Ferrishwheel
Untuk itu akan kukatakan sebelumnya, “Menuhankan
pengetahuan-pengetahuan dari penalaran yang tidak cukup-cukupnya akan membuat
seperti gelap mata.”
Karena kebanyakan manusia tidak melakukan demi peradaban,
tapi adalah untuk masing-masing isi disetiap cangkir, yang hakikatnya memiliki
sifat survival dimana kalimat-kalimatnya akan dianggap menggenapkan keseluruhan
celah-celah yang retak. Ketika agama langit datang seperti untuk membagi-bagi
kue dengan adil, sebagian akan membuang muka, menganggap bahwa itu tak bisa
dijadikan alasan untuk menguatkan sumbu tadi. Bilamanakah tak mengkaji banyak
hal, mengenai ‘peraturan-peraturan menurut persepsi’, tidak ada kejelasannya
atau patokan utama, hingganya akan terdapat banyak intimidasi kearah moral negatif-dampak
dari ketamakan. Dan sesungguhnya sesuatu yang tidak ada standardisasi mutlak tidak
memberi batasan spesifikasi dalam penggunaan sebuah objek serta karakteristik
sebuah metode karena sudah terkontaminasi dengan berbagai kepentingan. Kau
tahu, membaca buku bergenre ‘distopia’, membuatmu seperti akan banyak meregang
dengan butiran obat penenang karena banyak melihat benturan keras terhadap
rasionalitas dan kemanusiaan.
Pembahasan Agama adalah masa lalu, masa kini, dan masa
depan. ‘Kehidupan sesudahnya’ adalah manifestasi dari masa depan. Layaknya kau tak perlu
mengambil banyak sepupu waktu untuk mendebat para hati-hati yang tidak akan
percaya mengenai ‘dongeng yang disebut-sebut’. Layaknya kau tak perlu menakuti diri
dengan anggapan teko-teko sains yang berkeliling berputar lalu menumpahkan
semua ke anak cangkir vella. Kemudian karena pertimbangan demografi para
pembaca ulung lalu mengulas buku-buku yang sesuai dengan para keinginan. Karena
senyata-nyatanya Tuhan sudah banyak sekali menunjukkan tanda-tanda pada dirimu
sendiri. Jika benar semua terjadi adalah ‘kebetulan’, mengapa terlahir sempurna,
bahkan mempunyai akal yang nama pena sigap sekali menuliskan huruf-huruf ke
udara. Apakah seorang mengira alam semesta seperti pasir gula angin ribut lalu tiba-tiba
terjadilah obyek yang canggih-seperti halnya proses evolusi acak, jika benar
demikan akan banyak mengalami kecacatan. Jika masalahanya filsafat ethic dan
sains diklaim sebagai membaiknya moral dimuka bumi sebenarnya bukti itu belum
ada. Tak ada data-data real menunjukkan filsafat ethic dan sains (tanpa agama) mempengaruhi membaiknya moral
dimuka bumi. Faktanya adalah
perkembangan manusia diiringi agama langit yang pergi kesana kemari dengan
keranjangnya membagikan kue-kue utuh, agak bias filsafat dan sains memborong jasa.
Lagipula kita manusia ini siapa, yang membuat teolog satu kue?
Sebagian manusia sendiri hidup dalam keraguan, bagaimana kau mempercayai
sesuatu yang ragu? Mengenai sains sendiri, apakah kau yakin sains yang sekarang
yang menurutmu sesuai pengujian itu benar? Seperti halnya ada sebuah pembahasan
berbeda-beda hampir berabad-abad, hipotesa sains yang diyakini dimasa lalu
ternyata tumbang yang setelah pengujian lebih jauh. Orang yang hidup dimasa itu,
mati dalam kesalahan.
“Sebagai kritik yang memaksa mencampuradukkan dogma agama
kedalam sains, atau memvonis salah hanya karena tak bisa membuat sesuatu dibuktikan.” Suatu hari, kau seperti akan mematahkan halaman buku
itu karena akan menikung dalam rute suatu labirin lalu
menemukan sebuah tanda-tanda kuasa Tuhan. Tanpa sepengetahuan mengikuti
diam-diam dari belakang, ketika lari akan bertemu lagi dengan teman satunya,
lalu berbalik lagi kebelakang dan bertemu lagi badan lainnya yang lebih kecil,
jika ingin memutar arah akan dihadapkan dengan penunggu-penunggu disana dengan
lembing bersejajar, atau di sisi kiri akan menapaki bukit para cendikiawan
dengan kacamata silinder usangnya, di sisi kanan akan menemukan sebuah
perpustakaan besar dimana tempat buku teratur yang senang bermain teka teki
hingga akan sulit untuk keluar dari genggamannya. Belum lagi menghadapi tumbuhan-tumbuhan
disekitar, sebenarnya itu adalah anak-anak jamur dengan sekelabat memekakkan
telinga, ketika berjalan akan terus-terusan didengungkan dengan suara-suara tabuhan
dari bantalan topi mereka. Dan yang terakhir ketika menatap kearah langit ada
orang-orang tua dengan sayap besarnya yang akan menunjukkan peringatan-peringatan
keras. Saat itu kau sudah seperti gelas kosong yang dimasuki dengan air jernih
yang diluar sangat terlihat jelas, kemana pun akan ditemukannya walaupun bersembunyi
dibalik porselen. “Manusia dengan kartu-kartu sihir yang akan menyulurkan cabangnya
hingga berdesakkan untuk mencari tempat dimana yang ada lubang pun akan
tertelan hidup-hidup.”
Adalah salah satu sifat akal manusia jika tetap pada
prinsipnya jika tak menerima hal itu, mengeluarkan pemikiran seorang filsuf cangkir yakni
bukankah suatu hari membuatkan berada diposisi paling atas bianglala, kemudian sedikit
bergerak, terjun lagi begitu seterusnya. "Didalam hanya terlihat menunggu
kemenangan atau kekalahan milik sendiri, tidak ada hal-hal lain yang seperti
rasa empati, karena ia pun tak bisa melihat sebenar-benarnya apa yang terjadi diatas cangkirnya maupun yang dibawah cangkirnya." Setiap hari pekerjaannya adalah meneguk awan tak ada habisnya,
memarahi mereka beralasan mengambil hal berat, karena sumbu harus berputar tak peduli apapun alasannya. Tempurung yang merupakan
langit-langit akan menjadi gelap dan terang, memberikan panorama untuk kesekian
kalinya dalam surat-menyurat. Pewartaan itu sudah terlalu buruk, sama saja ia
akan berkata, “Tuhan menjaga agama, manusia melihat hal ingkar membiarkan." Sama seperti tidak bekerja, menunggu keajaiban sepotong kue datang
sendirinya memperbaiki semua hal. Manusia menciptakan filosofis yang hebat,
tapi melupakan essensial itu sendiri.
Takut pada ‘prejudice’, takut pula pada ‘kenyataan’. “Jika
ada yang bisa menguntungkan cangkir maka akan menjadi teori yang baik.”,
katanya. Diluar itu, kembali merekatkan dengan ruas-ruas jari. Pernyataan yang
tak akan memperdulikan kerusakan yang ia buat.
seravi
seravi


Komentar
Posting Komentar