Pemuka Emas
Satu atau dua piala berpendar cahaya akan dibiarkannya
saja, tak apa sungai perak mengenyam. Batu tak tahu tujuan piala, maka akan
terus mengisi didalamnya pasir-pasir dari sungai. Padahal kulit piala tak akan
bisa menderita miskin, bahkan selamanya. Puannya menerima, bahkan tertawa
mengisi pasir selanjutnya, lalu melintah manusia hingga kenyanglah ususnya.
Manusia lain mencari di hilir sungai, memanggil pelikan untuk memberi tahu
kulit lainnya. Tapi mereka tidak tahu, pelikan lebih pintar, mengarak pesta di
tempat curam, gandrungi bebatuan tajam hingga berlubang bilik jantung disana.
Membuat pusara lebih mudah, karena persediaan makanan lebih banyak. 'Pemuka
emas' senang melihat itu, ia memang seorang keji lagi sombong hatinya,
celakalah anak buah tadi yang memetik anggur di kebunnya.
Setelah bersenang, ia kembali pada kemegahannya.
Kegembiraan itu seperti membuat kosong lagu pianis pemula, kemurnian dan
kebaikan. Ia meyakini jelmaan tembikar lama, ketamakan dan kegelapan.
Menurutnya itulah yang dinamakan kekuatan, melumat penggerai emas. Dengan ini
bisa menginjak bagi mereka pengguna bahasa 'patois', yang menurutnya kaum dunia
keempat sebagai budak penggiling emas digudangnya. Dan bisa menaklukkan bagi
mereka bangsawan berprestise tinggi, yang menurutnya kaum bodoh pemakan roti
kering bersama burung-burung gagak. Ia sungguh yakin kekuatan itu selalu
mengikutinya, karena tahu gudangnya akan selalu kaya, selama-lamanya.
Tapi kemudian kesenangan itu hanya sebentar, Tuhan adalah
Sang penghukum ketamakan. Tak tahu darimana beberapa pembajak membilah
harta-hartanya. Gudang dibakar, setelah diambil tumpukan karung-karung yang
bernilai keping bulan. Ketua pembajak menyempatkan diri bertemu muka. Akhirnya
Pemuka emas pun dibunuh dengan belati kemuliaannya. Ia hanya bisa meraih
kesakitan, tapi lebih menangisi harta yang sudah dikalungkan di leher para
pembajak. Tahulah ia sekarang bahwa satu keping saja tak bisa ia ambil untuk
menemani tidur di peti matinya.
seravi


Komentar
Posting Komentar