Nutcracker


Di dunia ini yang seharusnya paling dibingungkan adalah manusia-manusia. “Demi baju seragam merah akrilik kekal yang menggulung kayu basahku, tidak seharusnya manusia merendahkan yang lain.” Karena kita ini hanya hamba Tuhan, bagaimana mungkin seorang hamba merendahkan hamba lainnya. “Garukan berkeling mengeluarkan rekatan kertas topiku.” Mengapa bisa mempunyai kemampuan lebih, sehingga menganggap diri lebih baik dari manusia lain. Terkadang ingin bertanya, bagaimana caranya agar juga seperti itu, mungkinkah dengan begitu juga bisa lebih percaya diri lagi. Karena sebenarnya diri sendiri tidak tahu pencapaian yang didalam sudah benar ataukah tidak.
“Kau punya korek api? Berapa jarum pentulnya yang jika disisihkan disetiap kotak terakhir di musim dingin?” Apakah kita di dunia ini memang ada pemunculan-pemunculan yang akan menggambarkan penyelamatan diri sendiri.

Bukankah kita pernah mendengar kata Tuhan. Karenanya sungguh-sungguh kita tidak punya alat canggih, sehingga tidak tahu nilai sendiri. Ketika berbicara padaNya akan seperti sudah menjadi seekor kukang dengan garis coklat besar khas melintang dari belakang hingga dahi sampai bercabang ke telinga dan mata, dengan gerakan lambat bertimbun di dasar mangkuk, terkadang tidak bisa lagi menyebutkan apa yang diminta, karena disaat keadaan hidup hampir berputus asa, hanya bisa bertekuk didepanNya karena rasa malu, bicara akan menggeretakkan piring-piring tipis. Kalau saja mengatakan didepanNya ‘aku seorang yang khusus, sehingga amat pantas atau layak mendapatkan yang lebih baik’. Jika benar telah angkuh seperti itu, Tuhan akan marah, karena seperti halnya sudah membakar kayu sendiri.

Layar-layar sedang dikembangkan. Sebenarnya yang akan dilihat adalah cahaya terang dari sana. Dan sungguh percaya jika hujan yang tadi dariNya akan menjawab itu semua. Karena kita semua didalam ruang lingkup tersebut. Seperti berjalan didalam tidur. Setelah bangun akan menjalankannya saja. Kemudian melihat. Inikah, kebun yang sudah bermekaran. Kita bisa saja, menggiras tanah menjadi rumah geretan untuk sesuatu yang membeku atau dibekukan. Lalu mengatakan, “Simpan, bungkusan itu didalam lemari bagian dalam.” Hanya saja, dibencah baja kecil sebagai pencetus api (tentang perkara).  Pada saat itu ‘meluluk’ didalam pegas sebuah jam waktu.   

Manusia-manusia. Apakah akan mementingkan diri mereka sendiri. Mereka mungkin akan bertanggungjawab dengan apa yang mereka lakukan, mendahulukan kepentingan pribadi, tapi bagaimana dengan sekawanannya. Apakah menjadi manusia sesulit ini, demi bertahan hidup, prinsip itu, apakah benar-benar seperti ini. Seperti hidup di wilayah sendiri, tidakkah mau menyelamatkan yang lain, disaat sekawanannya sedang sulit ditambahlah pula buah olokan. Inilah yang kau tanyakan tadi mengenai keserakahan manusia.

Jika saja Tuhan tidak menunjukkan kebenaran, apa yang bisa mereka perbuat? Tidakkah mereka ingat bahwa dulu Tuhan yang telah menyelamatkannya. Tak upaya “Tiba-tiba berhenti di tengah, membuka jendela, ia menyaksikan kelinci dimangsa sampai tidak bisa melihatnya lagi.” Ketika kita tak mempunyai kuasa untuk menolong, sebenarnya sungguh bisa memohonkan mereka. Karena sang Raja begitu murah hati membukakan untuk siapa pun. Banyak orang yang berpenampilan kumal dan berbau, tak dipersilahkan masuk di hadapan pintu-pintu rumah. Padahal jika ia mau bersumpah, niscaya Tuhan akan menerimanya.

“Demi kancing-kancing dengan hiasan trim hitam disematkan yang merupakan kebanggaanku, tidak semestinya mereka menyelesaikan dengan filosofi kriteria penalaran yang sebenarnya tak adil.” Apa saja pemikiran yang benar, atau kapan pengetahuan patut disebut benar atau salah, dan juga batas-batas itu seharusnya. Tapi apa yang dilakukan manusia, mereka malah menghancurkannya, dengan tangan-tangan yang sebenarnya telah mengetahui atau dengan sadar, alih-alih akan menginjakkan kaki ditanah hukum berpikir yang universal, tapi sebenarnya adalah keuntungan untuk satu golongan.    
        
Aturan-aturan tidak tertulis yang akan menjadi kebijakan-kebijakan hidup yakni dengan dibuatnya ‘teori kebaikan mutlak’, ‘teori kebaikan relatif’ dan ‘teori kejahatan.’ Tapi sebenaranya batasan yang dibuat adalah justru penyimpangan kebenaran yang sudah ditulis Tuhan, yakni mengupayakan bagaimana menyusun argumentasi yang logis untuk menjadikan sebuah kekuatan atau bekal kehidupan, padahal hal itu merupakan dari batas-batas penalaran manusia itu sendiri. Seperti halnya ada seorang kritikus yang menilai estetika suatu lukisan dengan nilai jual mahal di gedung pelelangan. Sebagian hadirin berpikir lukisan itu memang bernilai tinggi seperti yang dikatakan, tapi sebagian lagi akan berpikir bahwa seorang itu hanya mengklaim nilai tersebut. Ada kedua pemikiran yang masuk akal, sehingga oleh penalaran manusia bisa diterimanya, sehingga terlihat segala hal tadi adalah sebuah kebetulan atau peruntungan untuk lukisan tersebut.

Manusia membuat paham-paham oxymoron, yakni sebuah pemikiran dengan kalimat sebenarnya bersifat ego yakni akan lebih mementingkan kalangannya sendiri, dimana aturan yang didalamnya adalah membunuh paham itu sendiri, karena dibuatnya bernilai ‘standar ganda’. Padahal jika itu suatu ‘kebenaran’, biarpun serpihan-serpihan sekecilnya akan bisa menguatkan satu dengan yang lainnnya, karena satu kesatuan.  

Sebenarnya benteng-benteng yang dibangun oleh manusia adalah dinding ambisi, berisi segala hal mengenai pencapaian sebuah karya atau nilai. Ada hal positif yang ditunjukkan didalam sana, karena jika mereka tak mempunyainya, ‘berarti tidak mengisi kehidupan’. Tuhan memberikan kesempatan itu agar bisa menjadikan hidup mereka lebih bermanfaat sebagai manusia. Dan sebenarnya adalah salah satu bentuk ujian dari Tuhan dimana akan dilihat nilai kemuliaan seorang hamba. Tapi, ‘manusia adalah makhluk yang banyak bertanya’, karena keinginantahuan yang memuncak, sehingga ada didalam diri mereka selalu ingin melakukan pembuktian. Dengan filosofi sendiri maka dibuatlah paham-paham yang akan dijadikan perisai untuk menguatkan benteng mereka, lalu terciptalah sifat ambisius negatif yang mana akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan. Tuhan sudah mengatakan agar tidak berlebih-lebihan, karena segala sesuatu yang berlebihan sungguh tidaklah baik, dan suatu saat akan menghancurkan diri sendiri, karena sebenarnya takut akan ‘kekalahan’.   

“Demi pedangku batu kaca hitam dari lahar cair mulia yang terlalu cepat membeku, tidak seharusnya seorang hamba melangkahi pendapat Tuhan.”,  kata nutcracker itu akhirnya telah sampai pada ujung pemikirannya. Sebenarnya ia masih bimbang hendak pergi ke kota, akhirnya sepanjang perjalanan ini ia hanya bisa membatin. Dengan segala hal-hal yang daritadi membebani sebenarnya menambah bongkah dibalik topi menjadi begitu berat. Olehnya ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah batu besar didepannya, sambil menjulurkan sepatu akriliknya hingga membuat lengkungan gua akibat gundukan salju, dan membersihkan butiran yang mengendap di pundak pula. Sembari menyibukkan diri, tiba-tiba ia melihat wujud yang begitu aneh, bertubuh tinggi hingga mencapai dua meter lebih, tapi tak terlihat wajahnya, ditutupi jubah hijau-kecoklatan menyeluruh hingga tudung kepalanya, membawa lembing dengan sebuah karung kulit hewan. Bayangan tubuh itu berjalan pelan hingga memasuki sebuah gundukkan sejajar bongkahan batu-batu es disana. Tanpa pikir panjang, akhirnya ia pun mengikuti dari belakang. Setiap langkah ia berusaha tak menimbulkan suara gemerincing kunci kaitan dari benda yang menggantung dipinggang.

 Sebuah akar bulatan pohon besar ternyata yang membentuk gundukkan tersebut, dan bisa menjadi tempat persembunyian yang layak. Dengan atap-atap dahan cemara, dengan pintar sang penghuninya telah membuat pondok sempurna, dan seonggok kayu hidup seketika mengetahuinya begitu girang, karena ia butuh ruangan penghangat untuk mengeringkan dirinya. Lalu ia pun buru-buru menyapa tuan rumah,

“Maaf, jika diperbolehkan apakah aku bisa meminjam pemanas ruangan.”, katanya sopan sambil meletakkan tangan kanan ke bahu kiri sebagai tanda menghormati, lalu seperti orang bodoh mengguncang-guncangkan sepatu kerasnya yang penuh salju sehingga gigi gemeletuk. Namun tubuh itu tidak menjawab, tapi diluar dugaan membukakan lebar pintu yang menimbulkan suara derikan pada engsel, dan memberi aba-aba dengan lembing untuk mempersilahkan tamu asing itu masuk. Pintu itu terbuat dari tumpukan papan-papan dengan paku besar tak beraturan, olehnya siapa saja yang masuk harus lebih berhati-hati. 

Untuk sejauh ini ia tidak merasa terancam, karena didalam pun ia dipersilahkan duduk. Dan oh satu buah mangkuk hangat juga disugukan padanya, ini membuatnya sedikit lega dan sepertinya tidak akan bergelagapan dalam berbicara. Ia pun lalu menikmati sup didalam dengan tenang, sambil melihat isi didalam akar pohon ini. Dan satu sajian tadi pun telah dilahapnya dengan beberapa kali tegukan, tapi tak lama kemudian tiba-tiba ia tersentak, terpelanting topi tabungnya hampir mendekati perapian, karena sebuah tubuh tadi membuka jubah lalu menyembul keluar rambut-rambut abu dengan mata berselaput-selaput, sepertinya pandangan disana terlalu kabur. Dan seringaian itu seperti menunjukkan segala keanehan dan kegilaan, ini tak bisa dibiarkan berlanjut.

“Kau seorang manusia? Tanyanya sedikit takut sambil melayangkan pedang dari sarung pinggangnya kearah wajah orangtua itu. “Apakah aku harus membayar keramahtamahan tadi? Asal kau tahu saja, aku ini tidak begitu mengerti jalan pikiran manusia”, katanya kali ini mencoba menegapkan ruas belakang roll baut yang masih bergetar.

Beberapa saat lawan bicaranya diam, dan akhirnya berkata, "Haha..Itu terserah pandanganmu terhadap kami. Daripada kau memikirkan itu, lebih baik kau tambah sup gandum lagi, aku tak tahu kalau ada pengemis sakit yang mengikutiku dibawah kereta akar”, kata orang itu tenang dengan mengaduk isi bejana besar sambil tersenyum  karena mata selaputnya masih bisa melihat nutcracker linglung itu dengan berpalit-palit peterseli di wajahnya.


seravi

Komentar

Postingan Populer