Archers
Rumah kaca bergaung disegelintir kalangan, bertubrukkan saling mendesak ruang langit, berkeluk tangannya diantara pintu-pintu, menutupi bukit bahak. Kau mungkin yang akan mengunci dalam kebanggaan, sedangkan api biru di jejarum besi keranda. Pencuri handal yang seperti melakukan sihir pengandaian, dengan jebakan yang garukan cahayanya pendari. Pemikiran secarik yang membinasakan makhluk-makhluk tak bertuan, mengatakan menyerut sebuah tombak pengkail. Sebukit emas yang dihasilkannya tak meluputkan dosa perompak, bertambah menjadikan gundukan penggal kepala. Sebagian turun kelangitnya berpesta sampai tersisa sepertiga malam yang terakhir, menjulukkan ribuan bandul suruk lontar yang melarung kembar awan ditelusuran curah. Menimbalkan pada lembah keterpurukannya, dimana penjaga yang berada diluar melihat raksasa memangsa segala yang ada satu persatu. Sedangkan bukit ketertawaannya, dimana penghuni dalam diselimuti bumbungan tinggi kastil menggulungi cerutu. Tak akan tahu, bahwasanya yang tak terhingga dikorbankan hidup bak makanan ternak, setiap hari mendengungkan bebatuan berbunyi nyaring diwaktu atas kepala katup kulit mereta-reta, yang sebenar-benarnya perawakan dalam gambar jeruji diatas kertas menunggu bayangan beku berderap, menyeka-nyeka anggota tubuhnya.
Ketamakan. Maka kau layaknya bukan lagi pikiran seorang anak manusia
yang hanya memakan daging luar, tapi makhluk besar yang menghancurkan istana
utama. Berabad lamanya para pejuang pendahulu membangun itu dengan batu-batu
pekerja keras miliknya, melindungi jantung kota hingga tiap kayu pegas tak
sedikit pun bergeming bidiknya. Mata yang seakan-akan terbenam, meninggalkan secara
sembunyi-sembunyi barang berharga satu-satunya ditempat pelarian. Rintikan kaca
dengan keteguhannya terbungkus dalam tiap pengatupnya. Tak ada yang mengetahui,
hanya Tuhan, dan dirinya. Bunga yang tak diketahui namanya akan hidup dalam tautan
hutan semak, lalu terhempas ditangan penggemuruh angin. Burung layang-layang
terbang hanya mengitarinya memberikan salam, seakan mengatakan bahwa sebenarnya
ia sudah lama mati. Tapi kau akan melihat bahwasanya sekurang-kurangnya aura
dari dasar muncul kembali, menumbuhkan anak-anak pemanah dengan sekarung benih.
Pagi meneriakkan tempat singgasana, kemudian tak lama
darinya seperti meredam karena ada suara teriakan, “Siapa yang peduli dengan
kematian mereka, biarkan saja mereka mati! Bukankah mereka adalah para penjaga kami
? Lindungi kota ini!”, giras salah seorang penduduk kota dengan meremuk kertas
kerut berisi batu, beserta mulut cabiknya melemparkan kepada para deretan tadi,
yang sedang berjalan pulang dari pertempuran menyeret kuda sambil memikul mayat
yang bisa diambil dari sana untuk diantarkan pada keluarga.
Tembikar hitam yang didalamnya bubuhan abu pekat berada
dibawah cerobong asap atap rumah mereka terus-terusan mengepul hingga memenuhi
kota. Kemudian penduduk disana menggerutui, mencela bahkan mematahkan anak-anak
panahnya.
“Aku belum tahu tentang dunia ini.”, kata seorang penjaga yang
terkena lemparan membatin. Ketika ia berjalan pandangan menjadi bias, mengiangi
segala mimpi buruk alam bawah sadar sehingga seperti tak menginginkan apa-apa
lagi pada dunia luar. Tapi masih memiliki tanggung jawab, yakni layaknya sumpah, sebagai
seorang penjaga.
Tapi apa balasan dari yang mereka lindungi, penduduk kota
selalu mengutarakan ketidakpuasan. Saat ini pun masih meneriaki para penjaga
yang melewati, “Kerahkan seluruh tenaga kalian untuk melindungi kami, bila
perlu berikan kepala kalian agar mereka memenuhi makanannya sehingga tak
mengambil kami!”, kata seorang menunjuk-nunjuk dengan kayu pukulnya. Lalu diikuti
bertambah-tambah pembicaraan yang lain, dan seorang yang besuara keras yang hampir
menguasai, “Memalukan, kalian masih punya muka untuk kembali , seharusnya
kalian mati bersama yang lain!”
Suara riuh memenuhi telusuran jalan, tapi para penjaga hanya
diam. Tak berkata apa-apa, hanya memandang kedepan menahan rasa pahit dengan bawah
mata keruh hitamnya. Masing-masing menanam rasa kecewa pada terpuruknya, hingga
paling dasar menggurat kayu didalam dengan tangannya sendiri. Agaknya kali ini
mendekati kepupusan dengan berbagai alasan ganda hendak mencoba menguasai dikepala,
menuliskan buku disana dengan darah dari panah, menggulingkan titah sumpahnya. Tapi
para penjaga kikuk yang terlihat lemah dihadapan mereka masih mengatakan dalam
hatinya, “Kita sudah berlatih bertahun-tahun, melarikan diri ketempat aman,
pada tempat penempaan hampir mati, dan juga berjuang ditempat pemangsa, demi
membuktikan hari ini, kita masih hidup.”
Waktu terus berlalu, para penjaga masih seperti dulu dengan
diamnya, setiap hari merunduk dahannya karena dalam sorotan para penduduk kota
yang mengatakan selalu pulang membawa kekalahan.
Dan hari ini, kau akan melihatnya. Sayap timur kerajaan tiba-tiba diserang oleh para pemangsa, semua orang
memperlihatkan huru-hara, tak ada seorang pun yang bisa mengira bencana akan
seperti ini. Masing-masing berlarian menyelamatkan diri sambil membawa harta
berlebih yang dipunyai kearah tanah yang ada diperbatasan, berdesakkan ingin memasuki
gerbang istana ini. Terlihat seorang saudagar dengan kereta besarnya memikul
banyak karung-karung berharga, pula seorang dengan tas besarnya juga mengisikan
pernak-perniknya. Ketakutan mencabik-cabik gundukan mata, saling bunuh, demi memasuki satu pintu putih baja.
Para penjaga kewalahan menangani keadaan ini, karena penduduk
kota terlalu memaksakan barang bawaanya sehingga yang lain kesulitan menyuruk
kesana. Berbagai kebijakan sudah dilakukan, tapi seperti disaat mendesak ini pun salah satu dari petinggi mereka maju dengan tuntutannya menggebrak dengan pemukul bidang lebar, “Barang-barang ini amat penting, untuk melindungi peradaban dimasa depan ada disini, kalian harus melakukan apa saja untuk mengangkutnya kedalam seperti turunkan bantuan dari tenaga semua penjaga!”, tegas orang itu sambil menghantam lapik pada punggung kuda didepan. Dan seperti biasa diikuti
oleh suara-suara yang lain, mendesak seraya membenturkan gerbang.
Seorang penjaga dengan tegap bahunya maju kedepan berteriak,
“Diamlah kaliaan!”
Derit suara pada pintu baja terdengar, semua orang yang ada
disana seketika menghentikan keributan, para mata menajamkan kearah suara
besar. Kemudian orang itu berkata, “Properti ini akan menyelamatkan kota,
katamu. Dunia apa ini? Tak tahukah kalian para kawanan kami berdiri disana
meregang nyawa didepan para pemangsa! Begitu berharganya bagi kami sedikit
waktu agar menyelamatkan kota. Memburu satu persatu, agar kalian masih bisa seperti
ini bicara menderu!,” katanya dengan suara lantang.
Tapi seorang juru bicara dari mereka tadi menimpali lagi. “Kalian
berubah banyak, bukankah sudah tugas kalian tetap teguh menjalankan tugas sebagai
penjaga kami, tapi dengan alasan itu kalian sudah pintar membantah!”,
tukasnya meninggikan suara.
Kali ini seorang penjaga tadi bersikap tenang, dan menjawab,
“Bukankah kalian tadi mengatakan bahwa properti itu yang akan melindungi
kalian, dimana dapat membangun peradaban, sekarang kalian bersungut dakwaan
mengatakan kami penjaga yang melindungi kalian. Ketahuilah bahwa ketamakan
kalianlah yang akan membunuh kalian sendiri, walaupun sudah dikerahkan kekuatan
para kawanan kami”, katanya tanpa ketir.
”Kalian semua dengarlah. Kami bukan lagi
seorang penjagamu, kami pemburu!.”, tekannya dengan nada keras. Bersama
kawanannya lalu beranjak pergi dari sana, tatapan melayang tajam membilah gundukan beku para bahu-bahu diam disana sehingga memberikan jalan. Mengukuhkan keyakinan dengan menegangkan ruas kayu lengan sembari melewatinya, menderapkan secara bersamaan sepatu kulit hingga tak terasa sudah berada dikejauhan. Dari bukit angin terlihat para penjaga itu menggenggam busur-busur
yang berkilauan dipunggung, lalu mensejajarkan dengan mata gagaknya, jemari kali ini tak akan ragu-ragu untuk melesakkan dengan kasar anak panah ke dahi para
pemangsa yang menunggu memakan sayap-sayap mereka.
seravi


Komentar
Posting Komentar