Satrically
Apakah kau pernah menanyakan dalam hati wahai temanku, walaupun sedikit saja, ‘Mengapa manusia merendahkan manusia lainnya?’ Padahal jika ditela’ah lebih dalam kita ini sama, sedang berupaya mencari jalan benar ini, mengalami kesulitan masing-masing yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, memilih takdir yang berbeda, akhirnya keadaan juga berbeda, ada yang jatuh dan ada yang tidak, ada yang terlahir di lingkungan kebenaran dan ada yang terlahir di lingkungan kebatilan. Semuanya itu akan mempengaruhi iman seseorang, lalu kau akan berupaya keras melakukannya sendiri mencarinya dengan sungguh-sungguh.
Didalam
sebuah perjalanan itu, apa kau benar-benar tahu sudah memilih arah yang
mana, atau di tengah-tengah akan ada saja arah yang salah, mendapat
tantangan yang keras, dan sebenarnya belum kau rencanakan, karena
tiba-tiba kau akan diantar ke sebuah dunia, entah di tanah yang mudah
atau sukar, lalu kau tertatih mencari, sampai pernah berputus asa.
Didalam memilih itu tidak melakukan upaya-upaya penistaan pada tanggung
jawab yang ada, karena pahala dan siksa tidak beranjak pada tempatnya.
Lalu apakah kau akan menertawakan seorang yang tidak berhasil dalam
melewati segala hal tadi?
Dan apakah kau sudah betul mengerti
mengapa ada kebenaran dan kebatilan? Pada hakikatnya
keduanya tidak bisa berdiri sendiri, pernahkah kau membayangkannya?
Sebaiknya janganlah seorang ‘kebenaran’ merendahkan seorang dari
lawannya, dan begitupula sebaliknya.
Kau tahu temanku, karena
didunia ini banyak sekali hal yang tidak kita ketahui. Maka sebaiknya
kita belajar untuk menghargai apa saja yang ada di bumi Tuhan ini, apa
saja, ketika kau sedang berjalan kaki di luar dan lihatlah segalanya,
pepohonan, orang-orang, kemudian janganlah berburuk sangka dahulu.
Karena jika kau tela’ah lagi, banyak sekali, hal-hal yang tidak bisa
diterjemahkan, bukan berarti keabsurdan. Sedangkan Tuhan disana sedang
tersenyum, karena Ia tahu akan segalanya.
Orang-orang sering
bertanya mengapa aku suka anak kecil. Karena mereka “tidak tahu”.
Ketidaktahuan membuat mereka tidak tinggi hati, memang seperti ada
banyak anak-anak nakal, tapi sebenarnya itu karena banyak alasan yang
bahkan orang dewasa tak akan mudah mengerti keinginan mereka.
Olehkarenanya jika ingin dibedakan dengan orang dewasa, tentu saja
mereka juga punya kekurangan, karena anak kecil tidak ada keharusan
untuk tanggungjawab, kecuali anak-anak tertentu dengan kondisi mereka
yang mengharuskannya. Maka bila kau temukan seorang anak yang memegang
sebuah tanggung jawab, ia adalah ‘dewasa’.
Sebenarnya bila kau
sering perhatikan, mengapa banyak penulis menggunakan anak-anak sebagai
pisau filsafat mereka, aku hanya bisa tersenyum. Sebenarnya seperti hal
tadi, karena ketidaktahuan itu membuat anak-anak mempunyai keberanian
dan kebaikan yang masih murni. Itu sebabnya pemerintahan Victoria pada
abad dulu sedikit terganggu akibat seorang anak kecil saja, ada sindiran
satire disana, kau mungkin bisa bayangkan (betapa susahnya mereka).
Kebaikan yang masih murni, bisakah kita memulainya lagi ketika pada
saat kita dilahirkan? Tentu bisa, karena didalam diri setiap manusia ada
sebuah kasih sayang yang ditanamkan. Tapi terkadang harus memanggil
keberanian, karena ada ketakutan didalam diri yang membuatnya menjauh,
hingga ingin melakukan sesuatu karena bertamak pada yang ingin diambil.
Jika berpikir ada nanti hal mustahil untuk kembali, kebaikanlah yang
akan mengantarkan membuka jalan, dan Tuhan akan menunjukkan yang benar
ini, melalui fitrah yang ada didalam manusia itu sendiri, nabi, dan
kitab suci.
Sebenarnya dalam diri kita ada sebagian wujud dari mimpi buruk orang-orang
dewasa. Lalu apa yang kau lakukan sedang bermimpi buruk? Ada sebuah kalimat yang kupikirkan:
"Di dunia ini memang ada hal yang mustahil untuk dilakukan. Tetapi satu cara untuk membuat hal itu tidak mustahil adalah dengan percaya bahwa hal tersebut tidak mustahil untuk dilakukan atau didapatkan."
Sehingga dengan percaya hal itu tidak mustahil maka dengan menilik sebuah saja, dan 'ia akan ada hanya jika kau ingin melihatnya', maka itu menjadi tidak mustahil (dengan catatan bahwa melibatkan Tuhan dalam segala halnya, jika menjadikan ini sebagai alasan untuk hal yang kebatilan tentulah tidak diperkenankan). Didalam itu, mungkin
kau juga belum mengerti sungguh-sungguh apa makna didalamnya atau apa yang dicari, tapi
percayalah, jika meniatkan dengan suatu ketulusan, Tuhan tak akan
tinggal diam, kau akan diarahkanNya. Karenanya janganlah sekali-kali
berprasangka buruk kepada manusia lain atau diri sendiri, sekalipun
seseorang berbuat jahat padamu, berbuat baiklah padanya. Karena suatu
hari nanti kau akan mengerti apa makna kebaikan sesungguhnya yang
diberikan Tuhan padamu. Maka jika kau ingin hidup didalam sini, kau
harus berjuang keras, dengan merendahkan diri.
Kau tahu, "Seorang pelukis abstrak tidak peduli lukisannya akan
diterjemahkan orang seperti apa, yang ia ketahui hanya bekerja disana
sungguh-sungguh seperti tak ada orang yang melihat, jikapun yang
dipantulkan terlihat sebuah yang buruk, setidaknya Tuhan tahu apa yang
ada didalam situ.”
seravi
seravi


Komentar
Posting Komentar