Sky White


Terkadang, kita pernah berpikir untuk lari, tapi sebenarnya tidak bisa, karena yang didapat hanya dua kalimat yakni ‘ingin menyendiri’ dan ‘satu ruangan tertutup’. Kedua ini pada awalnya akan terlihat biasa, tapi jika dilakukan adalah seni berperang yang unik, yang dampaknya sangat luar biasa. Jika ditanya siapa musuh disini, jawabannya adalah ‘diri sendiri’. Mungkin kita pernah membaca cerita-cerita sejarah, bagaimana cara licik untuk mengalahkan musuh, biarpun musuh seorang ber-IQ 170 keatas (jenius)-sebenarnya hal itu menjelaskan tentang tingkat intelegensi dalam ukuran secara kognitif, pandangan lama menunjukkan kualitas intelegensi tinggi dilihat sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan individu dalam belajar. Berarti ada cara menjatuhkannya, seperti halnya mengganggu seorang yang sedang belajar, yakni dengan “membuatnya marah kemudian memberikan apa yang ia suka”. Pada saat diposisi itu tak akan bisa lagi berpikir, dan secara tidak sadar akan terbawa instruksi lawan yang membuat aturan. Maka, jika merujuk lagi ke tempat awal, kita bisa membuat agar tidak terperangkap seperti itu, yakni dengan ‘pengendalian diri’. Seorang yang mengendalikan diri, akan berusaha membuat dirinya untuk tetap tenang dari kemarahan, dengan begitu potensi otak dapat dioptimalkan sehingga seperti dapat melihat segala sudut pandang.

Kita sudah banyak mendengar cerita bahwa dahulu ada seorang manusia yang melakukannya, yakni seorang utusan Tuhan, yang mana tidak seperti manusia biasa karena diberikan oleh Tuhan keempat buah sifat mulia yang membantunya yakni, kejujujuran, kepercayaan, menyampaikan, kebijaksanaan. Dengan struktur itu kita bisa merasakan bagaimana caranya mengajak kebaikan kepada umat begitu rapi. Mungkin kita bisa melihat mengapa banyak orang-orang penyeru dakwah sekarang dicela. Karena mungkin salah satunya ialah cara penyampaiannya yang tidak mengena. Untuk seorang yang beriman kuat, jika digunakan nasihat kata-kata keras, mereka akan menerimanya dan menganggap itu hal yang wajar. Tapi bagaimana jika itu orang awam, di dunia ini banyak sekali kalangan. Belum tentu nasihat akan diterima, karena hati nurani seperti benih tanaman sulur, banyak pertanyaan-pertanyaan dari keinginantahuan akan mencari celah jika adakah tempat yang untuk melarikan diri. Itu sebabnya beliau dalam berhadapan dengan satu hal melihat banyak sudut pandang, banyak menimbang, terus mencari yang benar, dan satu lagi yakni ‘memaafkan’.

Mengemban tugas seorang prajurit Tuhan serta menyampaikan hal dari langit adalah pekerjaan yang berat, cobalah kita merasakan bagaimana mereka sudah susah payah menemukan yang benar, lalu ada degup yang tidak bisa dijelaskan ketika berbicara. Kita juga akan merasakan nyata ketika sudah bertemu dengan sebuah seperti misalnya ‘pemikiran moderat’, apa yang akan kita lakukan pertama kali ketika mendengar kata ini temanku? Kita mungkin akan menjadi gelap mata, karena diluar terlihat begitu menguntungkan, tapi jika kita melihat sejarah kita akan tahu. Sebenarnya awal mulanya ini diciptakan adalah untuk memerangi pemikiran tua dengan mengatasnamakan kebijaksanaan, padahal mereka yang dianggap tua dan tegas biasanya itulah yang benar. Itu sebabnya dalam menyerukan sebuah yang lurus akan banyak tekanan. Katakanlah melihat bingkai besar yang diletakkan miring atau paku kurang menancap pada dinding di suatu ruangan, sebenarnya kita tidak masalah ingin ikut campur atau tidak. Tapi berpikir bagaimana seandainya tidak sengaja kita melewatinya dan bingkai itu jatuh mengenai tepat pada kepala, dari situ kita sudah tahu apa rencana yang dilakukan agar hal itu tidak terjadi, namun tiba-tiba datanglah seorang teman melewati, apalagi itu didepan mata, pada awalnya hanya ingin memberikan aba-aba, tapi tidak terasa kita sudah berteriak keras, dan pada akhirnya kedua belah pihak sama-sama tersakiti.

“Setiap pohon memiliki ketinggian makhluk filsufnya masing-masing, maka sebaiknya kita melihat banyak sudut pandang.”

Kesulitan di dunia memang akan membuat kita lupa atau tidak peduli apa pun alasannya. Itu sebabnya penulis hanya bisa menyarankan seringlah ‘berjalan kaki’, karena dari itu kita banyak melihat baik itu yang tidak kita sukai ataupun disukai, kita bisa menemukan sisi baik ataupun sisi buruk, akhirnya kita dapat mengetahui alasan-alasannya. Pada saat itu kita memang akan merasa berada diruang lift yang begitu sempit sehingga untuk bernafas akan begitu sulit, karena masalah yang datang seperti tidak memberi ruang jeda. Mungkin kita sudah tahu bagaimana contoh sistem yang dibuat manusia di dunia, layaknya segala hal kita akan dimudahkan tapi suatu ketika dijatuhkan kembali oleh sistem tersebut. Kita bisa melihat bagaimana perhutangan riba di bank (dan sistem bagi hasil yang bila diperhatikan bukan syariat), diatas sebuah perjanjian hanya tampak seorang yang ingin membeli satu buah rumah sederhana kepadanya, tapi sebenarnya kita akan merasakan banyak orang yang menangis darah karena harus mencicil bunga selama belasan tahun bahkan tidak sempat lagi membayar pokoknya. Kita merasakan bagaimana layaknya sudah ‘membeli’ masa depan sendiri namun sungguh sakit. Mungkin kita lihat juga bagaimana sistem pemungut pajak, para pebisnis harus membayar pajak tinggi, disamping itu jatuh bangun mereka harus menghidupi ribuan karyawannya, tak hanya mereka, karyawan yang bekerja siang malam juga harus membayar pajak tinggi. Dari hasil itu ada sebagian yang menikmatinya, tapi bagaimana dengan sebagian yang lain. Pada zaman seorang utusan Tuhan tadi yang datang memperhatikan perkara hal ini diberlakukan peraturan yakni pajak hanya sepersepuluhnya, karena diatas itu sebenarnya akan merusak sistem itu sendiri.

Dan jika kita melihat banyak sudut pandang dari kesemuanya itu, bagaimana jika kita juga dihadapkan dengan ujian di posisi tersebut, bisa jadi keluar dari sana akan menghabiskan waktu yang lama dan keadaan yang lebih buruk dari itu. Olehnya lihatlah pada diri, sebaiknya melakukan apa yang sudah diperintahkan Tuhan sehingga kita semua bisa selamat. Mungkin kita pernah mendengar istilah ‘bottle neck’, yakni bagaimana tersedianya banyak media pendidikan tapi sedikit sekali lapangan kerja, semua orang mengantri dengan kertas masing-masing untuk penetrasi sehingga membentuk badan botol, tapi yang diambil dari sekian tadi hanya seperti corong kecil yakni leher botol. Lalu bagaimana kita menerima kenyataan ini, maka ambillah hikmahnya bahwa kita tidak bisa bergantung dengan seorang manusia pun, karena seperti hal tadi sebenarnya kita tidak harus mengantri di dalam botol bukan, di dunia ini banyak sekali tempat rezeki atau tempat berkarya dari Allah yang halal, walaupun nanti berangkat dari kehidupan yang sulit, kita akan mengajari diri sendiri agar menjadi mandiri. Tak banyak orang yang tahu makna dari pendidikan itu sendiri apa, sebenarnya bertujuan agar jika dihadapkan didalam sebuah keputusan maka kita dapat memilih mana yang lebih baik. Dan pada akhirnya sebenarnya kembali lagi hal itu kepada ilmu agama. Kemudian apa yang selanjutnya kita lakukan. Namun, “Kau akan kesulitan menyuruh dunia untuk berubah lebih baik agar menemuimu, untuk itu suruhlah diri agar lebih baik untuk menemuinya.”

Langit Putih. “Jika kita menatap langit seperti muncul banyak berbagai praduga. Maka anggaplah langit itu benar-benar putih, dengan begitu kita akan memaafkan semuanya, mengikhlaskan semuanya, karena kita tidak tahu sebenarnya warna didalamnya entah itu jingga keemasan ke sore hari atau gelap keabuan ke malam hari, ketika itu kita akan menyadari, bahwa langit mempunyai kesibukan masing-masing.”.

seravi

Komentar

Postingan Populer