Ambivalent
Sebaiknya kita harus memiliki patokan. Bukan paham yang bisa
dipatahkan, bukan paham standar ganda, tetapi sebuah hukum yang
benar-benar tidak bisa dielakkan dari kenyataan atau alam, yakni hukum
Tuhan. Mengapa seorang atheis dan seorang pemegang kitab Tuhan sulit
menemukan titik temu? Karena patokan mereka berbeda, seorang atheis
menggunakan hati, apakah hati mempunyai sifat tegas? Tidak, karena itu
bersifat tolerir yang ditambah dengan hawa nafsu, sehingga tidak bisa
diukur. Tapi jika sesama pemegang kitab Tuhan saling berdebat, dalam
perjalanan panjang pun mereka akan ada akhirnya, karena kitab Tuhan
mempunyai sifat kebenaran.
Aku akan mengenalkan dua buah
paradoks klasik, yakni “Paradoks orang Crete dan Pyrrhonisme”.
Diceritakan bahwa: Ada seorang Crete (Pulau Kreta) bernama Epimenides,
berkata “Orang Crete selalu pembohong”. Maka jika ia (Epimenides) benar,
maka ia juga bohong. Satu lagi Pyrrhonisme, paham yang meragukan semua
hal, akhirnya ia juga meragukan dirinya sendiri. Sebenarnya ini adalah
sebuah permainan logika dalam filsafat, disebut ‘paradoks atau self
defeating principle’, tidak ada kebenarannya. Mudah sekali jika kita
ingin mematahkan paham ini, ‘berarti seseorang juga berhak penghapusan
dalam paham ini’. Seperti halnya kebebasan berbicara yakni tidak punya batasan hingga
orang yang tidak bersalah bisa dihukum mati karena kesaksian palsu, atau pada sejarah ada yang ditulis oleh kaum ‘pemenang dalam
pengertian kuat pada saat itu’ sehingga dapat melakukan kesewenangan demi kepentingan kekuasaan. Sebenarnya jika
seorang yang sungguh mencari jati diri hanya mempertanyakan
hak-haknya sehingga terpengaruh theosofi mungkin pada masa belajarnya. Namun, ada oknum tertentu seperti misalnya yang mempunyai masalah patriarki, dijadikannya salah satu untuk membumikan ajaran-ajaran kebebasan yakni, feminisme, liberalisme atau sejenisnya. Tapi tidak
banyak yang tahu di akhir cerita, ada batas-batas
yang sudah tersirat untuk seimbangnya alam semesta sehingga ada benturan keras terhadap paham hasil hipotesa manusia sendiri.
Terkadang
kita manusia bebal. Namun jika nanti ada sebuah
‘dentuman’ pada bentengnya, barulah menyadari. Kita di dunia ini sudah
banyak melihat bagaimana kedahsyatan hasil berpikir manusia dengan
berbagai paham. Dan akhirnya mungkin kita pernah mendengar kata ini,
“…buktinya kami tidak dikutuk Tuhan.” Takutlah kita ini manusia dengan
Tuhan temanku, karena seperti pernyataan tadi berarti sedang
menantangNya. Padahal Tuhan sudah memberikan pelajaran bagi orang
terdahulu sejak ribuan tahun, apakah kita akan mengorbankan diri kita
juga untuk belajar? Maka jika kita temukan orang-orang yang berhujah
mengatakan kebebasan berbicara-bertindak, sebaiknya tidak dicela, tapi
diarahkan, sebenarnya karena mereka hanya belum merasakan ‘dentuman’
tadi atau belum menemukan kebenaran sendiri. Karena sebenarnya tidak ada
kebebasan, tapi konsekuensi. Mungkin pernah kita juga mendengar kata
ini, “…dengan adanya hukum itu tidak mengurangi kejahatan.” Sebenarnya
pengartian dengan adanya hukum yang berdiri, manusia memiliki rasa
tanggung jawab, sehingga ada konsekuensinya jika ia melakukan suatu
kesalahan. Dan cobalah telaah lagi, sebenarnya segala yang ditulis Tuhan
dalam kitabNya adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, Tuhan
menyayangi semuanya dan adil, sederhana untuk mengetahuinya yakni
lihatlah lagi kedalam diri kita masing-masing, bahwa hak dan kewajiban
kita berbeda, dari itu ada kelebihan ada kekurangan, dan pada akhirnya
menjadi melengkapi semuanya. Kita ini memang sama-sama manusia yang
sedang mencari jalan kebenaran, itu sebabnya dikatakan Tuhan yakni pada
hakikatnya ‘semua manusia dengan fitrahnya, dilahirkan dalam keadaan
suci dan bersih’. Semuanya tentu saja juga boleh mempunyai mimpi, tapi
tetap mempunyai batasan-batasan yang juga sudah ditulis Tuhan. Jika
manusia tidak mempunyai batasan dalam ruang geraknya, maka akan terjadi
kesewenangan, dan merusak sistem alam itu sendiri. Cobalah lihat juga
adakah hal-hal yang bersifat paradoks, tidak ada.
Dunia
Ambivalent. Dunia membingungkan yang tak bisa lagi duduk diam manis
dengan menyeruput teh di sore hari. Karena sebagian orang-orang di dunia
akan berkata bahwa hukum Tuhan seperti kaku, sempit, tidak moderen.
Tapi kelak, kau hanya bisa tersenyum mendengar hal itu, walaupun
dikatakan layaknya berpakaian tua dengan menggunakan celemek dasar lusuh seperti seorang pelayan pada abad victoria dahulu, pikiranmu akan terbuka, olehnya janganlah berputus asa untuk
menelaah, kau akan menemukan sesuatu temanku, bahwa hukum Tuhan itu
sungguh menakjubkan daripada pemikiran Karl Marx yang diagungkan
sekalipun. Seperti halnya sebuah progam, ya, progam yang dibuat Tuhan
adalah tercanggih di jagat raya ini.
seravi
seravi


Komentar
Posting Komentar