Hacker



Aru menghentikan sejenak ketikannya, sebenarnya ia tidak ingin menjadi hacker. Namun anak-anak serebrum dalam ruang kontrol intelegensi kepala menyimpan semua partikel kebaikannya. Sosok pintar mereka mungkin bisa menyelipkan suatu code yang sedang ditelusuri polisi dunia. Code itu akan bertualang dalam console game berbahaya, yakni ke system komputer milik perusahaan teknologi dunia, website komersial terbesar dunia, atau bank dunia hingga meraup jutaan dollar. Lengannya pun menjadi ketakutan. Olehkarenanya hendak menyalahkan kakak seniornya, yang mana telah mengajarinya algoritma papan catur sederhana. Kotak hitam dan kotak putih, berbentuk zig-zag, dibuat sebuah progam indah. Dan akhirnya membuat anak-anak itu bertambah cerdas karena meningkatkan ruang kontrol intelegensinya.

Ulat. Memang terdengar menggelikan. Seperti nama virus ciptaan teman-temannya yang sudah terkenal: Worm Morris sebagai penginveksi mesin Unix, Worm Netsky and Sasser sebagai penyebar malware melalui internet, Worm Melissa sebagai penyebar virus email. Mereka terdengar hebat ke seluruh dunia hacker karena mempengaruhi system jagat raya. Seekor ulat milik Aru memang tidak terdengar, bahkan dunia hacker tidak mengetahuinya, tidak tahu apa yang ia rusak. Ia akan menjadi alkisah saja, terus-terusan bersembunyi didalam dengan lendir yang sendiri dibuatnya.

Nilai mata kuliah. Inilah yang menjadi masalah. Semester ini nilai-nilainya menjadi merah, marah padanya karena ia hidup mewah di dunia warcraft, bahkan kemarin saja ia sudah menaikkan levelnya. Olehkarenanya virus ulat kali ini akan menolongnya, tentu saja untuk membuat lubang kecil pada system admin di kampusnya. Ia akan segera mengubah semua nilai-nilainya. Tapi kemudian tangannya berhenti, teringat kemarin seorang sahabat datang dengan senyum seri, memamerkan nilai-nilainya yang tinggi pada semester ini. "Itu adalah hadiah untuk ayah, yang kini di rumah sakit sedang terbaring lemah. Jika ayah melihat angka ini, tentulah ia tidak akan memakan obat-obat pahit itu lagi", kata sahabatnya.

Komputer didepannya masih berdebu, menunggu tuannya mengambil keputusan buah dadu. Aru diam, akhirnya ia hanya bisa menghibur hatinya. "Seorang hacker tidak perlu membuat virus mematikan, jika nanti virus itu bisa dijinakkan. Seorang anak didik pun tidak perlu menipu pendidikan, jika kemampuan diri sendiri lebih membanggakan", katanya. Aru meninggakan komputernya, hari ini ia ada kelas. Masih ada waktu satu jam untuk istirahat, tetapi ia menghukum dirinya membaca buku algoritma yang tebal disana. Ia berharap ini akan menghapus setidaknya sedikit dari dosa-dosanya.


seravi

Komentar

Postingan Populer