Ruangan Panekuk


guttenberg.readingroo.ms

Toko roti bercat ruby itu memiliki warna yang gelap tapi berkesan hidup. Bangunan bergaya kuno dengan motif floral-floral kecil akan membuat seperti menghampiri ruang waktu abad dahulu. Bentuk garis-garis seperti krim yang juga mengesankan membuat toko itu sudah seperti potongan satu bagian sponge dalam piring besar. Taburan vintage berkesan pudar dan usang di dalamnya dengan didominasi dari warna buah kersen itu  akan menghadirkan nuansa orang-orang pendahulu yang dingin dan kuno namun mewah dan megah. Memang toko ini didesain dengan cottage yang demikian agar terlihat seperti rumah tua yang cenderung kaku agar bisa disesuaikan dengan tema tradisional pedesaan klasik. Seperti elemen interior unik diruangan samping yaitu sebuah kaca besar antik yang mereka pesan khusus, kaca itu membelah ruangan menjadi dua bagian, yakni bagian depan dan dapur, maka para pengunjung dapat menikmati pemandangan akrobat para koki yang terlihat sibuk memukul-mukul adonan tepung. Ada berapa puluh gua gundukan batu-batu besar yang disusun menarik disana, memang jumlah dan ukuran itu dikhususkan untuk memanggang banyak bantalan-bantalan roti. Satu ruangan yang ini sungguh mengagumkan, dipenuhi detail ornamen dari kayu oak pada plafon, dinding dan meja besar, semua dipenuhi hamparan hiasan bentuk bulatan-bulatan seperti kue panekuk yang sudah matang. Rasanya seperti berada pada sebuah fenomena dimana optik yang biasanya terjadi di tanah lapang yang luas seperti padang pasir atau padang es, perbedaannya adalah butiran mereka diganti dengan kue panekuk tak terhingga, kau tinggal menambahkan selai berry pada atas-atasnya.  

Para koki yang bekerja di ruangan itu akan terlalu sibuk dengan adonan, karena para pembeli yang setiap harinya tak berhenti datang. Tak heran, toko ini amat terkenal, wangi bahan-bahan khasnya seperti menyelinap ke mangkuk-mangkuk roti, udara hirupan yang menyenangkan dari sana seperti membuat terjebak selamanya. Setiap hari selasa toko ini akan terlalu penuh, karena mereka memberikan harga khusus untuk satu kepala roti. Itu ditujukan sebagai rasa terimakasih kepada para pelanggan setia, dan pula ingin berbagi kepada orang-orang miskin di desa. Kebijakan itu amat berharga, tapi tidak untuk keluarga Shin. Keluarganya memang tidak terlalu miskin, bahkan mampu membeli roti di hari lain. Sebenarnya mereka bukan keluarga sungguhan, ia hanya anak adopsi dari panti asuhan yang dijadikan pembantu rumah tangga. Orangtua angkatnya akan menyuruhnya membeli roti-roti terbaik disana. Dengan kantung penuh uang, Shin pun berlama-lama menunggu antrian yang sudah begitu panjangnya. Namun setelah lelah dari sana, ia tak akan pernah mendapat roti satu pun. Itu hal yang biasa, selama ini ia sering tidur kelaparan. Pernah mencoba ingin mencuri sedikit dari dapur, kemudian wajahnya akan habis penuh luka karena dipukul. Orangtua angkatnya terkenal amat sangar dan kikir, pernah ia melihat ayahnya memukuli seorang pedagang hanya karena orang itu lupa memberikan uang kembalian yang bahkan hanya sedikit sekali. Atau ibunya yang bertengkar hebat dengan tetangga hanya karena tetangganya diberi lebih sedikit oleh pedagang pasar. Akhirnya Shin hanya bisa menguatkan diri, bertahan hidup dengan makanan sisa tak layak yang diberikan, ia pernah hanya diberi polong sisa.

Tapi mimpi buruk itu kini bisa ia lalui, setelah menemukan cara lain setahun yang lalu. Ketika itu tak sengaja melihat dari taman belakang toko, ada pintu belakang disana. Tapi tentu saja ia tak akan bisa masuk kedalam, karena pintu sudah terkunci rapat. Lalu ia membuat tempat masuk rahasia menuju dapur disana, beberapa buah bata dinding dihancurkan olehnya. Sebelumnya ia sudah mengetahui keadaan ruangan panekuk dengan mengintip di jendela belakang. Tempat tong-tong hitam yang ada di sudut ruangan adalah tempat yang tepat, satu lubang disana tak akan terlihat. Cara itu sangat kotor, tapi ia tak ada pilihan lain. Malam hari akan terasa dingin dan lapar sekali tidur di dapur. Shin sebenarnya amat penakut. Hari ini saja ia sudah beberapa kali bolak balik dari tempat masuk rahasia tersebut. Matanya terus mengendap-ngendap pada ruangan itu, menunggu saat-saat yang tepat untuk mengambil roti-roti. Tangannya gemetar memegang erat kantung yang agak besar, ia akan mengambil banyak roti, persediaan ini untuk satu minggu kedepan. Karena ia hanya bisa mencuri pada hari selasa ketika toko sedang sibuk, setelah melakukan tugas dari orangtua angkatnya yakni mengantri membeli roti disana juga, barulah ia bisa mencuri, jika pulang telat ia bisa beralasan antrian yang begitu lama. Ia tak bisa mencuri di malam hari, karena ia tak diperbolehkan keluar. Olehkarena itu ia berharap misi kali ini akan lancar seperti minggu kemarin.

Shin mungkin bisa dikatakan pencuri baik hati, ia tak akan mau mengambil roti-roti yang utuh, ia hanya mengambil roti-roti gagal yang sudah dipisahkan ke tempat tong-tong hitam. Tapi pencuri tetaplah pencuri. Lagipula perbuatannya itu juga merugikan toko, karena roti-roti yang gagal akan diolah lagi. Tak bisa dibayangkan jika pemilik toko tahu akan hal ini, mungkin ia akan kehilangan kedua tangannya. Olehkarena itu ia akan selalu berhati-hati dalam setiap geraknya. Tapi hari ini bukanlah harinya. Ketika akan masuk lagi ke dalam tempat rahasia,  seorang koki menyapanya. Koki itu terlihat bingung, sepertinya akan memarahinya karena sudah mondar-mandir di daerah ini. 

“Apa yang sedang kau lakukan disini nak?”, tanya koki mengagetkannya. 

Shin tak menjawab, ia sungguh ketakutan, kakinya langsung melarikan diri ke ladang jagung belakang toko, badan kecilnya pun segera hilang pada kumpulan tumbuhan-tumbuhan tinggi mirip ilalang tersebut. Sang koki hanya diam mematung disana, bertanya-bertanya dalam hati mengapa seorang anak kecil bisa ada disini. Shin sendiri masih tak percaya dengan peristiwa yang barusan dialaminya, karena setahun ini ia tidak pernah terlihat orang disana, ia bersusah payah memikirkan cara terbaik, termasuk berlama-lama memegangi kakinya duduk disana, agar bisa mudah melewati orang-orang dekat tong hitam, belum lagi jalan pulang membawa kantung-kantung yang berisi roti itu agar selamat. Dari semak-semak Shin masih melihat sang koki masuk melewati pintu belakang toko, ia berharap tidak pernah bertemu dengan salah satu dari mereka lagi dikemudian hari. Tak mau berlama disana, ia pun pulang ke rumah. Hari ini tak ada roti. Baiklah, untuk hari ini saja, selasa berikutnya tidak terjadi lagi. Sekarang akan lebih baik pulang, karena bagaimana  jika isi rak-rak kepala semua dipenuhi kantung-kantung berisi kepala roti, tentang kulit-kulit empuk atasnya.

Kemudian ia berjalan pulang ke rumah, setelah sampai lalu karung-karung wol ia singkirkan ke pondok batu belakang rumah, itu memang pekerjaannya. Setiap hari, ia pindahkan sebanyak itu sendiri dari halaman keluarga Aiken, peternak penghasil wol terbaik didesanya. Pekerjaan itu ia lakukan selagi menunggu orangtua angkatnya pulang dari pabrik  tekstil. Ia pernah ke pabrik itu ketika mengantarkan barang yang tertinggal milik orangtuanya. Pabrik itu sangat luas, banyak menghasilkan mantel, jaket, selimut dan penutup hangat lainnya. Andai saja ia mendapatkan satu saja. Ya, agar malam ini saja tidak kedinginan tidur di dapur, karena rasa lapar akan begitu terasa karena lantai yang dingin. Setelah menghitung karung-karung, ia ingin istirahat, mengambil sesuatu untuk diminum, kali ini mengambil banyak air di dalam tong, tak peduli jika orangtua angkatnya akan memukul, sungguh ia benar-benar lapar, banyak air akan sementara membuat perut tidur. 

Shin lalu beranjak ke arah tempat tinggalnya yang sebenar-benarnya, yakni tikar dari karung-karung wol bekas. Malam ini pun tak ada makanan sisa, ia jamin orangtua angkatnya akan pulang terlalu malam karena festival orang-orangan sawah  yang diadakan tiap tahun di desa, mereka pasti sedang bersenang-senang. Baiklah, untuk hari besok yang begitu penting, karena ia harus kembali kesana, ia tak tahan jika harus menanggung perut lapar ini seminggu kedepan. Untuk itu ia rela malam ini dengan perut bersakit-sakit. Sambil menarik-narik kaki yang sungguh kedinginan, ia merenungi semuanya, semua hidupnya selama ini, agaknya malam ini akan sama, sulit mengajak dirinya satu lagi untuk bicara.

Shin mulai memejamkan matanya, di dalam mimpinya ia melihat sebuah rumah besar yang didalamnya banyak ruangan-ruangan, lalu ia membuka satu pintu, kemudian ia melihat banyak sekali kue panekuk di dalam sana, sama seperti satu ruangan yang dilihatnya di toko roti, perbedaannya adalah kue-kue ini nyata, dan itu terlalu banyak baginya bahkan untuk persediaan satu tahun. Pintu satu lagi ia buka sedikit dan mengintip kedalamnya, tak sabar akhirnya ia buka penuh dan mendapati pula banyak kue panekuk. Shin membuka pintu ketiga dan seterusnya, semuanya panekuk, kecuali satu ruangan, ya ruangan ini sendiri yang kosong, ia bertanya-tanya mengapa ruangan itu saja yang tak ada panekuk.

Esok hari, seperti biasa mengerjakan tugas-tugas yang diberi orangtua angkatnya, termasuk tugas mengantri berjam-jam di toko roti. Hari ini rabu, tentu saja bukan hari baik untuk mencuri, toko akan kembali seperti biasa, pengunjung yang datang tidak seramai kemarin, tapi ia memberanikan diri, setidaknya belum dicoba. Matanya mulai siap siaga pada hitungan-hitungan di kepala, ia pun mengintip ke arah jendela yang ada di belakang toko, dan mengendap-ngendap ke tempat rahasia seperti biasa. Namun, dalam sekejap, seorang koki berbadan besar menangkapnya. Koki itu membawanya kedalam toko, terlihat sangat marah, memaki-maki dan sesekali memukul kasar kepalanya. Kemudian meletakkan sang anak seperti daging anak rusa dihadapan semua koki, dan memukulinya. Seorang koki tua bertubuh kurus dan berkumis tebal menghentikan kejadian itu. Shin dengan mata bengkaknya masih mengenali wajah itu, ya, tak lain orang yang ditemuinya kemarin, memergokinya waktu itu. 

“Anak ini, yang selama ini mencuri roti-roti kita”, kata koki bertubuh besar kepada koki tua itu. Dan kemudian menceritakan tentang pencuri kecil itu, apa saja yang dicuri, tentang tempat rahasia yang dibuatnya.

Dan orang tua itu, sekali lagi, sama dengan waktu itu, bertanya dengan lembut, “Apa yang sedang kau lakukan disini, nak?”, tanyanya pada Shin. Dan diluar dugaan, Shin malah mencoba berdiri dengan badannya yang babak belur, lalu menjawab dengan nada keras, ia sudah tak tahan dengan semuanya. 

“Benar, aku mencuri roti-roti itu. Itu bukan kesalahanku. Apa yang akan kau lakukan ketika kau sepertiku tak punya sesuatu untuk dimakan? Aku juga tak bisa meminta makanan pada orangtua angkatku, mereka tak akan memberi, aku juga tak bisa meminta makanan pada orang-orang desa, mereka takut dengan orangtua angkatku.”, kata Shin menatap tajam ke arah mereka, ia akhirnya bisa meluapkan pada orang-orang dewasa yang lebih tinggi darinya. Tapi tiba-tiba suaranya sedikit lirih, “Aku juga tak bisa membenci Tuhan”, kali ini ia hampir menangis. 

Semua yang ada di ruangan itu tertegun. Mereka hanya diam, menunggu koki tertua itu ambil bicara. Lalu, tak lama kemudian koki tua itu pun berkata. “Kau tak memakai alas kaki, nak?”, tanya koki tua itu. Pertanyaan itu membuat Shin dan semua koki kebingungan. Kemudian orang itu berkata lagi, “Tempat rahasia yang kau buat disana amat panas.”, katanya sambil menunjuk kearah ujung. Itu benar, disana memang dekat dengan salah satu gua batu tempat pemanggang roti. Shin hanya diam, ia sudah tahu, tapi itu adalah resiko yang harus diambil. Koki tua itu tersenyum, sambil memelintir kumisnya yang mengganggu, lalu berkata lagi, “Kau tak perlu lagi mencuri roti-roti, kau akan bersama-sama kami bekerja di ruangan ini, membantu keperluan kami, oh tentu saja pekerjaan yang akan sesuai dengan anak seusiamu, kami juga sedang kerepotan membuat jumah roti yang banyak, dan setiap pulang dari sini kau akan mengisi penuh kantungmu yang kau bawa tadi, itu jika kau mau anak muda”, kata koki seraya menyipitkan matanya. “Sekarang pulang dan istirahatlah, besok kau akan kembali kesini, dari pintu depan.”, tambahnya lagi.

Shin yang malam tadi masih menarik-narik kakinya yang kedinginan, kini akan terlalu tidak peduli karena amat gembira. Sebuah kabar baik, untuk dirinya, dan dirinya satu lagi. Shin pun beranjak untuk pulang, meninggalkan koki tua itu dan semua koki lainnya, tak lupa ia mendapat satu kantung untuk orangtuanya yang memang akan dibelinya, dan oh satu kantung lagi untuk dirinya, hanya untuknya. “Itu sebagai kontrak kerja kita”, kata si koki tua sambil tertawa dan membelai kepalanya.

Shin tak akan melupakan hari ini, sekali lagi. Lalu ia cepat-cepat kerumahnya. Ia akan merayakan malam ini. Setelah meletakkan sekantung roti untuk orangtuanya di meja. Ia kembali pada tempat tidurnya, meletakkan sekantung roti didepannya. Itu akan sayang sekali untuk dimakan, ia berdiam sejenak, memikirkan hidupnya yang baru. 

Kemudian ia memakan beberapa roti dengan lahapnya, lalu tertidur, ia tak peduli dengan banyak memarnya. Ia harus istirahat, besok harus sudah menyiapkan energi untuk bekerja di tempat baru. Sambil melelapkan matanya, ternyata ia masih terjaga, ia masih memikirkan satu ruangan pada rumah besar semalam, ruangan itu sendiri yang kosong, ia masih bertanya-tanya mengapa ruangan itu saja yang tak ada panekuk.


seravi

Komentar

Postingan Populer