Kelinci Gemuk


Sebenarnya ia suka menempel pada sarangnya. Tapi tak diakui, karena segunung wortel memihak hidupnya. Tetap saja, ia masih gudukan. Kau tahu, menyerupai perahu kecil yang banyak diamnya, merasa cukup dengan segalanya. Tak bisa menjadi dunia-dunia menakjubkan. Tapi sungguh, dengan ini ia dan sarangnya amat bersyukur. Setidaknya tanah pijakan masih nyaman, kebun milik sendiri terlalu subur. Menaruh dunia sendiri, misalnya.

"Aku meringis melihat di luar jendela, sepertinya melangkah kesana akan banyak perhitungan", kata kelinci gemuk. Pernyataannya ini bukanlah perkiraan, tapi keyakinan. Bukanlah cara curang menyembunyikan impian. Hanya tak mau membodohi kebun-kebunnya, itu saja. Rasa tamak rasanya ingin segera dilarikan. Memang, di atas sana banyak hal-hal yang tak kau ketahui. "Ini juga kesalahanku, tak cerdas membenahi isi kepala.", kata kelinci gemuk.

Langit yang berlapis-lapis sepertinya tahu saja cara berlebih-lebihan menyenangkan anak-anak mereka. Menjadikan kaki sedikit menyedihkan. Tak peduli, tetap menusuri hingga bertambah keinginan-keinginan. Kau tahu, dalam tubuh banyak menjerit. Bertaruh. Jika nanti punya segala, takut mereka-mereka akan merasa selalu kurang. Maka rasanya akan lebih baik menanami kebun tempat asal. Tapi, siapa mengira.

"Kita akan menemukan tempat yang belum dinamai siapapun. Maka ikutlah bersama. Dalam perjalanan, mungkin engkau akan membenciku dahulu, tambah lagi aku juga tak tahu jalan-jalan disana."
Kemudian menaruh buku-buku pengetahuan lama, hendak mengikuti. Alasan sebuah kebaikan. Mencari itu ingin menjawab semua. Sekiranya rasa tamak lebih dahulu berpergian.


seravi

Komentar

Postingan Populer