The Piece
Kau pernah melamun? Atau duduk sendirian, di mana saja, bangku taman atau berdiri diam beberapa detik di tempat orang lalu lalang? Mungkin beberapa orang berpikir kita sudah gila, sebagian berkata kita pernah tercuci otak, jangan khawatir, aku pun pernah melakukannya. Aku juga tidak tahu kenapa senang demikian, hanya terkadang butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran, dengan tangan mengepal kebelakang lalu kepala berputar pada porosnya ke banyak hal sambil berjalan kaki. Seperti orang polos bodoh, dan pada saat itu muncul pertanyaan-pertanyaan aneh. Tapi ada perasaan baru, melihat apa saja yang ada ketika dilalui, dan satu atau dua tikungan jalan ada hal lain lagi.
Kau sering
menghitung hari? Bila satu tahun berapa hari yang benar-benar berguna
kau habiskan, dengan catatan dikurangi waktu tidur. Hari ini kau sudah
melakukan apa saja, apakah ada yang monoton saja, ataukah tidak.
Kau pernah bermimpi aneh? Ketika bangun tapi masih ingin tahu apa
teka-teki jawaban dari mimpi tadi, seperti membaca cerita dengan ritme
tak beraturan, plot didalam belum pernah kau lihat sebelumnya, di buku
atau dimanapun, maka di siang hari kau masih mengingatnya, mungkin kita
masih bisa tertawa atau bercengkrama, tapi di malam hari ketika ingin
tidur timbul perasaan takut yang tak bisa dijelaskan, karena tahu
seperti waktu-waktu yang pernah terjadi sebelumnya, dan benar, yakni
sayangnya ketika tidur lagi mimpi itu sudah berganti cerita, tak terasa
esok sudah berganti pula.
Kau pernah ditanya oleh orang tapi kau
ingin menjawab tapi tak bisa mengatakannya? Ketika itu ada perasaan
berdebar, ‘apa mereka akan mengertiku’, atau sebagainya. Bukan masalah
kejujuran atau kebohongan, kepintaran atau kebodohan, tapi ada hal lain.
Mungkin ada yang merasakan hal sama, karena ketika itu tak ada pikiran
lain, atau untuk mendapat pengakuan dari lawan bicara, atau berdebat
pendapat, tapi saat itu kita akan terdiam lalu tersadar.
Kau
pernah berada didalam sebuah lingkaran? Mereka yang bercerita pada dalamnya mungkin ada
yang marah dengan orang lain atau dengan diri sendiri. Dan akhirnya kau
menjadi kikuk, karena ada perasaan bisa membaca pikiran lawan bicara,
ingin mencoba mengerti mereka, bahwasanya mereka seperti itu karena
sebenarnya sedang sedih dilingkari ujian yang berat, lelah dalam
kehidupan. Mungkin kita pernah direndahkan akan status didalam
masyarakat, padahal sudah berusaha keras melakukan yang halal. Atau kita
merasa tidak berguna karena tidak berhasil dibanding yang lain.
Sebaiknya cobalah tela’ah lagi, mengapa Tuhan membatasi rezeki kita.
Karena Tuhan percaya pada kemampuan kita dalam memegang tanggung jawab
tersebut, dan dijaga olehNya hati kita.
Sebagian kue. Pada
hakikatnya manusia memiliki dua buah sifat. Dan yang paling terlihat
nyata adalah yang bersifat pekat, sifat tamak. Mengapa ada hal tersebut,
karena manusia membangun ‘defense’. Sehingga ada ketakutan, yang
membuat pikiran akan beralih meyakini bahwa hal tersebut akan
menyelamatkan hidup. Tapi kau tahu temanku, didalam diri manusia seperti
halnya ada sebagian kue yang memiliki sifat 'melemahkan', sifat
terpuji. Mengapa ada hal tersebut, salah satunya karena manusia juga
memiliki rasa bosan, seperti hal tadi, mungkin ada yang melamun, ingin
mencari tahu dari teka-teki sebuah mimpi aneh, di dalam keramaian
terdiam sendiri. Karena ketika datang banyak malapetaka akan menganggap
yang diambisikan tadi adalah ‘untuk apa’, pada awalnya akan merasa sudah
memenuhi kepuasan batin, tapi akan ada tibanya datang sebuah perasaan
hampa. Sebenarnya semuanya itu karena diperlihatkan oleh Tuhan mengenai
pembanding, bertujuan agar dengan fitrah manusia itu sendiri akan
berpikir kembali, dan pada saatnya lahir tujuan-tujuan baik.
Orang-orang didunia akan berkata bahwa kebaikan akan membahagiakan, tapi
sebenarnya yang menyelamatkan adalah ‘kebenaran’. Sebelum menemukan
kebenaran, manusia akan melakukan kebaikan, tapi kebaikan menurutnya
belum tentu kebaikan dimata Tuhan. Mengapa orang-orang jenius tak bisa
menemukan kebenaran, karena ada tinggi hati didalam diri mereka yang
membuatnya menjauh. Bila Tuhan mau Ia bisa saja membuatkan kita satu
umat, tapi Tuhan membuatkan yang tak terkira. Maka sebaiknya kita
meminta petunjuk pada Tuhan dengan tulus, yang mana kebaikan yang
mengantarkan menuju kebenaran. Pada saat itu kita bisa menggunakan kasih
sayang yang ditinggalkan oleh Tuhan didalam diri tiap manusia untuk
mencari itu semua.
‘’Sekeras usaha pun kita memang tak akan
bisa menjadi manusia terbaik, ada hal yang membuat kita akan bisa
menjadi manusia terburuk, tapi kita bisa menjadi ‘sebaik-baik manusia’ ”
seravi
seravi


Komentar
Posting Komentar