Argent





guttenberg.readingroo.ms







Akan terasa gelap, menjadikan semua dimiliki seperti ingin melakukan suatu yang benar-benar damai, jika sampai sekarang seorang didalamnya tak pernah tahu apa itu yang hakiki, lalu seperti bongkahan es air tawar yang telah terpecah dari gletser kemudian mengambang di perairan. Menjadi rumit bukan? Tadinya hanya menyeretkan langkah, tumit mata kail ingin menaklukkan, dan lama kelamaan akan terjerumus sendiri. Karena secara tak sadar akan ada sedikit demi sedikit sebuah yang batil, memelitur tepung darah. Jika seorang tak tahu apa itu, bahkan hanya akan ada persepsi tapi tak bisa dirasakan, hanya menjadikan bayangan, dengan berdusta mengatasnamakan dia yang tak lagi berkicau murainya. Jika, bersih keras ingin mengendalikan air, bersegeralah alam membuat retak, karena kalimat itu bukanlah hal-hal yang kokoh, bahkan jika ada seorang yang ingin menumpahkan bahu-bahu moeraki kesana, berharap hakim yang adil. Itu sebabnya menuangkan wajah, alangkah sebuah kuasa yang dingin bukan, tapi sebenarnya adalah selembar luas es yang akan mengapung berpura-pura mati di sepanjang sisi-sisinya sepandai tumit tadi.  

Ada seeokor kijang tembu, kehitam-hitaman warna bulunya, dan bercabang tiga tanduknya. Ia akan pergi ke sebuah tatanan zalim yang ada di hutan. Satu tanduknya seolah mengatakan, “Kau harus  menjadi salah satu pejabat, agar bisa melakukan perubahan.” Satu tanduk lagi akan berkata, “Terjun maka akan ada disuatu hari kau seolah bukan lagi sebagai pihak Tuhan, tapi jika tidak terjun ada menjadi golongan yang menghalalkan aturan disana.” Dan yang terakhir berkata, “Kau tidak sebagai kaki tangan mereka, tapi tidak menghalalkan aturan disana.” Maka apakah seorang bisa melihat mana saja kuasa yang dingin? Seekor tadi akhirnya memilih yang ketiga, mungkin dianggap seperti sebuah recup yang tudungnya mengatup , tapi siap-siaplah makhluk hutan bersamanya membuka gudang, ia benar-benar tahu apa yang harus diserukan. Suatu ketika jika dalam perjanjian kedua belah pihak pada masa itu membuat pergejolakan, ia akan lebih menyerukan keyakinan tadi, mungkin ada hal-hal disana yang merujuk bahwa yang akan menjadi mangsa empuk adalah ia sendiri, karena pemikiran lain mengatakan itu adalah yang lemah. 

Sebenarnya tidak, apakah seorang mengira segala hal itu diam? Lihatlah sebuah menara besi yang mengerucut kelangit, dari jauh itu akan tampak berdiri tegak dengan kokoh kaki-kakinya, tapi bila sebuah berada diatas sana, ia akan merasakan bahwa alam tidak menerima, menara berguncang. Ataukah kalau saja memperhatikan area disekitarnya, burung-burung yang berterbangan di samping sebuah tadi, mungkin dari bawah pohon ia hanya menganggap udara layaknya adagio yang merambat, hingga kantung-kantung hawa ingin menyimpan udara disana agar merasakan tantangan. Tapi siapa mengira udara diatas ternyata bergerak kuat, olehnya ia diberikan sepasang mata berikut selaput khusus, karena ketika ia terbang mengepakkan sayap dengan kecepatan persekiannya, sebutir debu dari angin diatas akan bergerak ke arahnya juga persekiannya, bila ia tak memiliki perisai itu, bisa jadi ia akan mengalami kebutaan. Kesemuanya itu adalah dipertunjukkan oleh Tuhan, bagaimana permainan-permainan didalam sini. 

Andai, seorang menyerukan dan melakukan hal yang seharusnya benar, meninggalkan sesuatu yang jika tidak seharusnya dibenarkan, semua hal layaknya juga bergerak, diganti dengan tatanan yang lebih baik. Bagaimanakah wahai, dengan pemikiran hidraulik, layaknya tidak terasa, akan mengemudikannya. Namun, tak banyak orang yang akan percaya dengan keyakinan itu, karena muncul ketakutan seperti proyeksi skenario itu benar-benar ada, yakni sistem oligarkis anggun, lalu akan sulit untuk menguraikan apa-apa, hingga diterima apa pun itu yang batil, lalu di suatu masa muncullah sang penyeru-penyeru, namun juga tak sadar berkecimpung dengan lingkar-lingkar disana mau tak mau harus ikut serta, karena sebuah kepentingan akhirnya mentolerir, sulit keluar dari sana, hingga tergoda.

Apakah keadilan sudah pada seperti zaman incunabula, masing-masing mengembangkan ilmu pengetahuan, muncul buku-buku-dengan ilustrasi yang sangat detail menggunakan teknik cetak Kayu (woodblock), menunjukkan hal tadi suatu hari akan dijadikan gagasan pembaharuan yang hanya dengan sedetik mengubah wajah. Maka sebenarnya akan banyak ditemukan yang berkata bukan berdasar landasan ilmu  dan berbuat bukan berdasar landasan ilmu.  Jikapun ada sebuah langit, ia hanya bisa mempersaksikan siapa yang berbuat baik diantara mereka sebagai orang berbuat baik dan siapa yang berbuat buruk diantara mereka sebagai orang yang berbuat buruk. 

Seorang, mungkin ada rasa putus asa hidup pada zaman itu, seperti halnya jatuh pada lubang tak berdasar hingga tak bisa lagi melihat cahaya pada diri. Tapi itu sudah salah bila menganggap segala sesuatu tak ada kesudahan. Ketika kita melihat hujan deras yang tidak menyenangkan, sebenarnya ada rahasia. Pada saat di subuh hari yang awan masih agak gelap, dan orang-orang baru memulihkan diri yang dibangunkan dari pintu alam bawah sadar, akan melihat, sisa hujan semalam. Embun mulai bertaburan pada dedaunan, sebenarnya hujan tadi berbentuk mutiara-mutiara, tapi karena kita hanya merasa air tumpahan dari kaldron yang besar, kita tidak bisa melihat tiap cahaya butirnya. Atau seorang mengira bahwa prajurit Tuhan yang mati tanpa nama batu nisannya atau tak ada jasadnya karena dibakar hidup-hidup-itu ada? Itu pun sama hanya tak terlihat kasat mata, sebenarnya dirinya sudah diukir pada masa lain yang teramat jauh. Dan, didalam dirinya disana mempunyai hal yang kuat, layaknya bilah berpendar yang sudah ditempakan. 

Dahulu, seorang satria tak akan melepaskan pedang dari tanganya. Padahal mungkin bisa ia menggunakan senjata lain, dengan itu ada perasaan muncul untuk bisa menaklukan semuanya, karena bentuk-bentuk alat seperti membuat mudah melucuti senjata lawan dari jarak jauh, atau dengan hitungan waktu singkat bisa menggarap banyak benteng musuh. Tapi ia tetap menolak. Maka ada yang akan menanyakan mengapa demikian. Sebenarnya jika seorang benar-benar tahu arti seni itu, akan mengerti bagaimana perasaannya. Bahwasanya ia meletakkan jiwa kedalam pedangnya, dengan begitu sebenarnya lebih ahli jika ingin menaklukan. Maka seorang yang sudah menguasai hal ini, sudah menguasai cara menggunakan senjata-senjata lainnya.    

Seorang pemuda sahaja sedang memikul bawaan, melewati jembatan didekat telusuran tempat ia tinggal,  sambil menapakkan kaki perlahan, meruntuhkan jelaga dari asap tubuh. Hari sudah larut malam, tapi entah mengapa ada yang tertahan disana, lagipula baginya lampu-lampu kuno jalan masih berdiri sebagai tuan-tuan kanal. Olehnya tak terasa bersama mereka lalu termenung menatap aliran air  yang tak bertanya, ia sempat berpikir memunculkan seberinda bangsawan disana, namun memungut kabar burung merpati dan menebarnya di langit-langit airnya. Ia teringat cerita mengenai seekor kijang tembu, selain memiliki tiga tanduknya, benda itu terbuat dari perak, seorang akan tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi. Bahwa memiliki perak adalah benar logam mulia serbaguna, namun amat disayangkan, cukup rapuh karena begitu halus dan rawan. Mungkin ada seperti mengelupas kulit-kulitnya hingga usang, tapi tak ada alat canggih pun sebenarnya bisa melindunginya, seperti menggunakan sedikit air garam atau zaitun dari alam. Namun sebagian kijang-kijang yang berlarian mungkin lupa untuk menjaga, terarah hamparan padang rumput yang dipenuhi oleh perdu-perdu dan akan ada yang diselingi oleh beberapa jenis pepohon yang tumbuh menyebar, seperti akasia. Dan pada akhirnya masing-masing tentu menyetujui tukar guling tanah, kemudian berdentang-dentang bunga lonceng hingga berjela-jela. Andai, sebelum itu bagi yang terlalu penat akan menjatuhkan selimut, mengikuti intuisi perlahan-lahan hingga cashmere hitam darisana seperti menggerai lagi agar menyembunyikan dalam-dalam. Hanya ada sedikit yang memasuki jendela-menyadari satu tempat, dan akan sedikit mengganggu, mencatut-catut tangan seorang anak didepannya, seperti ingin mengambil perlindungan. Anak itu hanya tersenyum melihatnya, ia pun seperti biasa menutup jendela yang masih menghembuskan air hujan yang sejak tadi terus menggelindingkan bulir-bulirnya pada kain kanvas yang diatas sebuah spanram, lalu menjadikannya seperti lukisan sebuah pengangkut blok es dengan jejak-jejak kereta luncurnya.

Pemuda tadi tersadar dari lamunan, mengarahkan salah satu sisi kepala pada tuan-tuan kanal yang masih menerangi, walaupun bisa berlama bersama tapi sudah saatnya untuk pulang. Ia pun lalu membalikkan badan dari pegangan jembatan, namun karena kurang seimbang mungkin seperti tersandung sesuatu, “ah, ini hanya tali sepatuku saja.”


seravi

Komentar

Postingan Populer