Crockery Glass
‘Diriku siapa?’ Lebah yang ahli
membuat terperinci membingitkan telinga mungkin lebih pintar. Karena pemikiran tua ini saja yang tak tahu harus diletakkan di cermin yang mana. Ada ribuan yang ada disini, pada lemari antik
dimana didalamnya tersusun rapi anak-anak yang baru tumbuh, pada meja makan
dengan atributnya, pada lantai yang banyak penduduk kecilnya, dan pada
langit-langit dengan kristal lampu bertaburan. Layaknya menghitung mereka
seperti meronce bunga diatas kepala untuk menjadikan teman didalam rumahnya. Sebelum
yang ditunggu benar-benar datang, akan bekerjasama untuk memperbaiki ini semua,
pada loteng yang mulai kemeretak lapisan keramik, namun tak jadi masalah, waktu
masih ada untuk beberapa anggukan dari jam berbentuk rumah dengan jendela
buka-tutup. Ia mungkin tak sama seperti mereka yang lebih pandai memperbaiki
diri sendiri, ternyata masih banyak yang harus disiapkan.
Ia berbicara dengan teman-temannya, berbicara, dan berbicara. Kemudian hening, bersama-sama berpikir mungkinkah kearifan tidak tahu pencapaian ke jalan rumahnya, ataukah sudah tersesat dimakan oleh waktu. Hal yang sulit ini terus-terusan akan mengikuti dari belakang perjalanan diwaktu tidur dan lainnya, karena didalamnya melibatkan dasar kelayakan, logika dan rasional, serta menimbang emosional si pelaku itu sendiri. Sebaiknya tak mengajukan keluhan, bertambah rumit lagi jika membandingkan ke cermin yang mana. Kemudian berpikir dan berpikir, apakah dengan menimbang akan mengarah akhirnya pada kebutuhan atau hawa nafsu-maka itu tidak cukup pula dijadikan pedoman. Karena didunia ini ada yang namanya 'intisari sebuah buku', 'orang baik-baik', 'syariat palu-memalu', atau lainnya yang dianalogikan sebagai hakekat. Olehnya hati nurani sebaiknya pandai-pandailah menggunakan, ingatlah bahwa "keluguannya adalah martil untuk diri sendiri, sedikit demi sedikit tenaganya bisa memperbaiki suatu hal, tapi diluar dugaan ada tumbukannya tak sadar merupakan sebuah gandin besar."
Kali ini memerankan si bodoh. Karena mungkin dikatakan agak berlebihan menggambarkan hidup nyata ke dalam tangan. Tapi selama itu diperlukan, tak mengapa, perlu hal yang bisa diandalakan. Itu benar sekali, dalam waktu beberapa detik bisa untuk menempatkan peran. Melayangkan pendapat yang seharusnya sudah menggulingkan beberapa bagian, dan masih bersikeras. Andai benar-benar didapatkan, suatu hari akan sadar, sebenarnya bukanlah seorang pelayan, bukan pula raja.
Ia berbicara dengan teman-temannya, berbicara, dan berbicara. Kemudian hening, bersama-sama berpikir mungkinkah kearifan tidak tahu pencapaian ke jalan rumahnya, ataukah sudah tersesat dimakan oleh waktu. Hal yang sulit ini terus-terusan akan mengikuti dari belakang perjalanan diwaktu tidur dan lainnya, karena didalamnya melibatkan dasar kelayakan, logika dan rasional, serta menimbang emosional si pelaku itu sendiri. Sebaiknya tak mengajukan keluhan, bertambah rumit lagi jika membandingkan ke cermin yang mana. Kemudian berpikir dan berpikir, apakah dengan menimbang akan mengarah akhirnya pada kebutuhan atau hawa nafsu-maka itu tidak cukup pula dijadikan pedoman. Karena didunia ini ada yang namanya 'intisari sebuah buku', 'orang baik-baik', 'syariat palu-memalu', atau lainnya yang dianalogikan sebagai hakekat. Olehnya hati nurani sebaiknya pandai-pandailah menggunakan, ingatlah bahwa "keluguannya adalah martil untuk diri sendiri, sedikit demi sedikit tenaganya bisa memperbaiki suatu hal, tapi diluar dugaan ada tumbukannya tak sadar merupakan sebuah gandin besar."
Kali ini memerankan si bodoh. Karena mungkin dikatakan agak berlebihan menggambarkan hidup nyata ke dalam tangan. Tapi selama itu diperlukan, tak mengapa, perlu hal yang bisa diandalakan. Itu benar sekali, dalam waktu beberapa detik bisa untuk menempatkan peran. Melayangkan pendapat yang seharusnya sudah menggulingkan beberapa bagian, dan masih bersikeras. Andai benar-benar didapatkan, suatu hari akan sadar, sebenarnya bukanlah seorang pelayan, bukan pula raja.
Didalam dunia yang memainkan banyak
hal ini, apakah akan termasuk tokoh yang juga penting. Tapi mungkin belum
diketahui, karena jika disematkan pikiran masih berada di jalanan sempit, yang
lampu-lampu penerangnya akan dikerubungi oleh banyak semut terbang. Banyak hal
yang bisa dilakukan daripada menjadi pemecah misteri gaib, bukan?. Karena mengambil andil dalam hal itu layaknya separuh sudah diketahui, dan hanya saja kepala terlalu angkuh tidak mengakui. "Jika hanya mencari paham yang dijadikan bekal mendukung benteng saja, maka sebenarnya tidak berniat mencari kebenaran, tapi perlindungan."
Pekerjaan itu layaknya hanya membuang-buang
waktu, seperti membuat sebuah kelompok-pencari tahu (yang diluar akal). Orang-orang menyukai
misteri yang mereka realisasikan dari buku berlindung tadi, tapi percayalah sungguh suatu hari hal itu membuat akan
sangat membosankan. Bukankah membaca bukunya saja sudah dapat memecahkan
misteri itu sendiri-karena ada kejanggalan. Tapi dengan demikian seperti menggunakan tenaga yang tidak
perlu. Ia masih ingat ketika ketua kelompok menyuruhnya menjadi salah satu
pemegang kunci gedung kosong pada misteri sebuah emas, bisa dibayangkan jika
seorang dirinya menjadi salah satu pemeran. Sungguh, itu akan menjadi cerita
seperti mati suri, seperti
merasa berada di lorong gelap yang terdapat cahaya aneh ujungnya, didalamnya menjadi ambigu menganggap apakah telah lama mati. Tidak akan
menggambarkan cerita yang baik. Bagaimana mungkin, bisa dibayangkan seorang kebingungan dengan wajah setengah tidur melakukan trik-trik disana, seperti adegan tokoh
utama yang gemilang tapi akan banyak menjatuhkan diri karena akar-akar pohon di
hutan terlarang, karena sungguh ceroboh melangkahkan kaki dengan menyeret jubah yang dikenakan. Dan percobaan pertama pun, akhirnya ia terdiam sendiri. Sungguh
menyedihkan, salah satu temannya sambil tersenyum kecil mengatakan, “Kau ini,
memang tak bisa menikmati hal indah dalam hidupmu, ya.”
Sebenarnya seorang akan tahu,
mereka hanya ingin memperlihatkan banyak sudut pandang di dunia ini, tapi kenyataannya tidak seperti fiksi yang menghibur, akan lebih mengaduk kisah-kisah
literal dan konkrit, penuh dengan metafora,
alegori, dan pemaknaan abstrak dalam kehidupan secara luas. Didalamnya menuai segala percobaan, dengan pemikiran
handal yang ada garis kecocokan pada keinginan, yakni kedudukan, uang, kekuasaan atau hal seperti itu menganggap baru bisa diperjelas. Jika itu
benar, mengapa dalam hati sendiri sebenarnya bergetar, tahulah karena itu tidak
akan pernah menjelaskan jati dirinya.
Orang yang mempunyai sebuah nama sebenarnya adalah hal yang unik, sebelum itu akan bisa bersenda gurau dengan hati lapang,
hati yang bersih-bukan berarti pemikiran dangkal. Lalu yang diprioritaskan
adalah yang utama. Tapi ketika
kesenjangan terlihat, sayang sekali keunikan tadi hanya menjadi bahasa tabu.
Tubuh yang tadinya diam bergejolak hingga kapalan-kapalan tangan, lalu seperti
mengeluarkan pelatuk hingga tercekat kerongkongan-kerongkongan. Tapi setelah
itu berupaya untuk menampik jika kembali diserang. Nama yang tadi berganti
baru, bukan lagi yang hati lapang, tapi ‘menjarah’, dan tak sadar akan mengakibatkan kehancuran. Ada keinginan untuk mengambil
segala sesuatu untuk membentengi. Ketika tradisi ini sudah menjadi fenomena biasa,
hingga tiap individu bergumam didaerah masing-masing.
Padahal jika merujuk kembali ke tempat semula, semua berasal dari nama-nama
yang dari periuk kaca, tiapnya mengemban tugas-tugas utama. Namun sepertinya
dunia itu akan menjadi mimpi orang-orang ‘manusia sebelum sarapan.' seravi


Komentar
Posting Komentar