Buku Adalbeorth
Pada turunan jalan menghirup udara serbuk bunga, peti tidur seperti ingin membuka, “Kalau saja ada hal kecil dari mereka yang belum kuketahui, rasa-rasanya akan kubuatkan dari kaca”, kata batinnya sembari menyipit senang. Musim semi memang tak bisa membiarkan hal-hal kecil dilewatkan, tidak akan membuat kantung-kantung di bawah mata bertambah lelah. perlahan-lahan sebuah tangan menyergap serbuk dengan ruas-ruas yang tidak terlalu lebar, membentangkanya dengan lapang. didepan adalah bagian yang penting juga baginya, setiap kali melewati putaran ini akan ada sebuah pohon prem yang menjulur berlebih, lalu tak segan-segan ia mengambil posisi berbahaya selagi membawa keretanya, bersiap seperti ingin memakan kudapan-kudapan. Tak disangka ia berdiri, berhitung, mencondongkan badan, sedikit lagi mencapai yang kehendakinya, tangannya lalu mencoba meraih atas, dan…, sebuah ranting yang timbul tadi dipatahkannya. Benar-benar seperti hal yang gila, adalah tadi sebuah yang tidak ada gunanya, namun orang itu nampaknya senang, entah itu apa karena dibenaknya adalah roti kering atau bukan, tapi yang jelas ia senang, itu saja. Kemudian ia mencium hirupan daun yang mengelilingi satu tangkai yang diambilnya tadi, bau dari buahnya masih menempel , padahal jarak dari sekumpulan itu masih jauh, diatas lagi, dimana terletak kuntum-kuntum dengan buah berkelompok yang hidup bersama-sama dalam satu cabang pendek. Kemudian orang itu, sama seperti kemarin, sambil tersenyum menyimpulkan sebuah hal kecil. Wajahnya memang selalu langit-langit jingga kemerahan, hangat bertumpuk-tumpuk, saat itu juga ia akan menyembulkan kepalanya ke atas lalu mengatakan, “Baiklah, tak ada buah prem yang buruk hari ini”, ia mengembangkan senyumnya lagi, kemudian dengan keretanya meninggalkan pohon itu dibelakang dengan tunas-tunasnya yang belum berakhir pada cahaya pertama kali dimusim ini.
Sambil mengarak
kudanya dengan laju yang tak terlalu cepat ia melanjutkan perjalanan lagi, di
sepanjang jalan tertata rapi pagar-pagar putih, sebuah kurungan yang menjaga
baik pekarangan lumut raksasa segar yang ada didalamnya, walaupun dari dalam
sana pohon-pohonnya akan mengeluarkan sedikit jambul-jambulnya, tapi lihatlah
yang manik-manik dari kejauhan, dihasilkan dari sekumpulan putik mereka itu tidak
bisa menutupi tirainya lagi. Dan orang itu akan sangat menikmati, sebentar-sebentar
ia memutarkan kepala kekiri dan selanjutnya perlahan kearah bahu kanannya, dan selain
tanaman-tanaman itu juga ia akan memperhatikan pula orang-orang di kota kecil
ini, hilir mudik pekerja semut yang seperti biasa mengumpulkan yang disimpan dalam
wadah diatas taplak seorang ratu yang sembunyi-sembunyi minta diantarkan mentega
manis dan minuman hangat ke kamarnya. Kalau saja tak ada itu atau serba aturan
dengan table mannernya, scone dengan
selai dan clotted krim, ketika sambil mengaduk arah depan-belakang lalu
meletakkan sendok pengaduk di bagian belakang saucer, terkadang seperti berada di
minum teh sore yang hambar.
Orang-orang di kota biasa memanggilnya
Kip, seorang yang didalam kamus hidupnya kini tertulis bahwa “lada butir dapat diolah
menjadi makanan, bisa dihidangkan dengan soup jernih sejenis consomme atau soup kental.” Pemikiran seperti itu timbul mungkin karena ia
tadinya seorang perompak dari kehidupan sebelumnya. Hingganya menjadikannya
seorang pemilik mimpi yang sedikit takut, penuh pertimbangan, namun tetap
persahabatan yang abadi. Tak ada maksud apa-apa, hanya saja ia berpikir bagaimana
jika nanti menjadi seorang guzzler,
yakni yang bersifat serakah dan loba.
Karena ketika sudah mendapatkan hal yang berlebih, ada kalanya suatu ketika
sebuah pikiran akan menembus pertahanan yang dibuat, ‘sepatunya sepatu beludru hitam tinggi’, “Ketika itu sungguh waktu
yang gelap temanku, benar-benar gelap yang menghancuri semuanya.”,katanya. Akhirnya seperti terlihat ia akan membunuh impiannya saat
ini, tapi sebenarnya tidak. Selagi tinggal diam di dalam lubang pohon rumahnya,
membersihkan gudang, menghitungi kotak, atau membersihkan kereta sambil menghardik
kuda-kudanya, diam-diam ia sedang memikirkan cara yang lebih baik. Atau sebenarnya ia adalah yang amat penakut
tetapi mempunyai mimpi. Menurutmu bagaimana ‘ambisi’ itu? Maka dijawabnya, ‘hal itu adalah seperti mengalami hari sup pahit.’
Bisa dibayangkan, semua energi dikumpulkan menjadi cairan itu. Tetapi kemudian
ada yang ingin diketahui, apa saja
tujuanmu. Jika benar suatu hari ada ketulusan, yang menurunkan segala sifat
tinggi didalam diri.
Apakah semua
dunia ini bisa mengajak mereka ambil bagian, seperti halnya berdansa atau
semacamnya. Menghentakkan kaki beriringan ke tempat satu per satunya. Ia tak
ingin tidur lagi kali ini.
Pemuda tadi masih duduk nyaman di
keretanya, sedikit bersiul, sambil mengatur agar rodanya lebih pintar melewati
jalanan yang tidak rata, ia akan lebih berhati-hati, karena barang bawaannya
dibelakang sedikit banyak bicara, ya karena bahan-bahan disana mudah hancur,
yakni balok-balok keju. Ia adalah seorang kurir, semua keju itu dari pabrik
kota tetangga, tugasnya adalah mengantarkannya ke toko-toko roti di kota ini.
Kota Redmerrill adalah kota kecil
yang ramah tamah, semua penduduk disana saling bahu membahu, pulang dari sana
kadang-kadang ia akan mendapatkan barang bekas yang masih bisa dipakai lagi
atau malah satu bagian potong bagian kue.
Itu hanya hal kecil dari bagian memorinya,
baru beberapa hari ia hidup di kota ini, mencoba berhubungan baik dengan
orang-orang yang sudah tak asing lagi, ia akan mencoba mempedulikan. Sepanjang
jalanan merah ini terlebih lagi, tempat ia akan banyak berurusan. Mengapa
dikatakan jalan merah, karena disepanjang jalan dijajari toko-toko yang
sebagian besar berdinding bata-bata merah tua. Dan lihatlah, pemuda itu masih
memperhatikan secara seksama orang-orang disekelilingnya, melalui banyak toko dan
menyapa orang-orang sambil menaikkan sedikit topinya, sampai-sampai ia hapal
dengan kegiatan mereka setiap paginya. Disebelah
kanan pastilah Bu Flora sedang mengajak jalan pagi kucingnya. Pak Gon pemilik toko
buah sayur diseberang jalan akan sangat sibuk mengangkat mereka dalam
kotak-kotak kayu yang baru diangkut segar langsung dari perkebunan. Si tukang
cukur Broc masih rajin membersihkan kaca toko, sangat rajin, mungkin sampai-sampai
ia akan melicinkan juga rambut
pelanggannya, biasanya Kip mampir kesana untuk mengobrol dan mencicipi kue-kue
percobaan dari tepung protein rendah buatan sendiri-rasanya sungguh renyah dan
crumbly. Lalu Bibi Ain masih dengan toko bunganya yang indah, ia pikir bunga lavender
biru disana adalah yang paling cantik. Pak Duff dengan celemek kremnya seperti
biasa, dengan beberapa peniti ia akan mengaitkan saja tali kebelakang karena
bundaran yang menyembul seperti ayakan roti di perutnya.
Dan masih banyak lagi, oh tentu
saja yang satu ini tak boleh tertinggal, toko buku Paman Akker. Bagi seorang
penggemar buku seperti dirinya, itu tak bisa dilewatkan. Ia pun akan bersemangat ketika toko sudah
membukakan tenda renda putih yang sedikit menjuntai. Ia sungguh tidak sabar,
tapi keinginannya harus disimpan dahulu, pak Duff akan menyemburnya pabila
datang telat sedikit saja, ya itu memang tak bisa dihindari, tokonya adalah
salah satu properti penting milik warga, pokok pangan sebagaian besar bergantung
padanya. Akhirnya ia melewati toko kecil yang sudah buka itu. Oh baiklah, habis
ini ia akan segera berlarian kesana.
Pemuda itu pun meminggirkan keretanya
di dekat toko roti di samping pohon besar yang dipagari oleh bunga dianthus
merah yang bertumpuk-tumpuk. Kemudian ia
mulai mengangkut satu persatu kotak-kotak berisi balok-balok keju dari kereta yang
diangkutnya, semuanya ada 40 kotak. Pak Duff yang sudah berdiri didepan
menunggunya terjun langsung untuk mengecek isi didalam kotak. Tangannya
memegangi buku catatan kecil yang diambil dari kantung celemek rotinya, lalu
menggariskan beberapa angka-angka serabut disana. Selagi membuat coretan, ia
seperti menginterograsi salah satu pekerjanya yang seringkali menyeringai itu.
“Kau tak mampir ke toko buku dulu
kan?, tanya pak Duff dengan dua mata terpicing kearahnya. Pemuda itu hanya
tertawa, kemudian semaput menjawab, “Oh ayolah, kemarin adalah yang terakhir
kalinya aku telat kan?”, katanya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Pak Duff kemudian membalas, “Ya,
itu sebelum kau jera karena telah menjatuhkan kereta ke jurang, aku rugi besar,
kau tahu”, kata beliau agak memajukan mulut.
Di
benaknya sebenarnya itu hal yang lucu, tapi ia tidak bisa berkomentar lagi, karena
memang kesalahannya yang seringkali ceroboh. Untung saja Pak Duff seorang yang
baik, meskipun demikian beliau menganggapnya sudah seperti anaknya sendiri.
Mungkin itu rasa iba yang ditujukkan kepada seorang pekerja sebatang kara
seperti dirinya. Olehkarenanya itu menyebabkan dirinya sedikit agak malu, akhirnya
ia hanya menggaruk kepalanya dan menuruti semua yang disuruh pak Duff, mulai
dari mengangkut kotak-kotak dan akan meletakkannya ke lemari penyimpanan, dan
pekerjaan lainnya, sambil mengatakan pada diri sendiri, “Kalau saja pekerja
semut diperbolehkan tidak setiap hari membangun sarang.” Ya, pikiran itu memang
menyenangkan, tapi ditepisnya, pada akhirnya ia tetap mencegah diri untuk tidak
malas, dan menuju sederetan persegi tinggi yang berjajar seperti biasa, dimana
lagi kalau bukan lemari-lemari raksasa dengan ukiran bergaya eropa kuno berwarna
putih yang menjulang di samping tangga. Pekerjaan ini memang cukup berat, ia
bahkan harus menaikkan kotak-kotak ke bagian atas menggunakan tangga besi abu
yang sudah berkarat. Dari jauh ia benar-benar sudah seperti seekor semut yang
memanggul dadu-dadu besar, merayap
keatas perlahan-lahan, kemudian menggeser kaca-kaca disetiap bilik-bilik.
Setelah
berjam-jam melaksanakan tugas, akhirnya ia bisa bebas, dilapnya keringat yang
banyak itu dengan saputangan di sakunya, barang yang diangkut memang cukup
berat. Lalu ia mengistirahatkan diri di dudukan depan toko sambil meneguk air buah
ugli asam dalam botol kayu berbentuk pipih yang dibawanya dari rumah, dan tak
lama kemudian segera berpamitan dengan bosnya tersebut yang masih mengecek
catatan-catatan.
Pemuda
tadi melepaskan tali kudanya yang ia ikat di pohon, kemudian menggereknya
sedikit dari sana, lalu mengemudikannya. Ia berbalik arah, sebenarnya tempat
yang dituju tidak terlalu jauh dari tempat bekerjanya, hanya dipertigaan
jalanan merah, dengan beberapa hentakan kaki kudanya ia pun akhirnya sudah
sampai. Dilihatnya toko buku itu masih sepi, tapi pastilah seperti biasa pemiliknya
sudah menyiapkan keperluan toko, apa saja. Kemudian ia turun dari kereta,
diikatnya lagi kudanya di salah satu pohon disana, kemudian segera ke toko yang
seringkali didatanginya itu. Toko buku itu adalah yang tertua disini,
bangunannya memang sudah reot, bata merahnya sudah hampir kecoklatan dan
menghitam di pinggir-pinggirnya, namun suasananya masih tampak asri, didalam pagarnya
ditumbuhi chlorophytum pencuci udara yang rimbun dengan aroma khasnya, dan juga
bunga gerbera yang timbul dari semak seperti ratusan korek api, sedangkan di
bawah renda atap tokonya ada banyak tanaman pakis boston yang bergantungan layaknya
hanya tertinggal kutu berbulu gemuk bulat-bulat.
Ia
memasuki toko itu, baru membuka pintunya saja sebuah pedal perunggu akan membuat
gaduh lonceng kecil yang berada di atas kirinya. Tapi sudah berisik pun si pemilik
toko yang didalamnya seperti tidak menghiraukan, kelihatannya ia sudah sibuk seperti
sedang memandori anak buah, ya, itu memang karena buku-buku yang baru datang
sudah bertumpuk sedari pagi-pagi sekali. Seminggu sekali buku-buku akan datang dari
pusat penerbitan. Hari ini Selasa, makanya tak heran punuk unta Paman tidak
kelihatan. Ia pastilah berada diselipan bilik-bilik penyekat lemari yang
berpuluh-puluh ini. Toko ini walaupun sudah tua tapi bangunannya masih kokoh
mengangkut seribu buku lagi, bisa disusun rapi di dinding-dinding.
Ia lalu mencari di sekat pertama,
tak ada, untung di sekat kedua ada bayangan, punggung bengkok yang sudah tak
asing lagi. Ia kemudian mendekati sosok itu.
“Pagi
Paman Akker, apa ada yang bisa kubantu?” , sapanya dengan sopannya seperti
biasa, dan sedikit meratakan punggungnya sejajar tubuh paman yang sedang
menaruh buku-buku di bawah rak. Paman Akker yang masih membungkuk di pojokan
merapikan buku-buku seperti masih kewalahan, ia lalu mengangkat sedikit
kacamata silindernya, “Oh kau Kip”, kata paman terkekeh dengan lipatan dahinya.
Memang terlalu cepat, tapi paman
Akker kini menjadi sahabatnya. Beliau sudah tua, terkadang di benak Kip
menjelimat sosok paman yang masih muda. Mungkin
kelima lipatan disana tak ada, bahkan garis tipisnya. Tapi benarkah demikan,
bahkan ia menghapus lagi gambarannya, karena yang diketahuinya bahwa paman
adalah seorang kutu buku pintar yang selalu berkutat dengan banyak hal, mungkin
pada waktu itu lipatan itu memang sudah ada. Olehkarenanya Kip sering
menjadikan paman tempat bertanya, bahkan hal-hal aneh sekalipun. Ia seperti tahu
segalanya, ya itu benar. Ia seperti Alexandria
yang terbakar berkurun-kurun di masa lampau, dimana kabarnya bahwa disana
adalah pusat dari rahasia dunia-kalau saja dari reruntuhan itu sedikit menimpanya,
dalam hati sebenarnya ingin menyerap ilmunya.
Kip ingin membantu pamannya itu,
tapi ia tidak bisa membendung lagi rasa penasarannya yang menggebu-gebu sejak
pagi ini. Ia pun langsung bertanya pada paman Akker, “Apa buku pesananku sudah
sampai paman?”, tanya Kip dengan nada bersemangat, yang akhirnya ikut menyusun
juga buku-buku yang sudah bertumpuk di lantai, sambil sedikit mencontek catatan
paman yang mana adalah urutan yang benar untuk letak-letak semua buku.
“Ya, sudah
kutaruh di rak nomer ini.”, kata paman Akker sambil menunjuk judul buku yang
dimaksudkan lalu menyodorkan catatanya.
“Oh paman, dari minggu lalu aku
sudah lama sekali menantikannya. Buku filsafat Channer itu, ah ya, mereka
mencetaknya amat sedikit untuk tahun ini. Baiklah, aku akan pergi mencarinya”,
katanya setengah berlari ke depan, tapi baru beberapa langkah kemudian tiba-tiba
ia bergerak mundur, sambil berdehem kaku ia berkata lagi pada pamannya yang
masih membungkuk disitu, sebenarnya ia masih tak enak, “Aku akan membantumu
setelah dapat bukunya ya paman”, kata anak muda itu dengai seringai nakalnya sambil
setengah berlari lagi.
Paman Akker tertawa saja melihat kelakuan pemuda itu,
sembari ia berkata,”Ya. Asal kau tak mengacak-acak buku-buku disana.”, kata
paman Akker menunjuk-nunjuk Kip dengan buku catatannya, lalu melanjutkan lagi
menyusun buku dengan tenang.
Ia meninggalkan pamannya itu di
belakang, dan menyisir lemari-lemari disana, di tempat ini terbagi menjadi
empat bagian pojokan, dengan dua pojok warna bata yang sama yakni masing-masing
marun dan coklat tua, dibuat sedemikian rupa agar lebih muda untuk mengelompokkan
buku-buku.
Dan, sampailah pada banyak lemari
di sayap kanan yakni pojokan berwarna marun, ia mencoba lebih berhati-hati, tak
ingin ada yang terlewati, makanya mulutnya banyak bergerak setiap menghitung
rak yang hampir mendekati, lalu tak lama kemudian, akhirnya dapatlah satu itu. Ia
lalu mengambil posisi santai pada pojokan dimana dinding batanya ada beberapa
yang rusak, ke dudukan yang tersedia disana untuk mengecek saja buku tersebut, kemudian
membolak-balik lembar yang ada disana. Setelah agak lama, benar, inilah yang
memang dibutuhkannya.
Kemudian ia beranjak dari sana dan beralih
ke tempat lain, ke sayap utara dimana banyak buku-buku kuno, ah ya paman Akker
sering bercerita tentang buku-buku kesenangannya di area itu. Setelah jalan
melewati banyak lemari, akhirnya sampai pada tempat itu, dari yang diceritakan
paman ada yang sudah ia baca, sungguh menarik, makanya ingin mencari lagi
beberapa buku yang belum ditemukan. Dan matanya langsung jeli ketika melihat
tulisan yang agak dikenalnya pada salah satu pegangan buku dideretan itu,
kemudian mengambilnya.
Didalam buku itu banyak mengenai
sejarah cendikiawan masa lalu, dengan hati-hati ia pun membacanya, memperhatikan
setiap detilnya, ingin tahu apa saja yang diapat paman dari dalam sini. Tapi
selagi membaca, ia mendengar sesuatu, ada suara aneh seperti permainan musik
klasik. Ia mencari asal dari suara tersebut, menoleh ke kiri dan kanannya, lalu
buru-buru bergerak dari sana, hampir semua area itu ia periksa, Tetapi ia
melihat disana tak ada petunjuk satupun , bahkan menutupkan hal-hal yang
menyerupainya tak ada titik temunya. Ia
berdiam sejenak untuk berkonsentrasi, tak salah lagi, suara itu benar-benar
ada.
Tiba-tiba ia menoleh kearah seberangnya,
yakni di pojokan merah, lalu ia berjalan perlahan-lahan ke arah sana, sambil
memusatkan lagi pada suara itu, lantunan lagu yang masih terdengar. Di tempat
itu tiba-tiba mendingin, dan kemudian suara itu berhenti. Lalu ia menghadapkan
badan dengan salah satu rak, dan memperhatikan sebuah buku yang sedikit berbeda, warna perak, pegangan
buku yang tak ada judul ,kemudian dengan takut-takut ia lalu mengambilnya. Di
tengah cover buku terdapat lambang gambar seorang dengan dandanan orang dahulu berbaju
aneh dengan jas dan celana belang putih-biru vertikal sambil memainkan biolanya
pada taman climbing rose. Karena tak sabar, lalu ia membuka buku dan membolak-balik
halamannya.
Kelihatannya ini hanya buku cerita biasa
dengan gambar hitam putih pada beberapa lembar, dimana gambar itu tokoh disana,
sembari sayu menyeret ketanah alat musiknya yang tadi,. Kemudian ia mengecek
halaman lainnya, kemudian yang terakhir dibalik halaman depan. Disana ada beberapa
tulisan, lalu membacanya perlahan.
“Mereka
meninggalkan salah satunya disini, yang dahulunya dimiliki keturunan Adalbeorth,
pusaka old garden rose, bingkai taman yang mereka buka lagi padanya akan
mengambil salah satu dari para penggubah.”
Ia mencoba memikirkan kalimat ini,
lalu menutup kembali buku itu untuk memastikan lagi bagian depan. Gambar orang
muda itu masih disana, tidak nampak wajah. Ia memerhatikan lebih dalam, melihat
lebih dekat, merasa ada sesuatu yang
terlihat aneh. Dan kemudian, tiba-tiba orang itu bergerak menoleh kearahnya. Lalu
seketika suara gaduh dari alunan musik itu timbul lagi, kali ini bertambah
keras, dan memberantaki ruangan itu. Ia tak tahan lalu menutup telinganya, tapi
kemudian orang itu menjulurkan tangan dan menarik paksa rohnya dari jasad
kemudian menukarnya dengan roh yang didalam buku. Tak ada yang bisa dilakukan
lagi, kini orang dari gambar tadi mengambil alih tubuhnya, sedangkan ia masuk kedalam
halaman depan. Ia mencoba berteriak sekeras-kerasnya dan membentur-benturkan kepala
ke dinding halaman, tapi sia-sia. Dari dalam ia hanya melihat tubuh besarnya menyeringai
kemudian gambar itu memudar dan hilang. Sebuah dinding lalu mendorongnya dan
membawanya ke tempat lain, dimana itu adalah taman yang seperti ada di gambar, ia
berpakaian belang seperti orang itu, dan mempunyai biola tadi.
Sebuah dinding lalu mendorongnya
dan membawanya ke tempat lain, dimana itu adalah taman climbing rose yang
seperti ada di gambar, ia berpakaian seperti orang itu, dan mempunyai biola
tadi. Apakah ini mimpi, rasa-rasanya tak bisa lagi membedakan, karena baru saja
yang dialami seperti benar-benar. Dilihatnya sekeliling, bentuk negri ini
kotak-kotak. Ia merasa sendirian, tiba-tiba ia menjadi marah, lalu dilemparkanlah
suaranya berharap mengudara ke dunia atas. “Hei kau! bagaimana caranya keluar
dari dalam sini?”, teriaknya sembari mendongakkan kepalanya.
Ia masih ingin bertanya, mencoba
berulang-ulang bertanya, tapi sia-sia, tak ada jawaban. Ia tak tahu lagi harus
bagaimana, dan biola ini terus menempelinya, tak mau lepas. Rasanya ingin
menyerah, ia lalu terduduk di batu sana. Dia memikirkan banyak hal, mulai dari
keretanya yang tertinggal di redmerril, pekerjaannya ditoko pak Duff, dan..ia
masih bertanya-tanya apakah paman Akker juga pernah mengalami hal ini, ia
sungguh berharap paman akan membantunya didalam sini. Namun baru saja
merenungi, tiba-tiba sekumpulan orang menangkapinya, mereka adalah sekumpulan
prajurit. Ia mencoba meronta tetapi mereka semakin mengekangnya.
“Apakah kau mau melarikan diri lagi
tuanku? Sebaiknya kau menurut, raja akan memberimu hukuman lagi.”, kata satu
laki-laki tegas dengan setelan rapinya.
Lalu mereka membawanya kedalam
perjalanan, melewati bukit-bukit lalu sampailah disebuah kastil. Raja disana
menyuruhnya untuk memainkan biolanya, pada awalnya ia mengatakan tak bisa, tapi
tiba-tiba tangannya bergerak dengan sendirinya. Pada saat alunan musik itu
bermain, lalu seketika jatuh satu berlian dari langit, kemudian jatuh satu
lagi, jatuh beberapa dan seterusnya, ternyata benda ini bisa menghasilkan yang
seperti itu. Setelah satu permainan, akhirnya biola itu berhenti sendiri, dan berlian
itu sudah menggunung disana.
Orang-orang disana kegirangan, dan
beberapa pelayan disuruh mengumpulkan yang berserakan. Setelah itu ia
diantarkan menuju sebuah kamar. Didalamnya amat bersinar dengan barang-barang
antiknya. Ia memang diperlakukan baik disana, diberi makan dan segala yang
dikehendaki dituruti. Tapi ia masih belum menerima, lagipula sampai sekarang
biola ini masih menempel ditangannya, dan baju belang ini tak bisa dilepaskan.
Ia memandangi biola yang ada ditangannya perlahan, ia baru mengerti untuk apa
ia berada disini. Memang, berlian itu menggiurkan, satu butir saja adalah
upahnya beberapa tahun bekerja, tapi kini hal itu tak ada artinya, ia
memikirkan cara untuk keluar dari sini.
Esok harinya, ia dipanggil lagi
untuk melakukan permainan kemarin, masih sama seperti waktu itu. Begitu hari
esoknya lagi dan seterusnya. Akhirnya ia bosan didalam sini, ia pun memutuskan
untuk melarikan diri. Tetapi ketika di jalan, orang-orang langsung mengenalnya
dan berteriak. “Seorang Adalbeorth melarikan diri. Seorang Adalbeorth melarikan
diri!”, kata mereka bersamaan. Sentak ia terkejut, lalu berlari secepat
mungkin. Kearah hutan pinus disana lalu hutan belukar yang lebih dalam lagi.
Tetapi disana ia bertemu dengan
sekumpulan makhluk pendek lunak terbuat dari gypsum, dan mengejarnya. Ia
benar-benar tak tahu lagi harus kemana lagi, ia bersembunyi dan terus
bersembunyi, kemudian ia bertemu makhluk lain, dunia ini selain manusia banyak
makhluk berbentuk aneh-aneh. Benar-benar hidup yang tidak tenang, apalagi
dengan busana seperti ini ketika seluruh orang mengenalnya. Akhirnya ia hanya
bisa mencoba bertahan hidup dengan bersembunyi, diambilnya jubah yang ia buat
sendiri dari kulit rusa untuk menutupi wujudnya yang seperti ini. Setiap hari
hidupnya tidak tenang, ia seringkali tertangkap, memainkan biolanya
berulang-ulang, tapi bisa melarikan diri lagi.
Ia benar-benar kesal, ketika ia
berlari-lari saat dikejar-kejar, ia melemparkan lagi suaranya keatas. “Hei kau!
Bagaimana cara keluar dari sini.” Lalu tiba-tiba dibukit gula putih
diseberangnya ada pena bulu besar, ia berlari sekencang-kencangnya akan
menangkapi pena bulu itu.
Dan seketika, yang mengejarnya tadi
sudah tak ada dibelakang, disekelilingnya sudah berbeda, bukan negeri
kotak-kotak lagi. Ia kembali ke toko buku. Tapi yang dilihatnya rak-rak masih
rapi seperti waktu itu. Ia benar-benar lega, tapi kemudian ia mengingat lagi
apa yang telah terjadi, dengan bergegas ia mencari pamannya itu. Dan, diujung
sana, ia menemukan paman masih sama ketika menyusun buku. Buru-buru ia
bertanya.
“Apa kau yang menjatuhkan pena bulu
itu paman?”, tanyanya kepada paman Akker.
Paman Akker menoleh, ia melihat
pemuda ini penuh keringat bercucuran dan tersengal-sengal. Paman tak berkata
apa-apa, tapi tak lama kemudian lipatan dahinya ikut menyeringai lebar-lebar.
“Dulu aku bisa lebih cepat keluar
dari negeri kotak-kotak itu daripadamu.” seravi


Komentar
Posting Komentar