Alfalfa '1

www.pinterest.com



Ia melakukan suatu seperti kode yakni menggesekkan baut bengkok pada jeruji pintu,  bukan pintu, tapi bisa dikatakan seperti pintu hanya jika seorang menyadarinya, dimana yang disematkan pada semak tinggi yang ada di diujung jalan taman, agak jauh dari reruntuhan perpustakaan tua, tempat itu memang tak banyak orang yang tahu, lagipula jika menikung lagi akan menemukan jalan buntu. Tempat itu layaknya tak ada aura hunian, hanya ditemukan gelondongan kayu yang ribut sendiri atau kotak pos alumunium yang sedang mengetuk-ngetukkan penyanggah kulit karatnya seperti seekor tupai yang menggerek, atau pagar yang ranting-rantingnya patah yang bergerak sehingga menghasilkan bunyi derik seperti ingin mempersilahkan seorang masuk. Maka walaupun banyak orang kota disana yang mengira tidak-tidak, sebenarnya hanya perbuatan benda mati jahil yang sudah lama tidak digunakan. Atau memang sebagian dipenghuni sana memiliki tujuan lain-kita tak tahu. Tapi biarpun demikian tak menghalangi seorang pemuda untuk memasuki area itu yang sepertinya sudah terbiasa menyinggahinya. Ia melangkah maju sambil menundukkan lehernya yang tinggi, dan tanaman rambat lebat dibelakangnya menutupi punggungnya yang hampir saja meliliti karet silang baju yang mengait dari celana cingkrangnya, topi applejack dengan ujungnya katun lidah yang kaku dan badan membulat dikepala yang tertancap beberapa ranting dipisahkannya, suara krasak krusuk dari pohon rendah didekatnya memang akan sedikit menganggu. Ia tetap melangkah masuk. Di pondok itu, adalah langit-langit rendah yang lembab, atau seperti perjalanan menusuri batu andesit basalto hitam, serta kerangkeng berbau tak enak. Mungkin karena karung-karung yang diletakkan begitu saja yang berisi bahan-bahan makanan yang masih bertanah dan juga makanan ternak. Dinding-dindingnya penuh dengan banyak perkakas, ada peta-peta dengan atribut, seperti menunjukkan adalah orang-orang tua dahulu di kota ini, yakni sebagian besar mereka adalah penambang emas. Disisi sana pemilik rumah selalu bergelayutan di sebuah kursi malasnya yang biasa, terbuat dari karet solid yang menggunakan kayu gubal berwarna putih terang, dilapisi dengan kain chenille krem muda dengan bunga kering. Seorang itu mengenakan blouse putih lusuh, terlihat angkuh-memang sifatnya, mengenakannya tidak rapi, tangannya memegangi gerendel kunci yang sudah berkarat, bingkai kacamata bengkoknya akan menjadi ciri khasnya, didalamnya yakni lensa yang seperti spiral kedalam, benar jika itu terlihat seperti orang dari dunia lain. Ya, ia bahkan sering mengatakan kata-kata yang bahkan orang-orang tak akan mengerti, seperti bahasa ekspresi idiomatic dimana itu adalah kegilaan pemikiran, yang keluar saja, bahkan ia sendiri tak akan tahu alurnya, yakni kamus pencacah yang akan menyeretnya kedalam dunianya sendiri, mungkin dikala itu saja, tapi ia masih bisa mengendalikannya, seperti saat ini yang ketika sadar, ia bahkan masih bisa mendongak kearah pemuda ini yang didepannya, saat menumpahkan kopinya yang masih hangat. Lalu menyapa dengan santai,

“Cepat sekali kau Roan? Tidak seperti biasanya, apakah ada sesuatu yang terjadi?, ia masih meniup kopinya yang sudah setengah.

Sedangkan pemuda itu dengan muka setengah ditekuk, seperti menunjukkan bahwa ia ingin mengatur ulang semua waktu, kerja keras yang sia-sia ini, akan menyalakan keinginannya sekali lagi. Namun seperti sekelabat cepat menghampiri sehingga ia hanya memusatkan untuk meletakkan topi di tiang cantelan yang ada di sudut ruangan, meletakkan payung dan kotak bawaannya, sambil menggerutu, bukan mengenai amarah yang dideranya sejak pagi ini, hanya saja ia tidak tahu apakah kecanduan yang menimpanya bermaksud tidak akan sedikit memulangkan seperti pijakan lilin yang hendak melelehkan, mengumbar deru-dera yang ada disempitnya pemikiran. Sepertinya ia tidak akan bisa menyapa benda-benda itu dikepala lagi, hari ini, mungkin besok lusa, membiarkan saja, akhirnya seperti ingin menghitung serbuk kopi yang ditumpahkan oleh orang tua tadi, ia rela bahkan memilah-milah dengan menggunakan kuas. Bukannya tidak tahu untuk apa ia disini, hanya saja jika tidak dapat bergerak akan merambah lagi kepicikan yang dari tadi sudah ingin membeludak. Ia ingin memberi air saat ia sedang ingin permisi untuk keluar, akan mencampurkannya dengan warna yang sedikit memucat. Tapi apakah ia akan berbesar hati jika hal itu berhasil, atau membuatnya lebih pekat lagi, tak mengapa. Ia akan membayar ini semua, semuanya, bahkan jika harus menukarkan dengan hasil yang sedang setengah diusahakannya. Tapi meninggalkan diri seperti itu lagi bukan hal yang brilliant, tidak bertanggungjawab. Walaupun bahkan ia sendiri memaksa mencuatkan lagi mulutnya untuk mengatakan ‘kata-kata itu’, tak akan, untuk apa jika hanya menyusahkan atau merusak beberapa bagian, bukan. Akan ada yang lebih baik, atau kesempatan yang menyentuh sebuah peringatan yang terus mengiang dikepalanya, mengizinkan untuk merombak.

Ia masih melihat kearah kopi yang tumpah, inginlah bertanya untuk apa Pak Troy membuat kopi sepekat itu, apakah ia ingin membuat mengantuk lebih lama untuk malam ini, mungkin sedikit sama dengannya yang masih tengah diambang yang tak dimengerti sedikitnya. Pak Troy duduk didekat jendela lalu memegangi bingkai yang menjadi tumpuan kedua lengannya, sambil memandang kosong kedepan dan masih meminum kopi setengahnya, yang bahkan sudah satu atau dua semut ingin merebut kembali tempat mereka. Sedikit ingin membuyarkan lamunan beliau, ia membuka awal pembicaraan yang aneh.

“Apa kau tahu mengapa burung diatas tak bertengger di pohon-pohon yang ada di halamanmu? Mungkin kau tidak tahu apa karena pohonmu itu memberikan getah yang menyulitkan mereka.”, katanya dengan nada yang menjelimat.

Pak Troy tak menjawab, ia hanya diam saja, kemudian mengetuk jendela yang ada didepannya sebanyak tiga kali dan begitu lagi seperti berima, lalu mengambil sepotong kue yang telah ia dinginkan di didalam kulkas sejak kemarin. Pak Troy senang membuat kue-kue, dengan berbagai bahan aneh yang ia dapatkan dari rempah-rempah desa sebelah yang terkenal dengan serutan-serutan khasnya. Pernah Roan diajak menghampiri ke desa itu mengantarkan untuk mencari serbuk berwarna jingga aneh yang bahkan ia tak tahu itu apa, kata Pak Troy itu sejenis bahan yang membuat menyengat, yang ia ketahui setelahnya bahwa itu dari bahan jamur. Ya, pak Troy menanam jamur yang amat banyak di kebun, bahkan ia tidak tahu lagi jenis jamur itu bisa dikonsumsi ataukah beracun. Disamping area jendela yang tengah dibuka oleh Pak Troy, ada sepetak kebun yang sudah seperti totol-totol hidung yang sedang hidup, atau bulatan cantelan untuk meletakkan mantel atau topinya tadi.

Pak Troy masih sedikit melamun, ia bahkan dengan mulut majunya yang seperti biasa akan membuat seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu. Tak lama kemudian ada yang berjatuhan didapannya, tak terasa hujan mengguyur, kebun dan tentu saja jendela yang ia pegangi bingkainya tadi basah, sisi-sisinya bergetar, dikarenakan bunyi dentuman kuat yang membengit cupingan telinga mereka berdua yang sudah seperti daun orak. Agaknya juga membuyarkan lamunan Pak Troy dikala ia sedang memikirkan sesuatu, ya dipastikan sesuatu yang aneh, apa lagi. Selama ini Pak Troy akan selalu melakukan perjalanan-perjalanan yang menurutnya pintu-pintu aneh adalah tempat kembalinya, atau untuk pintu yang selama ini banyak membantunya, ia selalu mengatakan tentang itu yang sekelumatnya tak tahu kunci apa saja, maka dari itu ia selalu gerendel kunci yang bahkan Roan tidak tahu kunci apa saja itu. Ada sebagian yang diketahuinya, selebihnya…Ah, dipikirannya itu mungkin hanya suatu gubuk atau tempat-tempat yang gemang atau tentang pintu aneh yakni barang yang bulat torak seperti batang kayu misterius, dan kurang diketahui orang.

Roan mengangkat sedikit kakinya dari tumpahan kopi lalu mengambil tempat dudukan yang ada di seberang Pak Troy sambil makan juga cemilan yang ada di piring, piring itu dari porselen bekas, Pak Troy sendiri yang mebuatnya, hanya dengan jari-jarinya ia bahkan menggunakan keahliannya untuk membuat barang pecah belah yang diseluruh lemari hiasnya, di dekat tangga terlebih lagi, banyak sekali keramik yang ia susun rapi diatas, piring-piring ia letakkan saja membukakan muka mereka, agar terlihat lebih jelas ukiran bunga sulur yang sengaja ditematkan di sekitar poros, lalu didalam lemarinya ada seperti kaitan agar bisa membuat nyaman anak-anak cangkir dan teko, maka ibu mereka akan berada dibawah untuk melindungi, kalau-kalau anak-anaknya tidak seimbang, atau bahkan mengurangi  beban pada lemari agar dapat membuat ruang lingkup atau gelung yang sedikit longgar.

Roan lalu mengambil kue yang ada di depannya, memang pada suasana sejuk yang seperti ini akan sangat cocok dengan memasukkan sesuatu ke mulut dengan sunguh-sungguh mencintainya, atau jika tak ingin memakannya sama sekali pun, karena siropnya yang mengental, maksudnya dengan hanya melihatnya saja sudah membuat melumer pula. Tapi akhirnya dicicipinya pula kue tersebut oleh Roan. Baru hendak memasukkan ke dalam mulut saja, wangi rum sudah sangat menyengat mungkin karena warna itu tadi yang benar-benar pekat, lalu ia menggigit satu sisi dimana yang paling renyah adalah kulit tepungnya. Dan ketika Roan hendak menghabiskan bagian terakhirnya, tiba-tiba Pak troy dengan santai akhirnya berkata pula, kali ini dengan nada datar,

“Kau sendiri bahkan tidak tahu mengapa mereka-burung-burung itu menggunakan keahlian yang sudah memakaikan rumah itu sebagai tempat perlindungannya, bahkan itu menjadi puncak misteri yang burung-burung itu diam disana, ya diam saja, ia tak mengatakan padaku mengapa mereka tak pergi berpindah pada musim ini, hanya mengitari atas pohon saja.”, kata pak Troy

"Kau melakukan perjalanan ‘itu’ lagi? Akhir-akhir ini?", tanya Roan mengalihkan pembicaraan dan sedikit mendelik. Ia masih berdebar-debar, padahal sudah berulang-ulang mengetahuinya, mungkin ia akan menunjukkan sesuatu yang belum diketahuinya lagi saat ini, ataukah pada saat-saat yang seperti itu dulu. Ketika ia memasuki salah satu pintu yang ada di salah satu gerendel kunci, mengubah sesuatu yang tak akan diduga sebelumnya. Ia berpikir apakah itu curang, tidak, bahkan sangat curang jika benar-benar didiamkan, untuk pertama kalinya ini sudah diluar batas. Olehnya Roan tak dapat sabar, ia lalu menanyakan lagi berulang.

“Apakah salah satu pintu kau buka lagi? Tidak-tidak, itu tak boleh, sama sekali, kau bahkan sudah mengubahnya amat banyak sebulan lalu, sehingga seperti dimensi yang seperti itu akan membuatmu lupa untuk mengembalikannnya lagi, kau bahkan tidak tahu cara memulangkannya, lalu kau akan mengatakan kunci yang kau maksud sudah tak terpakai disaat itu, atau menjadikan dirimu menjadi seperti pengendali yang sombong, ya, kalau benar seperti itu kau sudah salah!”

Pak Troy terkekeh mendengar kata-kata pemuda itu , kemudian menghapus busa sisa yang ada dimulutnya bekas dari kue tersebut, lalu mengeluarkan kata-kata yang seperti menampar pemuda itu  keras-keras.

“Apa yang bisa dimengerti dengan anak kecil sepertimu, bahkan kau tak akan tahu jikalau aku melakukan sesuatu ini dengan tujuan baik, kau hanya tak tahu saja, tapi itu tak akan membuatmu goyah bukan, ya tak akan, kau hanya masih dengan prinsip-prinsip yang kau pikir itu jujur, bilakah kau tahu manusia itu tidak begitu, ya kita demikian. Lihat saja, aku akan mengumumkannya, walaupun hanya sebentar yang membukakkan sedikit poros jamnya yang agaknya sudah sangat rapuh. Mungkin dentingnya tak akan terdengar lagi sekarang, itu karena kau amat cerewet, kau tahu.”, Pak Troy agak kesal mengatakan itu.

Sedangkan Roan menghentikan tradisi makan yang sebenarnya amat ia sukai, sambil memutar sekali lagi kepala yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu akan dikemanakan pendapatnya yang tadi agar membuat sedikit pak Troy untuk mengulu-ulur kembali niatnya untuk membukakan kunci, ke dalam banyak pintu, yang pintu Roan tak tahu yang mana saja akan dibuka lagi, misterius yang bahkan akan digubah ulang yang ada didalam sana. Ada banyak kunci yang sedang dipegang disana, ada satu gagang yang berbentuk tali yang mengungkai, atasnya berbentuk seperti kepala labu dengan sisi-sisi bengkok yang tidak teralu mencuat, lalu dilihatnya orangtua tadi dengan malas sambil memutar-mutaar gerombolan itu dengan memasukkan jari manis ke lingkar besi yang menjadi induk mereka.

Roan masih tak mengerti jalan pikiran pak Troy hingga saat ini, ia bahkan hanya menggelengkan kepala karena pak Troy yang seperti sedang menggumam sambil memainkan seperti atributnya, layaknya seperti penjaga gerbang yang aneh dengan mata yang sering membelot tidak tahu pusatnya, menggerakkan jemari yang masing-masing tongkat disana hendak ingin melepaskan dari kulit manusia yang pada saat itu, sedangkan orang itu masih memiliki kekuatan lebih untuk menggantungkan kembali gerendel kunci yang masih terlihat lelah karena besinya yang sudah bekarat. Mereka seperti menggerutu karena terus-terusan dipantul-pantulkan kearah jendela bingkai tadi, yang masih saja diguyur oleh air hujan yang tidak tahu mengapa saat itu berhenti seketika, hinggnya menjadikan rerumputan dikebun seperti menghanyutkan manik-manik yang berwarna-warni dengan totolan mereka.

Roan berdehem kaku, lalu mencoba mengingatkan kembali, walaupun ia tahu perbincangan ini sudah tak menyenangkan, mungkin ini sebabnya laki-laki tak saling bicara satu sama lain, dan mereka berkata: ‘kami punya cara sendiri untuk berdebat.’

 “Apakah tidak kau pikir itu akan menyusahkanmu sendiri? Kau bahkan tidak akan mengerti bahwa yang kau lakukan itu adalah salah, sedangkan mereka sendiri akan mengatupkan pintu-pintu yang tidak tahu lagi akan mengantarkan ke tempat yang mana saja, karena sudah kau gubah sedemikian rupa, sehingga menjadikan semuanya akan merusak waktu yang mereka telah pegang sekian lama.”, kata Roan kali ini sedikit tenang, berharap kali ini ada perubahan.

Pak Troy diam kembali. Dalam kehidupannya yang langka ini, “Berpikir adalah mempunyai banyak pilihan, bahkan menapak jauh yang ada di bagian puncak lebih tinggi lagi, keinginan yang melebihi apa yang ada di dalam pikiran atau malah menggubah sebagian dalam adalah memojokkan apa yang ada didalam pikiran, atau setengah dalam kamus yang bahkan tidak akan bisa diterjemahkan.” Menggunakan hal-hal yang lebih dalam penggunaannya atau memusatkan pikiran menjadikan hati adalah hak paling dasar dalam hidup-hidup mereka. Untuk itu apa pun yang dilakukannya akan dipertimbangkannya lagi, bahkan untuk saat ini akan dipergunakan lebih dalam menginjak kembali apa yang mampu menguras, pintu-pintu itu bahkan akan mengatup jika orang-orang tidk akan mempercayainya, tapi akan mengiangkan rasa bosan dalam semuanya, hingganya ia akan menjadikan sebuah antusias yang paling lama dalam kurun yang tak terhitung banyaknya dalam butiran pasir-pasir yang menggenangi apa pun yang ada dalam botol kaca waktu yang sudah lama sekali.

Dulu, Pak Troy mungkin adalah salah satu pengagum mereka-para pemegang kunci lainnya, sehingga menjadikannya seperti kosong dalam menghadapi apa yang ada didepannya, ia tak mau mengakui, bahkan dengan jari telunjuknya akan membayangkan lagi apa yang  selama ini ingin dimusnahkan dalam kehidupannya, ia tak akan menangis dikala itu, tak akan, bahkan jalan lurusnya dulu, lalu melampaui apa yang yang ada didalam genggaman tangannya, sehingga menjadikannnya penakut atau bisa dikatakan seorang kalah yang banyak sekali menaikkan dahinya untuk kepentingannya sendiri, dan juga merupakan salah satu tujuan utama (menurut persepsinya) bahwasanya dalam hidupnya sendiri membutuhkan waktu yang amat banyak untuk sekian pengetahuan yang ada, dan mengubah semuanya bahkan yang paling penting merusakakkan pengetahuan senyata-nyata yang sudah ada, mengubah sedikit demi sedikit arak-arak yang memelintir jauh keyakinan utamanya.

Sekali lagi, Pak Troy kembali tak menjawab. Roan sebenarnya ingin melupakan semua itu, untuk itu ia hanya bisa mengernyitkan dahi yang selama ini masih membuatnya agak takut, bukan, tapi sedikit peduli dengan pak Troy yang seperti itu, tapi mau diapakan lagi, bahwa ia hanya dianggap seperti anak kecil yang tak mengenal, waktu-waktu seperti itu. Olehkarenanya ia menampik sedikit agar melucuti apa yang ada didalam pemikirannya selama ini, maka agaknya ia sedang kelelahan, untuk itu akan berupaya mendepak atau mengurangi semua yang merupakan langkah andil dalam memangkur yang ada di dalam.

Pak Troy kemudian menjawab pertanyaan Roan dengan agak gagu,

“Kau mungkin akan berupaya merusakkan rencanaku bukan, tidak, aku akan mencegah hal itu terjadi sebelum kau mengatakan padaku seperti sekarang ini.”, kata pak Troy sambil memasangkan salah satu bentuk labu yang berlubang ke jari kelingkingnya. Sebenarnya ia terlihat gugup, mungkin karena terlalu renta untuk ukuran seperti dirinya.

“Kau mengatakan itu karena kau justru takut, bukan, atau bahkan kau tak ingin peduli apa yang telah kau hasilkan nanti. Perangaimu itu akan mengantarkanmu kedalam lubang terpurukmu sendiri. Kau mungkin kini tak sadar, tapi nanti, ketika kau mulai gelisah, itulah saat awal mula kau mendapat sebuah pelajaran. “, kata Roan ingin mengubah alur pembicaraan.

Dan pada akhirnya pertengkaran dingin itu berhenti saja sampai disini, sehingga menjadikannya sedikit kurang lega, entah itu karena sesuatu yang seperti berjarak dengan pak Troy atau karena pola pemikirannya yang dianggapnya sama sekali bukan hal yang bijak. Ia tak senang, tidak, bahkan dari dulu tak senang. Bukankah ini semua adalah awalnya dalam mencari apa yang paling utama dicarinya. Ia merasa mempunyai andil yang cukup besar dalam melakukan tanggung jawab dihidupnya sendiri, dan ia tak akan menyesali semua ini hanya karena ia terlihat bodoh di depan pak Troy. Untuk menyingkat segala, akhirnya ia memutuskan beranjak dari gubuk itu, mengambil topi dan kotaknya, tapi meninggalkan teman katupnya yang ia letakkan tadi di tempat penyimpanan dekat pintu, yang memang tabung berwarna hitam itu untuk meletakkan banyak coklat payung, maka tuannya akan mengambil dengan mudah seperti untuk dimakan.

Roan membuka pintu, suara mengiat yang ada berasal dari lantai kayu membuat pak Troy seperti tak senang, tapi itu dipedulikan, ia akan bergegas beranjak dari sana. Ia menggunakan waktu banyak untuk meghabiskan semuanya yang ada atau bahkan menggulung apa saja yang sedang dipikirkan rumit oleh kepalanya, sekali lagi ia akan menggulung kertas mereka, dan merekatkannya. Kemudian tak lama dari itu ia sudah menjauhi gubuk, lalu menunjukkan hal yang sama seperti waktu kemarin. Dipikirannya bahwa pak Troy sama sekali tak berubah, bahkan ia terus-terusan menggunakan pikiran yang seperti itu untuk melanjutkan misinya lagi. Sebenarnya Roan hanya tak ingin hal itu mengganggu kepalanya, belum lagi ia harus memikirkan hidupnya sendiri selama ini.

Dimana ia tinggal berlama-lama didalam panti asuhan yang menutup rapat hidungnya yang tak akan tahu lagi rasa karena berdenging kepala bila dilakukan tiba-tiba, lalu seperti terlihat tak bisa direta-reta apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi ada yang janggal ketika dibenak muncul kepermukaan, maka merupakan hal yang lumrah jika ia seperti sedikit bergeming sendiri memikirkan ini semua, karena banyak alasan-alasan kuat untuknya, dibenaknya masih terngiang penjaga panti, Pak Seus dan para anak buahnya. Ia masih bisa mengingat jelas apa yang mereka katakan sehingga membuatnya marah ingin rasanya mendobrak dinding yang sedang mengurung dengan empat tugu yang ada di tiap sudut yang memagari bangunan akrilik batu yang seperti museum, sepi dan klasik, nyatanya memang tak berpenghuni, hanya adalah seperti patung anak-anak burung dari tanah liat atau clay dingin.

Sebagai penurut kaku diam yang menghabiskan waktu mereka untuk bekerja setiap harinya, yang ketika gerbang dibuka seperti parade berbaris lalu berpencar mengambil banyak material dari luar untuk membangun kastil tuan rumahnya, tak lupa kaleng sarden bekas yang dikalungkan ke pinggang, sebagai bukti nanti target sudah penuh didapat. Orang-orang kota yang melihat menganggap ini hanyalah dipergunakan untuk alasan jikalau itu memang menggunakan keahlian mereka, tapi sebenarnya mereka tidak diperlakukan demikian. Dan hal-hal yang manakala menjadi perompaknya akan dihukum seberat-beratnya, sehingga anak-anak burung itu akan amat takut untuk membukakan kotak rahasia.

Terkadang Roan hendak menggunakan cara-cara licik, yakni meminta bantuan dari pak Troy, temannya satu itu. Tapi dalam hati, Roan masih meragukan hal ini terutama saat Pak Troy hilang kendali atau menjadi lupa dengan segala kunci-kuncinya, yang membuat nanti akan menjadi malah tambah memusingkan atau bahkan lebih merusakkan dari ini. Itu sebabnya ia tidak terlalu menyukai jalan pikiran orang-orang, terkadang mereka yang memiliki banyak umur menganggap diri mereka lebih tahu mengenai banyak hal. Padahal untuk mendewasakan diri pun mereka masih tidak tahu caranya, bahkan akhirnya kembali menjadi seperti anak kecil yang melakukan hal-hal diluar dugaan demi hawa nafsu. Selagi atau sehabis melakukan itu tidak ada rasa tanggungjawab mengenai hal-hal disekitar yakni dampak dunia baru yang telah mereka buat.

Ada perbedaan dengan anak yang usianya lebih muda dari mereka, yakni mungkin tatanan cara. Manusia dengan sifat seperti tadi akan menggunakan cara-cara licik, sama sekali bukan keluguan. Karena awalnya merasa benar dengan lebih banyak pengetahuan (menurut mereka) pintar sehingga lebih mudah dalam menuai banyak hasil lebih baik atau lebih banyak. Mereka membangun itu seperti halnya membuat permainan catur. Lalu mengapa pada permainan catur adalah licik? Karena banyak didalamnya melakukan penyamaran dari sekedar taruhan, yakni sebelumnya dengan melatih banyak cara berperang dengan strategi mengatur pasukan: dusta, sumpah yang dusta, kezaliman, tindak pidana yang tidak adil, pembicaraan yang tidak wajib atau perkataan mengada-ngada, lalu didalam para hati menimbulkan permusuhan juga kebencian. Apalagi itu jika dilakukan taruhan, maka akan berarti memakan harta seorang yang bukan haknya dengan cara yang tidak benar.

                Itu sebabnya ia tak akan mempercayai Pak Troy atau orang yang lebih tinggi darinya dengan semudah itu, untuk saat ini. Seperti Pak Troy sendiri, sebenarnya ia adalah seorang pemegang kunci waktu ilegal dengan atributnya bisa menangguhkan waktu. Ketika ia melakukan hal tersebut, ia akan membuat satu lingkup waktu ditempat ia berada seketika menjadi diam, orang-orang, angin bahkan tumbuhan tak bergerak, dan tak akan tahu keberadaan orang yang membuat perihal itu, lalu orang tadi akan semaunya bisa melakukan apa yang ia buat didalam sana. Dan selama inilah pak Troy dengan pemegang gerendel kunci lainnya menggunakan hal ini, ada sebagian untuk tindak kriminal, ada untuk kepentingan tertentu. Sedangkan Pak Troy melakukannya untuk melakukan perjudian, ya, ia senang bermain-main dengan banyak dadu, diberbagai tempat. Seperti yang dikatakannya, ia melakukan itu untuk menolongnya dan teman-temannya yang dianggapnya tertindas oleh suatu kelompok tertentu. Namun, ada yang terjadi diluar dugaan.

                Awalnya itu akan terlihat brilliant, seperti dilihat Roan pada perkenalan pertama kali dengan pak Troy, ketika ia menolong mengambil kacamata beliau yang diinjak-injak oleh kerumunan orang dipasar. Pada saat itulah ia diperlihatkan pula oleh beliau tentang cara ini dengan memegang lengan kanannya agar lingkar arus ditubuhnya tidak terbawa. Namun setelah beberapa kali, Roan melihat ada sesuatu yang sebenarnya adalah seperti tenggelamnya kapal besar. Hal-hal yang dari Tuhan ternyata lebih kuat. Apakah seorang manusia mengira segala sesuatu didunia ini tidak memiliki konsekuensi? Mungkin itu yang dipikiran pak Troy, dengan jalan pintas tersebut. Roan melihat jelas dengan mata kepala sendiri akibat dari hal itu, yang banyak orang lebih menanggungnya, ada yang bangkrut lalu bunuh diri, terpenggal oleh pedang polisi kota atau kehilangan keluarganya. Pak Troy sendiri banyak tertimpa malapetaka, itu sebabnya tak menjadikan berkuasa atau kaya-kaya walaupun sudah berjudi. Awalnya untuk hal yang mendesak bisa saja Roan langsung kerumah Pak Troy untuk membantunya keluar dari panti dengan cara ini, lagipula setiap hari kesana hanya untuk menghilangkan penat, ada beberapa waktu yang bisa dicuri selagi para mata-mata pak Seus yang mengikuti sekawanannya sedang pesta arak di sebuah bar. Tapi akhirnya ia mengurungkan niatnya, karena setiap malam mimpi buruk terus-terusan berputar dikepala lantaran ia membayangkan jelas, bagaimana karena suatu hal kepala-kepala para anak buah itu tergeletak ditempat yang tak diketahui lalu disantap sejenis burung gagak.

                Maka saat ini Roan hanya bisa seperti memejamkan mata perlahan agar tak terpedaya oleh ajakan itu. Sekarang ini pun ia masih termenung untuk memikirkan banyak cara, tentu bukan dengan kaleng sarden tempat menyimpan uang yang sudah dikumpulkan, karena itu akan ditanyakan oleh pemiliknya. Maka selagi itu kakinya masih tak lelah menapakkan ke jalanan-jalanan sempit dengan rute aneh, yang tak banyak orang akan mengetahuinya. Dan, akhirnya didepan ia sudah menemukan tempat tujuannya, sebuah hamparan luas, ia pun pergi kesebuah pondok dengan petak-petak rapi disampingnya, yang kebanyakan didalamnya adalah tanaman obat.  Selama ini ia bekerja disana sebagai pengurus halaman itu, menggarap tanah, memberi pupuk, membersihkan juga memanen. Dibalik tanaman perdu yang lebih tinggi, sang pemilik halaman itu pun sudah menunggunya lama, sepertinya ia kelelahan lalu memakan buah arbei yang ada dikeranjang sampingnya. Beliau adalah bibi Ren, memang terlihat sudah renta dengan kulitnya yang sudah memutih mengelupas, tapi beliau tetap memaksakan diri untuk tetap kuat menopang badannya, bahkan sering menggarap sendiri halamannya diwaktu terik, tentunya dengan topi jerami dililit syal putih corak bunga kesayangannya.

                “Kau lupa membawakan obat ini untuk teman tuamu itu.”, kata bibi Ren yang langsung menyapa dengan gigi tambalnya tertawa sambil menyerahkan sekeranjang tanaman obat.
                “Kemarin aku memang langsung buru-buru karena ada sesuatu yang mendesak.”, kata Roan sopan mengulurkan tangan menyambut keranjang tadi dengan agak membungkuk. “Ah ini yang kuperlukan, terimakasih bibi Ren, memang Pak Troy amat membutuhkan ini.”, kata Roan berseri-seri melihat isi didalam.
                “Lain kali aku yang akan memarahinya kalau dia tidak mau memakan semua ini lagi, jangan dimuntahkan, langsung diteguk saja seperti meminum teh”, tukas bibi Ren sembari menunjuk-nunjuk kearah Roan. Sedangkan Roan hanya tertawa, kali ini setuju dengan bibi Ren, pak Troy memang sesekali harus diberi pelajaran karena keras kepalanya, melalui omelan sesama orangtua. Ia pun mengangguk seringai saja merespon telunjuk itu.
                “Aku akan menanami bibit lagi sisa kemarin.”, kata Roan buru-buru lalu melepas bawaan dagangannya, kalengnya dan keranjang tadi. "Lalu aku juga meminta sedikit tanaman lagi", katanya memberi tanda meminta izin.
                Bibi Ren tersenyum, "Oh ya, semalam aku pun sudah merapikan mereka beserta botol-botolnya yang sudah kujemur, kau tinggal menanami mereka.”, kata Bibi Ren sambil sedikit teriak kepada Roan yang setengah berlalu.

Roan langsung memasuki gubuk, didalam sini banyak sekali pernak pernik renda dan rajutan-rajutan baju lengan panjang. Roan yakin kalau baju warna hitam dikursi rotan itu akan menjadi miliknya nanti karena ukuran itu hampir sesuai badannya. Bibi Ren memang sering membuatkannya baju, terkadang Roan kewalahan jika ditanya penjaga panti atau temannya, olehnya ia hanya berkelit yakni ada orang baik dipasar yang memberikannya cuma-cuma. Ia tak mau oranglain tahu mengenai Bibi Ren apalagi itu jika membahayakan, karena bibi sudah dianggapnya keluarga sendiri. Dan beliau akan senang dengan hal itu, apalagi karena tak memiliki anak dari suaminya yang sudah meninggal, olehnya beliau hanya tinggal sendirian didalam sini.

Kembali memusatkan pada pencariannya tadi, Roan pun akhirnya menemukan banyak wadah dengan bibit-bibit kecil yang berada dibawah kolong meja hias consult besar dibawah lukisan seorang tua dengan sweater keabuan sedang membaca buku disamping jendela. Setelah itu ia mengambil bibit sebanyak yang ia bisa dan membawanya pergi keluar. Melewati beberapa telusuran banyak petak tanaman bermacam-macam yakni ada banyak perdu dan pohon-pohon sedang, dengan seni rupa masing-masing baik bentuk dan warna lemah ke pekat hingganya mengolah permukaan objek tiga dimensi menjadikannya terkesan. Roan pun sampai ditempat yang ia tuju. Disini masih ada tanah yang kosong disamping tanaman thyme. Tanaman alfalfa sebenarnya sudah amat rimbun disana dengan pucuk ungunya yang khas, sejenis polong-polongan ini berbentuk batang menyelusur tegak atau menjulur memanjang satu tangkainya keatas dimana penuh dengan umbel bunga-bunga kecil di setiap sisinya, lalu karena amat banyak terlihat seperti karpet berbulu seorang bangsawan indah yang menggelar dari kejauhan. Biasanya bibi Ren menggunakan ini untuk dijadikan salad, teh, terutama obat. Ini memang sangat banyak kegunaan atau seperti halnya makanan jelata, dari akar sampai bunga, semuanya dapat digunakan manusia biasa bahkan untuk hewan ternak. Dan juga salah satu yang tangguh, karena akarnya dapat mencapai beberapa meter kedalam sehingga dapat menghadapi musim kekeringan yang panjang dan juga tetap hijau pada musim dingin. Dengan usahanya mengikat zat penting hingganya tempat penyimpanan semua bagian banyak senyawa yang berguna.

                Itu sebabnya dari seluruh tanaman bibi Ren tanaman ini yang paling ia sukai. Ia sering berpikir ternyata manusia tak sepandai, yakni Pak Troy, Pak Seus atau dirinya dan lainnya, sebenarnya dengan bekerja keras dengan hasil upaya sendiri, dan tidak hanya membuang-buang waktu untuk kesenangan sendiri, serta lebih menahan diri mungkin akan menemukan arti sebenar-benarnya berada disini. Seperti alfalfa dengan setandan rimbun mata anak-anak dari kepala akan mempertimbangkan banyak hal disekitar, bilah-bilah cahaya dari jendela kanan dan kiri meninggalkan anak-anak pendar, perunggu lampu sorot memberikan leluas ke koridor berpagar, dimana tempat prahara yang sekarang didiami dengan salah satu wujud bayangan-bayangan dibelakang seperti sebuah patung kutukan. Ia masih ingat ketika melihat Pak Seus atau Pak Troy seringkali melamun sendirian, ketika itu ingin sekali Roan mendekati mereka, atau paling tidak menyapa. Namun pikiran itu lambat laun menghilang, karena pemikiran orang-orang kerdil dianggap sama seperti ukurannya. Untuk itu mungkin saat ini Roan akan menangguhkan hal itu dahulu, suatu hari akan menyampaikannya pada mereka. Sekarang yang diperlukan lebih giat menjalani hidupnya saat ini, dengan orang yang lalu lalang, mungkin bisa membantu mereka, ada perasaan membendung terharu yang tak bisa dikatakan ketika melihat hasilnya, itu amat berbeda ketika sebelum ini ia hanya merenung kaku dilingkungan panti yang menjadikannya budak.

                Satu wadah sudah digengam ditangan kanan Roan, tinggi bibit itu baru mencapai telapak tangannya, ada beberapa daun yang kelopaknya tersusun tiga. Dengan hati-hati ia menggemburkan sedikit lahan tanah didepan dengkul lalu menanaminya. Bibit itu berdiri tegak masih lemas, ada banyak kawannya yang masih lama menunggu antrian. Matahari mungkin akan banyak menegur Roan, karena mungkin saat ini para anak buah Pak Seus hampir beranjak dari bar sedangkan Pak Troy sudah selesai di meja bertaruh dengan banyak kapalan tangan. Olehnya ia sebenarnya harus juga bergegas, tapi ia masih terlihat senang menabur karpet ungunya. Selagi itu ia memetik beberapa tangkai dari pucuk yang sudah berbunga banyak disampingnya, menyelipkan kesisi baju, sepulang ini akan disamarkannya kedalam cangkir teh dua lelaki tua.



seravi


Komentar

Postingan Populer