Kelinci Gemuk
"Aku meringis melihat di luar jendela, sepertinya
melangkah kesana akan banyak perhitungan", kata kelinci gemuk.
Pernyataannya ini bukanlah perkiraan, tapi keyakinan. Bukanlah cara curang
menyembunyikan impian. Hanya tak mau membodohi kebun-kebunnya, itu saja. Rasa
tamak rasanya ingin segera dilarikan. Memang, di atas sana banyak hal-hal yang
tak kau ketahui. "Ini juga kesalahanku, tak cerdas membenahi isi
kepala.", kata kelinci gemuk.
Langit yang berlapis-lapis sepertinya tahu saja cara
berlebih-lebihan menyenangkan anak-anak mereka. Menjadikan kaki sedikit
menyedihkan. Tak peduli, tetap menusuri hingga bertambah keinginan-keinginan.
Kau tahu, dalam tubuh banyak menjerit. Bertaruh. Jika nanti punya segala, takut
mereka-mereka akan merasa selalu kurang. Maka rasanya akan lebih baik menanami
kebun tempat asal. Tapi, siapa mengira.
"Kita akan menemukan tempat yang belum dinamai
siapapun. Maka ikutlah bersama. Dalam perjalanan, mungkin engkau akan
membenciku dahulu, tambah lagi aku juga tak tahu jalan-jalan disana."
Kemudian menaruh buku-buku pengetahuan lama, hendak
mengikuti. Alasan sebuah kebaikan. Mencari itu ingin menjawab semua. Sekiranya
rasa tamak lebih dahulu berpergian.
seravi


Komentar
Posting Komentar