Snowbush
Adakah yang melihatmu didalam sana? Bila tidak, kau perlu menjadi pembuat kristal batu itu. Apakah kau butuh pertolonganku? Bila tidak, kau bisa mengubah ruangan itu menjadi rumah-rumah mereka. Anak-anak snowbush yang ayal menjadi tiara kemuliaan dari negeri bawah jamur pipa cincin anullus. Aku membuatkanmu cerita fiksi, yang dikembangkan dari ingatanku ketika melihat sekeliling didunia atas. Didalamnya menambahkan fantasi, ah ya, kau mungkin sependapat pula. Seperti sebuah buku yang disana tidak ada gambar satu pun, namun setiap orang mempunyai khayalan sendiri ketika menyimpulkan.
Ailie..Ailie..Anak didalam sana yang sengaja menebalkan mata dengan
terburu-buru dan melukis pipinya dengan bubuk buah bit merah agar terlihat
cantik. Seluruh anak-anak perempuan manis mirip ilustrasi pajangan Kestner bak
malaikat diseberangnya dengan bekas cetakan roll rambutnya yang bergelombang
kecoklatan merah indah tertawa. Kulit mereka sangat baik terbuat dari porselen,
sengaja dibuat putih oleh seorang seniman dengan bebercak-bercak merah mudanya
yang khas, tubuh yang dibalut dengan busana kontemporer itu seperti menunjukkan
bahwa ‘renda-renda seperti inilah yang pantas untuk karya seperti kami’, maka
akan mengibaskan lagi bulu mewahnya yang melambangkan ‘hal-hal ungu’. “Kami
harus berwarna ungu!.” kata mereka”. Sedangkan kerah-kerah kaku berbentuk roda
yang membuat dagu setengah dinaikkan dan bahan sutera dan beludru yang dihias
dengan benang-benang emas juga perak memang karena boneka-boneka itu ingin
menunjukkan kastanya.
Namun
berbeda dengan anak perempuan yang satu itu, tapi ia berjalan normal, bahkan
sangat normal, “Ah kau, gaun seperti inilah mode yang melebihi imajinasi
mereka, bukan. Nanti dimasa datang lambat laun dari draperi-draperi yang
sangat kokoh kurun itu menjadi gaun perca yang seperti ini”, balasnya
mengedipkan matanya. Lalu ia mengembangkan seringaiannya, tapi burung-burung
kecil yang bertengger dipohon justru membuat alih-alih. “Apa yang salah,
bukankah aku hanya mengandaikan satu saja, kalau hidup sederhana itu
benar-benar ada, bukankah tentu menyenangkan, mereka hanya tak mengerti
apa-apa.”, kata batinnya dalam bahasa pengartian pada salah satu burung itu.
Dirinya sendiri senang sekali hal-hal yang mengenai keindahan yang alami.
Teramat mengagumi orang-orang rendah hati, yakni yang banyak membungkuk di
kehidupan sebelumnya, maupun di kehidupan lainnya. Apakah sungguh-sungguh
demikian? Buktinya selama hidupnya pernah bertemu dengan orang mengagumkan, ada
beberapa. Walau hanya sedikit, tapi baginya mereka adalah ‘perpustakaan besar’,
andai saja dapat menaiki tangga yang bahkan paling tinggi untuk membaca bagian
rak-rak diatas, rasanya ingin menggali lagi buku didalamnya. Sungguh mengagumi
jalan pikiran seperti itu, ya sungguh rendah hati, ia pikir seorang seperti itu
sudah menjadi harta karun tersembunyi di hutan Wychwood, tetapi
tidak, ada sebagian muncul ke permukaan dan agaknya bisa terlihat.
Menurutmu bagaimana jalan
pikiran orang dewasa, Ailie? Didalam duniamu pesta minum teh baru menyadari
sudah banyak diam, mengaduk-aduk kembali cangkir yang berisi air yang sedikit
manis tersebut, andai saja bisa menambahkan lagi banyak blok-blok gula, atau
turkish delight, ya ia pengguna lebih makanan manis, permen agar-agar jelly
yang mirip seperti itu membuat kepala kembali tenang. Tapi tak masalah jika tak
ada, akhirnya untuk menghindari hal-hal yang tak baik, beralih ke tier dan tray
besar yang ada disana. Bentuk mereka indah pikirnya, tatakan indah dengan renda
besi putih baju perang. Bertingkat-tingkat, dari alas yang besar kemudian
sedikit mengecil dan lebih mengecil lagi sampai puncak. Sedikit tertarik dengan
kue yang sampingnya, akhirnya ia pun mengambil mereka untuk membuat indah
piring, kemudian kembali pada kerumunan lagi, memperhatikan orang-orang .
Sebenarnya semua orang
masing-masing memiliki hati yang baik. Baiklah, mungkin kalimat itu tidak
sesuai, tapi katakanlah demikian. Bagaimana jika berasumsi bahwa di dunia semua
orang memiliki hati nurani yang baik. Hanya saja kepanikan yang dibuat diri
sendiri akan membuat arahnya berbeda-beda. Ketika seorang mengeraskan
suara itu, masih sayup-sayup terdengar. Ya, karena waktu seperti ini biasanya
masih sepi, hanya kemari untuk menggodanya saja. Mungkin maksudnya mereka
menegaskan adalah makhluk penunggu disini atau semacamnya. Sedangkan ia tak
mengkhawatirkan, makanya ia terlihat tenang, didalam ruangan itu semuanya ini
seperti miliknya seorang. Ia pun akan dengan riang sambil memusatkan
pencariannya kepada yang ditujunya, lihatlah matanya mendelik setiap ia seperti
menemukan awal angka ditelusuran koridor. Matanya kini pun masih menggilir,
tapi disini tak ada, padahal ia sudah di area yang dimaksud, ia ke arah
berikutnya, lalu ia mencoba menyelongsong ke bagian lain, di belakangnya. Dan
tiba-tiba, ia melihat yang tidak biasanya, “Bukankah yang kukatakan padamu
benar, Ailie. Masih ada beberapa.”
Mungkin ia sedikit agak
penasaran dengan yang bingung itu, yang sedang menyeretkan jari telunjuk dari
atas ke bawah pada salah satu tingkatan kue pada pojokan lampu taman yang
paling sepi. Ia pun tak segan menghampirinya-berharap ini akan menyenangkan.
Sesuatu itu mengenakan gaun indah, berperawakan kikuk seperti ranting spiral
ujung tanaman yang tak bisa dilenturkan, wajahnya dahaga, seperti dibutuhkan
banyak shower penyiram tanaman untuk mengguyur tubuhnya. Sedangkan pandangannya
kosong, sama seperti seorang penunggang yang memangku diam di pelana. Tapi
sebenarnya semua itu tak menghalangi jika untuk berteman, lagipula ia akan
senang bila ada orang baru, oh ruangan ini benar-benar sudah seperti gudang
mini di laci yang dingin, semakin menyiut dalam sorongan. Tak banyak yang
datang, begitu sepi, bila seorang tertawa pun akan diredam oleh buku-buku yang
sudah berabad tak dijamahi.
“Aku tahu yang terbaik disini.
Kalau kau mau akan kutunjukkan tempatnya, ah tentu saja kau tak perlu membayar,
bagaimana dengan memulai pertemanan saja”, katanya membulatkan matanya yang
sedari tadi memang sudah terlihat senang.
“Ah aku sebenarnya tidak terlalu
tertarik dengan ini semua, lagipula aku pemakan yang lambat.”, kata yang
bingung tadi.
Aku tahu Ailie akan terkekeh,
ya, ia memang orang yang mudah seperti itu. “Kau pastilah bukan pemakan yang
lambat.”, kata Ailie lalu tertawa kecil lagi.
“Bagaimana kau tahu kalau
aku ini bukan pemakan yang lambat?”, tanya si bingung setelah mendengar yang
baru dikenalnya ini seperti serba tahu.
“Seseorang mengerakkan indera perasa
imajinasinya, kau hanya menolak mereka.”, kata Ailie masih sedikit menahan
tawanya.
Si bingung itu tidak senang, di
benaknya terlintas permainan domino besar dimana deretan kue-kue ini akan
menjatuhkan satu dengan yang lainnya lalu berakhir ujungnya di kepala lawan
bicaranya ini. Untungnya orang yang dimaksud tidak tahu, malah berkata lagi,
“Oh ayolah, jangan kaku begitu, aku akan mengenalkanmu ke teman-temanku
disini”, katanya seraya mengibaskan tangannya menunjuk ke semuanya. “Aku
sedikit akrab dengan mereka”, tambahnya lagi mencoba mencairkan suasana. “Baiklah
tukang bingung, lalu apa yang menyebabkanmu datang kemari?, tanya Ailie dengan
mata membelalak sedikit agak penasaran.
“Entahlah, aku merasa
ingin udara lain saja, setiap hari pekerjaanku hidupku rasanya berulang-ulang
setiap harinya, kau tahu, bagiamana rasanya hidup yang berulang-ulang, agak
mengerikan”, jawab si bingung sedikit sayu memandang kosong sembari memasukkan
tangannya. Mendengar itu sebenarnya Ailie agak lega, sesuatu itu terlihat
sekali menyambut pertemanan yang bisa dikatakan buru-buru ini, ia pun akan
dengan senang membalasnya, berjanji di hati akan menjadi teman bicara yang
baik.
“Ya, aku tahu. Pita raksasa yang
mengelilingi bulan penuh, selamanya terus berputar, yang dilihat hanya kepala
dan ekor saja.”, kata Ailie masih saja terus menyeringai. “Mungkin aku sedikit
sama sepertimu.”, tambahnya lagi dengan mata agak membelot kearah lain,
dibenaknya muncul mengenai pekerjaannya yang sama setiap hari, tumbuhan yang
sering ditemuinya atau kelakuan teman-temannya dikota ini.
Sesuatu itu diam, memperhatikan
orang ini dengan seksama, lalu berkata, “Ah, itu hanya ucapanmu saja, kulihat
kau segar bugar begini, hidupmu pastilah menyenangkan.”, katanya menduga karena
tak percaya. “Bagaimana kau bisa tahu rasanya, apa kau bisa mengingat beberapa
periode dalam hidupmu, atau sebulan yang lalu, seminggu yang lalu, bagaimana
jika tiga hari yang lalu? Aku saja tak bisa lagi mengingat, rasa-rasanya mereka
sama saja”, katanya lagi dan kali ini dengan nada datar.
Ailie tertawa, lalu menjawab.
“Kau ini, menanyakan itu seperti dunia sudah tak ada lagi saja. Ya, memang aku
tak bisa mengingat tiap detilnya, tapi setidaknya dari tak terhingga mereka itu
ada yang bisa kusimpan, jadi kupikir menarik saja.”, kata Ailie tenang. “Aku
mencoba sesuatu yang lain, yang menurutku menarik, lalu aku malah menemukan
hal-hal diluar dugaan, bisa dikatakan gila, maka mereka akan pintar menembus,
akhirnya aku benar-benar mengingatnya.”, katanya lagi seperti bangga sekali
dengan yang dijalaninya selama ini.
“Lalu bagaimana bisa?
Misalnya?”, kata si bingung lugu yang benar-benar penasaran sembari memasang
telinga kelinci lebar-lebar.
“Misalnya...”, kata Ailie
mencoba mengingat-ingat dan tertawa sendiri. Lalu tak lama kemudian ia
berkata lagi, “Kau tahu, rasanya mempercayai cerita seseorang hingga terjepit
didalam cerobong asap. Kemudian hampir menelan jamur gigi berdarah yang dikira
agar jelly. Terkunci beberapa minggu didalam ruang terlarang sayap timur istana
lalu memakan kayu lapuk, ke tempat raksasa berambut otak, mencari batu Kosh
dari neraka atau ramuan-ramuan Manchineel masa lalu, dan hampir bertemu
penyihir yang hanya bisa mengubah semuanya jadi apel, apel kau tahu!”, ia
menahan tawa mengingat masa-masanya.
Si bingung yang mendengarnya
berdelik aneh, orang ini pastilah dari dunia lain, benar-benar, kalau tidak
pastilah demikian, mungkin pemikirannya akan lebih baik jika belum berakhir ke
sana.
Tapi kemudian ia diam, sekali
lagi diam, itu memang tak bisa dipungkiri, bahwa disana ada hal-hal yang belum
pernah ia ketahui. Sebenarnya dalam hati agak kesal, ingin rasanya
melabrak, namun kali ini mengalah lebih baik, ya mau diapakan, ia juga tak
punya hal menarik untuk diadu, akhirnya ia hanya termangu.
Sedangkan Ailie yang melihat
teman barunya begitu justru menjadi kaku, ia sebenarnya ingin menyemangati
temannya itu, atau mungkin pengalaman dirinya saja belum cukup, pikirnya. Ia
mendongak, memikirkan cara, oh baiklah, tak ada pilihan lain.
“Kau mau kuberitahu sesuatu,
yang orang lain mungkin belum pernah mencobanya?, tanya Ailie sembari
mengedipkan mata. “Kau mungkin karena ini akan merasa kesemutan kaki karena
geram atau semacamnya. Ah sebenarnya aku juga sedang dalam misi ini.”
Si bingung mendelik aneh lagi,
tapi kali ini tak tahu mengapa ia percaya. “Kau punya sesuatu menarik?”,
tanyanya masih memasang telinga kelinci panjangnya.
“Yah, bisa iya bisa tidak,
tergantung kau menanggapinya nanti seperti apa. Kita ke pavillun istana
disini”, kata Ailie seperti senang karena melihat temannya terpancing.
Si bingung buru-buru
menyembunyikan wajahnya itu kebelakang, lalu mengikuti temannya itu yang baru
saja seperti merontokkan tulang-tulangnya seperti selepas bangun tidur tadi.
Mereka pun berjalan keluar dari sana, melewati tier raksasa dan para boneka
bisquie . Si bingung yang berjalan dibelakang melihat punggung orang yang
seringkali menyeringai ini lekat-lekat, sambil mengatakan pada diri sendiri,
“Lelucon, benar-benar.” Ia memicingkan matanya. Lalu dibenaknya
memikirkan sesuatu. Kalau saja, kalau saja ia juga bertemu penyihir apel,
rasa-rasanya orang ini akan diubahnya juga jadi pie apel.
seravi


Komentar
Posting Komentar