Ali
Ali tak akan mendapati gandum hari ini. Bagaimana tidak, koran-koran itu masih memaki keranjangnya. Menggerutukan setiap anyaman didalam yang sudah banyak rusaknya. Ingin sekali rasanya dibeli oleh manusia yang punya keranjang lebih baik, tapi apa daya anak hujan terus menampik. Tanpa perjanjian lagi, tetesan air menjatuhi laman depan, jadilah kertasnya berburuk peran. Dan tentu saja manusia-manusia itu tak akan mau membeli walau hanya satu laman.
Ali kembali mengayuh sepeda. Lirih hatinya, tapi masih
membawa keranjang-keranjangnya. Berharap hujan berhenti, dan ia akan berjualan
lagi. Sambil mengayuh, pikiran bergaung si buku sekolah. Menari diatas kepala
dan mentertawai lepuh sepenggalah. Hari ini ia berjanji pada guru akan membeli
buku itu. Tapi siapa yang mengira jika rezeki belum memberi pintu.
Botol kaca. Ia selalu sematkan uang kedalam mulut
kacanya. Bertanya dihati kapan uang itu beranak pinak hingga cukup untuk
membeli buku sekolah. Tidak. Bukan hanya buku sekolah, tapi biaya sekolah
sampai lulus. Kemudian tidung menutupi dirinya, ilmu memang mahal pikirnya,
bahkan lebih dari uang makannya. Tapi putus asa sungguh ia tolak.
"Botol kaca satu mungkin tak akan cukup. Menanam
seribu botol kaca mungkin cukup. Satu botol buat beli sejumlah ilmu. Seribu
botol 'kan beli tak hingga ilmu.", katanya.
Ali masih cepat mengayuh sepeda, dipikiran sekarang
adalah pulang. Disaku celananya masih ada sedikit uang. Sedikit lagi ia sampai
gubuknya. Sungguh, hati tak sabar bertemu dengan si botol kacanya.
seravi


Komentar
Posting Komentar