Snowbush


www.victorianweb.org

 


        Adakah yang melihatmu didalam sana? Bila tidak, kau perlu menjadi pembuat kristal batu itu. Apakah kau butuh pertolonganku? Bila tidak, kau bisa mengubah ruangan itu menjadi rumah-rumah mereka. Anak-anak snowbush yang ayal menjadi tiara kemuliaan dari negeri bawah jamur pipa cincin anullus. Aku membuatkanmu cerita fiksi, yang dikembangkan dari ingatanku ketika melihat sekeliling didunia atas. Didalamnya menambahkan fantasi, ah ya, kau mungkin sependapat pula. Seperti sebuah buku yang disana tidak ada gambar satu pun, namun setiap orang mempunyai khayalan sendiri ketika menyimpulkan.

       Ailie..Ailie..Anak didalam sana yang sengaja menebalkan mata dengan terburu-buru dan melukis pipinya dengan bubuk buah bit merah agar terlihat cantik. Seluruh anak-anak perempuan manis mirip ilustrasi pajangan Kestner bak malaikat diseberangnya dengan bekas cetakan roll rambutnya yang bergelombang kecoklatan merah indah tertawa. Kulit mereka sangat baik terbuat dari porselen, sengaja dibuat putih oleh seorang seniman dengan bebercak-bercak merah mudanya yang khas, tubuh yang dibalut dengan busana kontemporer itu seperti menunjukkan bahwa ‘renda-renda seperti inilah yang pantas untuk karya seperti kami’, maka akan mengibaskan lagi bulu mewahnya yang melambangkan ‘hal-hal ungu’. “Kami harus berwarna ungu!.” kata mereka”. Sedangkan kerah-kerah kaku berbentuk roda yang membuat dagu setengah dinaikkan dan bahan sutera dan beludru yang dihias dengan benang-benang emas juga perak memang karena boneka-boneka itu ingin menunjukkan kastanya.

       Namun berbeda dengan anak perempuan yang satu itu, tapi ia berjalan normal, bahkan sangat normal, “Ah kau, gaun seperti inilah mode yang melebihi imajinasi mereka, bukan. Nanti dimasa datang lambat laun dari draperi-draperi yang sangat kokoh kurun itu menjadi gaun perca yang seperti ini”, balasnya mengedipkan matanya. Lalu ia mengembangkan seringaiannya, tapi burung-burung kecil yang bertengger dipohon justru membuat alih-alih. “Apa yang salah, bukankah aku hanya mengandaikan satu saja, kalau hidup sederhana itu benar-benar ada, bukankah tentu menyenangkan, mereka hanya tak mengerti apa-apa.”, kata batinnya dalam bahasa pengartian pada salah satu burung itu.

                Dirinya sendiri senang sekali hal-hal yang mengenai keindahan yang alami. Teramat mengagumi orang-orang rendah hati, yakni yang banyak membungkuk di kehidupan sebelumnya, maupun di kehidupan lainnya. Apakah sungguh-sungguh demikian? Buktinya selama hidupnya pernah bertemu dengan orang mengagumkan, ada beberapa. Walau hanya sedikit, tapi baginya mereka adalah ‘perpustakaan besar’, andai saja dapat menaiki tangga yang bahkan paling tinggi untuk membaca bagian rak-rak diatas, rasanya ingin menggali lagi buku didalamnya. Sungguh mengagumi jalan pikiran seperti itu, ya sungguh rendah hati, ia pikir seorang seperti itu sudah menjadi harta karun tersembunyi di hutan Wychwood, tetapi tidak, ada sebagian muncul ke permukaan dan agaknya bisa terlihat. 

Menurutmu bagaimana jalan pikiran orang dewasa, Ailie? Didalam duniamu pesta minum teh baru menyadari sudah banyak diam, mengaduk-aduk kembali cangkir yang berisi air yang sedikit manis tersebut, andai saja bisa menambahkan lagi banyak blok-blok gula, atau turkish delight, ya ia pengguna lebih makanan manis, permen agar-agar jelly  yang mirip seperti itu membuat kepala kembali tenang. Tapi tak masalah jika tak ada, akhirnya untuk menghindari hal-hal yang tak baik, beralih ke tier dan tray besar yang ada disana. Bentuk mereka indah pikirnya, tatakan indah dengan renda besi putih baju perang. Bertingkat-tingkat, dari alas yang besar kemudian sedikit mengecil dan lebih mengecil lagi sampai puncak. Sedikit tertarik dengan kue yang sampingnya, akhirnya ia pun mengambil mereka untuk membuat indah piring, kemudian kembali pada kerumunan lagi, memperhatikan orang-orang . 

Sebenarnya semua orang masing-masing memiliki hati yang baik. Baiklah, mungkin kalimat itu tidak sesuai, tapi katakanlah demikian. Bagaimana jika berasumsi bahwa di dunia semua orang memiliki hati nurani yang baik. Hanya saja kepanikan yang dibuat diri sendiri akan membuat arahnya berbeda-beda. Ketika seorang  mengeraskan suara itu, masih sayup-sayup terdengar. Ya, karena waktu seperti ini biasanya masih sepi, hanya kemari untuk menggodanya saja. Mungkin maksudnya mereka menegaskan adalah makhluk penunggu disini atau semacamnya. Sedangkan ia tak mengkhawatirkan, makanya ia terlihat tenang, didalam ruangan itu semuanya ini seperti miliknya seorang. Ia pun akan dengan riang sambil memusatkan pencariannya kepada yang ditujunya, lihatlah matanya mendelik setiap ia seperti menemukan awal angka ditelusuran koridor. Matanya kini pun masih menggilir, tapi disini tak ada, padahal ia sudah di area yang dimaksud, ia ke arah berikutnya, lalu ia mencoba menyelongsong ke bagian lain, di belakangnya. Dan tiba-tiba, ia melihat yang tidak biasanya, “Bukankah yang kukatakan padamu benar, Ailie. Masih ada beberapa.”

Mungkin ia sedikit agak penasaran dengan yang bingung itu, yang sedang menyeretkan jari telunjuk dari atas ke bawah pada salah satu tingkatan kue pada pojokan lampu taman yang paling sepi. Ia pun tak segan menghampirinya-berharap ini akan menyenangkan. Sesuatu itu mengenakan gaun indah, berperawakan kikuk seperti ranting spiral ujung tanaman yang tak bisa dilenturkan, wajahnya dahaga, seperti dibutuhkan banyak shower penyiram tanaman untuk mengguyur tubuhnya. Sedangkan pandangannya kosong, sama seperti seorang penunggang yang memangku diam di pelana. Tapi sebenarnya semua itu tak menghalangi jika untuk berteman, lagipula ia akan senang bila ada orang baru, oh ruangan ini benar-benar sudah seperti gudang mini di laci yang dingin, semakin menyiut dalam sorongan. Tak banyak yang datang, begitu sepi, bila seorang tertawa pun akan diredam oleh buku-buku yang sudah berabad tak dijamahi.                                                                                                                                                                                                                                             
“Aku tahu yang terbaik disini. Kalau kau mau akan kutunjukkan tempatnya, ah tentu saja kau tak perlu membayar, bagaimana dengan memulai pertemanan saja”, katanya membulatkan matanya yang sedari tadi memang sudah terlihat senang. 

“Ah aku sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan ini semua, lagipula aku pemakan yang lambat.”, kata yang bingung tadi.

Aku tahu Ailie akan terkekeh, ya, ia memang orang yang mudah seperti itu. “Kau pastilah bukan pemakan yang lambat.”, kata Ailie lalu tertawa kecil lagi.

 “Bagaimana kau tahu kalau aku ini bukan pemakan yang lambat?”, tanya si bingung setelah mendengar yang baru dikenalnya ini seperti serba tahu. 

“Seseorang mengerakkan indera perasa imajinasinya, kau hanya menolak mereka.”, kata Ailie masih sedikit menahan tawanya. 

Si bingung itu tidak senang, di benaknya terlintas permainan domino besar dimana deretan kue-kue ini akan menjatuhkan satu dengan yang lainnya lalu berakhir ujungnya di kepala lawan bicaranya ini. Untungnya orang yang dimaksud tidak tahu, malah berkata lagi, “Oh ayolah, jangan kaku begitu, aku akan mengenalkanmu ke teman-temanku disini”, katanya seraya mengibaskan tangannya menunjuk ke semuanya. “Aku sedikit akrab dengan mereka”, tambahnya lagi mencoba mencairkan suasana.  “Baiklah tukang bingung, lalu apa yang menyebabkanmu datang kemari?, tanya Ailie dengan mata membelalak sedikit agak penasaran.

  “Entahlah, aku merasa ingin udara lain saja, setiap hari pekerjaanku hidupku rasanya berulang-ulang setiap harinya, kau tahu, bagiamana rasanya hidup yang berulang-ulang, agak mengerikan”, jawab si bingung sedikit sayu memandang kosong sembari memasukkan tangannya. Mendengar itu sebenarnya Ailie agak lega, sesuatu itu terlihat sekali menyambut pertemanan yang bisa dikatakan buru-buru ini, ia pun akan dengan senang membalasnya, berjanji di hati akan menjadi teman bicara yang baik. 

“Ya, aku tahu. Pita raksasa yang mengelilingi bulan penuh, selamanya terus berputar, yang dilihat hanya kepala dan ekor saja.”, kata Ailie masih saja terus menyeringai. “Mungkin aku sedikit sama sepertimu.”, tambahnya lagi dengan mata agak membelot  kearah lain, dibenaknya muncul mengenai pekerjaannya yang sama setiap hari, tumbuhan yang sering ditemuinya atau kelakuan teman-temannya dikota ini.

Sesuatu itu diam, memperhatikan orang ini dengan seksama, lalu berkata, “Ah, itu hanya ucapanmu saja, kulihat kau segar bugar begini, hidupmu pastilah menyenangkan.”, katanya menduga karena tak percaya. “Bagaimana kau bisa tahu rasanya, apa kau bisa mengingat beberapa periode dalam hidupmu, atau sebulan yang lalu, seminggu yang lalu, bagaimana jika tiga hari yang lalu? Aku saja tak bisa lagi mengingat, rasa-rasanya mereka sama saja”, katanya lagi dan kali ini dengan nada datar.

Ailie tertawa, lalu menjawab. “Kau ini, menanyakan itu seperti dunia sudah tak ada lagi saja. Ya, memang aku tak bisa mengingat tiap detilnya, tapi setidaknya dari tak terhingga mereka itu ada yang bisa kusimpan, jadi kupikir menarik saja.”, kata Ailie tenang. “Aku mencoba sesuatu yang lain, yang menurutku menarik, lalu aku malah menemukan hal-hal diluar dugaan, bisa dikatakan gila, maka mereka akan pintar menembus, akhirnya aku benar-benar mengingatnya.”, katanya lagi seperti bangga sekali dengan yang dijalaninya selama ini. 

“Lalu bagaimana bisa? Misalnya?”, kata si bingung lugu yang benar-benar penasaran sembari memasang telinga kelinci lebar-lebar.

“Misalnya...”, kata Ailie mencoba mengingat-ingat dan tertawa sendiri.  Lalu tak lama kemudian ia berkata lagi, “Kau tahu, rasanya mempercayai cerita seseorang hingga terjepit didalam cerobong asap. Kemudian hampir menelan jamur gigi berdarah yang dikira agar jelly. Terkunci beberapa minggu didalam ruang terlarang sayap timur istana lalu memakan kayu lapuk, ke tempat raksasa berambut otak, mencari batu Kosh dari neraka atau ramuan-ramuan Manchineel masa lalu, dan hampir bertemu penyihir yang hanya bisa mengubah semuanya jadi apel, apel kau tahu!”, ia menahan tawa mengingat masa-masanya. 

Si bingung yang mendengarnya berdelik aneh, orang ini pastilah dari dunia lain, benar-benar, kalau tidak pastilah demikian, mungkin pemikirannya akan lebih baik jika belum berakhir ke sana. 

Tapi kemudian ia diam, sekali lagi diam, itu memang tak bisa dipungkiri, bahwa disana ada hal-hal yang belum pernah ia ketahui.  Sebenarnya dalam hati agak kesal, ingin rasanya melabrak, namun kali ini mengalah lebih baik, ya mau diapakan, ia juga tak punya hal menarik untuk diadu, akhirnya ia hanya termangu.

Sedangkan Ailie yang melihat teman barunya begitu justru menjadi kaku, ia sebenarnya ingin menyemangati temannya itu, atau mungkin pengalaman dirinya saja belum cukup, pikirnya. Ia mendongak, memikirkan cara, oh baiklah, tak ada pilihan lain.

“Kau mau kuberitahu sesuatu, yang orang lain mungkin belum pernah mencobanya?, tanya Ailie sembari mengedipkan mata. “Kau mungkin karena ini akan merasa kesemutan kaki karena geram atau semacamnya. Ah sebenarnya aku juga sedang dalam misi ini.” 

Si bingung mendelik aneh lagi, tapi kali ini tak tahu mengapa ia percaya. “Kau punya sesuatu menarik?”, tanyanya masih memasang telinga kelinci panjangnya.

“Yah, bisa iya bisa tidak, tergantung kau menanggapinya nanti seperti apa. Kita ke pavillun istana disini”, kata Ailie seperti senang karena melihat temannya terpancing.

Si bingung buru-buru menyembunyikan wajahnya itu kebelakang, lalu mengikuti temannya itu yang baru saja seperti merontokkan tulang-tulangnya seperti selepas bangun tidur tadi. Mereka pun berjalan keluar dari sana, melewati tier raksasa dan para boneka bisquie . Si bingung yang berjalan dibelakang melihat punggung orang yang seringkali menyeringai ini lekat-lekat, sambil mengatakan pada diri sendiri, “Lelucon, benar-benar.” Ia memicingkan matanya.  Lalu dibenaknya memikirkan sesuatu. Kalau saja, kalau saja ia juga bertemu penyihir apel, rasa-rasanya orang ini akan diubahnya juga jadi pie apel.                                        
                                                                                                                                                                            
seravi

Komentar

Postingan Populer