Hacker
Ulat. Memang terdengar menggelikan. Seperti nama virus
ciptaan teman-temannya yang sudah terkenal: Worm Morris sebagai penginveksi
mesin Unix, Worm Netsky and Sasser sebagai penyebar malware melalui internet,
Worm Melissa sebagai penyebar virus email. Mereka terdengar hebat ke seluruh
dunia hacker karena mempengaruhi system jagat raya. Seekor ulat milik Aru
memang tidak terdengar, bahkan dunia hacker tidak mengetahuinya, tidak tahu apa
yang ia rusak. Ia akan menjadi alkisah saja, terus-terusan bersembunyi didalam
dengan lendir yang sendiri dibuatnya.
Nilai mata kuliah. Inilah yang menjadi masalah. Semester
ini nilai-nilainya menjadi merah, marah padanya karena ia hidup mewah di dunia
warcraft, bahkan kemarin saja ia sudah menaikkan levelnya. Olehkarenanya virus
ulat kali ini akan menolongnya, tentu saja untuk membuat lubang kecil pada
system admin di kampusnya. Ia akan segera mengubah semua nilai-nilainya. Tapi
kemudian tangannya berhenti, teringat kemarin seorang sahabat datang dengan
senyum seri, memamerkan nilai-nilainya yang tinggi pada semester ini. "Itu
adalah hadiah untuk ayah, yang kini di rumah sakit sedang terbaring lemah. Jika
ayah melihat angka ini, tentulah ia tidak akan memakan obat-obat pahit itu
lagi", kata sahabatnya.
Komputer didepannya masih berdebu, menunggu tuannya
mengambil keputusan buah dadu. Aru diam, akhirnya ia hanya bisa menghibur
hatinya. "Seorang hacker tidak perlu membuat virus mematikan, jika nanti
virus itu bisa dijinakkan. Seorang anak didik pun tidak perlu menipu
pendidikan, jika kemampuan diri sendiri lebih membanggakan", katanya. Aru
meninggakan komputernya, hari ini ia ada kelas. Masih ada waktu satu jam untuk
istirahat, tetapi ia menghukum dirinya membaca buku algoritma yang tebal
disana. Ia berharap ini akan menghapus setidaknya sedikit dari dosa-dosanya.
seravi


Komentar
Posting Komentar