Granula





Ash mengerjakan pekerjaan rumahnya. Tapi lilin polar di dekatnya sudah rindang dengan lelehan putihnya. Buku miliknya berlaku labil, takut kalau-kalau kanal disana menumpahkan airnya. Buku temannya tenang-tenang saja, karena bukunya membuat satu perisai pintar. Ash tersenyum. Perjuangan itu pun dihentikan sebentar, sementara tuannya ke dapur untuk mengambil satu lagi lilin polar.

Sembilan buku. Membentuk gedung pencakar langit yang menghabiskan setidaknya dua lilin polar. Untung saja ia anak terpintar, bertambah gedung sepertinya tak masalah. Besok pagi buku-buku itu akan diserahkan kepada sembilan anak buah gengster. Barter ini karena perangkap serangga buldozer, pekat cahaya dari matanya memburu granula-granula lemah. Tentu saja butiran itu akan takut bahkan hanya dengan mendengar dengung sayapnya. Tapi ini harus dilakukan. Dagangan kue buatan ibu sudah dititipkan di kantin sekolah, dan mereka mengancam akan merusak seluruh bantalan-bantalan sponge jika ia tidak mengerjakan tugas mereka.

Esok harinya di sekolah. Tempat itu bagi Ash sudah menyerupai neraka bawah. Kepala gengster pun menunjuk salah satu bentengan. Tapi Ash hanya diam sambil mendengar batinnya bergumam pelan. "Padahal buku kecerdasan sudah berbaik, jika saja tuannya belajar dengan giat. Tetapi sayang jika curang, buku kecerdasan akan menyuruh pegangan buku menutup huruf emasnya, selamanya." Ash memberikan sembilan buku itu. Gengster pun senang. Tapi mereka tidak tahu, bahwa sebenarnya buku-buku itu sudah berubah menjadi buku kutukan.


seravi





Komentar

Postingan Populer