Argent
Ada seeokor kijang tembu, kehitam-hitaman warna bulunya, dan
bercabang tiga tanduknya. Ia akan pergi ke sebuah tatanan zalim yang ada di
hutan. Satu tanduknya seolah mengatakan, “Kau harus menjadi salah satu pejabat, agar bisa
melakukan perubahan.” Satu tanduk lagi akan berkata, “Terjun maka akan ada disuatu
hari kau seolah bukan lagi sebagai pihak Tuhan, tapi jika tidak terjun ada menjadi golongan yang menghalalkan aturan disana.” Dan yang terakhir berkata, “Kau tidak
sebagai kaki tangan mereka, tapi tidak menghalalkan aturan disana.” Maka apakah
seorang bisa melihat mana saja kuasa yang dingin? Seekor tadi akhirnya memilih yang
ketiga, mungkin dianggap seperti sebuah recup yang tudungnya mengatup , tapi
siap-siaplah makhluk hutan bersamanya membuka gudang, ia benar-benar tahu apa
yang harus diserukan. Suatu ketika jika dalam perjanjian kedua belah pihak pada masa itu membuat
pergejolakan, ia akan lebih menyerukan keyakinan tadi, mungkin ada hal-hal disana
yang merujuk bahwa yang akan menjadi mangsa empuk adalah ia sendiri, karena pemikiran
lain mengatakan itu adalah yang lemah.
Sebenarnya tidak, apakah seorang mengira segala hal itu diam?
Lihatlah sebuah menara besi yang mengerucut kelangit, dari jauh itu akan tampak
berdiri tegak dengan kokoh kaki-kakinya, tapi bila sebuah berada diatas sana,
ia akan merasakan bahwa alam tidak menerima, menara berguncang. Ataukah kalau
saja memperhatikan area disekitarnya, burung-burung yang berterbangan di
samping sebuah tadi, mungkin dari bawah pohon ia hanya menganggap udara
layaknya adagio yang merambat, hingga
kantung-kantung hawa ingin menyimpan udara disana agar merasakan tantangan.
Tapi siapa mengira udara diatas ternyata bergerak kuat, olehnya ia diberikan
sepasang mata berikut selaput khusus, karena ketika ia terbang mengepakkan
sayap dengan kecepatan persekiannya, sebutir debu dari angin diatas akan
bergerak ke arahnya juga persekiannya, bila ia tak memiliki perisai itu, bisa
jadi ia akan mengalami kebutaan. Kesemuanya itu adalah dipertunjukkan oleh
Tuhan, bagaimana permainan-permainan didalam sini.
Andai, seorang menyerukan dan melakukan hal yang seharusnya benar, meninggalkan sesuatu yang jika tidak seharusnya dibenarkan, semua hal layaknya juga
bergerak, diganti dengan tatanan yang lebih baik. Bagaimanakah wahai, dengan
pemikiran hidraulik, layaknya tidak
terasa, akan mengemudikannya. Namun, tak banyak orang yang akan percaya dengan
keyakinan itu, karena muncul ketakutan seperti proyeksi skenario itu
benar-benar ada, yakni sistem oligarkis anggun, lalu akan sulit untuk menguraikan apa-apa, hingga diterima apa
pun itu yang batil, lalu di suatu masa muncullah sang penyeru-penyeru, namun juga tak
sadar berkecimpung dengan lingkar-lingkar disana mau tak mau harus ikut serta, karena sebuah kepentingan akhirnya mentolerir, sulit
keluar dari sana, hingga tergoda.
Apakah keadilan sudah pada seperti zaman incunabula, masing-masing mengembangkan
ilmu pengetahuan, muncul
buku-buku-dengan ilustrasi yang sangat detail menggunakan teknik cetak Kayu (woodblock),
menunjukkan hal tadi suatu hari akan dijadikan gagasan pembaharuan yang
hanya dengan sedetik mengubah wajah. Maka sebenarnya akan banyak ditemukan yang
berkata bukan berdasar landasan ilmu dan
berbuat bukan berdasar landasan ilmu. Jikapun
ada sebuah langit, ia hanya bisa mempersaksikan siapa yang berbuat baik
diantara mereka sebagai orang berbuat baik dan siapa yang berbuat buruk
diantara mereka sebagai orang yang berbuat buruk.
Seorang, mungkin ada rasa putus asa hidup pada zaman itu, seperti
halnya jatuh pada lubang tak berdasar hingga tak bisa lagi melihat cahaya pada
diri. Tapi itu sudah salah bila menganggap segala sesuatu tak ada kesudahan. Ketika kita melihat hujan deras yang tidak menyenangkan, sebenarnya ada rahasia. Pada saat di subuh hari yang awan masih agak gelap, dan orang-orang baru memulihkan diri yang dibangunkan dari pintu alam bawah sadar, akan melihat, sisa hujan semalam. Embun mulai bertaburan pada dedaunan, sebenarnya hujan tadi berbentuk mutiara-mutiara, tapi karena kita hanya merasa air tumpahan dari kaldron yang besar, kita tidak bisa melihat tiap cahaya butirnya. Atau seorang mengira bahwa prajurit Tuhan yang mati tanpa nama batu nisannya atau tak ada jasadnya karena dibakar hidup-hidup-itu ada? Itu pun sama hanya tak
terlihat kasat mata, sebenarnya dirinya sudah diukir pada masa lain
yang teramat jauh. Dan, didalam dirinya disana mempunyai hal yang kuat, layaknya bilah berpendar yang sudah ditempakan.
Dahulu, seorang satria tak akan melepaskan pedang dari
tanganya. Padahal mungkin bisa ia menggunakan senjata lain, dengan itu ada
perasaan muncul untuk bisa menaklukan semuanya, karena bentuk-bentuk alat
seperti membuat mudah melucuti senjata lawan dari jarak jauh, atau dengan
hitungan waktu singkat bisa menggarap banyak benteng musuh. Tapi ia tetap menolak.
Maka ada yang akan menanyakan mengapa demikian. Sebenarnya jika seorang benar-benar
tahu arti seni itu, akan mengerti bagaimana perasaannya. Bahwasanya ia
meletakkan jiwa kedalam pedangnya, dengan begitu sebenarnya lebih ahli jika
ingin menaklukan. Maka seorang yang sudah menguasai hal ini, sudah menguasai
cara menggunakan senjata-senjata lainnya.
Seorang pemuda sahaja sedang memikul bawaan, melewati
jembatan didekat telusuran tempat ia tinggal, sambil menapakkan kaki perlahan, meruntuhkan
jelaga dari asap tubuh. Hari sudah larut malam, tapi entah
mengapa ada yang tertahan disana, lagipula baginya lampu-lampu kuno jalan masih
berdiri sebagai tuan-tuan kanal. Olehnya tak terasa bersama mereka lalu
termenung menatap aliran air yang tak
bertanya, ia sempat berpikir memunculkan seberinda bangsawan disana, namun memungut kabar burung merpati dan
menebarnya di langit-langit airnya. Ia teringat cerita mengenai seekor
kijang tembu, selain memiliki tiga tanduknya, benda itu terbuat dari perak, seorang akan tahu apa yang
sebenar-benarnya terjadi. Bahwa memiliki perak adalah benar logam mulia serbaguna, namun amat disayangkan, cukup rapuh karena begitu halus dan rawan. Mungkin
ada seperti mengelupas kulit-kulitnya hingga usang, tapi tak ada alat canggih pun
sebenarnya bisa melindunginya, seperti menggunakan sedikit air garam atau zaitun dari alam. Namun sebagian kijang-kijang yang berlarian mungkin lupa
untuk menjaga, terarah hamparan padang rumput yang dipenuhi oleh perdu-perdu
dan akan ada yang diselingi oleh beberapa jenis pepohon yang tumbuh menyebar,
seperti akasia. Dan
pada akhirnya masing-masing tentu menyetujui tukar guling tanah, kemudian berdentang-dentang bunga lonceng
hingga berjela-jela. Andai, sebelum itu bagi yang terlalu penat akan
menjatuhkan selimut, mengikuti intuisi perlahan-lahan hingga cashmere hitam
darisana seperti menggerai lagi agar menyembunyikan dalam-dalam. Hanya ada sedikit yang memasuki jendela-menyadari satu tempat, dan akan sedikit mengganggu,
mencatut-catut tangan seorang anak didepannya, seperti ingin mengambil
perlindungan. Anak itu hanya tersenyum melihatnya, ia pun seperti biasa menutup
jendela yang masih menghembuskan air hujan yang sejak tadi terus
menggelindingkan bulir-bulirnya pada kain kanvas yang diatas sebuah spanram,
lalu menjadikannya seperti lukisan sebuah pengangkut blok es dengan jejak-jejak
kereta luncurnya.
Pemuda tadi tersadar dari lamunan, mengarahkan salah satu
sisi kepala pada tuan-tuan kanal yang masih menerangi, walaupun bisa berlama
bersama tapi sudah saatnya untuk pulang. Ia pun lalu membalikkan badan dari
pegangan jembatan, namun karena kurang seimbang mungkin seperti tersandung
sesuatu, “ah, ini hanya tali sepatuku saja.”
seravi


Komentar
Posting Komentar