Profesor



Profesor memarahinya lagi. Kerah kemejanya ketakutakan hingga bertumpuk keringat menjadi-jadi. Ia tahu, kerahnya daritadi bersembunyi dibalik batang kepala yang sudah berat dipenuhi tugas science ini. Menjadi mahasiswa, anak kaki lemas ketika mengenal momen magnet anomali elektron, pergeseran Lamb tingkat energi hidrogen atau semacamnya. Bertanya dihati bagaimana Richard Feynman senang sekali menghabiskan sisa hidupnya dengan hal itu, hingga Nobel Fisika tidak lagi menjadi tujuannya dikala itu. Feynman mungkin ditakdir menjadi fisikawan hebat, tentu saja. Terlihat sedari remaja ia sudah membuat laboratorium rahasia, berkutat dengan listrik dan kimia hingga ramuan diambil dari sayur-sayuran dapur ibunya. Semuanya itu karena kesenangan dan keingintahuannya. Kecintaan pada dunia bernama "Fisika".

Kelas kemarin. Sungguh, seperti labirin. Bisa dilihat setiap baris berjajar rapi mahasiswa yang tertidur pulas, hidup tenang dengan gulingnya si pensil malas. Sedangkan mahasiswa tidak tidur yang menegakkan badan, itulah dinding labirinnya. Tak heran. Profesor didepan tidak menarik perhatian. Padahal Diagram yang digambarnya sudah begitu jelas. Penurunan rumus pun ditambahkan agar catatan buku meluas, tapi anak didik malah semakin erat memeluk gulingnya si pensil malas. Dimimpi mereka Profesor sedang bercerita fabel cengeng. Ini bukan cerita dongeng. Ini tentang Teori Elektrodinamika quantum. Yang matematikanya tak akan cukup memenuhi satu kelas umum. Profesor marah. Berjanji akan memberi tugas berat bagi siapa saja yang tidur disana.

"Ada seorang fisikawan yang mencintai materi pada laboratoriumnya, kemudian ia menemukan semua fenomena yang melibatkan partikel bermuatan listrik didalamnya. Ada seorang pelajar yang mencintai materi pada pelajarannya, ia akan menemukan keberhasilan dari fenomena ilmu didalamnya.", kata Profesor.

Mahasiswa itu masih dikantor. Sebenarnya dalam hati sudah mengaku salah pada Profesor. Ia yang telah lalai dalam pelajaran, sungguh kali ini berniat untuk membenahi catatan. Profesor memberikan lagi buku mahasiswa itu yang sudah dicoretnya. Mahasiswa itu pun menerima, melangkah pulang hendak menyelesaikan revisi cerita.


seravi


Komentar

Postingan Populer