Alfalfa '1
“Cepat sekali kau Roan? Tidak seperti biasanya, apakah ada sesuatu yang
terjadi?, ia masih meniup kopinya yang sudah setengah.
Sedangkan pemuda itu dengan muka setengah ditekuk, seperti menunjukkan
bahwa ia ingin mengatur ulang semua waktu, kerja keras yang sia-sia ini, akan
menyalakan keinginannya sekali lagi. Namun seperti sekelabat cepat menghampiri
sehingga ia hanya memusatkan untuk meletakkan topi di tiang cantelan yang ada
di sudut ruangan, meletakkan payung dan kotak bawaannya, sambil menggerutu, bukan mengenai amarah yang dideranya sejak
pagi ini, hanya saja ia tidak tahu apakah kecanduan yang menimpanya bermaksud tidak
akan sedikit memulangkan seperti pijakan lilin yang hendak melelehkan,
mengumbar deru-dera yang ada disempitnya pemikiran. Sepertinya ia tidak akan
bisa menyapa benda-benda itu dikepala lagi, hari ini, mungkin besok lusa, membiarkan
saja, akhirnya seperti ingin menghitung serbuk kopi yang ditumpahkan oleh orang
tua tadi, ia rela bahkan memilah-milah dengan menggunakan kuas. Bukannya tidak
tahu untuk apa ia disini, hanya saja jika tidak dapat bergerak akan merambah lagi
kepicikan yang dari tadi sudah ingin membeludak. Ia ingin memberi air saat ia
sedang ingin permisi untuk keluar, akan mencampurkannya dengan warna yang
sedikit memucat. Tapi apakah ia akan berbesar hati jika hal itu berhasil, atau
membuatnya lebih pekat lagi, tak mengapa. Ia akan membayar ini semua, semuanya,
bahkan jika harus menukarkan dengan hasil yang sedang setengah diusahakannya.
Tapi meninggalkan diri seperti itu lagi bukan hal yang brilliant, tidak
bertanggungjawab. Walaupun bahkan ia sendiri memaksa mencuatkan lagi mulutnya untuk
mengatakan ‘kata-kata itu’, tak akan, untuk apa jika hanya menyusahkan atau
merusak beberapa bagian, bukan. Akan ada yang lebih baik, atau kesempatan yang
menyentuh sebuah peringatan yang terus mengiang dikepalanya, mengizinkan untuk
merombak.
Ia masih melihat kearah kopi yang tumpah, inginlah bertanya untuk apa Pak
Troy membuat kopi sepekat itu, apakah ia ingin membuat mengantuk lebih lama
untuk malam ini, mungkin sedikit sama dengannya yang masih tengah diambang yang
tak dimengerti sedikitnya. Pak Troy duduk didekat jendela lalu memegangi
bingkai yang menjadi tumpuan kedua lengannya, sambil memandang kosong kedepan
dan masih meminum kopi setengahnya, yang bahkan sudah satu atau dua semut ingin
merebut kembali tempat mereka. Sedikit ingin membuyarkan lamunan beliau, ia
membuka awal pembicaraan yang aneh.
“Apa kau tahu mengapa burung diatas tak bertengger di pohon-pohon yang
ada di halamanmu? Mungkin kau tidak tahu apa karena pohonmu itu memberikan
getah yang menyulitkan mereka.”, katanya dengan nada yang menjelimat.
Pak Troy tak menjawab, ia hanya diam saja, kemudian mengetuk jendela yang
ada didepannya sebanyak tiga kali dan begitu lagi seperti berima, lalu
mengambil sepotong kue yang telah ia dinginkan di didalam kulkas sejak kemarin.
Pak Troy senang membuat kue-kue, dengan berbagai bahan aneh yang ia dapatkan
dari rempah-rempah desa sebelah yang terkenal dengan serutan-serutan khasnya.
Pernah Roan diajak menghampiri ke desa itu mengantarkan untuk mencari serbuk
berwarna jingga aneh yang bahkan ia tak tahu itu apa, kata Pak Troy itu sejenis
bahan yang membuat menyengat, yang ia ketahui setelahnya bahwa itu dari bahan
jamur. Ya, pak Troy menanam jamur yang amat banyak di kebun, bahkan ia tidak
tahu lagi jenis jamur itu bisa dikonsumsi ataukah beracun. Disamping area
jendela yang tengah dibuka oleh Pak Troy, ada sepetak kebun yang sudah seperti
totol-totol hidung yang sedang hidup, atau bulatan cantelan untuk meletakkan
mantel atau topinya tadi.
Pak Troy masih sedikit melamun, ia bahkan dengan mulut majunya yang
seperti biasa akan membuat seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu.
Tak lama kemudian ada yang berjatuhan didapannya, tak terasa hujan mengguyur, kebun
dan tentu saja jendela yang ia pegangi bingkainya tadi basah, sisi-sisinya
bergetar, dikarenakan bunyi dentuman kuat yang membengit cupingan telinga
mereka berdua yang sudah seperti daun orak. Agaknya juga membuyarkan lamunan
Pak Troy dikala ia sedang memikirkan sesuatu, ya dipastikan sesuatu yang aneh,
apa lagi. Selama ini Pak Troy akan selalu melakukan perjalanan-perjalanan yang
menurutnya pintu-pintu aneh adalah tempat kembalinya, atau untuk pintu yang
selama ini banyak membantunya, ia selalu mengatakan tentang itu yang
sekelumatnya tak tahu kunci apa saja, maka dari itu ia selalu gerendel kunci
yang bahkan Roan tidak tahu kunci apa saja itu. Ada sebagian yang
diketahuinya, selebihnya…Ah, dipikirannya itu mungkin hanya suatu gubuk atau
tempat-tempat yang gemang atau tentang pintu aneh yakni barang yang bulat torak
seperti batang kayu misterius, dan kurang diketahui orang.
Roan mengangkat sedikit kakinya dari tumpahan kopi lalu mengambil tempat
dudukan yang ada di seberang Pak Troy sambil makan juga cemilan yang ada di
piring, piring itu dari porselen bekas, Pak Troy sendiri yang mebuatnya, hanya
dengan jari-jarinya ia bahkan menggunakan keahliannya untuk membuat barang
pecah belah yang diseluruh lemari hiasnya, di dekat tangga terlebih lagi,
banyak sekali keramik yang ia susun rapi diatas, piring-piring ia letakkan saja
membukakan muka mereka, agar terlihat lebih jelas ukiran bunga sulur yang
sengaja ditematkan di sekitar poros, lalu didalam lemarinya ada seperti kaitan
agar bisa membuat nyaman anak-anak cangkir dan teko, maka ibu mereka akan
berada dibawah untuk melindungi, kalau-kalau anak-anaknya tidak seimbang, atau
bahkan mengurangi beban pada lemari agar
dapat membuat ruang lingkup atau gelung yang sedikit longgar.
Roan lalu mengambil kue yang ada di depannya, memang pada suasana sejuk
yang seperti ini akan sangat cocok dengan memasukkan sesuatu ke mulut dengan
sunguh-sungguh mencintainya, atau jika tak ingin memakannya sama sekali pun,
karena siropnya yang mengental, maksudnya dengan hanya melihatnya saja sudah
membuat melumer pula. Tapi akhirnya dicicipinya pula kue tersebut oleh Roan.
Baru hendak memasukkan ke dalam mulut saja, wangi rum sudah sangat menyengat mungkin
karena warna itu tadi yang benar-benar pekat, lalu ia menggigit satu sisi
dimana yang paling renyah adalah kulit tepungnya. Dan ketika Roan hendak
menghabiskan bagian terakhirnya, tiba-tiba Pak troy dengan santai akhirnya
berkata pula, kali ini dengan nada datar,
“Kau sendiri bahkan tidak tahu mengapa mereka-burung-burung itu
menggunakan keahlian yang sudah memakaikan rumah itu sebagai tempat
perlindungannya, bahkan itu menjadi puncak misteri yang burung-burung itu diam
disana, ya diam saja, ia tak mengatakan padaku mengapa mereka tak pergi
berpindah pada musim ini, hanya mengitari atas pohon saja.”, kata pak Troy
"Kau melakukan perjalanan ‘itu’ lagi? Akhir-akhir ini?", tanya Roan mengalihkan pembicaraan dan sedikit
mendelik. Ia masih berdebar-debar, padahal sudah berulang-ulang mengetahuinya,
mungkin ia akan menunjukkan sesuatu yang belum diketahuinya lagi saat ini, ataukah
pada saat-saat yang seperti itu dulu. Ketika ia memasuki salah satu pintu yang
ada di salah satu gerendel kunci, mengubah sesuatu yang tak akan diduga
sebelumnya. Ia berpikir apakah itu curang, tidak, bahkan sangat curang jika
benar-benar didiamkan, untuk pertama kalinya ini sudah diluar batas. Olehnya
Roan tak dapat sabar, ia lalu menanyakan lagi berulang.
“Apakah salah satu pintu kau buka lagi? Tidak-tidak, itu tak boleh, sama
sekali, kau bahkan sudah mengubahnya amat banyak sebulan lalu, sehingga seperti
dimensi yang seperti itu akan membuatmu lupa untuk mengembalikannnya lagi, kau
bahkan tidak tahu cara memulangkannya, lalu kau akan mengatakan kunci yang
kau maksud sudah tak terpakai disaat itu, atau menjadikan dirimu menjadi
seperti pengendali yang sombong, ya, kalau benar seperti itu kau sudah salah!”
Pak Troy terkekeh mendengar kata-kata pemuda itu , kemudian menghapus
busa sisa yang ada dimulutnya bekas dari kue tersebut, lalu mengeluarkan
kata-kata yang seperti menampar pemuda itu keras-keras.
“Apa yang bisa dimengerti dengan anak kecil sepertimu, bahkan kau tak
akan tahu jikalau aku melakukan sesuatu ini dengan tujuan baik, kau hanya tak
tahu saja, tapi itu tak akan membuatmu goyah bukan, ya tak akan, kau hanya
masih dengan prinsip-prinsip yang kau pikir itu jujur, bilakah kau tahu manusia
itu tidak begitu, ya kita demikian. Lihat saja, aku akan mengumumkannya,
walaupun hanya sebentar yang membukakkan sedikit poros jamnya yang agaknya
sudah sangat rapuh. Mungkin dentingnya tak akan terdengar lagi sekarang, itu
karena kau amat cerewet, kau tahu.”, Pak Troy agak kesal mengatakan itu.
Sedangkan Roan menghentikan tradisi makan yang sebenarnya amat ia sukai,
sambil memutar sekali lagi kepala yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu akan dikemanakan
pendapatnya yang tadi agar membuat sedikit pak Troy untuk mengulu-ulur kembali
niatnya untuk membukakan kunci, ke dalam banyak pintu, yang pintu Roan tak tahu
yang mana saja akan dibuka lagi, misterius yang bahkan akan digubah ulang yang
ada didalam sana. Ada banyak kunci yang sedang dipegang disana, ada satu gagang
yang berbentuk tali yang mengungkai, atasnya berbentuk seperti kepala labu
dengan sisi-sisi bengkok yang tidak teralu mencuat, lalu dilihatnya orangtua
tadi dengan malas sambil memutar-mutaar gerombolan itu dengan memasukkan jari
manis ke lingkar besi yang menjadi induk mereka.
Roan masih tak mengerti jalan pikiran pak Troy hingga saat ini, ia bahkan
hanya menggelengkan kepala karena pak Troy yang seperti sedang menggumam sambil
memainkan seperti atributnya, layaknya seperti penjaga gerbang yang aneh dengan
mata yang sering membelot tidak tahu pusatnya, menggerakkan jemari yang
masing-masing tongkat disana hendak ingin melepaskan dari kulit manusia yang
pada saat itu, sedangkan orang itu masih memiliki kekuatan lebih untuk
menggantungkan kembali gerendel kunci yang masih terlihat lelah karena besinya
yang sudah bekarat. Mereka seperti menggerutu karena terus-terusan
dipantul-pantulkan kearah jendela bingkai tadi, yang masih saja diguyur oleh
air hujan yang tidak tahu mengapa saat itu berhenti seketika, hinggnya menjadikan
rerumputan dikebun seperti menghanyutkan manik-manik yang berwarna-warni dengan
totolan mereka.
Roan berdehem kaku, lalu mencoba mengingatkan kembali, walaupun ia tahu
perbincangan ini sudah tak menyenangkan, mungkin ini sebabnya laki-laki tak
saling bicara satu sama lain, dan mereka berkata: ‘kami punya cara sendiri
untuk berdebat.’
“Apakah tidak kau pikir itu akan
menyusahkanmu sendiri? Kau bahkan tidak akan mengerti bahwa yang kau lakukan
itu adalah salah, sedangkan mereka sendiri akan mengatupkan pintu-pintu yang
tidak tahu lagi akan mengantarkan ke tempat yang mana saja, karena sudah kau
gubah sedemikian rupa, sehingga menjadikan semuanya akan merusak waktu yang
mereka telah pegang sekian lama.”, kata Roan kali ini sedikit tenang, berharap
kali ini ada perubahan.
Pak Troy diam kembali. Dalam kehidupannya yang langka ini, “Berpikir adalah
mempunyai banyak pilihan, bahkan menapak jauh yang ada di bagian puncak lebih
tinggi lagi, keinginan yang melebihi apa yang ada di dalam pikiran atau malah menggubah
sebagian dalam adalah memojokkan apa yang ada didalam pikiran, atau setengah
dalam kamus yang bahkan tidak akan bisa diterjemahkan.” Menggunakan hal-hal
yang lebih dalam penggunaannya atau memusatkan pikiran menjadikan hati adalah
hak paling dasar dalam hidup-hidup mereka. Untuk itu apa pun yang dilakukannya
akan dipertimbangkannya lagi, bahkan untuk saat ini akan dipergunakan lebih dalam
menginjak kembali apa yang mampu menguras, pintu-pintu itu bahkan akan mengatup
jika orang-orang tidk akan mempercayainya, tapi akan mengiangkan rasa bosan
dalam semuanya, hingganya ia akan menjadikan sebuah antusias yang paling lama
dalam kurun yang tak terhitung banyaknya dalam butiran pasir-pasir yang
menggenangi apa pun yang ada dalam botol kaca waktu yang sudah lama sekali.
Dulu, Pak Troy mungkin adalah salah satu pengagum mereka-para
pemegang kunci lainnya, sehingga menjadikannya seperti kosong dalam menghadapi
apa yang ada didepannya, ia tak mau mengakui, bahkan dengan jari telunjuknya
akan membayangkan lagi apa yang selama
ini ingin dimusnahkan dalam kehidupannya, ia tak akan menangis dikala itu, tak
akan, bahkan jalan lurusnya dulu, lalu melampaui apa yang yang ada didalam
genggaman tangannya, sehingga menjadikannnya penakut atau bisa dikatakan
seorang kalah yang banyak sekali menaikkan dahinya untuk kepentingannya
sendiri, dan juga merupakan salah satu tujuan utama (menurut persepsinya) bahwasanya
dalam hidupnya sendiri membutuhkan waktu yang amat banyak untuk sekian
pengetahuan yang ada, dan mengubah semuanya bahkan yang paling penting
merusakakkan pengetahuan senyata-nyata yang sudah ada, mengubah sedikit demi
sedikit arak-arak yang memelintir jauh keyakinan utamanya.
Sekali lagi, Pak Troy kembali tak menjawab. Roan sebenarnya ingin
melupakan semua itu, untuk itu ia hanya bisa mengernyitkan dahi yang selama ini
masih membuatnya agak takut, bukan, tapi sedikit peduli dengan pak Troy yang
seperti itu, tapi mau diapakan lagi, bahwa ia hanya dianggap seperti anak kecil
yang tak mengenal, waktu-waktu seperti itu. Olehkarenanya ia menampik sedikit
agar melucuti apa yang ada didalam pemikirannya selama ini, maka agaknya ia
sedang kelelahan, untuk itu akan berupaya mendepak atau mengurangi semua yang
merupakan langkah andil dalam memangkur yang ada di dalam.
Pak Troy kemudian menjawab pertanyaan Roan dengan agak gagu,
“Kau mungkin akan berupaya merusakkan rencanaku bukan, tidak, aku akan
mencegah hal itu terjadi sebelum kau mengatakan padaku seperti sekarang ini.”,
kata pak Troy sambil memasangkan salah satu bentuk labu yang berlubang ke jari
kelingkingnya. Sebenarnya ia terlihat gugup, mungkin karena terlalu renta untuk
ukuran seperti dirinya.
“Kau mengatakan itu karena kau justru takut, bukan, atau bahkan kau tak
ingin peduli apa yang telah kau hasilkan nanti. Perangaimu itu akan
mengantarkanmu kedalam lubang terpurukmu sendiri. Kau mungkin kini tak sadar,
tapi nanti, ketika kau mulai gelisah, itulah saat awal mula kau mendapat sebuah
pelajaran. “, kata Roan ingin mengubah alur pembicaraan.
Dan pada akhirnya pertengkaran dingin itu berhenti saja sampai disini,
sehingga menjadikannya sedikit kurang lega, entah itu karena sesuatu yang
seperti berjarak dengan pak Troy atau karena pola pemikirannya yang dianggapnya
sama sekali bukan hal yang bijak. Ia tak senang, tidak, bahkan dari dulu tak
senang. Bukankah ini semua adalah awalnya dalam mencari apa yang paling utama
dicarinya. Ia merasa mempunyai andil yang cukup besar dalam melakukan tanggung
jawab dihidupnya sendiri, dan ia tak akan menyesali semua ini hanya karena ia
terlihat bodoh di depan pak Troy. Untuk menyingkat segala, akhirnya ia
memutuskan beranjak dari gubuk itu, mengambil topi dan kotaknya, tapi meninggalkan teman katupnya yang ia
letakkan tadi di tempat penyimpanan dekat pintu, yang memang tabung berwarna hitam
itu untuk meletakkan banyak coklat payung, maka tuannya akan mengambil dengan
mudah seperti untuk dimakan.
Roan membuka pintu, suara mengiat yang ada berasal dari lantai kayu
membuat pak Troy seperti tak senang, tapi itu dipedulikan, ia akan bergegas
beranjak dari sana. Ia menggunakan waktu banyak untuk meghabiskan semuanya yang
ada atau bahkan menggulung apa saja yang sedang dipikirkan rumit oleh
kepalanya, sekali lagi ia akan menggulung kertas mereka, dan merekatkannya.
Kemudian tak lama dari itu ia sudah menjauhi gubuk, lalu menunjukkan hal
yang sama seperti waktu kemarin. Dipikirannya bahwa pak Troy sama sekali tak
berubah, bahkan ia terus-terusan menggunakan pikiran yang seperti itu untuk
melanjutkan misinya lagi. Sebenarnya Roan hanya tak ingin hal itu mengganggu
kepalanya, belum lagi ia harus memikirkan hidupnya sendiri selama ini.
Dimana ia tinggal berlama-lama didalam panti asuhan yang menutup rapat
hidungnya yang tak akan tahu lagi rasa karena berdenging kepala bila dilakukan
tiba-tiba, lalu seperti terlihat tak bisa direta-reta apa yang akan terjadi
selanjutnya. Tapi ada yang janggal ketika dibenak muncul kepermukaan, maka merupakan
hal yang lumrah jika ia seperti sedikit bergeming sendiri memikirkan ini semua,
karena banyak alasan-alasan kuat untuknya, dibenaknya masih terngiang penjaga
panti, Pak Seus dan para anak buahnya. Ia masih bisa mengingat jelas apa yang
mereka katakan sehingga membuatnya marah ingin rasanya mendobrak dinding yang
sedang mengurung dengan empat tugu yang ada di tiap sudut yang memagari
bangunan akrilik batu yang seperti museum, sepi dan klasik, nyatanya memang tak
berpenghuni, hanya adalah seperti patung anak-anak burung dari tanah liat atau
clay dingin.
Sebagai penurut kaku diam yang menghabiskan waktu mereka untuk bekerja
setiap harinya, yang ketika gerbang dibuka seperti parade berbaris lalu
berpencar mengambil banyak material dari luar untuk membangun kastil tuan
rumahnya, tak lupa kaleng sarden bekas yang dikalungkan ke pinggang, sebagai
bukti nanti target sudah penuh didapat. Orang-orang kota yang melihat menganggap
ini hanyalah dipergunakan untuk alasan jikalau itu memang menggunakan keahlian
mereka, tapi sebenarnya mereka tidak diperlakukan demikian. Dan hal-hal yang
manakala menjadi perompaknya akan dihukum seberat-beratnya, sehingga anak-anak
burung itu akan amat takut untuk membukakan kotak rahasia.
Terkadang Roan hendak menggunakan cara-cara licik, yakni meminta bantuan dari
pak Troy, temannya satu itu. Tapi dalam hati, Roan masih meragukan hal ini
terutama saat Pak Troy hilang kendali atau menjadi lupa dengan segala kunci-kuncinya,
yang membuat nanti akan menjadi malah tambah memusingkan atau bahkan lebih
merusakkan dari ini. Itu sebabnya ia tidak terlalu menyukai jalan pikiran
orang-orang, terkadang mereka yang memiliki banyak umur menganggap diri mereka
lebih tahu mengenai banyak hal. Padahal untuk mendewasakan diri pun mereka masih
tidak tahu caranya, bahkan akhirnya kembali menjadi seperti anak kecil yang
melakukan hal-hal diluar dugaan demi hawa nafsu. Selagi atau sehabis
melakukan itu tidak ada rasa tanggungjawab mengenai hal-hal disekitar yakni dampak
dunia baru yang telah mereka buat.
Ada perbedaan dengan anak yang usianya lebih muda dari mereka, yakni mungkin
tatanan cara. Manusia dengan sifat seperti tadi akan menggunakan cara-cara
licik, sama sekali bukan keluguan. Karena awalnya merasa benar dengan lebih
banyak pengetahuan (menurut mereka) pintar sehingga lebih mudah dalam menuai
banyak hasil lebih baik atau lebih banyak. Mereka membangun itu seperti halnya
membuat permainan catur. Lalu mengapa pada permainan catur adalah licik? Karena
banyak didalamnya melakukan penyamaran dari sekedar taruhan, yakni sebelumnya dengan
melatih banyak cara berperang dengan strategi mengatur pasukan: dusta, sumpah
yang dusta, kezaliman, tindak pidana yang tidak adil, pembicaraan yang tidak
wajib atau perkataan mengada-ngada, lalu didalam para hati menimbulkan
permusuhan juga kebencian. Apalagi itu jika dilakukan taruhan, maka akan
berarti memakan harta seorang yang bukan haknya dengan cara yang tidak benar.
Itu sebabnya ia tak akan
mempercayai Pak Troy atau orang yang lebih tinggi darinya dengan semudah itu,
untuk saat ini. Seperti Pak Troy sendiri, sebenarnya ia adalah seorang pemegang
kunci waktu ilegal dengan atributnya bisa menangguhkan waktu. Ketika ia melakukan hal tersebut, ia akan membuat satu
lingkup waktu ditempat ia berada seketika menjadi diam, orang-orang, angin
bahkan tumbuhan tak bergerak, dan tak akan tahu keberadaan orang yang membuat
perihal itu, lalu orang tadi akan semaunya bisa melakukan apa yang ia buat
didalam sana. Dan selama inilah pak Troy dengan pemegang gerendel kunci lainnya
menggunakan hal ini, ada sebagian untuk tindak kriminal, ada untuk kepentingan
tertentu. Sedangkan Pak Troy melakukannya untuk melakukan perjudian, ya, ia senang
bermain-main dengan banyak dadu, diberbagai tempat. Seperti yang dikatakannya,
ia melakukan itu untuk menolongnya dan teman-temannya yang dianggapnya
tertindas oleh suatu kelompok tertentu. Namun, ada yang terjadi diluar dugaan.
Awalnya itu akan terlihat
brilliant, seperti dilihat Roan pada perkenalan pertama kali dengan pak Troy,
ketika ia menolong mengambil kacamata beliau yang diinjak-injak oleh kerumunan
orang dipasar. Pada saat itulah ia diperlihatkan pula oleh beliau tentang cara
ini dengan memegang lengan kanannya agar lingkar arus ditubuhnya tidak terbawa.
Namun setelah beberapa kali, Roan melihat ada sesuatu yang sebenarnya adalah seperti
tenggelamnya kapal besar. Hal-hal yang dari Tuhan ternyata lebih kuat. Apakah
seorang manusia mengira segala sesuatu didunia ini tidak memiliki konsekuensi?
Mungkin itu yang dipikiran pak Troy, dengan jalan pintas tersebut. Roan melihat
jelas dengan mata kepala sendiri akibat dari hal itu, yang banyak orang lebih menanggungnya,
ada yang bangkrut lalu bunuh diri, terpenggal oleh pedang polisi kota atau kehilangan
keluarganya. Pak Troy sendiri banyak tertimpa malapetaka, itu sebabnya tak
menjadikan berkuasa atau kaya-kaya walaupun sudah berjudi. Awalnya untuk hal
yang mendesak bisa saja Roan langsung kerumah Pak Troy untuk membantunya keluar
dari panti dengan cara ini, lagipula setiap hari kesana hanya untuk menghilangkan
penat, ada beberapa waktu yang bisa dicuri selagi para mata-mata pak Seus yang
mengikuti sekawanannya sedang pesta arak di sebuah bar. Tapi akhirnya ia
mengurungkan niatnya, karena setiap malam mimpi buruk terus-terusan berputar
dikepala lantaran ia membayangkan jelas, bagaimana karena suatu hal kepala-kepala
para anak buah itu tergeletak ditempat yang tak diketahui lalu disantap sejenis burung gagak.
Maka saat ini Roan hanya bisa
seperti memejamkan mata perlahan agar tak terpedaya oleh ajakan itu. Sekarang ini
pun ia masih termenung untuk memikirkan banyak cara, tentu bukan dengan kaleng
sarden tempat menyimpan uang yang sudah dikumpulkan, karena itu akan ditanyakan
oleh pemiliknya. Maka selagi itu kakinya masih tak lelah menapakkan ke
jalanan-jalanan sempit dengan rute aneh, yang tak banyak orang akan
mengetahuinya. Dan, akhirnya didepan ia sudah menemukan tempat tujuannya,
sebuah hamparan luas, ia pun pergi kesebuah pondok dengan petak-petak rapi
disampingnya, yang kebanyakan didalamnya adalah tanaman obat. Selama ini ia bekerja disana sebagai pengurus
halaman itu, menggarap tanah, memberi pupuk, membersihkan juga memanen. Dibalik
tanaman perdu yang lebih tinggi, sang pemilik halaman itu pun sudah menunggunya
lama, sepertinya ia kelelahan lalu memakan buah arbei yang ada dikeranjang
sampingnya. Beliau adalah bibi Ren, memang terlihat sudah renta dengan kulitnya
yang sudah memutih mengelupas, tapi beliau tetap memaksakan diri untuk tetap kuat
menopang badannya, bahkan sering menggarap sendiri halamannya diwaktu terik,
tentunya dengan topi jerami dililit syal putih corak bunga kesayangannya.
“Kau lupa membawakan obat ini
untuk teman tuamu itu.”, kata bibi Ren yang langsung menyapa dengan gigi tambalnya
tertawa sambil menyerahkan sekeranjang tanaman obat.
“Kemarin aku memang langsung buru-buru
karena ada sesuatu yang mendesak.”, kata Roan sopan mengulurkan tangan
menyambut keranjang tadi dengan agak membungkuk. “Ah ini yang kuperlukan, terimakasih
bibi Ren, memang Pak Troy amat membutuhkan ini.”, kata Roan berseri-seri
melihat isi didalam.
“Lain kali aku yang akan
memarahinya kalau dia tidak mau memakan semua ini lagi, jangan dimuntahkan, langsung
diteguk saja seperti meminum teh”, tukas bibi Ren sembari menunjuk-nunjuk
kearah Roan. Sedangkan Roan hanya tertawa, kali ini setuju dengan bibi Ren, pak
Troy memang sesekali harus diberi pelajaran karena keras kepalanya, melalui omelan
sesama orangtua. Ia pun mengangguk seringai saja merespon telunjuk itu.
“Aku akan menanami bibit lagi
sisa kemarin.”, kata Roan buru-buru lalu melepas bawaan dagangannya, kalengnya
dan keranjang tadi. "Lalu aku juga meminta sedikit tanaman lagi", katanya memberi tanda meminta izin.
Bibi Ren tersenyum, "Oh ya, semalam aku pun sudah
merapikan mereka beserta botol-botolnya yang sudah kujemur, kau tinggal menanami
mereka.”, kata Bibi Ren sambil sedikit teriak kepada Roan yang setengah berlalu.
Roan langsung memasuki gubuk, didalam sini banyak sekali pernak pernik
renda dan rajutan-rajutan baju lengan panjang. Roan yakin kalau baju warna hitam dikursi
rotan itu akan menjadi miliknya nanti karena ukuran itu hampir sesuai badannya.
Bibi Ren memang sering membuatkannya baju, terkadang Roan kewalahan jika ditanya
penjaga panti atau temannya, olehnya ia hanya berkelit yakni ada orang baik
dipasar yang memberikannya cuma-cuma. Ia tak mau oranglain tahu mengenai Bibi
Ren apalagi itu jika membahayakan, karena bibi sudah dianggapnya keluarga
sendiri. Dan beliau akan senang dengan hal itu, apalagi karena tak memiliki
anak dari suaminya yang sudah meninggal, olehnya beliau hanya tinggal sendirian
didalam sini.
Kembali memusatkan pada pencariannya tadi, Roan pun akhirnya menemukan
banyak wadah dengan bibit-bibit kecil yang berada dibawah kolong meja hias consult besar
dibawah lukisan seorang tua dengan sweater keabuan sedang membaca buku disamping jendela. Setelah itu ia mengambil bibit sebanyak yang ia bisa
dan membawanya pergi keluar. Melewati beberapa telusuran banyak petak tanaman
bermacam-macam yakni ada banyak perdu dan pohon-pohon sedang, dengan seni rupa masing-masing baik bentuk dan warna lemah ke pekat hingganya mengolah permukaan objek tiga dimensi menjadikannya terkesan. Roan pun
sampai ditempat yang ia tuju. Disini masih ada tanah yang kosong disamping
tanaman thyme. Tanaman alfalfa sebenarnya sudah amat rimbun disana dengan pucuk
ungunya yang khas, sejenis polong-polongan ini berbentuk batang menyelusur tegak atau menjulur memanjang satu tangkainya
keatas dimana penuh dengan umbel bunga-bunga kecil di setiap sisinya, lalu
karena amat banyak terlihat seperti karpet berbulu seorang bangsawan indah yang
menggelar dari kejauhan. Biasanya bibi Ren menggunakan ini untuk dijadikan salad,
teh, terutama obat. Ini memang sangat banyak kegunaan atau seperti halnya makanan jelata, dari akar sampai bunga, semuanya
dapat digunakan manusia biasa bahkan untuk hewan ternak. Dan juga salah satu yang tangguh, karena akarnya dapat mencapai beberapa meter kedalam sehingga dapat menghadapi musim kekeringan yang panjang dan juga tetap hijau pada musim dingin. Dengan usahanya mengikat zat penting hingganya tempat penyimpanan semua bagian banyak senyawa yang berguna.
Itu sebabnya dari seluruh
tanaman bibi Ren tanaman ini yang paling ia sukai. Ia sering berpikir ternyata manusia tak sepandai, yakni Pak Troy, Pak Seus atau dirinya dan lainnya, sebenarnya dengan bekerja keras dengan
hasil upaya sendiri, dan tidak hanya membuang-buang waktu untuk kesenangan
sendiri, serta lebih menahan diri mungkin akan menemukan arti sebenar-benarnya berada disini. Seperti alfalfa dengan setandan rimbun mata anak-anak dari kepala akan mempertimbangkan banyak hal disekitar, bilah-bilah cahaya dari jendela kanan dan kiri meninggalkan anak-anak pendar, perunggu lampu sorot memberikan leluas ke koridor berpagar, dimana tempat prahara yang sekarang didiami dengan salah satu wujud bayangan-bayangan dibelakang seperti sebuah patung kutukan. Ia masih ingat ketika
melihat Pak Seus atau Pak Troy seringkali melamun sendirian, ketika itu ingin
sekali Roan mendekati mereka, atau paling tidak menyapa. Namun pikiran itu
lambat laun menghilang, karena pemikiran orang-orang kerdil dianggap sama seperti
ukurannya. Untuk itu mungkin saat ini Roan akan menangguhkan hal itu dahulu,
suatu hari akan menyampaikannya pada mereka. Sekarang yang diperlukan lebih giat menjalani hidupnya saat ini, dengan orang yang lalu
lalang, mungkin bisa membantu mereka, ada perasaan membendung terharu yang tak bisa dikatakan
ketika melihat hasilnya, itu amat berbeda ketika sebelum ini ia hanya merenung kaku
dilingkungan panti yang menjadikannya budak.
Satu wadah sudah digengam
ditangan kanan Roan, tinggi bibit itu baru mencapai telapak tangannya, ada beberapa
daun yang kelopaknya tersusun tiga. Dengan hati-hati ia menggemburkan sedikit
lahan tanah didepan dengkul lalu menanaminya. Bibit itu berdiri tegak masih
lemas, ada banyak kawannya yang masih lama menunggu antrian. Matahari mungkin
akan banyak menegur Roan, karena mungkin saat ini para anak buah Pak Seus
hampir beranjak dari bar sedangkan Pak Troy sudah selesai di meja bertaruh dengan
banyak kapalan tangan. Olehnya ia sebenarnya harus juga bergegas, tapi ia masih terlihat senang menabur karpet ungunya. Selagi itu ia memetik beberapa tangkai dari pucuk yang sudah berbunga banyak disampingnya, menyelipkan kesisi baju, sepulang ini akan disamarkannya kedalam cangkir teh dua lelaki tua.
seravi


Komentar
Posting Komentar