Pipa Menggema



www.metmusium.org


Pekerjaannya adalah ke tempat reruntuhan pabrik agak jauh dari sekolahnya, tempat itu adalah yang amat tepat untuk melarikan diri, terlalu sepi. Kau tak akan diganggu oleh manusia manapun, hidup dari masa lalu, atau tugas-tugas yang mengikuti. Bagi Art, tempat itu adalah surganya saat ini, ia hanya ingin tenang, butuh sekali energi baik agar otak ini berputar normal. Ia menganggap dirinya yang sekarang tidak utuh, sebaiknya segera kembali, karena jiwa-jiwanya yang berkeliaran terus-terusan berteriak-teriak sendiri, menyalahkan diri.  Area daerah itu pun sudah berantakan, yakni tempat yang ia ambil sebagai tempat pelampiasan, tanah rerumputan belakang pabrik, terdapat bekas pipa-pipa beton yang menumpuk disana. Pemandangan yang sudah tak layak, itu tak bisa dihindari, hampir setiap waktu tempat itu akan dihancuri oleh orang yang berkemeja kotak-kotak biru muda itu. Bisa dilihat sebelah kiri banyak sekali dari bongkahan-bongkahan batu berasal dari pipa yang ia pecahkan, ya memang material yang terbuat dari semen, pasir dan batuan split itu masih bisa dihancurkan oleh kekuatan anak remaja seusianya. Sedangkan sebelah kanan banyak sekali dempul tanah yang mengotori pipa-pipa itu, padahal akan sayang sekali untuk warna abu-abunya yang bersih, mungkin mereka sudah terlalu marah,  seperti  tak menerima hidupnya sudah dibuat demikian. Bukankah ini akan sia-sia, tak menghasilkan apa pun, ya tapi setidaknya bagi anak itu kekesalan dan kesedihan dalam diri akan dengan sendirinya berpindah menuju mereka. Art tak sadar apa yang sedang dilakukannya, ia juga tak memberanikan diri membuka hatinya untuk sekarang ini. Keheningan akan bertambah-tambah, olehkarenanya berharap mereka-mereka tadi suatu saat akan mengerti.  

Hari ini Art seperti biasa akan mengambil tempat singgasananya, ada satu pipa yang selalu ia tempati, tentu saja tak semuanya ia hancuri, pada saatnya ia juga akan butuh tempat berteduh untuk berdiam. Ia akan habiskan sebagian besar waktu-waktunya disana, maka tak heran dalam pipa itu banyak sekali plastik-plastik bekas makanan dan minuman cepat saji yang berserakan. Diujung sana banyak kaleng-kaleng biskuit yang bertumpuk, dan kotak-kotak berisi kertas-kertas bekas . Sebelum datang kesini ia juga akan menyiapkan banyak persiapan dalam tasnya, buku-buku, juga satu selimut, dan makanan berat. Tak lupa lampu tenda lipat tenaga surya, berwarna hijau, model lentera  hingga bisa digantung.

Art mengambil pulpen dan catatannya, lalu mulai menulis, tulisan itu kelihatannya sudah banyak sekali. Coretan-coretan yang tak ada maksud apa-apa, menggeluti bidang ini, hanya saja berpikir untuk menyeruji sesuatu dengan sebuah kaca baja, yang mereka didalamnya menyerupai makhluk-makhluk bersahabat. Akhirnya, suatu hari akan menyadari bahwa mimpi buruk tak bisa ditemukan dimanapun. Maka akan berusaha menyuarakan, dan terus menulis dalam bukunya.  Lagipula kau tak akan bisa mengabadikan suatu cerita dimanapun dalam kepala, atau dalam tangan-tangan.  Suatu hari nanti manusia akan mempunyai sifat-sifat tua. Bahkan tak akan sama lagi cara menulis yang seperti itu, yang beraturan dan mempunyai nilai. Tapi tak mengapa, ketika kau sudah meringkuk dalam pusara, setidaknya ada yang kau tinggalkan di dunia, ada yang menggali sebuah tulisan kuno dengan goresan natural, bentuk huruf khasnya memiliki kaki/sirip yang patah, terlihat sedikit melengkung atau cembung.

Art masih menulis, mencoba berkompromi dengan mereka yang dianggapnya dalam kaca baja tadi, yang hidup dalam tulisannya.

“Aku masih menunggu jiwa yang  waktunya ditangguhkan. Ini tak akan berhasil  walaupun dalam satu cermin yang sama, permulaan ini membuat tak saling menyatu, salah satu tertidur pada sebuah kotak batu. Jiwa-jiwa yang tertinggal adalah kebengisan, serakah mengeruk habisnya, tak akan bisa melindungi apa pun. Walau berteriak, dunia hanya akan mengembalikan hal yang sama padaku.”

Ini sia-sia, dan satu kalimat dalam pengalaman pahit itu membuka lagi, tak heran jika dalam baris selanjutnya sampai ke bawah hanya kalimat-kalimat menyesal,hingga kini masih belum menerima, berputus asa, teramat membenci dirinya, ia akan berteriak keras dan menangis, suara raungan yang dihasilkan di dalam pipa membuat telinganya akan sakit. Jika saja ada seorang yang bisa menemukannya didalam disini dan menenangkannya, karena waktu-waktu seperti ini akan sulit. Jeruji-jeruji dan semuanya,  budak yang konon memang tahanan hitam yang adalah makhluk gaib paling tua ribuan tahun, dipecuti mereka dengan besi berduri. Meringkuk gemetar dengan wujud seperti itu, terlalu sedih untuk menemui satu buah wajah di pigura-pigura dalam kepala. Padahal ia sudah berteriak sekeras mungkin, berharap seorang paling hebat dalam hidupnya itu akan merangkul, bukankah ayah akan segera menemukannya, dari dulu ayah selalu bisa menemukan dimanapun ia bersembunyi, apalagi hanya seorang bocah yang duduk dengan lutut ditekuk dalam pipa beton, itu akan mudah terlihat. Tapi itu tak akan terjadi, selamanya Art tak akan pernah tahu alasan ayah terburu-buru menaiki tangga langit.

Dua bulan yang lalu, ia masih mengingat caranya memaki ayah ketika mereka bertengkar hebat. Dalam benaknya, bahwa ayah adalah seperti jamur madu, ialah makhluk yang terbesar di muka bumi ini, jika ada yang berpikir bahwa paus biru adalah yang terbesar, itu adalah sebuah kesalahan. Jamur ini bisa mencapai lebihnya, bisa dibayangkan betapa besarnya, dan ia juga seperti mempunyai kuasa pada tanaman-tanaman lain yang tumbuh, memegang segalanya, dengan benang- benang akarnya. Tak akan lama tinggal berlama disana, jamur ini akan merambat ke semua arah, dan orang-orang yang berkebun disana bukan suatu keberuntungan. Tapi ia salah, memori itu ingin segera dihapus, ayah tidaklah seperti demikian.

Didalam rumah hanya tinggal dua orang lelaki, ayah dan dirinya, bisa dibayangkan jika tak ada yang melerai, dua lelaki yang sudah bertemu dalam perdebatan akan mengeras seperti batu, kata-kata yang dilontarkan akan bertumbuk. Teringat lagi olehnya mengenai amarah ayah ketika mendapati nilai-nilanya yang amat buruk, padahal saat-saat itu sangat penting bagi para remaja di kotanya karena akan segera melanjutkan sekolah lebih tinggi.  Selama ini ia memang di urutan yang selalu terbelakang. Ia tahu, ayah pun tak sengaja merendahkannya, hal itu karena kecewa. Namun saat itu ia terlanjur menandasnya dengan kata-kata kasar, ia akan buktikan bahwa ia bisa. Ayah pun membalas, “Baiklah, kita bertaruh, jika kau sanggup melewati ujian bulan depan dan lulus, ayah yang akan pergi.” Kata ayah seraya menunujuk-nunjuk ke wajahnya. Art bahkan tak mau memalingkan wajahnya, lalu meninggalkan ayah sendiri disana. 

Satu bulan lamanya ia meninggalkan rumah, ia benar-benar belajar mati-matian. Hanya untuk mendapat penghargaan dan pengakuan dari ayah. Sungguh, ia bukanlah seorang payah yang ayah pikirkan selama ini. Ia lalu mengikat kepalanya pada buku-buku sains, bolak-balik pada perpustakaan mencari penerangan, mengejar guru-gurunya untuk menanyakan materi yang tidak dimengerti, belajar dengan temannya, ia bahkan mencatat ulang seluruh buku catatan temannya bermalam-malam. Ia sungguh bekerja keras sebulan ini. 

Art pun dalam waktu yang ditarget akhirnya sudah menguasai mereka, materi-materi pelajaran , di kepala, berjalan dengan santai pada atas-atasnya. Ia dengan penuh keyakinan, kali ini pasti berhasil. Ia pun melangkahkan kaki gontai ke koridor ruang ujian. 

Dan ketika pengumuman tiba, sungguh, bahagia tak terkira, berteriak sendiri. Ayah akan senang, memberinya pengakuan. Namun ia masih mengingat kejadian lalu, itu adalah pertengkaran paling hebat dengan ayah, ia malu, mungkin ayahnya pun akan sama, ya kedua lelaki yang tidak tahu bagaimana caranya untuk berdamai. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke tempat pengungsiannya, dimana lagi jika bukan di pipa-pipa, oh tentu saja untuk biaya hidupnya ia mengambil upah dengan bekerja, sebagai pengantar air mineral. Setidaknya itu cukup untuk membeli  keperluan yang dibutuhkan.

Namun, ketika itu ia akan memutuskan minta maaf dan pulang ke rumah, ia mendapati ayahnya sudah terbaring lemas, ternyata ayah sakit parah. Ia pun segera memeluk ayahnya, ayah tersenyum. “Akhirnya kau pulang”, katanya sambil memegangi wajah anak satu-satunya itu. Art melihat betapa sayang ayah padanya, ia menangis, sambil terutunduk-tunduk kepalanya mengatakan maaf berualang kali. Ayah menunjuk laci di dekat tempat tidurnya, “Ambillah berkas yang ada didalam,” kata ayah lemas. Cepat-cepat Art segera membuka laci tersebut dengan pelan-pelan, karena diatasnya ada mangkuk-mangkuk berisi ramuan-ramuan obat, ia berharap tak menganggu mereka supaya tidak tumpah. Dan ketika ia melihat ke dalam laci, terdapat berkas yang dilaman depan ada bertuliskan namanya. Tertulis disana bahwa yang bersangkutan telah terdaftar di sebuah sekolah tinggi yang terlampir, dan itu adalah yang paling terkemuka. Ia juga membuka laman-laman belakang, syarat-syarat ketentuan dan biaya  yang sudah diisi rapi, tak lain tulisan ayahnya. Art amat terharu. Ia memandangi wajah ayah lama sambil menangis, ternyata ayah mencari tahu mengenai dirinya, dan sudah melakukan sejauh ini, hanya untuknya, bahkan ia tahu jurusan yang akan diambilnya. Ia tak tahu harus berkata apa, sambil mengusap air matanya ia berkata, “Mengapa kau tak minta diantarkan olehku untuk mendaftarkan ini, ayah? Kita bisa pergi bersama-sama” , katanya masih menangis. Ayahnya hanya tersenyum, lalu memeluk erat anak laki-laki yang ia nantikan berminggu-minggu, sudah lama sekali rasanya . Namun, beberapa hari kemudian ayah tak bisa menahan lagi sakitnya, ia pun pergi, meninggalkannya, untuk selama-lamanya. 

Art masih mengingat kejadian itu dengan jelas, dari ayah menghadapi detik-detik terakhirnya sampai ke pemakaman. Pada saat itu salah seorang tetangga menemuinya, menceritakan bahwa ayahnya mengidap penyakit itu sudah lama, ayah sering meminta rempah-rempah kepada tetangganya itu untuk membuat ramuan obat. Tetangganya menanyakan mengapa tidak pergi ke dokter saja, lalu ayah berkata, “Kau tahu, anakku lulus dan ia akan melanjutkan sekolahnya  di tempat yang hebat, aku tak mau nanti mengurangi  biaya sekolahnya.”
Art masih membayangkan hari ketika ia tahu hal itu, ia menangis sejadi-jadinya, menyalahkan diri, berontak, berlari sekencangnya-kencangnya, tempat pengungsiannya pada pipa-pipa itu ia lampiaskan, memukuli diri disana. Hingga saat ini, masih berputus asa.
Art berhenti menulis, mengingat kejadian ini membuat diri terlalu lemah. Tak terasa hari sudah hampir pagi. Art masih mengusap-ngusap wajahnya, lalu mencoba merapikan kertas-kertasnya ke dalam tas, sedangkan kertas-kertas yang penuh salahnya akan ia lemparkan saja pada kotak-kotak diujung. Ketika ia sedang sibuk sendiri, ada seorang tua yang menghampirinya, orang itu sungguh kumuh seperti dirinya saat ini, ya satu bulan ini ia hanya hidup terkatung-katung . Orang tua itu memakai kaus berwarna putih kumal, celana cingkrang, mengenakan topi hitam kerut. Ia membawa tongkat besi, dan satu buah karung penuh dengan barang-barang berkarat. Orang tua itu adalah pemulung yang khusus mencari serbuk besi, bisa dilihat tongkat besinya mengacak-acak pasir yang ada didekatnya, berharap pada pasir-pasir tersebut mengandung unsur besi, dan serbuk itu akan dijual, beruntung jika ia dapat menemukan paku-paku tua, atau besi lainnya. Maka Art tak heran orang tua itu bisa sampai kesini, reruntuhan pabrik tua ini akan menjadi adalah hartanya.
Orang tua itu terlihat angkuh, sambil mengernyitkan dahinya lalu berkata pada Art, “Ternyata ini anak dari orang gila itu.”, katanya sambil memicingkan mata. “Apa maksudmu pak tua?”, tanya Art dengan marah, kebetulan sekali ia butuh satu lagi tempat pelampiasan. “Ya, orang gila itu setiap hari selalu mengintip di belakang pabrik itu, lalu ia akan senyum-senyum sendiri lalu mengatakan padaku bahwa orang yang didalam pipa itu anaknya, tapi entah mengapa ia tak terlihat lagi sekarang.”, katanya. Art sungguh terkejut, tangannya bergetar, lalu ia memohon kepada orang tua itu untuk menceritakan ciri-ciri orang yang tadi dikatakan. Dan ternyata, benarlah, orang yang dimaksud adalah ayahnya. 

Art menjatuhkan lututnya, menangis dan memegangi dadanya. Ternyata ayah selama ini memperhatikannya. Orang tua itu melihat Art seperti orang sakit lalu berlari meninggalkannya. Art sungguh tak peduli. Teringat lagi oleh Art ucapan ayah pada detik-detik terakhirnya, “Apakah kau ingat ketika kau masih kecil, anakku? Waktu itu dimana pun kau bersembunyi aku dapat dengan mudah menemukanmu. Maafkan ayah, tapi kau harus tahu bahwa ayah akan selalu mendukung semua usahamu.” 

Art yang kini masih disana menangis sejadinya. Namun walaupun ia berteriak keras hingga pipa-pipa menggema, ayah tak ada disana.


seravi

Komentar

Postingan Populer