Knight Pucat
San hanya berpikir bahwa jam besar di depannya itu mengeluarkan sesuatu yang terlihat aneh. Pada penglihatannya, benda tak terhingga berjatuhan dari dalam jam kemudian memenuhi lapangan di bawahnya. Benda-benda asing itu menyerupai bentuk baneberry putih, dalam imajinasi manusia akan terlihat sangat mengerikan seperti bola-bola mata, sekilas seperti sekeranjang polong mengerikan, rasanya seperti dikerubungi ribuan laba-laba kotor, hewan berbuku-buku itu dengan kaki-kakinya. San hanya mengernyitkan dahinya, diam seperti kepala kosong dikerubungi benda-benda itu. Sepertinya orang-orang disekitarnya memang tak merasakan aura-aura tersebut, maka akan membiarkan benda itu mengetuk-ngetuk dengan kulit-kulitnya diatas kepala mereka, melompat-lompati sekitar sisi kanan dan kiri, tubuh diikat perlahan-lahan hingganya mudah dikendalikan, oleh rook atau benteng sendiri. San segera melarikan pandangannya dari jam besar yang dilihatnya itu, ia hanya tak ingin terpengaruh arus kuat dari jam tersebut. San pikir orang pemalas lainnya akan sama seperti dirinya, tapi sepertinya tidak, ia lihat si pemimpi Jim yang melewatinya masih berjalan dengan santai. Ia memang tidak seperti Jim yang hanya tidur sepanjang hari. Orang pemalas banyak jenisnya, tidak semua membuat jaring. Akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera, seperti helaian spinneret di belakang tubuhnya, bisa berayun ke tempat lain. Ia bisa melakukan hal-hal yang lebih berguna dari yang biasa dilakukan orang-orang. Otak seukuran jeruk di kepala pun akan mengonsumsi banyak energi metabolisme, suhu bulir-bulir itu meningkat ketika lelah atau bosan, itulah yang menjadi pertimbangannya selama ini. Apakah orang-orang pemalas karena bodoh? Tentu tidak, bahkan diantara mereka ada yang karena amat jenius. Orang pemalas jenis itu hanya ingin melakukan yang menurutnya kewajiban saja, maka akan menjadi petarung diam, ia mempunyai banyak kotak-kotak aneh dalam kantung kepalanya yang harus diisi, barang-barang itu menumpuk hingga langit-langit. Ketika energi yang dikeluarkan sudah banyak maka mulut akan terbuka dan menghirup dalam-dalam, selama mengambil udara maka bulir-bulir tadi meregang, darah dingin didorong kearah kulit jeruknya saat darah hangat didorong keluar, lalu berakhir dengan napas pendek. Itu bisa dikatakan pemulihan.
Libur musim panas sudah habis. Ini menjadi kendala yang rumit
baginya, tak heran akan mengakibatkan berkeringat dingin, dari tadi ia menemukan
banyak arus yang kuat, terutama jam besar yang menempel di gedung itu, dentangnya
membuat lautan benda tadi hidup lebih lama lagi, ia sungguh berharap tak ada
korban lain. San berjalan pelan melewati lapangan bola disana, lalu menuju ke
pintu utama gedung, di kiri kanan banyak sekali siswa-siswa lain, mereka-mereka
membuat keributan pikirnya. Pamflet-pamflet berjajakan di pinggir-pinggir
lorong, benar-benar arus yang kuat, dari sana mengeluarkan bola-bola mata lagi.
Kalau saja benda-benda itu permen gelembung bulat roll karet, itu artinya dapat
menyenangkan memasuki klub seribu buku misteri yang ada salah satu disana. Dulu
ia pernah ingin menjadi anggotanya. Melewati sebuah misteri sepertinya akan
membuat kepalanya ingin berpikir sedikit, dapat berkontraksi sementara agar
dapat menghentikan rasa bosan. Karena bagi
seorang pemalas jenisnya seperti berada pada kejadian ‘sudah terlihat’, meski
yang dialaminya itu untuk pertama kalinya. Tapi dengan sebuah hal yang langka
di dunianya, maka akan menjadikannya seperti seorang Jendral Perak dalam
permainan shogi, ia tak akan bisa lagi bergerak ke samping kiri dan dan kekanan
dan kebelakang, itu diluar kuasanya, maka ia akan berpikir keras menyusun strategi
lain untuk menaikkan pangkat, siapa mengira jika menggunakan otaknya
sekali-kali maka ia akan menjadi Jendral Emas.
Tapi tetap saja, sepertinya disana akan banyak kegiatan-kegiatan
klub yang tidak perlu, akhirnya ia masih mengikuti moto hidupnya saja. Setahun
ini ia tak mengikuti klub apa-apa. Tak mengapa, setidaknya ini akan menyimpan
udara lebih banyak lagi. Hanya saja ia tidak tahu cara memecahkan kebosanannya,
rasanya seperti seorang berkepribadian scyzotypal
yang seperti berisiko kehilangan
dunia nyata. Seperti masuk ke dalam dunia buku imajinasi sendiri, dunianya
adalah berbagai macam buku yang menumpuk hingga atas kubah. Ia bisa seharian
akan tidur pada penyekat buku raksasa yang menjadi alasnya. Tapi apa yang
dilakukannya, bahkan ia pun tak berusaha. Dengan peringkat yang biasa-biasa sebenarnya ia bisa menaikkannya
lagi, tapi ia berpikir itu menyusahkan. Tugas-tugas yang menumpuk di loker
lemarinya hanya dikerjakan setengah-tengah, pekerjaan yang bukan gayanya,
membuat deskripsi berlembar-lembar. Ia hanya mengerjakan eksakta yang bisa-bisanya dikerjakan menggunakan jalan pintas dengan
ilmu forensik otaknya.
San masih berjalan sayu ke koridor, kelopak matanya memang selalu
tak bergairah demikian, bulan setengah terbuka, seperti mengatakan kepada
sekelilingnya, “Semua terlihat hitam-putih.” Menjalani hidup yang seperti itu
memang sedikit sulit, pada diri sendiri yang tidak tahu apa yang sangat ingin
dilakukan, melanjutkannya dengan berpura-pura tidak tahu, berpaling pada
dinding yang mendesak untuk melakukan sesuatu yang tidak tahu, dan akan berulang-ulang
setiap kalinya seperti mengalami hari yang berlubang besar. San masih melewati
orang-orang disepanjang sana, akhirnya ia sampai pada tujuannya, di bangkunya
yang biasa. Temannya langsung merangkulnya dan bercerita menggebu-gebu tentang klub astronomi yang sedang diikuti, tentang planet-planet katai yang baru diketemukan,
dan sebagainya. San hanya diam saja, melihat tanaman bola-bola mata yang keluar
dengan arus kuat. Tak lama kemudian pelajaran pun dimulai, itu benar-benar menyelamatkan,
temannya pun lalu menyudut di area sana. Sedangkan ia seperti biasa, di wilayah
sendiri sambil memangku dagu dengan tangannya menatap kosong ke depan. Karena
cerita temannya tadi, akhirnya dibenaknya menjadi membayangkan melihat kaleidoskop berlian warna warni. Matanya
hanya memfokuskan pada sudut-sudut tersebut.
Sambil membolak-balik buku dengan malas selama beberapa jam,
tidak terasa akhirnya kelas itu berakhir. Dan ia pun hendak mengistirahatkan diri
sejenak, tapi kemudian pak Bill memanggilnya, mengatakan padanya untuk
berbicara keruangannya. San hanya menurut, mengikuti gurunya dari belakang, sambil
berjalan sayu memasukkan tangannya kedalam saku celana.
Di sudut lorong agak jauh dari perpustakaan, ada pintu
kerangkang yang amat aneh, berwarna putih tulang. San memasukinya, sambil
melihat sekeliling di dalamnya. Guru yang diikuti mempunyai banyak kolesi
rupanya, barang-barang tersusun rapi, di meja dan juga atas lemari. Benda-benda
perlengkapan arkeologi, dan tumpukan buku-buku tebal menandakan bahwa guru itu
bekerja keras diruangan ini. Ia hanya berpikir bagaimana mendapatkan
barang-barang yang menempel di dinding itu saja, mungkin ia juga bisa
memanfaatkannya diam-diam.
Tak lama kemudian Pak Bill yang menduduki kursi memulai pembicaraan,
“Dari seluruh siswa, hanya kau yang belum mengikuti klub apa pun, sebagai guru
kelasmu aku sedikit khawatir. Di sekolah ini seluruh siswa diwajibkan mengikuti
minimal satu, itu diperlukan untuk penilaian di akhir nanti.”, kata pak Bill
mengatupkan pulpen dan bukunya.
“Aku hanya belum menemukan hal yang kusukai”, kata San masih
mata setengah bulan terbukanya seperti biasa. Ia tidak tahu apakah sudah
menganggap hidupnya seperti lelucon saja. Sang guru hanya tersenyum mendengarnya,
lalu berkata lagi. “Apakah kau pernah melakukan hal menyenangkan selama ini?”. Ia
hanya diam saja, mendongakkan kepala, berpikir sebentar, “Ya, tentu saja”, katanya spontan. "Misalnya?", tanya Pak Bill lagi. “Memperhatikan.”,jawabnya. "Memperhatikan apa?”, tanya guru itu menyipitkan matanya sedikit
penasaran. “Sesuatu yang janggal”, jawab ia singkat. Menurutnya pembicaraan
ini sudah diluar batas garisnya, rasanya akan keluar dari cangkang sendiri. Pak
Bill tertawa, “Kau ini sepertinya tidak menikmati hidup sendiri ya”, kata Pak Bill masih
tertawa memegangi dahi dengan ujung pulpen. Ini membuat San tak suka. Apakah
ini memang sudah saatnya ia pergi, bukankah ini sudah seperti kelinci yang
disudutkan.
Tetapi kemudian Pak Bill tiba-tiba menghentikan tawanya, lalu
berkata dengan nada yang serius,
“Suatu ketika, ada seorang menemukan sebuah pohon besi raksasa
yang tumbuh di dalam hutan terlarang. Pohon itu terlihat menakjubkan dengan
daun-daunnya yang dari besi pula. Ia pikir adalah yang paling beruntung di hari
itu, ia pun ingin menebangnya untuk dijual ke kota. Kemudian ia mengambil kapak
yang biasa ia gunakan. Ia lalu mengayunkan kapaknya, tapi ternyata pohon itu
memang amat keras, hanya mengakibatkan anting-anting yang menggantung
didahannya bergoyang sedikit saja. Walau ia sudah sekuat tenaga, tapi tetap
saja, tidak berhasil menebangnya. Ia sungguh kelelehan, dan memutuskan untuk pulang.
Esok harinya ia kembali lagi ke tempat itu, tapi yang dihasilkan tetap sama, berikutnya
kembali lagi dan lagi, tapi ia tak mendapatkan apa-apa, ia malah merusakkan
kapaknya. Sebuah kapak yang seperti itu tentu tak akan bisa merubuhkan pohon
besi tersebut, ia seperti melakukan suatu yang tidak masuk akal. Ia hanya memusatkan kapak yang menjadi kekuatannya, tidak memikirkan
cara lain yang lebih baik, tetap berpegang pada yang menjadi prinsip
hidupnya yang sia-sia seperti itu. Menggambarkan seorang itu adalah sang
pemalas yang mengharapkan hidupnya akan lebih berarti tanpa pernah berusaha
untuk mengubah hidupnya sendiri.”, Pak Bill mengakhiri ceritanya.
San sungguh terdiam, ya bukankah penebang pohon itu adalah
dirinya sendiri, dan ia tak mempunyai jawaban apa pun lagi. Itu seperti jebakan.
Pak Bill berkata lagi, “Pelajaran akan dimulai kembali, setelah itu kau kembalilah
kesini minggu depan, aku ingin perubahan yang bisa dikatakan masuk akal, kau
pasti mengerti maksudku.”, kata Pak Bill seperti memberi tanda isyarat padanya.
San hanya mengangguk hormat, lalu meninggalkan ruangan itu, melewati pintu
kerangkang tempat ia masuki tadi.
Sambil melewati lorong, ia banyak berpikir, hal itu ternyata
sedikit mengganggunya. Apakah ini pertanda buruk atau baik, sungguh, ia tidak
tahu. Ia hanya memikirkan cara untuk menghadapi minggu depan, kali ini ia akan
mengambil banyak-banyak udara untuk bernafas. Kelas sebentar lagi dimulai, ia
harus segera kesana, melewati beberapa lorong yang membuat lelah tidak akan dipedulikannya
lagi, sambil melamun tidak tahunya ia melewati klub seribu misteri, kemudian ia
berdiri lama di depan pintunya. Ia memikirkan kata-kata Pak Bill tadi. Apakah
ia harus keluar dari garis yang dibuat untuk memperbaiki semuanya, mencoba
sesuatu yang sedikit ditakutinya. Ia seperti ingin melangkah memasuki pintu
itu, dengan hati-hati ia lalu membukanya. Kemudian ia melihat seorang laki-laki
kurus berperawakan aneh, siswa itu adalah salah satu anggota klub disana,
laki-laki itu ramah menyapanya. San berkeringat dingin, bulu kuduknya berdiri. Seperti
seorang Knight yang akan meletakkan
posisi terhormatnya, semoga ia bisa memerangi diri sendiri.
seravi
seravi


Komentar
Posting Komentar