Anak Bertopi Gulung




charlesdickens


Tiada lain yang dilihat Frin di jalan taman itu setiap hari, selain anak kecil bertopi gulung dengan tas karung gandum. Badan lusuhnya membuat renda-renda disana menjadi segumpal lumut kehijauan, hingga berbau menutupi ruang hirup pernapasan Frin saat mereka sedang berpapasan. Anak itu sepertinya angkuh, bahkan ketika ia menyapa anak itu dengan lembut, tapi dijawab dengan mengangkat dagu setengahnya ke arah langit. Itu memang perbuatan tak baik, olehnya Frin berjanji tak mau menyapa anak itu lagi. Sebenarnya Frin hanya ingin tahu, apa yang sedang dilakukan anak pengemis itu. Karena semenjak ia datang ke kota ini seminggu lalu, anak itu selalu berdiri di depan gerbang gedung tua itu. Dan membuat Frin berpikir cepat hingga membuat satu kesimpulan dungu, yakni menganggap anak itu kehilangan akalnya. Karena orang berakal tak mungkin menyiakan hidupnya berlama berdiri di depan gerbang sambil memakan beberapa kentang. Olehnya ia sungguh heran dengan si anak, padahal tak upaya dilihat orang karena badan kecilnya, tentu saja mudah untuk masuk ke dalam. Bukankah itu gedung tua tak berpenghuni, lihat saja dinding berhantunya, gelap, pintunya terbuka sedikit namun terlihat seperti makhluk hitam didalam, orang-orang pun akan takut bahkan hanya melihat cat dindingnya yang sudah terkelupas. Tapi si anak tetap saja berdiri di sana sambil memakan kentang hangat.

Frin melewati anak itu, hari ini ia terburu-buru. Setelah berlelah berlari, akhirnya ia pun sampai juga di sebuah ruangan, namun anak laki-laki itu hampir saja menangis. Tega sekali Profesor menggambar sebuah danau pada tugas sciencenya, nilai D ternyata sungguh menyakitkan. Tapi kemudian sedih itu tidak lama, karena si anak muncul terus dalam pikirannya. Ia ingin tahu apa yang diinginkan si anak misteri di gedung tua, lalu berniat di hati akan menelusuri jejak si anak dengan kaca pembesar.

Setelah seharian di kelas, jam besar sekolah membalikkan kaca pasirnya, mereka akan cepat-cepat menjatuhkan butiran-butirannya. Ketika itu pula Frin memasukkan buku-buku science yang ada di mejanya. Setelah ini, ia akan menemukan si anak. Lalu Frin pun berlari cepat melupakan organ dalamnya yang bisa saja rusak, ia tak mau tertinggal barang satu butir saja jam pasir sekolah. Karena tak mau gagal lagi, kemarin saja anak itu sudah tak ada. Ternyata meremehkan kaki kecil anak itu adalah suatu kesalahan. Akhirnya setelah berlari, ia pun sampai di jalan taman, visual ungu pada retinanya peka cahaya gelagat si anak, yang tengah keluar mengendap-endap seperti seekor marmut kecil dari gedung tua. Tapi kali ini tidak tahu mengapa Frin tak jadi mengikuti si anak, ia malah masuk ke gedung, membuka pintu peraknya. Sungguhlah ingin tahu apa yang ada di dalam. Dan ketika didalam, betapa terkejutnya ia. Lihatlah, sebuah perpustakaan raksasa. Ribuan tahun mungkinkah tak akan cukup menghabiskan laman-laman bukunya. Lihat juga langit-langitnya, penuh lukisan orang-orang pendahulunya memegang buku-buku emas. Masih takjub dengan hal itu, anak tadi mengagetkannya. Dengan senyum terlihat gigi rapinya anak itu berkata, "Ini adalah harta karunku, kakak boleh mengambil sedikit bukunya. Tapi harus cepat-cepat, anjing herder penunggu disini sebentar lagi datang. Ia tidak suka melihat manusia."

seravi

Komentar

Postingan Populer