Alula
Tangga emas diatas tampak samar, karena datang awan dari langit bergemul menutupi susunan anak-anaknya. Hanya terlihat jelas berbintik-bintik membentuk sebuah danau pada bawah, lalu seperti ada gambaran seorang perempuan menjulurkan tangan pada lubang hisap disamping bangunan yang menjulang tinggi itu, ia sudah hampir putus asa karena tak memiliki sayap untuk sampai diatas. Ia melakukan banyak cara untuk mencoba mengalihkan perhatian mereka, tapi akhirnya seketika hentakan riaknya berhenti. Ketika kerumunan disana menoleh, ia tadi pun sudah tak ada, tenggelam bersama kota awan disana, lalu membuatkan sosok diri seperti potongan kertas putih meleleh dan menyapukan serbuk hitam yang menempeli banyak berbukit-bukit untuk menghalau hujan. “aku telah berdoa, aku telah berdoa.”, katanya semaput. Perasaan yang memuncak mengakibatkan sudah tak peduli lagi dengan segala yang ada disini, yang dilakukan sekarang adalah mementingkan keinginan bagaimana agar terwujud. Berdoa sudah tak menyelamatkan lagi baginya, yang diperlukan hanya turun darisana membalaskan ke bukit-bukit tambang kerajaan mereka untuk menjadi penggali ulung. Tapi anggapan seperti itu yakni baik mengambil genang air cahaya terang pada pencarian setelah dari berpulangnya adalah suatu hal yang tidak bisa dirasakan. Tak memiliki apa-apa, karena tak memiliki tempat atau wadah sebenarnya dimana itu akan berkeling bila ditaruh di dalam hal ketulusan.
Akhirnya ia hanya bisa menceritakan tentang judul gubuk yang diinginginkanya, sebenarnya
adalah fiksi yang diambil dari kesenangan sendiri, ‘aku pengguna lebih makanan
manis’, katanya. Sebagaimana hal itu, ya, tentu saja tak jauh dari sekitaran kue-kue disana, terlebih lagi yang
seperti disekelilingnya banyak sekali gula putih, seperti tanaman salju. Kalau sedih atau marah, akan
senang sekali kalau ada makanan itu. Tapi ternyata hanya menurunkan emosi sebagiannya
saja, terkadang tak tahu harus dikemanakan sebagian potongannya. Sebenarnya
ia memang sudah sadar bahwasanya sering atau tak sering menceritakan bagaimana keadaan dirinya yang murung itu dalam cerita klise, rasanya datar, kau tahu.
Lalu ia menumpahkannya kekesalan dengan menulis
surat pada awan pelindungnya. Dalam secarik yang digengamannya, ia tidak dulu menceritakan kisah hidup pribadi kelamnya. Saat itu berpikir diwaktu terpuruk hanya
Tuhan yang benar-benar mengerti, jadi sebagian besar akan disimpan. Maka menulis
disana tadi awalnya akan dianggap seperti ‘makanan manis dunia lain.’ Di dunia
nyata, mudah saja mencarinya ke toko-toko, tapi bagaimana jika itu khayalan, juga
tidak tahu rasa sebenarnya, olehkarenanya itu membuat akan lebih penasaran. Kau
tahu bagaimana rasanya seorang yang penasaran, ia akan ingin hidup, agar dapat mencari lagi dan lagi. Kemudian memutuskan selamanya akan didalam istana dengan aturan-aturan baru yang
dibuatnya. Bilapun mati di kehidupan lain, diri yang satu lagi masih hidup
didalamnya, pikirnya. Dan akhirnya, ia lupa, pada Tuhan.
Menambahkan kesenangan membaca juga pikirnya jadi tak mengapa jika suatu hari
terkurung didalam perpustakaan raksasa, karena anggapannya sudah sedikit mengerti diri yang mempunyai
imajinasi sendiri, dan juga senang berkutat didalamnya sampai-sampai kepala lelah.
Lalu dari membaca itu akan mendapatkan sebuah inspirasi baru untuk dijadikannya
merombak dunia nyata. Tapi ia, sudah melebihi batas, dengan kelicikannya berpendapat
agar meminta lebih pada awan. Menuntut banyak perlindungan, memakinya. Karena terlebih
diketahui bahwa sebelum ini awan memarahinya karena terlalu ingin membuktikan
diri dengan mengambil banyak hal seperti mengeruki tempat lain. Awan tentu tak akan menerima hal itu, karena ia pun sebenarnya tak mau khianat sebagai utusan Tuhan yang menjaga.
Seorang temannya berkata, “Aku sebenarnya ingin bicara, sudah
tahu tentangmu dari sejak bertemu. Selama ini aku hanya diam, jadi hanya ingin
mengingatkan. Sebaiknya janganlah begitu kita bicara padanya, tidakkah kau
mengasihani ia sudah bekerja keras. Apa kau tahu ia sampai sakit yang parah, tapi keluarganya pun bahkan tak ada yang mengetahuinya. Sebenarnya ia
sudah kelelahan karena bekerja ditempat yang begitu berat. Orang luar tak tahu
pekerjaannya, bahkan keluarganya bertanya. Tapi ia, rela bekerja ditempat yang keras demi menjadi sandaran
punggung keluarga. Ia akan lebih mendahulukan kepentingan oranglain
dibandingkan dirinya sendiri. Diluar kita melihat seperti tak ada beban, karena
tak mau ia tunjukkan. Ia memang jarang menceritakan alasan, lebih baik memendam
sendiri. Pada waktu itu kau mengatakan padanya bahwa belajar di negeri lain
dengan beralasan disini belum dapat pekerjaan dan belum ada yang melindungi lebih, maka pikirkanlah andaikata pertanyaan itu berbalik bahwasanya apa dengan menjajaki tempat disana ada yang lebih melindungi, dan apa dengan selesai darisana menjamin mendapat
pekerjaan lebih baik. Jika masalahnya beralasan mendapat kerja, disini kau juga sedang menyelesaikan pembelajaran, bukankah
setelah selesai darisini juga bisa kau rangkai, tidak harus disana
bukan. Jadi jika ditela’ah apakah relevan dengan alasanmu itu? Itu sebabnya ia
berbicara padamu waktu lalu, tapi kau menggubrisnya. Dengan menambahkan alasan tak bebas
belajar karena takut diganggu oleh makhluk awan lainnya disini. Pernahkah kau terpikir padahal jika taat pada Tuhan akan dijaga, Tuhan sudah berjanji bukan. Kau bicara kalau
dia berubah, sebenarnya itu karena mungkin kau melihat baru kali ini ia
menentang, sebelumnya ia selalu mendukung bukan. Maka baiknya direnungi
bahwasanya disini siapa yang dalam kesalahan, sebagai seorang pelindung ia hanya
ingin meluruskan pemikiran seorang yang dibawah atapnya. Ingatlah pula, ialah yang akan
menemani menanggung dosa dihadapan Tuhan kelak, tapi kau tak
berterimakasih dan mengatakan hal yang menyakitkan. Andai ia tak menasehati,
kau akan membuang banyak hal yang sudah diberi dengan sia-sia yakni segala hal yang telah ia usahakan ketika kau menjajaki disini, padahal itu amanah dari
Tuhan, mana boleh disiakan. Amanah tadi bisa saja diberikan pada yang
lebih membutuhkan bukan, diluar sana banyak yang kesulitan melanjutkan hidupnya karena tak memiliki cukup kuasa. Sedikit berempatilah bagaimana
seorang yang berada dalam kedaaan demikian. Kemudian jika kesulitan didalam masalah ini yang tak terasa kau sulut mungkin membuat lebih tak peka, maka cobalah renungi lebih dalam agar bisa lebih bijak. Kau
tahu, baik ketenangan atau apa pun itu yang kau maksudkan, ingatlah
bahwa jika ia merestui maka Tuhan pun merestui. Janganlah menyakitinya, Tuhan pun
amat murka, karena ia adalah utusan yang membantu Tuhan sebagai pelindungmu, ia makhluk taat yang dikasihi. Sebenarnya amat mudah bagi Tuhan memuliakan hambaNya,
andai seorang hamba juga memuliakannya.”, jelasnya sambil menata nafas agar
lebih teratur.
Sedangkan seorang yang dinasehati hanya mencibir, lalu
dengan angkuhnya menyiapkan lagi penjagaan untuk menguatkan beberapa teori yang
dari keyakinannya untuk menggulingkan, lalu berkata, “Aku ini seorang anak
perempuan yang begitu istimewa, kau tak tahu itu!”, tandasnya tak mau dikritik.
Kemudian melanjutnya lagi, “Perkataanmu tadi hanyalah kesimpulanmu semata, bagaimana
jika banyak menggoda-godaku karena keindahan dan kemolekanku? Itu sebabnya aku harus pergi ketempat yang lebih tinggi agar memiliki kuasa untuk melindungiku.”, jawabnya dengan menyulam bibir menghina.
Mendengar itu sang teman menjadi diam lemah, sungguh tak menyangka apa yang baru didengar, lalu berkata, “Apakah kau ingin menaikkan kelasmu dengan percaya diri seperti itu?. Apakah kau sudah terlalu cantik atau memiliki keahlian untuk melebihi atau menaklukkan segala sesuatu? Apakah kau tak tahu kuasa Tuhan pabila melelehkan air wajahmu menjadi buruk rupa, lalu kau tak bisa lagi berkata-kata. Maka sebenarnya apa yang ingin kau buktikan?”
Kau tahu, ada sebuah cerita mengenai renda buatan tangan biasa yang tergerai pada seorang perempuan didepan gubuknya. Berkata
seorang pemuda kepadanya bahwa ia indah mengenakan serangkaian disana, lalu
ingin memilihnya. Pada saat itu sang perempuan tak memikirkannya, tapi lama
kelamaan karena dicela oleh orang-orang kota yang mengatakan bahwa ia tak pantas bersanding, inginlah bertanya bagaimana cara pemuda itu memilih. Sebab rumah kaca disana
dipenuhi berbagai putri dengan membalutkan diri pada benahan mata intan dengan
gaun yang dipintal bersamaan. Sedangkan seorang anak perempuan hanya dengan
balutan lusuhnya, para tengkulak pun tak mau mengambilnya. Sebenarnya perempuan itu hanya belum tahu, bagaimana kesungguhan pemuda itu.
'Sebuah cinta tidak kasar seperti tumpukan batu berdengung di pulau yang baru diketemukan, hati mereka lembut seperti turkish delight dengan taburan gula putih halus diatasnya. Ketika ada benturan kata, keduanya akan diam sambil menunggu makan malam, lalu menangis dan saling meminta maaf sewaktu di meja makan. Sebuah cinta adalah ‘pangeran dan putri’ malu, karena begitu malunya akan bersembunyi dalam pepohonan ek besar milik hutan sherwood di nottinghamshire, rona wajah sudah seperti potato au gratin itu yang setengah matang dalam wadah sudah tak bisa dipungkiri untuknya menutupi sesosok mereka. Dan yang terakhir, sebuah cinta memiliki usia, suatu hari akan menangis panjang ketika pergi berkemas menaiki tangga langit lalu dikawal oleh sayap-sayap besar.'
'Sebuah cinta tidak kasar seperti tumpukan batu berdengung di pulau yang baru diketemukan, hati mereka lembut seperti turkish delight dengan taburan gula putih halus diatasnya. Ketika ada benturan kata, keduanya akan diam sambil menunggu makan malam, lalu menangis dan saling meminta maaf sewaktu di meja makan. Sebuah cinta adalah ‘pangeran dan putri’ malu, karena begitu malunya akan bersembunyi dalam pepohonan ek besar milik hutan sherwood di nottinghamshire, rona wajah sudah seperti potato au gratin itu yang setengah matang dalam wadah sudah tak bisa dipungkiri untuknya menutupi sesosok mereka. Dan yang terakhir, sebuah cinta memiliki usia, suatu hari akan menangis panjang ketika pergi berkemas menaiki tangga langit lalu dikawal oleh sayap-sayap besar.'
Maka apakah kau pula dapat mengerti hal ini, mungkin kau bisa menanyakannya
pada cermin-cermin. Sebaiknya cobalah mengambil bayangan didalamnya kemudian
ditaruh ke dalam kotak kurungan abadi. Kau tahu, kotak itu tak ada, sudah
dihancurkan sebelumnya oleh jaringan-jaringan kulit yang akan menua. Kecantikan
itu tak akan selalu muda, suatu hari rautan dahi akan seperti perempuan tua
merajut syal yang berhadap-hadapan dengan jendela. Bahkan rajutannya tak tega
dengan kulit yang seperti daun kering itu menyambung anyaman baris selanjutnya. Sebaiknya cobalah pula menghancurkan kaca-kaca pada cermin mereka,
lantaran hati datang berguruh karena buruk rupa yang muncul pada bayangan didalamnya. Kau tahu, itu hanya membuang waktu
sia-sia. Satu kaca yang kau pecahkan membuat cermin tak terhingga berdatangan
memberi bayangan yang sama. Ketika merias diri pun akan berharap cermin-cermin juga akan
memantulkan bayangan indahnya. Namun yang terjadi, gadis satu menjadi angkuh
dan gadis satu lagi menjadi sakit hatinya. Berkata pula seorang laki-laki,
"Kecantikan paras seorang perempuan membuat ketenangan". Mendengar
itu bertambahlah angkuh gadis satu, bertambahlah sakit gadis lainnya. Ternyata
keduanya belum bersyukur. Padahal keduanya mempunyai keindahan masing-masing.
Ada sebuah hati yang baik pada Tuhannya, baik pula pada
makhluk ciptaan Tuhannya, punggungnya adalah dengan helai putih berjajar yang tiap seperti kacanya membuat kumpulan cahaya lalu bersinar, kecantikannya akan terpancar, seorang pun lama mengingatnya, karena tak akan hilang kecantikannya walau kulitnya dan
kulit perempuan perajut syal tadi serupa. Penghuni awan menyebutnya alula, anak perempuan berkepak.
seravi


Komentar
Posting Komentar