Pipa Menggema
Pekerjaannya adalah ke tempat reruntuhan pabrik agak jauh dari sekolahnya, tempat itu adalah yang amat tepat untuk melarikan diri, terlalu sepi. Kau tak akan diganggu oleh manusia manapun, hidup dari masa lalu, atau tugas-tugas yang mengikuti. Bagi Art, tempat itu adalah surganya saat ini, ia hanya ingin tenang, butuh sekali energi baik agar otak ini berputar normal. Ia menganggap dirinya yang sekarang tidak utuh, sebaiknya segera kembali, karena jiwa-jiwanya yang berkeliaran terus-terusan berteriak-teriak sendiri, menyalahkan diri. Area daerah itu pun sudah berantakan, yakni tempat yang ia ambil sebagai tempat pelampiasan, tanah rerumputan belakang pabrik, terdapat bekas pipa-pipa beton yang menumpuk disana. Pemandangan yang sudah tak layak, itu tak bisa dihindari, hampir setiap waktu tempat itu akan dihancuri oleh orang yang berkemeja kotak-kotak biru muda itu. Bisa dilihat sebelah kiri banyak sekali dari bongkahan-bongkahan batu berasal dari pipa yang ia pecahkan, ya memang material yang terbuat dari semen, pasir dan batuan split itu masih bisa dihancurkan oleh kekuatan anak remaja seusianya. Sedangkan sebelah kanan banyak sekali dempul tanah yang mengotori pipa-pipa itu, padahal akan sayang sekali untuk warna abu-abunya yang bersih, mungkin mereka sudah terlalu marah, seperti tak menerima hidupnya sudah dibuat demikian. Bukankah ini akan sia-sia, tak menghasilkan apa pun, ya tapi setidaknya bagi anak itu kekesalan dan kesedihan dalam diri akan dengan sendirinya berpindah menuju mereka. Art tak sadar apa yang sedang dilakukannya, ia juga tak memberanikan diri membuka hatinya untuk sekarang ini. Keheningan akan bertambah-tambah, olehkarenanya berharap mereka-mereka tadi suatu saat akan mengerti.
Hari ini Art seperti biasa akan mengambil tempat
singgasananya, ada satu pipa yang selalu ia tempati, tentu saja tak semuanya ia
hancuri, pada saatnya ia juga akan butuh tempat berteduh untuk berdiam. Ia akan
habiskan sebagian besar waktu-waktunya disana, maka tak heran dalam pipa itu
banyak sekali plastik-plastik bekas makanan dan minuman cepat saji yang
berserakan. Diujung sana banyak kaleng-kaleng biskuit yang bertumpuk, dan
kotak-kotak berisi kertas-kertas bekas . Sebelum datang kesini ia juga akan
menyiapkan banyak persiapan dalam tasnya, buku-buku, juga satu selimut, dan makanan
berat. Tak lupa lampu tenda lipat tenaga surya, berwarna hijau, model lentera hingga bisa digantung.
Art mengambil pulpen dan catatannya, lalu mulai menulis,
tulisan itu kelihatannya sudah banyak sekali. Coretan-coretan yang tak ada
maksud apa-apa, menggeluti bidang ini, hanya saja berpikir untuk menyeruji sesuatu
dengan sebuah kaca baja, yang mereka didalamnya menyerupai makhluk-makhluk
bersahabat. Akhirnya, suatu hari akan menyadari bahwa mimpi buruk tak bisa ditemukan
dimanapun. Maka akan berusaha menyuarakan, dan terus menulis dalam bukunya. Lagipula kau tak akan bisa mengabadikan suatu
cerita dimanapun dalam kepala, atau dalam tangan-tangan. Suatu hari nanti manusia akan mempunyai
sifat-sifat tua. Bahkan tak akan sama lagi cara menulis yang seperti itu, yang
beraturan dan mempunyai nilai. Tapi tak mengapa, ketika kau sudah meringkuk
dalam pusara, setidaknya ada yang kau tinggalkan di dunia, ada yang menggali
sebuah tulisan kuno dengan goresan
natural, bentuk huruf khasnya memiliki kaki/sirip yang patah,
terlihat sedikit melengkung atau cembung.
Art masih menulis, mencoba berkompromi dengan mereka yang
dianggapnya dalam kaca baja tadi, yang hidup dalam tulisannya.
“Aku masih menunggu
jiwa yang waktunya ditangguhkan. Ini tak
akan berhasil walaupun dalam satu cermin
yang sama, permulaan ini membuat tak saling menyatu, salah satu tertidur pada
sebuah kotak batu. Jiwa-jiwa yang tertinggal adalah kebengisan, serakah
mengeruk habisnya, tak akan bisa melindungi apa pun. Walau berteriak, dunia
hanya akan mengembalikan hal yang sama padaku.”
Ini sia-sia, dan satu kalimat dalam pengalaman pahit itu membuka
lagi, tak heran jika dalam baris selanjutnya sampai ke bawah hanya kalimat-kalimat
menyesal,hingga kini masih belum menerima, berputus asa, teramat membenci
dirinya, ia akan berteriak keras dan menangis, suara raungan yang dihasilkan di
dalam pipa membuat telinganya akan sakit. Jika saja ada seorang yang bisa
menemukannya didalam disini dan menenangkannya, karena waktu-waktu seperti ini
akan sulit. Jeruji-jeruji dan semuanya, budak
yang konon memang tahanan hitam yang adalah makhluk gaib paling tua ribuan
tahun, dipecuti mereka dengan besi berduri. Meringkuk gemetar dengan wujud
seperti itu, terlalu sedih untuk menemui satu buah wajah di pigura-pigura dalam
kepala. Padahal ia sudah berteriak sekeras mungkin, berharap seorang paling
hebat dalam hidupnya itu akan merangkul, bukankah ayah akan segera
menemukannya, dari dulu ayah selalu bisa menemukan dimanapun ia bersembunyi,
apalagi hanya seorang bocah yang duduk dengan lutut ditekuk dalam pipa beton,
itu akan mudah terlihat. Tapi itu tak akan terjadi, selamanya Art tak akan
pernah tahu alasan ayah terburu-buru menaiki tangga langit.
Dua bulan yang lalu, ia masih mengingat caranya memaki ayah
ketika mereka bertengkar hebat. Dalam benaknya, bahwa ayah adalah seperti jamur
madu, ialah makhluk yang terbesar di muka bumi ini, jika ada yang berpikir
bahwa paus biru adalah yang terbesar, itu adalah sebuah kesalahan. Jamur ini
bisa mencapai lebihnya, bisa dibayangkan betapa besarnya, dan ia juga seperti
mempunyai kuasa pada tanaman-tanaman lain yang tumbuh, memegang segalanya,
dengan benang- benang akarnya. Tak akan lama tinggal berlama disana, jamur ini
akan merambat ke semua arah, dan orang-orang yang berkebun disana bukan suatu
keberuntungan. Tapi ia salah, memori itu ingin segera dihapus, ayah tidaklah seperti
demikian.
Didalam rumah hanya tinggal dua orang lelaki, ayah dan
dirinya, bisa dibayangkan jika tak ada yang melerai, dua lelaki yang sudah
bertemu dalam perdebatan akan mengeras seperti batu, kata-kata yang dilontarkan
akan bertumbuk. Teringat lagi olehnya mengenai amarah ayah ketika mendapati
nilai-nilanya yang amat buruk, padahal saat-saat itu sangat penting bagi para
remaja di kotanya karena akan segera melanjutkan sekolah lebih tinggi. Selama ini ia memang di urutan yang selalu
terbelakang. Ia tahu, ayah pun tak sengaja merendahkannya, hal itu karena
kecewa. Namun saat itu ia terlanjur menandasnya dengan kata-kata kasar, ia akan
buktikan bahwa ia bisa. Ayah pun membalas, “Baiklah, kita bertaruh, jika kau
sanggup melewati ujian bulan depan dan lulus, ayah yang akan pergi.” Kata ayah
seraya menunujuk-nunjuk ke wajahnya. Art bahkan tak mau memalingkan wajahnya,
lalu meninggalkan ayah sendiri disana.
Satu bulan lamanya ia meninggalkan rumah, ia benar-benar
belajar mati-matian. Hanya untuk mendapat penghargaan dan pengakuan dari ayah.
Sungguh, ia bukanlah seorang payah yang ayah pikirkan selama ini. Ia lalu
mengikat kepalanya pada buku-buku sains, bolak-balik pada perpustakaan mencari
penerangan, mengejar guru-gurunya untuk menanyakan materi yang tidak
dimengerti, belajar dengan temannya, ia bahkan mencatat ulang seluruh buku
catatan temannya bermalam-malam. Ia sungguh bekerja keras sebulan ini.
Art pun dalam waktu yang ditarget akhirnya sudah menguasai
mereka, materi-materi pelajaran , di kepala, berjalan dengan santai pada
atas-atasnya. Ia dengan penuh keyakinan, kali ini pasti berhasil. Ia pun
melangkahkan kaki gontai ke koridor ruang ujian.
Dan ketika pengumuman tiba, sungguh, bahagia tak terkira,
berteriak sendiri. Ayah akan senang, memberinya pengakuan. Namun ia masih
mengingat kejadian lalu, itu adalah pertengkaran paling hebat dengan ayah, ia
malu, mungkin ayahnya pun akan sama, ya kedua lelaki yang tidak tahu bagaimana
caranya untuk berdamai. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke tempat
pengungsiannya, dimana lagi jika bukan di pipa-pipa, oh tentu saja untuk biaya
hidupnya ia mengambil upah dengan bekerja, sebagai pengantar air mineral.
Setidaknya itu cukup untuk membeli keperluan
yang dibutuhkan.
Namun, ketika itu ia akan memutuskan minta maaf dan pulang
ke rumah, ia mendapati ayahnya sudah terbaring lemas, ternyata ayah sakit
parah. Ia pun segera memeluk ayahnya, ayah tersenyum. “Akhirnya kau pulang”,
katanya sambil memegangi wajah anak satu-satunya itu. Art melihat betapa sayang
ayah padanya, ia menangis, sambil terutunduk-tunduk kepalanya mengatakan maaf
berualang kali. Ayah menunjuk laci di dekat tempat tidurnya, “Ambillah berkas
yang ada didalam,” kata ayah lemas. Cepat-cepat Art segera membuka laci
tersebut dengan pelan-pelan, karena diatasnya ada mangkuk-mangkuk berisi ramuan-ramuan
obat, ia berharap tak menganggu mereka supaya tidak tumpah. Dan ketika ia
melihat ke dalam laci, terdapat berkas yang dilaman depan ada bertuliskan namanya.
Tertulis disana bahwa yang bersangkutan telah terdaftar di sebuah sekolah tinggi
yang terlampir, dan itu adalah yang paling terkemuka. Ia juga membuka
laman-laman belakang, syarat-syarat ketentuan dan biaya yang sudah diisi rapi, tak lain tulisan
ayahnya. Art amat terharu. Ia memandangi wajah ayah lama sambil menangis, ternyata
ayah mencari tahu mengenai dirinya, dan sudah melakukan sejauh ini, hanya
untuknya, bahkan ia tahu jurusan yang akan diambilnya. Ia tak tahu harus
berkata apa, sambil mengusap air matanya ia berkata, “Mengapa kau tak minta diantarkan
olehku untuk mendaftarkan ini, ayah? Kita bisa pergi bersama-sama” ,
katanya masih menangis. Ayahnya hanya tersenyum, lalu memeluk erat anak
laki-laki yang ia nantikan berminggu-minggu, sudah lama sekali rasanya . Namun,
beberapa hari kemudian ayah tak bisa menahan lagi sakitnya, ia pun pergi,
meninggalkannya, untuk selama-lamanya.
Art masih mengingat kejadian itu dengan jelas, dari ayah menghadapi
detik-detik terakhirnya sampai ke pemakaman. Pada saat itu salah seorang
tetangga menemuinya, menceritakan bahwa ayahnya mengidap penyakit itu sudah
lama, ayah sering meminta rempah-rempah kepada tetangganya itu untuk membuat
ramuan obat. Tetangganya menanyakan mengapa tidak pergi ke dokter saja, lalu
ayah berkata, “Kau tahu, anakku lulus dan ia akan melanjutkan sekolahnya di tempat yang hebat, aku tak mau nanti mengurangi
biaya sekolahnya.”
Art masih membayangkan hari ketika ia tahu hal itu, ia
menangis sejadi-jadinya, menyalahkan diri, berontak, berlari sekencangnya-kencangnya,
tempat pengungsiannya pada pipa-pipa itu ia lampiaskan, memukuli diri disana.
Hingga saat ini, masih berputus asa.
Art berhenti menulis, mengingat kejadian ini membuat diri
terlalu lemah. Tak terasa hari sudah hampir pagi. Art masih mengusap-ngusap
wajahnya, lalu mencoba merapikan kertas-kertasnya ke dalam tas, sedangkan
kertas-kertas yang penuh salahnya akan ia lemparkan saja pada kotak-kotak
diujung. Ketika ia sedang sibuk sendiri, ada seorang tua yang menghampirinya,
orang itu sungguh kumuh seperti dirinya saat ini, ya satu bulan ini ia hanya
hidup terkatung-katung . Orang tua itu memakai kaus berwarna putih kumal,
celana cingkrang, mengenakan topi hitam kerut. Ia membawa tongkat besi, dan
satu buah karung penuh dengan barang-barang berkarat. Orang tua itu adalah
pemulung yang khusus mencari serbuk besi, bisa dilihat tongkat besinya
mengacak-acak pasir yang ada didekatnya, berharap pada pasir-pasir tersebut
mengandung unsur besi, dan serbuk itu akan dijual, beruntung jika ia dapat
menemukan paku-paku tua, atau besi lainnya. Maka Art tak heran orang tua itu
bisa sampai kesini, reruntuhan pabrik tua ini akan menjadi adalah hartanya.
Orang tua itu terlihat angkuh, sambil mengernyitkan dahinya
lalu berkata pada Art, “Ternyata ini anak dari orang gila itu.”, katanya sambil
memicingkan mata. “Apa maksudmu pak tua?”, tanya Art dengan marah, kebetulan
sekali ia butuh satu lagi tempat pelampiasan. “Ya, orang gila itu setiap hari selalu
mengintip di belakang pabrik itu, lalu ia akan senyum-senyum sendiri lalu
mengatakan padaku bahwa orang yang didalam pipa itu anaknya, tapi entah mengapa
ia tak terlihat lagi sekarang.”, katanya. Art sungguh terkejut, tangannya bergetar,
lalu ia memohon kepada orang tua itu untuk menceritakan ciri-ciri orang yang tadi
dikatakan. Dan ternyata, benarlah, orang yang dimaksud adalah ayahnya.
Art menjatuhkan lututnya, menangis dan memegangi dadanya.
Ternyata ayah selama ini memperhatikannya. Orang tua itu melihat Art seperti
orang sakit lalu berlari meninggalkannya. Art sungguh tak peduli. Teringat lagi
oleh Art ucapan ayah pada detik-detik terakhirnya, “Apakah kau ingat ketika kau
masih kecil, anakku? Waktu itu dimana pun kau bersembunyi aku dapat dengan
mudah menemukanmu. Maafkan ayah, tapi kau harus tahu bahwa ayah akan selalu
mendukung semua usahamu.”
Art yang kini masih disana menangis sejadinya. Namun
walaupun ia berteriak keras hingga pipa-pipa menggema, ayah tak ada disana.
seravi
seravi


Komentar
Posting Komentar