Bangsa Elfin




Sebagian besar bangsa peri hutan disana adalah anak-anak nakal. Menggangu para penghuni yang mencoba ingin tinggal didalamnya. Sayap yang bergerak cepat akan lebih mudah mendatangkan malapetaka. Kekuatan kecil di tangan tapi begitu kuat, bisa merubuhkan beberapa hewan yang lebih besar. Adakanlah lima ekor peri saja, maka satu raksasa gunung akan tumbang. Dan mereka pintar sekali menemukan lubang pohon dengan cepat. Setelah selesai membuat keributan akan menuju kesana sebagai tempat perlindungan, lalu mengambil alih rumah tupai secara curang. 

"Anak-anak nakal harus dihukum berat, sayap-sayap mereka akan dilepaskan", ancam penghuni hutan. Tapi kau tahu, bangsa Elfin punya alasan mengapa mereka menjadi anak yang nakal.

Anak-anak nakal memang terlihat sepertinya menjadi pengganggu utama, rasanya dunia akan menjadi permainan gulungan peta milik mereka. Cerita sudah disiapkan sebelumnya, hingganya sesuka hati menaruh perangkap pada jalan-jalan yang dibiarkan mudah untuk dilewati mangsa. Melihat itu akan menyenangkan, olehkarenanya malam hari akan membuat perangkap lain yang lebih hebat lagi pada peta. Mangsa tadi miniatur yang dibuat patuh. Kali ini dunia buatan akan sempurna.

Banyak musim yang dihabiskan bila ingin mengerti hati mereka. Kau tahu, mereka tak akan menceritakan kesedihannya. Mereka akan menyimpan sebagai buku rahasia. Suatu hari itu akan berguna, menjadi pertimbangan mengambil keputusan-keputusan hidupnya. Pada saatnya ia juga akan mempunyai tujuan-tujuan yang baik. Ketika hari itu datang, lalu mengingat buku rahasia tadi, maka akan lebih berhati-hati lagi dalam melangkah. Kesedihan itu sebagai dukungan seorang teman perjalanan, agar nanti diri menjadi seorang yang pekerja keras.

Menjadi anak baik. Untuk sekarang ini akan sulit. Dari awal sudah dinilai buruk, maka mereka-mereka menganggap bangsa itu adalah yang paling buruk. Olehkarenanya bangsa itu dihindari dan dibenci. Semua yang dilakukan baik akan nampak buruk dan selalu disalahkan. Padahal bangsa itu sudah bersusah payah ingin mengembalikan semuanya, sudah bekerja keras, namun karya-karya mereka tidak dianggap, keberadaan tidak dihiraukan. Akhirnya membuat permainan gulungan peta tadi, menjadi anak yang nakal. Mereka ingin mengambil banyak perhatian, sebenarnya dalam hati butuh kasih sayang, ingin pula dihargai. Seperti orang bodoh melakukan hal-hal yang sia-sia, tentu saja dengan begitu akan terus-terusan dipanggil si anak nakal. Namun mereka berkata, "Kami bukan anak nakal, kami punya nama, dengan mengganggu kalian maka kalian akan mengingat nama kami, selamanya."

Bangsa Elfin pun seperti biasanya kembali melakukan aktifitasnya, mengganggu para penghuni hutan. Hari ini akan banyak pesta, untuk menghilangkan kesedihan. Dahulu, desa jamur mereka dihancurkan oleh para penghuni yang tak bertanggungjawab. Akhirnya kini bangsa mereka hampir punah.


seravi

Komentar

Postingan Populer