Jaquetdroz
Sebuah katup berwarna gangang biru
keperakan dikembangkannya, sambil menahan udara dingin membenarkan alas kaki dengan
beberapa paku karat untuk kaitan. Lalu melambaikan mata kembali ke semua
penjuru, kalau-kalau pada susunan rapat bunga majemuk membutuhkan. Olehkarenanya
masih tetap berhati-hati, takut jika mengganggu susunan mereka. Namun akan tetap
memerintah anting-anting chandelier dikepala yang hendak berhenti berputar. Karena
jika memukul jauh keyakinan, logam mulia seluruh atau batu permata yang
mengelilinginya akan beruntuhan, yang mencanangkan hari esok akan lebih kebal
padanya. Kalau saja ia tahu kaki menciduk air yang sedikit menggenang sedang mengatakan
“Air ini sebenarnya-benarnya sepekat batu mirah, maka lihatlah lebih seksama”. Sedangkan
pohon serut dibelakang menyeruak kedalam berniat melindungi, seperti penangkal.
Walaupun mungkin akan sulit, yang kulit keraknya hendak mengelupas atau bertotolan,
jika hari ini terakhir hidupnya, mungkin akan mengambil secawan sari satu-satunya
dari punggung , lalu menyerahkan ke anak disana. Namun derita tak akan reguh
sebelum itu, maka berharap agar air bah yang menggelincir dari langit tidak
terburu-buru untuk menutup kerannya, atau makhluk yang berbentuk ‘buku mengecimus’ dengan bulu sayapnya melebarkan
lebih hingga membuat tangisan para awan. Maka anak itu mendapat paling tidak
beberapa lagi sebagai balasan karena letih menunggu , dan ia akan terus
berharap, pada belas seorang yang akan mengenakan jasa payung antarnya. Pada
saat itu mencoba memberanikan diri, dan beranjak dari sana sambil menarik-narik
bentuk kail yang menjadi pegangan dikala gugup. Kemudian menjajakan sejenis seludang helai tadi kepada orang-orang
yang lalu lalang disana, dan memanggil-manggil, sambil mengatakan pada diri
sendiri, “Andai, mengembalikannya pada Tuhan teramat mudah”, namun hal itu segera
dilarikan.
Bersama sebuah yang segera tumbuh.
“Tutup matamu perlahan-lahan.” Sebab merambat pada kurungan yang sebenarnya
didiamkan. “Kemudian kau tak melihat
apa-apa.” Yang ia didalam, mempunyai jelmaan lain di dasar. Jika saja salah
satunya, adalah misteri yang terakhir, menggulung pada tumpukannya. Ada sebuah kotak
musik yang adalah garau disana, harus menutup mata lagi. Didalamnya hidup seorang
anak yang memainkan alat-alat peraganya yakni sebuah jam pendulum, bersuara tik-tak yang sangat aneh, kelak akan
mengerti apa yang ditunggunya seperti pada saat awal mula terbentuknya orkestra
Leipzig Gewandhaus. Instrumen benang bersamaan
mereka tak dapat sabar memperagakan di tiap baitnya, sedemikian waktu akan
merasakan, sedang mencari apa saja di atas platea,
atau bahkan yang berada di dudukan bangku penonton. Dan suatu hari rasa sesal
di ujung kaki akan menjadi kaku sendiri, yang boneka pengendali tak takut mati.
Berikut menjadi seorang sejatinya, jika Tuhan tak menurunkan lebih dulu di masa
yang jauh dari masa depan sekarang. Akan bermunculan simfoni karya luas dalam
perekrutan anggota-anggotanya. Menghirup nafas lebih dalam hingga urug dengan
tabung lebih dalam untuk memainkan di pesta-pesta , dari itu ada saatnya waktu
bertanya. Tapi jika beberapa langkah mulai gelisah, mendengarkan kotak musik
lagi. “Ada tibanya suara dari lapisan
logam lain didalam”. Andai pada kenyataan kotak terbuat dari serbuk logam ‘tidak biasa’, yang mempunyai nut dengan
denting indahnya, memberi hadiah itu karena telah memaafkan diri sendiri, bermaksud
hanya menjauhi dari perbuatan keji, “Tapi ingatlah, tak diperuntukkan membenci
manusia manapun”.
“Layaknya
cat air dengan mencampurkan warna menjadi putih keabuan kemudian menguaskannya
untuk membuat gerakan menggali, lalu berkeliling membentuk sebuah kelopak,
terus ke kelopak lainnya, pergi dari atas kebawah melukis sebuah bayangan.”
Dan semua akan disibukkan dengan ujian yang sama banyaknya, sehingga seperti
teman perjuangan yang sama letihnya. Dari sanalah ada satu hal yang diketahui,
bahwa berangkat dari dasar yang sama, yakni diberi tiap-tiap ada suatu selubung
berbentuk tangkuk didalam hatinya,
yang berupaya menyalurkan seperti sinergi kekuatan pikiran positif didalam, menampung
citra dan pola seperti itu tak terhingga, menyebarkannya, membuat tertunduk kebengisan
yang ada ditengah peradaban-peradaban, lalu akan disediakan waktu untuk
menyimpan kekuatan itu masing-masing dalam menghadapi semua. Namun jika saja dalam
pertarungan paling besar ini menjadi seorang pecundang, sebaiknya tak takut menemui
pada sang penjaga yang ada didalam, berikutnya mengatasnamakan serba putih,
melawan arus-tapi bisa dipertanggungjawabkan, sambil mengatakan, “Ini terlalu
terang, mata tak bisa melihat apa-apa.” Jika
ada yang mencela karena dirimu mengatakan sebuah kebenaran, itu karena
menyerang pada kelemahan kepribadian. Tapi jawablah dengan kalimat begini, “Tak mengapa dengan diriku, tapi apa kau sependapat
menyetujui yang sudah tertulis disitu?”
Allison, nama anak laki-laki itu. Cahaya lentera miliknya menggerakkan pada
sebuah seperti karya automata Jaquetdroz agar membukakan celah-celah walaupun
sedikit untuk meneruskan seberkas. Dan akan membiarkan kotak musiknya menyala, biduk
yang membawa sebuah barang berharga, akan hanya ada satu keyakinan. Akan hanya
ada satu keyakinan! Dibuat sedemikian rupa layaknya sebuah benda itu yang
sedang menulis beberapa baris, mampu bergerak dengan menggunakan mekanisme
manual , yang diatur algorithm sendiri. Layaknya membangun
kastil cermin yang memantulkan sebuah nyatanya, membaca sebuah bait atau
parafase yang penilaian-penilaian moral dalam membentengi tempat lusuhnya atau
sindiran alegoris puisi.
... seravi
... seravi


Komentar
Posting Komentar