Kapsul Waktu



charlesdickens


Taman maple itu sama seperti dulu, tak berubah. Sama halnya seperti masyarakat pohonnya. Sepertinya pohon-pohon disana cukup nyaman menyandang tokoh jahat karena menggugurkan daun-daun merahnya yang indah. 10 tahun sepertinya sudah cukup lama jika ingin mengubah sifatnya, tapi percuma, daun-daunnya sudah banyak yang mengapung pada anak danau di dekat sana, membentuk lukisan kuda merah. Dan laki-laki diseberangnya akan jelas tertarik, bahkan melihat piguranya saja.

Sambil menunggu temannya, laki-laki itu duduk di bangku dekat sana. Layaknya tidak ada yang dikerjakan, maka menghitung si lembar buku dan menanandai dengan daun maple pada setiap lembar yang disuka. Tentu saja itu membosankan, ia akan terus-terusan mendengar gerutu dari si paman buku karena mengotori halamannya. Paman buku bahkan akan mengadu pada Profesor karena sifatnya yang pemalas yaitu enggan menyusuri negeri di dalam kertas. Tapi kali ini gerutu itu ditepisnya, lalu pikiran mulai berkelana pada usia 14 tahun, bersahabat dengan anak kecil dimana menjalinnya seperti sudah 3 kurun. Dari situ barulah mengenal yang dinamakan persahabatan laki-laki. Dan sepulang sekolah adalah musim hibernasi, engkau bisa menyuruh si pelajaran ilmiah tidur panjang kali ini.

Bersama sahabatnya, ia akan berlarian senang sambil menunjuk awan yang berarak. Sambil berlomba menuju si toko buku galak. Ya, mereka namakan demikian karena pemiliknya sungguh sangar, tak bersahabat. Tapi di toko buku itulah harta karun mereka. Buku-buku cerita pahlawan berbaris pada lemari coklat tua yang masih kuat walau dimakan usia. Setelah membeli beberapa buku dengan uang saku, pergi dari sana lalu menuju taman maple yang berbatu. Engkau akan menemukan tempat nyaman dibawah pohon rindangnya, beristirahat tenang membayangkan satu tokoh cerita.

Kemudian waktu-waktu bahagia itu berhenti, karena mereka mempunyai satu buah janji. Tak akan lagi membaca cerita pahlawannya, karena ujian akhir sekolah menagih semua nilainya. Jadilah buku cerita keduanya dikubur bersama dengan satu buah surat di bawah salah satu pohon maple disana. Ini akan menjadi sebuah kapsul waktu, seperti wadah khusus untuk menyampaikan pada dirimu yang satu lagi di masa depan. Keduanya pun berjanji akan kembali, dan menjadi orang berhasil 10 tahun lagi.

"Cita-cita itu seperti daun maple kawan, sebuah proses alam akan membuat pesona merahnya semakin membara jika sabar menemui musim gugurnya", ucap salah satu dari mereka.

Laki-laki dibangku sana masih menunggu sahabatnya. Kemarin membuka surat email dari seorang sahabat. Ternyata sang sahabat mencari mengenai dirinya. Saling bercerita. Ikut senang bahwa sahabat kini sudah menjadi pengusaha besar di negara sana. Bagaimana dengan dirinya? Ia juga telah menjadi salah satu mahasiswa yang hendak mengambil gelar hebat pada universitas unggul di negaranya. Akhirnya sahabat yang ditunggu-tunggu datang. Dari kejauhan ia sudah tersenyum cerah. Keduanya pun pergi menuju salah satu pohon maple mereka.


seravi

Komentar

Postingan Populer