada kantung dan pergi ke perpustakaan, tentu saja dengan menggunakan pintu rahasia kesana, karena misi yang dilakukan dimalam hari ini akan menyelusur rak-rak terlarang. Banyak buku-buku tua diperpustakaan agar bisa mempersiapkan diri pergi ke negeri tadi, namun itu tak dimaksudkan untuk para siswa. Berisi hal tentang Fuzzy logic yang aneh, pohon-pohon binary, dan probabilitas kusut.

Ia tahu, mungkin dengan membaca itu semua terlihat satu tangga seperti dilipatgandagakan secara digital sehingga muncul ribuan. Untuk itu mata seperti membutuhkan tempat penyangga sebenarnya, karena akan menjadi sia-sia rasanya jika sudah mengalami flashes pada mata dimana ilusinya akan membuat pengaburan, juga floaters yang terjadi sehingga banyak menyimpan bintik hitam pada lapang pandang sehingga akan tak bisa lagi mereta-reta dalam gelap. Tapi bukankah itu terjadi ketika fase manusia sudah menginjak tua, memang ada hal lain seperti terjadi degenerasi vitrous yakni cairan dalam mata yang tergeser dari retina lalu seperti mengoyak bagian lain, pendaraharan kecil darisana hingga melepaskan retina. Maka untuk hal satu ini yakni pergi ketempat Profesor adalah jawaban paling tidak mengurangi berbagai beban dalam pikiran, yang mengetuk-ngetuk lapisan kepala sehingga seperti hendak mati, itu jauh lebih menyakitkan dibanding hal tadi. Lagipula kudengar ditempat beliau adalah hal yang harus diselidiki, yakni pintu-pintu rahasia dalam lemarinya yang memiliki rak-rak palsu, tak hanya itu, didalamnya juga ditemukan buku-buku palsu. Tapi dengan demikian akan membuat mengundang rasa keinginantahuan muncul ketika seperti tak ada cerobong asap yang sama tiap rumah lalu kuharap bisa bertanggungjawab, setelahnya.

Dunia buku adalah salah satu yang dimaksudkan untuk menyembunyikan tubuh yang banyak menerbangi tiap sekat dimana berada di sebuah bernama 'dunia ilusi'. Ia menyebut demikian karena menganggapnya memiliki banyak dimensi ruang yang diciptakan oleh manusia disana tapi membuat seolah-olah itu adalah satu rumah utuh. Dan ia tak menerima bahwasanya mengapa lalu sebagian orang mencampuri dengan segala pencurangan, membohongi hati, sehingga ia sendiri tak tahu dimana pedoman. Ia selalu berpikir apa yang dilakukan disana sebenarnya tidak akan menjadikan diri terlampaui, apakah dengan menaklukkan dunia itu akan menjadikan diri hebat, ia sendiri tak tahu bahwa bayangan layaknya hanya mengasap berkelabat. Berkeliaran dengan segala keyakinan-keyakinan, tak bertuan, menapaki jalanan disana atau pohon-pohon pelindur yang akan siap menjadikan tempat memabukkan dalam segala imajinasi yang berputar. Adakah hal-hal jelas yang membuat seorang mengingat jati diri yang sebenarnya? Jika kau mengatakan agar bahagia, mengapa harus seperti halnya agar diakui manusia, itu berarti kau sama saja mengatakan sebuah kebahagiaan tergantung darinya tidak Tuhan.

Kau tahu, setiap orang memiliki sebuah topeng lusuh dalam ruangannya, kertas wajah seperti parade kuno, dan itu adalah hadiah dari Tuhan yang begitu berharga. Janganlah berpikir dahulu bahwa penutup ini memiliki tuah, ia tak memiliki apa-apa, hanya berwarna putih polos, dengan rautnya menyamai paras tuannya. Benda ini digunakan untuk keadaan tertentu, memang hanya akan menyembunyikan wajah, tapi itu membuat diluar dugaan yakni sehingga tidak terikutsertai dari sihir-sihir yang ada disana. Sebenarnya ia tak bisa menampik pendaran cahaya darisana yang dikatakan begitu kuat, hanya saja sihir akan tak mempedulikan orang-orang seperti itu. Karena dianggap tak ada apa-apanya seperti seorang cacat kekurangan anggota tubuh lainnya, hingganya mereka tak melihat itu adalah seperti sesuatu yang membahayakan. Ketika awalnya mereka akan mendekati karena rasa ingin menilik, mengendusi, tapi akhirnya tak menemukan apa-apa, lalu pergi beranjak darisana bersama keyakinannya dan para teman-temannya untuk kembali membuktikan pada dunia jika mereka bertubuh, ada. Sedangkan orang yang tertinggal tadi, dapat melanjutkan tugasnya dengan leluas berbilik-bilik.

Dan saat ini ia begitu memerlukannya, karena terlalu penat menghadapi dunia disana, ada perasaan benda yang berjumlah ribuan bermata merah  meloncati kiri dan kanan tangan, menggerogoti hingga tak bisa lagi berbicara. Lautan merah ini seperti dilukis cat berjalan yang halus sehingga dengan caranya seperti menyusuri ruas-ruas tingkap bundar pada rangka pendengaran, menuju saluran lebih dalam hingga ujung-ujung saraf diteruskan menjadi impuls dan akhirnya dirangkum ke pusat otak besar. Itulah sebabnya selama ini aku selalu menggunakan buku-buku setidaknya dapat mengalihkan pembicaraan dari mereka, ke tempat lain. Ada perasaan lega setiap pergi darisana, tapi akhirnya terkadang aku tak bisa menghindari dari ketergantungan kelabat makhluk-makhluk yang juga didalam buku, ditariknya pergelangan tangan hingga kaki sehingga seorang sudah menjadi penderita schizotypal. Sebuah emosi datar aneh yang menepuk bahu pelipis atau atas dahi, arah gerak bicara darisana lantur, karena masuk bagian buku lain secara tak langsung ke satu buku, terkadang datang secara tiba-tiba berbagai halusinasi yang tak bisa dikendalikan dengan mudah. Hal ini sebenarnya karena tekanan lingkungan dimana peristiwa kehidupan menegangkan yang bagian dasar masalahnya ada yang salah.  

Itu sebabnya ia akan lebih meredam diri kedasar yang lebih tenang, dari suara-suara hutan yang gusar, lalu tidak berkecil hati, karena sebenarnya akan kesulitan mengubah dunia yang sudah seperti itu. Benar, ketika kau sudah berhadapan dengan hal yang tak menyenangkan atau labirin rekaan yang merasa pintar, maka yang dilakukan tidak dengan mencela tapi bagaimana keadaan harapan diri terhadap sebuah benda yang ada pada kenyataan. Bagaimana cara memandangnya, atau jika kau sudah hampir putus asa, buatkanlah seteko kaca teh dengan air lemon segar. Sebenarnya tak harus seperti bunuh diri, jika tanah pun tak akan menerima andai seorang selalu menggumami gusar hidupnya, karena ia sendiri sedang kesulitan bahkan pada saat musim paceklik tapi mempercayai bahwa selalu ada satu atau dua cahaya baru dari langit akan memberikan petunjuknya. Maka janganlah seorang dengan pemikiran tuanya takut dengan dunia disana yang pemikirannya terlihat diluar menakjubkan.

Kau tahu, “Seorang yang menganggap dirinya jenius adalah orang bodoh yang sesungguhnya, sedangkan seorang yang menganggap dirinya bodoh adalah orang jenius yang sesungguhnya.”

Mengapa demikian, seorang jenius sesungguhnya akan lebih beretika dengan cara mengendalikan dirinya, dari luar ia mungkin terlihat amat pendiam, dengan sopan ia akan mendengarkan dengan seksama ketika lawannya sedang berbicara, dengan merendahkan hati ia akan mencoba untuk memahami, mencari jawaban pada pemikiran dikepala dengan bijak, masih mau belajar berulang-ulang, lalu ada sebuah tanpa diketahui yang membantunya membawakan sekeranjang buku putih dari belakang, berjalan tuturnya nampak seperti yang anggun dan elegan berwarna terang dengan renda beraturan. Maka kau tahu, mengapa seorang yang benar-benar berilmu seringkali tersenyum, karena didalam hati sebenarnya melihat jelas lawannya yang merasa pintar tapi sebenarnya tidak. Seorang yang meninggikan hati tak akan bisa melihat jelas, karena tak tahu cara beretika yang benar sehingga akan memotong lawan bicara sebab menolak kebenaran, dari luar terlihat pintar dengan berbagai pendapat yang sebenarnya hal itu dihasilkan dari akal berakar, enggan belajar, angkuh mengangkat dagu setengah kearah langit kepada lawan bicara, tertawa bergelak-gelak karena merasa memenangkan perdebatan ganda. Akhirnya ia tak tahu, bahwa dari langit yang ia benturkan tadi maka berjatuhanlah sebuah dari sana yang memabukkan sehingga pikiran tersesat. Maka jika kau temukan ada seorang berkata, ‘aku kartu kejeniusan’. Katakan padanya, ‘aku kartu kebodohan’. 

Didunia ini banyak sekali hal-hal yang diluar dugaan, kenaifan layaknya berbalik dikatakan untuk seorang yang sudah berada di jalan yang benar. Maka timbul pergejolakan didalam, ada yang akan membuatkan sekelabat mantra kubah yang melindungi diri sendiri, disana menumpuki harta benda, kelas, ilmu, atau lainnya hingga kelangit-langit yang dijadikan akhirnya agar bisa menunjukkan diri dari tampikan segala cercaan. Padahal seharusnya seorang manusia hiduplah dari penilaian Tuhan. Sebenarnya jika dikatakan hal-hal tadi adalah untuk kebaikan bersama atau dengan demikian akan dapat saling mengisi atau berbagi, maka kembali tanyakanlah pada diri bahwasanya sudahkah membuatkan sebuah karya untuk sesuatu yang teruk, karena waktu akan habis pabila hanya bekerja untuk menumpuk.

Maka itu sebabnya ia ingin sekali membaca buku-buku diperpustakaan lalu menemukan Profesor, tapi melewati pesta dansa ditelusuran jalan dekat pavilun kali ini akan menyakitkan. Sebaiknya hari ini ia akan memakai topeng putih lusuhnya, tapi kali ini untuk mengurangi rasa sedih. Ia berdoa agar dihilangkan dari segala yang berkecamuk mendiami pada tubuh, berkaca-kaca membentuk sebuah peti. Kemudian sayup terdengar darisana ia seperti sedang bertutur,

"Kusembunyikan wajahku, agar dunia tak akan bisa menemukanku".


seravi

Komentar

Postingan Populer