Sky White
Kita sudah banyak mendengar cerita bahwa
dahulu ada seorang manusia yang melakukannya, yakni seorang utusan Tuhan, yang mana tidak seperti manusia biasa karena diberikan oleh Tuhan keempat buah
sifat mulia yang membantunya yakni, kejujujuran, kepercayaan, menyampaikan, kebijaksanaan. Dengan
struktur itu kita bisa merasakan bagaimana caranya mengajak kebaikan
kepada umat begitu rapi. Mungkin kita bisa melihat mengapa banyak
orang-orang penyeru dakwah sekarang dicela. Karena mungkin salah satunya
ialah cara penyampaiannya yang tidak mengena. Untuk seorang yang
beriman kuat, jika digunakan nasihat kata-kata keras, mereka akan
menerimanya dan menganggap itu hal yang wajar. Tapi bagaimana jika itu
orang awam, di dunia ini banyak sekali kalangan. Belum tentu nasihat
akan diterima, karena hati nurani seperti benih tanaman sulur, banyak
pertanyaan-pertanyaan dari keinginantahuan akan mencari celah jika
adakah tempat yang untuk melarikan diri. Itu sebabnya beliau dalam
berhadapan dengan satu hal melihat banyak sudut pandang, banyak
menimbang, terus mencari yang benar, dan satu lagi yakni ‘memaafkan’.
Mengemban tugas seorang prajurit Tuhan serta menyampaikan hal dari langit adalah pekerjaan yang berat, cobalah
kita merasakan bagaimana mereka sudah susah payah menemukan yang benar,
lalu ada degup yang tidak bisa dijelaskan ketika berbicara. Kita juga
akan merasakan nyata ketika sudah bertemu dengan sebuah seperti misalnya
‘pemikiran moderat’, apa yang akan kita lakukan pertama kali ketika
mendengar kata ini temanku? Kita mungkin akan menjadi gelap mata, karena
diluar terlihat begitu menguntungkan, tapi jika kita melihat sejarah
kita akan tahu. Sebenarnya awal mulanya ini diciptakan adalah untuk
memerangi pemikiran tua dengan mengatasnamakan kebijaksanaan, padahal
mereka yang dianggap tua dan tegas biasanya itulah yang benar. Itu
sebabnya dalam menyerukan sebuah yang lurus akan banyak tekanan.
Katakanlah melihat bingkai besar yang diletakkan miring atau paku kurang
menancap pada dinding di suatu ruangan, sebenarnya kita tidak masalah
ingin ikut campur atau tidak. Tapi berpikir bagaimana seandainya tidak
sengaja kita melewatinya dan bingkai itu jatuh mengenai tepat pada
kepala, dari situ kita sudah tahu apa rencana yang dilakukan agar hal
itu tidak terjadi, namun tiba-tiba datanglah seorang teman melewati,
apalagi itu didepan mata, pada awalnya hanya ingin memberikan aba-aba,
tapi tidak terasa kita sudah berteriak keras, dan pada akhirnya kedua
belah pihak sama-sama tersakiti.
“Setiap pohon memiliki ketinggian makhluk filsufnya masing-masing, maka sebaiknya kita melihat banyak sudut pandang.”
Kesulitan di dunia memang akan membuat kita lupa atau tidak peduli apa
pun alasannya. Itu sebabnya penulis hanya bisa menyarankan seringlah
‘berjalan kaki’, karena dari itu kita banyak melihat baik itu yang tidak
kita sukai ataupun disukai, kita bisa menemukan sisi baik ataupun sisi
buruk, akhirnya kita dapat mengetahui alasan-alasannya. Pada saat itu
kita memang akan merasa berada diruang lift yang begitu sempit sehingga
untuk bernafas akan begitu sulit, karena masalah yang datang seperti
tidak memberi ruang jeda. Mungkin kita sudah tahu bagaimana contoh
sistem yang dibuat manusia di dunia, layaknya segala hal kita akan
dimudahkan tapi suatu ketika dijatuhkan kembali oleh sistem tersebut.
Kita bisa melihat bagaimana perhutangan riba di bank (dan sistem bagi hasil yang bila diperhatikan bukan syariat), diatas sebuah
perjanjian hanya tampak seorang yang ingin membeli satu buah rumah
sederhana kepadanya, tapi sebenarnya kita akan merasakan banyak orang
yang menangis darah karena harus mencicil bunga selama belasan tahun
bahkan tidak sempat lagi membayar pokoknya. Kita merasakan bagaimana
layaknya sudah ‘membeli’ masa depan sendiri namun sungguh sakit. Mungkin
kita lihat juga bagaimana sistem pemungut pajak, para pebisnis harus
membayar pajak tinggi, disamping itu jatuh bangun mereka harus
menghidupi ribuan karyawannya, tak hanya mereka, karyawan yang bekerja
siang malam juga harus membayar pajak tinggi. Dari hasil itu ada
sebagian yang menikmatinya, tapi bagaimana dengan sebagian yang lain.
Pada zaman seorang utusan Tuhan tadi yang datang memperhatikan perkara hal ini diberlakukan peraturan yakni pajak hanya sepersepuluhnya, karena diatas itu
sebenarnya akan merusak sistem itu sendiri.
Dan jika kita
melihat banyak sudut pandang dari kesemuanya itu, bagaimana jika kita
juga dihadapkan dengan ujian di posisi tersebut, bisa jadi keluar dari
sana akan menghabiskan waktu yang lama dan keadaan yang lebih buruk dari
itu. Olehnya lihatlah pada diri, sebaiknya melakukan apa yang sudah
diperintahkan Tuhan sehingga kita semua bisa selamat. Mungkin kita
pernah mendengar istilah ‘bottle neck’, yakni bagaimana tersedianya
banyak media pendidikan tapi sedikit sekali lapangan kerja, semua orang
mengantri dengan kertas masing-masing untuk penetrasi sehingga membentuk
badan botol, tapi yang diambil dari sekian tadi hanya seperti corong
kecil yakni leher botol. Lalu bagaimana kita menerima kenyataan ini,
maka ambillah hikmahnya bahwa kita tidak bisa bergantung dengan seorang
manusia pun, karena seperti hal tadi sebenarnya kita tidak harus
mengantri di dalam botol bukan, di dunia ini banyak sekali tempat rezeki
atau tempat berkarya dari Allah yang halal, walaupun nanti berangkat
dari kehidupan yang sulit, kita akan mengajari diri sendiri agar menjadi
mandiri. Tak banyak orang yang tahu makna dari pendidikan itu sendiri
apa, sebenarnya bertujuan agar jika dihadapkan didalam sebuah keputusan
maka kita dapat memilih mana yang lebih baik. Dan pada akhirnya
sebenarnya kembali lagi hal itu kepada ilmu agama. Kemudian apa yang
selanjutnya kita lakukan. Namun, “Kau akan kesulitan menyuruh dunia
untuk berubah lebih baik agar menemuimu, untuk itu suruhlah diri agar
lebih baik untuk menemuinya.”
Langit Putih. “Jika kita menatap
langit seperti muncul banyak berbagai praduga. Maka anggaplah langit itu
benar-benar putih, dengan begitu kita akan memaafkan semuanya,
mengikhlaskan semuanya, karena kita tidak tahu sebenarnya warna
didalamnya entah itu jingga keemasan ke sore hari atau gelap keabuan ke
malam hari, ketika itu kita akan menyadari, bahwa langit mempunyai
kesibukan masing-masing.”.
seravi
seravi


Komentar
Posting Komentar