Music Box
Bentuk-bentuk atau ranahnya seperti seorang gagu tua yang meneduhkan. Ia akan memperdulikan darimana mengambil cahaya hingga terbit. Seperti membuat sebuah gaduh berpaling kearah sendiri. Dimana dua jendela tembaga ukirnya diderak-derakkan, hingga ada sebuah nut kurung tak biasa. Permulaan baik yang sudah ditunggu. Berurutan dengan hari kemarin, tempat yang pengartian bukan seperti rumah pangsa rusak teruk. Karena punggung yang menguatkan bukan ingin sekali-kali, hanya saja diri kembali mencela. Sudah lelah, begitu seterusnya. Kita, detik ini akan memulanya, lebih dulu mengajaknya. Pulang atau berdiam. Layak diperkuat, dengan segala pendapat-pendapatnya.
Andai saja sudah lupa, bergerak menemui yang ada saja dahulu.
Tidak perlu dengan terang-terangan persaingan, kau pula bukanlah tenaga
asingnya. Dari yang bisa dipercaya, paling disulut.
"Dia tidak tarik balik kenyataan balik. Perkataan ini sangat
sensitif bagiku.”, katanya.
Maka kau mungkin saja bisa dengan sembunyi-sembunyi, tapi percayalah tak semudah itu. Ada hal lain, yang membuatnya bertekuk lutut. Sebenarnya mengendap dikepala, tetap semilir hingga tak henti-henti. Seperti menata ruang kerja dirumah, buku-buku berserakan, mungkin dengan satu set vas lantai dengan meletakkan tanaman bercabang yang dibandul, atau desain geometris lingkar-lingkar yang bersih bisa menjadi titik fokus.
Maka kau mungkin saja bisa dengan sembunyi-sembunyi, tapi percayalah tak semudah itu. Ada hal lain, yang membuatnya bertekuk lutut. Sebenarnya mengendap dikepala, tetap semilir hingga tak henti-henti. Seperti menata ruang kerja dirumah, buku-buku berserakan, mungkin dengan satu set vas lantai dengan meletakkan tanaman bercabang yang dibandul, atau desain geometris lingkar-lingkar yang bersih bisa menjadi titik fokus.
Luangkanlah tempat yang bersahabat, karena kita sebenarnya
sama-sama sedang dalam ketakutan. Bagaimana perasaan jika sedang takut? Ia sendiri
ingin melihat bagaimana hal itu bukanlah sesuatu yang hormat karena takut seperti
melihat sesuatu yang besar saja. Bukan karena paksaan, situasi yang mendesak,
atau menginginkan balas budi, tapi diri sendiri yang memilih. Ya, itu juga
tugasnya, menyimpan semua memori yang ada, seperti pertama kali tuannya ketika
mengerjapkan mata, ada perasaan yang sungguh membuat terharu, maka bukan
seperti takut yang biasa, hanya saja rasanya ingin menyayangi, kemudian memberikan
sesuatu berharga. Andaipun tak diminta olehnya, berharap tergerak sendiri untuk
membantunya lagi menyampaikan keberadaannya.
Karena ia bukanlah sebuah yang mudah disebut namanya, tidak
terlalu muncul ke permukaan. Oleh karenanya ia sering seperti membuat
perlindungan atau tenda sendiri, didalam perjalanannya yang selalu berpergian
membawa kulit keemasannya yang cukup berat, juga tas yang berisi
pernak-perniknya.
“Aku melihat ada yang berkembang, seperti tiga atau empat
pohon apel besar”, katanya mengetamkan bibir jendela karena terperanjat .
Lalu mengikuti intuisinya pergi kesana, menderak-derakkan kembali
jendela sehingga menimbulkan alunan sendu. Dan kali ini sedikit sulit,
sudut-sudut kakinya kewalahan memundurkan banyak tanaman kepiting liar, juga
halaman ngengat, dan akan menghadapi banyak simbion, yakni sebuah monochrome. Tapi
ia seorang cerdik, menghadapi spectrum warna itu akan lebih berhati-hati pada
makhluk yang berpostur paling pendek sendiri, bergeliak rambut-rambutnya. Bernama
Graegleah, yakni yang akan terlihat
dominan, karena seperti meningkatkan persepsi pada kekuatan material, maka
itulah yang justru lebih diperhatikan, karena amat berbahaya jika benda itu
memberikan dirinya komposisi yang tepat, secara tak kasat mata bisa membuat
kesan tinggi diantara dua warna besar. Lalu perlahan akan terbawa dicerita-cerita
gelap yang tidak terlihat cacahannya. Seperti membran yang mengapung di ruang
dimensi lebih tinggi lagi, tidak bisa dipecahkan oleh teka-teki tua atau
persoalan hierarki.
Keberadaan itu memang membuat siapa saja yang diluar akan
tersengal-sengal dalam nafasnya. Bahkan tak dapat mengenal lagi benteng-benteng
layar, seperti layaknya ruh didalam mulai mengerut. Namun tak mengapa, akan ada
saat datang sebuah kebenaran. Andai pun tiba-tiba seperti muncul perubahan baik
pada diri yang terlihat besar, sehingga orang-orang akan menyebut seorang
dengan ‘seonggok daging munafik’. Bersabarlah, Tuhan mengetahui bagaimana niat atau kesungguhan seseorang. Jika segala
kebaikan adalah berasal dari kerajaan atas, sedangkan diri sendiri tidak lepas
dari kesalahan. Olehnya perlahan tampiklah keterpurukan, dan tetaplah memberi kebaikan.
Secara prinsip keadilan Tuhan, seorang diletakkan dalam lipatan berongga. Tuhan
ingin mengajarkan dengan ujian-ujian.
Sebuah hidup tadi masih disana, jendela tembaganya menderak
lebih keras, akhirnya sudah selesai menjawab beberapa pertanyaan sulit, hingga bisa
keluar. Sambil melihat sudut kotaknya, kalau-kalau ada paku tanaman yang menggoresnya,
kemudian memusatkan kembali pikiran ke tempat tujuan semula, dan melanjutkan
perjalanan.
Ia lalu tiba di sebuah karpet, disana seperti mengekstrak
cat dari moluska, hingga mendapatkan
warna merah dan ungu tua. Banyak cermin-cermin juga yang bergelantungan di
udara, bukan cermin, karena seperti piringan perak, tapi begitu jika ingin
menyebutnya, karena sering diilustrasikan demikian. Kemudian bersejajar hingga
membentuk terowongan, dan pantulan baru didalam semakin mengecil, terlihat
warna putih samaran, tapi sebenarnya itu adalah warna ‘hijau’.
Dari kejauhan sudah terlihat beberapa pohon yang bisa
berjalan sendiri, seperti walking palm
bergeser dengan menumbuhkan akar baru. Untungnya mereka tidak terlalu bisa bergerak
cepat, hingganya ia akan mudah saja mendekat, walaupun masih ada bergeliat
karena seperti takut digergaji.
"Tenanglah, aku hanya akan menuangkan bubuk ini saja.”,
katanya kepada pohon-pohon itu, yang berjumlah empat, sembari membuka jendela
dan mengambil kantung mengkilapnya.
Tapi tiba-tiba ada yang melabrak maju dan berkata, “Untuk
apa? Lalu apa yang terjadi kemudian? Jangan-jangan kau hendak merusakkan tandan
bunga hingga mengurungkan musim berbuah, atau menutup talang ‘air kesembuhan’
dari paralon emas.”, kata salah satu pohon yang berwajah dingin.
“Menurutmu untuk apa?”, tanyanya sedikit ingin tahu pendapat
mereka.
"Seperti yang kukatakan tadi, bukan. Kau ini memang gagu.”, giras
sang pohon seperti beralasan asal-asalan.
"Inikah yang menyebabkan manusia banyak bertanya? Bahkan aku
belum mengenalkan diriku yang sebenarnya siapa.”, katanya kali ini sedikit
tenang. “Katakanlah aku hanya seorang utusan yang mengirim surat”, tambahnya
dengan mata siluet berpura, lalu kepala berpikir cepat, “Setidaknya aku membawa
stempelnya”, tambahnya sambil tersenyum sedikit jahil dan menunjukkan kantung
tadi yang ada bekas berukir mawar seperti dari cetakan signet ring.
" Akan kujelaskan. Sebelum itu kalian harus menyebutkan tujuan atau keinginan kalian sebagai tanda menerima ini, sebaiknya mulai dari
engkau dulu.”, katanya lagi sambil menunjuk kearah yang bertubuh galah canggah
paling tinggi.
"A…aku belum memikirkan apa tujuanku.”, kata pohon itu
seperti ingin menangis, ia memang yang paling terlihat penakut diantara semua.
Lalu cepat-cepat beringsut menyembunyikan muka dibelakang pohon dingin.
" Kau tak perlu mendesaknya, ia bahkan tak bisa menghitung
jumlah berapa buah yang dimilikinya sendiri!”, kata sang pohon dingin tadi sambil
merentangkan cabang seperti hendak melindungi temannya, lalu melanjutkan
seperti ada suara degum. “Mengapa kau menanyakan hal yang tak mau kami jawab,
itu sensitif!”
"Mengapa kau selalu berprasangka buruk anak muda. Apakah kau
punya dendam lama?”, tanyanya bijak sambil tersenyum seperti ingin mencoba mengerti.
"Tidak-tidak, tidak seperti itu”, kata satu pohon yang
paling keriting tiba-tiba menyela, yang satu ini terlihat bingung dari
semuanya, seperti seorang anak berkepribadian khusus. “Meski dikatakan, tapi
tidak mirip seperti itu.”, kata pohon itu lagi, sambil tertawa sendiri.
"Sebenarnya kami punya keinginan. Tapi masih menerawang”,
kata pohon yang paling bertajuk lebat dengan mata sendu manis dengan corong suara
besarnya, yang ini sungguh terlihat ramah.
"Lagipula apa untungnya bagimu menanyakan hal itu?”, kata sang
pohon dingin kembali.
"Bisa dikatakan demikian”, jawabnya kali ini tegas, dan
kembali melanjutkan, untuk pertama kalinya ia menekankan suara.
"Kita akan
bekerja sama. Kenapa kutanyakan harus mempunyai? Layaknya menandai satu,
kemudian bersama pikiran membentuk suatu titik sehingga tubuh akan
mengejarnya. Jika tidak bermula dari itu, akan sulit menyuruh untuk membuat
yang seperti tekad. Andai menemui tujuan kebaikan didalam yang diucapkan,
semakin lama akan membawa satu aura penting yang akan diarahkan Tuhan. Dan sebenarnya
jika tak sebagai seorang empunya, maka seperti sudah dalam kematian, ketika diangkat
ruh dari sana, tak ada lagi yang bisa dilakukan. Jika seorang yang ingin mengatakan
yang benar di saat-saat kematiannya karena terdesak siksa, namun Tuhan menyuruh
malaikat untuk menuangkan pasir, karena iman seperti itu tak ada gunanya lagi.
Bagaimana rasanya andai menjadi salah satu seorang yang tak punya arti? ‘Padahal keinginan terdalam setiapnya
mempunyai mimpi, karena ingin menjadi berarti’ ”.
seravi


Komentar
Posting Komentar