Tambang Palch
Menurutnya anak kecil yang lalu lalang didepannya adalah ilalang bahagia. Bersama induk dan saudara akan senang sekali tinggal di dekat rel kereta. Induk pun dengan pintar memantau angin segera, lalu memberitahukan kepada anak-anak jika kereta sudah datang. Laju kencang dari sana akan mendatangkan angin yang kuat, lalu bulir-bulir padian pada mahkota akan berjatuhan secara lambat. Makhluk yang terbawa angin akan ambil sedikit bagian, lalu menyebarkan bulir tersebut di langit luas bersama teman-teman. Sedikit serbuk mereka tambahkan, akhirnya bulir yang berjatuhan pun mempunyai warna-warni yang cerah. Itu seperti musim gugur yang begitu indah. Sungguh beruntung ilalang tadi yang hidup bersama dengan induknya.
Seorang anak kecil disana memang tak seberuntung ilalang
tersebut, tapi setidaknya ia juga mempunyai sebentuk rupa induk yang
mengajarkan kebaikan di kehidupan selanjutnya. Ibunya selalu mengajarkan banyak
hal, mulai dari kebahagiaan memakan roti isi dengan selai atau menusuri buku
dongeng Palch dan tambang emasnya. Diceritakan ibu bahwa Palch adalah anak
baik lagi dermawan, walaupun punya tambang emas, ia tidak kikir, ia beri
sebagian hartanya kepada orang-orang desa. Itu salah satu dongeng yang disukai
oleh si anak, dengan mengingat itu buat hati menjadi bahagia. Ia juga ingin
kaya seperti di tokoh cerita. Sebenarnya jika ia menjadi kaya, sebagian uang
ingin digunakan untuk mengajak ibu berlibur di sebuah tempat mewah. Namun
ajakan itu kini hanya bisa disimpan, karena ibunya sudah tidur sedari lama.
Olehkarena itu kepal tangannya ingin menerobos kaca yang sedang mengurung ibu
dengan selang-selang infus menakutkan. Tak apa kaca membalik bayangan tuannya,
asal ia bisa bertemu dengan ibu di dalam. Ia berpikir ibu tak boleh disana.
Udara ruangan putih akan membiasakan malaikat pencabut nyawa terbang tak jera.
Karlstad, untuk menyebut anak itu. 10 tahun tak masalah
baginya melakukan pekerjaan paruh waktu. Karl yang berembun mencuci piring
restoran. Karl yang berlumpur di ladang gandum. Karl yang berlari mengambil
bola golf. Karl yang berkeringat mengantar koran. Tapi ia bahagia, lelah
berbalik upah untuk membeli obat-obatan ibu.
Namun perang tetap saja bergulir, berpikir keras
bagaimana pangeran kecil seperti dirinya menyelamatkan Ibu ratu dari sakit.
Bahkan ia belum dewasa, tak punya cukup kekuatan untuk ambil alih sebuah puri.
Ia pun menangis. Sebenarnya dirinya sudah tahu mengenai jawaban atas perangnya.
Teringat lagi olehnya mengenai sebuah perdebatan dengan dirinya semalam. Pak
Watson sedari lama ingin mengadopsinya, mengatakan padanya akan membayar
seluruh operasi ibu jika ia mau menjadi anak tunggal di rumah beliau. Namun
Bibi Willy mengatakan bahwa rumah keluarga Watson amat jauh, bahkan di luar
benua kita. Memikirkan itu, ia bertambah sakit. Sambil mengetuk-ngetuk kecil
kaca ruangan ibu, ia kembali menangis. Mengambil kertas dan pensil dari tasnya,
lalu membuat sebuah surat.
Di dalam coretannya ia berkata,
"Bukankah kita teman akrab. Sebelum ayah meninggal, ibu
bahkan membela dari ayah yang sedang marah. Aku tahu, aku yang lalai dari
pelajaran. Saat ini aku juga ingin minta maaf kepada ayah. Tak mengapa ayah
memberiku lagi hukuman. Tapi jangan menambahkan hukumanku dengan pergi ke surga
bersamanya. Aku berjanji akan menjadi anak baik selama-lamanya. Aku akan
mengerjakan semua Pr musim panas. Aku tak akan lagi berkelahi dan mengambil
coklat-coklat mereka. Aku akan rajin belajar ibu. Kupastikan semua itu akan
kulakukan agar ibu senang. Tapi aku akan pergi ibu, sebentar saja. Pergi jauh
mungkin dengan menaiki kereta. Tapi aku akan kembali menjemput ibu. Ketika
waktu itu tiba, kita akan bersenang-bersenang, bersama memakan roti isi di
sebuah taman."
Karl menempelkan surat itu di kaca ruangan. Lalu
melangkah pulang. Kaki kecilnya pun pergi dengan cerita-cerita Palch dengan
tambang emasnya.
seravi


Komentar
Posting Komentar