Rumah Pohon Ek Nebula



gutenberg.org


Penurunan rumus yang ditulis orang itu di papan membentuk 'grafena' aneh, seperti alotrop karbon yang terdiri atas susunan atom-atom berantakan. Tapi orang itu tak peduli, setelah menjawab soal di depan lalu pulang ke asal, di bangkunya yang belakang untuk kembali tidur. Guru yang melihat penurunan rumus tadi begitu kagum, terlihat senang sendiri memberi seorang murid nilai tinggi. Sedangkan jenis rodentia langka tadi masih saja tidur, mengerang di rumah dengan atap-atap buku. Shawn tak suka melihat itu. Tangannya pun dengan kuasa merobek satu halaman dari buku sains yang sudah berbulu tanda dibaca tuannya terus menerus. Memang sedari lama rasa benci sudah menutup kacamatanya sejak peringkat satu diambil oleh anak baru itu. Ia tak akan menerima, selama-lamanya. Siapa yang akan rela jika rival sejati bahkan tak pernah memakai kaus kaki hingga selalu dihukum oleh guru. Satu gumpal daging kurus membungkuk, berjalan terseak-seak seperti ingin merebahkan diri ke usungan, tak peduli dengan sekitar yang melihat rambut dan seragam berantakan seperti isi loker tua. Orang itu pemalas. Tak pernah dilihat Shawn suatu aura ingin belajar. Selalu tidur di kelas saat guru dibenamkan gunungan buku-buku atau bentengan kapur. Meriam putih benteng lalu melemparkan banyak ke arah orang itu kemudian mendapat lagi hukuman tambah.

'Alan Dover'. Nama itu terus mengitari kepala Shawn sejak tertulis tinggi di peringkat pertama pada papan pengumuman sekolah. Sungguh menyakitkan bahwa ia di urutan kedua. Tapi itu tak membuat Shawn menyerah. Selama ini ia selalu tekun belajar, walau setelah liburan musim panas selanjutnya ketentuan peringkat tak bisa diubah. Sebelum ini padahal ia hidup tenang, tapi kini harus bermalam panjang dengan buku-buku sains. Dan malam ini akan melelahkan lagi pikirnya, karena robekan laman buku yang ia lakukan siang tadi di kelas adalah hal yang harus dibayar. Ia pun kembali belajar. Namun karena amarah, buku seperti tak berguna. Soal-soal pun ditaut dengan rumus asal-asalan. Untung saja tak lama ibu masuk, menyuruh membeli sesuatu di toko ujung jalan. Ia pun menghentikan pekerjaan, anggap saja ini istirahat setelah bertukar pikiran dengan rumus rombakan.

Sambil berjalan ke arah toko, ia melamun. Mengingat hal-hal tak menyenangkan selama berdampingan dengan peringkat satu. Mulai dari perkenalan orang itu di depan kelas yang lupa mengenakan sepatu hingga persentasi temuan aneh pada pelajaran sains yang mengantongi nilai A sempurna. Ia akui Alan Dover memang jenius, atau mungkin Alan sudah dilahirkan sebagai ilmuwan muda di abad ini. Sambil melamun tak tahu orang jenius yang baru dibicarakan muncul, dilihatnya Alan sedang berjalan ke arah hutan. Ia berpikir untuk apa Alan malam-malam seperti ini kesana, bukankah itu terlarang untuk umum, bahkan tersiar kabar di kota bahwa makhluk tak bertuan terbang di antara pohon-pohon Ek tersebut. Mencoba menghilangkan rasa takut, Shawn pun mengikuti.

Sebuah pohon Ek besar menjadi sasaran Alan untuk dinaiki, lalu tak lama berhenti di atas untuk bersembunyi. Ternyata disana ada rumah kayu kecil. Alan sungguh pintar pikirnya, membuat tempat rahasia hingga orang yang menemukan hanya akan menganggap sebagai rumah paman-paman tupai. Shawn pun mulai memanjat, dan tak lama tiba di atas. Tetapi ketika disana ia hanya diam. Dilihatnya banyak bejana berasap yang mengeluarkan bau asam. Di papan kayu dekat pintu rumah bertuliskan 'Rumah pohon Ek dalam Nebula'. Ia berpikir Alan menamakan itu mungkin karena tempat ini terlihat seperti awan antar bintang yang didalamnya terdiri dari asap, debu dan plasma. Di tengah ruangan terdapat aquarium berbentuk selang dengan cairan hijau, tentu saja itu ramuan aneh temuan tuannya. Di sudut sana terdapat mesin-mesin buatan tangan yang belum selesai, terlihat dari loncatan api biru yang merubuh banyak penduduknya. Di dinding terdapat banyak rumus-rumus, turunan itu bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya. Shawn masih diam, di dalam hati sebenarnya amat kagum dengan itu semua. Sang peringkat satu pun mendekatinya, sambil senyum manis ia berkata, "Kau tahu, suatu hari aku akan menjadi penemu hebat, dan kau adalah asistenku yang pertama".


seravi

Komentar

Postingan Populer