Ferrishwheel



www.vikivisually.com






Sebuah cangkir yang menggantung disetiap sisi-sisi percikan lingkaran raksasa kembang api pada perayaan seperti lukisan hidup, membayangkan ia akan berputar-putar mengikuti sumbu, benda yang ketika diatasnya melihat gemerlap kunang-kunang dari langit yang amat begitu gelap. Didalam sana mungkin akan tertawa terbahak-bahak, atau menyemakkan setengah badan dibalik dinding porselen yang cukup kuat dengan rekatan lemnya, lalu mengerjapkan sekeranjang mata dengan siluet ungunya. Ketika kelelahan menginginkan tidur tidak terasa akan membuatkannya lupa yang ketika dipagi hari menumpahkan lagi teh bening dengan krim yang menggenang ke bahu-bahu raksasa putih, berdialek yang antik. Membiarkan selama itu hingga membuatkan sebuah kalimat-kalimat yang tak kasat mata mengaburkan sesenyap-senyapnya, hingga beberapa kurun waktu seperti menggeletakkan kedalam sebuah upeti. Tidak, bahkan awan hitam akan hadir pada akhir pekan ini. Ini menjadi rumit lagi jikalau ia menggunakan semua menjadi baluran yang amat pekat. Kecuali bangunan diatas akan tampak bagus dengan material-material baru yang didatangkan lagi. Mungkin petir putih punya cat lagi. Kita akan membuat strategi korporasi, sebelum acara festival dimulai, tapi pelukis satu itu dengan banyak sekali permintaan membuat kita kewalahan.

Untuk itu akan kukatakan sebelumnya, “Menuhankan pengetahuan-pengetahuan dari penalaran yang tidak cukup-cukupnya akan membuat seperti gelap mata.”

Karena kebanyakan manusia tidak melakukan demi peradaban, tapi adalah untuk masing-masing isi disetiap cangkir, yang hakikatnya memiliki sifat survival dimana kalimat-kalimatnya akan dianggap menggenapkan keseluruhan celah-celah yang retak. Ketika agama langit datang seperti untuk membagi-bagi kue dengan adil, sebagian akan membuang muka, menganggap bahwa itu tak bisa dijadikan alasan untuk menguatkan sumbu tadi. Bilamanakah tak mengkaji banyak hal, mengenai ‘peraturan-peraturan menurut persepsi’, tidak ada kejelasannya atau patokan utama, hingganya akan terdapat banyak intimidasi kearah moral negatif-dampak dari ketamakan. Dan sesungguhnya sesuatu yang tidak ada standardisasi mutlak tidak memberi batasan spesifikasi dalam penggunaan sebuah objek serta karakteristik sebuah metode karena sudah terkontaminasi dengan berbagai kepentingan. Kau tahu, membaca buku bergenre ‘distopia’, membuatmu seperti akan banyak meregang dengan butiran obat penenang karena banyak melihat benturan keras terhadap rasionalitas dan kemanusiaan. 

Pembahasan Agama adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. ‘Kehidupan sesudahnya’ adalah manifestasi dari masa depan. Layaknya kau tak perlu mengambil banyak sepupu waktu untuk mendebat para hati-hati yang tidak akan percaya mengenai ‘dongeng yang disebut-sebut’. Layaknya kau tak perlu menakuti diri dengan anggapan teko-teko sains yang berkeliling berputar lalu menumpahkan semua ke anak cangkir vella. Kemudian karena pertimbangan demografi para pembaca ulung lalu mengulas buku-buku yang sesuai dengan para keinginan. Karena senyata-nyatanya Tuhan sudah banyak sekali menunjukkan tanda-tanda pada dirimu sendiri. Jika benar semua terjadi adalah ‘kebetulan’, mengapa terlahir sempurna, bahkan mempunyai akal yang nama pena sigap sekali menuliskan huruf-huruf ke udara. Apakah seorang mengira alam semesta seperti pasir gula angin ribut lalu tiba-tiba terjadilah obyek yang canggih-seperti halnya proses evolusi acak, jika benar demikan akan banyak mengalami kecacatan. Jika masalahanya filsafat ethic dan sains diklaim sebagai membaiknya moral dimuka bumi sebenarnya bukti itu belum ada. Tak ada data-data real menunjukkan filsafat ethic dan sains  (tanpa agama) mempengaruhi membaiknya moral dimuka bumi.  Faktanya adalah perkembangan manusia diiringi agama langit yang pergi kesana kemari dengan keranjangnya membagikan kue-kue utuh, agak bias filsafat dan sains memborong jasa. Lagipula kita manusia ini siapa, yang membuat teolog satu kue?

Sebagian manusia sendiri hidup dalam keraguan, bagaimana kau mempercayai sesuatu yang ragu? Mengenai sains sendiri, apakah kau yakin sains yang sekarang yang menurutmu sesuai pengujian itu benar? Seperti halnya ada sebuah pembahasan berbeda-beda hampir berabad-abad, hipotesa sains yang diyakini dimasa lalu ternyata tumbang yang setelah pengujian lebih jauh. Orang yang hidup dimasa itu, mati dalam kesalahan.

“Sebagai kritik yang memaksa mencampuradukkan dogma agama kedalam sains, atau memvonis salah hanya karena tak bisa membuat sesuatu dibuktikan.” Suatu hari, kau seperti akan mematahkan halaman buku itu karena akan menikung dalam rute suatu labirin lalu menemukan sebuah tanda-tanda kuasa Tuhan. Tanpa sepengetahuan mengikuti diam-diam dari belakang, ketika lari akan bertemu lagi dengan teman satunya, lalu berbalik lagi kebelakang dan bertemu lagi badan lainnya yang lebih kecil, jika ingin memutar arah akan dihadapkan dengan penunggu-penunggu disana dengan lembing bersejajar, atau di sisi kiri akan menapaki bukit para cendikiawan dengan kacamata silinder usangnya, di sisi kanan akan menemukan sebuah perpustakaan besar dimana tempat buku teratur yang senang bermain teka teki hingga akan sulit untuk keluar dari genggamannya. Belum lagi menghadapi tumbuhan-tumbuhan disekitar, sebenarnya itu adalah anak-anak jamur dengan sekelabat memekakkan telinga, ketika berjalan akan terus-terusan didengungkan dengan suara-suara tabuhan dari bantalan topi mereka. Dan yang terakhir ketika menatap kearah langit ada orang-orang tua dengan sayap besarnya yang akan menunjukkan peringatan-peringatan keras. Saat itu kau sudah seperti gelas kosong yang dimasuki dengan air jernih yang diluar sangat terlihat jelas, kemana pun akan ditemukannya walaupun bersembunyi dibalik porselen. “Manusia dengan kartu-kartu sihir yang akan menyulurkan cabangnya hingga berdesakkan untuk mencari tempat dimana yang ada lubang pun akan tertelan hidup-hidup.”

Adalah salah satu sifat akal manusia jika tetap pada prinsipnya jika tak menerima hal itu, mengeluarkan pemikiran seorang filsuf cangkir yakni bukankah suatu hari membuatkan berada diposisi paling atas bianglala, kemudian sedikit bergerak, terjun lagi begitu seterusnya. "Didalam hanya terlihat menunggu kemenangan atau kekalahan milik sendiri, tidak ada hal-hal lain yang seperti rasa empati, karena ia pun tak bisa melihat sebenar-benarnya apa yang terjadi diatas cangkirnya maupun yang dibawah cangkirnya." Setiap hari pekerjaannya adalah meneguk awan tak ada habisnya, memarahi mereka beralasan mengambil hal berat, karena sumbu harus berputar tak peduli apapun alasannya. Tempurung yang merupakan langit-langit akan menjadi gelap dan terang, memberikan panorama untuk kesekian kalinya dalam surat-menyurat. Pewartaan itu sudah terlalu buruk, sama saja ia akan berkata, “Tuhan menjaga agama, manusia melihat hal ingkar membiarkan." Sama seperti tidak bekerja, menunggu keajaiban sepotong kue datang sendirinya memperbaiki semua hal. Manusia menciptakan filosofis yang hebat, tapi melupakan essensial itu sendiri. 

Takut pada ‘prejudice’, takut pula pada ‘kenyataan’. “Jika ada yang bisa menguntungkan cangkir maka akan menjadi teori yang baik.”, katanya. Diluar itu, kembali merekatkan dengan ruas-ruas jari. Pernyataan yang tak akan memperdulikan kerusakan yang ia buat.   


seravi

Komentar

Postingan Populer