The Piece

charlesdickens


Kau pernah melamun? Atau duduk sendirian, di mana saja, bangku taman atau berdiri diam beberapa detik di tempat orang lalu lalang? Mungkin beberapa orang berpikir kita sudah gila, sebagian berkata kita pernah tercuci otak, jangan khawatir, aku pun pernah melakukannya. Aku juga tidak tahu kenapa senang demikian, hanya terkadang butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran, dengan tangan mengepal kebelakang lalu kepala berputar pada porosnya ke banyak hal sambil berjalan kaki. Seperti orang polos bodoh, dan pada saat itu muncul pertanyaan-pertanyaan aneh. Tapi ada perasaan baru, melihat apa saja yang ada ketika dilalui, dan satu atau dua tikungan jalan ada hal lain lagi.

Kau sering menghitung hari? Bila satu tahun berapa hari yang benar-benar berguna kau habiskan, dengan catatan dikurangi waktu tidur. Hari ini kau sudah melakukan apa saja, apakah ada yang monoton saja, ataukah tidak.

Kau pernah bermimpi aneh? Ketika bangun tapi masih ingin tahu apa teka-teki jawaban dari mimpi tadi, seperti membaca cerita dengan ritme tak beraturan, plot didalam belum pernah kau lihat sebelumnya, di buku atau dimanapun, maka di siang hari kau masih mengingatnya, mungkin kita masih bisa tertawa atau bercengkrama, tapi di malam hari ketika ingin tidur timbul perasaan takut yang tak bisa dijelaskan, karena tahu seperti waktu-waktu yang pernah terjadi sebelumnya, dan benar, yakni sayangnya ketika tidur lagi mimpi itu sudah berganti cerita, tak terasa esok sudah berganti pula.
 
Kau pernah ditanya oleh orang tapi kau ingin menjawab tapi tak bisa mengatakannya? Ketika itu ada perasaan berdebar, ‘apa mereka akan mengertiku’, atau sebagainya. Bukan masalah kejujuran atau kebohongan, kepintaran atau kebodohan, tapi ada hal lain. Mungkin ada yang merasakan hal sama, karena ketika itu tak ada pikiran lain, atau untuk mendapat pengakuan dari lawan bicara, atau berdebat pendapat, tapi saat itu kita akan terdiam lalu tersadar.

Kau pernah berada didalam sebuah lingkaran? Mereka yang bercerita pada dalamnya mungkin ada yang marah dengan orang lain atau dengan diri sendiri. Dan akhirnya kau menjadi kikuk, karena ada perasaan bisa membaca pikiran lawan bicara, ingin mencoba mengerti mereka, bahwasanya mereka seperti itu karena sebenarnya sedang sedih dilingkari ujian yang berat, lelah dalam kehidupan. Mungkin kita pernah direndahkan akan status didalam masyarakat, padahal sudah berusaha keras melakukan yang halal. Atau kita merasa tidak berguna karena tidak berhasil dibanding yang lain. Sebaiknya cobalah tela’ah lagi, mengapa Tuhan membatasi rezeki kita. Karena Tuhan percaya pada kemampuan kita dalam memegang tanggung jawab tersebut, dan dijaga olehNya hati kita.

Sebagian kue. Pada hakikatnya manusia memiliki dua buah sifat. Dan yang paling terlihat nyata adalah yang bersifat pekat, sifat tamak. Mengapa ada hal tersebut, karena manusia membangun ‘defense’. Sehingga ada ketakutan, yang membuat pikiran akan beralih meyakini bahwa hal tersebut akan menyelamatkan hidup. Tapi kau tahu temanku, didalam diri manusia seperti halnya ada sebagian kue yang memiliki sifat 'melemahkan', sifat terpuji. Mengapa ada hal tersebut, salah satunya karena manusia juga memiliki rasa bosan, seperti hal tadi, mungkin ada yang melamun, ingin mencari tahu dari teka-teki sebuah mimpi aneh, di dalam keramaian terdiam sendiri. Karena ketika datang banyak malapetaka akan menganggap yang diambisikan tadi adalah ‘untuk apa’, pada awalnya akan merasa sudah memenuhi kepuasan batin, tapi akan ada tibanya datang sebuah perasaan hampa. Sebenarnya semuanya itu karena diperlihatkan oleh Tuhan mengenai pembanding, bertujuan agar dengan fitrah manusia itu sendiri akan berpikir kembali, dan pada saatnya lahir tujuan-tujuan baik.

Orang-orang didunia akan berkata bahwa kebaikan akan membahagiakan, tapi sebenarnya yang menyelamatkan adalah ‘kebenaran’. Sebelum menemukan kebenaran, manusia akan melakukan kebaikan, tapi kebaikan menurutnya belum tentu kebaikan dimata Tuhan. Mengapa orang-orang jenius tak bisa menemukan kebenaran, karena ada tinggi hati didalam diri mereka yang membuatnya menjauh. Bila Tuhan mau Ia bisa saja membuatkan kita satu umat, tapi Tuhan membuatkan yang tak terkira. Maka sebaiknya kita meminta petunjuk pada Tuhan dengan tulus, yang mana kebaikan yang mengantarkan menuju kebenaran. Pada saat itu kita bisa menggunakan kasih sayang yang ditinggalkan oleh Tuhan didalam diri tiap manusia untuk mencari itu semua.

‘’Sekeras usaha pun kita memang tak akan bisa menjadi manusia terbaik, ada hal yang membuat kita akan bisa menjadi manusia terburuk, tapi kita bisa menjadi ‘sebaik-baik manusia’ ”

seravi

Komentar

Postingan Populer