Crockery Glass



www.123RF.com



Suara teko mendering, gemerincing lonceng mengantarkan ke tempat yang berbeda, kereta yang dari periuk kaca tiba di sebuah bangsal dipandu merentas dataran, ada suara latar yang menyerahkan bukti nyata dalam sebuah perkara yang peluputan, lalu kendaraan besi tadi pun pergi hilang tak tampak lagi ekornya. Kemudian seorang benar-benar mencairkan bandul lilinnya untuk kembali melangkah ditempat itu, tak biasanya, kali ini menjajaki tanah lain ini lebih berhati-hati untuk mendapati ide akhir, tapi mengapa akhirnya nampak seperti kue peruncit yang tak akan disiarkan esok hari atau selamanya, “ah aku ini hanya manusia sebelum sarapan”, katanya- yang dikatakan hendak melakukan beberapa sasaran tak masuk akal namun menunjukkan pengimpal yang sebenarnya bersembunyi pada kubah, jika benar membiarkan, menjadi tahu ini bukanlah suatu kebetulan dan mungkin juga tak bisa menjelaskan kepada yang lain mengenai huraian “siapa diriku sebenarnya” . Maka amat salah, jika menganggap hampa pada mimpi itu benar tidak nyata, rasa-rasanya mengisak sambil memakan camilan punggung tanaman aneh, atau memasuki gelembung yang mengedap. 

‘Diriku siapa?’ Lebah yang ahli membuat terperinci membingitkan telinga mungkin lebih pintar. Karena pemikiran tua ini saja yang tak tahu harus diletakkan di cermin yang mana.  Ada ribuan yang ada disini, pada lemari antik dimana didalamnya tersusun rapi anak-anak yang baru tumbuh, pada meja makan dengan atributnya, pada lantai yang banyak penduduk kecilnya, dan pada langit-langit dengan kristal lampu bertaburan. Layaknya menghitung mereka seperti meronce bunga diatas kepala untuk menjadikan teman didalam rumahnya. Sebelum yang ditunggu benar-benar datang, akan bekerjasama untuk memperbaiki ini semua, pada loteng yang mulai kemeretak lapisan keramik, namun tak jadi masalah, waktu masih ada untuk beberapa anggukan dari jam berbentuk rumah dengan jendela buka-tutup. Ia mungkin tak sama seperti mereka yang lebih pandai memperbaiki diri sendiri, ternyata masih banyak yang harus disiapkan.

Ia berbicara dengan teman-temannya, berbicara, dan berbicara. Kemudian hening, bersama-sama berpikir mungkinkah kearifan tidak tahu pencapaian ke jalan rumahnya, ataukah sudah tersesat dimakan oleh waktu. Hal yang sulit ini terus-terusan akan mengikuti dari belakang perjalanan diwaktu tidur dan lainnya, karena didalamnya melibatkan dasar kelayakan, logika dan rasional, serta menimbang emosional si pelaku itu sendiri. Sebaiknya tak mengajukan keluhan, bertambah rumit lagi jika membandingkan ke cermin yang mana. Kemudian berpikir dan berpikir, apakah dengan menimbang akan mengarah akhirnya pada kebutuhan atau hawa nafsu-maka itu tidak cukup pula dijadikan pedoman. Karena didunia ini ada yang namanya 'intisari sebuah buku', 'orang baik-baik', 'syariat palu-memalu', atau lainnya yang dianalogikan sebagai hakekat. Olehnya hati nurani sebaiknya pandai-pandailah menggunakan, ingatlah bahwa "keluguannya adalah martil untuk diri sendiri, sedikit demi sedikit tenaganya bisa memperbaiki suatu hal, tapi diluar dugaan ada tumbukannya tak sadar merupakan sebuah gandin besar."     

Kali ini memerankan si bodoh. Karena mungkin dikatakan agak berlebihan menggambarkan hidup nyata ke dalam tangan. Tapi selama itu diperlukan, tak mengapa, perlu hal yang bisa diandalakan. Itu benar sekali, dalam waktu beberapa detik bisa untuk menempatkan peran. Melayangkan pendapat yang seharusnya sudah menggulingkan beberapa bagian, dan masih bersikeras. Andai benar-benar didapatkan, suatu hari akan sadar, sebenarnya bukanlah seorang pelayan, bukan pula raja.

Didalam dunia yang memainkan banyak hal ini, apakah akan termasuk tokoh yang juga penting. Tapi mungkin belum diketahui, karena jika disematkan pikiran masih berada di jalanan sempit, yang lampu-lampu penerangnya akan dikerubungi oleh banyak semut terbang. Banyak hal yang bisa dilakukan daripada menjadi pemecah misteri gaib, bukan?.  Karena mengambil andil dalam hal itu layaknya separuh sudah diketahui, dan hanya saja kepala terlalu angkuh tidak mengakui. "Jika hanya mencari paham yang dijadikan bekal mendukung benteng saja, maka sebenarnya tidak berniat mencari kebenaran, tapi perlindungan."

Pekerjaan itu layaknya hanya membuang-buang waktu, seperti membuat sebuah kelompok-pencari tahu (yang diluar akal). Orang-orang menyukai misteri yang mereka realisasikan dari buku berlindung tadi, tapi percayalah sungguh suatu hari hal itu membuat akan sangat membosankan. Bukankah membaca bukunya saja sudah dapat memecahkan misteri itu sendiri-karena ada kejanggalan. Tapi dengan demikian seperti menggunakan tenaga yang tidak perlu. Ia masih ingat ketika ketua kelompok menyuruhnya menjadi salah satu pemegang kunci gedung kosong pada misteri sebuah emas, bisa dibayangkan jika seorang dirinya menjadi salah satu pemeran. Sungguh, itu akan menjadi cerita seperti mati suri, seperti merasa berada di lorong gelap yang terdapat cahaya aneh ujungnya, didalamnya menjadi ambigu menganggap apakah telah lama mati. Tidak akan menggambarkan cerita yang baik. Bagaimana mungkin, bisa dibayangkan seorang kebingungan dengan wajah setengah tidur melakukan trik-trik disana, seperti adegan tokoh utama yang gemilang tapi akan banyak menjatuhkan diri karena akar-akar pohon di hutan terlarang, karena sungguh ceroboh melangkahkan kaki dengan menyeret jubah yang dikenakan. Dan percobaan pertama pun, akhirnya ia terdiam sendiri. Sungguh menyedihkan, salah satu temannya sambil tersenyum kecil mengatakan, “Kau ini, memang tak bisa menikmati hal indah dalam hidupmu, ya.” 

Sebenarnya seorang akan tahu, mereka hanya ingin memperlihatkan banyak sudut pandang di dunia ini, tapi kenyataannya tidak seperti fiksi yang menghibur, akan lebih mengaduk kisah-kisah literal dan konkrit, penuh dengan metafora, alegori, dan pemaknaan abstrak dalam kehidupan secara luas. Didalamnya menuai segala percobaan, dengan pemikiran handal yang ada garis kecocokan pada keinginan, yakni kedudukan, uang, kekuasaan atau hal seperti itu menganggap baru bisa diperjelas. Jika itu benar, mengapa dalam hati sendiri sebenarnya bergetar, tahulah karena itu tidak akan pernah menjelaskan jati dirinya.

Orang yang mempunyai sebuah nama sebenarnya adalah hal yang unik, sebelum itu akan bisa bersenda gurau dengan hati lapang, hati yang bersih-bukan berarti pemikiran dangkal. Lalu yang diprioritaskan adalah yang utama. Tapi ketika kesenjangan terlihat, sayang sekali keunikan tadi hanya menjadi bahasa tabu. Tubuh yang tadinya diam bergejolak hingga kapalan-kapalan tangan, lalu seperti mengeluarkan pelatuk hingga tercekat kerongkongan-kerongkongan. Tapi setelah itu berupaya untuk menampik jika kembali diserang. Nama yang tadi berganti baru, bukan lagi yang hati lapang, tapi ‘menjarah’, dan tak sadar akan mengakibatkan kehancuran. Ada keinginan untuk mengambil segala sesuatu untuk membentengi. Ketika tradisi ini sudah menjadi fenomena biasa, hingga tiap individu bergumam didaerah  masing-masing.

Padahal jika merujuk kembali ke tempat semula, semua berasal dari nama-nama yang dari periuk kaca, tiapnya mengemban tugas-tugas utama. Namun sepertinya dunia itu akan menjadi mimpi orang-orang  ‘manusia sebelum sarapan.'                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          seravi

Komentar

Postingan Populer